Pembangunan & Infrastruktur

Restorasi Capitol Complex, Rumah Pierre Jeanneret, dan Pusat Le Corbusier.

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 25 November 2025


Latar Belakang Teoretis

Restorasi tiga aset warisan modernis Chandigarh—Capitol Complex, Pierre Jeanneret House, dan Le Corbusier Centre—berakar pada tradisi arsitektur modern yang dipelopori oleh Le Corbusier dan timnya pada pertengahan abad ke-20. Kota Chandigarh dirancang sebagai simbol India baru: demokratis, rasional, dan berorientasi masa depan. Kompleks pemerintahan (Capitol Complex) dan bangunan institusional yang menyertainya bukan hanya objek arsitektur, tetapi juga ekspresi ideologi tata ruang modernis.

Dari perspektif teori konservasi, bangunan modernis memiliki tantangan khusus: material seperti beton ekspos, kaca, dan elemen modular sering kali lebih rentan terhadap degradasi iklim, dan pemugarannya membutuhkan keseimbangan rumit antara keaslian material dan kebutuhan fungsional masa kini. Studi SAAR menunjukkan bahwa Chandigarh kini memasuki fase urban heritage maturity, di mana pelestarian tidak lagi berfokus pada bangunan kolonial atau pra-kolonial, tetapi beralih ke warisan modernis yang mulai diakui sebagai identitas kota.

Hasil penelusuran file menegaskan urgensi tersebut: restorasi diperlukan “dengan tujuan memperkuat kondisi struktural, memperbaiki deteriorasi material bangunan, serta meningkatkan akses publik secara terkontrol”

Dalam kerangka teori perkotaan, proyek ini sejalan dengan arah Smart Cities Mission yang menempatkan pelestarian warisan sebagai komponen strategis pembangunan kota yang berkelanjutan. Dengan demikian, intervensi konservasi bukan tindakan estetika semata, melainkan bagian dari narasi urban governance, citra kota, dan pendidikan budaya generasi mendatang.

Metodologi dan Kebaruan

Studi ini mengadopsi pendekatan studi kasus berbasis dokumentasi lapangan, peninjauan arsip proyek, serta observasi kondisi fisik bangunan yang telah mengalami degradasi selama puluhan tahun. Informasi pada file menjelaskan bahwa restorasi dilakukan melalui kombinasi studi teknis, analisis struktur, dan konsultasi dengan ahli arsitektur modernis.

Uraian file menegaskan bahwa setiap lokasi memiliki metode intervensi spesifik:

  1. Capitol Complex

    • Fokus restorasi adalah “menguatkan elemen struktural utama, memperbaiki retakan beton, serta merehabilitasi permukaan eksterior” yang telah rusak akibat cuaca dan usia bangunan

    • Pendekatan ini menekankan konservasi material asli (beton mentah corbusian) selaras dengan prinsip minimum intervention.

  2. Pierre Jeanneret House

    • Restorasi diarahkan pada “penyegaran interior, konservasi furnitur, serta perbaikan elemen kayu dan façade” agar mencerminkan suasana rumah asli Pierre Jeanneret sebagai bagian integral sejarah Chandigarh

  3. Le Corbusier Centre

Kebaruan studi ini terletak pada integrasi restorasi warisan modernis dengan smart heritage strategy, yaitu upaya menggabungkan teknologi dokumentasi, kebijakan smart city, dan pelestarian nilai budaya arsitektur high-modernism. Selain itu, tiga lokasi tersebut tidak dilihat sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai jaringan naratif warisan kota Chandigarh. Pendekatan lintas-lokasi ini jarang ditemukan pada studi konservasi bangunan modernis lainnya di India.

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Temuan studi kasus C18 menunjukkan bahwa restorasi tiga aset modernis ini tidak hanya memperbaiki kualitas fisik bangunan, tetapi juga memulihkan nilai simbolik Chandigarh sebagai kota rancangan Le Corbusier.

1. Revitalisasi Struktural dan Material

Capitol Complex mengalami sejumlah deteriorasi akibat paparan matahari, hujan, dan fluktuasi suhu khas Punjab. Restorasi berhasil mengatasi kerusakan retak, erosi beton, serta gangguan estetika pada permukaan fasad. Perbaikan ini mengembalikan karakter monolitik yang menjadi ciri khas desain Corbusian pada gedung-gedung pemerintahan.

Hal penting lain adalah upaya meminimalkan penggunaan material baru sehingga kontinuitas historis terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa konservasi modernis kini bergeser dari sekadar perbaikan utilitarian menjadi praktik heritage yang berbasis nilai.

2. Transformasi Pierre Jeanneret House menjadi Ruang Edukasi Publik

Studi ini juga menunjukkan bahwa restorasi rumah Pierre Jeanneret tidak hanya dilakukan untuk konservasi fisik, tetapi juga untuk meningkatkan pemanfaatan publiknya. Penataan ulang interior, konservasi furnitur asli, dan penguatan narasi sejarah memberikan pengalaman museum-hidup (living museum experience).

Proses konservasi furnitur Jeanneret, yang menjadi ikon desain Chandigarh, memiliki dampak budaya yang signifikan karena furnitur tersebut beredar luas dalam pasar desain internasional. Dengan menjaga keaslian furnitur di lokasi asli, proyek ini berkontribusi pada pelestarian identitas desain modernis India.

3. Le Corbusier Centre sebagai Simpul Pengetahuan Modernis

Le Corbusier Centre diperbaiki untuk memperkuat fungsinya sebagai pusat edukasi publik. Hasil penelusuran file menunjukkan bahwa fokus restorasi adalah “penataan ruang pameran, perlindungan arsip, dan peningkatan kualitas kunjungan”

Dengan adanya ruang kurasi baru, pengunjung dapat memahami evolusi desain Chandigarh, termasuk sketsa, catatan perencanaan, dan epistolari (surat-surat korespondensi). Ini memperkaya pemahaman warisan modernis bukan hanya sebagai objek visual tetapi juga proses pemikiran teknokratik dan humanistik Le Corbusier.

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

1. Keterbatasan Data Evaluatif

Bab C18 tidak menyediakan data kuantitatif mengenai tingkat kunjungan, persepsi masyarakat, atau dampak ekonomi pasca-restorasi. Tidak adanya indikator evaluatif membatasi penilaian komprehensif terhadap manfaat restorasi bagi masyarakat luas.

2. Tantangan Konservasi Material Modern

Beton ekspos, elemen kayu, dan material modernis lainnya memiliki kerentanan tinggi terhadap pelapukan. Restorasi jenis ini membutuhkan teknik khusus dan biaya tinggi, namun dokumen tidak menjelaskan mekanisme pembiayaan jangka panjang. Tanpa strategi perawatan berkelanjutan, hasil restorasi berisiko menurun dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

3. Partisipasi Publik Terbatas

Tidak ada bukti kuat mengenai keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan atau evaluasi restorasi. Padahal, teori konservasi kontemporer menekankan pentingnya co-creation heritage melalui partisipasi warga, bukan hanya pendekatan top-down berbasis pemerintah dan ahli.

4. Keterbatasan Pemanfaatan Teknologi Smart Heritage

Meskipun dokumen menyinggung restorasi sebagai bagian dari Smart Cities Mission, belum terlihat implementasi skala besar untuk digital twin, augmented reality, atau pemindaian 3D—praktik umum konservasi bangunan modernis global.

Implikasi Ilmiah di Masa Depan

Studi C18 memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana kota modernis perlu dikelola pada abad ke-21:

  1. Model Manajemen Warisan Modernis untuk Kota Lain
    Chandigarh dapat menjadi contoh bagi kota modernis lain di India seperti Bhubaneswar, Gandhinagar, dan Jamshedpur yang menghadapi tantangan deteriorasi aset modernis.

  2. Integrasi Konservasi dengan Smart Urbanism
    Ada peluang besar untuk mengembangkan platform digital yang mendokumentasikan perubahan bangunan modernis dari waktu ke waktu, sehingga mempermudah rencana konservasi berbasis data.

  3. Penguatan Pendidikan Arsitektur
    Le Corbusier Centre dapat berkembang menjadi pusat kajian modernisme Asia Selatan, mendorong penelitian arsitektur, kebijakan heritage, dan teknologi konservasi.

  4. Peningkatan Ekonomi Kreatif Berbasis Heritage
    Pierre Jeanneret House dapat memicu pasar edukasi desain dan wisata budaya, memperluas manfaat restorasi bagi ekonomi lokal.

Kesimpulan dan Refleksi Relevansi

Restorasi Capitol Complex, Pierre Jeanneret House, dan Le Corbusier Centre menegaskan bahwa Chandigarh semakin mengakui warisan modernis sebagai aset strategis pembangunan kota. Melalui konservasi struktural, revitalisasi fungsi publik, dan reorientasi menuju pendidikan budaya, proyek ini merekonstruksi hubungan antara warga dan sejarah kota modern India.

Di tengah meningkatnya minat global terhadap pelestarian arsitektur modernis, studi C18 menempatkan Chandigarh sebagai laboratorium konservasi modernisme yang layak dijadikan rujukan internasional. Meski masih terdapat keterbatasan teknis dan evaluatif, intervensi ini membuka jalan menuju kebijakan heritage yang lebih terintegrasi, cerdas, dan berkelanjutan.

Sumber

Seluruh informasi dalam resensi ini berasal dari:
Studi Kasus C18: Restoration of Capitol Complex, Pierre Jeanneret House and the Le Corbusier Centre, dalam SAAR: Smart Cities and Academia towards Action and Research (Urban Infrastructure), dengan kutipan dari potongan file yang ditemukan melalui pencarian dokumen.

Selengkapnya
Restorasi Capitol Complex, Rumah Pierre Jeanneret, dan Pusat Le Corbusier.

Pembangunan & Infrastruktur

Proyek Restorasi Gereja St. Luke’s di Srinagar

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 25 November 2025


Latar Belakang Teoretis

Valley Kashmir, termasuk kota Srinagar, dikenal sebagai wilayah interaksi budaya kaya akibat jalur sutra yang melewatinya. Dalam konteks pembangunan perkotaan modern, pendekatan konservasi warisan kota menekankan pentingnya mempertahankan keaslian fisik bangunan bersejarah sekaligus merawat nilai budaya bagi komunitas lokal. Program Smart City pemerintah India yang diterapkan di Srinagar mengangkat dua pilar utama: Pelestarian bangunan agama bersejarah dan revitalisasi pasar tradisional kota. Pendekatan ini selaras dengan teori konserasi heritage berbasis masyarakat dan kesetaraan sosial, di mana pemugaran situs bersejarah juga berfungsi sebagai instrumen peningkatan kohesi sosial dan ekonomi lokal.

Proyek St. Luke’s Church merupakan studi unik dalam kerangka ini karena berfokus pada bangunan gereja Protestan di luar kawasan inti heritage kota. Arsitekturnya menggabungkan gaya Gothic Eropa dengan elemen lokal Kashmir, yaitu plafon khatamband khas wilayah tersebut. Pendekatan konservasi yang diterapkan menitikberatkan pada pemulihan bentuk asli dan karakter gereja tanpa menghilangkan ciri khas historisnya. Selain aspek fisik, proyek ini juga berupaya mendukung sustainable development goals melalui inklusi sosial — misalnya, memberi perhatian khusus pada komunitas Kristen minoritas di Kashmir yang populasinya kini hanya sekitar 650 orang. Dengan demikian, secara teoretis proyek ini menempatkan konservasi warisan sebagai bagian integral dari pembangunan kota inklusif, di mana keadilan sosial dan dialog antar-komunitas menjadi tujuan penting.

Metodologi dan Kebaruan

Penelitian studi kasus ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui literatur yang ada – termasuk artikel berita, presentasi resmi proyek, dan beberapa publikasi akademik tentang kota Srinagar. Observasi lapangan dilakukan dengan mengunjungi lokasi gereja sebelum dan sesudah restorasi untuk menilai kondisi fisik dan menerapkan pedoman konservasi. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan pemangku kepentingan utama: perwakilan Srinagar Smart City Ltd. (SSCL) dan pemuka masyarakat Kristen setempat. Survei kepuasan juga diadakan di kalangan jemaat gereja guna mengukur tanggapan pengguna terhadap hasil renovasi. Pendekatan metodologis ini memungkinkan peneliti mengevaluasi proses restorasi dari segi teknis maupun dampak sosial-kulturalnya.

Aspek kebaruan proyek ini mencakup beberapa hal:

  • Lokasi dan konteks unik: Berbeda dengan kebanyakan proyek heritage yang fokus di pusat sejarah (Shehr-e-khaas), gereja St. Luke’s berada di pinggiran kota dan tidak berdekatan dengan pasar warisan tradisional. Menariknya, proyek ini tetap dipilih oleh SSCL sebagai bentuk keadilan sosial terhadap minoritas Kristen.

  • Karakter arsitektural langka: Pendekatan pemugaran memulihkan dekorasi plafon khatamband yang khas Kashmir, suatu elemen langka dalam bangunan Barat.

  • Integrasi tujuan sosial dan ekonomi: Proyek tidak hanya menyasar pelestarian fisik tetapi juga memperkuat harmoni antar-agama dan menghidupkan ekonomi lokal melalui pariwisata heritage.

  • Keterlibatan komunitas: Inisiasi restorasi datang dari permintaan langsung umat Kristen setempat kepada SSCL, yang mencerminkan pendekatan bottom-up dalam konservasi kota.

Metode Pelaksanaan

Penelitian dimulai dengan analisis dokumen dan pencatatan kegiatan restorasi, diikuti pengumpulan data kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan ini mencakup:

  • Survei dan wawancara terstruktur dengan warga gereja dan pengurus SSCL, untuk memperoleh gambaran kepuasan dan proses pengambilan keputusan.

  • Observasi langsung atas hasil restorasi (atap, plafon, dinding, dll) guna menilai kepatuhan terhadap prinsip konservasi etis.

  • Kajian literatur pendukung terkait teori konservasi warisan, revitalisasi kota, dan implikasi sosial budaya di Kashmir.

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Hasil penelitian menunjukkan pemugaran menyeluruh pada elemen arsitektur utama gereja. Struktur skeleton-bangunan (balok-balk, tiang) dibersihkan dan dicat ulang, atap seng bergelombang (CGI) diganti, serta plafon khatamband yang rusak direkonstruksi ulang dengan pola asli. Pintu utama dan jendela-jendela yang pecah diperbarui, sementara jalur pejalan kaki di sekitar bangunan ditata ulang menggunakan batu lokal. Secara keseluruhan, intervensi fisik restorasi berhasil mengembalikan bentuk gotik gereja ke kondisi hampir aslinya tanpa menambah elemen baru yang signifikan.

Respon publik terhadap restorasi ini sangat positif. Perayaan pembukaan kembali gereja pada Natal 2021 mendapat sambutan hangat dari media lokal, masyarakat, dan wisatawan. Umat setempat memandang proyek ini sebagai simbol harmoni antar-komunitas: kasus pertama SSCL dalam mengangkat isu keadilan bagi minoritas Kristen. Secara ekonomi, proyek ini juga terbukti mendorong pariwisata agama di Srinagar. SSCL melaporkan lonjakan kunjungan turis dan pengeluaran lokal di sekitar area gereja sejak dibuka kembali. Keberhasilan St. Luke’s bahkan menjadi contoh motivasi bagi pemerintah kota untuk mempercepat proyek konservasi bangunan bersejarah lainnya.

Survei kepuasan yang dilakukan kepada jemaat menyatakan tingkat puas yang tinggi terhadap perbaikan interior gereja, terutama fitur-fitur baru seperti furnitur gereja yang dipilih oleh pastor. Namun, kepuasan terhadap keseluruhan proyek restorasi sedikit lebih rendah karena beberapa faktor yang belum selesai—misalnya gereja belum secara resmi diresmikan ulang oleh otoritas gereja dan lonceng di menara gereja belum dipasang. Mayoritas responden berharap penggunaan gereja terus berlanjut; rencananya, mereka akan menggelar ibadah sore setiap Minggu di St. Luke’s Church pasca-restorasi. Temuan ini menunjukkan bahwa dari perspektif pengguna, restorasi tidak sekadar pelestarian fisik tetapi juga pemulihan fungsi sosial-temporal gereja dalam komunitas.

Secara kualitatif, pengamatan lapangan mengindikasikan bahwa meskipun mayoritas elemen bangunan asli dipertahankan dalam proses restorasi, beberapa material asli terpaksa diganti demi keamanan struktural atau ketersediaan bahan. Dengan kata lain, mayoritas pekerjaan mengikuti etika konservasi heritage, namun ada kompromi kecil pada material tertentu. Secara keseluruhan, proyek ini terbukti berhasil mengukuhkan nilai tambah warisan gereja: bangunan tua tersebut kini kembali berfungsi sebagai situs budaya kota yang juga membantu revitalisasi sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Ringkasan temuan utama:

  • Konservasi fisik menyeluruh: Atap seng dan plafon kayu khatamband diganti dengan desain dan bahan serupa; fasad batu dibersihkan ulang; pintu-jendela barup dipasang.

  • Harmoni sosial: Restorasi disambut sebagai perwujudan keadilan sosial antar-agama, mempererat hubungan antar komunitas Kristen dan kelompok lain.

  • Peluang ekonomi: Peningkatan kunjungan wisatawan ke situs gereja memicu pertumbuhan usaha lokal dan perhatian media nasional.

  • Kepuasan umat: Survei menunjukkan mayoritas jemaat puas dengan interior yang dipugar; kekurangan minor (seperti bel menara) tidak mengurangi apresiasi secara signifikan.

  • Keaslian material: Sebagian besar karakter asli bangunan terjaga, meski ada penyesuaian material tertentu demi keandalan struktural.

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

Kajian ini memiliki beberapa batasan penting. Pertama, ketersediaan data: tidak terdapat Dokumen Kerja Pelaksanaan (DPR) resmi proyek publik, sehingga sebagian besar informasi bersumber dari laporan SSCL dan media populer yang kadang kontradiktif. Informasi keadaan bangunan pra-restorasi bergantung pada dokumentasi terbatas; kunjungan lapangan pasca-restorasi menjadi sumber utama verifikasi kondisi. Kedua, metode survei: wawancara dan kuesioner penduduk hanya dilakukan saat kebaktian di gereja All Saints, dengan ukuran sampel relatif kecil. Hal ini dapat menimbulkan bias (responden umumnya bersukacita). Selain itu, penelitian ini lebih deskriptif, tanpa analisis statistik mendalam atau data keuangan terukur (misal jumlah kunjungan wisata yang spesifik).

Secara metodologis, kekuatan studi ini terletak pada kombinasi data primer (wawancara mendalam) dan observasi lapangan langsung, yang memberikan konteks kualitatif kaya mengenai nilai sosial proyek. Namun, tanpa data baseline atau kelompok kontrol, kesimpulan kuantitatif terbatas. Pendekatan ini juga sulit digeneralisasi ke wilayah lain tanpa modifikasi, karena St. Luke’s memiliki karakter demografis dan situasional yang sangat khusus. Secara kritis, sementara studi ini menggambarkan manfaat restorasi heritage bagi masyarakat kecil, riset lanjutan diperlukan untuk mengukur dampak jangka panjang: misalnya, evaluasi ekonomi kuantitatif pasca-restorasi, atau perbandingan dengan proyek konservasi serupa.

Implikasi Ilmiah di Masa Depan

Proyek St. Luke’s Church menawarkan implikasi penting bagi penelitian dan praktik konservasi warisan perkotaan berikutnya. Pertama, studi ini memperkuat literatur mengenai konservasi inklusif, yaitu pelestarian situs bersejarah sekaligus pemberdayaan komunitas lokal dan minoritas. Arah ini relevan dalam pengembangan teori heritage management, menegaskan bahwa keberhasilan restorasi juga diukur dari pemulihan kesetaraan sosial dan kohesi komunal. Kedua, hasil kajian mendorong pengembangan keahlian (capacity building) pengrajin lokal, misalnya dengan meng­empan­nel­tinya untuk proyek lain. Rekomendasi peneliti menekankan pentingnya melibatkan khatamband artisan dalam proyek serupa agar teknik tradisional tidak hilang.

Secara praktis, temuan ini dapat dijadikan pedoman bagi kota-kota lain di India yang memiliki situs warisan minoritas. Pendekatan bottom-up dan kolaboratif SSCL dengan otoritas gereja memberi contoh model tata kelola heritage yang responsif. Misalnya, disarankan pembentukan tim kerja lintas-lembaga (pemerintah kota, komunitas agama, ahli konservasi) serta pengintegrasian situs restored ke dalam rute wisata kota. Nilai lingkungan konservasi juga ditekankan: mempertahankan bangunan eksisting mengurangi jejak karbon dibanding konstruksi baru.

Bagi riset selanjutnya, studi ini merekomendasikan evaluasi jangka panjang dampak restorasi: survei kepuasan berulang, analisis pertumbuhan ekonomi kreatif lokal, dan studi komparatif dengan proyek heritage lain. Pendekatan multidisiplin (arsitektur, ekonomi, sosiologi) dapat memperkaya pemahaman mengenai bagaimana proyek serupa dapat menstimulus pembangunan kota berkelanjutan. Lebih luas, konservasi St. Luke’s Church diharapkan menjadi referensi dalam agenda konservasi di India, terutama dalam mengintegrasikan nilai inklusi sosial dan pelestarian budaya ke dalam kebijakan pembangunan perkotaan.

Relevansi dalam Konteks India Modern

Secara keseluruhan, proyek restorasi Gereja St. Luke’s menegaskan pentingnya konservasi warisan perkotaan yang inklusif dan kontekstual di India masa kini. Sebagai salah satu cerita positif dari wilayah Kashmir yang telah lama dilanda konflik, keberhasilan ini menunjukkan bahwa pemulihan situs bersejarah dapat menjadi simbol harmoni antar-agama. Dengan dukungan kerangka Kota Pintar India, proyek ini merepresentasikan penerapan SDG 11.4 (pelestarian warisan budaya) sekaligus SDG lain terkait kesetaraan dan pembangunan ekonomi. Keberlanjutan sosial-ekonomi yang ditimbulkan – berupa landmark baru untuk orientasi warga dan peningkatan rasa bangga lokal – menambah bukti bahwa konservasi heritage berperan strategis dalam perkembangan kota. Di tengah keragaman budaya India, inisiatif serupa yang menghargai suara komunitas minoritas berpotensi memperkaya lanskap perkotaan modern. Dengan demikian, studi kasus St. Luke’s Church tidak hanya penting sebagai dokumentasi akademik, tetapi juga sebagai inspirasi praktik pelestarian warisan yang menyeluruh bagi kota-kota India lainnya.

Referensi

Dikutip dari Bab Studi Kasus C14 “St. Luke’s Church – Heritage Restoration Project” dalam SAAR: Smart Cities and Academia towards Action and Research (Part C: Urban Infrastructure) (Jamia Millia Islamia, 2021). All citations refer to pages and lines of the source document.

Selengkapnya
Proyek Restorasi Gereja St. Luke’s di Srinagar

Pembangunan & Infrastruktur

Restorasi Surat Castle: Tinjauan Kritis terhadap Proyek Unggulan 'Smart Heritage' India

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 17 November 2025


Latar Belakang Teoretis

Penelitian ini berakar pada sebuah pertanyaan krusial: bagaimana pelestarian warisan budaya dapat diintegrasikan dengan agenda pembangunan "kota cerdas" yang serba cepat?  Latar belakang masalah yang diangkat adalah bahwa kota Surat, yang secara historis dikenal dengan industri tekstil dan berlian, berupaya membangun kembali identitasnya sebagai "kota bersejarah" melalui restorasi Surat Castle—proyek restorasi warisan pertama dalam skala ini di kota tersebut.   

Kerangka teoretis yang diusung oleh studi SAAR ini adalah konsep "Smart Heritage." Alih-alih hanya melestarikan bangunan secara statis, pendekatan ini bertujuan untuk "meningkatkan interaksi dan pengalaman wisatawan" dengan menggunakan teknologi modern seperti VR, AR, AV, aplikasi seluler, dan pemindaian 3D , mengambil inspirasi dari proyek sukses seperti "Digital Hampi". Dengan biaya Rs 55,49 crore, proyek restorasi kastil ini—yang awalnya dimulai oleh Surat Municipal Corporation (SMC) dan kemudian dimasukkan ke dalam SCM—bertujuan untuk mencapai target SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).   

Metodologi dan Kebaruan

Sebagai sebuah tinjauan kritis, studi yang dilakukan oleh para peneliti dari CEPT University ini mengadopsi metodologi studi kasus kualitatif dengan "pendekatan bottom-up."  Prosesnya dibagi menjadi lima fase: perumusan penelitian, studi literatur, studi primer di lokasi, analisis data, dan kesimpulan.   

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara pemangku kepentingan (termasuk SSCDL, SMC, dan Kurator)  serta survei dampak ekonomi terhadap para pemilik bisnis lokal di sekitar lokasi. Proyek restorasi itu sendiri (yang ditinjau oleh studi ini) menggunakan "gaya restorasi terbuka" (open restoration style) yang inovatif, yang secara sengaja mengekspos berbagai lapisan sejarah konstruksi dari era Tughlaq, Sultanat Gujarat, Mughal, hingga Inggris, untuk "komunikasi yang lebih baik" kepada pengunjung.   

Temuan Utama dengan Kontekstualisasi

Analisis dampak proyek oleh tim SAAR—yang mencakup domain nilai tambah, fisik, ekonomi, sosio-kultural, dan pariwisata—menghasilkan temuan yang beragam :   

  1. Nilai Tambah dan Keuangan: Ditemukan bahwa kedua entitas saling diuntungkan. Proyek ini memberikan nilai tambah bagi Smart City Mission (sebagai proyek warisan perintis), sementara SCM memberikan "aliran dana yang lancar melalui SSCDL" (Badan Pelaksana/SPV) untuk memastikan kelancaran proyek.   

  2. Dampak Ekonomi dan Pariwisata: Rencana penggunaan adaptif kastil ini sangat ambisius, mencakup 35 galeri tematik, British tea-room, galeri seni, dan ruang konferensi. Fitur smart heritage yang direncanakan—termasuk tur audio berbasis aplikasi seluler, peta interaktif berbasis VR, dan pertunjukan cahaya & suara—diharapkan dapat menarik wisatawan nasional dan internasional, yang pada gilirannya akan meningkatkan ekonomi lokal (restoran, hotel, transportasi).   

  3. Persepsi Pemangku Kepentingan: Survei terhadap bisnis lokal menunjukkan optimisme bahwa pariwisata akan meningkat, namun mengeluhkan bahwa proyek tersebut "belum cukup diiklankan."  Penilaian KPI di area sekitar menunjukkan bahwa "reputasi kota" serta "keselamatan dan keamanan" adalah indikator yang paling terkena dampak positif.   

Keterbatasan dan Refleksi Kritis

Studi SAAR ini mengidentifikasi dua keterbatasan utama. Pertama, keterbatasan metodologis dari tinjauan ini: pada saat penelitian, kastil "saat ini tidak operasional." Akibatnya, dampak aktual terhadap pengguna dan wisatawan "tidak dapat diukur," dan dampak langsungnya masih "sangat sedikit."    

Kedua, dan yang paling kritis, adalah tantangan keberlanjutan dari proyek itu sendiri. Laporan ini menyatakan bahwa proyek tersebut menghadapi "tantangan serius" terkait "keberlanjutan diri" (self-sustainability). Dengan ditutupnya SSCDL pada tahun 2023, proyek ini mencari sumber pendanaan lain, terutama karena "rasio biaya-terhadap-pendapatan yang diprediksi tidak sesuai."  Selain itu, tinjauan ini menyoroti satu dampak sosio-kultural negatif yang signifikan: proyek ini berdampak langsung pada "kawasan kumuh yang berdampingan, yang diusulkan untuk direlokasi," sebuah tindakan yang diakui akan "memutuskan tatanan sosial dan ekonomi para penghuni kawasan kumuh."    

 

Implikasi Ilmiah di Masa Depan

Secara praktis, keberhasilan proyek ini telah "memulai dialog" di dalam pemerintahan kota, mendorong SMC untuk "mempertimbangkan pengembangan warisan sebagai alat pembangunan yang penting" untuk situs-situs lain di kota. Namun, studi ini secara implisit menyerukan perlunya penelitian evaluasi pasca-hunian (post-occupancy evaluation) yang komprehensif setelah kastil dibuka sepenuhnya untuk umum, guna mengukur dampak aktualnya dan memvalidasi apakah model "Smart Heritage" ini benar-benar dapat berkelanjutan secara finansial dan adil secara sosial.   

Sumber

Studi Kasus C1: Restoration of Surat Castle: Critical Review of an Indian Smart City Project. (2023). Dalam SAAR: Smart cities and Academia towards Action and Research (Part C: Urban Infrastructure) (hlm. 2-10). National Institute of Urban Affairs (NIUA).   

Selengkapnya
Restorasi Surat Castle: Tinjauan Kritis terhadap Proyek Unggulan 'Smart Heritage' India

Pembangunan & Infrastruktur

Dampak Pembangunan Jalan Tol terhadap Proyek Jalan Lokal di Indonesia

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 07 November 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?

Penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan jalan tol nasional di wilayah Jakarta–Bandung memiliki efek langsung dan tidak langsung terhadap pengembangan proyek jalan lokal. Temuan ini sangat penting karena menegaskan bahwa investasi jalan tol tidak hanya memengaruhi arus lalu lintas, tetapi juga mendorong pembangunan infrastruktur lokal di sekitarnya. Pemerintah daerah perlu memahami dinamika ini agar kebijakan transportasi tidak berjalan terpisah antara tingkat nasional dan lokal.

Studi ini juga menyoroti bagaimana pembangunan jalan tol memicu urbanisasi, perubahan penggunaan lahan, dan pertumbuhan penduduk di area sekitar, yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan akan jaringan jalan lokal baru. Oleh karena itu, sinkronisasi antara perencanaan jalan tol nasional dan perencanaan jalan lokal menjadi kebutuhan mendesak dalam konteks desentralisasi pemerintahan di Indonesia.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Dampak positif dari proyek jalan tol adalah peningkatan konektivitas wilayah, efisiensi waktu perjalanan, dan percepatan urbanisasi. Namun, dampak negatif muncul dalam bentuk tekanan terhadap jaringan jalan lokal yang belum siap menghadapi peningkatan volume lalu lintas.

Hambatan utama yang ditemukan:

  • Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

  • Keterbatasan data proyek lokal, serta minimnya kapasitas analisis kebijakan berbasis spasial di tingkat lokal.

Di sisi lain, peluang besar muncul untuk menciptakan perencanaan transportasi terpadu—menggabungkan data pembangunan jalan tol, pertumbuhan penduduk, dan ekspansi kota—sehingga pembangunan jalan lokal dapat diarahkan secara efisien dan berkelanjutan.

Untuk mendukung penguatan kapasitas ini, artikel seperti Peta Jalan Ketahanan Perkotaan Masa Depan: Integrasi Manajemen Aset, Risiko Bencana, dan Kecerdasan Spasial dapat membekali aparatur daerah dengan kemampuan analisis spasial dan manajemen aset infrastruktur yang dibutuhkan.

5 Rekomendasi Kebijakan Praktis

  1. Integrasi Perencanaan Jalan Tol dan Lokal: Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki sistem informasi terhubung untuk menyelaraskan proyek tol dengan kebutuhan jalan lokal.

  2. Analisis Dampak Induksi (Induced Supply): Studi kelayakan jalan tol perlu memasukkan pengaruh terhadap kebutuhan jalan lokal, bukan hanya analisis permintaan (demand).

  3. Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah: Latih dinas pekerjaan umum daerah dalam pemodelan spasial dan analisis transportasi berbasis data.

  4. Insentif untuk Kolaborasi Multilevel: Berikan mekanisme insentif bagi daerah yang berhasil menyinkronkan proyeknya dengan jaringan nasional.

  5. Pengawasan dan Evaluasi Periodik: Evaluasi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan jalan tol terhadap jaringan lokal setiap lima tahun.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Kebijakan pembangunan jalan sering kali hanya berfokus pada proyek besar tanpa memperhitungkan efek berantai di tingkat lokal. Jika koordinasi antarlembaga tetap lemah, pembangunan jalan tol berpotensi menimbulkan ketimpangan akses dan memperburuk kemacetan di daerah penyangga. Selain itu, keputusan investasi yang tidak didasarkan pada analisis manfaat-biaya menyeluruh dapat mengakibatkan alokasi anggaran yang tidak efisien.

Penutup

Pembangunan jalan tol di Indonesia tidak boleh dilihat hanya sebagai proyek transportasi berskala nasional, melainkan sebagai katalisator pembangunan daerah. Hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur memerlukan koordinasi lintas level pemerintahan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara merata. Dengan pendekatan berbasis data dan kebijakan yang terintegrasi, pembangunan jalan dapat menjadi instrumen efektif untuk mendorong pertumbuhan wilayah yang berkelanjutan.

Sumber

Andani, I. G. A., La Paix Puello, L., & Geurs, K. (2019). Effects of Toll Road Construction on Local Road Projects in Indonesia. The Journal of Transport and Land Use, 12(1), 179–199.

Selengkapnya
Dampak Pembangunan Jalan Tol terhadap Proyek Jalan Lokal di Indonesia

Pembangunan & Infrastruktur

Masa Depan Kota Kita Dibangun di Atas Ilusi yang Berbahaya

Dipublikasikan oleh Melchior Celtic pada 02 Oktober 2025


Bayangkan seorang dokter sedang meninjau rekam medis pasien yang mengaku sehat walafiat. Pasien itu rutin berolahraga, makan dengan baik, dan tidak punya keluhan apa pun. Namun, hasil laboratorium di layar monitor menceritakan kisah yang sama sekali berbeda: penanda-penanda kritis berada di level yang berbahaya, dan sebuah krisis sistemik yang tersembunyi sedang berkembang.

Pasien ini adalah infrastruktur kita. Dan orang-orang yang merasa infrastruktur kita sehat adalah, yang mengkhawatirkan, para dokter generasi berikutnya—calon insinyur sipil dan manajer konstruksi kita.

Kesenjangan yang kuat inilah yang menjadi subjek dari sebuah paper penelitian yang menarik, dan sejujurnya meresahkan, yang baru saja saya baca, ditulis oleh Saeed Rokooei dan rekan-rekannya. Paper ini bukan sekadar kumpulan data; ini adalah jendela menuju pola pikir para perancang masa depan kota-kota kita, dan apa yang terlihat di baliknya menuntut perhatian kita segera.

Mengintip Isi Pikiran Para Pembangun Ahli Masa Depan

Sebelum kita menyelami hasil yang mengejutkan, mari kita apresiasi bagaimana para peneliti mengungkapnya. Mereka tidak sekadar mengajukan pertanyaan sederhana; mereka melakukan survei yang cermat terhadap 382 mahasiswa Teknik Sipil dan Konstruksi (Civil Engineering and Construction - CEC) di 15 universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Tujuan mereka adalah untuk memahami model mental para mahasiswa ini tentang dunia—"persepsi" mereka. Mengapa? Karena apa yang kita yakini menentukan bagaimana kita bertindak. Seorang insinyur yang percaya sebuah jembatan dalam kondisi "cukup baik" akan membuat keputusan yang sangat berbeda dari insinyur yang tahu jembatan itu di ambang kegagalan. Karena itu, studi ini bukan hanya latihan akademis; ini adalah gambaran penting tentang masa depan lingkungan binaan kita.

Pilihan untuk meneliti persepsi alih-alih sekadar pengetahuan adalah kekuatan metodologis utama dari penelitian ini. Tes pengetahuan akan bertanya, "Berapa nilai rapor bendungan di AS?" Tes persepsi bertanya, "Menurut Anda, berapa nilainya?" Yang pertama mengukur ingatan. Yang kedua mengukur keyakinan, yang merupakan prediktor perilaku yang jauh lebih kuat.

Ilusi Besar Infrastruktur: Kisah Dua Rapor yang Bertolak Belakang

Bagian inilah yang menjadi inti dari analisis, menyajikan data paling mengejutkan dari paper ini sebagai serangkaian wahyu.

Pertama, Masalah Bahasa: Apakah Kita Sepakat tentang Arti "Aman"?

Para peneliti memulai dari hal mendasar: apa sebenarnya arti "resiliensi" atau ketahanan? Mereka memecahnya menjadi empat tindakan utama, berdasarkan klasifikasi National Institute of Standards and Technology (NIST), dan meminta mahasiswa untuk menilai pentingnya masing-masing dalam skala 5 poin.

  • Pencegahan (Prevention): Bersiap untuk bahaya yang diantisipasi. (Skor Mahasiswa: 4,32)

  • Mitigasi (Mitigation): Beradaptasi dengan kondisi yang berubah. (Skor Mahasiswa: 4,08)

  • Respons (Response): Bereaksi terhadap gangguan tak terduga. (Skor Mahasiswa: 4,12)

  • Pemulihan (Recovery): Bertahan dan pulih dengan cepat. (Skor Mahasiswa: 4,10)

Sekilas, skor ini terlihat tinggi. Tapi detailnya yang penting. Preferensi yang jelas untuk "Pencegahan" di atas tiga lainnya mengungkapkan bias yang halus namun mendalam. Ini menunjukkan pola pikir yang berfokus pada membangun benteng, daripada merencanakan apa yang terjadi ketika benteng itu tak terhindarkan ditembus.

Mahasiswa tampaknya memiliki definisi buku teks tentang resiliensi tetapi kurang pemahaman sistemik yang mendalam. Mereka lebih menyukai dunia pencegahan yang bersih dan dapat dihitung (beton yang lebih kuat, tanggul yang lebih tinggi) daripada dunia mitigasi, respons, dan pemulihan yang rumit dan berpusat pada manusia. Ini menunjukkan pendidikan mereka sangat condong ke arah pemecahan masalah teknis, membuat mereka kurang siap untuk pemikiran tingkat sistem yang holistik yang dibutuhkan oleh resiliensi sejati. Implikasinya adalah mereka mungkin merancang infrastruktur yang secara teknis kuat tetapi secara sosial rapuh.

Guncangan Rapor: Memberi Nilai 'B-' pada Siswa Bernilai 'F'

Inilah bagian dari paper yang membuat saya benar-benar terperangah. Para peneliti meminta mahasiswa untuk memberi nilai pada kondisi berbagai sektor infrastruktur di AS, menggunakan skala A-F yang kita kenal. Mereka kemudian membandingkan nilai rata-rata dari mahasiswa dengan nilai resmi yang dinilai oleh para ahli dari American Society of Civil Engineers (ASCE) Infrastructure Report Card. Hasilnya adalah jurang persepsi-realitas yang begitu lebar hingga menakutkan.

Mesin Pemulihan Tak Terlihat yang Gagal Dilihat Mahasiswa

Bagian terakhir dari ilusi ini berkaitan dengan apa yang sebenarnya membuat sebuah komunitas pulih dari bencana. Ketika diminta untuk menilai pentingnya berbagai faktor, mahasiswa dengan benar mengidentifikasi infrastruktur "keras" seperti jalur vital (listrik, air) sebagai hal yang krusial (skor 4,4 dari 5). Tetapi skor mereka untuk faktor-faktor sosio-ekonomi—infrastruktur "lunak" yang menggerakkan pemulihan—sangat rendah.

  • 🚀 Hasil yang mengejutkan: Faktor-faktor seperti jalur vital dan infrastruktur kritis dinilai sangat tinggi, menunjukkan pemahaman akan pentingnya perangkat keras.

  • 🧠 Titik buta yang terungkap: Faktor-faktor ekonomi dinilai jauh lebih rendah, menunjukkan kesenjangan dalam memahami mesin pemulihan yang sebenarnya.

    • Pekerjaan (Employment): 2,9 dari 5

    • Ukuran Bisnis (Business Size): 2,84 dari 5

    • Modal Perumahan (Housing Capital): 2,83 dari 5

    • Nilai Properti (Property Value): 2,79 dari 5 (yang terendah dari semua faktor)

  • 💡 Pelajaran penting: Resiliensi bukan hanya tentang beton dan baja; ini tentang kemampuan ekonomi dan sosial sebuah komunitas untuk bangkit kembali.

Ini mengungkapkan titik buta yang fundamental. Mereka melihat resiliensi sebagai tantangan teknis murni, gagal memahami bahwa kemampuan sebuah komunitas untuk bangkit kembali terkait erat dengan vitalitas ekonomi dan tatanan sosialnya. Pendidikan mereka yang berpusat pada teknik melatih mereka untuk melihat dunia dalam kerangka sistem fisik, meminggirkan sistem ekonomi dan sosial yang sama pentingnya, jika tidak lebih, untuk resiliensi jangka panjang.

Tapi Inilah Plot Twist yang Memberi Saya Harapan

Setelah berhalaman-halaman data yang mengkhawatirkan, paper ini berbelok, dan di sinilah ceritanya menjadi sangat menarik. Terlepas dari kesenjangan pengetahuan dan persepsi mereka yang keliru, para mahasiswa ini tidak apatis. Faktanya, mereka haus akan pengetahuan ini. Data menunjukkan adanya permintaan yang kuat dan belum dimanfaatkan untuk pendidikan resiliensi.

  • 🚀 Permintaan yang Luar Biasa: 94% mahasiswa yang mengejutkan melaporkan bahwa mereka tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang resiliensi komunitas dan infrastruktur.

  • 🧠 Kesenjangan Kurikulum yang Nyata: Sebagian besar mahasiswa—di semua tingkat (dari mahasiswa baru hingga pascasarjana)—percaya bahwa mereka tidak menerima informasi yang cukup tentang topik ini dalam program akademik mereka. Faktanya, hanya sekitar seperlima yang merasa mereka menerima cukup informasi.

  • 💡 Jalur Karier Masa Depan: Lebih dari 45% mahasiswa menyatakan bahwa mereka bersedia belajar lebih banyak tentang resiliensi sebagai jalur karier yang memungkinkan, dengan angka yang bahkan lebih tinggi di kalangan mahasiswa pascasarjana.

Inilah paradoks sentral yang penuh harapan dari paper ini. Para mahasiswa secara bersamaan tidak menyadari skala sebenarnya dari masalah dan sangat ingin menjadi bagian dari solusi. Ini bukan sikap apatis; ini adalah sebuah kekosongan yang menunggu untuk diisi.

Mereka menangkap semangat zaman. Mereka mendengar tentang perubahan iklim, melihat berita tentang badai dan banjir, dan merasakan bahwa "resiliensi" itu penting, bahkan jika pendidikan formal mereka belum memberi mereka kerangka kerja atau data terperinci untuk memahaminya secara mendalam. Ini berarti masalahnya bukan pada mahasiswa; masalahnya ada pada kurikulum. Permintaan ada di sana, tetapi pasokan pendidikan tertinggal.

Cara Kita Mulai Membangun Masa Depan yang Lebih Cerdas dan Aman—Hari Ini

Studi ini bukanlah dakwaan terhadap mahasiswa; ini adalah undangan bagi para pendidik, administrator, dan komunitas profesional. Paper ini diakhiri dengan menguraikan peluang yang jelas untuk berinvestasi dalam pendidikan resiliensi: pembicara tamu, lokakarya, kurikulum yang diperbarui, dan bahkan mata kuliah atau konsentrasi khusus.

Namun, perubahan akademik berjalan lambat. Bagi para mahasiswa dan profesional yang merasakan keinginan 94% untuk belajar sekarang, menunggu bukanlah pilihan. Di sinilah pengembangan profesional yang terarah menjadi penting. Menutup kesenjangan antara minat umum dan keahlian khusus memerlukan pembelajaran terfokus pada topik-topik yang sering diabaikan oleh gelar tradisional.

Misalnya, sebuah kursus tentang (https://www.diklatkerja.com/course/category/manajemen-konstruksi-dan-infrastruktur/) secara langsung mengatasi kelemahan yang diidentifikasi oleh studi ini—bergerak melampaui pencegahan sederhana menuju perencanaan proaktif dan strategi mitigasi yang kompleks yang mendefinisikan resiliensi sejati. Solusinya adalah pendekatan dua cabang: reformasi akademik jangka panjang dan pelatihan profesional jangka pendek yang mudah diakses untuk memberdayakan generasi saat ini.

Giliran Anda Meletakkan Batu Pertama

Rokooei dan rekan-rekannya telah melakukan lebih dari sekadar menerbitkan sebuah paper; mereka telah memberi kita cetak biru masalah dan rambu yang jelas menuju solusi. Kita memiliki generasi pembangun masa depan yang optimistis hingga keliru, buta terhadap beberapa faktor ekonomi dan sosial paling kritis dalam pemulihan, namun sangat ingin belajar.

Mereka berdiri siap, menunggu alat dan pengetahuan untuk membangun dunia yang lebih aman dan lebih tangguh. Ilusi yang mereka pegang saat ini berbahaya, tetapi kesediaan mereka untuk menghancurkannya adalah tanda paling penuh harapan yang bisa kita minta. Pertanyaannya bukan lagi apa masalahnya, tetapi siapa yang akan melangkah untuk menyelesaikannya.

Jika penelusuran mendalam ke dalam psikologi para pembangun masa depan kita ini telah memicu minat Anda, saya sangat mendorong Anda untuk membaca penelitian aslinya. Ini adalah sebuah mahakarya tentang bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang tidak nyaman tetapi esensial.

(https://doi.org/10.1061/(ASCE)EI.2643-9115.0000056)

Selengkapnya
Masa Depan Kota Kita Dibangun di Atas Ilusi yang Berbahaya
page 1 of 1