Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 24 Oktober 2025
Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?
Keselamatan konstruksi merupakan isu krusial yang seringkali tertinggal di tahap desain dan implementasi. Banyak proyek infrastruktur yang memprioritaskan kecepatan dan efisiensi biaya, namun mengabaikan aspek risiko sejak awal. Temuan dari penelitian terbaru menunjukkan bahwa integrasi teknologi seperti BIM (Building Information Modeling) serta sistem manajemen keselamatan konstruksi dapat menjadi game-changer dalam merumuskan kebijakan publik.
Pendekatan keselamatan semestinya dirancang sejak tahap konsepsi proyek, bukan hanya diterapkan di lapangan setelah risiko muncul. Untuk mendukung hal tersebut, pelatihan profesional yang fokus pada aspek manajemen konstruksi dan keselamatan menjadi sangat strategis — misalnya kursus seperti Overview of Construction Management yang mengajarkan pengelolaan proyek dari desain hingga penyelesaian.
Ketika kebijakan publik belum memasukkan aspek “safety-in-design” secara eksplisit, maka sistem akan tetap reaktif — yaitu menunggu kecelakaan terjadi, baru direspons. Kebijakan yang proaktif akan melibatkan regulasi, pelatihan, dan teknologi sejak tahap desain, sehingga risiko bisa dikendalikan lebih awal.
Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang
Dampak
Penerapan sistem yang menggabungkan teknologi dan manajemen keselamatan terbukti memberikan hasil signifikan: penurunan insiden, efisiensi biaya, dan peningkatan kualitas proyek. Para praktisi yang telah mengikuti kursus terkait manajemen kualitas konstruksi seperti Pengendalian Kualitas Pekerjaan Konstruksi melihat bahwa sistem manajemen mutu dan keselamatan saling berkaitan erat.
Hambatan
Beberapa hambatan utama yang ditemukan:
Integrasi teknologi (seperti BIM) belum menyeluruh di banyak proyek.
Profesional desain dan pelaksana kurang mendapat pelatihan khusus pada aspek keselamatan sejak desain.
Regulasi dan insentif belum cukup mendorong pelaku industri untuk mengubah praktik ke arah yang lebih aman.
Peluang
Terdapat peluang nyata untuk merevitalisasi kebijakan keselamatan konstruksi melalui:
Mandat penggunaan BIM dan manajemen keselamatan sejak tahap desain.
Pengembangan kurikulum dan pelatihan berbasis teknologi dan manajemen risiko.
Kolaborasi antar lembaga pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk memperkuat kapasitas desain dan pelaksanaan.
5 Rekomendasi Kebijakan Praktis
Mandat Integrasi BIM dalam Kebijakan Keselamatan Konstruksi
Setiap proyek infrastruktur nasional harus menyertakan modul BIM untuk identifikasi bahaya sejak fase desain produk.
Pelatihan Nasional untuk Profesional Desain & Konstruksi
Modul seperti Dasar-dasar Penyusunan HPS Jasa Konstruksi menunjukkan bahwa pelatihan teknis sangat dibutuhkan. Profesional desain harus memahami aspek keselamatan dan risiko dalam desain struktural.
Kaitkan Tender Proyek dengan Kriteria Keselamatan dan Teknologi
Regulasikan bahwa proyek pemerintah harus menggunakan sistem manajemen keselamatan dan teknologi digital sebagai syarat tender.
Audit Independen dan Monitoring Pelaksanaan Keselamatan
Bentuk unit audit keselamatan konstruksi yang melaporkan data insiden, evaluasi desain-konstruksi, serta memastikan bahwa aspek keselamatan diterjemahkan ke lapangan.
Insentif dan Sanksi Berdasarkan Kinerja Keselamatan
Sistem penghargaan untuk proyek yang menjaga angka kecelakaan rendah dan menggunakan teknologi keselamatan; serta sanksi bagi yang mengabaikan.
Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan
Kebijakan yang bagus akan tetap gagal bila implementasi di lapangan lemah. Beberapa risiko yang harus diantisipasi:
Pelaku industri hanya “check box” pelatihan atau teknologi tanpa perubahan substansial.
Kurangnya sinergi antar lembaga: pemerintah pusat, daerah, industri, dan akademisi bisa bekerja sendiri-sendiri.
Data dan monitoring yang tidak lengkap sehingga sulit mengukur efektivitas kebijakan.
Teknologi digital dikembangkan tanpa mempertimbangkan budaya kerja dan realitas lapangan.
Penutup
Keselamatan konstruksi harus dilihat sebagai bagian integral dari desain, manajemen, dan kebijakan publik — bukan hanya sebagai bagian akhir proyek. Dengan kebijakan yang mendorong teknologi, pelatihan, regulasi, dan audit, maka potensi mengubah industri konstruksi menjadi lebih aman dan produktif terbuka lebar. Upaya ini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kualitas infrastruktur nasional.
Sumber
Yahya. PhD Thesis: Enhancing Health & Safety through BIM in Public Construction Sector in Saudi Arabia, 2018.
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 21 Oktober 2025
Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan
Makalah SSRN (2024) menggarisbawahi pergeseran global dalam manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama di sektor transportasi dan logistik, menuju penerapan smart safety system yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sensor digital, dan analisis data real-time. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi dini potensi kecelakaan dan pengambilan keputusan berbasis data yang lebih cepat.
Dalam konteks Indonesia, relevansi temuan ini sangat tinggi. Sektor logistik dan transportasi darat — seperti pengangkutan barang di pelabuhan, gudang distribusi, hingga proyek infrastruktur jalan tol — merupakan penyumbang kecelakaan kerja terbesar kedua setelah konstruksi. Data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2024 menunjukkan peningkatan insiden pada pekerja logistik sebesar 18%, sebagian besar akibat kelelahan, kelalaian prosedur keselamatan, dan kurangnya sistem deteksi dini bahaya.
Kebijakan nasional K3 perlu mengarah ke data-driven safety management, di mana setiap aktivitas logistik bisa diawasi melalui sistem digital yang terintegrasi.Analisis Kritis Peran Teknologi Digital dalam Pemenuhan Keselamatan Konstruksi di Indonesia.
Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang
Dampak positif:
Penerapan sistem K3 berbasis AI dapat menurunkan risiko kecelakaan kerja hingga 40%, terutama dalam aktivitas bongkar muat dan pengangkutan logistik.
Sensor biometrik membantu mendeteksi kelelahan pengemudi dan mencegah microsleep-related accidents.
Data analitik real-time meningkatkan kemampuan supervisor untuk mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat.
Hambatan utama:
Minimnya investasi perusahaan dalam sistem digital K3 karena dianggap mahal.
Rendahnya literasi digital di kalangan pekerja lapangan.
Belum ada regulasi nasional yang mengatur standar penggunaan AI dalam sistem keselamatan kerja.
Peluang strategis:
Pengembangan National Smart Safety Framework oleh Kemenaker dan Kementerian Perhubungan untuk sektor transportasi.
Kolaborasi dengan lembaga pelatihan yang menyediakan pelatihan Manajemen Risiko dan Keselamatan Kerja di Industri Transportasi berbasis teknologi digital.
Integrasi AI Safety Analytics dengan platform pelaporan BPJS Ketenagakerjaan untuk membentuk basis data nasional risiko transportasi.
5 Rekomendasi Kebijakan Praktis
Bentuk Sistem Nasional Smart Safety Monitoring
Integrasikan sensor kendaraan, CCTV, dan aplikasi mobile untuk pelaporan insiden transportasi secara real-time.
Wajibkan Pelatihan Digital Safety untuk Pengemudi dan Operator Logistik
Kurikulum pelatihan dapat mengacu pada modul K3 berbasis data yang tersedia di Diklatkerja.com.
Audit Keselamatan Berbasis AI
Gunakan sistem prediktif untuk mengidentifikasi potensi kecelakaan sebelum terjadi, bukan setelahnya.
Kembangkan Smart Safety Dashboard di Setiap Proyek Transportasi Publik
Dashboard ini menampilkan data insiden, tingkat kepatuhan APD, dan kondisi kendaraan secara langsung.
Insentif Digitalization Grant untuk Perusahaan Logistik Aman
Pemerintah dapat memberikan potongan pajak atau akses pendanaan bagi perusahaan yang menerapkan teknologi smart safety.
Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan
Penerapan smart safety sering gagal jika hanya berfokus pada teknologi tanpa perubahan perilaku dan budaya kerja. Tanpa pelatihan yang memadai, sistem AI tidak akan efektif karena pekerja mungkin mengabaikan peringatan atau tidak memahami fungsi perangkat.
Selain itu, kebijakan digitalisasi K3 yang tidak disertai regulasi data protection dapat menimbulkan masalah privasi pekerja, terutama jika sensor biometrik digunakan untuk memantau perilaku individu.
Penutup
Transformasi digital dalam sistem K3 sektor transportasi dan logistik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Integrasi antara manusia, teknologi, dan kebijakan publik akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai zero accident industry.
Melalui kolaborasi lintas sektor — pemerintah, industri, dan lembaga pelatihan seperti Diklatkerja — Indonesia dapat membangun ekosistem kerja yang cerdas, aman, dan berkelanjutan.
Sumber Artikel
SSRN Paper (2024). AI-Based Safety Management in Transport and Logistics Industries.
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Raihan pada 20 Oktober 2025
Resensi Riset: Investigasi Dampak Behavior-Based Safety terhadap Budaya Keselamatan Organisasi
Penelitian yang diangkat dalam tesis ini merupakan investigasi krusial yang menguji transisi paradigma dalam manajemen keselamatan dari pendekatan tradisional ke pendekatan berbasis perilaku. Penelitian ini secara sistematis bertujuan untuk mengukur dampak implementasi Behavior-Based Safety (BBS) terhadap level kematangan Budaya Keselamatan Organisasi. Secara historis, studi keselamatan dimulai dengan fokus pada perilaku individu sebagai penyebab utama kecelakaan (domino theory). Konsep ini kemudian berkembang menjadi fokus pada Budaya Keselamatan setelah insiden besar seperti Chernobyl. Tesis ini menjembatani kedua konsep tersebut dengan memposisikan BBS sebagai mekanisme untuk mematangkan budaya keselamatan secara keseluruhan.
Jalur logis perjalanan temuan penelitian ini dimulai dengan pengembangan alat ukur yang valid. Mengingat tidak adanya alat yang spesifik untuk konteks studi, peneliti memodifikasi dan memformalkan Manchester Patient Safety Framework (MaPSaF) sebagai dasar, menyelaraskannya dengan kebutuhan industri. Pengembangan kuesioner ini melibatkan proses triangulasi yang ketat: wawancara kelompok fokus dengan pekerja, workshop dengan spesialis K3, dan sesi konsultasi ahli. Proses ini menghasilkan instrumen penilaian komprehensif yang terdiri dari 25 aspek spesifik yang dikelompokkan dalam 9 dimensi Budaya Keselamatan.
Setelah alat ukur divalidasi, penelitian bergerak ke tahap komparatif. Dua perusahaan dalam industri yang identik (industri pertahanan) dan memiliki lingkup layanan yang sama dipilih untuk meminimalkan variabel eksternal. Perusahaan A telah mengadopsi dan menerapkan pendekatan BBS sejak tahun 2009, sementara Perusahaan B masih mengandalkan program keselamatan yang lebih tradisional. Pengumpulan data melibatkan sampel yang besar dan representatif: 358 pekerja dari Perusahaan A dan 248 pekerja dari Perusahaan B mengisi kuesioner kematangan budaya keselamatan.
Analisis hasil perbandingan menunjukkan sebuah temuan yang tegas: tingkat kematangan budaya keselamatan pada Perusahaan A (BBS) terbukti lebih tinggi pada setiap aspek yang diukur dibandingkan dengan Perusahaan B (Tradisional). Peningkatan ini tidak terbatas pada satu atau dua metrik, tetapi menyeluruh. Perusahaan A secara keseluruhan diklasifikasikan dengan 20 aspek berada pada tingkat Generatif dan 5 aspek sisanya berada pada tingkat Proaktif , yang mencerminkan Budaya Keselamatan yang berorientasi pada kinerja dan pembelajaran. Sebaliknya, Perusahaan B menunjukkan distribusi yang lebih bervariasi, dengan 8 aspek di tingkat Generatif/Proaktif dan 6 aspek di tingkat Birokratis , yang mengindikasikan ketergantungan yang lebih besar pada aturan dan prosedur daripada inisiatif proaktif karyawan.
Analisis data kuantitatif secara deskriptif memberikan bukti empiris yang kuat untuk mendukung kesimpulan riset ini. Ketika membandingkan tingkat prioritas yang diberikan pada keselamatan (Priority given to safety), yang merupakan salah satu aspek kunci di bawah Dimensi 2, terdapat perbedaan skor rata-rata yang signifikan. Secara spesifik, temuan ini menunjukkan hubungan kuat antara penerapan Behavior-Based Safety (BBS) dan persepsi positif karyawan terhadap prioritas keselamatan dengan skor rata-rata 4.25 untuk Perusahaan A (BBS), berbanding skor rata-rata 3.80 untuk Perusahaan B (Tradisional). Perbedaan kuantitatif ini—yang menempatkan Perusahaan A di tingkat Generatif dan Perusahaan B mendekati batas atas tingkat Proaktif —menunjukkan potensi kuat untuk objek penelitian baru, khususnya dalam mengukur laju migrasi budaya keselamatan akibat intervensi berbasis perilaku. Lebih lanjut, tingkat konsensus yang dicapai dalam Persepsi Penyebab Insiden Keselamatan (Perceptions of the causes of safety incidents, Dimensi 3) juga menyoroti keunggulan BBS, di mana Perusahaan A mencatatkan skor keseluruhan 4.29 (Generatif) , sementara Perusahaan B hanya mencapai skor 3.87. Skor ini secara kolektif menggarisbawahi keefektifan BBS dalam membangun budaya nirkambinghitam (blame culture) dan pembelajaran organisasi yang unggul.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Studi ini memberikan kontribusi yang substansial dan berlapis terhadap disiplin Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pertama, riset ini memperkuat justifikasi teoretis bahwa Behavior-Based Safety (BBS) bukan hanya sekadar program, tetapi sebuah pendekatan manajemen komprehensif yang mampu menghasilkan perubahan fundamental dan berkelanjutan dalam budaya organisasi. Dengan membandingkan dua perusahaan dalam industri dan lingkup layanan yang identik (industri pertahanan), penelitian ini secara efektif mengisolasi variabel intervensi (BBS vs. program tradisional). Hasilnya memberikan bukti empiris langsung bahwa BBS secara sistematis mengungguli metode tradisional dalam mematangkan budaya keselamatan ke tingkat Generatif—level tertinggi dalam model kematangan.
Kontribusi kedua yang krusial adalah validasi metodologis dari instrumen penilaian. Dengan memodifikasi dan memformalkan MaPSaF ke dalam kuesioner 9-Dimensi dan 25-Aspek untuk konteks industri, studi ini menyajikan perangkat yang dapat direplikasi bagi akademisi dan praktisi untuk menilai kematangan budaya keselamatan dengan tingkat detail yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini memungkinkan identifikasi kelemahan spesifik (misalnya, blame culture atau sistem pelaporan) yang dapat ditargetkan oleh intervensi manajemen. Studi ini secara eksplisit mengungkapkan bahwa peningkatan kematangan budaya keselamatan pada Perusahaan A mencakup hampir setiap aspek, termasuk aspek yang secara tradisional sulit diukur seperti komunikasi keselamatan, kerja tim, dan komitmen manajemen.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun temuan studi ini sangat informatif, terdapat beberapa keterbatasan yang harus diakui dan menjadi titik awal untuk eksplorasi riset di masa depan. Keterbatasan utama adalah sifat cross-sectional dari studi komparatif ini. Meskipun Perusahaan A telah menerapkan BBS sejak tahun 2009, data yang dikumpulkan hanya merepresentasikan satu titik waktu (Januari 2020). Oleh karena itu, penelitian ini tidak secara langsung mengukur laju perubahan atau keberlanjutan budaya keselamatan dari waktu ke waktu. Hal ini menimbulkan pertanyaan terbuka: Seberapa cepat perusahaan tradisional (Perusahaan B) dapat mencapai tingkat kematangan Perusahaan A setelah mengimplementasikan BBS, dan apakah tingkat Generatif yang dicapai oleh Perusahaan A dapat bertahan atau terus meningkat setelah satu dekade implementasi?
Keterbatasan kedua berkaitan dengan generalisasi temuan. Meskipun kedua perusahaan beroperasi di industri yang sama (pertahanan) dan memiliki lingkup layanan yang serupa, faktor-faktor budaya organisasi yang lebih luas, seperti jenis kepemilikan, struktur hierarki yang berbeda, dan serikat pekerja, dapat memengaruhi hasil. Oleh karena itu, muncul pertanyaan tentang bagaimana temuan ini akan berlaku pada sektor industri lain (misalnya, konstruksi, manufaktur, atau layanan kesehatan) yang memiliki risiko dan struktur tenaga kerja yang sangat berbeda. Selain itu, studi ini menyimpulkan bahwa Perusahaan B telah memiliki landasan yang cukup untuk memulai program BBS. Pertanyaan terbuka di sini adalah: Apa saja prasyarat minimum (dalam hal kematangan budaya keselamatan awal) yang diperlukan sebuah organisasi agar implementasi BBS menjadi efektif dan tidak hanya menjadi 'program pajangan' (program for show)?
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan
Arah riset ke depan, yang ditujukan untuk komunitas akademik, peneliti, dan penerima hibah, harus berfokus pada transisi dari studi komparatif ke studi intervensi dan longitudinal, sambil memperluas konteks dan metodologi.
1. Studi Longitudinal tentang Dampak Dosis BBS (BBS Dose-Impact Longitudinal Study)
2. Analisis Kuantitatif Korelasi Kematangan dengan Kinerja K3 Absolut (Absolute OHS Performance)
3. Eksplorasi Peran Kepemimpinan Transaksional vs. Transformasional dalam Keberhasilan BBS
4. Studi Replikasi Komparatif di Sektor Risiko Tinggi Non-Industri Pertahanan
5. Pengembangan dan Validasi Metrik Kualitatif untuk Internalization of Safety Values
Fokus pada Keterhubungan Temuan dan Potensi Jangka Panjang
Temuan utama penelitian ini menunjukkan adanya keterhubungan yang tak terpisahkan antara intervensi berbasis perilaku dan transformasi budaya organisasi. Behavior-Based Safety (BBS) terbukti efektif karena ia memindahkan fokus dari reaksi terhadap insiden (reaktif dan birokratis) ke pencegahan proaktif dan pembelajaran organisasi (generatif). Ketika sebuah perusahaan mencapai level kematangan Generatif, seperti yang terlihat pada Perusahaan A, keselamatan menjadi bagian inheren dari pengambilan keputusan operasional, bukan sekadar daftar periksa yang terpisah. Hal ini berarti sistem keselamatan menjadi "proaktif" dan "adaptif," memungkinkan perusahaan untuk mengantisipasi risiko yang muncul dan merespons perubahan lingkungan dengan cepat.
Potensi jangka panjang di sini adalah penciptaan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, retensi karyawan yang lebih tinggi (karena rasa aman dan keterlibatan), dan pengurangan biaya yang terkait dengan kecelakaan (kompensasi, waktu henti, biaya kesehatan). Dengan membangun budaya Generatif, organisasi dapat mengubah biaya K3 menjadi investasi strategis yang menjamin keberlanjutan operasional, terutama dalam sektor berisiko tinggi. Penelitian lanjutan yang direkomendasikan bertujuan untuk mengukur dan mengkuantifikasi manfaat jangka panjang ini secara lebih terperinci, menjembatani kesenjangan antara teori perilaku dan hasil bisnis absolut.
Penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi seperti Middle East Technical University (METU), yang memiliki keahlian dalam Pengembangan Kuesioner dan metodologi OHS; Asosiasi Industri Pertahanan (misalnya, institusi/organisasi yang mewakili industri pertahanan di Turki), sebagai sumber data lapangan dan konteks industri yang relevan; dan lembaga pendanaan riset internasional (misalnya, badan-badan hibah Eropa atau Amerika Serikat) untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil di berbagai konteks global.
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Melchior Celtic pada 17 Oktober 2025
Studi Ini Mengubah Cara Saya Membaca Data Keselamatan Kerja
Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah cara para peneliti ini bekerja. Mereka tidak berteori dari menara gading. Mereka melakukan sesuatu yang radikal: bertanya langsung kepada orang-orang di lapangan. Mereka menyurvei para profesional dari 400 perusahaan kontraktor top yang terdaftar di Engineering News-Record (ENR). Mereka mengumpulkan data dari 93 responden yang mayoritas adalah manajer proyek dan insinyur berpengalaman, lalu menggunakan analisis statistik canggih—disebut Analisis Faktor—untuk menemukan pola tersembunyi.
Bayangkan Anda memiliki 25 bahan masakan yang berbeda dan ingin tahu resep rahasia untuk membuat hidangan terbaik. Analisis Faktor membantu Anda mengelompokkan bahan-bahan tersebut ke dalam kategori yang masuk akal, seperti "bumbu dasar", "protein", "sayuran", dan seterusnya. Inilah yang dilakukan para peneliti. Dari 25 variabel kesuksesan pelatihan, mereka menemukan enam kelompok faktor—enam pilar—yang menopang keberhasilan setiap program pelatihan K3.
Dan inilah bagian yang paling menarik: keenam pilar ini tidak setara. Ada urutan prioritas yang jelas, sebuah hierarki yang jika kita salah memahaminya, seluruh upaya kita bisa sia-sia.
Enam Kunci Emas Pelatihan yang Efektif (Dan Satu yang Paling Mengejutkan Saya)
Berdasarkan analisis varians total dalam studi tersebut, saya menyusunnya dalam bentuk "Piramida Kesuksesan". Ini membantu kita melihat faktor mana yang menjadi fondasi dan mana yang menjadi puncak.
Level 1 (Paling Mendasar): Faktor Terkait Proyek & Perusahaan (menjelaskan 39.04% varians) - Konteks adalah Raja.
Level 2: Faktor Demografis (13.08%) - Siapa Anda dan dari mana Anda berasal.
Level 3: Faktor Implementasi Praktis (9.95%) - Cara Anda Mengajar.
Level 4: Faktor Organisasional (5.50%) - Dukungan dari Sistem.
Level 5: Faktor Motivasional (5.30%) - Alasan untuk Peduli.
Level 6 (Puncak Piramida): Faktor Manusia & Perilaku (4.19%) - Tindakan Nyata di Lapangan.
Mari kita bedah satu per satu, mulai dari fondasi yang paling penting.
Kunci #1: Konteks Adalah Segalanya—Proyek Anda Menentukan Pelatihan Anda
Ini adalah temuan paling dominan dalam riset ini. Kelompok faktor yang terkait dengan proyek dan perusahaan—seperti tipe proyek, ukuran proyek, durasi proyek, dan ukuran perusahaan—menjelaskan 39% dari keberhasilan pelatihan. Angka ini jauh lebih besar dari gabungan beberapa faktor lainnya.
Ini seperti mencoba menanam pohon. Anda bisa punya bibit terbaik dan pupuk termahal, tapi jika Anda menanamnya di gurun pasir (konteks yang salah), pohon itu tidak akan tumbuh. Dalam K3, 'tanah' tempat Anda menanam program pelatihan adalah jenis proyek, skala perusahaan, dan durasi pekerjaan. Pelatihan K3 untuk pembangunan gedung pencakar langit di pusat kota tentu sangat berbeda dengan pelatihan untuk proyek pembangunan jalan di daerah terpencil. Riset ini membuktikan bahwa risiko dan kebutuhan keselamatan sangat bervariasi tergantung pada konteksnya, dan pelatihan harus mencerminkan hal itu.
Implikasinya sangat besar. Ini berarti pendekatan "satu ukuran untuk semua" dalam pelatihan K3 pada dasarnya cacat. Perusahaan yang hanya membeli modul pelatihan generik dan menerapkannya di semua proyek tanpa penyesuaian, sebenarnya sedang mengabaikan faktor penentu keberhasilan yang paling penting.
Kunci #2: Praktik di Lapangan Mengalahkan Teori di Ruangan
Pilar berikutnya adalah tentang bagaimana pelatihan itu disampaikan. Faktor-faktor seperti "Pelatihan Praktis" (Hands-on Training), "Persepsi terhadap Pelatihan", dan "Metode dan Materi" memegang peranan krusial. Data ini menunjukkan sebuah kebenaran fundamental: kita belajar dengan melakukan. Teori itu penting, tapi pemahaman yang mendalam baru muncul saat kita memegang alatnya, merasakan getarannya, dan melihat langsung risikonya.
Menariknya, ada sebuah paradoks dalam data. Ketika ditanya metode pelatihan apa yang paling sering digunakan, responden menyebutkan "Pelatihan berbasis komputer" (94.6%) dan "Pelatihan di tempat kerja" (On-the-job training) (91.4%). Sementara hands-on training terbukti sangat efektif, metode berbasis komputer yang seringkali pasif justru paling populer. Ini mungkin menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang efektif dan apa yang mudah atau efisien secara biaya bagi perusahaan. Apakah kita sedang memprioritaskan kemudahan administrasi di atas pembangunan keterampilan yang sesungguhnya?
🚀 Hasilnya luar biasa: Pelatihan langsung di lapangan, di mana pekerja bisa mempraktikkan apa yang mereka pelajari dalam konteks nyata, terbukti paling efektif dalam menanamkan perilaku aman.
🧠 Inovasinya: Daripada hanya menyajikan daftar peraturan, gunakan studi kasus dari proyek serupa, simulasi, dan materi visual yang relevan dengan pekerjaan sehari-hari mereka.
💡 Pelajaran: Jangan hanya bicara soal bahaya jatuh dari ketinggian; ajak mereka memasang harness dengan benar. Jangan hanya menjelaskan risiko listrik; tunjukkan cara melakukan lockout/tagout secara nyata.
Kunci #3: Tanpa Restu Atasan, Semua Sia-sia
Di sini kita menggabungkan dua kelompok faktor: Organisasional dan Motivasional. Faktor-faktor ini mencakup "Dukungan Manajemen", "Umpan Balik" (Feedback), "Insentif untuk Keselamatan", dan "Kepuasan Pelatihan".
Bayangkan sebuah orkestra. Pelatihan adalah biolanya—instrumen yang indah. Tapi tanpa seorang konduktor (manajemen), partitur musik (sistem dan feedback), dan tepuk tangan penonton (insentif), biola itu hanya akan menghasilkan nada sumbang. Keselamatan adalah sebuah pertunjukan kolektif, bukan solo.
Ini adalah kebenaran yang pahit namun nyata. Tanpa komitmen tulus dari manajemen puncak, program K3 terbaik sekalipun hanya akan menjadi pajangan di dinding. Dukungan ini bukan hanya soal anggaran, tapi juga soal kehadiran, penegakan aturan, dan pemberian contoh. Ketika seorang manajer proyek secara konsisten memberikan umpan balik tentang praktik keselamatan dan memberikan penghargaan bagi tim yang bekerja aman, pesan yang dikirim jauh lebih kuat daripada pelatihan formal manapun. Faktor-faktor ini menciptakan sebuah siklus positif: dukungan manajemen melahirkan insentif, yang meningkatkan motivasi pekerja, yang membuat mereka lebih puas dan terlibat dalam pelatihan, yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas pelatihan itu sendiri.
Kunci #4: Kepemimpinan dan Helm Pengaman—Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Pilar ini mencakup kelompok "Faktor Terkait Manusia dan Perilaku". Secara statistik, kelompok ini menjelaskan porsi varians terkecil (4.19%). Namun, di sinilah letak keindahan data yang sesungguhnya. Meskipun kelompoknya kecil, dua variabel di dalamnya—"Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)" dan "Kepemimpinan"—memiliki skor rata-rata tertinggi dari semua 25 variabel yang diukur, masing-masing 4.95 dan 4.92 dari 5.
Apa artinya ini? Ini menunjukkan bahwa setelah semua sistem, konteks, dan metode kita atur, pada akhirnya keselamatan bermuara pada dua hal: tindakan paling konkret (memakai helm) dan kualitas paling abstrak (kepemimpinan). Keduanya adalah hasil akhir, puncak dari piramida. Penggunaan APD yang benar bukanlah titik awal, melainkan buah dari pelatihan yang efektif, dukungan manajemen, dan budaya yang kuat. Demikian pula, kepemimpinan yang berfokus pada keselamatan adalah manifestasi dari komitmen organisasi.
Satu melindungi kepala, yang lain melindungi jiwa. Keduanya tak terpisahkan dalam menciptakan lingkungan kerja yang benar-benar aman.
Kunci #5: Siapa Diri Anda Penting, Tapi Tidak Sepenting yang Kita Duga
Inilah bagian yang paling mengejutkan saya. Selama ini, kita sering mendengar bahwa demografi adalah segalanya. Faktor-faktor seperti "Usia", "Jenis Kelamin", "Negara Asal", dan "Latar Belakang Pendidikan" sering dianggap sebagai prediktor utama perilaku keselamatan.
Riset ini tidak menyangkal pentingnya faktor-faktor tersebut, tetapi menempatkannya dalam perspektif yang benar. Ternyata, di mana dan bagaimana Anda bekerja (konteks proyek) secara statistik lebih menentukan keberhasilan pelatihan daripada siapa Anda (demografi).
Namun, di sinilah saya merasa perlu memberikan sedikit kritik halus. Meski temuannya hebat, cara analisanya mungkin agak terlalu abstrak untuk diterapkan mentah-mentah, terutama di konteks Indonesia yang super beragam. Studi ini dilakukan pada kontraktor top di AS, di mana mungkin ada standardisasi yang lebih tinggi. Di sini, di mana pekerja datang dari berbagai suku dengan bahasa daerah yang berbeda, saya berani berargumen bahwa faktor "Bahasa" bisa menjadi penentu hidup dan mati di lapangan. Angka statistik tidak selalu menangkap realitas kemanusiaan yang kompleks.
Di sinilah letak tantangan sekaligus peluangnya. Bagaimana kita menjembatani kesenjangan demografis ini? Salah satu solusinya adalah melalui program pelatihan yang terstandarisasi dan mudah diakses. Platform seperti (https://www.diklatkerja.com/) berperan penting dalam menciptakan 'bahasa' keselamatan yang sama, memastikan bahwa setiap orang, terlepas dari latar belakang pendidikan atau asalnya, mendapatkan fondasi pengetahuan K3 yang solid dan diakui.
Dampak Nyata yang Bisa Saya Terapkan Hari Ini
Setelah membedah semua pilar ini, pertanyaannya adalah: jadi, apa yang harus kita lakukan besok pagi? Berikut adalah tiga langkah praktis yang disarikan dari riset ini:
Audit Konteks Anda, Bukan Cuma Kepatuhan: Lupakan sejenak checklist K3 Anda. Ambil secangkir kopi dan tanyakan: Apa yang unik dari proyek saya saat ini? Skalanya? Durasinya? Jenis pekerjanya? Desain pelatihan Anda harus dimulai dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, bukan dari buku peraturan.
Alokasikan 20% Anggaran Pelatihan untuk 'Praktik Kotor': Jika anggaran Anda 100 juta, alokasikan 20 juta khusus untuk sesi praktik langsung, simulasi di lapangan, atau bahkan studi kasus interaktif. Kurangi porsi 'ceramah' dan perbanyak porsi 'coba'. Ukur keberhasilan bukan dari jumlah peserta, tapi dari peningkatan keterampilan yang bisa didemonstrasikan.
Jadikan Manajer Proyek Anda Instruktur K3 Terbaik: Kepemimpinan adalah faktor penentu. Daripada hanya mengandalkan petugas K3, latih manajer proyek dan mandor Anda untuk menjadi 'juara K3'. Ketika pesan keselamatan datang dari orang yang sama yang memberikan perintah kerja harian, dampaknya akan 10 kali lebih kuat.
Bergerak dari Sekadar Kewajiban Menuju Budaya Sejati
Pada akhirnya, riset ini mengingatkan kita bahwa tujuan pelatihan K3 bukanlah untuk menghasilkan sertifikat yang bisa dibingkai, melainkan untuk menanamkan refleks—refleks untuk berhenti sejenak, berpikir, dan bertindak aman. Ini bukan tentang memenuhi kewajiban, tapi tentang membangun budaya. Dan budaya, seperti yang kita tahu, dimulai dari pemahaman yang lebih dalam.
Pelatihan yang efektif bukanlah sebuah acara tunggal, melainkan sebuah sistem yang dinamis dan sadar konteks. Ia dimulai dengan fondasi pemahaman proyek, dieksekusi melalui praktik langsung di lapangan, dan ditopang oleh kepemimpinan dan dukungan manajemen yang tak tergoyahkan.
Tentu saja, tulisan ini hanya menggores permukaan dari kekayaan data dalam studi ini. Jika Anda seorang 'geek' data seperti saya, atau seorang profesional K3 yang serius ingin mendalami fondasi ilmiah di balik ini, saya sangat merekomendasikan untuk membaca paper aslinya. Anda akan menemukan lebih banyak lagi nuansa yang berharga.
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Raihan pada 17 Oktober 2025
Analisis Opsi Kebijakan untuk Mengurangi Insiden Jatuh dari Ketinggian: Peta Jalan Riset untuk Komunitas Akademik
Paper "Reducing falls from heights in the construction industry - Options Paper" yang diterbitkan oleh SafeWork NSW (SWNSW) pada Juni 2023 menyajikan analisis komprehensif mengenai salah satu "masalah pelik" (wicked problem) yang paling persisten dalam industri konstruksi: insiden fatal dan cedera serius akibat jatuh dari ketinggian. Dokumen ini melampaui laporan kepatuhan standar dengan menyusun serangkaian opsi regulasi strategis yang dirancang untuk mengatasi masalah ini secara sistemik. Bagi komunitas riset, paper ini bukan sekadar laporan, melainkan sebuah landasan subur yang memetakan arah penelitian masa depan dengan justifikasi berbasis data yang kuat.
Perjalanan logis paper ini dimulai dengan penegasan skala masalah, di mana jatuh dari ketinggian merupakan penyebab paling umum kematian traumatis di lokasi konstruksi NSW. Argumen ini diperkuat oleh data kuantitatif yang mengkhawatirkan. Analisis data kompensasi pekerja dari 2016/17 hingga 2020/21 menunjukkan bahwa industri konstruksi memiliki jumlah klaim cedera berat (major claims) akibat jatuh dari ketinggian hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan industri tertinggi berikutnya (manufaktur). Lebih jauh lagi, dampak ekonominya sangat signifikan: biaya klaim untuk cedera berat di konstruksi 3,5 kali lebih tinggi dan waktu pemulihan yang hilang 2,5 kali lebih besar daripada industri lainnya. Data ini secara jelas menggarisbawahi urgensi intervensi yang lebih efektif, mengingat upaya yang telah dilakukan sejak 2017 belum berhasil menurunkan tingkat insiden secara memuaskan.
Salah satu temuan paling provokatif dari riset independen yang ditugaskan oleh SWNSW adalah adanya diskoneksi persepsi risiko yang fundamental. Riset tersebut menemukan bahwa pekerja dan supervisor cenderung menganggap "ketinggian" yang berisiko adalah setidaknya dua lantai (6+ meter). Temuan ini sangat kontras dengan data insiden SWNSW yang menunjukkan bahwa sebagian besar jatuh yang fatal dan serius terjadi dari ketinggian kurang dari 4 meter. Hubungan antara persepsi yang keliru dan realitas statistik ini membuka ruang penelitian baru yang signifikan di bidang psikologi kognitif dan perilaku keselamatan. Paper ini juga menyoroti bahwa pengambilan keputusan di lapangan sering kali didasari oleh "sistem 1" (pemikiran cepat dan otomatis), yang dipengaruhi oleh bias optimisme—keyakinan bahwa "itu tidak akan terjadi pada saya".
Berdasarkan analisis data, riset perilaku, dan pembelajaran dari yurisdiksi luar negeri seperti Singapura dan Ontario, paper ini mengusulkan enam opsi regulasi yang terstruktur dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Opsi-opsi ini mencakup penegakan Hirarki Kontrol yang lebih efektif, perencanaan perlindungan pekerja yang lebih baik, integrasi keselamatan dalam desain bangunan, pembaruan instrumen dan panduan, serta pengenalan pelatihan dan lisensi wajib. Kerangka kerja ini memberikan struktur yang jelas bagi para peneliti untuk mengevaluasi dan menguji intervensi kebijakan di masa depan.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi utama paper ini bagi bidang keselamatan kerja dan kebijakan publik adalah penyediaan kerangka kerja analitis yang terstruktur untuk masalah yang kompleks dan multidimensional. Alih-alih menyajikan satu solusi tunggal, SWNSW memetakan spektrum intervensi yang saling berhubungan. Ini menggeser wacana dari sekadar kepatuhan (compliance) menjadi perancangan sistem (system design). Dengan mengintegrasikan data kuantitatif (statistik klaim dan insiden), data kualitatif (riset persepsi pekerja), dan analisis komparatif (studi kasus internasional), paper ini menciptakan model holistik untuk mengatasi risiko K3. Bagi akademisi, ini memberikan dasar yang kuat untuk merancang studi intervensi, analisis kebijakan, dan penelitian implementasi yang relevan dengan kebutuhan regulator dan industri.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun komprehensif, paper ini memiliki keterbatasan yang secara inheren membuka pertanyaan untuk penelitian lebih lanjut. Salah satu keterbatasan utama terletak pada data sentimen industri. Preferensi solusi yang dikumpulkan dalam simposium dan roadshow didominasi oleh perwakilan industri tingkat 1 dan 2. Hasilnya menunjukkan preferensi kuat untuk melimpahkan tanggung jawab kepada individu pekerja melalui pelatihan (37%) dan lisensi (35%), sementara solusi yang menuntut perubahan pada level sistem bisnis, seperti perencanaan perlindungan (2%) dan penegakan hirarki kontrol (9%), kurang diminati. Hal ini memunculkan pertanyaan krusial: Apa faktor-faktor organisasional dan ekonomi yang mendorong resistensi terhadap kontrol tingkat tinggi, dan bagaimana intervensi kebijakan dapat dirancang untuk mengubah preferensi ini?
Selain itu, paper ini mengakui bahwa kewajiban desainer (arsitek, insinyur) di bawah undang-undang K3 masih jarang diuji di pengadilan dan terdapat kompleksitas dalam penerapannya. Ini menandakan adanya area abu-abu dalam kerangka regulasi yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Pertanyaan terbuka lainnya adalah mengapa instrumen perencanaan seperti Safe Work Method Statements (SWMS) sering kali gagal dioperasionalkan dan menjadi sekadar latihan "centang kotak" (tick and flick), meskipun diwajibkan oleh hukum.
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)
Berdasarkan temuan dan keterbatasan dalam paper, berikut adalah lima arah riset prioritas yang dapat dijajaki oleh komunitas akademik dan penerima hibah riset.
1. Studi Perilaku Kognitif dan Intervensi Nudge untuk Risiko Ketinggian Rendah
2. Analisis Komparatif Efektivitas Instrumen Perencanaan Keselamatan
3. Investigasi Hambatan dan Pendorong Implementasi Safety by Design (SbD)
4. Studi Longitudinal Dampak Pelatihan Wajib Berbasis Kompetensi
5. Eksplorasi Kualitatif Penyebab di Balik Ketidakpatuhan terhadap Hirarki Kontrol
Sebagai kesimpulan, paper dari SafeWork NSW ini adalah panggilan untuk aksi, tidak hanya bagi regulator dan industri, tetapi juga bagi komunitas riset. Arah penelitian yang diuraikan di atas dapat memberikan bukti empiris yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap intervensi kebijakan di masa depan didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang perilaku manusia, dinamika organisasi, dan realitas ekonomi di lapangan. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi akademik, badan regulator seperti SafeWork NSW (SWNSW) dan Heads of Workplace Authorities (HWSA), otoritas pelatihan seperti Australian Skills Quality Authority (ASQA), serta lembaga pemerintah terkait seperti NSW Fair Trading untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil.
Sebagai publikasi pemerintah, dokumen ini tidak memiliki Digital Object Identifier (DOI). Baca paper aslinya di situs web resmi SafeWork NSW.
Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)
Dipublikasikan oleh Raihan pada 16 Oktober 2025
Membongkar Kotak Hitam Pelatihan K3: Tinjauan Kritis dan Arah Riset Masa Depan
Pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan pilar fundamental dalam manajemen keselamatan modern. Tujuannya jelas: membekali pekerja dengan pengetahuan, motivasi, dan keterampilan untuk mengurangi risiko cedera. Namun, sebuah tantangan besar yang terus-menerus dihadapi adalah kegagalan pelatihan untuk "melekat", di mana pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas tidak berhasil ditransfer dan diaplikasikan di lingkungan kerja. Fenomena ini bukan hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berakibat fatal. Riset yang dilakukan oleh Tristan Casey dan rekan-rekannya berjudul “Making safety training stickier: A richer model of safety training engagement and transfer” berupaya menjawab tantangan ini dengan mengusulkan sebuah kerangka kerja teoretis yang lebih kaya dan terintegrasi.
Karya ini berargumen bahwa pelatihan K3 memiliki tantangan unik yang membedakannya dari jenis pelatihan okupasi lainnya. Perilaku keselamatan sering kali sudah menjadi rutinitas dan sangat diatur, sehingga sulit diubah. Selain itu, banyak pelatihan K3 bersifat wajib, yang berpotensi mengurangi motivasi dan rasa kepemilikan peserta. Lebih jauh lagi, beberapa keterampilan, seperti prosedur darurat, jarang dipraktikkan, sehingga rentan terhadap kelupaan. Penelitian yang ada cenderung berfokus pada faktor-faktor terisolasi seperti desain pelatihan atau dukungan sosial. Untuk mengatasi keterbatasan ini, Casey dkk. melakukan tinjauan kualitatif komprehensif terhadap literatur yang relevan dari tahun 2010 hingga 2020, menganalisis 38 artikel secara mendalam untuk membangun model baru yang holistik.
Model yang diusulkan menempatkan "keterlibatan dalam pelatihan K3" (safety training engagement) sebagai konstruk psikologis sentral. Keterlibatan ini didefinisikan sebagai keadaan tiga dimensi yang mencakup aspek afektif (emosional), kognitif (upaya mental), dan perilaku (partisipasi aktif). Dalam model ini, keterlibatan bertindak sebagai mediator krusial antara serangkaian faktor input dan hasil akhir berupa "transfer pelatihan K3" (safety training transfer)—yaitu aplikasi dan pemeliharaan pengetahuan serta keterampilan di tempat kerja. Faktor-faktor input ini dikategorikan secara kronologis: faktor pra-pelatihan (individu, kontekstual, organisasi), faktor desain pelatihan, dan faktor penyampaian pelatihan. Dengan demikian, penelitian ini secara efektif menggeser fokus dari sekadar apa yang terjadi sebelum dan sesudah pelatihan, ke proses psikologis yang terjadi selama pelatihan itu sendiri.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi paling signifikan dari paper ini adalah konseptualisasi dan penempatan keterlibatan pelatihan (training engagement) sebagai variabel mediasi inti. Ini membuka "kotak hitam" dari proses pembelajaran dan memberikan kerangka kerja yang lebih dinamis untuk memahami mengapa beberapa pelatihan berhasil sementara yang lain gagal. Daripada melihat pembelajaran sebagai hasil pasif, model ini menyoroti pentingnya keadaan psikologis aktif peserta didik.
Selain itu, penelitian ini berhasil mengintegrasikan dua aliran literatur yang sebelumnya sering berjalan paralel: model pelatihan okupasi umum dan studi spesifik mengenai pelatihan K3. Dengan melakukan ini, para penulis menciptakan sebuah model yang kaya secara teoretis namun tetap relevan dengan tantangan unik dunia K3, seperti adanya sikap yang sudah tertanam terhadap keselamatan, iklim keselamatan organisasi, dan sifat pelatihan yang sering kali wajib.
Secara deskriptif, paper ini merujuk pada temuan meta-analisis sebelumnya yang memperkuat argumennya. Sebagai contoh, disebutkan bahwa motivasi peserta didik memiliki korelasi tertinggi dengan pembelajaran dan transfer, menyoroti pentingnya menargetkan variabel ini sebelum dan selama pelatihan. Demikian pula, rujukan pada studi yang menemukan bahwa iklim keselamatan memoderasi hubungan antara pelatihan K3 dan tingkat insiden menunjukkan adanya hubungan kuat antara konteks organisasi dan efektivitas pelatihan, yang memperkuat perlunya pendekatan multilevel dalam riset selanjutnya.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun model yang diajukan komprehensif, penting untuk diakui bahwa model ini bersifat teoretis dan konseptual, yang dibangun dari tinjauan literatur kualitatif. Hubungan kausal dan mediasi yang dihipotesiskan dalam model (seperti yang digambarkan pada Gambar 1) belum diuji secara empiris. Validasi kuantitatif terhadap model ini menjadi langkah logis berikutnya yang mendesak.
Paper ini juga secara jujur menyoroti beberapa area di mana bukti empiris masih terbatas atau hasilnya tidak konsisten. Misalnya, dampak spesifik dari karakteristik pelatih (seperti kredibilitas dan latar belakang operasional) terhadap keterlibatan peserta didik sebagian besar masih bersifat spekulatif dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Demikian pula, efektivitas intervensi "pencegahan kambuh" (relapse prevention) dalam konteks K3 masih menunjukkan hasil yang beragam dan belum dapat disimpulkan.
Pertanyaan terbuka lainnya adalah mengenai pengukuran transfer pelatihan itu sendiri. Para penulis mengkritik metrik tradisional seperti angka kehadiran atau statistik kecelakaan dan menyerukan pengukuran yang lebih bernuansa, seperti perbedaan antara transfer dekat (aplikasi dalam konteks serupa) dan transfer jauh (aplikasi dalam konteks berbeda), serta pemeliharaan perilaku dalam jangka panjang. Mengembangkan dan memvalidasi instrumen untuk mengukur konstruk-konstruk ini adalah tantangan metodologis yang signifikan bagi para peneliti di masa depan.
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan
Berdasarkan temuan dan celah yang diidentifikasi dalam paper ini, berikut adalah lima arah riset prioritas bagi komunitas akademik dan lembaga pendanaan:
Ajakan untuk Kolaborasi Riset
Model yang disajikan oleh Casey dkk. menawarkan peta jalan yang sangat berharga untuk merevitalisasi penelitian dan praktik pelatihan K3. Namun, untuk mewujudkan potensinya secara penuh, validasi dan eksplorasi lebih lanjut dari model ini tidak dapat dilakukan secara terpisah. Penelitian lebih lanjut harus melibatkan kolaborasi erat antara institusi riset K3, otoritas regulator industri, pengembang teknologi pelatihan, dan organisasi di sektor berisiko tinggi. Kemitraan semacam ini akan memastikan bahwa pertanyaan riset yang diajukan relevan secara praktis dan bahwa temuan yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi intervensi yang valid, berkelanjutan, dan pada akhirnya, menyelamatkan nyawa.