Transportasi

Menilai Dampak Sosial dan Lingkungan dalam Kebijakan Transportasi: Mewujudkan Infrastruktur yang Inklusif dan Berkelanjutan

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 29 Oktober 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?

Kebijakan transportasi sering kali menilai proyek jalan hanya berdasarkan efisiensi ekonomi, tanpa mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan. Walter Hook (Institute for Transportation and Development Policy) menyoroti pentingnya memperhitungkan dampak eksternal seperti polusi udara, kebisingan, kecelakaan, dan pemisahan sosial (severance) dalam analisis ekonomi proyek jalan.

Pendekatan ini penting bagi Indonesia karena banyak proyek jalan di kota besar—seperti pembangunan jalan tol dan ring road—dapat meningkatkan kecepatan kendaraan, tetapi juga menciptakan hambatan bagi pejalan kaki dan pengguna non-motor. Tanpa perhitungan sosial yang menyeluruh, kebijakan publik berisiko mendorong ketimpangan mobilitas dan memperburuk akses masyarakat berpenghasilan rendah.

Kursus seperti Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi Infrastruktur Publik di Diklatkerja menjadi relevan untuk memperkuat kemampuan teknokrat dan perencana kebijakan dalam merancang analisis sosial ekonomi yang komprehensif dan adil. Business with Social Impact.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ekonomi tradisional (misalnya Highway Development and Management Model – HDM) sering mengabaikan:

  • Dampak terhadap pengguna non-motor seperti pejalan kaki dan pesepeda.

  • Biaya sosial akibat polusi, kecelakaan, dan pemindahan penduduk (involuntary resettlement).

  • Ketimpangan antara moda transportasi: jalan mobil disubsidi besar-besaran, sedangkan angkutan umum ditekan subsidi.

Sebagai contoh, proyek jalan di Surabaya yang diteliti oleh GTZ (2002) justru meningkatkan waktu tempuh warga miskin akibat sistem jalan satu arah dan penghalang pejalan kaki. Akibatnya, mobilitas masyarakat rendah malah menurun.

Namun, peluang muncul melalui penerapan Strategic Environmental Assessment (SEA) dan kebijakan “Least-Cost Planning” yang mempertimbangkan alternatif transportasi seperti busway dan jalur sepeda. Inisiatif seperti Kursus Manajemen Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah dapat membantu memperkuat perencanaan lintas moda yang berorientasi sosial. Berikut adalah kursus yang relevan Manajemen Konstruksi dan Infrastruktur.

5 Rekomendasi Kebijakan Praktis

  1. Masukkan Biaya Sosial dalam Evaluasi Ekonomi Proyek Setiap proyek jalan harus menghitung biaya eksternal (polusi, kecelakaan, pemisahan sosial) dalam analisis cost-benefit.

  2. Terapkan Strategic Environmental Assessment (SEA) Pastikan dampak lingkungan dan sosial dianalisis sejak tahap awal perencanaan.

  3. Perkuat Pendekatan Mode-Based Targeting Prioritaskan pembiayaan untuk infrastruktur yang digunakan kelompok berpendapatan rendah (jalan kaki, sepeda, transportasi publik).

  4. Integrasikan Evaluasi Sosial dan Fiskal Analisis proyek tidak hanya fokus pada keuntungan ekonomi, tetapi juga efek terhadap keuangan pemerintah dan subsidi antar moda.

  5. Dorong Transparansi dan Partisipasi Publik Publikasikan hasil social impact assessment dan kontrak proyek untuk memastikan akuntabilitas serta partisipasi masyarakat.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Kebijakan jalan bisa gagal bila hanya menekankan efisiensi kendaraan bermotor. Risiko kegagalannya mencakup:

  • Proyek jalan meningkatkan ketimpangan akses dan memperburuk keselamatan publik.

  • Evaluasi sosial hanya bersifat formalitas dan tidak berpengaruh pada keputusan pendanaan.

  • Tidak ada keseimbangan antara subsidi untuk mobil pribadi dan transportasi publik.

Untuk menghindarinya, pemerintah harus menerapkan tata kelola transportasi berkeadilan yang menilai proyek berdasarkan manfaat sosial, bukan sekadar kecepatan kendaraan.

Penutup

Pendekatan baru dalam evaluasi proyek jalan harus menempatkan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan sebagai inti kebijakan. Seperti ditekankan oleh Walter Hook, transportasi bukan hanya tentang efisiensi ekonomi, tetapi juga tentang siapa yang benar-benar diuntungkan dan siapa yang dirugikan.

Melalui pelatihan seperti yang diselenggarakan oleh Diklatkerja, para pembuat kebijakan di Indonesia dapat membangun sistem transportasi yang lebih inklusif, aman, dan ramah lingkungan.

Sumber

Hook, W. (2003). Appraising the Social Costs and Benefits of Road Projects. Institute for Transportation and Development Policy (ITDP).

Selengkapnya
Menilai Dampak Sosial dan Lingkungan dalam Kebijakan Transportasi: Mewujudkan Infrastruktur yang Inklusif dan Berkelanjutan

Transportasi

Penelitian Universitas Indonesia Mengungkap Mata Rantai yang Hilang dalam Perawatan Kereta Api Modern – dan Ini Pertaruhannya bagi Keamanan Anda!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 23 Oktober 2025


Setiap pagi, jutaan orang di seluruh Indonesia melangkah ke peron stasiun, menaruh kepercayaan mereka pada janji ketepatan waktu dan keamanan yang ditawarkan oleh kereta api. Transportasi ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan urat nadi yang menopang denyut kehidupan sosial dan ekonomi bangsa. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan gambaran yang jelas: selama satu dekade, dari 2012 hingga 2022, jumlah penumpang kereta api tumbuh rata-rata 10% setiap tahun, sementara volume kargo melonjak 11% per tahun.1 Angka-angka ini adalah bukti hidup betapa vitalnya rel baja bagi pergerakan manusia dan barang.

Pemerintah pun merespons dengan ambisi besar, merencanakan penambahan kapasitas penumpang hingga 40% untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.1 Di atas kertas, ini adalah kabar gembira. Namun, di balik deru roda kereta dan visi kemajuan, sebuah penelitian mendalam dari para periset di Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia, Nurul Inayah Wardahni dan Yusuf Latief, mengungkap sebuah paradoks yang mengkhawatirkan.

Kereta api selama ini dikenal sebagai benteng keselamatan transportasi darat, dengan risiko kecelakaan tujuh kali lebih rendah dibandingkan jalan raya.1 Namun, keamanan ini bukanlah sebuah keniscayaan. Ia adalah hasil dari sistem perawatan infrastruktur yang kompleks, presisi, dan sering kali tak terlihat. Ironisnya, kesuksesan dan popularitas kereta api yang meroket justru menjadi pedang bermata dua. Semakin banyak kereta yang melintas, semakin sering rel, jembatan, dan sinyal menanggung beban, yang pada akhirnya mempercepat keausan dan "peningkatan deteriorasi".1

Pertumbuhan pesat ini menciptakan apa yang bisa disebut sebagai "paradoks keamanan". Semakin kita bergantung pada sistem ini, semakin besar potensi guncangan katastropik jika fondasi pendukungnya—yakni sistem perawatannya—gagal berevolusi. Penelitian ini membunyikan alarm bahwa isu perawatan kereta api bukan lagi sekadar masalah operasional teknis, melainkan telah menjadi isu krusial bagi keamanan publik dan ketahanan ekonomi nasional.

 

Krisis Senyap di Bawah Rel: Mengapa Sistem Perawatan Konvensional Tak Lagi Cukup?

Masalah yang dihadapi sistem perawatan kereta api saat ini bukanlah hal sepele. Penelitian ini membedah serangkaian tantangan yang mengakar, mulai dari kesulitan dalam pengambilan keputusan terkait kontrak dan strategi, hingga masalah teknis seperti implementasi yang tidak terintegrasi dan sistem pemantauan yang lemah.1 Bayangkan seorang dokter yang mencoba mendiagnosis penyakit kompleks hanya dengan meraba dahi pasien, tanpa stetoskop, MRI, atau rekam medis yang lengkap. Begitulah gambaran sistem perawatan konvensional yang bersifat reaktif.

Kondisi di Indonesia, menurut temuan dalam studi literatur ini, menghadapi tantangan yang lebih spesifik dan struktural. Masalahnya terbagi dalam tiga aspek utama: manajemen keuangan, struktur organisasi, dan manajemen aset.1 Dalam aspek keuangan, sistem kontrak tahunan dan struktur pasar yang cenderung monopolistik disebut "membunuh inovasi". Tanpa persaingan sehat dan visi jangka panjang, tidak ada insentif kuat untuk berinvestasi dalam teknologi atau metode yang lebih efisien. Kontrak jangka pendek menghalangi perencanaan strategis yang dibutuhkan untuk adopsi teknologi canggih.

Dari sisi organisasi, isu transparansi dan potensi lemahnya kontrol menjadi sorotan. Ketika regulator dan operator memiliki hubungan yang terlalu erat, fungsi pengawasan bisa menjadi tumpul. Namun, kelemahan paling fundamental terletak pada manajemen aset. Strategi perawatan yang dominan saat ini adalah Time Based Maintenance (TBM) atau perawatan berbasis waktu, dan Failure Based Maintenance (FBM) atau perawatan berbasis kegagalan.1

Untuk memahaminya dengan mudah: TBM ibarat mengganti oli mobil setiap 5.000 km, terlepas dari apakah olinya masih bagus atau sudah sangat buruk. Ini bisa jadi pemborosan. Sementara FBM, yang lebih berbahaya, adalah seperti menunggu mobil mogok di tengah jalan tol saat jam sibuk baru kemudian memanggil montir. Keduanya sangat tidak efisien, mahal, dan yang terpenting, membuka celah risiko yang seharusnya bisa dihindari. Akar masalahnya bukanlah sekadar kurangnya alat canggih, melainkan kerangka kerja sistemik yang secara aktif menghambat efisiensi dan inovasi.

 

E-Maintenance, Janji Revolusi Digital untuk Perkeretaapian

Di tengah tantangan ini, dunia global menawarkan sebuah solusi transformatif yang dikenal sebagai e-maintenance. Ini bukanlah sekadar digitalisasi formulir kertas. E-maintenance adalah sebuah konsep revolusioner yang mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ke dalam jantung strategi perawatan untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang proaktif.1 Tujuannya sederhana namun kuat: beralih dari paradigma "memperbaiki kerusakan" menjadi "mencegah kegagalan".

Penelitian ini mengidentifikasi berbagai teknologi yang menjadi tulang punggung e-maintenance di berbagai negara maju seperti Jepang, Italia, dan Tiongkok. Teknologi ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan alat yang sudah terbukti di lapangan.1

  • Sensor Cerdas: Bayangkan rel kereta memiliki "sistem saraf digital" yang mampu 'merasakan' getaran abnormal, retakan mikro, atau pergeseran suhu sekecil apa pun, jauh sebelum bisa dideteksi oleh mata manusia.
  • Building Information Modeling (BIM): Ini adalah "avatar digital 3D" yang hidup untuk setiap jembatan, terowongan, dan stasiun. Bukan lagi sekadar cetak biru statis, BIM memungkinkan para insinyur untuk menyimulasikan bagaimana sebuah struktur menua, merespons beban ekstrem, atau bahkan merencanakan rute perbaikan paling efisien tanpa harus menutup jalur.1
  • Geographic Information System (GIS): Anggap saja ini "Google Maps super canggih" untuk seluruh jaringan kereta api. GIS dapat melapisi data kondisi rel dengan data cuaca, peta risiko longsor, dan jadwal perawatan, memberikan pandangan mata elang yang komprehensif bagi para perencana untuk mengalokasikan sumber daya secara bijak.1
  • Kecerdasan Buatan (AI): AI berperan sebagai "otak" dari keseluruhan sistem. Ia menganalisis jutaan titik data yang masuk dari sensor, BIM, dan GIS untuk kemudian memberikan prediksi akurat, seperti: "Bantalan rel di Jembatan Cisomang kilometer 100 menunjukkan tanda keausan 23% lebih cepat dari normal dan kemungkinan besar akan mencapai titik kritis dalam 87 hari ke depan.".1

Pergeseran ini secara fundamental mengubah hubungan antara manusia dan infrastruktur. Jika sebelumnya manusia harus secara aktif mencari kerusakan melalui inspeksi manual, kini infrastruktur secara proaktif melaporkan kondisi kesehatannya secara terus-menerus. Peran manusia pun bergeser, dari sekadar "pencari masalah" menjadi "penafsir data dan pengambil keputusan strategis".

 

Temuan Kunci: Ketika Teknologi Canggih Ternyata Hanya Setengah Jawaban

Setelah memaparkan potensi luar biasa dari e-maintenance, penelitian Wardahni dan Latief sampai pada sebuah titik balik—sebuah temuan kunci yang mengejutkan dan menjadi inti dari kontribusi mereka. Mereka menemukan sebuah kelemahan fundamental yang selama ini tersembunyi di depan mata: implementasi e-maintenance di sektor perkeretaapian secara global ternyata terlalu fokus pada adopsi teknologi itu sendiri.1

Para peneliti mengidentifikasi adanya "mata rantai yang hilang", sebuah kesenjangan kritis di mana tidak ada integrasi yang layak antara aspek manajerial dengan teknologi informasi.1 Analogi yang tepat adalah seperti memiliki mobil Formula 1 tercanggih di dunia, lengkap dengan mesin hibrida dan aerodinamika mutakhir, tetapi tidak memiliki tim pit stop yang terlatih, tidak punya strategi balapan yang jelas, dan bahkan mengabaikan aturan keselamatan dasar. Anda mungkin punya kecepatan, tetapi kecelakaan fatal hampir pasti tak terhindarkan.

Penelitian ini menyoroti elemen-elemen manajerial krusial yang sering kali terabaikan dalam euforia digitalisasi:

  • Regulasi: Aturan main yang kokoh untuk menstandardisasi pengumpulan data, menjamin keamanan siber, dan memastikan semua sistem dapat "berbicara" satu sama lain.
  • Struktur Rincian Kerja (Work Breakdown Structure - WBS): Peta jalan yang terperinci untuk setiap tindakan perawatan. WBS memastikan bahwa setiap data anomali dari sensor terhubung langsung ke serangkaian prosedur standar yang jelas, terukur, dan dapat diaudit.1
  • Manajemen Risiko: Kemampuan untuk tidak hanya melihat data, tetapi juga memahami implikasinya. Ini adalah proses untuk menjawab pertanyaan, "Apa artinya jika prediksi AI ini benar? Apa rencana mitigasi kita? Apa skenario terburuknya?".1
  • Keselamatan (Safety & OHS): Protokol yang memastikan bahwa proses perawatan digital yang baru tidak secara tidak sengaja menciptakan bahaya baru, baik bagi para pekerja di lapangan maupun bagi publik.

Kesenjangan ini adalah gejala dari sebuah jebakan pemikiran yang disebut techno-solutionism—keyakinan buta bahwa semua masalah kompleks dapat diselesaikan hanya dengan menerapkan teknologi baru. Kenyataannya, membeli drone atau perangkat lunak canggih jauh lebih mudah daripada melakukan pekerjaan yang sulit dan kurang glamor: mereformasi proses internal, mengubah budaya kerja, dan membangun kerangka manajerial yang solid.

Namun, sebagai sebuah tinjauan literatur, studi ini secara inheren berfokus pada analisis penelitian yang ada, bukan pada studi kasus lapangan secara langsung di Indonesia. Ini berarti kesenjangan yang diidentifikasi adalah berdasarkan tren global dalam literatur akademik, yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan setiap nuansa praktik di lapangan. Hal ini justru membuka peluang emas untuk penelitian lanjutan yang menguji dan memvalidasi kerangka kerja terpadu ini pada proyek perkeretaapian spesifik di Indonesia, seperti kereta cepat atau MRT.

 

Peta Jalan Menuju Perawatan Cerdas Seutuhnya: Apa yang Harus Dilakukan

Mengidentifikasi masalah adalah satu hal, tetapi penelitian ini juga secara implisit menawarkan peta jalan menuju solusinya. Kunci untuk membuka potensi penuh e-maintenance bukanlah dengan menambah lebih banyak teknologi, melainkan dengan membangun sebuah "ekosistem" yang terintegrasi, di mana teknologi dan manajemen berjalan beriringan.

Kerangka kerja ideal yang diusulkan mencakup lima pilar utama yang harus dibangun secara simultan 1:

  1. Regulasi sebagai Fondasi: Pemerintah perlu menetapkan standar nasional untuk data perawatan infrastruktur, keamanan siber, dan interoperabilitas sistem agar semua pemangku kepentingan dapat berkolaborasi dengan lancar.
  2. Strategi & WBS sebagai Arsitektur: Setiap operator harus mengembangkan strategi perawatan yang jelas, di mana setiap data dari teknologi TIK terhubung dengan tindakan yang terdefinisi dengan baik, terjadwal, dan terukur.
  3. Organisasi sebagai Penggerak: Struktur organisasi harus beradaptasi. Departemen perawatan tidak bisa lagi hanya diisi oleh teknisi lapangan; mereka membutuhkan analis data, ilmuwan data, dan manajer strategis yang mampu menerjemahkan wawasan prediktif menjadi keputusan bisnis yang cerdas.
  4. Budaya sebagai Sistem Operasi: Ini mungkin pilar yang paling sulit namun paling penting. Perlu ada transformasi budaya dari reaktif menjadi proaktif, dari bekerja dalam silo menjadi kolaborasi lintas-fungsi berbasis data, dan menanamkan kesadaran akan risiko dan keselamatan sebagai prioritas utama di setiap level.
  5. Teknologi sebagai Alat Pendukung: Akhirnya, teknologi ditempatkan pada posisinya yang semestinya—sebagai enabler yang kuat, bukan sebagai solusi tunggal.

Tantangan terbesar dalam implementasi e-maintenance yang seutuhnya bukanlah tantangan teknis, melainkan tantangan organisasional dan kultural. Ini adalah proyek transformasi budaya yang membutuhkan kepemimpinan yang kuat, manajemen perubahan yang efektif, dan kemauan politik yang solid. Inisiatif ini harus menjadi agenda utama di tingkat direksi dan pemerintah, bukan sekadar proyek yang didelegasikan ke departemen IT.

 

Dampak Nyata bagi Penumpang, Perekonomian, dan Masa Depan Indonesia

Pada akhirnya, penelitian dari Universitas Indonesia ini lebih dari sekadar wacana akademis. Ia adalah sebuah peringatan sekaligus peta jalan yang sangat relevan bagi Indonesia, sebuah negara yang sedang berinvestasi triliunan rupiah untuk membangun dan memodernisasi infrastruktur transportasinya. Pesan utamanya jelas: teknologi saja tidak akan pernah cukup.

Kunci menuju masa depan perkeretaapian yang benar-benar aman, andal, dan efisien terletak pada integrasi cerdas antara teknologi canggih dengan kerangka kerja manajerial yang kokoh—sebuah mata rantai yang selama ini hilang.

Jika kerangka kerja terpadu yang diidentifikasi dalam riset ini diterapkan secara serius, dampaknya akan sangat besar. Indonesia tidak hanya akan melindungi investasi infrastrukturnya yang masif. Dalam satu dekade ke depan, kita bisa menyaksikan penurunan drastis dalam insiden terkait kegagalan infrastruktur, optimalisasi biaya perawatan yang dapat menghemat anggaran negara secara signifikan, dan yang terpenting, peningkatan kepercayaan publik terhadap sistem transportasi yang menjadi tulang punggung kemajuan bangsa.

Pertaruhannya jauh lebih besar dari sekadar memastikan kereta datang tepat waktu. Ini adalah tentang membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan, di atas segalanya, melindungi keselamatan jutaan nyawa yang setiap hari menggantungkan harapan pada kokohnya rel baja di bawah mereka.

 

Sumber Artikel:

https://doi.org/10.1088/1755-1315/1324/1/012045

Selengkapnya
Penelitian Universitas Indonesia Mengungkap Mata Rantai yang Hilang dalam Perawatan Kereta Api Modern – dan Ini Pertaruhannya bagi Keamanan Anda!

Transportasi

Inovasi Transportasi Cerdas dan Mobilitas Berkelanjutan di Kawasan Perkotaan: Pelajaran dari Studi Global

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 08 Oktober 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan

Pertumbuhan pesat urbanisasi di dunia memicu tantangan serius dalam tata kelola transportasi. Lonjakan jumlah kendaraan pribadi, kemacetan parah, polusi udara, dan konsumsi energi yang tinggi menuntut perubahan paradigma menuju mobilitas cerdas dan berkelanjutan (smart and sustainable mobility). Berdasarkan hasil penelitian dalam dokumen ini, penerapan teknologi transportasi cerdas—termasuk sistem transportasi terintegrasi, manajemen lalu lintas berbasis data, serta elektrifikasi kendaraan—dapat menjadi solusi strategis untuk menciptakan kota yang efisien, ramah lingkungan, dan inklusif.

Bagi Indonesia, urgensi ini sangat nyata. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan menghadapi tekanan tinggi akibat pertumbuhan kendaraan pribadi dan minimnya integrasi antar moda transportasi publik. Kebijakan transportasi yang konvensional—berfokus pada pembangunan jalan dan infrastruktur kendaraan bermotor—tidak lagi cukup. Temuan ini menegaskan bahwa masa depan transportasi harus berfokus pada efisiensi sistem, digitalisasi layanan, dan dekarbonisasi mobilitas.

Kementerian Perhubungan bersama pemerintah daerah perlu memanfaatkan hasil penelitian ini untuk memperkuat kebijakan berbasis data. Pendekatan Smart Mobility berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) harus diintegrasikan dalam sistem transportasi perkotaan agar pengambilan keputusan lebih cepat dan akurat.

Dengan demikian, hasil penelitian ini memberi landasan kuat bagi pemerintah untuk mempercepat revolusi mobilitas perkotaan, di mana efisiensi, digitalisasi, dan keberlanjutan menjadi poros utama.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Implementasi konsep smart mobility telah menunjukkan hasil nyata di berbagai negara maju. Jepang dan Korea Selatan mengembangkan sistem transportasi terintegrasi dengan AI untuk mengatur arus lalu lintas dinamis, mengurangi waktu tempuh hingga 30%. Di Eropa, kota-kota seperti Amsterdam dan Kopenhagen menjadi contoh global untuk penggunaan kendaraan listrik dan sepeda pintar dalam sistem transportasi rendah karbon.

Dampak positifnya mencakup peningkatan kualitas udara, penghematan energi, serta peningkatan produktivitas akibat berkurangnya kemacetan. Penggunaan data besar (big data) untuk analisis perilaku mobilitas juga memungkinkan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis bukti.

Namun, di Indonesia, penerapan mobilitas cerdas masih menghadapi sejumlah hambatan struktural. Pertama, fragmentasi kelembagaan antara pemerintah pusat, daerah, dan operator transportasi membuat koordinasi sulit. Kedua, ketimpangan akses teknologi menyebabkan adopsi sistem digital belum merata. Banyak daerah masih mengandalkan metode manual dalam manajemen lalu lintas. Ketiga, keterbatasan SDM digital membuat inovasi berbasis AI dan IoT sulit diterapkan secara optimal.

Sesuai dengan artikel Pelayanan Transportasi di Era Digital yang Menjadi Tantangan Pemerintah Saat Ini.

Meski demikian, peluang implementasi sangat besar. Program smart city nasional dapat menjadi katalisator integrasi sistem transportasi digital. Pemerintah juga dapat memanfaatkan model kolaborasi publik-swasta untuk mempercepat pengembangan infrastruktur mobilitas cerdas.

Rekomendasi Kebijakan Praktis

Berdasarkan temuan penelitian dan praktik global, berikut rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan di Indonesia:

  1. Integrasi Sistem Transportasi Nasional
    Pemerintah perlu membangun platform data terintegrasi yang menghubungkan moda transportasi (bus, kereta, MRT, LRT, dan ojek daring) dengan data lalu lintas real-time untuk mendukung kebijakan berbasis bukti.

  2. Insentif untuk Transportasi Rendah Emisi
    Pemberian insentif fiskal bagi pengguna kendaraan listrik, operator bus listrik, dan proyek infrastruktur pengisian daya harus diperluas. Program seperti Green Transport Financing dapat menarik minat investor swasta.

  3. Digitalisasi dan IoT dalam Manajemen Transportasi
    Penerapan sensor cerdas, pemetaan dinamis, dan aplikasi navigasi publik harus menjadi bagian dari perencanaan kota. Langkah ini akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan.

  4. Program Literasi Digital Transportasi
    Pelatihan berbasis modul Manajemen Risiko dalam Proyek Konstruksi Transportasi diperlukan agar SDM mampu mengelola sistem berbasis data dan risiko operasional.

  5. Penguatan Kolaborasi Pemerintah–Swasta–Akademisi
    Inovasi transportasi cerdas tidak dapat berjalan tanpa kemitraan lintas sektor. Pemerintah dapat membentuk Urban Mobility Innovation Hub untuk menghubungkan startup teknologi, universitas, dan operator transportasi.

  6. Evaluasi dan Indikator Kinerja (KPI)
    Setiap proyek smart mobility harus disertai indikator kinerja yang terukur seperti pengurangan emisi, waktu tempuh rata-rata, dan peningkatan pengguna transportasi publik.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Kebijakan mobilitas cerdas berpotensi gagal jika tidak disertai kesiapan ekosistem digital. Pertama, biaya tinggi infrastruktur digital dan kurangnya SDM ahli dapat memperlambat implementasi. Kedua, tanpa mekanisme koordinasi antar lembaga, sistem data terintegrasi akan sulit diwujudkan. Ketiga, resistensi dari operator konvensional dapat menimbulkan konflik dalam adopsi sistem baru.

Selain itu, kurangnya kesetaraan akses digital antara kota besar dan kecil dapat memperlebar kesenjangan layanan. Jika kebijakan hanya berfokus pada kota metropolitan, daerah tingkat dua dan tiga akan tertinggal dalam inovasi mobilitas.

Penutup

Transformasi menuju mobilitas cerdas dan berkelanjutan bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi revolusi kebijakan transportasi. Temuan penelitian dalam dokumen ini menegaskan bahwa smart mobility merupakan prasyarat untuk kota yang tangguh, efisien, dan inklusif.

Dengan integrasi sistem transportasi, digitalisasi layanan, serta penguatan kapasitas SDM, Indonesia berpeluang menjadi pionir mobilitas cerdas di Asia Tenggara. Namun, komitmen politik, kolaborasi lintas sektor, dan kesetaraan akses teknologi menjadi kunci agar kebijakan ini tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi benar-benar mengubah wajah transportasi nasional.

Sumber:
Penulis, (2020). Smart and Sustainable Urban Mobility Systems.

Selengkapnya
Inovasi Transportasi Cerdas dan Mobilitas Berkelanjutan di Kawasan Perkotaan: Pelajaran dari Studi Global

Transportasi

Menuju Masa Depan Hijau: Mobilitas Listrik dan Transformasi Transportasi di Filipina

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 29 September 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?

Filipina menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang cukup progresif dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui Electric Vehicle Industry Development Act (EVIDA) dan roadmap CREVI (Comprehensive Roadmap for EV Industry). Kebijakan ini tidak hanya mendorong adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat rantai pasok, manufaktur lokal, serta infrastruktur pengisian daya.

Bagi Indonesia, temuan ini penting karena kita menghadapi tantangan serupa: ketergantungan tinggi pada energi fosil, polusi udara di perkotaan, serta kebutuhan transisi menuju energi bersih. Jika Filipina mampu membangun kebijakan terintegrasi yang melibatkan insentif fiskal, investasi infrastruktur, dan dukungan regulasi, Indonesia juga dapat menempuh jalur serupa. Hal ini terlihat dalam upaya Indonesia melalui artikel Peran Kendaraan Listrik dalam Mengatasi Perubahan Iklim dan Pemanasan Global yang menunjukkan bagaimana kebijakan transisi energi dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi emisi dan mendukung transportasi masa depan.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Implementasi kebijakan mobilitas listrik di Filipina membawa sejumlah dampak positif. Pertama, penurunan emisi karbon di sektor transportasi, yang merupakan penyumbang emisi terbesar di perkotaan. Kedua, munculnya peluang ekonomi baru di bidang manufaktur baterai, infrastruktur pengisian daya, dan industri komponen pendukung. Ketiga, peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya transportasi ramah lingkungan.

Namun, hambatan juga tidak sedikit. Infrastruktur pengisian daya masih terbatas, sehingga adopsi kendaraan listrik berjalan lambat. Biaya awal kendaraan listrik relatif tinggi bagi sebagian besar konsumen. Selain itu, ketergantungan pada impor komponen utama seperti baterai menimbulkan kerentanan rantai pasok.

Meski begitu, peluang tetap besar. Dengan memanfaatkan dukungan internasional, memperkuat riset teknologi baterai, serta menciptakan regulasi yang konsisten, Filipina dapat mempercepat transisi energi bersih. Indonesia bisa belajar dari model ini, terutama dalam hal insentif fiskal dan roadmap terintegrasi yang realistis.

5 Rekomendasi Kebijakan Praktis

Pertama, pemerintah perlu menyusun roadmap kendaraan listrik yang lebih terintegrasi dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang. Kedua, insentif fiskal seperti pengurangan pajak, pembebasan bea masuk, atau subsidi pembelian kendaraan listrik harus diperkuat untuk mendorong adopsi massal. Ketiga, percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya publik harus menjadi prioritas. Keempat, kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri perlu diperluas untuk memperkuat riset dan inovasi di bidang teknologi baterai dan sistem pengisian daya. Kelima, kampanye publik yang masif harus digalakkan untuk mengubah perilaku konsumen menuju transportasi ramah lingkungan.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Jika kebijakan mobilitas listrik hanya bersifat jangka pendek atau tidak dijalankan dengan konsistensi, risiko kegagalan sangat besar. Kendaraan listrik bisa terjebak sebagai “produk niche” tanpa dampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Infrastruktur yang tidak memadai dapat menghambat kepercayaan konsumen, sementara ketidakjelasan regulasi bisa menurunkan minat investor. Dalam konteks Indonesia, risiko yang sama mengintai jika roadmap kendaraan listrik hanya berhenti pada retorika tanpa implementasi nyata di lapangan.

Penutup

Studi tentang mobilitas listrik di Filipina memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Kebijakan publik yang konsisten, insentif fiskal yang menarik, serta roadmap terintegrasi dapat mempercepat transisi transportasi menuju era hijau. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama kendaraan listrik di Asia Tenggara, asalkan mampu memanfaatkan momentum global transisi energi dengan langkah konkret yang berkelanjutan.

Sumber

The Electrical Engineer, April/August 2024. Artikel utama: “EV Industry Development in the Philippines.”

Selengkapnya
Menuju Masa Depan Hijau: Mobilitas Listrik dan Transformasi Transportasi di Filipina

Transportasi

Kebijakan Publik atas Guidance on ECM Certification Process

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 22 September 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?

Proses sertifikasi ECM merupakan sebuah mekanisme formal yang memastikan entitas yang bertanggung jawab atas perawatan sarana perkeretaapian memenuhi standar yang ditetapkan. Dalam konteks internasional, ECM adalah aktor penting dalam memastikan bahwa kereta api yang beroperasi tetap aman, andal, dan sesuai dengan standar teknis maupun regulasi keselamatan. Dokumen ini menegaskan bahwa sertifikasi tidak hanya berfungsi sebagai persyaratan administratif, melainkan sebagai jaminan kualitas sistem perawatan yang melibatkan aspek manajemen, teknis, dan operasional.

Bagi Indonesia yang sedang mengembangkan berbagai proyek transportasi berbasis rel, mulai dari kereta cepat hingga LRT dan MRT, keberadaan standar perawatan yang diakui secara internasional menjadi sangat krusial. Dengan sertifikasi ECM, ada mekanisme yang terstruktur untuk memastikan bahwa perawatan sarana dilakukan sesuai standar dan audit independen, sehingga risiko kecelakaan dapat ditekan. Hal ini sangat terkait dengan diskusi pada artikel mengenai Sertifikasi Profesi dan Sertifikasi Kompetensi yang menjelaskan pentingnya standar kompetensi dan sertifikasi yang jelas agar profesi dan tanggung jawab perawatan menjadi tegas dan diakui secara resmi.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Penerapan sertifikasi ECM memiliki berbagai dampak positif. Pertama, adanya jaminan standar kualitas dalam perawatan akan meningkatkan keselamatan penumpang dan pekerja, sekaligus memperpanjang umur teknis sarana. Kedua, penerapan ECM menciptakan transparansi dan akuntabilitas, karena setiap entitas yang tersertifikasi harus mampu menunjukkan bukti sistem manajemen perawatan yang terdokumentasi. Ketiga, dampak ekonominya cukup signifikan, karena biaya perawatan jangka panjang dapat ditekan melalui praktik preventif yang lebih terukur.

Namun, di balik potensi tersebut, terdapat sejumlah hambatan. Indonesia masih menghadapi keterbatasan kapasitas lembaga sertifikasi dan auditor yang kompeten dalam bidang ini. Regulasi juga belum sepenuhnya mengakomodasi adopsi sistem sertifikasi internasional, sehingga dapat menimbulkan tumpang tindih aturan. Selain itu, biaya sertifikasi sering dianggap beban tambahan bagi operator, terutama perusahaan yang masih dalam tahap awal pengembangan infrastruktur.

Meskipun demikian, peluang tetap terbuka lebar. Penerapan ECM di Indonesia dapat didukung oleh kemitraan internasional, baik dengan lembaga sertifikasi maupun perusahaan perkeretaapian global. Selain itu, peluang digitalisasi perawatan melalui teknologi seperti predictive maintenance dan big data analytics dapat melengkapi sistem ECM, membuatnya lebih adaptif dan efisien. Dengan demikian, sertifikasi ECM dapat berperan sebagai katalis modernisasi industri perkeretaapian nasional.

5 Rekomendasi Kebijakan Praktis

Pertama, pemerintah perlu menetapkan regulasi nasional yang mengadopsi prinsip-prinsip ECM ke dalam peraturan perkeretaapian Indonesia. Regulasi ini harus mencakup standar teknis, prosedur audit, serta mekanisme pengawasan yang konsisten. Kedua, perlu dibangun kapasitas lembaga sertifikasi domestik yang berlisensi dan diakui secara internasional, sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada pihak luar dalam menjalankan sertifikasi. Ketiga, kebijakan publik harus mendorong operator untuk mengintegrasikan sertifikasi ECM dengan sistem manajemen perawatan internal, agar sertifikasi tidak berhenti pada tataran administratif. Keempat, dukungan insentif keuangan, baik dalam bentuk subsidi maupun keringanan biaya sertifikasi, perlu diberikan kepada operator kecil atau baru yang mungkin terbebani dengan biaya implementasi. Kelima, kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset harus ditingkatkan untuk menciptakan tenaga ahli perawatan yang memiliki pemahaman mendalam tentang ECM dan dapat menjadi bagian dari ekosistem sertifikasi di masa depan.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Jika kebijakan sertifikasi ECM tidak diterapkan dengan konsistensi yang kuat, beberapa risiko besar dapat terjadi. Pertama, sertifikasi bisa kehilangan makna dan hanya menjadi formalitas administratif, tanpa benar-benar meningkatkan kualitas perawatan. Kedua, biaya tambahan dari sertifikasi yang tidak diimbangi dengan manfaat nyata dapat memicu resistensi dari operator, yang justru mengurangi partisipasi dalam proses sertifikasi. Ketiga, tanpa audit independen yang kredibel, integritas sistem ECM akan diragukan, sehingga kepercayaan publik terhadap keselamatan transportasi rel bisa menurun. Dalam jangka panjang, kegagalan implementasi ECM dapat memperburuk citra perkeretaapian Indonesia dan membuat negara ini tertinggal dari standar global dalam hal keselamatan dan manajemen perawatan.

Penutup

Guidance on ECM Certification Process memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana sistem sertifikasi dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi dalam industri perkeretaapian. Untuk Indonesia, adopsi kebijakan ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak seiring dengan semakin luasnya pembangunan transportasi berbasis rel. Dengan kerangka regulasi yang jelas, lembaga sertifikasi yang kredibel, serta dukungan sumber daya manusia dan teknologi, penerapan ECM dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan sistem transportasi yang aman, efisien, dan berdaya saing internasional.

Sumber

Guidance on ECM Certification Process. European Union Agency for Railways (ERA).

Selengkapnya
Kebijakan Publik atas Guidance on ECM Certification Process

Transportasi

Merancang Masa Depan Pelayaran: Pendekatan Berbasis Model untuk Keselamatan Kapal Otonom

Dipublikasikan oleh Raihan pada 19 September 2025


Seiring dengan kemajuan teknologi, industri maritim berada di ambang transformasi besar menuju operasi otonom. Kapal tanpa awak menjanjikan efisiensi yang lebih tinggi, pengurangan kesalahan manusia, dan optimalisasi biaya operasional. Namun, janji ini diimbangi oleh tantangan besar: bagaimana kita dapat menjamin bahwa sistem yang begitu kompleks dan digerakkan oleh perangkat lunak ini akan beroperasi dengan aman di lingkungan laut yang dinamis dan tidak dapat diprediksi? Paper "Model-Based Design and Safety Assessment for Crewless Autonomous Vessel" oleh Takuya Nakashima dan rekan-rekannya menjawab tantangan ini secara langsung dengan memperkenalkan sebuah metodologi yang kuat untuk menanamkan keselamatan sejak awal dalam siklus hidup pengembangan kapal otonom.

Perjalanan logis penelitian ini dimulai dari pengakuan bahwa metode analisis keselamatan tradisional, seperti Analisis Kegagalan Mode dan Efek (FMEA), tidak lagi memadai. Metode-metode tersebut dirancang untuk mengidentifikasi kegagalan komponen perangkat keras, bukan untuk menganalisis bahaya yang muncul dari interaksi kompleks antara komponen yang berfungsi normal dalam sistem yang dikendalikan oleh perangkat lunak. Bahaya pada sistem otonom sering kali bukan disebabkan oleh kegagalan komponen, melainkan oleh keputusan kontrol yang tidak aman—sebuah celah yang tidak dapat ditangani oleh pendekatan konvensional.

Untuk mengatasi ini, para peneliti mengusulkan pendekatan rekayasa sistem berbasis model (MBSE) yang terstruktur dalam empat langkah utama. Pertama, mereka mendefinisikan skenario operasional dan kasus penggunaan (use cases), seperti navigasi dari titik A ke B sambil menghindari tabrakan. Langkah ini memastikan bahwa analisis keselamatan didasarkan pada konteks operasional yang realistis. Kedua, persyaratan sistem fungsional dan non-fungsional didefinisikan secara formal. Ketiga, arsitektur sistem—baik logis maupun fisik—dirancang menggunakan bahasa pemodelan standar SysML, yang memungkinkan visualisasi dan pemahaman yang jelas tentang bagaimana berbagai subsistem berinteraksi.

Langkah keempat adalah inti dari kontribusi mereka: penilaian keselamatan menggunakan System-Theoretic Process Analysis (STPA). Berbeda dengan metode lain, STPA memperlakukan kecelakaan sebagai masalah kontrol, bukan hanya kegagalan komponen. Dengan menggunakan model struktur kontrol yang telah dikembangkan, tim peneliti secara sistematis mengidentifikasi Unsafe Control Actions (UCA)—tindakan kontrol yang, dalam konteks tertentu, dapat menyebabkan bahaya. Sebagai contoh, dalam skenario penghindaran tabrakan, UCA dapat berupa "sistem tidak mengeluarkan perintah mengubah haluan saat kapal lain terdeteksi dalam jalur tabrakan."

Secara deskriptif, paper ini menyoroti data kualitatif yang terstruktur dengan presisi kuantitatif. Misalnya, untuk fungsi "penghindaran tabrakan", analisis STPA secara sistematis mengidentifikasi 19 UCA yang berbeda. Temuan ini menunjukkan hubungan yang erat antara keputusan kontrol perangkat lunak dan potensi bahaya di dunia fisik. Setiap UCA kemudian dianalisis lebih lanjut untuk menemukan skenario penyebabnya, yang memungkinkan perancang untuk merumuskan persyaratan keselamatan spesifik. Proses ini menciptakan keterlacakan yang jelas dari bahaya tingkat tinggi (misalnya, tabrakan kapal) hingga persyaratan teknis tingkat rendah (misalnya, "sistem harus mengubah haluan sebesar X derajat jika objek terdeteksi pada jarak Y").

Kontribusi Utama terhadap Bidang

Kontribusi paling signifikan dari penelitian ini adalah integrasi holistik antara MBSE dan STPA untuk menciptakan siklus desain-analisis yang berulang dan dapat dilacak untuk sistem otonom maritim. Ini mengubah paradigma penilaian keselamatan dari aktivitas reaktif (menemukan masalah setelah desain selesai) menjadi aktivitas proaktif yang terintegrasi dalam proses desain itu sendiri. Dengan menggunakan model tunggal sebagai "sumber kebenaran" (single source of truth) untuk desain dan analisis keselamatan, metodologi ini memastikan konsistensi, mengurangi ambiguitas, dan memfasilitasi komunikasi antara para insinyur sistem dan ahli keselamatan. Hasilnya adalah argumen keselamatan (safety case) yang jauh lebih kuat dan dapat diverifikasi, yang merupakan prasyarat mutlak untuk sertifikasi dan penerimaan publik terhadap kapal otonom.

Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka

Meskipun metodologi yang diusulkan sangat menjanjikan, paper ini secara inheren memiliki beberapa keterbatasan yang membuka jalan bagi penelitian di masa depan. Pertama, analisis yang disajikan bersifat konseptual dan diterapkan pada model tingkat tinggi. Kinerja dan skalabilitas kerangka kerja ini belum diuji pada sistem kapal otonom skala penuh yang jauh lebih kompleks. Kedua, efektivitas analisis STPA sangat bergantung pada keakuratan dan kelengkapan model struktur kontrol serta skenario operasional yang didefinisikan. Bagaimana metodologi ini dapat menangani bahaya yang muncul dari skenario "tidak terpikirkan" atau black swan events? Terakhir, paper ini berfokus pada keselamatan waktu desain (design-time safety). Pertanyaan terbuka yang krusial adalah bagaimana kerangka kerja ini dapat dihubungkan dengan data operasional waktu nyata (run-time) untuk memantau, memvalidasi, dan memperbarui asumsi keselamatan secara dinamis.

5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan justifikasi ilmiah)

  1. Validasi Empiris melalui Simulasi High-Fidelity dan Prototipe Fisik: Menerapkan kerangka kerja MBSE+STPA pada simulator maritim canggih atau prototipe kapal otonom skala kecil. Justifikasi: Temuan konseptual dari paper ini memerlukan validasi di dunia nyata. Dengan menguji persyaratan keselamatan yang dihasilkan dari analisis STPA dalam lingkungan yang terkendali namun realistis, peneliti dapat mengukur secara kuantitatif efektivitasnya dalam mencegah UCA dan memitigasi bahaya, serta mengidentifikasi celah antara model dan realitas.
  2. Integrasi Analisis STPA dengan Algoritma Machine Learning (ML): Mengembangkan metode untuk menerapkan STPA pada komponen pengambilan keputusan berbasis ML, seperti jaringan saraf yang digunakan untuk persepsi lingkungan atau perencanaan jalur. Justifikasi: Banyak sistem otonom mengandalkan ML, yang sifatnya non-deterministik dan sering kali dianggap sebagai "kotak hitam". STPA tradisional mengasumsikan logika kontrol yang dapat dipahami. Penelitian ini sangat mendesak untuk memperluas STPA agar dapat menganalisis bagaimana model ML dapat mengeluarkan perintah yang tidak aman dan bagaimana struktur kontrol di sekitarnya dapat memastikan keamanan meskipun ada ketidakpastian dalam komponen ML tersebut.
  3. Pengembangan Perangkat Lunak untuk Otomatisasi Analisis: Membuat toolchain perangkat lunak yang dapat secara otomatis menghasilkan kandidat UCA, skenario penyebab, dan draf persyaratan keselamatan langsung dari model SysML. Justifikasi: Seperti yang diakui dalam paper, analisis STPA manual dapat menjadi sangat padat karya dan rentan terhadap kesalahan manusia, terutama untuk sistem yang kompleks. Otomatisasi akan secara dramatis meningkatkan efisiensi, konsistensi, dan skalabilitas metodologi, menjadikannya lebih praktis untuk diadopsi oleh industri.
  4. Aplikasi STPA pada Antarmuka Manusia-Mesin (HMI) di Pusat Kendali Jarak Jauh: Memperluas model struktur kontrol untuk mencakup operator manusia di pusat kendali jarak jauh sebagai bagian dari sistem. Justifikasi: Meskipun kapal disebut "tanpa awak", sistem secara keseluruhan mencakup operator jarak jauh yang memantau dan dapat mengintervensi. Operator ini dapat menjadi sumber UCA. Menganalisis HMI, alur kerja, dan beban kognitif operator menggunakan STPA akan memberikan pandangan yang lebih lengkap tentang keselamatan sistem secara keseluruhan.
  5. Standardisasi Kerangka Kerja untuk Tujuan Sertifikasi Regulasi: Bekerja sama dengan badan klasifikasi maritim (seperti ClassNK, DNV, ABS yang dirujuk dalam paper) untuk mengembangkan metodologi ini menjadi kerangka kerja standar yang dapat diterima untuk sertifikasi kapal otonom. Justifikasi: Agar inovasi akademis ini memiliki dampak di dunia nyata, ia harus menjembatani kesenjangan menuju persetujuan peraturan. Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana output dari analisis MBSE+STPA dapat dipetakan secara langsung ke standar dan peraturan yang ada atau yang sedang berkembang, sehingga memberikan jalur yang jelas bagi produsen untuk mensertifikasi kapal mereka.

Sebagai kesimpulan, paper ini memberikan fondasi yang kokoh untuk rekayasa keselamatan kapal otonom. Keterhubungan antara temuan saat ini dan potensi jangka panjang terletak pada pergeseran dari kepatuhan berbasis aturan menuju validasi berbasis bukti yang sistematis. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi akademik, pengembang teknologi otonom, dan badan regulasi maritim internasional untuk memastikan bahwa kerangka kerja ini dapat matang menjadi standar global yang kuat, aman, dan dapat diandalkan.

Baca paper aslinya di sini

Selengkapnya
Merancang Masa Depan Pelayaran: Pendekatan Berbasis Model untuk Keselamatan Kapal Otonom
« First Previous page 2 of 6 Next Last »