Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur

Paradigma (Baru) Arsitek

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari pada 27 Juni 2024


SETELAH menyelesaikan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) XVI, di Bali, para arsitek Indonesia telah menetapkan arahan Garis Besar Kebijakan Organisasi (GBKO) menuju paradigma baru. Hal ini menyusul berlakunya Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek.

IAI juga telah memilih Ketua Umum-nya yang baru, yakni Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI, AA yang berasal dari IAI Jawa Barat menggantikan Ar. I Ketut Rana Wiarcha, IAI, AA. Nama kedua, atau Bli Rana, sebutan akrabnya, merupakan sosok yang sangat berpengalaman dalam mendampingi proses lahirnya UU Arsitek tersebut.

Termasuk dampak lanjutannya dalam pranata pembangunan ke depan yang akan sangat berpengaruh pada praktik profesional arsitek di Indonesia. Tentunya estafet kepada Ketua Umum baru ini akan terus berlanjut, dan semoga juga menjadi momentum baik bagi para generasi arsitek-arsitek muda IAI untuk maju bersama organisasinya.

Acara Munas diakhiri dengan Malam Pemberian Penghargaan Karya Arsitektur Terbaik (IAI Awards) kepada sembilan karya arsitek negeri. Karya ini tersebar di berbagai kota melalui serangkaian proses penilaian yang melibatkan arsitek dari berbagai daerah pula. Tak hanya UU Arsitek, untuk mengatur lebih jauh standar kerja dan praktik aritek profesional, pemerintah melengkapi beleid ini dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2021. Hal inilah yg perlu menjadi perhatian para praktisi arsitek, tidak hanya generasi mudanya, namun juga generasi pendahulu arsitek Indonesia.

Menurut hemat saya, setidaknya ada dua implikasi besar yang perlu disadari:

Pertama, bahwa tidak sembarang orang bisa disebut arsitek, karena predikat tersebut hanya melekat pada arsitek yang telah mendapat sertifikat kompetensi atau Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) yang dikeluarkan oleh Dewan Arsitek Indonesia (DAI). Dan DAI hanya memproses ajuan registrasi melalui rekomendasi maupun nilai kompetensi (kum) yang dikumpulkan selama yang bersangkutan mengikuti kegiatan di asosiasi profesi bernama IAI.

Kedua, bahwa arsitek yang telah sah berpraktik sesuai UU Nomor 6 Tahun 2017, harus memperhatikan mekanisme dan standar kerja maupun kinerja yangg telah ditetapkan Pemerintah. Dengan demikian, setiap pelanggaran akan UU ataupun PP, akan secara langsung berimplikasi hukum kepada arsitek yang bersangkutan. Dengan adanya kedua perangkat hukum ini, maka praktik jasa arsitek pun telah memasuki babak baru.

Standar terbaik (best practice) yang harus diikuti, tidak lagi ditawarkan berbeda di tiap daerah atau bahkan oleh kantor konsultan yang berbeda, melainkan satu rangkaian kinerja yang akan dinilai, dan dapat dirasakan sebagai salah satu bentuk perlindungan yang utama bagi masyarakat atas layanan jasa tersebut. Dan atas kondisi yang sama pula, maka ke depan arsitek pun berhak menawarkan imbalan jasa yang setara di berbagai belahan nusantara, karena segala tindak tanduknya secara profesional pun telah diatur oleh pemerintah.

Tentunya hal ini akan menjadi kontra produktif bagi para ‘arsitek’ yang selama ini memilih jalur profesi secara ‘otodidak’ dan tanpa melalui jalur pendidikan dan pelatihan yang sepatutnya. Masyarakat dapat dengan mudah pula menuntut kinerja yang terbaik sesuai standar yang ditetapkan, dan dapat melakukan tuntutan hukum kepada mereka yang belum sejalan dengan paradigma praktik baru.

Pada saat yang sama, IAI sbg asosiasi pun dapat memberi pendampingan atau advokasi hanya kepada anggotanya bila memang kemudian terjadi perselisihan terkait hal seperti itu. Sehingga kemudian, IAI akan kembali menjadi asosiasi yang berfokus pada pembinaan anggotanya melalui program-program pendidikan keprofesian yang berkelanjutan, serta menjadi simpul bagi penyampaian segala informasi terkait praktik arsitektur di Indonesia. Sesuatu yang tidak saja bermanfaat bagi anggotanya, namun juga bagi masyarakat awam akan tentang praktik arsitek yang baik.

Sumber artikel: Kompas.com

Selengkapnya
Paradigma (Baru) Arsitek

Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur

Kenali, Ragam Gaya Arsitektur di Seluruh Dunia (I)

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari pada 27 Juni 2024


Berkelana ke sejumlah negara dalam rangka mengenal budaya setempat, tak lengkap jika melewatkan keindahan arsitekturnya. Kita mengenal bangunan-bangunan hebat, terbuat dari batu, yang kokoh berdiri hingga sekarang, atau bahkan yang memengaruhi peradaban dunia, namun tak tahu langgam arsitekturnya.

Padahal, di balik bangunan kokoh itu tersimpan filosofi, konsep, kisah, dan juga sejarah yang menyertainya. Berikut bagian pertama dari dua tulisan gaya arsitektur yang masih menjadi inspirasi para perancang dalam membangun sebuah desain bangunan yang kami urut berdasarkan masanya.

Bagian kedua bisa dibaca pada tautan berikut: Kenali ragam gaya arsitektur di seluruh dunia (I)

1. Arsitektur Mesir kuno, 3050 SM-900 SM
 

Piramida Djoser (google.com)

Tidak mengherankan jika peradaban di Mesir paling berpengaruh dalam sejarah arsitektur, termasuk piramida. Namun demikian, piramida bukanlah satu-satunya struktur yang mewakili ekspresi arsitektural orang Mesir. Sebelum membangun piramida, orang Mesir merancang kreativitasnya dengan membangun kompleks candi yang sangat detail, gedung adminitrasi, kuil, makam dan rumah-rumah pribadi dan bangsawan. 

Salah satu ikon dari arsitektur Mesir berupa piramida pertama bernama Djoser di Saqqara, dan Piramida di Giza berasal dari Kerajaan Lama (2613-2181 SM). Keduanya dianggap sebagai puncak kejayaan bakat dan keterampilan yang diperoleh pada waktu itu. Gaya arsitektur klasik juga terinspirasi dari beberapa fitur dari gaya arsitektur ini, termasuk obelisk di Roma dan motif kolom bergaya di Yunani. 

2. Arsitektur Klasik (Yunani dan Romawi), 850 SM-476 M

 

Ilustrasi Arsitektur Klasik Kuil Bacchus Baalbek, Lebanon(Fred Nassar)

Arsitektur klasik adalah gaya arsitektur yang mencakup struktur yang awalnya dibangun oleh orang Yunani dan Romawi Kuno. Desain arsitektur berkembang pada abad ke-5 SM di Yunani dan abad ke-3 M di Roma. Jenis arsitektur ini telah menjadi pilar inspirasi bagi para arsitek dari generasi ke generasi. Beberapa arsitek terkenal yang terinspirasi oleh desain arsitektur ini adalah arsitek Victoria, yang terkadang menciptakan replika persis bentuk klasik. Mereka juga mengadopsi pendekatan eklektik yang melibatkan penggabungan motif dan bentuk klasik untuk menciptakan gaya baru.

3. Arsitektur Gotik, 1150-1530 M

Saat Halloween, menginap di The Witchery by Castle bisa jadi tempat yang tepat bagi penyuka dunia sihir. Hotel ini awalnya dibangun untuk pedagang pada tahun 1.595 dan saat ini masih mempertahankan arsitektur gotik dan lengkap dengan pintu rahasia dan kamar lilin.(The Huffington Post) 

Sebagian besar gereja paling terkenal di Eropa bergaya arsitektur Gotik. Di Perancis dan negara Eropa lainnya, akan ditemui kombinasi kubah berusuk, lengkungan runcing, dan penopang terbang menghiasi sebagian besar struktur. Jika Anda pernah ke salah satu gereja yang terinspirasi gaya arsitektur Gotik ini, akan melihat sejumlah besar cahaya masuk dari jendela kaca patri yang menerangi gereja secara unik.  Contoh arsitektur Gotik Perancis yang terkenal adalah Notre Dame dan Katedral Milano yang menjulang tinggi menampilkan kemegahan langgam Gotik di Italia.

4. Arsitektur Mesoamerika,  2000 SM-1519 M

Piramida El Castillo(JELENASEF )

Arsitektur Mesoamerika atau arsitektur Pra-Columbus mencakup bangunan yang dibangun oleh budaya asli yang membentang dari Meksiko tengah hingga Kosta Rika Utara di Amerika Tengah. Pada masa perancangan arsitektur ini, kegiatan perencanaan kota didominasi berdasarkan kepercayaan mitologis dan agama. Masyarakat setempat percaya bahwa gaya dan desain arsitektur melambangkan iman mereka.

Desain arsitektur ini terutama diidentifikasi dengan arsitektur Maya dan piramida berundak. Strukturnya terkenal karena penggunaan batu yang berat. Mereka menggunakan tenaga kerja yang sangat besar sebagai cara inovatif untuk mengatasi hambatan teknologi mereka. Piramida El Castillo adalah contoh yang sangat baik dari arsitektur Pra-Columbus ini. Banyak arsitek telah terinspirasi oleh gaya arsitektur ini, terutama Frank Lloyd Wright, yang menerapkannya pada abad ke-20 antara tahun 1920-an dan 1930-an.

5. Arsitektur Bizantium,  527-1453 M  

 

Haga Sophia(wikipedia)

Arsitektur Bizantium muncul ketika Konstantin mengubah ibu kota Kekaisaran Romawi menjadi Konstantinopel pada tahun 330 M. Konstantinopel sekarang dikenal sebagai Istanbul. Pada era ini, pembangunan gereja menggabungkan penggunaan denah salib Yunani dan bahan bangunan seperti batu bata dan mortar. Bahan bangunan ini digunakan untuk membentuk pola geometris rumit yang dirancang untuk tujuan dekoratif. Sebagian besar strukturnya yang paling ikonik muncul pada masa kejayaan kekaisaran yaitu sekitar periode era tengah. Hagia Sophia merupakan salah satu kreasi rancangan paling ikonik dari desain arsitektur yang merefkleksikan teknik Bizantium.

Sumber artikel: Kompas.com

Selengkapnya
Kenali, Ragam Gaya Arsitektur di Seluruh Dunia (I)

Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur

Teori Baru Arsitektur, "Stonehenge" Struktur Bangunan Dua Lantai

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari pada 27 Juni 2024


Mungkinkah situs megalitikum yang tersohor, Stonehenge, menopang sebuah rumah bundar dua lantai dari kayu yang digunakan misalnya untuk pesta atau untuk musisi? Teori tersebut diungkapkan seorang arsitek lanskap Inggris. Ia merancang sebuah model kecil dari gambaran rumah yang dia bayangkan.

Saat ini, ia tengah mencari dana untuk membangun model tersebut dengan skala struktur 1:10. Sarah Ewbank mengatakan fakta bahwa dia bukanlah seorang arkeolog telah membebaskan dia dari praduga dan memungkinkannya untuk mendekati masalah ini dengan cara lain.

Ewbank punya visi khusus terhadap Stonehenge yakni sebuah ruang oval besar dikelilingi oleh galeri. "Menariknya, tingkat atas dibuat berjenjang, ketinggian bagian yang berbeda mencerminkan ketinggian trilithon (dua kayu tegak yang menyangga satu batu datar seperti meja) yang berbeda," kata Ewbank.

Mempertimbangkan balai dan galeri terisi, memungkinkan banyak orang berkumpul untuk mendengarkan pembicara, atau mungkin mengadakan pesta di galeri dengan orang-orang menari di bawahnya. Menurut Ewbank, seperti sebuah bangunan indah yang sering digunakan, struktur ini mirip Albert Hall di London yang berfungsi mengakomodasi setiap jenis pertemuan.

 

Batu-batu Stonehenge di Inggris

Ewbank percaya, nenek moyang zaman Perunggu menggunakan Stonehenge setiap kali diperlukan. Nenek moyang zaman Perunggu adalah orang-orang yang cerdas dengan kebutuhan mirip dengan kita hari ini. "Lupakan kain pinggang berbulu dan hal-hal ritual pengorbanan lainnya, itu salah," tutur Ewbank. Dia menerangkan, teori ini telah dibahas dengan para ahli. Beberapa dari mereka setuju dengan interpretasinya terkait penggunaan bangunan. Namun para ahli lain sangat tidak setuju dan sependapat untuk tampilan tradisionalnya.

Ewbank berspekulasi, sisi rumah terbuat dari kayu oak dan atap jerami. Tentu saja, kayu atau jerami tersebut sangat tidak mungkin akan bertahan ribuan tahun seiring keberadaan Stonehenge saat ini. Dengan demikian, menemukan bukti fisik untuk teori selain tata letak batu sendiri adalah hal yang tidak mungkin.

Bahkan, dia mengatakan, banyak orang telah bertanya apakah ada bukti atas keberadaan atap itu sendiri. Ewbank menunjukkan, biara berusia 500 tahun saja telah kehilangan atap. "Jadi jangan berharap untuk menemukan struktur kayu yang tergeletak di sekitar situs yang berdiri setelah 4.000 tahun," katanya. Penguatan teori Ewbank pun membuat daftar beberapa alasan untuk menguatkan teorinya.

Alasan pertama, adanya salah satu batu yang disebut "ambang pintu". Kedua, batu-batu biru memiliki alur di dalamnya untuk tujuan struktural. Alasan ketiga, jarak trilithon tepat untuk mendukung empat kerangka atap. Perbedaan tinggi antara trilithon memungkinkan peningkatan dari kerangka tersebut. Untuk membentuk kerangka besar, hanya dibutuhkan delapan kayu oak berkuran 16 meter.

Usia perunggu ek sangat mungkin lebih tua dan lebih baik daripada yang tersedia saat ini. Hal tersebut dapat dilihat dari bangunan kapal di waktu lampau yang dibuat menggunakan pohon oak, memiliki ukuran yang besar. "Jika orang-orang zaman Perunggu mampu menggali, bergerak dan membentuk batu yang beratnya 20 sampai 50 ton, mereka juga membentuk atap dengan pohon oak," sebut Ewbank. Ia menambahkan, para arkeolog sangat terobsesi dengan penentuan tangga dan makna dari Stonehenge. Ewbank berpikir hal tersebut sebagai kehancuran.

Dengan kemampuan desain, ia bisa bekerja di luar dari apa yang telah dipikirkan selama ini. Jika merunut kembali ke Zaman Perunggu, saat itu masih penghujan. Menurut dia, tidak masuk akal jika memindahkan 75 batu besar saja untuk bisa menari di sekitarnya selama dua kali dalam setahun. "Jika Anda menempatkan atap di atasnya, Anda dapat menggunakannya sepanjang tahun," jelas Ewbank.

Sementara itu, orang-orang kuno rupanya memindahkan batu tersebut dengan jarak cukup jauh. Arkeolog mengumumkan pada bulan Desember tahun 2015 bahwa mereka menemukan lubang yang berada tepat di tonjolan batu di Wales dari batu asal Stonehenge. Hal ini mengungkapkan bahwa batu ini digali 500 tahun sebelum mereka dirakit menjadi lingkaran batu terkenal yang masih berdiri hari ini di Wiltshire, Inggris. Penemuan dramatis tersebut menunjukkan bahwa beberapa batu yang membentuk monumen kuno pertama kali didirikan sebagai struktur di Wales dan kemudian dibongkar, diangkut, dan disusun kembali lebih dari 140 mil jauhnya di Salisbury Plain.

Sumber artikel: Kompas.com

Selengkapnya
Teori Baru Arsitektur, "Stonehenge" Struktur Bangunan Dua Lantai
page 1 of 1