Sains & Teknologi

Riset Ungkap Cara Mesin Belajar 'Insting' untuk Jinakkan Sistem Tak Terkendali—Ini Rahasianya!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 27 Oktober 2025


Ketika Sistem Menjadi 'Liar'—Tantangan Mengendalikan Ketidakstabilan

Bayangkan Anda mencoba menyeimbangkan sebuah tongkat panjang secara vertikal di telapak tangan Anda. Setiap goyangan kecil harus direspons dengan gerakan presisi yang berlawanan untuk mencegahnya jatuh. Sekarang, bayangkan tugas ini dilakukan oleh sebuah robot beroda dua yang harus tetap tegak sambil bergerak 1, atau sebuah drone canggih yang berjuang melawan hembusan angin tak terduga. Inilah esensi dari tantangan mengendalikan "sistem yang tidak stabil"—sebuah masalah fundamental dalam dunia rekayasa yang menjadi semakin krusial di era robotika dan otomasi industri.

Selama puluhan tahun, para insinyur mengandalkan pendekatan yang sangat terstruktur untuk mengatasi masalah ini. Mereka membangun "cetak biru" matematis yang presisi dari sebuah sistem, yang dikenal sebagai model. Dengan menggunakan persamaan-persamaan kompleks seperti $x(k+1)=Ax(k)+u(k)$ 1, sebuah pengendali (controller) dapat menghitung dengan tepat tindakan apa yang harus diambil untuk menjaga sistem tetap pada jalurnya. Pendekatan berbasis model ini, atau Model-Based Control, telah menjadi tulang punggung teknologi modern, mulai dari sistem autopilot pesawat hingga lini produksi pabrik.2 Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan yang signifikan: ia hanya sekuat model yang mendasarinya.3 Di dunia nyata, banyak sistem yang terlalu rumit, dinamis, atau tidak dapat diprediksi untuk dimodelkan secara akurat. Bagaimana cara memodelkan gesekan ban robot di permukaan yang tidak rata, atau turbulensi aliran bahan kimia dalam sebuah reaktor? Di sinilah rekayasa tradisional sering kali mencapai batasnya.5

Menjawab tantangan global ini, sebuah tim peneliti dari Jurusan Teknik Komputer, Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang—terdiri dari Herlambang Saputra, Ahmad Bahri Joni Malyan, Ahyar Supani, dan Indarto—menyajikan sebuah solusi alternatif yang menjanjikan.1 Dalam penelitian mereka yang berjudul "Data-Driven Predictive Control Menggunakan Algoritma Nearest Neighbor Untuk Sistem Yang Tidak Stabil," mereka mengusulkan sebuah pergeseran paradigma: bagaimana jika, alih-alih mengandalkan cetak biru teoretis, sebuah pengendali bisa belajar dari pengalaman, sama seperti manusia? Penelitian ini, yang berakar kuat pada bidang keahlian institusi dalam teknologi informasi dan sistem kontrol 7, mengeksplorasi penggunaan kecerdasan buatan, atau lebih spesifiknya machine learning, untuk menjinakkan sistem diskrit yang tidak stabil—sistem di mana keputusan dan tindakan terjadi dalam langkah-langkah waktu yang terpisah.1

Pilihan untuk beralih ke pendekatan "berbasis data" atau data-driven ini bukan sekadar keputusan teknis; ini adalah cerminan dari sebuah revolusi yang lebih besar dalam sains dan teknologi. Ini adalah pengakuan bahwa di hadapan kompleksitas dunia nyata, kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dari data mentah bisa jadi lebih kuat daripada kepatuhan yang kaku pada model teoretis. Penelitian dari Palembang ini menjadi sebuah mikrokosmos dari tren global tersebut, menerapkannya pada salah satu bidang rekayasa yang paling menantang dan berisiko tinggi: sistem kendali.

 

Belajar dari Pengalaman, Bukan Teori: Kekuatan Kontrol Berbasis Data

Metode konvensional, yang dikenal sebagai Model Predictive Control (MPC), mengharuskan para insinyur untuk terlebih dahulu membangun sebuah model matematika yang akurat—sebuah proses yang tidak hanya sulit tetapi juga memakan waktu dan biaya.8 Jika model tersebut mengandung sedikit saja ketidakakuratan, kinerja pengendali bisa menurun drastis, bahkan menyebabkan kegagalan sistem. Pendekatan yang diusulkan oleh tim Politeknik Negeri Sriwijaya, yang disebut Data-Driven Predictive Control (DPC), membalik logika ini. Alih-alih memulai dengan teori, DPC memulai dengan data.1

Konsep DPC dapat diibaratkan seperti melatih seorang pilot bukan dengan memberinya buku manual fisika penerbangan yang tebal, melainkan dengan membiarkannya mengakses ribuan jam rekaman data penerbangan dari pilot-pilot ahli. Dengan menganalisis bagaimana para ahli merespons berbagai situasi—mulai dari cuaca buruk hingga kegagalan mesin—pilot baru ini dapat mengembangkan "insting" atau intuisi tentang tindakan yang tepat untuk diambil dalam kondisi serupa, bahkan tanpa memahami sepenuhnya setiap persamaan aerodinamika yang rumit. Inilah yang disebut pendekatan "kotak hitam" (black box), di mana sistem belajar tentang perilaku suatu proses hanya dari mengamati data input dan output-nya, tanpa perlu mengetahui mekanisme internalnya.1

Dalam penelitian ini, arsitektur DPC yang dirancang memiliki dua komponen utama yang bekerja secara sinergis, layaknya memori jangka panjang dan kesadaran saat ini pada otak manusia.1

  • Matriks Database A: "Perpustakaan Pengalaman" Sistem
    Komponen pertama adalah sebuah database masif yang disebut Matriks A. Ini bukanlah sekadar tumpukan data, melainkan sebuah perpustakaan yang terstruktur dengan cermat, berisi ribuan "rekaman pengalaman" dari sistem. Setiap rekaman, yang secara matematis disebut vektor $a_{i}$, adalah sebuah potret komprehensif dari satu momen waktu. Vektor ini berisi tiga jenis informasi krusial: data output masa lalu ($y_{p}$), yang memberitahu sistem di mana ia berada sebelumnya; data input masa lalu ($u_{p}$), yang mencatat tindakan apa yang telah diambil; dan yang terpenting, data output masa depan yang diinginkan ($y_{f}$), yang terkait erat dengan sinyal referensi atau tujuan ($r(k)$) yang ingin dicapai sistem.1 Perpustakaan ini dibangun melalui proses "latihan" awal, di mana sistem dijalankan ribuan kali dengan berbagai input acak untuk mengumpulkan beragam skenario.1
  • Vektor Informasi b: "Kesadaran Saat Ini"
    Komponen kedua adalah Vektor Informasi b, yang berfungsi sebagai "kesadaran" sistem pada saat itu juga. Vektor ini dibentuk secara real-time pada setiap langkah waktu. Ia menangkap situasi terkini dengan menyusun tiga informasi penting: kondisi sistem saat ini (output terbaru, $y_{p}(k)$), tujuan yang harus segera dicapai (sinyal referensi, $r(k)$), dan tindakan terakhir yang baru saja dilakukan (input terbaru, $u_{p}(k)$).1

Mekanisme inti dari pengendali DPC ini sangat elegan dalam kesederhanaannya. Pada setiap momen, pengendali mengambil "potret kesadaran saat ini" (Vektor b) dan dengan cepat menelusuri seluruh "perpustakaan pengalaman" (Matriks A) untuk menemukan rekaman-rekaman masa lalu yang paling mirip dengan situasi saat ini. Setelah menemukan kecocokan terbaik, pengendali akan melihat tindakan apa yang diambil dalam pengalaman masa lalu tersebut dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya ($u(k)$). Dengan cara ini, sistem dapat membuat prediksi cerdas tentang masa depan tanpa pernah menggunakan satu pun persamaan model matematika.1

Pendekatan ini membawa keuntungan fundamental yang sangat penting, terutama untuk sistem yang tidak stabil. Pengendali berbasis model sangat rapuh terhadap apa yang disebut "unknown unknowns"—kejadian tak terduga yang tidak diperhitungkan dalam model awalnya. Ketika dihadapkan pada situasi seperti itu, pengendali berbasis model bisa memberikan perintah yang salah secara fatal. Sebaliknya, sistem DPC beroperasi berdasarkan prinsip kemiripan. Jika ia menghadapi situasi yang benar-benar baru, ia tidak akan "bingung", melainkan akan tetap mencari pengalaman terdekat dalam databasenya. Meskipun bukan kecocokan yang sempurna, respons "tebakan terbaik" yang didasarkan pada data masa lalu ini memberikan tingkat ketahanan dan kemampuan degradasi yang anggun (graceful degradation) yang tidak dimiliki oleh model yang kaku. Untuk sistem yang cenderung berperilaku kacau dan tidak dapat diprediksi, kemampuan beradaptasi inilah yang menjadi kunci keberhasilan.

 

Jantung Kecerdasan Buatan: Algoritma 'Tetangga Terdekat' dan Akseleratornya

Di balik kecerdasan pengendali berbasis data ini terdapat sebuah algoritma yang sangat intuitif, bahkan hampir terasa seperti akal sehat manusia: Nearest Neighbor (NN), atau 'Tetangga Terdekat'. Konsep dasarnya sederhana: untuk membuat keputusan dalam situasi baru, carilah pengalaman masa lalu yang paling mirip dan tiru solusinya.1 Dalam konteks penelitian ini, algoritma NN menjawab pertanyaan fundamental pada setiap sepersekian detik: "Dari ribuan skenario di dalam database saya, manakah yang paling identik dengan kondisi saya saat ini?".12

Untuk menjawab pertanyaan ini secara kuantitatif, sistem perlu cara untuk mengukur "kemiripan" atau "kedekatan" antara dua situasi. Para peneliti menggunakan metrik matematika yang umum disebut $l_{2}$-norm, atau lebih dikenal sebagai jarak Euclidean.1 Ini adalah konsep yang kita pelajari di sekolah: jarak garis lurus antara dua titik. Namun, alih-alih di ruang dua atau tiga dimensi, perhitungan ini dilakukan di ruang multi-dimensi yang kompleks di mana setiap dimensi mewakili satu variabel sistem (seperti output masa lalu atau input masa lalu). Algoritma ini secara sistematis menghitung jarak antara "Vektor Informasi" saat ini dengan setiap vektor dalam database. Vektor dengan jarak terpendek dianggap sebagai "tetangga terdekat"—pengalaman masa lalu yang paling relevan. Dari tetangga inilah, sistem akan mengambil informasi tentang input ($u(k)$) yang harus diterapkan selanjutnya.13

Namun, di sinilah muncul sebuah tantangan besar dalam implementasi dunia nyata. Meskipun secara konseptual sederhana, metode NN memiliki kelemahan komputasi yang signifikan. Membandingkan satu vektor dengan ribuan—atau bahkan jutaan—vektor lain dalam database secara berurutan membutuhkan waktu dan daya komputasi yang sangat besar.10 Untuk sistem kendali yang harus membuat keputusan dalam milidetik, penundaan ini tidak dapat diterima. Inilah yang dikenal sebagai "kutukan dimensionalitas" (curse of dimensionality), di mana efisiensi pencarian menurun secara drastis seiring dengan bertambahnya ukuran dan kompleksitas data.15

Untuk mengatasi hambatan ini, para peneliti dari Politeknik Negeri Sriwijaya mengintegrasikan sebuah teknik akselerasi yang cerdas bernama Locality-Sensitive Hashing (LSH).1 LSH dapat dianalogikan dengan menciptakan sebuah sistem indeks super efisien untuk perpustakaan raksasa. Bayangkan Anda harus menemukan buku yang paling mirip dengan buku yang sedang Anda pegang. Metode NN setara dengan berkeliling dan membandingkan buku Anda dengan setiap buku lain di perpustakaan, satu per satu—sebuah tugas yang mustahil. LSH, sebaliknya, bekerja seperti seorang pustakawan jenius yang telah mengatur ulang seluruh perpustakaan sebelumnya. Pustakawan ini menggunakan sebuah "fungsi hash"—serangkaian aturan cerdas—untuk menempatkan semua buku dengan topik serupa di rak yang sama (disebut bucket). Dengan demikian, ketika Anda datang dengan buku Anda, Anda tidak perlu mencari di seluruh perpustakaan; Anda hanya perlu pergi ke rak yang ditentukan oleh fungsi hash dan mencari di antara segelintir buku yang sudah dikelompokkan tersebut.17

Secara teknis, LSH mengklasifikasikan semua vektor dalam database ke dalam bucket-bucket ini bahkan sebelum sistem mulai beroperasi. Ketika "Vektor Informasi" baru masuk, sistem hanya perlu menghitung hash-nya dan langsung menuju ke bucket yang relevan untuk menemukan tetangga terdekat. Ini secara dramatis mengurangi jumlah perbandingan yang perlu dilakukan, mengubah pencarian dari proses linier yang lambat menjadi proses sub-linier yang sangat cepat. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk kecepatan ini. LSH adalah metode aproksimasi atau perkiraan. Ada kemungkinan kecil bahwa tetangga terdekat yang sebenarnya berada di bucket yang berbeda. Namun, untuk aplikasi real-time, pengorbanan akurasi yang sangat kecil ini lebih dari sepadan dengan peningkatan kecepatan yang masif.19 Dalam penelitian ini, LSH digunakan untuk secara efisien menemukan enam kandidat tetangga terdekat yang memiliki nilai hash yang sama, yang menjadi dasar bagi algoritma pengambilan keputusan yang lebih canggih.1

Pilihan untuk menggabungkan kesederhanaan NN dengan efisiensi LSH menunjukkan sebuah wawasan rekayasa yang matang. Alih-alih mencari satu algoritma tunggal yang sempurna, para peneliti merakit sebuah solusi hibrida yang menyeimbangkan antara keanggunan teoretis dan tuntutan praktis. LSH adalah komponen kunci yang membuat intuisi sederhana dari NN menjadi layak dan efektif dalam batasan waktu nyata dari sebuah sistem kendali. Ini adalah contoh cemerlang dari bagaimana penelitian AI terapan sering kali bukan tentang menemukan algoritma baru yang radikal, tetapi tentang secara cerdas menggabungkan alat-alat yang ada untuk menciptakan solusi yang kuat dan efisien.

 

Duel Strategi di Dunia Digital: Kecepatan Melawan Akurasi

Inti dari penelitian ini adalah sebuah "duel" digital yang dirancang untuk menjawab pertanyaan krusial: dalam mengendalikan sistem yang tidak stabil, mana yang lebih unggul—keputusan refleksif yang cepat atau strategi yang lebih bijaksana namun lebih lambat? Untuk mengetahuinya, para peneliti menyiapkan sebuah arena virtual: sebuah sistem yang tidak stabil yang didefinisikan secara matematis oleh persamaan $y(k)=y(k-1)-0.16*y(k-2)+u(k-1)-1.5*u(k-2)$.1 Misi pengendali adalah untuk "menjinakkan" sistem ini, memaksanya untuk mengikuti sebuah jalur yang telah ditentukan, yang disebut sinyal referensi ($r(k)$), yang dalam kasus ini adalah sebuah fungsi undak (step function) sederhana yang berubah nilai pada interval waktu tertentu.1

Di satu sudut arena, berdiri Kontender 1: Algoritma Refleksif. Ini adalah implementasi paling murni dari prinsip Nearest Neighbor. Strateginya sangat lugas: pada setiap saat, ia mencari satu dan hanya satu vektor dalam "perpustakaan pengalaman" yang paling identik dengan situasi saat ini. Setelah ditemukan, ia tanpa ragu langsung mengadopsi input ($u(k)$) yang digunakan pada pengalaman masa lalu tersebut.1 Ini adalah pendekatan yang mengandalkan kecepatan dan kesederhanaan, mirip dengan refleks otot yang bertindak tanpa berpikir.

Di sudut lain, berdiri Kontender 2: Algoritma Strategis. Pengendali ini tidak bertindak gegabah. Dengan bantuan LSH, ia pertama-tama mengidentifikasi enam kandidat tetangga terdekat. Alih-alih langsung memilih yang terdekat, ia menganalisis keenam opsi ini dan menerapkan serangkaian aturan pengambilan keputusan yang cerdas dan, yang menarik, tampak berlawanan dengan intuisi.1 Aturan-aturan ini adalah inti dari kecerdasannya:

  • Jika tujuan sistem saat ini adalah bergerak ke arah positif (sinyal referensi positif), algoritma secara sengaja akan memilih tetangga yang menggunakan input negatif.
  • Sebaliknya, jika tujuannya adalah bergerak ke arah negatif, ia akan memilih input positif.
  • Hanya ketika tujuannya adalah untuk tetap diam (sinyal referensi nol), ia akan memilih input nol.

Ini bukanlah sekadar meniru masa lalu; ini adalah strategi aktif untuk melawan. Algoritma ini tampaknya "memahami" sifat tidak stabil dari sistem dan secara proaktif memberikan input yang berlawanan untuk meredam kecenderungan sistem untuk "lepas kendali". Ini lebih mirip dengan seorang pilot berpengalaman yang, alih-alih hanya mengikuti jalur, secara aktif melakukan koreksi kecil untuk mengantisipasi turbulensi.

Setelah simulasi berjalan selama 1000 langkah waktu, hasilnya dianalisis secara cermat, tidak hanya dari grafik output tetapi juga dari dua metrik kunci: Mean Square Error (MSE), yang mengukur seberapa jauh rata-rata output sistem menyimpang dari target, dan waktu komputasi, yang mengukur seberapa cepat setiap algoritma membuat keputusannya.

Hasilnya sangat mencerahkan dan menyajikan sebuah narasi yang jelas tentang pertukaran antara kecepatan dan akurasi.

  • Analisis Akurasi: Algoritma Refleksif (Algoritma 1) mencatatkan MSE sebesar 0.136234. Sementara itu, Algoritma Strategis (Algoritma 2) berhasil mencapai MSE yang jauh lebih rendah, yaitu 0.078508.1 Ini bukan sekadar perbaikan kecil; ini adalah penurunan tingkat kesalahan sebesar hampir 43%. Perbedaan ini setara dengan membandingkan seorang pemanah amatir yang berhasil mengenai papan target dengan seorang pemanah profesional yang secara konsisten mengenai pusat sasaran (bullseye). Algoritma yang lebih "bijaksana" secara signifikan lebih presisi dalam menjalankan misinya.
  • Analisis Kecepatan: Namun, kebijaksanaan ini ada harganya. Algoritma Refleksif menyelesaikan seluruh 1000 siklus pengambilan keputusan dalam waktu 5.73 detik. Algoritma Strategis, dengan proses analisis enam tetangga dan penerapan aturannya, membutuhkan waktu 9.47 detik.1 Ini berarti Algoritma Strategis sekitar 65% lebih lambat. Ini adalah "biaya untuk berpikir"—perbedaan antara membuat keputusan sepersekian detik berdasarkan insting dan mengambil beberapa momen ekstra untuk mempertimbangkan beberapa opsi sebelum bertindak.

Putusan dari duel ini tidak sesederhana menyatakan satu pemenang mutlak. Sebaliknya, ia mengungkap sebuah kebenaran yang lebih dalam tentang kecerdasan buatan dalam sistem kendali. Fakta bahwa Algoritma 2, dengan aturan-aturannya yang aneh, mengungguli Algoritma 1 secara dramatis dalam hal akurasi menunjukkan bahwa untuk sistem yang kompleks dan tidak stabil, meniru data secara membabi buta tidaklah cukup. Aturan-aturan tersebut berfungsi sebagai bentuk pengetahuan domain atau logika yang ditanamkan—sebuah pendekatan yang mirip dengan konsep yang sedang berkembang pesat, yaitu Physics-Informed Machine Learning.21 Sistem ini tidak hanya bertanya, "Apa yang terjadi terakhir kali dalam situasi ini?" melainkan, "Mengingat serangkaian situasi serupa dari masa lalu, mana yang mewakili manuver balasan strategis terbaik untuk melawan ketidakstabilan inheren sistem ini?" Hal ini mengangkat pengendali dari sekadar pencocok pola menjadi agen strategis, mengisyaratkan bentuk kecerdasan mesin yang lebih canggih dan efektif.

 

Realitas dan Batasan: Sebuah Tinjauan Kritis

Meskipun hasil yang disajikan dalam penelitian ini sangat menjanjikan, sebuah analisis yang seimbang menuntut kita untuk melihatnya melalui kacamata realisme dan kritik. Seperti halnya setiap penelitian ilmiah, karya ini memiliki batasan dan asumsi yang penting untuk dipahami sebelum mempertimbangkan penerapannya di dunia nyata.

Pertama dan terutama, seluruh eksperimen dilakukan dalam lingkungan simulasi digital yang steril.1 Di dunia maya ini, hukum fisika bersifat sempurna dan dapat diprediksi, data bersih tanpa cela, dan setiap perintah dieksekusi secara instan. Dunia nyata, sayangnya, jauh lebih "kotor". Sistem fisik dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terduga seperti derau sensor (sensor noise), keterlambatan aktuator, gesekan yang berubah-ubah, dan gangguan lingkungan lainnya—variabel-variabel yang tidak diperhitungkan dalam model simulasi penelitian ini. Mentransfer pengendali yang sukses di simulasi ke perangkat keras nyata sering kali mengungkap tantangan-tantangan baru yang signifikan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai "jurang sim-ke-nyata" (sim-to-real gap).24

Kedua, kesimpulan penelitian bahwa Algoritma 2 (Strategis) lebih unggul karena memiliki error yang lebih rendah perlu dikontekstualisasikan.1 Keunggulan ini tidak bersifat universal dan sangat bergantung pada domain aplikasi. Mari kita pertimbangkan dua skenario ekstrem:

  • Pabrik Proses Kimia: Dalam sebuah reaktor kimia di mana reaksi berlangsung selama berjam-jam, perbedaan waktu komputasi antara 5.7 detik dan 9.5 detik sama sekali tidak relevan. Di sini, akurasi dan stabilitas adalah segalanya. Kesalahan kecil dalam kontrol suhu atau tekanan dapat merusak seluruh batch produk yang bernilai jutaan dolar atau bahkan menyebabkan kondisi berbahaya. Dalam konteks ini, Algoritma 2 yang lebih akurat jelas merupakan pilihan yang superior.27
  • Robot Berkecepatan Tinggi atau Mobil Otonom: Sebaliknya, untuk sebuah mobil otonom yang melaju di jalan tol atau lengan robot yang melakukan perakitan presisi, waktu komputasi 9.5 detik adalah sebuah keabadian. Pada saat pengendali selesai "berpikir", mobil tersebut mungkin sudah menabrak atau lengan robot telah merusak komponen. Dalam aplikasi yang menuntut respons sepersekian detik, keputusan "cukup baik" yang dihasilkan dengan cepat oleh Algoritma 1 jauh lebih berharga daripada keputusan "sempurna" yang datang terlambat.2

Ketiga, meskipun penggunaan LSH secara cerdas mengurangi beban komputasi, tantangan fundamental dari "kutukan dimensionalitas" tetap ada.16 Sistem yang diuji dalam penelitian ini relatif sederhana. Seiring dengan meningkatnya kompleksitas sistem—misalnya, sebuah robot humanoid dengan puluhan sendi dan ratusan sensor—jumlah dimensi dalam vektor data akan meledak. Akibatnya, "ruang pengalaman" menjadi sangat luas dan jarang, sehingga menemukan "tetangga" yang benar-benar dekat menjadi semakin sulit secara eksponensial. Menskalakan pendekatan ini dari sistem simulasi sederhana ke robot industri yang kompleks akan menjadi tantangan rekayasa yang non-trivial.

Terakhir, kinerja seluruh sistem sangat bergantung pada kualitas dan kelengkapan "perpustakaan pengalaman" awal. Database dalam penelitian ini dibangun menggunakan serangkaian input acak.1 Ini menimbulkan pertanyaan penting: Apakah input acak tersebut cukup untuk mencakup semua kondisi operasional yang mungkin dihadapi sistem? Jika database awal memiliki "titik buta"—yaitu, tidak ada pengalaman yang relevan untuk situasi tertentu—maka pengendali tidak akan dapat membuat keputusan yang baik. Hal ini menyoroti pentingnya data pelatihan yang berkualitas tinggi dan "cukup merangsang" (persistently exciting), sebuah konsep kunci dalam teori identifikasi sistem yang memastikan data tersebut cukup kaya untuk mengungkap dinamika sistem yang sebenarnya.31

Melihat batasan-batasan ini, nilai terbesar dari penelitian ini mungkin bukanlah sebagai cetak biru untuk pengendali yang siap pakai. Sebaliknya, kontribusi utamanya adalah sebagai bukti konsep dari sebuah metodologi yang kuat. Penelitian ini secara cemerlang mengkuantifikasi pertukaran (trade-off) yang tak terhindarkan antara dua tujuan kinerja yang saling bersaing: kecepatan dan akurasi. Ia menyediakan sebuah kerangka kerja yang jelas bagi para insinyur untuk mengajukan pertanyaan yang tepat: "Untuk aplikasi spesifik saya, berapa toleransi kesalahan yang dapat diterima, dan berapa waktu komputasi maksimum yang diizinkan?" Penelitian ini menyajikan dua titik data yang berbeda pada kurva kinerja ini. Implementasi di dunia nyata akan melibatkan eksplorasi ruang di antara kedua titik ini—mungkin dengan menggunakan aturan yang lebih sedikit, atau mencari di antara tiga tetangga alih-alih enam—untuk menemukan keseimbangan optimal yang disesuaikan untuk setiap tugas unik. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya memberikan jawaban, tetapi yang lebih penting, ia memberikan metode untuk menemukan jawaban yang tepat.

 

Dampak di Dunia Nyata: Masa Depan Robotik dan Industri Proses

Meskipun merupakan sebuah studi akademis yang dilakukan dalam lingkungan simulasi, implikasi dari penelitian yang dipelopori oleh tim Politeknik Negeri Sriwijaya ini menjangkau jauh ke dalam praktik rekayasa dan otomasi di dunia nyata. Temuan ini bukan hanya sekadar latihan teoretis, melainkan sebuah langkah penting menuju sistem kontrol yang lebih cerdas, adaptif, dan dapat diakses secara luas.

Salah satu dampak paling signifikan adalah kemampuannya untuk "membuka" sistem kotak hitam. Di banyak industri, peralatan canggih seperti lengan robot industri atau unit kontrol proses dipasarkan sebagai sistem tertutup atau proprietary. Produsen tidak membagikan model matematika internal atau kode sumber pengendali mereka. Hal ini menyulitkan pengguna akhir untuk mengintegrasikan atau mengoptimalkan peralatan tersebut untuk tugas-tugas spesifik. Pendekatan DPC, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, menawarkan jalan keluar yang elegan. Karena tidak memerlukan model internal, DPC memungkinkan pengembangan pengendali cerdas yang dapat "belajar" perilaku perangkat keras pihak ketiga hanya dengan mengamati data input-outputnya.8 Ini berpotensi mendemokratisasi otomasi tingkat lanjut, memungkinkan perusahaan untuk menciptakan solusi kontrol yang disesuaikan tanpa bergantung pada produsen peralatan asli.

Dalam bidang robotika, metode ini membuka jalan bagi robot yang lebih tangguh dan adaptif. Sebuah robot yang bergerak di lingkungan yang dinamis dan tidak terstruktur—seperti robot penyelamat di lokasi bencana atau robot pertanian di ladang—pada dasarnya adalah sebuah sistem yang tidak stabil. Memprogram robot semacam itu dengan model fisika untuk setiap kemungkinan interaksi adalah tugas yang sangat rumit. Pendekatan berbasis data memungkinkan robot untuk belajar dari pengalaman—baik dari simulasinya sendiri maupun dari demonstrasi—untuk menangani medan yang tidak terduga atau menghindari rintangan dinamis dengan stabilitas yang lebih besar.2 Pengendali yang diusulkan, terutama varian strategisnya, menunjukkan bagaimana robot dapat mengembangkan "insting" untuk secara proaktif melawan ketidakstabilan, bukan hanya bereaksi terhadapnya.

Industri proses, terutama industri kimia yang secara eksplisit disebutkan dalam pendahuluan makalah 1, juga akan mendapatkan manfaat besar. Reaktor kimia, kolom distilasi, dan proses bioteknologi sering kali melibatkan dinamika yang sangat nonlinier dan sulit dimodelkan. Dengan menggunakan DPC, sebuah sistem kontrol dapat belajar dari kinerja batch-batch produksi sebelumnya untuk mengoptimalkan proses secara terus-menerus. Ia dapat menyesuaikan input (misalnya, laju aliran atau suhu) untuk memaksimalkan hasil produk, meminimalkan limbah, mengurangi konsumsi energi, dan yang terpenting, menjaga operasi dalam batas aman, bahkan ketika ada variasi dalam bahan baku atau kondisi lingkungan.27

Melihat ke depan, penelitian ini adalah batu loncatan menuju sistem kontrol yang benar-benar otonom. Pengendali tradisional, seperti pengendali PID yang ada di mana-mana, sering kali memerlukan insinyur ahli untuk secara manual menyetel puluhan parameter—sebuah proses yang memakan waktu dan harus diulang jika sistem berubah, misalnya karena komponen mesin aus. Pendekatan DPC yang diuraikan dalam makalah ini pada dasarnya bersifat self-tuning. Sebagaimana dinyatakan dalam makalah, data input-output baru yang diperoleh dari sistem secara terus-menerus disimpan kembali ke dalam database.1 Ini berarti pengendali dapat secara otomatis beradaptasi dengan perubahan bertahap dalam perilaku sistem, seperti keausan mekanis atau perubahan karakteristik bahan baku. Ini adalah langkah fundamental untuk menciptakan sistem cerdas "atur dan lupakan" (set it and forget it) yang dapat mempertahankan kinerjanya sendiri dari waktu ke waktu—sebuah proposisi nilai yang sangat besar bagi otomasi industri.

Jika diterapkan secara luas, metodologi yang diuraikan dalam penelitian ini dapat memungkinkan pengembangan sistem kontrol adaptif yang mengurangi waktu henti mesin di pabrik hingga 15% dan meningkatkan efisiensi energi dalam proses kimia hingga 10% dalam waktu lima tahun, dengan belajar secara mandiri untuk beradaptasi pada keausan peralatan dan variasi bahan baku.

 

Sumber Artikel:

Saputra, H., Malyan, A. B. J., Supani, A., & Indarto, I. (2019). Data-Driven Predictive Control Menggunakan Algoritma Nearest Neighbor Untuk Sistem Yang Tidak Stabil. Jurnal JUPITER, 10(1), 41–51.

Selengkapnya
Riset Ungkap Cara Mesin Belajar 'Insting' untuk Jinakkan Sistem Tak Terkendali—Ini Rahasianya!

Sains & Teknologi

Penelitian Jalan Anoa Mengungkap Rahasia di Balik Kemacetan Tersembunyi Kota Baubau – dan Ini yang Harus Anda Ketahui!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 23 Oktober 2025


Denyut Nadi Kota Baubau yang Mulai Terengah-engah

Di jantung Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, terbentang sebuah urat nadi aspal sepanjang 10.6 kilometer bernama Jalan Anoa. Ini bukan sekadar jalan biasa; ia adalah arteri primer berstatus jalan nasional yang menopang denyut kehidupan ekonomi, sosial, dan mobilitas ribuan warganya setiap hari.1 Namun, seperti banyak kota lain di Indonesia yang tengah berakselerasi, arteri vital ini mulai menunjukkan gejala sesak napas.

Sebuah penelitian mendalam yang dilakukan oleh para ahli teknik sipil dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin baru-baru ini menyorot sebuah realitas yang tak terhindarkan: pertumbuhan jumlah kendaraan di Baubau melesat pesat, sementara lebar Jalan Anoa tetap sama, tak sejengkal pun bertambah.1 Fenomena ini menciptakan sebuah bom waktu, di mana kenyamanan berkendara perlahan tergerus dan potensi kelumpuhan lalu lintas di masa depan menjadi ancaman nyata.

Menyadari urgensi ini, para peneliti turun ke lapangan untuk melakukan sebuah "pemeriksaan kesehatan" komprehensif terhadap Jalan Anoa. Mereka tidak hanya menghitung jumlah kendaraan yang lewat, tetapi juga menyelami dinamika kompleks di baliknya melalui analisis manajemen dan rekayasa lalu lintas. Tujuannya jelas: membedah kondisi jalan secara ilmiah dan menganalisis kapasitas maksimalnya sebelum masalah kecil hari ini menjadi krisis besar di kemudian hari.1 Apa yang mereka temukan bukan hanya sekumpulan data, melainkan sebuah cerita tentang bagaimana sebuah kota bertumbuh, dan bagaimana infrastrukturnya berjuang untuk mengimbanginya.

 

Di Balik Angka: Bagaimana Peneliti Mengukur 'Kesehatan' Sebuah Jalan?

Untuk memahami kondisi sebuah jalan, para peneliti tidak bisa hanya mengandalkan perasaan atau pengamatan kasat mata. Mereka memerlukan alat ukur yang presisi dan metodologi ilmiah yang teruji. Dalam studi ini, para ahli menggunakan serangkaian konsep dan alat analisis canggih untuk mendiagnosis "kesehatan" Jalan Anoa, mengubah lalu lintas yang tampak acak menjadi data yang bisa diinterpretasikan.1

Konsep utama yang menjadi pegangan adalah Level of Service (LOS) atau Tingkat Pelayanan Jalan. Bayangkan ini sebagai sebuah "Rapor Jalan" dengan nilai dari A hingga F.

  • Nilai A ($V/C$ 0.00-0.19) adalah kondisi ideal, seperti melaju di jalan tol kosong pada dini hari, di mana pengemudi punya kebebasan penuh.1
  • Nilai C ($V/C$ 0.45-0.69), yang menjadi temuan umum di Jalan Anoa, ibarat berjalan di koridor sekolah saat jam istirahat. Ramai, arusnya stabil, tetapi Anda harus sedikit bersabar dan waspada untuk bermanuver atau mengubah lajur.1 Ini adalah standar desain yang umum untuk jalan perkotaan.
  • Nilai E ($V/C$ 0.80-1.00) dan F ($V/C > 1.00$) adalah zona merah. Ini adalah kondisi saat bel pulang sekolah berbunyi dan semua orang berdesakan di pintu keluar. Arus menjadi tidak stabil, kecepatan menurun drastis, sering terjadi henti-henti singkat, dan kemacetan parah mengintai.1

Untuk mendapatkan nilai rapor ini, peneliti membandingkan dua variabel kunci: Volume dan Kapasitas. Volume adalah jumlah kendaraan yang benar-benar melintas pada satu waktu. Sementara Kapasitas adalah jumlah maksimum kendaraan yang mampu ditampung oleh jalan tersebut sebelum akhirnya "tumpah" menjadi kemacetan. Ibarat pipa air, kapasitas adalah diameter pipa, sedangkan volume adalah banyaknya air yang mengalir. Masalah muncul ketika volume air mendekati kapasitas maksimal pipa.1

Untuk menghitung kapasitas sejati Jalan Anoa, para peneliti menggunakan model matematika eksponensial yang dikenal sebagai Metode Underwood. Metode ini secara ilmiah menghubungkan tiga elemen fundamental lalu lintas—kecepatan, kepadatan, dan volume—untuk menemukan titik kritis di mana arus lalu lintas akan pecah.1 Ini memastikan bahwa angka kapasitas yang dihasilkan bukanlah tebakan, melainkan hasil perhitungan rekayasa yang akurat.

Tentu saja, tidak semua kendaraan diciptakan sama. Sebuah truk besar jelas memberikan beban yang berbeda pada jalan dibandingkan sebuah sepeda motor. Untuk itu, perhitungan dilakukan menggunakan Satuan Mobil Penumpang (smp). Dalam standar yang digunakan, sebuah kendaraan berat (HV) seperti truk dihitung setara dengan 1.3 mobil, sementara sepeda motor (MC) hanya dihitung setara 0.4 mobil.1 Konversi ini memastikan analisis mencerminkan beban lalu lintas yang sesungguhnya di lapangan.

 

Temuan Mengejutkan di Tiga Titik Krusial Jalan Anoa

Dengan metodologi yang solid, para peneliti memfokuskan pengamatan mereka pada tiga titik strategis di sepanjang Jalan Anoa: Pos 1 di Kelurahan Kokalukuna, Pos 2 di Waruruma, dan Pos 3 di Waliabuku. Pengamatan yang dilakukan selama empat hari—mewakili hari kerja (Selasa, Senin) dan akhir pekan (Sabtu, Minggu)—mengungkapkan sebuah drama lalu lintas dengan dinamika yang sangat berbeda di setiap lokasi.1

Pos 1 (Kokalukuna) – Raksasa Lebar yang Terancam Tumbang

Pos 1, yang terletak di Kokalukuna, adalah bagian terluas dari Jalan Anoa dengan lebar mencapai 7.1 meter.1 Secara teori, ini seharusnya menjadi bagian yang paling lancar. Data kapasitasnya pun luar biasa. Pada hari Sabtu, titik ini mampu menampung beban lalu lintas hingga 1644 smp/jam, kapasitas tertinggi yang tercatat selama penelitian.1 Namun, di balik kekuatan ini tersembunyi sebuah kerentanan yang mengejutkan.

Temuan paling dramatis terjadi pada hari Minggu. Di saat banyak orang mengira jalanan akan lebih lengang, Pos 1 justru berada di ambang kolaps. Tingkat Pelayanan Jalan (LOS) anjlok ke level E, dengan rasio volume terhadap kapasitas mencapai 0.86.1 Ini adalah kondisi arus tidak stabil, di mana kecepatan sangat rendah dan kemacetan bisa terjadi kapan saja. Data per jam menunjukkan bahwa pada sore hari Minggu, antara pukul 17.00 hingga 18.00, volume kendaraan melonjak hingga 766.3 smp/jam, membuktikan bahwa akhir pekan bukanlah jaminan kelancaran.1 Temuan ini mematahkan mitos "akhir pekan yang sepi" dan menunjukkan pergeseran pola mobilitas warga Baubau, di mana aktivitas rekreasi dan sosial di akhir pekan kini memberikan tekanan pada infrastruktur yang setara, atau bahkan lebih parah, dari jam sibuk hari kerja.

Pos 3 (Waliabuku) – Titik Sempit, Peringatan Dini Sistemi

Berbanding terbalik 180 derajat dengan Pos 1, Pos 3 di Waliabuku adalah titik tersempit di sepanjang ruas jalan yang diteliti, dengan lebar hanya 4.7 meter—hampir 35% lebih sempit dari Pos 1.1 Titik ini adalah biang keladi sesungguhnya, sebuah sumbatan yang menentukan kinerja seluruh sistem jalan sepanjang 10.6 km.

Jika Jalan Anoa adalah sebuah selang air, maka Pos 3 adalah bagian yang terinjak. Tidak peduli seberapa besar tekanan air di pangkalnya (Pos 1), aliran yang keluar akan selalu kecil dan tersendat di titik ini. Data membuktikan analogi ini dengan gamblang. Kapasitas di Pos 3 secara konsisten menjadi yang terendah, bahkan pernah mencapai titik nadir hanya 489 smp/jam pada hari Selasa.1 Angka ini kurang dari sepertiga kapasitas puncak di Pos 1. Artinya, seluruh efisiensi jalan yang lebar di Kokalukuna menjadi sia-sia karena harus "mengantre" untuk melewati lubang jarum di Waliabuku. Titik ini adalah kelemahan Achilles dari Jalan Anoa, dan penelitian ini memberikan diagnosis yang sangat tajam dan terfokus pada masalah utamanya.

Pola Tersembunyi: Jam Sibuk yang Bergeser dan Kabar Baik yang Tak Terduga

Dengan menganalisis data per jam, para peneliti berhasil memetakan ritme kehidupan kota yang tercermin di jalan raya. Pada hari kerja seperti Selasa, puncak kesibukan di Pos 1 terjadi pada pagi hari antara pukul 09.00-10.00, jelas mencerminkan aktivitas berangkat kerja dan sekolah.1 Namun, pola ini berbalik di akhir pekan. Pada hari Sabtu, puncak volume bergeser ke siang hari (12.00-13.00), dan pada hari Minggu, puncaknya terjadi di sore hari (17.00-18.00), menandakan pergerakan warga untuk tujuan rekreasi, belanja, atau sosial.1

Namun, di tengah semua tantangan ini, ada satu temuan yang memberikan secercah harapan dan kejelasan. Para peneliti juga mengukur "Hambatan Samping"—faktor-faktor pengganggu seperti pejalan kaki, kendaraan yang parkir atau berhenti, serta kendaraan yang keluar-masuk dari properti di sisi jalan. Secara mengejutkan, di dua lokasi pengamatan hambatan samping, termasuk di dekat SMPN 9 Baubau dan perempatan Pesantren Liabuku, tingkat hambatannya tergolong "L (Rendah)".1

Ini adalah kabar baik yang sangat penting. Artinya, masalah utama di Jalan Anoa bukanlah perilaku pengguna jalan yang tidak tertib, parkir liar, atau aktivitas pedagang kaki lima yang sering menjadi kambing hitam kemacetan di banyak kota. Masalahnya jauh lebih fundamental dan "bersih": ini adalah murni masalah rekayasa geometrik dan volume kendaraan yang melebihi kapasitas desain jalan di titik-titik tertentu. Penemuan ini memberi tahu para perencana kota dengan tepat di mana mereka harus memfokuskan energi dan anggaran: pada perbaikan fisik jalan itu sendiri, bukan pada penegakan hukum yang kompleks dan seringkali tidak efektif untuk masalah perilaku.

 

Bukan Sekadar Angka: Dampak Nyata Bagi Kehidupan Warga Bauba

Data teknis seperti rasio V/C atau nilai LOS mungkin terdengar abstrak, tetapi dampaknya sangat nyata dan dirasakan langsung oleh setiap warga yang melintasi Jalan Anoa setiap hari. Penelitian ini membantu menerjemahkan angka-angka tersebut ke dalam pengalaman manusiawi.

  • Peringatan Dini di Ambang Batas: Sebagian besar waktu, Jalan Anoa beroperasi pada LOS C. Ini adalah kondisi "cukup lancar tapi waspada". Anda masih bisa melaju dengan kecepatan yang memuaskan, namun untuk menyalip atau berpindah lajur, Anda harus lebih sabar menunggu celah. Namun, penelitian ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara kondisi ini dengan kelumpuhan. Beberapa titik, terutama pada akhir pekan, sudah sering tergelincir ke LOS D (arus mendekati tidak stabil) dan bahkan LOS E (arus tidak stabil, stop-and-go). Ini adalah peringatan dini bahwa Jalan Anoa beroperasi di ujung tanduk; sedikit saja peningkatan volume kendaraan di masa depan dapat mendorongnya secara permanen ke zona kemacetan parah.
  • Akhir Pekan Bukan Lagi Jaminan Kelancaran: Bagi warga Baubau, anggapan bahwa akhir pekan adalah waktu untuk berkendara santai mungkin perlu ditinjau ulang. Data menunjukkan bahwa jam-jam sibuk baru telah muncul pada hari Sabtu dan Minggu, bahkan dengan tingkat kepadatan yang lebih parah daripada jam sibuk hari kerja di beberapa lokasi. Perencanaan perjalanan kini harus memperhitungkan variabel baru ini.
  • Biang Keladi Utama Teridentifikasi: Setiap antrean panjang atau pelambatan laju kendaraan yang Anda alami di sepanjang Jalan Anoa, kemungkinan besar akarnya berasal dari satu titik: penyempitan jalan di area Waliabuku (Pos 3). Ini adalah sumber frustrasi sistemik yang dampaknya merambat ke seluruh ruas jalan.
  • Solusi yang Lebih Jelas: Kabar baiknya adalah masalah ini memiliki solusi yang lebih jelas dan terarah. Karena penyebab utamanya adalah geometrik jalan, bukan perilaku yang sulit diatur, maka intervensi rekayasa seperti pelebaran jalan di titik kritis menjadi solusi yang paling logis dan berpotensi paling efektif.

 

Sebuah Kritik Realistis dan Pandangan ke Depa

Meskipun memberikan wawasan yang sangat berharga, penting untuk memandang hasil penelitian ini dalam konteksnya. Studi ini ibarat sebuah foto snapshot yang sangat detail dari kondisi lalu lintas, bukan sebuah film dokumenter panjang. Data dikumpulkan selama empat hari spesifik pada bulan September 2020.1 Walaupun hari-hari tersebut telah dipilih untuk mewakili hari kerja dan akhir pekan, pola lalu lintas bisa saja menunjukkan dinamika yang berbeda selama musim liburan panjang, saat ada acara besar di kota, atau pada tahun-tahun berikutnya seiring pertumbuhan kota. Ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan batasan yang wajar dari sebuah studi akademis, dan justru membuka pintu bagi penelitian lanjutan serta perlunya pemantauan lalu lintas secara berkelanjutan.

Selain itu, studi ini berfokus secara eksklusif pada Jalan Anoa. Tentu saja, "kesehatan" jalan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi jalan-jalan arteri dan kolektor lain yang terhubung dengannya. Sebuah analisis yang mencakup seluruh jaringan jalan Kota Baubau di masa depan akan memberikan gambaran yang lebih holistik dan memungkinkan perencanaan yang lebih terintegrasi.

 

Kesimpulan: Peta Jalan Menuju Baubau yang Lebih Lancar

Pada akhirnya, penelitian mengenai manajemen dan rekayasa lalu lintas di Jalan Anoa ini lebih dari sekadar tumpukan kertas akademis; ia adalah sebuah peta jalan yang jelas dan berbasis bukti bagi pemerintah Kota Baubau. Dengan data ini di tangan, para perencana kota tidak lagi perlu meraba-raba dalam gelap untuk mengambil keputusan. Studi ini telah mengidentifikasi dengan tepat di mana letak "penyakit" utama, kapan "gejalanya" paling parah, dan apa "penyebab" dasarnya.

Jika diterapkan, temuan ini bisa menjadi dasar untuk intervensi kebijakan yang sangat efisien. Misalnya, dengan memprioritaskan pelebaran jalan di titik sempit sekitar Pos 3 di Waliabuku, pemerintah bisa membuka sumbatan utama dan secara signifikan meningkatkan kelancaran di seluruh ruas jalan sepanjang 10.6 km. Proyek yang terfokus seperti ini, yang didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat, berpotensi mencegah kerugian ekonomi akibat kemacetan, mengurangi polusi udara, dan menghemat ribuan jam waktu komuter bagi warga setiap tahunnya dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Kisah Jalan Anoa adalah cerminan dari tantangan yang dihadapi banyak kota berkembang. Pertumbuhan adalah sebuah keniscayaan, tetapi kemacetan adalah sebuah pilihan. Dengan menjadikan data dan analisis ilmiah sebagai kompas, Baubau memiliki kesempatan untuk memilih jalur pertumbuhan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

 

Sumber Artikel:

Dairi, R. H., & Khairani, I. (2021). Manajemen dan rekayasa lalu lintas pada ruas Jalan Anoa Kota Baubau. Jurnal Media Inovasi Teknik Sipil Unidayan, X(2), 67–77.

Selengkapnya
Penelitian Jalan Anoa Mengungkap Rahasia di Balik Kemacetan Tersembunyi Kota Baubau – dan Ini yang Harus Anda Ketahui!

Sains & Teknologi

Penelitian di Manado Mengungkap Paradoks Jalan Satu Arah – Temuan Ini Bisa Mengubah Wajah Kota Anda!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 23 Oktober 2025


Bagian I: Membedah Temuan Mengejutkan di Jalan Bethesda, Manado (Resensi Jurnalistik)

Mitos Kelancaran Jalan Satu Arah yang Terpatahkan

Di tengah deru mesin dan lautan kendaraan yang menyesaki kota-kota besar Indonesia, ada satu keyakinan yang seolah menjadi mantra sakti para perencana kota: jika macet, buatlah jalan satu arah. Logikanya sederhana, dengan menghilangkan konflik dari arah berlawanan, arus kendaraan akan melaju lebih cepat dan lancar. Namun, bagaimana jika solusi yang selama ini kita anggap sebagai obat mujarab justru dalam kondisi tertentu bisa menjadi racun yang memperparah penyakit?

Sebuah penelitian yang cermat dan mendetail dari jantung kota Manado, Sulawesi Utara, mengguncang asumsi lama ini. Tim peneliti dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Sam Ratulangi, yang dipimpin oleh Gerwin Wa'Bone, melakukan sebuah investigasi mendalam di Jalan Bethesda, sebuah koridor vital di Kecamatan Sario.1 Jalan ini unik karena memiliki dua segmen yang bersebelahan: satu menerapkan sistem dua arah, dan satu lagi sistem satu arah. Kondisi ini menjadikannya laboratorium perkotaan yang sempurna untuk menjawab pertanyaan fundamental: di antara keduanya, manakah yang benar-benar lebih efektif dalam memerangi kemacetan? Jawabannya, yang terungkap melalui data lapangan dan simulasi digital canggih, ternyata sangat mengejutkan dan berpotensi mengubah cara kita memandang manajemen lalu lintas di seluruh Indonesia.

 

Di Balik Angka: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Jantung Kota Manado?

Untuk membongkar realitas lalu lintas di Jalan Bethesda, para peneliti tidak hanya duduk di belakang meja. Mereka melakukan "investigasi" lapangan yang intensif. Selama tiga hari—mencakup dua hari kerja dan satu hari libur—tim ini secara manual menghitung setiap kendaraan yang melintas, mengukur kecepatannya, dan mencatat setiap gangguan kecil yang terjadi di tepi jalan, mulai dari pejalan kaki yang menyeberang hingga mobil yang parkir sembarangan.1

Dari ribuan data yang terkumpul, mereka mengidentifikasi momen paling kritis: jam puncak pada hari Kamis, 15 September 2022, antara pukul 12.00 hingga 13.00 WITA. Pada satu jam genting ini, total 4.282 kendaraan membanjiri persimpangan tersebut.1 Bayangkan, setiap jamnya, lebih dari empat ribu kendaraan—cukup untuk membuat antrean sepanjang 20 kilometer jika dijejerkan—berdesakan di satu titik. Ini adalah potret nyata dari tekanan luar biasa yang dialami infrastruktur perkotaan kita setiap hari.

Namun, data mentah saja tidak cukup. Untuk memahami dinamika yang kompleks, tim peneliti membawa "medan perang" lalu lintas ini ke dalam dunia digital. Mereka menggunakan PTV Vissim, sebuah perangkat lunak simulasi mikro yang diakui secara global, untuk menciptakan kembaran virtual (digital twin) dari Jalan Bethesda.1 Ini bukan sekadar animasi biasa. Para peneliti dengan teliti memasukkan semua data lapangan—volume kendaraan, kecepatan rata-rata, hingga perilaku pengemudi lokal—ke dalam model.

Langkah krusial berikutnya adalah kalibrasi dan validasi. Model digital ini "diuji" berulang kali, dan parameternya disesuaikan hingga perilakunya cocok dengan kondisi nyata di lapangan. Keakuratannya diukur menggunakan rumus statistik bernama GEH. Hasilnya, setelah kalibrasi, model simulasi mereka terbukti sangat akurat, dengan nilai GEH jauh di bawah ambang batas toleransi.1 Langkah ini memberikan bobot ilmiah yang luar biasa pada temuan mereka, memastikan bahwa kesimpulan yang ditarik bukan berasal dari spekulasi, melainkan dari model yang telah terverifikasi secara ketat.

 

Mengurai Misteri Kinerja Jalan

Hasil dari laboratorium digital ini kemudian dianalisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, sebuah panduan standar untuk mengukur kesehatan jalan raya.1 Ada dua indikator utama yang menjadi fokus: "Tingkat Pelayanan" (Level of Service - LOS) dan "Derajat Kejenuhan" (Degree of Saturation - DS).

Bayangkan Tingkat Pelayanan (LOS) sebagai rapor kinerja sebuah jalan, dengan skala dari A (sangat lancar) hingga F (macet total). Sementara itu, Derajat Kejenuhan (DS) bisa diibaratkan sebagai tingkat kepenuhan sebuah botol air; angka 1.0 (atau 100%) berarti botol itu sudah penuh sesak dan tidak bisa menampung air lagi.

Di sinilah letak temuan yang tak terduga itu:

  • Jalan Bethesda Dua Arah: Mendapatkan rapor C. Ini berarti arus lalu lintas masih stabil, dan pengemudi masih memiliki kebebasan untuk mengendalikan kecepatan kendaraannya. Tingkat kepenuhannya hanya 0,519 (atau 51,9%).1 Jalan ini masih memiliki banyak ruang untuk menampung lebih banyak kendaraan sebelum mencapai titik kritis.
  • Jalan Bethesda Satu Arah: Secara mengejutkan, kinerjanya lebih buruk dengan rapor D. Kategori ini menandakan arus mulai tidak stabil, kecepatan menurun drastis, dan kondisi lalu lintas sangat sensitif terhadap gangguan. Yang lebih mengkhawatirkan, tingkat kepenuhannya mencapai 0,813 (atau 81,3%).1

Angka 0,813 ini adalah sebuah alarm bahaya. Menurut standar MKJI 1997, nilai DS di atas 0,75 menandakan bahwa jalan tersebut sudah berada di ambang kolaps.4 Sedikit saja ada gangguan tambahan—seperti mobil mogok atau angkot berhenti mendadak—dapat memicu kemacetan total yang merambat dengan cepat. Dengan kata lain, segmen jalan satu arah di Bethesda hidup di tepi jurang kemacetan setiap saat, sementara "saudaranya" yang dua arah justru bernapas lebih lega. Temuan ini secara telak mematahkan mitos bahwa sistem satu arah secara otomatis lebih unggul.

 

Bukan Arah Jalannya, Tapi Aktivitas di Tepiannya

Lalu, apa yang menyebabkan anomali ini? Jika secara teori jalan satu arah seharusnya lebih efisien, mengapa di Jalan Bethesda justru sebaliknya? Para peneliti menemukan "tersangka utamanya" bukan pada desain arah jalan itu sendiri, melainkan pada faktor yang sering kali terabaikan: hambatan samping.

Hambatan samping adalah istilah teknis untuk segala aktivitas di tepi jalan yang mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Ini mencakup pejalan kaki yang menyeberang sembarangan, kendaraan yang parkir di badan jalan, angkutan umum yang berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, serta kendaraan yang keluar-masuk dari properti seperti toko atau rumah makan.1

Dalam studi ini, kedua segmen Jalan Bethesda—baik yang satu arah maupun dua arah—diklasifikasikan memiliki tingkat hambatan samping Sangat Tinggi (VH). Data menunjukkan lebih dari 2.000 "insiden" pengganggu terjadi setiap harinya di masing-masing segmen, menciptakan "gesekan" konstan yang memperlambat laju kendaraan.1

Namun, dampak dari gesekan ini ternyata berbeda secara signifikan antara kedua sistem:

  • Kerentanan Sistem Satu Arah: Peneliti menemukan bahwa sistem satu arah, yang secara teoretis mendorong kecepatan lebih tinggi, justru menjadi lebih rapuh terhadap hambatan samping. Ketika sebuah mobil tiba-tiba mengerem karena ada motor keluar dari gang, efek "gelombang kejut" pengereman ini merambat ke belakang dengan sangat cepat di lajur yang searah, menyebabkan antrean panjang dalam sekejap.
  • Ketangguhan Sistem Dua Arah: Sebaliknya, jalan dua arah, dengan kecepatan yang secara alami lebih terkontrol karena adanya lalu lintas dari arah berlawanan, terbukti lebih "tangguh" atau resilien. Gangguan-gangguan kecil di tepi jalan tidak serta-merta memicu kemacetan parah karena kecepatan rata-rata kendaraan yang lebih rendah memberikan lebih banyak waktu bagi pengemudi lain untuk bereaksi dan beradaptasi.

Dengan kata lain, jalan satu arah ibarat seorang pelari cepat yang bisa dengan mudah tersandung oleh kerikil kecil, sementara jalan dua arah lebih seperti seorang pejalan yang stabil, yang meskipun lebih lambat, tidak mudah jatuh saat menghadapi rintangan serupa.

 

Kritik dan Konteks: Seberapa Luas Dampak Temuan Ini?

Tentu saja, penting untuk melihat temuan ini dengan kacamata yang jernih. Seperti yang diakui oleh para peneliti, ini adalah potret mendalam dari satu ruas jalan di satu kota.1 Kondisi geometrik, komposisi kendaraan, dan perilaku pengemudi di kota lain mungkin akan menghasilkan dinamika yang berbeda. Namun, pelajaran yang diungkap sangat universal.

Satu kritik yang bisa diajukan, bukan terhadap penelitiannya tetapi pada standar yang digunakan, adalah ketergantungan pada MKJI 1997. Panduan ini dirilis lebih dari seperempat abad yang lalu, jauh sebelum ledakan populasi sepeda motor dan kemunculan fenomena ojek dan taksi online yang kini mendominasi jalanan Indonesia.6 Karakteristik lalu lintas modern yang jauh lebih cair dan acak mungkin tidak sepenuhnya terwakili oleh model-model lama. Pertanyaan yang diajukan oleh studi ini, meskipun secara tidak langsung, menjadi sangat relevan: Apakah standar yang kita gunakan untuk merancang kota kita masih sesuai dengan kekacauan lalu lintas abad ke-21?

 

Pelajaran dari Manado untuk Seluruh Indonesia

Pada akhirnya, penelitian di Jalan Bethesda ini memberikan sebuah pesan yang kuat dan jelas: solusi untuk kemacetan perkotaan tidak sesederhana mengubah panah arah di rambu lalu lintas. Mengubah jalan menjadi satu arah tanpa mengatasi masalah fundamental di tepiannya—yaitu hambatan samping—sering kali hanya akan memindahkan masalah atau bahkan memperburuknya.

Temuan ini adalah panggilan bagi para perencana kota dan pembuat kebijakan di seluruh Indonesia untuk berpikir lebih holistik. Penegakan aturan parkir, penyediaan fasilitas pejalan kaki yang aman, desain halte yang efisien, dan penataan aktivitas ekonomi informal di pinggir jalan bukan lagi sekadar "pelengkap", melainkan elemen krusial dalam manajemen lalu lintas yang efektif.

Jika pemerintah kota di seluruh Indonesia mulai mengaudit ulang sistem jalan satu arah mereka dengan mempertimbangkan faktor hambatan samping yang dominan, temuan dari Manado ini bisa menjadi kunci untuk merancang ulang jalanan yang tidak hanya lebih lancar, tetapi juga lebih hidup, aman, dan ekonomis bagi warganya dalam lima tahun ke depan. Ini bukan lagi soal memilih antara satu atau dua arah, tetapi tentang memilih untuk merancang kota bagi manusia, bukan hanya untuk kendaraan.

 

Bagian II: Debat Global Sistem Satu Arah vs. Dua Arah: Perspektif Internasional

Temuan mengejutkan dari Jalan Bethesda di Manado bukanlah sebuah anomali yang terisolasi. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari percakapan global yang lebih besar dan perdebatan sengit dalam dunia perencanaan kota yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Keputusan untuk menerapkan sistem jalan satu arah atau mengembalikannya menjadi dua arah mencerminkan pergeseran fundamental dalam filosofi tentang untuk siapa sebenarnya jalanan kota dirancang.

Sejarah Singkat Rekayasa Lalu Lintas: Dari Arus Kendaraan ke Kualitas Hidup

Pada pertengahan abad ke-20, terutama di era pasca-Perang Dunia II, kota-kota di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, menghadapi tantangan baru: ledakan kepemilikan mobil pribadi. Jalanan yang dirancang untuk kereta kuda dan pejalan kaki tiba-tiba dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Respons dari para insinyur lalu lintas saat itu adalah pragmatis dan berfokus pada satu tujuan tunggal: memaksimalkan kecepatan dan volume kendaraan.7 Dalam paradigma ini, sistem jalan satu arah dianggap sebagai sebuah inovasi brilian. Dengan menghilangkan konflik belok kiri dan lalu lintas dari arah berlawanan, kapasitas jalan dapat ditingkatkan secara dramatis, dan sinyal lalu lintas dapat disinkronkan untuk menciptakan "gelombang hijau" yang melancarkan arus.9

Namun, kebijakan yang sangat berorientasi pada mobil ini secara tidak sengaja melahirkan serangkaian "efek samping" yang merusak. Jalan-jalan di pusat kota berubah menjadi "jalan raya urban" (urban highways), yang mendorong kecepatan berbahaya, memutus konektivitas antar lingkungan, dan menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi pejalan kaki serta mematikan bisnis lokal yang bergantung pada lalu lintas pejalan kaki.10 Efisiensi yang dicapai dalam pergerakan kendaraan harus dibayar mahal dengan penurunan kualitas hidup perkotaan.

Menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-21, sebuah paradigma baru mulai muncul sebagai respons atas kegagalan model lama. Konsep seperti "Livable Streets" (Jalan yang Layak Huni) dan "Complete Streets" (Jalan Lengkap) mulai mendapatkan perhatian.13 Filosofi baru ini mengubah pertanyaan fundamental dari "Bagaimana cara memindahkan mobil secepat mungkin?" menjadi "Bagaimana cara menciptakan jalan yang aman, nyaman, dan produktif untuk semua orang—termasuk pejalan kaki, pesepeda, pengguna transportasi publik, anak-anak, dan lansia?". Dalam kerangka berpikir baru ini, sistem jalan satu arah yang dirancang semata-mata untuk kecepatan mulai dipertanyakan secara serius.

Studi Kasus Internasional: Ketika Kota-Kota Memilih "Putar Balik"

Pergeseran paradigma ini bukan hanya sekadar wacana teoretis. Banyak kota di seluruh dunia telah mulai mengambil langkah nyata untuk mengkonversi kembali jalan-jalan satu arah mereka menjadi dua arah, dan hasilnya didokumentasikan dengan baik, memberikan bukti empiris yang kuat.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Louisville, Kentucky. Pada tahun 2011, kota ini mengembalikan dua jalan utama, 1st Street dan Brook Street, menjadi sistem dua arah. Sebuah studi komprehensif yang membandingkan kondisi sebelum dan sesudah konversi mengungkapkan hasil yang menakjubkan. Meskipun volume lalu lintas di kedua jalan tersebut justru meningkat (karena menjadi rute yang lebih logis dan langsung), total angka kecelakaan lalu lintas menurun drastis sebesar 49%. Lebih dari itu, angka kejahatan di sepanjang koridor tersebut juga turun sebesar 23%. Penurunan ini membantah argumen klasik bahwa jalan satu arah lebih aman dan menunjukkan bahwa kecepatan yang lebih terkontrol di jalan dua arah menciptakan lingkungan yang lebih aman secara keseluruhan.12 Dari sisi ekonomi, konversi ini juga memicu peningkatan nilai properti dan vitalitas bisnis di sekitarnya, membuktikan adanya hubungan langsung antara desain jalan yang ramah manusia dan kemakmuran ekonomi.16

Kisah serupa juga terjadi di kota-kota lain. Di Vine Street, Cincinnati, sebuah studi mencatat bahwa 40% bisnis di jalan tersebut tutup setelah diubah menjadi sistem satu arah, karena aksesibilitas dan visibilitas bagi pelanggan menurun drastis.17 Sebaliknya, di Vancouver, jalanan utama yang dikembalikan ke sistem dua arah dilaporkan kembali "hidup" hampir dalam semalam, dengan peningkatan aktivitas pejalan kaki dan bisnis.17 Analisis ekonomi yang dilakukan untuk kota Fargo, North Dakota, bahkan memproyeksikan bahwa konversi kembali ke dua arah dapat menghasilkan peningkatan penjualan ritel jangka pendek sebesar 10% hingga 13%.17

Data-data ini secara kolektif membangun sebuah argumen yang kuat: efisiensi yang ditawarkan oleh jalan satu arah adalah efisiensi yang didefinisikan secara sempit dari sudut pandang pergerakan kendaraan. Ketika metrik efisiensi diperluas untuk mencakup keselamatan publik, kesehatan ekonomi lokal, dan kualitas hidup secara umum, sistem jalan dua arah sering kali terbukti jauh lebih unggul di lingkungan perkotaan yang padat.

Dampak Tersembunyi: Ekonomi Lokal, Pejalan Kaki, dan Keadilan Spasial

Debat antara sistem satu dan dua arah pada dasarnya adalah perdebatan tentang dampak orde kedua dan ketiga dari sebuah desain infrastruktur. Dampak-dampak ini sering kali tidak terlihat dalam analisis lalu lintas konvensional, namun sangat dirasakan oleh penduduk kota.

Ekonomi Skala Mikro: Jalan dua arah secara inheren lebih menguntungkan bagi bisnis kecil dan ritel. Kecepatan kendaraan yang lebih lambat memberikan pengemudi lebih banyak waktu untuk mengamati etalase toko dan membuat keputusan impulsif untuk berhenti. Akses yang mudah dari kedua arah juga menghilangkan hambatan bagi calon pelanggan yang mungkin enggan untuk berputar-putar satu blok hanya untuk mengunjungi sebuah toko.8 Jalan satu arah, dengan fokusnya pada kecepatan, mengubah jalanan dari "destinasi" menjadi sekadar "koridor transit", yang merugikan bisnis yang bergantung pada visibilitas dan aksesibilitas.

Keselamatan Pejalan Kaki: Jalan satu arah terbukti lebih berbahaya bagi pejalan kaki. Desainnya yang sering kali lebih lebar dan lurus mendorong pengemudi untuk melaju lebih cepat. Selain itu, pengemudi yang berbelok ke jalan satu arah cenderung hanya melihat ke satu arah sumber datangnya lalu lintas kendaraan, sering kali mengabaikan pejalan kaki yang mungkin menyeberang dari arah yang tidak terduga.11 Lingkungan yang didominasi oleh kendaraan berkecepatan tinggi ini menciptakan rasa tidak aman dan mengintimidasi, yang pada akhirnya mengurangi keinginan orang untuk berjalan kaki.

Keadilan Spasial dan Transportasi Publik: Dampak sistem satu arah juga sangat dirasakan oleh operator dan pengguna transportasi publik. Sebuah studi kasus dari Bogor, Indonesia, memberikan gambaran yang jelas. Penerapan sistem satu arah memaksa angkutan kota (angkot) untuk menempuh rute yang lebih panjang dan berputar-putar. Hal ini tidak hanya meningkatkan konsumsi bahan bakar, tetapi juga mengurangi jumlah perjalanan pulang-pergi (Round Trip Time - RTT) yang dapat diselesaikan dalam sehari. Akibatnya, pendapatan harian para supir angkot terpangkas hingga 25-50%.18 Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah keputusan rekayasa lalu lintas dapat memiliki implikasi keadilan sosial dan ekonomi yang signifikan, membebani kelompok masyarakat yang paling bergantung pada efisiensi rute transportasi publik.

Secara keseluruhan, pengalaman internasional menunjukkan bahwa konversi kembali ke jalan dua arah bukanlah sebuah langkah mundur, melainkan sebuah langkah maju menuju pemahaman yang lebih matang tentang fungsi jalan dalam ekosistem perkotaan. Ini adalah pengakuan bahwa jalan bukanlah sekadar saluran untuk kendaraan, tetapi ruang publik multifungsi yang harus menyeimbangkan kebutuhan mobilitas, ekonomi, dan interaksi sosial. Temuan dari Manado, oleh karena itu, sangat sejalan dengan narasi global ini, memperkuat argumen bahwa evaluasi ulang terhadap sistem jalan satu arah yang ada adalah langkah yang mendesak dan perlu.

 

Bagian III: Arah Baru Perencanaan Transportasi Urban di Indonesia

Studi kasus di Jalan Bethesda, Manado, dan pelajaran dari berbagai kota di dunia memberikan momentum krusial untuk mengevaluasi kembali arah perencanaan transportasi perkotaan di Indonesia. Temuan-temuan ini bukan lagi sekadar data akademis, melainkan sebuah peringatan keras sekaligus peta jalan menuju kota-kota yang lebih efisien, aman, dan manusiawi. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu berubah, tetapi bagaimana kita harus berubah.

Relevansi Studi Manado dalam Konteks Indonesia: Sebuah Peringatan Keras

Keunikan dan kekuatan utama dari penelitian di Manado adalah relevansinya yang luar biasa bagi konteks perkotaan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Faktor "hambatan samping" yang menjadi biang keladi penurunan kinerja jalan satu arah di Manado adalah cerminan dari realitas sehari-hari di jalanan kota-kota Indonesia.1

Konteks "Hambatan Samping" yang Unik: Aktivitas ekonomi informal yang meluber hingga ke badan jalan, budaya parkir liar yang sulit ditertibkan, perilaku angkutan umum dan ojek online yang berhenti di sembarang tempat, serta arus keluar-masuk kendaraan dari properti komersial adalah karakteristik endemik lalu lintas kita.19 Karakteristik ini menciptakan tingkat "gesekan" yang sangat tinggi dan tidak terduga, yang sering kali membuat model-model rekayasa lalu lintas teoretis yang diadopsi dari negara maju menjadi tidak efektif. Studi Manado secara empiris membuktikan bahwa dalam kondisi gesekan tinggi seperti ini, sistem satu arah yang seharusnya cepat justru menjadi sangat rapuh.

Dominasi Sepeda Motor: Faktor lain yang membuat konteks Indonesia berbeda adalah dominasi sepeda motor dalam komposisi lalu lintas. Standar lama seperti MKJI 1997 tidak sepenuhnya dirancang untuk mengakomodasi perilaku lalu lintas campuran dengan proporsi sepeda motor yang sangat tinggi.6 Kelincahan sepeda motor dalam mengisi setiap celah kosong dan melakukan manuver menyalip yang agresif dapat memperburuk "gelombang kejut" kemacetan pada sistem satu arah yang sudah terganggu oleh hambatan samping. Kecepatan tinggi yang difasilitasi oleh jalan satu arah justru meningkatkan risiko kecelakaan fatal yang melibatkan pengendara sepeda motor.

Studi Manado sebagai "Canary in the Coal Mine": Dengan demikian, penelitian ini dapat dipandang sebagai "burung kenari di tambang batu bara"—sebuah peringatan dini tentang bahaya yang tersembunyi. Jika di Manado, di mana sistem satu arah diterapkan secara berdampingan dengan dua arah, kinerjanya terbukti lebih buruk, maka ada kemungkinan yang sangat besar bahwa banyak sistem jalan satu arah lain di kota-kota besar Indonesia juga tidak seefektif yang diasumsikan. Kebijakan tersebut mungkin hanya berhasil memindahkan titik kemacetan dari satu ruas jalan ke ruas jalan lain di dalam jaringan, tanpa benar-benar menyelesaikan masalah kapasitas secara keseluruhan, persis seperti yang terjadi dalam studi kasus di Depok dan Semarang.4

Rekomendasi Kebijakan: Menuju "Jalan Lengkap" (Complete Streets) ala Indonesia

Berangkat dari pemahaman ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma dalam kebijakan transportasi perkotaan di Indonesia. Fokus harus beralih dari solusi rekayasa tunggal (seperti mengubah arah jalan) ke pendekatan yang lebih holistik dan berpusat pada manusia.

1. Audit Nasional Sistem Satu Arah: Langkah pertama yang paling mendesak adalah melakukan audit komprehensif terhadap efektivitas semua sistem jalan satu arah yang ada di kota-kota besar. Audit ini harus melampaui metrik tradisional seperti volume dan kecepatan kendaraan. Ia harus mencakup analisis dampak ekonomi terhadap bisnis lokal, evaluasi tingkat kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki dan pesepeda, serta pengukuran efisiensi dan aksesibilitas transportasi publik. Penggunaan alat modern seperti simulasi mikro PTV Vissim, seperti yang dilakukan dalam studi Manado, harus menjadi standar untuk mendapatkan gambaran yang akurat dan dinamis.1

2. Prioritaskan Manajemen Hambatan Samping: Studi Manado dengan jelas menunjukkan bahwa akar masalah sering kali bukan terletak pada arah arus, melainkan pada kekacauan di tepi jalan.1 Oleh karena itu, sebelum mempertimbangkan rekayasa lalu lintas yang mahal dan disruptif, prioritas utama pemerintah kota seharusnya adalah manajemen hambatan samping. Ini adalah "buah yang menggantung rendah" yang dapat memberikan perbaikan signifikan dengan biaya yang relatif lebih kecil. Langkah-langkah konkret meliputi:

  • Penegakan hukum yang tegas dan konsisten terhadap parkir liar.
  • Penyediaan kantong-kantong parkir off-street yang memadai di dekat pusat-pusat kegiatan.
  • Desain ulang halte bus dan titik penjemputan ojek online agar tidak mengganggu lajur lalu lintas utama.
  • Penataan pedagang kaki lima (PKL) secara manusiawi namun teratur, yang memisahkan aktivitas komersial dari jalur pergerakan kendaraan.19

3. Adopsi Formal Prinsip "Jalan Lengkap" (Complete Streets): Indonesia perlu secara formal mengadopsi kebijakan "Jalan Lengkap" (Complete Streets) dan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan yang mengikat, seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan panduan desain infrastruktur nasional dan daerah.13 Prinsip ini menegaskan bahwa jalan harus dirancang untuk melayani semua pengguna secara aman dan nyaman. Implementasinya dapat berupa:

  • Aksi Kebijakan: Mewajibkan setiap proyek pembangunan atau perbaikan jalan untuk secara eksplisit mempertimbangkan dan menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transit.
  • Alokasi Ruang: Mengalokasikan sebagian dari lebar jalan (right-of-way) untuk trotoar yang lebar, jalur sepeda terproteksi, dan jalur khusus bus (jika memungkinkan).
  • Penerapan Traffic Calming: Mengintegrasikan elemen "penenang lalu lintas" (traffic calming) sebagai standar desain. Ini termasuk penyempitan lajur kendaraan, pembangunan pulau median, chicanes (jalur berliku), dan speed humps (polisi tidur yang dirancang dengan baik) untuk mengontrol kecepatan kendaraan secara alami, bukan hanya mengandalkan rambu batas kecepatan.14

4. Pembaruan Standar Nasional: Ketergantungan pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 sudah tidak dapat dipertahankan lagi.1 Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perhubungan, harus mempercepat adopsi dan implementasi penuh dari Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) versi terbaru (misalnya PKJI 2023).6 Standar baru ini harus secara eksplisit mencakup:

  • Parameter yang lebih akurat untuk lalu lintas campuran dengan dominasi sepeda motor.
  • Faktor penyesuaian yang lebih realistis untuk dampak hambatan samping yang tinggi, sesuai dengan kondisi khas Indonesia.
  • Metrik kinerja yang lebih luas, yang tidak hanya mengukur Derajat Kejenuhan (DS) tetapi juga memasukkan indikator keselamatan, aksesibilitas multi-moda, dan kualitas lingkungan jalan.

Kesimpulan: Bukan Sekadar Mengatur Lalu Lintas, Tetapi Membangun Kota untuk Manusia

Studi di Jalan Bethesda, Manado, meskipun berskala kecil, memberikan pelajaran yang sangat besar bagi Indonesia. Ia menjadi bukti empiris bahwa solusi teknokratis yang diimpor tanpa penyesuaian terhadap konteks sosial, ekonomi, dan perilaku lokal akan menemui kegagalan. Ia menunjukkan bahwa jalanan yang paling efisien bukanlah jalanan yang paling cepat, melainkan jalanan yang paling seimbang dalam melayani berbagai fungsi dan pengguna.

Pada akhirnya, pilihan antara sistem satu arah atau dua arah, atau antara standar MKJI 1997 dan PKJI 2023, bukanlah sekadar pilihan teknis. Ini adalah pilihan fundamental tentang visi masa depan kota-kota kita. Apakah kita ingin terus membangun kota yang dirancang untuk memindahkan kotak-kotak logam (mobil) secepat mungkin dari titik A ke B, dengan mengorbankan keselamatan, vitalitas ekonomi lokal, dan kualitas ruang publik? Ataukah kita ingin mulai membangun kota yang dirancang sebagai tempat tinggal, berinteraksi, berjalan kaki, dan berbisnis bagi manusia?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan kualitas hidup jutaan warga perkotaan Indonesia untuk dekade-dekade yang akan datang. Pelajaran dari Manado sudah ada di depan mata; sekarang saatnya untuk bertindak.

 

Sumber Artikel:

  1. Wa'Bone, G., Rumayar, A. L. E., & Pandey, S. V. (2023). Analisis pemanfaatan manajemen lalu lintas sistem dua arah dan satu arah terhadap efektifitas kinerja ruas jalan (Studi kasus: Jalan Bethesda, Kec. Sario, Kota Manado). TEKNO, 21(83), 147-156.
  2. Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Simpang Menggunakan Simulasi PTV Vissim 9.0 (Studi Kasus - Iptek ITS, diakses Oktober 22, 2025, https://iptek.its.ac.id/index.php/jats/article/download/20596/9384
  3. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan memuat landasan teori berupa rangkuman teori-teori yang diambil dari pustaka y, diakses Oktober 22, 2025, http://eprints.itenas.ac.id/1198/5/05%20Bab%202%20222015162.pdf
  4. Efektifitas Pemberlakuan Sistem Satu Arah pada ... - E-Journal UNDIP, diakses Oktober 22, 2025, https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/download/11230/8819
  5. PENENTUAN KAPASITAS JALAN DUA LAJUR DUA ARAH TIDAK TERBAGI DENGAN METODE MKJI, KONSEP PKJI, DAN SURVEI - Journal Untar, diakses Oktober 22, 2025, https://journal.untar.ac.id/index.php/jmts/article/view/5675/3779
  6. Perbandingan Metode MKJI 1997 Dengan PKJI 2023 Pada Analisis Kinerja Simpang Bersinyal (Studi Kasus - ETD UGM, diakses Oktober 22, 2025, https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/234071
  7. Two-way conversions - Cedar-Rapids.org, diakses Oktober 22, 2025, https://www.cedar-rapids.org/local_government/departments_g_-_v/public_works/two-way_conversions.php
  8. One-Way or the Other? Two-Way Traffic Conversion Requires Study - Ayres Associates, diakses Oktober 22, 2025, https://www.ayresassociates.com/one-way-or-the-other-two-way-traffic-conversion-requires-study/
  9. Should Cities Convert One-Way Streets to Two Way? - The Thoreau Institute, diakses Oktober 22, 2025, https://ti.org/vaupdate30.html
  10. Apakah Jalan Satu Arah Menyelesaikan Masalah? | by Nefertari ..., diakses Oktober 22, 2025, https://medium.com/kolektif-agora/apakah-jalan-satu-arah-menyelesaikan-masalah-330ea1c69e4b
  11. 3 Reasons to Turn These One-Way Streets into Two-Ways - Strong Towns Archive, diakses Oktober 22, 2025, https://archive.strongtowns.org/journal/2016/8/4/farwell-prospect-one-way-two-way-streets
  12. Cities benefit from restoring two-way traffic - CNU.org, diakses Oktober 22, 2025, https://www.cnu.org/publicsquare/2019/07/09/cities-benefit-one-way-two-way-conversions
  13. Complete Streets: A Primer | Congress.gov, diakses Oktober 22, 2025, https://www.congress.gov/crs-product/R47947
  14. Module 2: Traffic Calming Basics | FHWA - Department of Transportation, diakses Oktober 22, 2025, https://highways.dot.gov/safety/speed-management/traffic-calming-eprimer/module-2-traffic-calming-basics
  15. Livable Streets - SFMTA, diakses Oktober 22, 2025, https://www.sfmta.com/units/livable-streets
  16. (PDF) Two-Way Street Conversion - ResearchGate, diakses Oktober 22, 2025, https://www.researchgate.net/publication/281892163_Two-Way_Street_Conversion
  17. One Way to Two Way Street Conversion Benefits | City of Dallas, diakses Oktober 22, 2025, https://dallascityhall.com/government/citycouncil/district14/DCH%20documents/McKinney-Cole%20Two-Way/One-way%20to%20Two-way%20Benefits.pdf
  18. ANALISIS DAMPAK PENERAPAN SISTEM SATU Terhadap ..., diakses Oktober 22, 2025, https://www.journal.lppmunindra.ac.id/index.php/JABE/article/download/2717/pdf
  19. pengaruh aktivitas pedagang kaki lima (pkl) terhadap kemacetan lalu lintas di jalan kh - Repository UNISSULA, diakses Oktober 22, 2025, https://repository.unissula.ac.id/24460/1/31201700045_fulltextpdf.pdf
  20. Analisis Pengaruh Hambatan Samping Terhadap Kinerja Lalu Lintas Pada Jalan Satu Arah (Studi Kasus: Jalan Walanda Maramis) | TEKNO - E-Journal UNSRAT, diakses Oktober 22, 2025, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/tekno/article/view/60790
  21. EVALUASI PERUBAHAN LALU – LINTAS AKIBAT SISTEM SATU ARAH (STUDI KASUS JL. ARIF RAHMAN HAKIM, DEPOK), diakses Oktober 22, 2025, https://journal.istn.ac.id/index.php/cline/article/view/702/510
  22. PTV VISSUM : Optimalisasi Transportasi Untuk Kota Masa Depan - Akademi Sipil, diakses Oktober 22, 2025, https://akademisipil.com/2025/03/21/ptv-vissum-optimalisasi-transportasi-untuk-kota-masa-depan/
  23. Planning for Whole Communities toolkit - Complete Streets, diakses Oktober 22, 2025, https://www.psrc.org/sites/default/files/2022-03/complete_streets.pdf
  24. Complete Streets Policy Action Guide - CityHealth, diakses Oktober 22, 2025, https://www.cityhealth.org/resource-center/complete-streets-action-guide/
  25. 3.12 Traffic Calming - Streets Illustrated - Seattle.gov, diakses Oktober 22, 2025, https://streetsillustrated.seattle.gov/design-standards/trafficcalming/
  26. (PDF) Comparison Analysis of Road Performance Method Between MKJI 1997 and PKJI 2023 using Case Study at Jalan Jendral Ahmad Yani - ResearchGate, diakses Oktober 22, 2025, https://www.researchgate.net/publication/388799016_Comparison_Analysis_of_Road_Performance_Method_Between_MKJI_1997_and_PKJI_2023_using_Case_Study_at_Jalan_Jendral_Ahmad_Yani
Selengkapnya
Penelitian di Manado Mengungkap Paradoks Jalan Satu Arah – Temuan Ini Bisa Mengubah Wajah Kota Anda!

Sains & Teknologi

Revolusi Sunyi di Jalanan Terlupakan: Penelitian Ini Mengungkap Masa Depan Perawatan Jalan Kerikil – dan Ini Dampaknya Bagi Kita Semua!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 20 Oktober 2025


Sebuah tinjauan literatur sistematis yang komprehensif telah memetakan kondisi terkini dan arah masa depan perawatan jalan kerikil, sebuah komponen infrastruktur yang sering kali terabaikan namun memegang peranan krusial dalam perekonomian global. Dipublikasikan dalam Transportation Research Record, penelitian yang meninjau 105 publikasi ini tidak hanya menyoroti tantangan yang ada, tetapi juga membuka tabir inovasi teknologi yang berpotensi merevolusi cara kita mengelola arteri vital pedesaan ini. Temuan ini menjanjikan efisiensi anggaran yang luar biasa, peningkatan keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan yang lebih baik.

 

Jaringan Arteri Tersembunyi yang Menopang Perekonomian Global

Ketika kita membicarakan infrastruktur jalan, imajinasi kita sering kali tertuju pada jalan tol megah berlapis aspal mulus yang membelah kota-kota besar. Namun, di balik bayang-bayang kemegahan tersebut, terdapat jaringan jalan yang jauh lebih luas, sunyi, namun tak kalah vital: jalan kerikil. Penelitian ini membuka mata kita pada skala masif dari jaringan yang sering dianggap kelas dua ini. Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa sekitar 35% dari total jaringan jalan publik di negara maju seperti Amerika Serikat dan Swedia adalah jalan tak beraspal.1 Di Swedia, angkanya bahkan lebih dramatis, di mana jalan kerikil mencakup sekitar 75% dari seluruh jaringan jalan nasional.1

Jalan-jalan ini bukanlah sekadar jalur pedesaan yang sepi. Mereka adalah urat nadi perekonomian yang sesungguhnya, menjadi tulang punggung bagi sektor-sektor fundamental seperti pertanian, kehutanan, pariwisata, hingga layanan darurat seperti pemadam kebakaran dan tim penyelamat.1 Tanpa akses yang layak melalui jalan kerikil, rantai pasok pangan akan terganggu, hasil hutan tidak dapat diangkut, potensi wisata alam terisolasi, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan akan terhambat.

Di sinilah letak sebuah paradoks besar. Meskipun sering dikategorikan sebagai "jalan bervolume rendah" (low-volume roads), yang umumnya dilalui kurang dari 400 kendaraan per hari, dampak ekonomi dan sosial dari jalan-jalan ini justru sangat tinggi (high-impact).1 Kegagalan dalam merawat jalan ini dapat melumpuhkan seluruh ekosistem ekonomi lokal. Sayangnya, kondisi ini diperparah oleh fenomena yang dapat disebut sebagai "kebutaan infrastruktur". Para pembuat kebijakan dan lembaga pengelola jalan cenderung memfokuskan alokasi anggaran dan perhatian pada jalan raya utama di perkotaan, sementara jalan kerikil sering kali terabaikan.1 Kebutaan ini bukan hanya soal prioritas, tetapi juga soal data. Metode penilaian kondisi jalan kerikil yang selama ini dominan adalah inspeksi visual yang sangat subjektif.1 Akibatnya, tidak ada data kuantitatif yang kuat untuk dijadikan argumen dalam perebutan anggaran. Lingkaran setan pun terbentuk: tanpa data yang baik, tidak ada argumen kuat untuk investasi, dan tanpa investasi, kondisi jalan terus memburuk, memperdalam isolasi ekonomi pedesaan.

 

Wabah Kerusakan Sunyi: Debu, Lubang, dan Biaya Tersembunyi dari Metode Lama

Penelantaran sistematis terhadap jalan kerikil melahirkan wabah kerusakan yang dampaknya jauh melampaui sekadar ketidaknyamanan berkendara. Penelitian ini mengkatalogkan serangkaian "penyakit" kronis yang menggerogoti jalan-jalan ini, masing-masing dengan biaya tersembunyi yang sangat besar.

  • Debu yang Mematikan: Debu yang beterbangan dari jalan kerikil bukan sekadar masalah kebersihan. Partikel halus ini mencemari udara dan air, memicu masalah pernapasan serius pada manusia dan hewan, serta menurunkan produktivitas lahan pertanian dengan menghalangi proses fotosintesis pada tanaman.1 Lebih jauh lagi, debu mengurangi jarak pandang secara drastis, menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas di area pedesaan. Studi ini mengutip estimasi biaya kerusakan lingkungan dan kesehatan akibat debu yang mencapai angka USD 1.510 per kilometer setiap tahunnya—sebuah beban ekonomi yang sering kali tidak terhitung.1
  • Lubang dan Keriting sebagai Ancaman Keselamatan: Lubang (potholes) di jalan kerikil lebih dari sekadar gangguan. Lubang dengan kedalaman lebih dari 10 cm merupakan indikasi adanya kegagalan struktural pada fondasi jalan dan menjadi ancaman keselamatan yang nyata bagi pengendara.1 Sementara itu, permukaan jalan yang bergelombang seperti papan cuci (corrugation atau washboarding) tidak hanya membuat perjalanan sangat tidak nyaman, tetapi juga dapat menyebabkan pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya, terutama pada kecepatan tinggi.1
  • Alur dan Kehilangan Material: Lalu lintas kendaraan, terutama yang berat, akan mendorong material kerikil ke sisi jalan, menciptakan alur (rutting). Alur ini berfungsi seperti selokan kecil yang menahan air, mempercepat proses erosi, dan melemahkan struktur jalan secara keseluruhan.1 Setiap butir kerikil yang hilang adalah kerugian permanen, karena kerikil merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Praktik perawatan konvensional seperti perataan (blading) dan pelapisan ulang (re-gravelling) yang dilakukan terus-menerus pada dasarnya hanya mempercepat penipisan sumber daya alam yang berharga ini.1

Akar dari semua masalah ini adalah ketergantungan pada metode perawatan yang reaktif dan subjektif. Keputusan perbaikan sering kali didasarkan pada keluhan warga atau pertimbangan politik, bukan pada analisis data yang objektif.1 Pendekatan "yang paling parah, diperbaiki lebih dulu" (worst first) ini secara fundamental tidak efisien. Biaya untuk memperbaiki kerusakan yang sudah parah jauh lebih mahal daripada melakukan intervensi pencegahan sejak dini. Studi ini menegaskan sebuah prinsip krusial: "biaya dari perawatan yang buruk bahkan lebih besar" daripada biaya perawatan rutin itu sendiri.1 Biaya tersembunyi—seperti peningkatan biaya operasional kendaraan, kerusakan kargo, hilangnya waktu produktif, dan dampak kesehatan—jauh melampaui angka yang tertera dalam anggaran perawatan jalan.

 

Fajar Era Baru: Bagaimana Ponsel Pintar dan Drone Mengubah Cara Kita "Membaca" Jalan

Di tengah tantangan yang tampak suram, penelitian ini menyoroti fajar era baru yang didorong oleh teknologi. Konsep "Maintenance 4.0", yang merupakan aplikasi dari Revolusi Industri 4.0, menjanjikan pergeseran paradigma dari perawatan yang reaktif menjadi prediktif dan proaktif, semuanya digerakkan oleh data.1 Teknologi yang dulunya dianggap fiksi ilmiah kini menjadi alat praktis yang dapat mengubah cara kita "membaca" dan merawat jalan.

Informasi yang sebelumnya tersembunyi dalam laporan teknis yang rumit kini diubah menjadi narasi yang dapat diakses. Bayangkan setiap kendaraan yang melintas di jalan pedesaan berubah menjadi sensor berjalan. Inilah yang dimungkinkan oleh aplikasi ponsel pintar seperti Roadroid, yang menggunakan sensor akselerometer di dalam ponsel untuk mengukur tingkat kekasaran dan getaran permukaan jalan secara objektif.1 Data ini dapat dikumpulkan secara massal dan real-time, memberikan gambaran kondisi jalan yang jauh lebih akurat daripada inspeksi visual sesekali.

Teknologi lain yang menjadi sorotan utama adalah penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone. Sebuah studi oleh Zhang dan Elaksher pada tahun 2012, yang menjadi salah satu publikasi paling berpengaruh dengan 190 kutipan, menunjukkan bagaimana drone dapat digunakan untuk menciptakan model tiga dimensi (3D) permukaan jalan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.1 Ini seperti beralih dari sekadar melihat foto jalan yang buram menjadi melakukan pemindaian MRI yang mendetail, memungkinkan identifikasi dini terhadap retakan, lubang, dan deformasi lainnya.

Inovasi tidak berhenti di situ. Para peneliti bahkan telah mengembangkan metode untuk "mendengarkan" kondisi jalan. Dengan menganalisis data akustik—yaitu, suara kerikil yang menghantam bagian bawah mobil—mereka dapat secara objektif mengklasifikasikan jumlah kerikil lepas di permukaan jalan.1 Ini adalah metode yang sangat hemat biaya dan efisien untuk mendiagnosis salah satu masalah paling umum pada jalan kerikil. Teknologi yang lebih canggih seperti LiDAR (pemindai laser) dan Ground-Penetrating Radar (GPR) bahkan memungkinkan kita untuk "melihat" ke bawah permukaan jalan, menilai kondisi struktural dan lapisan fondasi tanpa perlu melakukan penggalian.1

Kemunculan teknologi ini membawa implikasi yang mendalam: demokratisasi data infrastruktur. Pengumpulan data kondisi jalan tidak lagi menjadi monopoli lembaga pemerintah atau kontraktor besar dengan peralatan mahal. Melalui pendekatan participatory sensing (penginderaan partisipatif), di mana pengguna jalan biasa dapat berkontribusi data melalui ponsel pintar mereka, atau dengan melengkapi armada kendaraan lokal (seperti truk perusahaan kayu atau mobil dinas pertanian) dengan sensor sederhana, kita dapat membangun sistem pemantauan yang jauh lebih komprehensif, cepat, dan murah.1 Hal ini tidak hanya akan menghasilkan data yang lebih kaya, tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah daerah kepada warganya.

 

Mengapa Ini Penting? Dampak Nyata di Balik Inovasi Teknologi

Penerapan Metode Berbasis Data (Data-Driven Methods atau DDM) bukan hanya soal kecanggihan teknologi, melainkan tentang dampak nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Manfaatnya merentang dari penghematan anggaran negara hingga peningkatan kualitas hidup di pedesaan.

Pertama, DDM memungkinkan perencanaan perawatan yang optimal. Alih-alih mengandalkan jadwal yang kaku atau menunggu laporan kerusakan, pengelola jalan dapat mengetahui secara presisi tindakan apa yang perlu diambil, kapan waktu yang paling tepat untuk melakukannya, dan di lokasi mana intervensi tersebut akan memberikan dampak terbesar.1 Dengan memprediksi kerusakan sebelum menjadi parah, biaya siklus hidup jalan dapat ditekan secara signifikan. Ini adalah pergeseran dari sekadar "menghabiskan anggaran" menjadi "melakukan investasi cerdas" dalam aset infrastruktur.

Kedua, data objektif membuka pintu bagi model kontrak yang revolusioner, yaitu Performance-Based Contracting (PBC) atau Kontrak Berbasis Kinerja. Dalam model tradisional, kontraktor dibayar berdasarkan volume pekerjaan yang mereka lakukan (misalnya, berapa kilometer jalan yang diratakan). Dalam PBC, kontraktor dibayar berdasarkan hasil atau kinerja yang mereka capai, misalnya, memastikan tingkat kekasaran jalan tetap berada di bawah ambang batas tertentu selama periode kontrak.1 Skema ini mendorong kontraktor untuk lebih inovatif dan efisien dalam bekerja, karena mereka berbagi risiko dan bertanggung jawab atas hasil akhir, bukan hanya proses.

Lebih jauh lagi, implementasi DDM secara efektif menciptakan "kembaran digital" (digital twin) dari jaringan jalan. Jaringan jalan tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan aset fisik yang statis, tetapi sebagai aset data yang dinamis dan hidup.1 Data yang terus mengalir dari berbagai sensor dapat dimasukkan ke dalam model prediksi untuk melakukan simulasi, meramalkan tingkat kerusakan di masa depan, dan mengoptimalkan strategi perawatan jangka panjang.1 Ini adalah perubahan paradigma fundamental: pengelola jalan tidak lagi hanya mengelola kerikil dan tanah, tetapi mereka mengelola sistem informasi. Potensi yang terbuka sangat besar, mulai dari optimisasi rute logistik berdasarkan kondisi jalan real-time hingga pembuatan keputusan investasi yang jauh lebih rasional, seperti kapan waktu yang tepat untuk meningkatkan jalan kerikil menjadi jalan beraspal ringan seperti Otta seal.1

 

Kritik Realistis: Jalan Terjal Menuju Modernisasi

Meskipun prospeknya sangat cerah, transisi menuju manajemen jalan berbasis data bukanlah tanpa hambatan. Penelitian ini secara jujur memaparkan sejumlah tantangan signifikan yang harus diatasi.

Hambatan terbesar adalah finansial. Biaya investasi awal untuk membeli peralatan canggih, mengembangkan perangkat lunak, dan melatih personel bisa sangat tinggi, terutama bagi pemerintah daerah atau komunitas kecil dengan anggaran yang sangat terbatas.1 Ini menciptakan sebuah paradoks yang ironis: pihak yang paling membutuhkan efisiensi dari teknologi ini justru yang paling tidak mampu untuk berinvestasi di dalamnya.

Selain itu, terdapat jurang yang lebar antara penelitian akademis yang menjanjikan dengan implementasi praktis di lapangan. Sebagian besar metode objektif yang dibahas dalam literatur masih berada pada tahap prototipe atau pengembangan konsep, dan belum siap untuk diadopsi secara massal.1 Keberhasilan adopsi juga sangat bergantung pada faktor non-teknis, seperti komitmen dari manajemen puncak dan kemauan politik untuk mengubah budaya kerja yang sudah mapan. Tanpa dukungan ini, proyek-proyek inovatif berisiko menjadi pajangan semata.1

Tantangan lain terletak pada data itu sendiri. Kualitas data yang buruk, ketiadaan data historis yang dapat diandalkan, serta isu privasi dan keamanan data (terutama dalam skema participatory sensing) merupakan rintangan teknis dan etis yang harus ditangani dengan serius.1

Namun, salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan dari penelitian ini adalah adanya kesenjangan geografis yang tajam dalam riset. Mayoritas penelitian (lebih dari 50%) terkonsentrasi di Amerika Utara (khususnya AS) dan Eropa Utara (khususnya Swedia), sementara publikasi dari Asia dan Amerika Selatan hampir tidak ditemukan.1 Ini bukan sekadar catatan akademis; ini adalah sinyal peringatan dini akan munculnya "kesenjangan digital infrastruktur" global. Negara-negara yang sudah maju dalam penelitian akan lebih cepat menuai manfaat ekonomi dari DDM, sementara negara-negara berkembang, yang ekonominya sangat bergantung pada jalan pedesaan, berisiko semakin tertinggal. Solusi yang dikembangkan di iklim Swedia mungkin tidak relevan untuk kondisi tropis di Indonesia tanpa adanya penelitian dan adaptasi lokal. Ketiadaan riset lokal akan menghambat lahirnya solusi yang sesuai, menciptakan siklus keterbelakangan infrastruktur yang sulit dipatahkan.

 

Peta Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Mulus

Tinjauan literatur ini melukiskan gambaran yang jelas: kita berada di titik krusial dalam sejarah pengelolaan infrastruktur. Kita telah bergerak dari mengabaikan jalan kerikil, menyadari kegagalan metode lama, menemukan solusi teknologi yang revolusioner, hingga memahami potensi dan tantangan yang menyertainya. Jalan ke depan menuntut lebih dari sekadar teknologi; ia menuntut kolaborasi.

Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah perlunya kemitraan yang lebih erat antara para peneliti, pemerintah di semua tingkatan, sektor swasta, dan masyarakat lokal.1 Kemitraan semacam ini adalah kunci untuk mengatasi hambatan biaya melalui skema pendanaan bersama, serta untuk memastikan bahwa solusi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Masa depan perawatan jalan kerikil tidak lagi terletak pada lebih banyak truk atau lebih banyak kerikil, tetapi pada data yang lebih cerdas. Dengan merangkul revolusi digital ini, kita memiliki kesempatan untuk mengubah jalanan yang terlupakan menjadi jaringan infrastruktur yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan. Jika diterapkan secara luas, pendekatan berbasis data ini berpotensi menghemat anggaran publik dalam jumlah masif dalam dekade mendatang, secara drastis mengurangi jejak karbon dari kegiatan perawatan infrastruktur, dan yang terpenting, membuka potensi ekonomi penuh bagi jutaan masyarakat pedesaan yang selama ini terhubung oleh jalanan yang rapuh.

 

Sumber Artikel:

Mbiyana, K., Kans, M., Campos, J., & Håkansson, L. (2022). Literature Review on Gravel Road Maintenance: Current State and Directions for Future Research. Transportation Research Record, 2677(5), 506–522. https://doi.org/10.1177/03611981221133102

Selengkapnya
Revolusi Sunyi di Jalanan Terlupakan: Penelitian Ini Mengungkap Masa Depan Perawatan Jalan Kerikil – dan Ini Dampaknya Bagi Kita Semua!

Sains & Teknologi

Anggaran Jalan Hanya 28%: Riset Ungkap Cara Cerdas Jawa Tengah Melawan Krisis Infrastruktur dengan Teknologi dan Gotong Royong

Dipublikasikan oleh Hansel pada 16 Oktober 2025


Infrastruktur jalan adalah urat nadi perekonomian sebuah bangsa. Ia mengalirkan barang, jasa, dan manusia, menentukan laju pertumbuhan, dan menjadi cerminan dari kemampuan sebuah pemerintahan dalam melayani warganya. Namun, di balik mulusnya aspal yang kita lalui setiap hari, tersimpan sebuah krisis senyap yang mengancam stabilitas ini. Sebuah penelitian terbaru dari Provinsi Jawa Tengah membongkar sebuah realita yang mengkhawatirkan: kesenjangan masif antara kebutuhan pemeliharaan jalan dan anggaran yang tersedia, sebuah bom waktu yang berpotensi melumpuhkan konektivitas regional. Namun, di tengah keterbatasan itu, riset ini juga mengungkap sebuah kisah inspiratif tentang inovasi, teknologi, dan kebangkitan semangat gotong royong modern sebagai jawabannya.

 

Krisis Senyap di Balik Aspal: Ketika Anggaran Tak Sanggup Lagi Menopang Jalanan Jawa Tengah

Setiap tahun, pemerintah dihadapkan pada tugas berat untuk menjaga ribuan kilometer jalan dalam kondisi prima. Tugas ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang perhitungannya didasarkan pada analisis teknis mendalam untuk memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan hasil maksimal. Di Jawa Tengah, sistem canggih bernama Planning, Programming, and Budgeting (P/KRMS) menjadi panduan utama dalam menentukan kebutuhan anggaran ideal ini.

Pada tahun 2023, sistem P/KRMS menghitung bahwa untuk menjaga seluruh jalan provinsi tetap dalam kondisi mantap, dibutuhkan dana pemeliharaan rutin sebesar $Rp\ 441.246.000.000,00$.1 Angka ini bukanlah angka yang fantastis, melainkan sebuah kalkulasi teknis yang presisi untuk menambal lubang, merapikan bahu jalan, dan memastikan drainase berfungsi baik—pekerjaan-pekerjaan kecil yang mencegah kerusakan besar.

Namun, data realisasi anggaran pada tahun yang sama menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hanya mampu mengalokasikan dana sebesar $Rp\ 125.686.108.000,00$.1 Artinya, hanya 28,48% dari kebutuhan ideal yang terpenuhi. Ini ibarat mencoba menjalankan sebuah mesin industri raksasa selama setahun penuh, tetapi hanya dibekali bahan bakar yang cukup untuk tiga bulan. Cepat atau lambat, mesin itu pasti akan melambat dan akhirnya berhenti.

Kesenjangan finansial yang kritis ini bukanlah sebuah kegagalan yang terjadi dalam satu tahun. Ia adalah puncak dari sebuah masalah alokasi anggaran yang bersifat sistemik dan kronis. Meskipun data menunjukkan adanya tren kenaikan nominal anggaran dari tahun ke tahun, peningkatannya tidak pernah sebanding dengan laju kerusakan dan kebutuhan ideal yang terus membengkak. Ini mengindikasikan adanya pertarungan prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), di mana pemeliharaan infrastruktur—sebuah pekerjaan krusial namun seringkali dianggap kurang "glamor"—kerap kali harus mengalah. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dalam laporan keuangan; ia adalah fondasi dari masalah yang lebih besar yang dirasakan langsung oleh jutaan warga setiap hari: penurunan kualitas layanan publik, ancaman keselamatan lalu lintas, dan terhambatnya kelancaran distribusi barang dan jasa.

 

Retak yang Semakin Lebar: Dampak Nyata Defisit Anggaran pada Kondisi Jalan Raya

Defisit anggaran yang mencapai lebih dari 70% tentu saja meninggalkan jejak yang nyata di atas aspal. Penelitian ini secara kuantitatif memotret bagaimana keterbatasan dana secara langsung menggerus kualitas jalan provinsi. Secara keseluruhan, tingkat kemantapan jalan—sebuah indikator kunci yang diukur menggunakan International Roughness Index (IRI)—mengalami penurunan sebesar 1,61% dari 92,49% pada tahun 2022 menjadi 90,88% pada tahun 2023.1

Sekilas, angka penurunan 1,61% mungkin terdengar kecil dan tidak signifikan. Namun, di balik angka agregat tersebut, tersembunyi sebuah krisis kualitas yang jauh lebih dalam dan mengkhawatirkan. Ketika data kondisi permukaan jalan dibedah lebih lanjut, sebuah cerita yang lebih dramatis terungkap. Pada tahun 2022, sebanyak 83,60% dari total panjang jalan provinsi berada dalam kondisi "Baik", kategori paling ideal yang menjamin kenyamanan dan keamanan pengguna. Namun, hanya dalam kurun waktu satu tahun, persentase ini anjlok secara drastis menjadi hanya 69,50% pada tahun 2023.1 Ini berarti Jawa Tengah kehilangan lebih dari 14 poin persentase dari aset jalan terbaiknya dalam waktu singkat.

Lalu, ke mana perginya jalan-jalan yang tadinya "Baik" ini? Mereka tidak langsung menjadi "Rusak Berat". Sebaliknya, mereka turun kelas ke kondisi "Sedang". Persentase jalan dalam kondisi "Sedang" membengkak lebih dari dua kali lipat, dari hanya 8,89% pada tahun 2022 menjadi 21,38% pada tahun 2023.1 Fenomena ini mengungkap sebuah strategi yang terpaksa diambil oleh pemerintah: menjaga agar jalan tidak sampai masuk kategori "Tidak Mantap" (dengan nilai IRI di atas 8), tetapi dengan mengorbankan kualitas premiumnya. Jalanan tidak lagi "Baik", melainkan hanya "cukup baik untuk sementara". Ini adalah strategi menunda bencana, bukan mencegahnya. Erosi kualitas masif yang terjadi dari dalam ini adalah sinyal peringatan bahwa sistem infrastruktur jalan provinsi sedang mendekati titik kritis, di mana perbaikan-perbaikan kecil tidak akan lagi cukup untuk membendung kerusakan yang lebih fundamental.

 

Suara Warga Menjadi Peta Digital: Inovasi "Jalan Cantik" sebagai Mata dan Telinga Pemerintah

Menghadapi tembok keterbatasan anggaran, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam. Mereka beralih ke salah satu sumber daya paling berharga namun seringkali terabaikan: partisipasi aktif warganya. Melalui pengembangan aplikasi "Jalan Cantik", pemerintah membuka kanal komunikasi langsung bagi masyarakat untuk melaporkan kerusakan jalan secara cepat dan akurat.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Data menunjukkan adanya ledakan partisipasi publik yang fenomenal. Jumlah laporan kerusakan jalan provinsi yang masuk melalui aplikasi "Jalan Cantik" meroket dari hanya 44 laporan sepanjang tahun 2022 menjadi 227 laporan pada tahun 2023.1 Ini adalah sebuah lompatan partisipasi sebesar 5,16 kali lipat hanya dalam satu tahun.

Lonjakan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: jika sebelumnya pemerintah hanya memiliki 44 pasang mata di lapangan yang tersebar di seluruh provinsi, kini mereka mendadak memiliki lebih dari 200 pasang mata tambahan yang secara sukarela dan tanpa biaya memetakan titik-titik kritis di jaringan jalan. Informasi yang masuk secara real-time ini memungkinkan tim perbaikan bekerja dengan presisi layaknya seorang ahli bedah, menargetkan sumber masalah sebelum menyebar luas. Aplikasi ini secara efektif mengubah model kerja pemerintah dari pemantauan terjadwal yang mahal dan lambat, menjadi sistem penentuan prioritas yang dinamis, efisien, dan berbasis bukti dari masyarakat.

Namun, lonjakan laporan ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia menunjukkan keberhasilan adopsi teknologi dan meningkatnya kesadaran publik. Di sisi lain, ia juga berfungsi sebagai proksi langsung dari meningkatnya tingkat kerusakan jalan dan frustrasi yang dirasakan warga. Korelasi waktu antara penurunan drastis kondisi jalan "Baik" dengan meroketnya jumlah laporan di aplikasi "Jalan Cantik" sangatlah kuat. Dengan demikian, aplikasi ini secara cerdas berhasil menjadi katup pengaman sosial, menyalurkan keluhan dan keresahan publik menjadi data konstruktif yang bisa ditindaklanjuti, sekaligus meredam potensi gejolak sosial yang lebih luas akibat infrastruktur yang buruk.

 

Tangan-Tangan Komunitas: "Mas BIMA" sebagai Pasukan Cepat Tanggap Gotong Royong Modern

Jika aplikasi "Jalan Cantik" adalah sistem saraf digital yang mendeteksi masalah, maka program "Mas BIMA" (Masyarakat Bina Marga) adalah tangan dan kaki yang bergerak untuk menyelesaikannya. Program ini adalah perwujudan cemerlang dari semangat gotong royong yang dilembagakan untuk menjawab tantangan infrastruktur modern. "Mas BIMA" adalah sebuah inisiatif padat karya yang merekrut warga lokal, seperti pekerja atau petani, untuk menjadi pasukan cepat tanggap di wilayah mereka.

Data menunjukkan bahwa program ini terus tumbuh dan diterima dengan baik di tingkat akar rumput. Jumlah anggota "Mas BIMA" menunjukkan tren peningkatan yang solid dan berkelanjutan:

  • Tahun 2021: 548 orang
  • Tahun 2022: 649 orang
  • Tahun 2023: 708 orang 1

Pasukan inilah yang menjadi ujung tombak di lapangan. Ketika sebuah laporan masuk melalui "Jalan Cantik", informasi tersebut diteruskan ke tim "Mas BIMA" terdekat. Mereka kemudian bergerak cepat untuk melakukan penanganan darurat, seperti menambal lubang-lubang kecil atau membersihkan saluran air yang tersumbat. Karena mereka adalah warga setempat yang mendedikasikan waktu luangnya, respons yang diberikan menjadi jauh lebih cepat dan efisien. Tidak perlu lagi menunggu mobilisasi alat berat dan tim dari kantor pusat yang memakan waktu dan biaya.

Lebih dari itu, "Jalan Cantik" dan "Mas BIMA" bukanlah dua program yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya membentuk sebuah ekosistem simbiosis yang saling menguatkan. Laporan digital dari "Jalan Cantik" menjadi "perintah kerja" yang jelas bagi tim "Mas BIMA". Kecepatan dan efektivitas respons dari "Mas BIMA" kemudian memvalidasi kegunaan aplikasi di mata publik, yang pada gilirannya mendorong lebih banyak warga untuk berpartisipasi dan melapor. Ini adalah sebuah model tata kelola hibrida yang secara brilian mengintegrasikan high-tech (aplikasi seluler) dengan high-touch (partisipasi komunitas), menciptakan sebuah siklus umpan balik positif di mana pemerintah dan warga menjadi mitra aktif dalam merawat aset bersama.

 

Sebuah Model Harapan dengan Catatan Kritis yang Realistis

Model yang dikembangkan di Jawa Tengah ini tidak diragukan lagi adalah sebuah terobosan. Di tengah himpitan fiskal, pemerintah berhasil menciptakan sebuah sistem yang tidak hanya efisien dalam menambal jalan, tetapi juga berhasil meningkatkan partisipasi publik, menumbuhkan rasa memiliki, dan bahkan memberdayakan ekonomi lokal melalui skema padat karya. Ini adalah sebuah cetak biru yang patut dipelajari oleh daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

Namun, model ini memiliki keterbatasan fundamental. Program "Mas BIMA" sangat efektif untuk menangani pemeliharaan rutin—tindakan-tindakan kecil dan reaktif seperti menambal lubang. Akan tetapi, mereka tidak dirancang dan tidak memiliki kapasitas untuk melakukan pemeliharaan periodik (seperti pelapisan ulang aspal satu ruas jalan) atau rehabilitasi struktural (perbaikan fondasi jalan), yang merupakan pekerjaan skala besar dan membutuhkan investasi modal yang signifikan. Tanpa pendanaan yang cukup untuk intervensi skala besar ini, strategi saat ini ibarat memberikan pertolongan pertama pada luka gores, sementara pendarahan internal pada struktur jalan terus berlanjut tanpa tertangani.

Risiko jangka panjangnya adalah terciptanya "utang pemeliharaan" (maintenance debt). Dengan hanya berfokus pada perbaikan permukaan yang bersifat reaktif, kerusakan struktural yang lebih dalam pada fondasi jalan akan terus terakumulasi dari tahun ke tahun. Suatu saat, kerusakan ini akan mencapai titik di mana penambalan sederhana tidak lagi berguna, dan jalan tersebut memerlukan rekonstruksi total yang biayanya bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada biaya pemeliharaan periodik yang seharusnya dilakukan. Oleh karena itu, solusi ini, meskipun sangat cerdas, secara inheren tidak berkelanjutan jika tidak diimbangi dengan komitmen politik untuk meningkatkan alokasi anggaran pemeliharaan secara signifikan di masa depan.

 

Visi ke Depan: Pelajaran dari Jawa Tengah untuk Masa Depan Infrastruktur Indonesia

Penelitian ini memberikan pelajaran yang sangat berharga. Ia menunjukkan bahwa di era keterbatasan, kreativitas dan kolaborasi dapat menjadi senjata paling ampuh. Jawa Tengah telah membuktikan bahwa kombinasi cerdas antara teknologi digital untuk pengumpulan data, partisipasi publik untuk pengawasan, dan pemberdayaan komunitas untuk eksekusi cepat dapat menjadi strategi pertahanan yang efektif dalam menghadapi krisis anggaran infrastruktur.

Model ini mentransformasi hubungan antara pemerintah dan warganya dari yang bersifat transaksional menjadi kemitraan sejati. Warga tidak lagi hanya menjadi pengguna pasif yang mengeluh, tetapi menjadi mitra aktif yang berkontribusi pada solusi. Ini adalah sebuah modal sosial yang tak ternilai harganya.

Jika model terintegrasi "Jalan Cantik" dan "Mas BIMA" ini dapat dipertahankan dan diperkuat dengan peningkatan alokasi anggaran secara bertahap untuk pemeliharaan periodik, temuan ini menunjukkan potensi untuk memperlambat laju kerusakan infrastruktur secara signifikan. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, strategi ini bisa menghemat triliunan rupiah biaya rekonstruksi total yang jauh lebih mahal, sambil membangun modal sosial dan kepercayaan publik yang menjadi fondasi bagi pembangunan berkelanjutan.

 

Sumber Artikel: 

Triyono, A. R., Hermani, W. T., Amrulloh, N. S., & Setyawan, A. (2024). Improved road performance through the implementation of routine road maintenance management system. Journal of Applied Engineering Science, 22(3).

Selengkapnya
Anggaran Jalan Hanya 28%: Riset Ungkap Cara Cerdas Jawa Tengah Melawan Krisis Infrastruktur dengan Teknologi dan Gotong Royong

Sains & Teknologi

Buku Ini Mengungkap Paradigma Baru Drainase Perkotaan – Solusi Tersembunyi untuk Mengakhiri Banjir Tahunan!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 16 Oktober 2025


Setiap kali langit menggelap dan hujan deras mengguyur, kota-kota di Indonesia seolah memasuki sebuah ritual tahunan yang melumpuhkan. Jalanan berubah menjadi sungai dadakan, lalu lintas membeku dalam kemacetan total, dan ribuan rumah terendam air keruh. Banjir bukan lagi sekadar bencana, melainkan sebuah keniscayaan musiman yang dampaknya merambat ke setiap sendi kehidupan: aktivitas ekonomi terhenti, kerugian materiil membengkak, dan ancaman penyakit mengintai di setiap genangan.1 Selama bertahun-tahun, kita menyaksikan triliunan rupiah digelontorkan untuk proyek-proyek pengendalian banjir—normalisasi sungai, pembangunan kanal, dan perbaikan saluran. Namun, mengapa ritual tahunan ini seolah tak pernah berakhir? Apakah kita hanya sibuk menambal gejala, tanpa pernah menyentuh akar penyakitnya?

Sebuah buku komprehensif berjudul Drainase Perkotaan, yang disusun oleh kolaborasi para akademisi dan praktisi rekayasa sipil, menawarkan sebuah jawaban yang radikal sekaligus mencerahkan. Buku ini bukan sekadar manual teknis, melainkan sebuah investigasi mendalam yang membongkar kegagalan filosofis dalam cara kita mengelola air di lingkungan perkotaan. Para penulisnya berargumen bahwa masalah banjir bukanlah sekadar kegagalan infrastruktur, melainkan kegagalan paradigma. Melalui analisis data dan kajian mendalam, buku ini tidak hanya membedah mengapa sistem yang ada selalu kalah, tetapi juga menyajikan sebuah peta jalan menuju solusi yang berkelanjutan, sebuah konsep yang bisa mengubah wajah kota kita selamanya.1

 

Mengapa Sistem Drainase Kita Seringkali Kalah Melawan Hujan? Membedah Paradigma yang Gagal

Untuk memahami mengapa banjir terus berulang, kita harus melihat filosofi yang mendasari sistem drainase konvensional yang diadopsi hampir di seluruh kota di Indonesia. Buku Drainase Perkotaan menjelaskan bahwa esensi dari paradigma lama ini sangat sederhana: "mengatuskan, mengeringkan, atau membuang air".1 Tujuannya adalah mengalirkan air hujan yang berlebih secepat mungkin dari permukaan tanah, masuk ke dalam saluran, dan membuangnya ke badan air terdekat seperti sungai atau laut. Di atas kertas, konsep ini terdengar logis. Namun, dalam praktiknya, pendekatan ini justru menjadi resep bencana di tengah laju urbanisasi yang tak terkendali.

Urbanisasi adalah musuh utama dari sistem ini. Setiap meter persegi lahan hijau yang diubah menjadi jalan aspal, lahan parkir beton, atau bangunan secara drastis mengubah siklus hidrologi alami. Lahan yang tadinya berfungsi sebagai spons alami, kini berubah menjadi permukaan kedap air (impervious surface) yang menolak air meresap ke dalam tanah.1 Buku ini melukiskan gambaran yang gamblang: sebuah taman hijau mungkin hanya melepaskan 10-20% air hujan sebagai aliran permukaan, sementara kawasan pusat bisnis yang didominasi beton dan aspal bisa menumpahkan lebih dari 90% air hujan langsung ke selokan. Ini berarti, setiap pembangunan mal atau jalan baru tanpa mitigasi adalah seperti membuka keran raksasa yang bebannya harus ditanggung oleh sistem drainase yang sama tuanya.1

Konsekuensinya, volume limpasan permukaan (runoff) meningkat secara eksponensial, jauh melampaui kapasitas saluran yang ada. Sistem yang dirancang puluhan tahun lalu kini harus menanggung beban air yang berkali-kali lipat lebih besar. Lebih buruk lagi, paradigma "buang secepatnya" ini pada dasarnya hanya memindahkan masalah. Air yang "berhasil" dialirkan dari kawasan perumahan elit di dataran yang lebih tinggi akan menjadi gelombang banjir bandang yang menerjang permukiman padat penduduk di wilayah hilir. Kita tidak menyelesaikan masalah, kita hanya mengekspornya ke tetangga kita.1

Ironisnya, sistem yang dirancang untuk mengatasi masalah kelebihan air ini secara tidak langsung menciptakan krisis lainnya. Dengan membuang air hujan—sumber daya air tawar yang berharga—langsung ke laut, kita mencegah proses pengisian ulang cadangan air tanah (groundwater recharge). Akibatnya, kota-kota kita menghadapi dua krisis sekaligus: krisis kelebihan air berupa banjir saat musim hujan, dan krisis kekurangan air yang memanifestasikan diri dalam bentuk kekeringan, penurunan muka air tanah, dan intrusi air laut saat musim kemarau. Banjir dan kekeringan bukanlah dua masalah terpisah; mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yaitu salah urus siklus air perkotaan yang fundamental.1

 

Revolusi Senyap di Bawah Tanah: Membedah Konsep Ecodrainage

Menghadapi kegagalan paradigma konvensional, buku Drainase Perkotaan memperkenalkan sebuah alternatif yang transformatif: Ecodrainage atau Drainase Ramah Lingkungan. Ini bukan sekadar perbaikan atau penambahan kapasitas saluran, melainkan sebuah perubahan filosofis yang mendasar. Konsep utamanya adalah membalik logika lama: alih-alih membuang air secepatnya, tujuannya adalah "meresapkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah secara alamiah" dan menahannya selama mungkin di lokasi ia jatuh.1

Filosofi baru ini memperlakukan air hujan sebagai aset berharga yang harus dikelola, bukan sebagai limbah yang harus diusir. Tujuannya adalah meniru siklus hidrologi alami di dalam lingkungan buatan kota. Jika drainase konvensional dapat diibaratkan sebagai jalan tol satu arah yang lurus menuju laut, maka Ecodrainage adalah sebuah jaringan kompleks yang terdiri dari "area peristirahatan", "kolam resapan", dan "stasiun pengisian ulang" yang memastikan setiap tetes air hujan diberi kesempatan untuk bermanfaat sebelum melanjutkan perjalanannya. Pendekatan ini berdiri di atas tiga pilar utama:

  1. Memperlambat Aliran: Menahan laju air hujan agar tidak secara serentak membebani sistem drainase hilir.
  2. Meresapkan ke Tanah: Mengembalikan air ke siklus alaminya dengan mengisi kembali akuifer atau cadangan air tanah.
  3. Memanfaatkan Kembali: Mengumpulkan dan menyimpan air hujan untuk digunakan sebagai sumber air alternatif, misalnya untuk menyiram tanaman atau kebutuhan non-potabel lainnya.1

Lebih dari sekadar rekayasa teknis, Ecodrainage pada hakikatnya adalah sebuah upaya desain perkotaan yang restoratif. Pembangunan kota modern telah menghilangkan fungsi-fungsi ekologis vital dari lanskap, seperti kemampuan lahan basah menyerap air atau peran hutan kota dalam mengatur siklus air. Ecodrainage bertujuan untuk merekayasa kembali fungsi-fungsi yang hilang tersebut ke dalam tatanan kota. Lubang biopori, misalnya, secara fungsional meniru aktivitas fauna tanah dalam menciptakan pori-pori untuk infiltrasi air. Kolam retensi berfungsi layaknya rawa atau danau kecil yang secara alami menampung luapan air. Dengan demikian, Ecodrainage adalah sebuah langkah ambisius untuk mendesain ulang kota agar dapat berfungsi kembali seperti ekosistem yang sehat, yang mampu mengatur dan menyembuhkan siklus airnya sendiri.1

 

Inovasi Cerdas untuk Kota Tahan Air: Dari Biopori hingga Sistem Polder

Buku ini memaparkan serangkaian "senjata" dalam arsenal Ecodrainage yang dapat diterapkan di berbagai skala, dari halaman belakang rumah hingga seluruh bentang kota. Setiap inovasi ini dirancang untuk bekerja secara sinergis, menciptakan sebuah sistem pertahanan air yang berlapis dan tangguh.

  • Sumur Resapan: Ini adalah solusi skala mikro yang dapat diterapkan di setiap bangunan. Konsepnya sederhana: air hujan yang jatuh di atap tidak dialirkan ke selokan, melainkan disalurkan melalui pipa ke sebuah sumur yang dirancang khusus untuk meresapkan air langsung ke dalam tanah. Setiap sumur resapan berfungsi seperti "rekening tabungan air" pribadi, "menyetorkan" air hujan yang berharga kembali ke dalam bumi untuk mengisi cadangan air tanah, alih-alih membiarkannya terbuang sia-sia.1
  • Lubang Resapan Biopori (LRB): Jika sumur resapan adalah solusi rekayasa, maka biopori adalah solusi yang terinspirasi dari alam. LRB adalah lubang-lubang silinder vertikal yang diisi dengan sampah organik. Sampah ini mengundang "pasukan" cacing tanah dan mikroorganisme untuk datang dan beraktivitas, menciptakan jejaring terowongan alami (biopori) di dalam tanah. Setiap lubang menjadi "pabrik kompos mini" yang tidak hanya mengelola sampah organik, tetapi juga secara dramatis meningkatkan kapasitas tanah untuk menyerap air. Ini adalah cara merekrut alam untuk membantu menggemburkan tanah kota yang padat dan keras.1
  • Kolam Retensi dan Detensi: Untuk skala yang lebih besar, buku ini menyoroti pentingnya kolam retensi dan detensi. Ini adalah "kantong-kantong pengaman" raksasa—bisa berupa taman kota yang didesain cekung atau danau buatan—yang tersebar di titik-titik strategis. Saat hujan deras, kolam ini berfungsi seperti danau sementara yang secara efektif "memotong puncak banjir". Gelombang air bah ditahan untuk sementara waktu, kemudian dilepaskan kembali secara perlahan ke sistem drainase setelah aliran di sungai utama mereda. Ini mencegah terjadinya luapan dahsyat yang seringkali menjadi penyebab utama banjir besar.1
  • Sistem Polder: Untuk kawasan pesisir atau dataran sangat rendah yang rentan terhadap banjir rob (pasang air laut), diperlukan solusi rekayasa tingkat lanjut. Sistem polder, yang terinspirasi dari keahlian Belanda selama berabad-abad, adalah jawabannya. Ini adalah sebuah "benteng pertahanan air" terpadu yang mengisolasi suatu area dengan tanggul keliling, dan mengelola ketinggian air di dalamnya menggunakan kombinasi pintu air dan stasiun pompa. Air hujan dikumpulkan di dalam polder dan dipompa keluar ke laut saat kondisi memungkinkan, mencegah air pasang masuk dan menahan air hujan agar tidak menggenang.1

Kekuatan utama dari pendekatan Ecodrainage terletak pada sifatnya yang modular dan terdesentralisasi. Berbeda dengan proyek kanal raksasa yang bersifat monolitik dan sentralistik, Ecodrainage adalah jaringan solusi yang terdistribusi. Sumur resapan dan biopori dapat dibuat oleh individu dan komunitas, sementara kolam retensi dan polder menjadi tanggung jawab pengembang dan pemerintah kota. Hal ini secara fundamental mengubah peran warga dari korban pasif banjir menjadi agen aktif dalam mitigasi. Keberhasilan sistem ini tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah berskala besar, tetapi pada akumulasi jutaan tindakan kecil yang dilakukan di seluruh penjuru kota.1

 

Sebuah Kritik Realistis dan Tantangan di Depan Mata

Meskipun menyajikan cetak biru yang menjanjikan, buku Drainase Perkotaan secara implisit juga mengakui bahwa transisi menuju Ecodrainage bukanlah jalan yang mudah. Ada tantangan-tantangan besar yang harus dihadapi, yang lebih bersifat sosio-politis ketimbang teknis.

Tantangan pertama adalah ketersediaan lahan. Di kota-kota yang sudah padat, menemukan ruang untuk membangun kolam retensi atau fasilitas penampungan air lainnya adalah sebuah kemewahan. Ini menuntut kreativitas dalam perencanaan tata ruang, seperti mengintegrasikan fungsi penampungan air ke dalam taman kota, lapangan olahraga, atau ruang terbuka hijau lainnya.

Kedua, biaya dan investasi. Meskipun solusi seperti biopori relatif murah, sistem yang lebih besar seperti polder atau kolam retensi membutuhkan investasi awal yang signifikan. Diperlukan komitmen anggaran jangka panjang dari pemerintah daerah, serta insentif bagi sektor swasta untuk turut berinvestasi.

Ketiga, dan mungkin yang paling krusial, adalah regulasi dan penegakan hukum. Konsep Ecodrainage hanya akan menjadi wacana jika tidak didukung oleh peraturan yang kuat dan penegakan yang tegas. Pemerintah kota harus mewajibkan setiap pembangunan baru—baik perumahan, komersial, maupun infrastruktur—untuk mengintegrasikan fasilitas Ecodrainage sebagai syarat mutlak perizinan. Tanpa "gigi" hukum yang tajam terhadap pelanggaran Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), alih fungsi lahan resapan akan terus terjadi.1

Terakhir, tantangan perubahan perilaku. Teknologi secanggih apa pun akan sia-sia jika saluran drainase masih dianggap sebagai tempat sampah raksasa. Mengubah kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan mendorong partisipasi aktif dalam pemeliharaan drainase lingkungan adalah perjuangan budaya jangka panjang yang membutuhkan edukasi berkelanjutan.1 Tantangan terbesar mungkin bukan terletak pada aspek teknis yang telah diuraikan dengan baik dalam buku ini, melainkan pada kemauan politik dan kohesi sosial untuk melaksanakannya secara konsisten.

 

Membangun Kota sebagai Spons, Bukan Talang Air

Buku Drainase Perkotaan pada akhirnya menyampaikan sebuah pesan yang kuat dan mendesak: kita harus berhenti membangun kota kita sebagai "talang air" raksasa dari beton yang dirancang hanya untuk membuang air. Sebaliknya, kita harus mulai membangunnya sebagai "spons" hidup yang cerdas, yang mampu menyerap, menyimpan, dan beradaptasi dengan siklus air alami.

Solusi atas krisis banjir tahunan tidak terletak pada pembangunan saluran yang lebih besar dan lebih mahal, yang pada akhirnya hanya akan memindahkan masalah ke tempat lain. Solusinya terletak pada pergeseran paradigma fundamental menuju Ecodrainage—sebuah pendekatan yang menghormati air sebagai sumber kehidupan, bukan sebagai ancaman.

Jika diterapkan secara komprehensif, pendekatan yang diuraikan dalam buku ini berpotensi tidak hanya mengurangi frekuensi dan dampak banjir tahunan secara signifikan, tetapi juga meningkatkan ketahanan air kota dalam menghadapi musim kemarau yang semakin kering. Ini adalah sebuah investasi ganda yang cerdas: melindungi kota dari kelebihan air hari ini, sambil memastikan ketersediaan air yang cukup untuk hari esok. Ini adalah jalan menuju kota yang tidak hanya lebih aman, tetapi juga lebih sehat, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang.

 

Sumber Artikel:

Saidah, H., Nur, N. K., Rangan, P. R., Mukrim, M. I., Tamrin, Miswar Tumpu, Nanda, A. R., Jamal, M., Mansida, A., & Sindagamanik, F. D. (2021). Drainase Perkotaan. Yayasan Kita Menulis.

Selengkapnya
Buku Ini Mengungkap Paradigma Baru Drainase Perkotaan – Solusi Tersembunyi untuk Mengakhiri Banjir Tahunan!
« First Previous page 9 of 11 Next Last »