Sejarah dan Asal-Usul Rokok Keretek

Dipublikasikan oleh Farrel Hanif Fathurahman

16 Februari 2024, 10.43

Cengkih Kering yang Menjadi Bahan Pembuatan Rokok Kretek - Wikipedia

Rokok kretek, juga dikenal sebagai keretek, berasal dari Indonesia. Tembakau dan cengkih dicampur dengan saus perasa untuk membuat kretek. Nama "Kretek" berasal dari suara yang dibuat oleh rokok saat dihisap. Sejak abad ke-19, rokok kretek telah dibuat dengan menguunakan lapisan kertas halus. Versi sebelumnya, yang disebut Kretek Klobot, menggunakan lapisan kulit jagung.

Sejarah

Awal mula kretek bermula di Kota Ponorogo. Warok di sana menghisap rokok kretek yang dilapisi klobot dari kulit jagung. Tradisi merokok kretek ini berlangsung selama bertahun-tahun. Pada pertunjukan Reog, rokok bahkan digunakan sebagai alat ritual.

Kemudian di kota Kudus, menurut cerita tentang rokok kretek. Kisah yang tersebar luas di kalangan karyawan pabrik rokok mengatakan bahwa sejarah kretek bermula dengan penemuan Haji Djamari pada sekitar akhir abad ke-19. Penduduk asli Kudus ini awalnya mengalami sakit di dada. Lalu, ia menerapkan minyak cengkih. Setelah itu, rasa sakitnya berkurang. Djamari kemudian mencoba merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk membuat rokok.

Awal usaha keretek

Mbok Nasilah, yang juga dianggap sebagai penemu rokok kretek, menemukan rokok kretek pada sekitar tahun 1870 untuk menggantikan kebiasaan nginang. Mbok Nasilah sering menyuguhkan rokok temuannya kepada para kusir di warungnya, yang sekarang menjadi toko kain Fahrida di Jalan Sunan Kudus. Kebiasaan nginang yang sering dilakukan para kusir membuat warung Mbok Nasilah kotor, jadi ia berusaha menghindari kotoran dengan merokok. Pada awalnya, ia mencoba meracik rokok. Salah satunya adalah dengan menambahkan cengkih ke dalam tembakau. Selanjutnya, campuran ini dibungkus dengan klobot atau daun jagung yang telah kering dan diikat dengan benang. Para kusir dokar dan pedagang keliling menyukai rokok ini. Saat itu, Nitisemito, salah satu penggemarnya, menjadi kusir.

Setelah itu, Titisemito menikahi Nasilah dan menjadikan bisnis rokok kreteknya sebagai sumber pendapatan utamanya. Proses ini berkembang dengan cepat. Nitisemito menyebut rokoknya "Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo", yang berarti "Rokok Cap Kodok Makan Ular." Memang, nama ini tidak mewakili hoki dan bahkan membuat orang tertawa. Nitisemito kemudian menggunakan Tjap Bulatan Tiga. Merek ini sering disebut "Bal Tiga" karena gambar bulatan di dalam kemasan yang menyerupai bola. Setelah menambahkan Nitisemito, julukan ini akhirnya menjadi merek resmi. Namanya berubah menjadi Tjap Bal Tiga H.M. Nitisemito.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Keretek