Teknik Fisika

Alumni Teknik Fisika ITB, Jelaskan Peran Teknologi Material dalam Industri Elektronik

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil pada 11 Juli 2022


Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika (HMFT) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan webinar HMFT Career Weekend Epsilon Vol. 2: The Role of Material Technologist in Electronics Industry, Minggu (19/09/20211). Narasumber pada webinar ini adalah Ikhtiar. Ia merupakan alumni Teknik Fisika ITB tahun 2005. Saat ini ia bekerja sebagai insinyur penelitian dan pengembangan di industri semikonduktor.

Engineering Physics Unfolded Professionally (Epsilon) diadakan untuk memberikan berbagai insight terkait dunia keprofesian teknik fisika. Epsilon Vol. 1 telah dilaksanakan pada 11 Juli 2021 dengan tema The Development and Practical Usage of Instrumentation and Control for Future Transportation. Rangkumannya dapat dibaca di instagram @berkembang.hmft.

Chip merupakan komponen utama dari segala jenis piranti yang melakukan fungsi komputasi seperti laptop dan hp. Umumnya piranti komputasi terusun atas tiga komponen, yaitu komponen processing (seperti CPU), memory dan storage (seperti SSD). “Piranti komputasi, itulah yang sebenarnya sebagai tulang punggung dunia digital sekarang,” jelas Ikhtiar.

Berdasarkan sifat hantarannya, material dibagi menjadi konduktor (menghantarkan listrik), insulator (tidak menghantarkan listrik), dan semikonduktor. Meskipun dikatakan sebagai produk semikonduktor, nyatanya tiga jenis material ini harus diproses secara bersamaan untuk menghasilkan satu chip agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam satu chip, terdapat berbagai jenis material. Transistor yang komponen utamanya terbuat dari semikonduktor jumlahnya dapat mencapai milyaran dalam satu chip. Transistor-transistor ini dihubungkan satu sama lain dengan konduktor untuk mengirim sinyal 1 0 1 0. Agar short circuit tidak terjadi maka digunakan material insulator sebagai penyulubung material konduktor.

Sebagai representasi dari material technologist, Ikhtiar menjelaskan bahwa dalam industri semikonduktor pekerjaannya layaknya seperti koki, yaitu menyiapkan wafer atau chip dengan bumbu-bumbu dari tabel periodik. “Kita coba kombinasi, unsur-unsur ini, kita coba satu-satu secara sistematis. Kemudian, kita evaluasi yang paling berpotensi,” ujar lelaki kelahiran Palu ini.

Amerika Sekitar, negara Ikhtiar berada merupakan salah satu kiblat dunia dalam industri semikonduktor. Ikhtiar menjelaskan bahwa disana terdapat berbagi perusahaan yang menunjang industri semikonduktor ini. “Walaupun perusahaan semikonduktor seperti Intel membuat chipnya sendiri, terdapat industri penunjang yang menyediakan alat-alat manufaktur chip,” jelas Ikhtiar.

Selain perusahaan alat manufaktur, orientasi perusahaan industri penunjang lainnya adalah desain sirkuit dan pembuatan software untuk desain sirkuit. Perusahaan-perusahaan ini biasanya menjual software buatannya ke perusahaan besar seperti Intel.

“Proses pembuatan chip ini panjang sekali, dari riset, desain, manufaktur hingga akhirnya jadi produk di tangan kalian. Bisa dibilang saya bekerja di sisi eksplorasinya atau hulunya kalo saya pakai analogi migas,” jelas Ikhtiar.

Sumber Artikel: itb.ac.id

Selengkapnya
Alumni Teknik Fisika ITB, Jelaskan Peran Teknologi Material dalam Industri Elektronik

Teknik Fisika

Alumni Teknik Fisika ITB Paparkan Peran Komputasi Awan dalam Inovasi Teknologi dan Bisnis

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil pada 11 Juli 2022


Customer Engineer Google Cloud Indonesia, Eryan Ariobowo yang juga alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1996 menjelaskan tentang Peran Cloud Computing dalam Inovasi Teknologi dan Bisnis. Ia menjadi pembicara pada acara Knowledge Sharing, BK Teknik Fisika, Persatuan Insinyur Indonesia pada hari Rabu (16/2/2022).

Cloud computing atau komputasi awan adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis internet. Awan adalah metafora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan di diagram jaringan komputer. Komputasi awan digunakan oleh berbagai industri dan berbagai jenis perusahaan mulai dari startup hingga organisasi pemerintah dalam membantu mereka berinovasi dan memberikan layanan yang lebih baik ke pengguna.

Kini, setiap industri mulai mengadopsi komputasi awan. “Pada tahun 2022, diproyeksikan 70 persen perusahaan akan mengintegrasikan manajemen cloud dengan menggunakan private dan public clouds. Di tahun 2024, lebih dari 50 persen perusahaan IT akan dianggarkan untuk transformasi dan inovasi digital. Pada tahun 2025, setidaknya 90 persen dari aplikasi perusahaan baru akan memanfaatkan artificial intelligence,” jelas Eryan.

Bukan hanya itu, penggunaan public cloud juga berdampak besar pada perekonomian Indonesia. Sebelum pandemi COVID-19, Boston Consulting Group memperkirakan dampak kumulatif adopsi public cloud terhadap perekonomian Indonesia selama 2019 hingga 2023 mencapai angka $36 Miliar. Selain itu, sekitar 345 ribu lapangan kerja baru tercipta di Indonesia karena terbentuknya stimulus ekonomi akibat adopsi public cloud.

“Secara rinci, 3 ribu pekerjaan muncul di industri IT, 20 ribu pekerjaan di industri digital yang mengadopsi cloud, 47 ribu pekerjaan di industri nondigital pengadopsi cloud, dan 275 ribu pekerjaan yang timbul akibat efek multiplier,” jelasnya.

Komputasi awan menjadi andalan di dunia digital karena memiliki berbagai karakteristik unik yang dapat memudahkan pekerjaan. “Pertama, tidak diperlukannya intervensi manusia untuk mencari sumber, dapat diakses di mana pun, dapat membagikan sumber secara luas pada konsumen, hanya perlu dibayar untuk fitur yang dipakai, dan dapat mencari sumber secara cepat,” jelas Eryan.

Terakhir, Eryan menjelaskan berbagai alasan mengapa banyak bisnis yang mulai berpindah dan mulai memanfaatkan Cloud Computing. “Mulai dari tujuan untuk mengurangi biaya infrastruktur, meningkatkan keandalan dan kelancaran sistem, mendapatkan lebih banyak data, untuk meningkatkan kecepatan pembuatan aplikasi baru, untuk menghubungkan berbagai layanan dari suatu platform bisnis, dan membuat perangkat lebih aman dan juga meningkatkan produktivitas pemakainya,” jelas Eryan.

Sumber Artikel: itb.ac.id

Selengkapnya
Alumni Teknik Fisika ITB Paparkan Peran Komputasi Awan dalam Inovasi Teknologi dan Bisnis

Teknik Fisika

Cerita WNI Kuliah S2 Teknik Fisika di Jerman: Pintar Aja Enggak Cukup

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil pada 11 Juli 2022


"Saya pas SMA enggak pinter-pinter amat, main bola juga enggak jago-jago amat, kalau melamar ke Perguruan Tinggi Negeri enggak mungkin masuk nih,"ujar Raffly Muhhamad, mahasiswa Indonesia yang kini sedang menempuh studi magister teknik fisika di Technische Universität Berlin di Jerman. Saat itu pilihan studi ke luar negeri pun mulai diliriknya. "Australia mahal, Singapura juga, saya akhirnya lirik Jerman, karena studinya kan gratis... tapi ya biaya hidupnya gede juga" guraunya. Jerman pun jadi pilihan sebagai negeri tujuan studinya. Tahun 2013 pertama kalinya Raffly Mohammad menginjakkan kakinya di Jerman. Saat itu ia diterima di salah satu "studienkolleg" di kota kecil Koethen untuk menjalani satu tahun persiapan studi sebelum lanjut ke universitas.

Meski menghadapi banyak penolakan dari universitas, keinginannya untuk melanjutkan studi ke ibu kota Jerman, Berlin, pun tercapai. Pada tahun 2014 dari Koethen dia meneruskan studi sarjananya di Technische Universität (TU) Berlin jurusan Fisika Teknik - Mekanika Fluida. "Jalannya enggak selalu mulus, keterima di TU Berlin, sebelumnya sudah banyak dapat penolakan. Cuma inget bapak udah investasi banyak untuk studi ke sini kalau enggak habis-habisan sia-sia semua, dari situ bangkit lagi,"jelas Raffly. Sembari berkuliah, ragam pekerjaan sampingan sebagai mahasiswa dilakukannya untuk bertahan hidup. Dari bekerja sebagai petugas pembersih hotel, petugas pembersih di pabrik coklat, bekerja di dapur panti jompo, bekerja di tempat percetakan, hingga bekerja start-up dilakukannya dengan giat. Menyeimbangkan antara kerja, kuliah, bersosialisasi tentu tidaklah mudah. "Saya belajar sih dari buku The Art of Saying No gimana nolak yang enggak bukan fokus saya, yang penting saya seimbangkan kuliah, kerja, olahraga, dan ibadah," tegas Raffly.

Raffly mengakui untuk studi teknik di Jerman, bekal pintar tidaklah cukup. Mahasiswa harus tekun dan tahu betul apa fokus mereka, banyak tantangan untuk memulai kehidupan baru di suatu negara.

"Kita itu harus kerja ekstra keras, dari bahasa jerman saja, bukan bahasa ibu kita kan, itu udah ekstra kerja dari dengar-paham-jawab. Belum tugas kuliahnya... Pintar aja enggak cukup," ujar Raffly. Pertama menginjakkan kaki di Jerman Raffly mengenal sekitar 40 mahasiswa Indonesia lainnya. Tapi banyak dari mereka yang kembali ke Indonesia sebelum menyelesaikan studinya, Raffly dan ide teknologi ramah lingkungan Raffly baru saja memenangkan sebuah kompetisi "Pitching Nation" yang diselenggarakan Earthling Indonesia dan KBRI Berlin 14 November 2020. Kompetisi ini mengajak para kaum muda Indonesia di Jerman untuk beradu ide membangun Indonesia yang berkelanjutan. Banyak wilayah yang belum terlistriki di Indonesia dengan pusat sumber energi yang masih tersentralisasi jadi fokus perhatian Raffly.

Dengan berbekal latar belakang studi mekanika fluida dan termodinamika, Raffly pun mencoba mengikuti perlombaan tersebut. Dia mengusulkan ide pembangkit listrik tenaga angin pesisir pantai. "Lewat kincir angin sederhana enggak usah yang seperti di Inggris-lah yang panjangnya 50 meter dan tinggi tower-nya 90 meter, ini kita coba buat pembangkit dengan bilah dua meter saja... dayanya bisa maksimal 5kW yang disesuaikan dengan kecepatan dan arah angin", jelas Raffly. Ia berharap beberapa kincir angin di lokasi terdepan, terluar, tertinggal (3T) bisa jadi solusi elektrifikasi yang solutif. Penggunaan bahan bakar diesel sebagai sumber pembangkit listrik pun bisa dikurangi dan biaya mahal pembangunan jaringan PLN pun bisa dihindari. Ide realistis Raffly ternyata mendapat perhatian juri. "Elektrifikasi yang belum merata masih jadi keresahan kita bersama, dalam hal ini Raffly telah mentransmisikan idenya ke dalam sesuatu yang bisa kita implementasikan," jelas salah satu dewan juri Dimas Abdirama.

Raffly pun membawa pulang hadiah uang tunai serta berkesempatan menjadi "duta besar" selama sehari.

Magang di Perusahaan Energi Ternama Jerman "Susah banget dapat slot untuk werkstudent (kerja paruh waktu sebagai mahasiswa), saya udah berkali-kali masukkan aplikasi - wawancara ditolak, lamar lagi wawancara lagi lalu ditolak lagi." "Saya coba lagi tapi yang terakhir ini dibilang ada kabar buruk - ditolak lagi, tapi kabar baik ada departemen lain yang sedang nyari, langsunglah bilang oke, langsung wawancara di departemen gas turbine Siemens Energy, eh langsung cocok dan diterima," jelas mahasiswa yang berasal dari Jakarta ini. Untuk bisa bekerja sampingan sembari kuliah di Siemens Energy, Raffly mengakui bahwa seseorang perlu membuktikan pengalaman mengerjakan proyek atau simulasi teknik. Tak harus proyek besar - bisa saja tugas kuliah, di mana tugas ini dikerjakan dengan suatu software. Software seperti Matlab, Python, atau bahkan Excel bisa membantu mempermulus lamaran pekerjaan. "Misalkan Excel saja, bukan sekedar bilang 'bisa' tapi harus bisa membuktikan sudah mengerjakan apa saja dengan Excel itu," ujar Raffly dengan semangat berbagi pengalamannya. Raffly pun menyempatkan waktu mengulik software, karena pengajaran di kelas tidaklah cukup.

Sejak tujuh bulan bergabung dengan Siemens, Raffly tak habis terpukau dengan teknologi yang Siemens miliki serta proyek energi yang digarap Siemens secara internasional. "Ngobrol sama mentor saja rasanya belajar banyak sekali. Dia berbagi kisah dengan ragam proyek instalasi yang ditangani di Jerman atau di luar negeri, jenis energi dil uar fossil fuel yang terus dikembangkan mereka seperti misalnya Hidrogen ... banyak sekali masukan yang bermanfaat," ungkap Raffly. Raffly menikmati masa belajar dan bekerjanya di Siemens, meski diakuinya berkomunikasi di perusahaan besar tidaklah mudah, berbeda dengan komunikasi yang akrab dan familiar saat dulu bekerja di start-up. Seusai studi, Raffly berharap untuk bisa melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi lagi dengan peminatan metode energi terbarukan. "Lebih lanjut lagi saya ingin mengulik lebih lanjut misalnya bagaimana mengurangi efek suara bising dari kincir angin, atau banyak tema lainnya dari energi terbarukan selain kincir angin," jelas Raffly.

Sumber Artikel: kompas.com

Selengkapnya
Cerita WNI Kuliah S2 Teknik Fisika di Jerman: Pintar Aja Enggak Cukup

Teknik Fisika

Prospek Kerja Teknik Fisika, Alumnus ITB: Wirausaha hingga Politik

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil pada 11 Juli 2022


Dalam meniti karier, terdapat tiga opsi yang dapat dipilih seorang sarjana. Pertama adalah bekerja sendiri atau self-employed, kedua ialah bekerja bersama rekan, dan pilihan ketiga adalah menjadi pegawai. Alumni Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung sekaligus Menteri Riset dan Teknologi tahun 2004-2009, Kusmayanto Kadiman mengatakan jadikan pilihan ketiga sebagai pilihan terakhir. "Jadikan ini pilihan terakhir. Di Indonesia yang sangat kurang adalah populasi yang mau menjadi kelompok satu dan dua,” ujar Kusmayanto dalam Grand Opening HMFT Career Weekend ITB pekan lalu, seperti dilansir dari laman ITB.

Mengetahui industri yang berkembang dan memberikan peluang bekerja serta "understanding externalities" menjadi penting untuk opsi pertama dan kedua tersebut. Externalities sendiri berarti faktor luar yang tidak dapat diubah. "Peluang selalu ada dan semua kembali pada orangnya, apakah mau mengambilnya atau tidak," ujarnya. Peluang kerja lulusan Teknik Fisika Sebagai garda terdepan dalam perkembangan teknologi, Teknik Fisika ITB hadir menjawab kebutuhan tersebut. Hal ini disampaikan Sondang Tiar Tampubolon, Alumni Teknik Fisika yang saat ini menjabat sebagai Anggota Parlemen Komisi VI DPR RI. Menurutnya, Teknik Fisika merupakan jurusan yang generalis sehingga alur karier sarjananya tidak selalu menjadi seorang profesional, bisa menjadi wirausaha bahkan terjun dalam dunia politik.

“Kenapa kita terjun di bidang pemerintahan dan politik? Ya memang harus ada, supaya bisa membuat road map bagaimana perkembangan teknologi di Indonesia saat ini,” ujar Sondang yang juga hadir sebagai pembicara. Dalam kesempatan yang sama, Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika ITB mengenalkan prospek teknik fisika yang terbuka bagi masyarakat umum. Pada hari pertama, berlangsung X-Peria Festival, yaitu kegiatan sharing pengalaman tugas akhir dan kerja praktik saat kuliah yang dikemas dalam bentuk pameran virtual. Pameran diadakan di KunstMatrix dan Gather. Dera, salah satu pengunjung X-Peria Festival mengatakan ada banyak manfaat yang didapat melalui acara semacam ini. “Bakal kepakai dan perlu banget insight-nya karena pas orientasi jurusan penjelasannya lebih ke persiapan awal masuk teknik fisika, sedangkan acara ini penjelasannya tentang prospek kita, tentang ujung dari teknik fisika. Ini juga membantu menyemangati di kala demot,” ujar Dera, salah satu pengunjung X-Peria Festival. X-Peria Fextival menghadirkan lebih dari 25 pembicara dari lebih dari 10 laboratorium di Teknik Fisika ITB. Michael, salah satu mahasiswa Teknik Fisika ITB sekaligus pembicara pada booth Lab ICODES menceritakan kebingungannya terkait perbedaan setiap laboratorium dahulu saat ia berada di tahun pertama dan kedua perkuliahannya.

“Terima kasih panitia sudah mengadakan acara ini. Di zamanku tidak ada dan itu kayak benar-benar buta arah. Harapannya dengan ini bisa lebih memberikan kejelasan terutama buat adik tingkat,” ujar Michael yang juga mengunjungi HMFT Career Weekend ITB.

Sumber Artikel: edukasi.kompas.com

Selengkapnya
Prospek Kerja Teknik Fisika, Alumnus ITB: Wirausaha hingga Politik

Teknik Fisika

Ini yang Dipelajari dan Prospek Kerja Jurusan Teknik Fisika

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil pada 11 Juli 2022


Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2022 telah dimulai. Tak hanya kampus swasta, tetapi kampus negeri juga telah memulai prosesnya lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2022. Tapi, calon mahasiswa apakah sudah menentukan pilihan jurusan kuliah yang cocok? Tentu, hal ini penting agar bisa sesuai dengan bakat dan minatnya. Secara khusus, bagi yang tertarik dengan jurusan Teknik Fisika, apa ya nanti yang akan dipelajari serta prospek kerjanya?

Melansir laman Gramedia Blog, Jurusan Teknik Fisika merupakan jurusan keteknikan yang memadukan konsep-konsep engineering, ilmu Fisika dan Matematika untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dan inovatif. Kamu akan dibekali dengan kemampuan riset dan pengembangan, serta perancangan dan analisa untuk berbagai sistem fisis di industri. Nanti, lulusannya akan mampu menganalisis permasalahan teknik berbasis ilmu Teknik Fisika (Instrumentasi, Energi dan Pengkondisian Lingkungan, Material, Vibrasi dan Akustik, dan Fotonika) dan berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan di berbagai industri. Adapun metode pengajaran di jurusan ini menggunakan pendekatan lab based education (LBE) untuk menyeimbangkan pengetahuan teoritis dan penerapan ilmu teknik fisika di lapangan. Yang dipelajari di Jurusan Teknik Fisika Perkuliahan di Jurusan Teknik Fisika akan mempelajari: Fisika Dasar Fisika Modern Fisika Material Analisis Termal Mekanika Fluida Termodinamika Pemodelan Probabilitas dan Statistik Otomasi Industri Elektronika Dan lain-lain

Kebutuhan lulusan Jurusan Teknik Fisika 1. Lulusan Teknik fisika bisa mulai meniti karier di bidang perminyakan dan pertambangan. 2. Teknik Fisika sebagai dasar bidang keteknikan. 3. Lulusan Fisika juga bisa bekerja sebagai peneliti di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Balai Penelitian Daerah, Balai Penelitian SDA, BATAN, dan Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). 4. Bidang Teknologi Informasi juga bisa tidak lepas dari Fisika, jadi lulusannya pun dapat bekerja sebagai software developer maupun analis data sains di berbagai perusahaan negeri atau swasta.

Prospek kerja Jurusan Teknik Fisika 1. Ahli Fisika Ahli fisika atau fisikawan adalah profesi yang sangat erat kaitannya dengan penyelesaian masalah berbagai fenomena alam. Profesi ini akan menganalisis berbagai sifat dan gejala unsur pembentuk alam semesta beserta akibat-akibatnya. 2. Manufaktur dan Telekomunikasi Sedangkan di industri pengolahan atau fasilitas produksi juga memerlukan insinyur dalam bidang instrumentasi dan kontrol untuk melakukan perawatan dan perbaikan peralatan, penyelesaian masalah ataupun perancangan sistem baru yang akan ditambahkan pada panel atau fasilitas produksi. 3. Tenaga pendidik/dosen Tak hanya bekerja di dunia industri, lulusan mahasiswa teknik fisika juga bisa bekerja di perguruan tinggi untuk menjadi dosen dengan syarat minimal s2. Biasanya juga bisa ahli jenjang ke jurusan teknik lain seperti teknik elektro, teknik mesin, dan lain-lain.

Sumber Artikel: edukasi.kompas.com

Selengkapnya
Ini yang Dipelajari dan Prospek Kerja Jurusan Teknik Fisika
page 1 of 1