Matematika

Pemodelan Matematika: Seni Menyederhanakan Dunia Nyata Tanpa Menghilangkan Maknanya

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026


1. Pendahuluan

Di kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan masalah yang terasa terlalu kompleks untuk dipahami sekaligus. Perubahan harga, kemacetan, penyebaran penyakit, perilaku konsumen, stabilitas bangunan, bahkan pola aliran fluida di dalam pipa industri. Kita bisa melihat gejalanya, merasakan dampaknya, tetapi sering kesulitan menjawab pertanyaan paling penting: apa penyebab utamanya, dan apa yang seharusnya kita lakukan?

Orasi ilmiah Prof. Agus Yodi Gunawan menawarkan cara berpikir yang terasa sederhana namun sebenarnya sangat kuat: ketika dunia nyata terlalu rumit, kita tidak harus memahaminya dalam bentuk “aslinya”. Kita bisa membuat model.

Model, dalam pengertian yang dipakai Prof. Agus, adalah sesuatu yang meniru atau menjiplak ciri-ciri relevan dari suatu fenomena. Model adalah simplifikasi atau idealisasi dari realitas yang kompleks.

Kalimat ini terlihat teknis, tetapi dampaknya sangat praktis. Karena banyak orang salah paham tentang model.

Sebagian orang menganggap model harus benar-benar identik dengan kenyataan. Jika tidak identik, model dianggap salah. Sebagian lain menganggap model makin rumit berarti makin hebat. Seolah model yang penuh persamaan lebih “ilmiah” dibanding model yang sederhana.

Orasi Prof. Agus mematahkan dua ekstrem itu.

Model tidak boleh terlalu kasar, karena kalau terlalu kasar ia tidak mampu menjelaskan fenomena secara akurat. Tetapi model juga tidak boleh terlalu halus sampai menjadi formula rumit yang tidak bisa diselesaikan. Model harus tetap membawa esensi persoalan yang ingin diselesaikan. Dalam orasi, prinsip ini disebut dengan kalimat yang sangat mudah diingat: keep it short, simple, but meaningful.

Ini cara pandang yang penting, terutama untuk mahasiswa dan pekerja.

Mahasiswa sering terdorong membuat model yang canggih demi terlihat pintar. Pekerja sering terdorong menghindari model karena takut rumit. Orasi ini mengajarkan bahwa model yang baik tidak bergantung pada “kesulitan matematikanya”, tetapi pada ketepatan memilih apa yang penting dan apa yang bisa diabaikan.

Prof. Agus juga menegaskan posisi model dalam ilmu pengetahuan melalui tiga fungsi utama:

  1. model mampu menggambarkan fenomena yang diamati

  2. model mampu menjelaskan mengapa fenomena terjadi

  3. model mampu memprediksi perilaku yang belum terlihat atau belum terukur

Dari sini, pemodelan matematika menjadi bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi alat berpikir untuk mengambil keputusan.

Dan karena dunia industri serta kehidupan modern semakin bergantung pada pengambilan keputusan cepat, pemodelan menjadi semakin relevan. Bukan untuk menggantikan kenyataan, tetapi untuk membuat kenyataan bisa dikelola.

 

2. Siklus Pemodelan Matematika: Dari Observasi sampai Verifikasi, Lalu Kembali Lagi

Bagian yang paling membantu dalam orasi Prof. Agus adalah penjelasan tentang siklus pemodelan matematika.

Banyak orang mengira pemodelan itu sederhana: ambil data, masukkan rumus, keluar hasil. Padahal pemodelan adalah proses berulang. Ia bukan jalur lurus, tetapi siklus yang terus disempurnakan.

Prof. Agus memaparkan bahwa siklus pemodelan dimulai dari observasi, lalu menduga hubungan sementara antar faktor yang terlibat, misalnya memakai hukum atau kaidah saintifik yang sudah ada seperti Hukum Newton.

Setelah itu, modeler melakukan tahap yang paling menentukan: memberikan asumsi dan melakukan simplifikasi.

Tahap ini sering dipandang “mengurangi kenyataan”, padahal justru ini yang membuat model menjadi berguna. Tanpa asumsi, kita akan berusaha meniru dunia apa adanya, dan itu biasanya tidak bisa diselesaikan atau tidak bisa dianalisis.

Tahap berikutnya adalah menerapkan analisis matematis. Dalam orasi disebutkan bahwa di tahap ini sering digunakan metode untuk mereduksi model, salah satunya analisis dimensi.

Kemudian model diselesaikan, dan hasil matematisnya ditafsirkan kembali ke konteks fenomena. Ini bagian yang sering membuat pemodelan gagal, karena hasil yang benar secara matematis tidak otomatis benar secara interpretasi. Setelah itu, tahap berikutnya adalah verifikasi: membandingkan model dengan perilaku nyata, lalu memperbaiki model dengan mengubah atau meniadakan asumsi, memvariasikan parameter, atau memasukkan variabel lain. Proses ini dilakukan terus sampai diperoleh model yang cukup merepresentasikan apa yang diamati.

Siklus ini menegaskan satu hal: pemodelan itu belajar. Model tidak lahir sempurna. Model lahir dari percobaan, koreksi, dan kompromi antara dunia nyata dan dunia matematika. Prof. Agus juga menyampaikan satu pesan yang cukup tajam untuk pendidikan matematika: mempelajari pemodelan matematika berbeda dengan mempelajari matematika itu sendiri. Pemodelan tidak cukup dipelajari lewat teori; pemodelan hanya bisa dikuasai lewat praktik langsung.

Ini relevan untuk mahasiswa yang sering terbiasa dengan soal yang jawabannya sudah jelas. Pemodelan melatih mahasiswa menghadapi masalah yang jawabannya tidak tersedia di buku, dan jalan menuju jawabannya pun harus dibangun sendiri.

Orasi ini bahkan memberi contoh perkembangan pembelajaran pemodelan di Program Studi Sarjana Matematika ITB. Awalnya pendekatan masih bersifat textbook problem. Lalu sejak 2000-an, pendekatannya berubah menjadi problem solving activity, di mana mahasiswa bekerja dalam kelompok kecil dan setiap kelompok punya proyek modelnya sendiri.

Ada detail yang menarik: setiap semester diperlukan sekitar 20–25 topik pemodelan, dan pengampu mata kuliah sering harus mencari topik dari kolega di luar matematika. Ini menunjukkan bahwa pemodelan selalu butuh kedekatan dengan masalah nyata, dan masalah nyata sering berada di luar batas disiplin matematika murni.

Dengan kata lain, pemodelan mengajarkan kolaborasi. Di sinilah pemodelan matematika menjadi latihan untuk dunia kerja: berkomunikasi lintas disiplin, menangkap kebutuhan nyata, lalu menerjemahkannya menjadi struktur matematis yang bisa dihitung dan diuji.

 

3. Matematika Industri: Ketika Matematika Tidak Lagi Sekadar Abstraksi, Tapi Menjadi Alat Produksi Keputusan

Salah satu bagian paling penting dari orasi Prof. Agus Yodi Gunawan adalah ketika ia membawa pemodelan matematika keluar dari ruang kelas, lalu menempatkannya di ruang yang lebih “keras” dan lebih penuh tuntutan: industri.

Di kampus, model sering dinilai dari apakah persamaannya benar, apakah solusi matematisnya elegan, atau apakah metodenya sesuai teori. Tetapi di industri, model dinilai dari satu hal yang lebih pragmatis: apakah model itu membantu mengambil keputusan.

Di sinilah Prof. Agus memperkenalkan konsep matematika industri dan membedakan tiga istilah yang terdengar mirip, tetapi sebenarnya punya nuansa berbeda:

  1. mathematics in industry

  2. mathematics for industry

  3. mathematics inspired by industry

Perbedaan ini penting karena ia menjelaskan tiga jalur hubungan matematika dengan dunia nyata.

Mathematics in industry menggambarkan matematika yang digunakan langsung dalam proses industri. Ia bisa berupa optimasi produksi, peramalan kebutuhan, kontrol kualitas, atau pemodelan operasi yang harus jalan setiap hari. Di tahap ini, matematika adalah alat kerja.

Mathematics for industry menggambarkan matematika yang dikembangkan untuk menyelesaikan masalah industri tertentu. Ia biasanya muncul ketika industri membutuhkan solusi yang lebih spesifik, yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan metode standar. Di sini, matematika bekerja sebagai penyedia solusi.

Mathematics inspired by industry menggambarkan matematika yang muncul karena masalah industri memunculkan pertanyaan ilmiah baru yang menarik. Di sini, industri bukan hanya “pemakai matematika”, tetapi sumber inspirasi lahirnya teori baru. Matematika bergerak dari kebutuhan praktis menuju kontribusi ilmiah yang lebih luas.

Pembagian ini memberi dampak yang cukup besar bagi cara kita memahami riset terapan.

Karena sering ada kesalahpahaman bahwa riset terapan hanya “mengikuti kebutuhan industri” dan riset dasar hanya “murni akademik”. Padahal orasi ini menunjukkan bahwa jalurnya saling berputar: masalah industri bisa melahirkan teori baru, dan teori baru bisa kembali menjadi alat industri.

Bagian ini juga menguatkan pesan inti orasi Prof. Agus tentang model: model tidak harus sempurna, tetapi harus meaningful. Dalam konteks industri, model yang meaningful adalah model yang menyederhanakan realitas tanpa menghilangkan fitur utama yang menentukan keputusan.

Dan yang membuat pemodelan industri sulit adalah sifat industrinya sendiri: realitas industri selalu bergerak. Parameter berubah. Kondisi operasi berubah. Kompromi biaya–kualitas selalu menekan. Maka, model industri harus adaptif dan tidak boleh hanya “benar sekali lalu selesai”.

Pada titik ini, pemodelan matematika terlihat sebagai skill profesional yang penting:

  • menangkap masalah nyata

  • memilih variabel yang relevan

  • membuat asumsi yang masuk akal

  • menghasilkan solusi yang bisa dipakai

  • lalu merevisi model ketika realitas berubah

Modeler yang baik bukan yang paling hebat membuat persamaan, tetapi yang paling jujur memahami apa yang bisa dan tidak bisa dimodelkan.

 

4. Dua Contoh Riset Prof. Agus: Kestabilan Benang Polimer dan Pelepasan Bulir Minyak dari Batuan

Bagian studi kasus dalam orasi Prof. Agus menunjukkan bagaimana prinsip “keep it short, simple, but meaningful” benar-benar dipakai. Dua contoh yang dipilih tidak hanya menjelaskan teori, tetapi menunjukkan bagaimana pemodelan bekerja dalam dunia yang punya material, gaya, gesekan, dan dinamika kompleks.

4.1 Kestabilan Benang Polimer: ketika produksi serat dipengaruhi instabilitas kecil

Kasus pertama yang dipaparkan Prof. Agus adalah tentang kestabilan benang polimer. Ini terdengar teknis, tetapi idenya mudah dipahami: dalam proses industri tertentu, polimer diproses menjadi benang atau serat. Tetapi dalam proses itu, benang bisa menjadi tidak stabil.

Ketidakstabilan ini mungkin terlihat seperti masalah kecil, tetapi dalam proses produksi, instabilitas kecil bisa berujung pada kualitas produk yang turun, produksi terhenti, atau cacat yang merugikan.

Dalam konteks pemodelan, tantangannya adalah memilih fitur utama yang menyebabkan instabilitas. Dunia nyata punya banyak variabel: viskositas, tegangan permukaan, temperatur, kecepatan tarik, dan faktor material lainnya. Tetapi model harus memilih mana yang dominan.

Di sinilah pemodelan memainkan perannya: mengubah proses fisik yang kompleks menjadi sistem matematika yang cukup sederhana untuk dianalisis, namun tetap menyimpan esensi ketidakstabilan yang ingin dipahami.

Orasi ini memposisikan pemodelan sebagai cara untuk memahami kapan proses stabil dan kapan proses mulai “bergetar”, sehingga industri punya dasar keputusan untuk mengatur parameter operasi.

4.2 Surfaktan dan Pelepasan Bulir Minyak dari Batuan: model dua fasa dalam konteks energi

Kasus kedua terasa lebih dekat dengan isu strategis Indonesia: minyak, batuan, dan upaya meningkatkan perolehan minyak dari reservoir.

Prof. Agus memaparkan studi tentang peran surfaktan dalam pelepasan bulir minyak dari batuan, dan di sini pemodelan masuk ke wilayah aliran dua fasa: minyak dan air.

Konsep surfaktan sendiri cukup dikenal: surfaktan adalah molekul yang dapat menurunkan tegangan antarmuka. Dalam konteks minyak dan air, surfaktan dapat mempermudah minyak yang “menempel” di batuan untuk terlepas dan ikut terbawa aliran. Namun dalam kenyataan, proses ini tidak sederhana. Ada geometri pori batuan, ada gaya kapiler, ada gesekan, ada perubahan sifat fluida. Maka, pemodelan dibutuhkan untuk memetakan mekanisme dominan: kapan bulir minyak terlepas, kapan ia tetap terperangkap, dan bagaimana perubahan parameter memengaruhi hasil.

Di sinilah pemodelan matematika memberi nilai praktis yang jelas. Industri energi tidak bisa mencoba semua skenario secara fisik karena mahal. Tetapi dengan model, sebagian eksplorasi bisa dilakukan lebih cepat, lebih murah, dan lebih terarah. Dengan kata lain, model menjadi alat untuk mengurangi trial and error yang mahal, tanpa menghilangkan akurasi berpikir.

Bagian dua contoh riset ini memperlihatkan kekuatan utama pemodelan industri:

  • masalahnya nyata, bukan sekadar latihan

  • parameter dan variabelnya bisa banyak, tapi model harus memilih yang penting

  • hasilnya bukan angka kosong, tetapi peta stabilitas dan peta strategi

  • model menjadi alat pengambilan keputusan, bukan sekadar hasil persamaan

Dan ini menghubungkan kembali ke pesan utama orasi: pemodelan bukan soal membuat dunia kecil, tetapi soal membuat dunia bisa dimengerti dan diintervensi.

 

5. Pembelajaran Pemodelan untuk Mahasiswa dan Pekerja: Ini Bukan Skill Hitung, tapi Skill Berpikir

Setelah melihat siklus pemodelan dan dua contoh riset yang berakar pada kebutuhan industri, satu pelajaran besar mulai terlihat: pemodelan matematika bukan sekadar cabang matematika, tetapi cara berpikir yang bisa dipakai di hampir semua bidang.

Prof. Agus Yodi Gunawan menekankan bahwa mempelajari pemodelan matematika berbeda dari mempelajari matematika itu sendiri, karena pemodelan tidak cukup dipahami dari teori. Pemodelan hanya bisa dikuasai lewat praktik.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh problem pendidikan yang sangat umum.

Mahasiswa sering terbiasa dengan soal yang sudah rapi, jawaban yang sudah pasti, dan metode yang sudah ditentukan. Dunia kerja tidak seperti itu. Dunia kerja penuh masalah yang “belum berbentuk”: datanya belum lengkap, variabelnya belum jelas, dan tujuannya bisa berubah tergantung kebutuhan organisasi.

Pemodelan melatih mahasiswa untuk menghadapi situasi itu.

5.1 Belajar membuat asumsi yang jujur

Asumsi adalah bagian yang paling sering dipandang negatif, seolah asumsi berarti “mengarang”. Padahal dalam pemodelan, asumsi adalah alat untuk memilih fokus.

Tanpa asumsi, kita mencoba meniru dunia nyata secara penuh, dan biasanya model menjadi terlalu rumit atau tidak bisa diselesaikan. Prof. Agus menekankan bahwa model tidak boleh terlalu kasar, tetapi juga tidak boleh terlalu halus. Ia harus tetap meaningful. Prinsip ini dirangkum dengan kalimat keep it short, simple, but meaningful.

Mahasiswa yang bisa membuat asumsi yang jujur adalah mahasiswa yang memahami persoalan secara matang. Ia tahu apa yang penting dan apa yang bisa disederhanakan.

Dan pekerja yang bisa membuat asumsi yang jujur adalah pekerja yang bisa menghemat waktu dan biaya dalam pengambilan keputusan, karena ia tidak terjebak pada keinginan memodelkan segala hal secara berlebihan.

5.2 Belajar membangun model sebagai proses iteratif, bukan sekali jadi

Orasi Prof. Agus menunjukkan bahwa pemodelan adalah siklus: observasi, formulasi, penyelesaian, interpretasi, verifikasi, lalu kembali memperbaiki.

Dalam praktik profesional, ini adalah pola pikir yang sangat penting.

Banyak orang takut mencoba karena ingin hasil sempurna sejak awal. Pemodelan justru mengajarkan kebalikannya: buat model awal yang cukup masuk akal, uji, lalu perbaiki.

Di dunia industri, kemampuan iterasi cepat ini sering lebih bernilai daripada kemampuan membuat model rumit yang selesai terlambat.

5.3 Belajar komunikasi lintas disiplin

Salah satu detail yang paling “membumi” dalam orasi ini adalah cerita pembelajaran pemodelan di ITB sejak 2000-an. Setiap semester dibutuhkan sekitar 20–25 topik pemodelan, dan dosen sering mencari topik dari kolega di luar matematika.

Ini menggambarkan kenyataan penting: pemodelan tidak pernah hidup sendirian di matematika. Pemodelan selalu mengambil masalah dari luar, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa matematika, lalu mengembalikan hasilnya ke dunia nyata.

Maka pemodelan melatih soft skill yang sangat relevan bagi mahasiswa dan pekerja:

  • bertanya ke orang bidang lain untuk memahami konteks

  • mendefinisikan masalah dengan bahasa yang bisa disepakati

  • menjelaskan hasil model tanpa membuat orang merasa “dihakimi matematika”

Komunikasi adalah bagian dari model. Tanpa komunikasi, model hanya jadi angka.

5.4 Belajar bahwa matematika bisa menjadi mesin keputusan, bukan sekadar mesin pembuktian

Dua contoh riset yang dipaparkan—kestabilan benang polimer dan pelepasan bulir minyak dari batuan dengan surfaktan—menunjukkan bahwa pemodelan dapat dipakai untuk mengurangi trial and error yang mahal.

Dalam dunia industri, ini adalah nilai yang nyata. Keputusan produksi, kontrol kualitas, hingga optimasi operasi memerlukan cara berpikir berbasis bukti dan prediksi. Model membantu menjembatani situasi ketika eksperimen fisik terlalu mahal atau terlalu lama.

Maka pemodelan matematika bukan hanya “ilmu”, tetapi juga strategi efisiensi.

 

6. Kesimpulan: Pemodelan Matematika adalah Seni Memilih yang Penting dalam Dunia yang Terlalu Kompleks

Orasi Prof. Agus Yodi Gunawan membawa kita pada pemahaman yang sangat relevan untuk dunia modern: kita tidak kekurangan data, kita kekurangan cara mengubah data menjadi keputusan.

Pemodelan matematika menjadi salah satu cara paling kuat untuk menjembatani masalah itu. Model adalah simplifikasi atau idealisasi dari fenomena nyata yang kompleks, dan model yang baik harus cukup sederhana untuk diselesaikan, tetapi tetap mempertahankan esensi persoalan. Prinsipnya jelas: keep it short, simple, but meaningful.

Orasi ini menekankan bahwa model memiliki fungsi untuk menggambarkan fenomena, menjelaskan mengapa ia terjadi, dan memprediksi apa yang mungkin terjadi. Dengan demikian, model bukan hanya alat akademik, tetapi alat berpikir yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

Siklus pemodelan yang dipaparkan menunjukkan bahwa pemodelan bukan proses linear, tetapi iteratif: model dibuat, diuji, diverifikasi, lalu diperbaiki sampai cukup merepresentasikan realitas. Di sisi pendidikan, pemodelan tidak cukup dipelajari lewat teori, tetapi harus dilatih melalui praktik pemecahan masalah yang nyata, yang sering menuntut kolaborasi lintas disiplin.

Ketika dibawa ke industri, pemodelan menjadi semakin strategis. Orasi ini membedakan mathematics in industry, mathematics for industry, dan mathematics inspired by industry, yang menunjukkan bahwa hubungan matematika dan industri dapat berjalan dari penggunaan langsung hingga lahirnya teori baru.

Dua studi kasus yang dipaparkan—kestabilan benang polimer dan peran surfaktan dalam pelepasan bulir minyak dari batuan—menegaskan bahwa pemodelan bukan sekadar teori abstrak, tetapi alat untuk memahami mekanisme, memetakan kondisi stabil dan tidak stabil, serta mengurangi trial and error dalam sistem yang mahal.

Bagi mahasiswa, orasi ini mengajarkan bahwa kemampuan matematika paling penting bukan hanya kemampuan menghitung, tetapi kemampuan mendefinisikan masalah, membuat asumsi yang jujur, dan menafsirkan hasil dengan tepat. Bagi pekerja, orasi ini menunjukkan bahwa pemodelan adalah alat efisiensi: membantu organisasi membuat keputusan lebih cepat, lebih hemat, dan lebih rasional.

Pada akhirnya, pemodelan matematika adalah seni memilih yang penting dalam dunia yang terlalu kompleks—agar kompleksitas itu tidak melumpuhkan kita, tetapi bisa kita pahami dan kendalikan.

 

 

Daftar Pustaka

Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Agus Yodi Gunawan: Pemodelan Matematika. 2024.

Giordano, F. R., Fox, W. P., & Horton, S. B. A First Course in Mathematical Modeling. Brooks/Cole.

Bender, E. A. An Introduction to Mathematical Modeling. Dover Publications.

SIAM. Mathematics in Industry: Case Studies and Best Practices. (diakses 2026).

OECD. The Role of Mathematical Modelling in Policy and Industrial Decision-Making. (diakses 2026).

Selengkapnya
Pemodelan Matematika: Seni Menyederhanakan Dunia Nyata Tanpa Menghilangkan Maknanya

Kesehatan Digital & Inovasi Medis

Biologi Sel, Imunitas, dan Perang Melawan Kanker: Mengapa Sel Kanker “Pintar tapi Licik” dan Cara Sains Membongkar Strateginya

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026


1. Pendahuluan

Kita sering membayangkan kanker sebagai satu penyakit tunggal. Seolah kanker adalah “benda” yang tiba-tiba muncul dan harus dibuang. Padahal dalam orasi ilmiah Prof. Marselina Irasonia Tan, kanker diposisikan sebagai peristiwa biologis yang jauh lebih kompleks: sebuah sistem yang muncul ketika kendali seluler runtuh, lalu sel yang abnormal belajar bertahan hidup dengan cara yang tidak normal.

Orasi ini dibangun dengan pendekatan yang terasa seperti membuka lapisan-lapisan misteri. Dimulai dari unit terkecil tubuh manusia, yaitu sel, lalu bergerak ke bagaimana kelainan pada sistem di dalam sel bisa mengarah pada pembelahan yang tidak terkontrol dan akhirnya menjadi kanker. Dalam tubuh manusia sendiri, jumlah sel diperkirakan mencapai 3 hingga 4 miliar sel. Sel-sel itu ada yang diam seperti sel punca quiescent, ada yang aktif membelah, dan ada yang sudah terdiferensiasi. Semua kondisi ini seharusnya berada dalam kontrol yang ketat.

Kanker muncul ketika kontrol itu dilanggar.

Yang menarik, Prof. Marselina tidak menggambarkan sel kanker sebagai sekadar “sel rusak”. Ia menggambarkannya sebagai sel yang cerdas dalam arti biologis, tetapi licik. Sel kanker memanfaatkan kondisi di sekitarnya, melanggar aturan normal, memaksa diri untuk terus membelah, menumpuk mutasi, dan membuat genomnya semakin tidak stabil. Bahkan sel yang menua dan normalnya tidak membelah lagi, dalam konteks kanker bisa kembali membelah.

Orasi ini juga menegaskan bahwa kanker bukan hanya tentang sel tunggal yang membelah. Kanker adalah sistem yang membangun dukungan untuk dirinya sendiri. Misalnya, kanker dapat mengubah metabolisme agar lebih menguntungkan pertumbuhannya, membentuk pembuluh darah baru (angiogenesis) agar nutrisi terus tersedia, dan memanfaatkan sistem imun—bahkan sampai bisa “kabur” dari sistem imun.

Di titik ini, kanker terasa seperti entitas yang tidak hanya bertumbuh, tetapi juga beradaptasi.

Namun inti dari orasi Prof. Marselina bukan membuat kita takut pada kanker. Intinya adalah menunjukkan bahwa sains memiliki cara untuk menelusuri penyebab dan mekanisme kanker secara lebih tajam, melalui biologi sel, imunologi, dan pendekatan molekuler.

Prof. Marselina membagi orasinya menjadi dua fokus utama riset yang saling menguatkan:

  1. riset pencegahan kanker dan faktor penyebabnya

  2. riset pengembangan terapi melalui vaksin (termasuk pengembangan kandidat vaksin COVID-19 sebagai contoh kekuatan platform imunologi)

Cara pembagian ini penting karena menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kanker bukan hanya satu lini. Ia adalah kombinasi antara memahami akar masalah, mengenali faktor risiko, menemukan biomarker, dan mengembangkan intervensi imunologis.

Dan dari sini, narasi bergerak ke pertanyaan yang lebih spesifik: apa saja faktor yang membuat kanker bisa berkembang?

 

2. Penyebab Kanker: Faktor Eksternal, Faktor Internal, dan Jalur yang Membentuk “Kesempatan” Sel Kanker

Salah satu bagian paling jelas dalam orasi ini adalah pemetaan penyebab kanker menjadi dua kategori besar: faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal meliputi patogen, pola hidup, dan lingkungan. Faktor-faktor ini pada akhirnya memengaruhi kondisi genetik dan epigenetik sel. Poin pentingnya adalah: kanker jarang muncul karena satu sebab tunggal. Kanker tumbuh di persimpangan banyak sebab, dan sebab itu membentuk “kesempatan biologis” bagi sel untuk mulai melanggar aturan.

Untuk memperjelas, Prof. Marselina memaparkan beberapa contoh yang terasa dekat dengan kehidupan modern.

2.1 Pola hidup: makanan tinggi lemak dan jalur estrogen pada kanker payudara

Orasi ini menyoroti bahwa konsumsi makanan tinggi lemak yang berlebihan dan terus-menerus dapat memengaruhi kadar estrogen. Estrogen disebut sebagai salah satu pemicu (mitogenik) karena mampu menginduksi pembelahan sel. Dalam konteks kanker payudara, estrogen bisa menjadi pendorong perkembangan sel abnormal menuju keganasan.

Tetapi narasi tidak berhenti di situ. Yang menarik adalah bagaimana lingkungan mikro di sekitar sel ikut menentukan apakah estrogen “leluasa” bekerja atau tidak.

Prof. Marselina menjelaskan bahwa kolagen tipe 4 merupakan komponen yang membentuk membran basal, dan seiring bertambahnya usia, kolagen ini menipis. Kondisi ini ikut menjelaskan mengapa risiko kanker meningkat seiring usia.

Dalam eksperimen yang dipaparkan, kolagen sebagai komponen utama ternyata dapat menghambat peran estrogen dalam menginduksi perkembangan kanker, salah satunya melalui penekanan ekspresi gen CRB2.

Secara analitis, ini membuat kita melihat kanker sebagai interaksi ganda: bukan hanya hormon dan reseptor, tetapi juga matriks ekstraseluler yang membentuk “pagar” atau “jalan bebas” bagi sinyal proliferasi.

2.2 Patogen: HPV16, hipoksia, dan cara kanker serviks menghindari imunitas

Faktor eksternal berikutnya adalah patogen. Prof. Marselina menyoroti HPV (Human Papillomavirus), terutama HPV16, yang dikenal berperan dalam kanker serviks.

Dalam penelitian yang dipaparkan, sel keratinosit ditransfeksi dengan salah satu komponen HPV16, lalu diamati dampaknya pada sistem imun epitel. Hasilnya menunjukkan bahwa HPV16 dapat menurunkan ekspresi interleukin-1 beta (IL-1β), sebuah komponen imun yang penting untuk menghadapi patogen.

Orasi ini juga membawa kita pada konsep yang penting dalam kanker: kondisi oksigen jaringan.

Di daerah serviks terdapat area normoksia (cukup oksigen) dan hipoksia (kekurangan oksigen). Virus dapat memanfaatkan kondisi hipoksia karena sel-sel di daerah hipoksia lebih mampu bertahan, dan situasi ini membantu virus menekan ekspresi IL-1β sehingga sel kanker bisa menghindari sistem imun.

Bagian ini memperlihatkan cara kerja kanker dan virus sebagai “partner biologis” yang memanfaatkan kelemahan lingkungan tubuh.

2.3 Faktor internal: gen, epigenetik, dan jalur sinyal yang mempercepat proliferasi dan metastasis

Selain faktor eksternal, orasi ini juga menampilkan faktor internal yang lebih “molekuler”: gen dan epigenetik.

Prof. Marselina memaparkan beberapa penelitian terkait gen yang terlibat dalam perkembangan kanker, termasuk kanker ovarium. Salah satu temuan yang dibahas adalah GPCR55, reseptor membran yang teraktivasi oleh LPI (lysophosphatidylinositol). Aktivasi ini dapat memicu jalur sinyal yang berujung pada proliferasi, migrasi, invasi, dan metastasis.

Orasi menyebut bahwa ekspresi gen GPCR55 meningkat seiring bertambahnya stadium kanker ovarium. Ini membuka kemungkinan penggunaan LPI sebagai marker untuk melihat tingkat keparahan kanker ovarium.

Selain itu, orasi juga menyoroti BRD4 (bromodomain-containing protein) sebagai pengatur ekspresi gen yang berkaitan dengan struktur kromatin. Berdasarkan data dan konfirmasi pada jaringan serta lini sel kanker ovarium, BRD4 diekspresikan berlebih pada kanker ovarium dibandingkan jaringan normal.

BRD4 kemudian dihubungkan dengan ekspresi gen lain yang mendorong proliferasi, seperti MYC dan CDK6. Ini memperlihatkan bahwa kanker bukan hanya “mutasi acak”, tetapi perubahan sistemik dalam kontrol ekspresi gen.

 

3. Kandidat Anti-Kanker Berbasis Senyawa Alami: Mangostin, Propolis, dan Logika Kombinasi Terapi

Pada tahap tertentu, penelitian kanker selalu berhadapan dengan satu kenyataan: kanker bukan target tunggal yang bisa dijatuhkan dengan satu pukulan. Sel kanker punya banyak jalur bertahan hidup. Ia bisa mengubah metabolisme, membangun angiogenesis, menghindari sistem imun, sampai memodifikasi sinyal pembelahan. Ketika satu jalur ditutup, jalur lain bisa mengambil alih.

Di sinilah pendekatan terapi tidak cukup hanya “menghancurkan sel kanker”, tetapi harus memikirkan bagaimana menekan kemampuan adaptasinya.

Dalam orasi Prof. Marselina Irasonia Tan, salah satu strategi yang ditonjolkan adalah eksplorasi senyawa alami sebagai kandidat anti-kanker. Ia menyebut bahwa eksplorasi ekstrak alami sudah dilakukan dengan berbagai kandidat, tetapi pada kesempatan ini Prof. Marselina fokus memaparkan dua yang paling jelas hasilnya: mangostin dan propolis.

3.1 Mangostin: menekan reseptor estrogen, memutus jalur “bahan bakar” proliferasi

Mangostin adalah molekul yang diisolasi dari kulit manggis. Di bagian sebelumnya, orasi sudah menjelaskan bahwa estrogen bersifat mitogenik dan dapat menginduksi pembelahan sel, terutama dalam konteks kanker payudara. Masalahnya, estrogen tidak bekerja sendirian. Ia bekerja lewat reseptor estrogen. Begitu reseptor itu aktif, sinyal proliferasi bisa berjalan.

Prof. Marselina memaparkan bahwa mangostin memiliki efek untuk menekan ekspresi reseptor estrogen. Secara naratif, ini seperti menurunkan “antena” yang dipakai sel untuk menerima perintah membelah.

Yang penting, penelitian ini tidak berhenti di level konsep. Eksperimen mangostin dilanjutkan ke level in vivo (hewan uji), sehingga efeknya tidak hanya dilihat di level sel, tetapi juga pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks.

3.2 Propolis dan kombinasi: ketika terapi tidak mencari yang paling kuat, tetapi yang paling masuk akal

Orasi kemudian memperlihatkan pendekatan yang lebih realistis: kombinasi mangostin dan propolis.

Di dunia klinis, kombinasi terapi bukan hal asing. Banyak kanker membutuhkan kombinasi karena kanker bisa mengaktifkan jalur alternatif untuk bertahan. Tetapi kombinasi juga tidak boleh asal gabung, karena kombinasi bisa memberi efek antagonistik, bisa meningkatkan toksisitas, atau tidak menambah manfaat yang berarti. Dalam data in vivo yang dipaparkan, kombinasi mangostin dan propolis menunjukkan penurunan perkembangan kanker yang lebih baik dibanding hewan kontrol.

Prof. Marselina juga memberi catatan penting: efek kombinasi ini memang masih jauh dari doxorubicin, obat yang saat ini digunakan untuk terapi kanker. Kalimat ini membuat pendekatan risetnya terasa dewasa dan tidak berlebihan. Ia tidak menjual narasi “senyawa alami menggantikan kemoterapi”, tetapi memperlihatkan potensi sebagai kandidat yang bisa dikembangkan.

Dalam konteks mahasiswa dan pekerja, bagian ini mengajarkan sesuatu yang sering hilang di diskusi populer: ilmu tidak selalu mencari pengganti langsung dari terapi utama. Kadang ilmu mencari pelengkap, penguat, atau alternatif untuk kasus tertentu.

Senyawa alami yang “lebih lemah” daripada kemoterapi tetap bisa penting jika ia:

  • punya efek samping lebih ringan

  • bisa dipakai sebagai adjuvant

  • memperluas opsi terapi bagi pasien tertentu

  • membantu menekan salah satu jalur penting (misalnya reseptor estrogen)

Dan yang paling penting, riset seperti ini memberi pijakan bahwa sains bisa menguji klaim bahan alam dengan standar yang sama: ada target biologis, ada uji in vivo, ada perbandingan dengan kontrol.

 

4. Dari MikroRNA sampai Vaksin Merah Putih: Imunologi sebagai Senjata Pencegahan dan Terapi

Jika bagian senyawa alami memperlihatkan pendekatan “menekan jalur pertumbuhan kanker”, maka bagian berikutnya menggeser fokus ke sesuatu yang lebih strategis: bagaimana memanfaatkan sistem tubuh sendiri untuk melawan penyakit.

Di sinilah imunologi menjadi sangat penting. Karena sistem imun pada dasarnya adalah sistem pertahanan yang dirancang untuk mengenali ancaman, menandai, lalu menghancurkan.

Kanker bisa muncul ketika sistem imun gagal mendeteksi, atau ketika kanker mampu “escape” dan bersembunyi dari pengawasan imun. Orasi ini sejak awal menegaskan bahwa kanker tidak hanya memanfaatkan sistem imun, tetapi juga bisa lolos dari sistem imun.

Maka logika terapinya masuk akal: jika kanker bisa menghindari imun, maka sains perlu membantu imun untuk mengenali dan menyerang lebih efektif.

Prof. Marselina memaparkan dua jalur riset yang berhubungan dengan tema ini: mikroRNA sebagai terapi molekuler, dan pengembangan vaksin sebagai strategi pencegahan maupun penguatan imunitas.

4.1 MikroRNA: intervensi kecil pada level genetik yang bisa menggeser nasib sel kanker

MikroRNA adalah komponen dari mRNA yang tidak mengkode protein. Dalam orasi, Prof. Marselina menyebut bahwa mikroRNA yang dipilih dalam penelitian ini berperan sebagai tumor suppressor mimic, dengan harapan dapat menekan perkembangan kanker.

Hasilnya, setelah sel kanker diberi mikroRNA tersebut, terjadi penurunan viabilitas sel.

Bagian ini terasa penting karena menunjukkan bahwa terapi kanker bukan hanya “obat yang membunuh sel”, tetapi bisa berupa intervensi sinyal yang mengubah kelangsungan hidup sel kanker. Secara analitis, mikroRNA adalah contoh bagaimana riset modern bekerja pada level yang sangat presisi: bukan hanya mengobati, tetapi memodulasi ekspresi dan perilaku sel.

4.2 Vaksin Merah Putih ITB: dua platform, dua jalur imunitas, dan bukti bahwa imunologi bisa digerakkan

Bagian vaksin dalam orasi Prof. Marselina memberi lapisan makna yang lebih luas. Ia tidak hanya membahas kanker, tetapi menunjukkan bahwa pengembangan imunologi bisa menghasilkan solusi nyata dalam krisis kesehatan seperti COVID-19.

Prof. Marselina terlibat dalam pengembangan kandidat Vaksin Merah Putih ITB. Tim ini mengembangkan dua kandidat:

  1. vaksin berbasis RBD

  2. vaksin dengan platform adenovirus

Pada uji hewan, platform adenovirus menunjukkan performa yang sangat baik dalam menginduksi:

  • imunitas humoral (antibodi tinggi)

  • imunitas seluler, ditandai dengan pembentukan interferon-gamma

Menariknya, orasi menyebut bahwa adenovirus ini bahkan cukup diberikan sekali suntik, tanpa vaksinasi berulang.

Di sini terlihat transformasi besar: imunologi bukan sekadar teori tentang sel imun, tetapi sistem yang bisa direkayasa untuk menghasilkan respons perlindungan.

Dan bagian ini tidak dilepaskan dari narasi kanker. Prof. Marselina menutup dengan pesan bahwa imunitas tubuh yang kuat dapat dipelihara lewat pola hidup sehat dan diet seimbang, serta ditunjang dengan vaksinasi yang tepat. Vaksinasi memainkan peran penting dalam melawan dan mencegah penyakit, termasuk kanker.

Ia juga menguatkan pesan penting tentang vaksinasi kanker serviks yang terbukti menurunkan kasus kanker serviks secara efektif di beberapa negara.

Jika ditarik sebagai kesimpulan sementara untuk bagian ini, maka intinya seperti ini:

  • terapi kanker bukan hanya membunuh sel, tetapi menghentikan strategi sel kanker

  • terapi modern bergerak ke intervensi molekuler (mikroRNA)

  • imunologi memberi dua jalan sekaligus: pencegahan melalui vaksin dan terapi melalui aktivasi imun

  • keberhasilan pengembangan vaksin COVID-19 memberi dasar platform untuk pengembangan vaksin lain ke depan

 

5. Pelajaran Besar dari Biologi Sel untuk Pencegahan Kanker: Risiko Itu Dibangun Pelan-Pelan, Bukan Datang Seketika

Kalau kita membaca orasi Prof. Marselina Irasonia Tan sebagai satu narasi utuh, benang merahnya adalah ini: kanker bukan “serangan tiba-tiba”. Kanker adalah hasil dari rangkaian proses biologis yang lama, yang terbentuk dari akumulasi risiko, perubahan seluler, dan kesempatan yang diciptakan oleh lingkungan tubuh.

Dan di sinilah biologi sel menjadi lebih dari sekadar ilmu dasar. Ia menjadi peta yang menunjukkan kapan tubuh mulai kehilangan kendali.

Prof. Marselina menegaskan bahwa sel-sel dalam tubuh manusia berada dalam beragam kondisi: ada yang diam, ada yang aktif membelah, ada yang terdiferensiasi. Semua kondisi itu seharusnya dijaga dalam kontrol yang ketat. Ketika ada kelainan pada sistem di dalam sel, pembelahan bisa menjadi tidak terkontrol dan memicu kanker.

Pencegahan kanker, dalam konteks ini, bukan hanya pesan moral seperti “hidup sehat”, tetapi upaya mengurangi peluang biologis agar sel melanggar aturan.

Ada beberapa pelajaran praktis yang bisa ditarik dari orasi ini, terutama untuk pembaca mahasiswa dan pekerja.

5.1 Pola hidup tidak bekerja sebagai dosa sekali makan, tapi sebagai tekanan yang konsisten

Orasi menyoroti konsumsi makanan tinggi lemak yang dilakukan berlebihan dan terus-menerus dapat memengaruhi kadar estrogen, dan estrogen dapat menstimulasi perkembangan kanker, khususnya kanker payudara.

Yang harus digarisbawahi adalah kata “terus-menerus”. Pola hidup sering bekerja sebagai akumulasi. Ia tidak langsung menjadi kanker, tetapi perlahan membangun kondisi yang memudahkan kanker berkembang.

Pola pikir ini penting untuk mahasiswa dan pekerja, karena gaya hidup modern sering membentuk rutinitas: makan cepat, stres tinggi, tidur kurang, aktivitas fisik rendah. Banyak orang merasa masih aman karena “masih muda”. Padahal orasi ini memberi pesan bahwa risiko kanker justru bertambah seiring usia, salah satunya karena perubahan pada lingkungan mikro sel.

5.2 Lingkungan mikro sel itu nyata: kolagen bukan sekadar struktur, tapi pelindung

Salah satu detail ilmiah yang paling menarik dari orasi ini adalah peran kolagen tipe 4 sebagai komponen pembentuk membran basal.

Prof. Marselina menjelaskan bahwa kolagen tipe 4 akan menipis seiring bertambahnya usia, dan ini membantu menjelaskan mengapa potensi seseorang terkena kanker meningkat ketika menua.

Dalam eksperimen yang dijelaskan, kolagen sebagai komponen utama dapat menghambat peranan estrogen dalam menginduksi perkembangan kanker, melalui penekanan ekspresi gen CRB2.

Makna praktisnya cukup besar: pencegahan kanker bukan hanya tentang “apa yang kita masukkan ke tubuh”, tetapi juga tentang bagaimana tubuh mempertahankan struktur pelindung di sekitar sel. Banyak kebijakan kesehatan terlalu fokus pada faktor permukaan, tetapi lupa bahwa jaringan punya mekanisme pertahanan internal yang ikut menentukan.

5.3 Patogen bukan sekadar pemicu, tetapi bisa menjadi pembuka jalan sel kanker untuk kabur dari imun

Orasi membahas HPV16 sebagai faktor eksternal yang dapat menurunkan ekspresi IL-1β, komponen penting sistem imun epitel.

Yang lebih kompleks adalah keterlibatan kondisi hipoksia. Di jaringan serviks, ada area normoksia dan hipoksia. Virus dapat memanfaatkan kondisi hipoksia karena sel di daerah itu lebih mampu bertahan, dan situasi ini membantu penekanan ekspresi IL-1β sehingga sel kanker bisa menghindari sistem imun.

Ini menunjukkan bahwa pencegahan kanker serviks tidak boleh hanya dipahami sebagai “mencegah infeksi”. Pencegahan harus dilihat sebagai kontrol terhadap seluruh ekosistem: infeksi, respon imun, dan kondisi lingkungan jaringan yang memungkinkan virus memperpanjang pengaruhnya.

Di sinilah vaksinasi menjadi semakin logis dan tidak bisa dianggap opsional. Kalau patogen bisa memulai jalur kanker, pencegahan berbasis imun menjadi intervensi yang sangat masuk akal secara biologis.

5.4 Biomarker dan pemahaman gen: pencegahan masa depan akan semakin presisi

Bagian lain dari orasi menunjukkan bagaimana gen dan regulasi ekspresi gen dapat menjadi pintu untuk memahami tingkat keganasan.

Contohnya, GPCR55 yang teraktivasi oleh LPI dapat memicu jalur sinyal yang terkait proliferasi, migrasi, invasi, dan metastasis pada kanker ovarium, dan ekspresinya meningkat seiring bertambahnya stadium kanker.

Orasi juga menyoroti BRD4 yang diekspresikan berlebih pada kanker ovarium, serta keterkaitannya dengan gen proliferasi seperti MYC dan CDK6.

Pada tahap ini, pencegahan dan terapi tidak lagi hanya soal “mengurangi risiko”, tetapi juga soal mendeteksi lebih cepat dan lebih tepat. Biomarker seperti LPI berpotensi menjadi alat untuk membaca “seberapa parah” kanker berkembang.

Dan ini membawa kita pada arah masa depan layanan kesehatan: pencegahan yang lebih berbasis data biologis, bukan hanya berbasis gejala.

 

6. Kesimpulan: Kanker Bukan Hanya Musuh Sel, Tapi Musuh Sistem—dan Imunitas adalah Garis Pertahanan Terakhir

Orasi Prof. Marselina Irasonia Tan menempatkan kanker sebagai fenomena biologis yang kompleks, bukan sekadar sel abnormal yang membelah tanpa henti. Sel kanker digambarkan sebagai “smart tetapi licik” karena ia melanggar aturan normal, menumpuk mutasi, membuat genomnya semakin instabil, memodifikasi metabolisme, membentuk angiogenesis, bahkan memanfaatkan sistem imun sebelum akhirnya lolos dari pengawasan imun.

Dengan cara pandang ini, perlawanan terhadap kanker tidak mungkin hanya satu dimensi. Ia membutuhkan pemahaman biologi sel yang kuat, pemetaan faktor eksternal dan internal, serta strategi imunologis yang mampu menghadapi kemampuan adaptasi sel kanker.

Orasi ini memperlihatkan bagaimana faktor eksternal seperti pola hidup dan patogen dapat membentuk peluang kanker. Estrogen dapat menstimulasi perkembangan kanker, tetapi lingkungan mikro seperti kolagen tipe 4 dapat menjadi penghambat alami. HPV16 dapat menekan sistem imun epitel lewat penurunan IL-1β, terutama ketika lingkungan hipoksia memberi ruang bagi sel untuk lebih bertahan.

Di sisi internal, jalur genetik dan epigenetik seperti GPCR55–LPI dan BRD4 memperlihatkan bahwa kanker dapat dipahami melalui perubahan ekspresi gen yang mendorong proliferasi, invasi, hingga metastasis.

Namun orasi ini tidak berhenti pada peta masalah. Ia juga menunjukkan peta harapan.

Senyawa alami seperti mangostin yang menurunkan ekspresi reseptor estrogen, serta kombinasi mangostin–propolis, menunjukkan adanya peluang pengembangan kandidat terapi berbasis bahan alam, meskipun masih jauh dibanding doxorubicin.

Pendekatan mikroRNA memperlihatkan bahwa intervensi molekuler dapat menurunkan viabilitas sel kanker melalui mekanisme yang lebih presisi.

Dan puncak dari narasi imunologi muncul lewat pengembangan Vaksin Merah Putih ITB. Kandidat berbasis adenovirus mampu menginduksi imunitas humoral (antibodi tinggi) sekaligus imunitas seluler melalui interferon-gamma, bahkan dengan satu kali penyuntikan. Keberhasilan ini memberi sinyal bahwa platform imunologi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan penyakit lain, termasuk strategi pencegahan kanker.

Bagi mahasiswa, orasi ini adalah pelajaran tentang cara sains bekerja: bukan mencari jawaban tunggal, tetapi membangun pemahaman sistemik. Bagi pekerja, terutama yang bergerak di kesehatan, riset, dan industri bioteknologi, orasi ini memberi arah yang jelas: masa depan perlawanan terhadap kanker akan semakin terhubung dengan biomarker, terapi molekuler, dan penguatan imunologi.

Pada akhirnya, kanker bukan hanya musuh sel, tetapi musuh sistem. Dan sistem yang paling menentukan menang atau kalah sering kali adalah sistem imun, karena di sanalah garis pertahanan terakhir berada.

 

 

Daftar Pustaka

Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Marselina Irasonia Tan: Menyingkap Rahasia Penyakit melalui Biologi Sel, Imunitas, dan Pertempuran Melawan Kanker. 2024.

Hanahan, D., & Weinberg, R. A. Hallmarks of Cancer: The Next Generation. Cell. 2011.

World Health Organization. Human papillomavirus (HPV) and cervical cancer: factsheet dan pencegahan. (diakses 2026).

National Cancer Institute. Cancer Immunotherapy: Overview and Mechanisms. (diakses 2026).

Sharma, P., & Allison, J. P. The Future of Immune Checkpoint Therapy. Science. 2015.

Selengkapnya
Biologi Sel, Imunitas, dan Perang Melawan Kanker: Mengapa Sel Kanker “Pintar tapi Licik” dan Cara Sains Membongkar Strateginya

Transportasi

Kemacetan Perkotaan, Transfer Pengetahuan, dan Kegagalan Kebijakan Transportasi di Indonesia

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026


1. Pendahuluan

Kemacetan perkotaan telah menjadi fenomena sehari-hari di banyak kota besar Indonesia. Ia bukan lagi sekadar gangguan temporer, melainkan kondisi struktural yang membentuk pengalaman hidup masyarakat urban. Waktu tempuh yang tidak pasti, pemborosan energi, serta tekanan psikologis akibat perjalanan yang melelahkan telah menjadi bagian dari rutinitas jutaan penduduk kota. Dalam konteks ini, kemacetan sering dipersepsikan sebagai konsekuensi alami dari pertumbuhan kota dan meningkatnya kepemilikan kendaraan.

Namun, pandangan tersebut menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Kemacetan tidak hanya berkaitan dengan jumlah kendaraan atau kapasitas jalan, tetapi juga mencerminkan cara pengetahuan, kebijakan, dan praktik perencanaan transportasi diterapkan dalam konteks lokal. Banyak kota di Indonesia telah mengadopsi berbagai konsep, model, dan kebijakan transportasi dari negara lain, terutama negara maju, dengan harapan dapat mengatasi masalah mobilitas secara efektif.

Artikel ini menganalisis kemacetan perkotaan sebagai hasil interaksi antara transfer pengetahuan dan kegagalan kebijakan. Alih-alih melihat kemacetan semata sebagai masalah teknis rekayasa lalu lintas, analisis ini menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas, mencakup dinamika kelembagaan, perilaku pengguna, serta ketidaksinkronan antara perencanaan dan implementasi kebijakan transportasi di Indonesia

 

2. Kemacetan Perkotaan sebagai Masalah Struktural

Dalam perspektif rekayasa transportasi, kemacetan sering dibedakan menjadi kemacetan berulang dan kemacetan insidental. Kemacetan berulang muncul secara konsisten pada waktu dan lokasi tertentu, terutama pada jam sibuk, sedangkan kemacetan insidental dipicu oleh peristiwa khusus seperti kecelakaan atau kegiatan berskala besar. Meski klasifikasi ini penting secara teknis, fokus yang terlalu sempit pada aspek operasional kerap mengaburkan akar persoalan yang lebih mendasar.

Kemacetan berulang mencerminkan ketidakseimbangan kronis antara permintaan dan kapasitas sistem transportasi. Pertumbuhan kendaraan yang jauh melampaui pertumbuhan jaringan jalan menunjukkan bahwa kebijakan mobilitas masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Penambahan kapasitas jalan sering dipandang sebagai solusi utama, padahal pengalaman banyak kota menunjukkan bahwa strategi tersebut justru memicu permintaan lalu lintas baru dan memperpanjang siklus kemacetan.

Selain itu, kemacetan memiliki biaya sosial dan ekonomi yang signifikan. Waktu produktif yang terbuang, peningkatan konsumsi bahan bakar, serta dampak kesehatan akibat polusi udara membebani masyarakat dan negara. Estimasi kerugian ekonomi akibat kemacetan di kawasan metropolitan Indonesia mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah per tahun, menjadikannya isu pembangunan yang tidak dapat diabaikan.

Dengan demikian, kemacetan perlu dipahami sebagai masalah struktural yang berakar pada pola pembangunan kota, pilihan kebijakan, dan tata kelola transportasi. Tanpa perubahan mendasar dalam cara merencanakan dan mengelola mobilitas perkotaan, berbagai upaya teknis berisiko hanya menjadi solusi sementara yang tidak menyentuh inti persoalan.

 

3. Transfer Pengetahuan Transportasi dan Tantangan Kontekstualisasi Kebijakan

Dalam upaya mengatasi kemacetan, banyak kota di Indonesia mengadopsi konsep dan kebijakan transportasi yang dikembangkan di negara lain. Praktik ini sering dipahami sebagai transfer pengetahuan, yaitu proses pemindahan ide, model, dan teknologi dari satu konteks ke konteks lain. Secara teoritis, transfer pengetahuan memungkinkan percepatan pembelajaran dan penghindaran kesalahan yang sama. Namun, dalam praktiknya, proses ini tidak selalu berjalan efektif.

Salah satu persoalan utama terletak pada kecenderungan mengadopsi solusi secara normatif tanpa adaptasi yang memadai. Kebijakan yang berhasil di satu kota belum tentu relevan ketika diterapkan di kota lain dengan karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Perbedaan perilaku pengguna jalan, tingkat kepatuhan terhadap aturan, serta kapasitas kelembagaan sering kali diabaikan dalam proses adopsi kebijakan transportasi.

Selain itu, transfer pengetahuan kerap bersifat parsial. Fokus sering ditempatkan pada aspek teknis, seperti desain infrastruktur atau sistem manajemen lalu lintas, sementara dimensi non-teknis kurang mendapat perhatian. Padahal, keberhasilan kebijakan transportasi sangat bergantung pada penerimaan publik, mekanisme penegakan hukum, dan kesinambungan kebijakan lintas periode pemerintahan.

Keterbatasan dalam kontekstualisasi ini menyebabkan kesenjangan antara perencanaan dan implementasi. Kebijakan yang secara konseptual tampak ideal sering kali kehilangan efektivitas ketika dihadapkan pada realitas lapangan. Dalam kondisi demikian, transfer pengetahuan justru berpotensi memperkuat ilusi solusi, seolah-olah masalah kemacetan telah ditangani, padahal dampak nyatanya minim.

 

4. Kegagalan Kebijakan dan Dominasi Pendekatan Infrastruktur

Kegagalan kebijakan transportasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dominasi pendekatan infrastruktur sebagai solusi utama kemacetan. Pembangunan jalan, flyover, dan underpass sering diposisikan sebagai simbol kemajuan dan respons cepat terhadap tekanan publik. Namun, pendekatan ini cenderung mengabaikan prinsip dasar bahwa kapasitas tambahan akan memicu peningkatan permintaan perjalanan.

Ketergantungan pada solusi infrastruktur juga mencerminkan orientasi kebijakan yang reaktif. Alih-alih mengelola permintaan perjalanan melalui pengendalian penggunaan kendaraan pribadi atau penguatan transportasi publik, kebijakan lebih banyak berfokus pada perluasan fisik jaringan jalan. Akibatnya, sistem transportasi menjadi semakin bias terhadap kendaraan pribadi dan memperlemah daya tarik moda angkutan umum.

Di sisi lain, kebijakan non-infrastruktur seperti manajemen lalu lintas, pembatasan kendaraan, dan insentif perubahan perilaku sering menghadapi resistensi politik dan sosial. Ketidaksiapan institusi dalam mengelola konflik kepentingan membuat kebijakan semacam ini sulit diterapkan secara konsisten. Ketika kebijakan gagal menunjukkan hasil cepat, tekanan publik mendorong kembalinya pendekatan konvensional yang berorientasi pada pembangunan fisik.

Dominasi pendekatan infrastruktur juga menimbulkan fragmentasi kebijakan. Proyek-proyek transportasi sering dirancang dan dilaksanakan secara terpisah tanpa integrasi yang memadai dengan tata guna lahan dan perencanaan kota. Kondisi ini memperkuat pola perjalanan yang tidak efisien dan memperpanjang siklus kemacetan yang ingin diatasi.

 

5. Mobilitas Berkelanjutan dan Perubahan Paradigma Kebijakan Transportasi

Meningkatnya kompleksitas masalah kemacetan menuntut perubahan paradigma dalam kebijakan transportasi perkotaan. Pendekatan yang berfokus pada peningkatan kapasitas fisik terbukti tidak mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan perjalanan. Dalam konteks ini, mobilitas berkelanjutan menawarkan kerangka alternatif yang menempatkan efisiensi, keadilan, dan keberlanjutan lingkungan sebagai tujuan utama.

Mobilitas berkelanjutan menekankan pengelolaan permintaan perjalanan melalui kombinasi kebijakan yang saling melengkapi. Penguatan transportasi publik, pengembangan moda tidak bermotor, serta integrasi transportasi dengan tata guna lahan menjadi elemen kunci. Kebijakan semacam ini tidak hanya bertujuan mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

Namun, pergeseran paradigma ini menghadapi tantangan implementasi yang signifikan. Kebijakan mobilitas berkelanjutan sering kali membutuhkan perubahan perilaku dan pengorbanan jangka pendek, seperti pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Tanpa strategi komunikasi yang efektif dan mekanisme kompensasi yang adil, kebijakan tersebut berisiko kehilangan dukungan publik.

Dalam konteks Indonesia, penerapan mobilitas berkelanjutan juga memerlukan penguatan kapasitas institusional. Koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah menjadi prasyarat penting untuk memastikan bahwa kebijakan transportasi selaras dengan tujuan pembangunan kota secara keseluruhan. Tanpa fondasi kelembagaan yang kuat, perubahan paradigma berpotensi berhenti pada tataran wacana.

 

6. Refleksi Kritis dan Arah Reformasi Transportasi Perkotaan

Refleksi atas kemacetan perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan melalui solusi teknis semata. Kemacetan merupakan manifestasi dari pilihan kebijakan, struktur kelembagaan, dan cara pengetahuan diterjemahkan ke dalam praktik. Oleh karena itu, reformasi transportasi perkotaan perlu dimulai dari peninjauan ulang asumsi dasar yang selama ini mendasari perencanaan dan pengambilan keputusan.

Arah reformasi ke depan perlu menempatkan transfer pengetahuan sebagai proses dialogis, bukan adopsi sepihak. Pengalaman internasional seharusnya menjadi sumber inspirasi yang dikontekstualisasikan, bukan cetak biru yang diterapkan tanpa penyesuaian. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan solusi yang lebih responsif terhadap kondisi sosial dan budaya lokal.

Selain itu, reformasi transportasi memerlukan keberanian politik untuk mengimplementasikan kebijakan yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek, tetapi esensial bagi keberlanjutan jangka panjang. Tanpa komitmen tersebut, kebijakan akan terus berputar dalam siklus solusi parsial yang gagal mengatasi akar persoalan.

Sebagai penutup, kemacetan perkotaan mencerminkan tantangan pembangunan kota secara keseluruhan. Melalui reformasi kebijakan yang berbasis pengetahuan, kontekstual, dan berorientasi pada mobilitas berkelanjutan, kota-kota di Indonesia memiliki peluang untuk keluar dari jebakan kemacetan struktural dan menuju sistem transportasi yang lebih adil, efisien, dan manusiawi.

 

Daftar Pustaka

Lubis, H. A. R. (2023). Kemacetan perkotaan, transfer pengetahuan, dan kegagalan kebijakan transportasi. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Banister, D. (2008). The sustainable mobility paradigm. Transport Policy, 15(2), 73–80.

Downs, A. (2004). Still stuck in traffic: Coping with peak-hour traffic congestion. Brookings Institution Press.

Litman, T. (2021). Evaluating transportation equity: Guidance for incorporating distributional impacts in transportation planning. Victoria Transport Policy Institute.

OECD. (2019). ITF transport outlook 2019. OECD Publishing.

Vasconcellos, E. A. (2014). Urban transport environment and equity: The case for developing countries. Routledge.

Selengkapnya
Kemacetan Perkotaan, Transfer Pengetahuan, dan Kegagalan Kebijakan Transportasi di Indonesia

Tata Kota

Tata Ruang Berbasis Daya Dukung Transportasi: Cara Realistis Mengurangi Kemacetan Kota Tanpa Ilusi “Tambah Jalan Terus”

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026


1. Pendahuluan

Kemacetan sering dipahami sebagai masalah lalu lintas. Solusinya pun sering dipersempit menjadi satu kalimat: tambah jalan. Padahal di kota-kota besar, tambah jalan tidak pernah benar-benar mengejar pertumbuhan kendaraan. Bahkan ketika jalan bertambah, kemacetan sering kembali muncul, lebih cepat dari yang diperkirakan.

Orasi ilmiah Prof. Miming Miharja mengajak kita keluar dari cara berpikir reaktif itu. Ia memperlakukan kemacetan sebagai gejala dari masalah yang lebih struktural: ketidakseimbangan antara pertumbuhan tata guna lahan (yang memicu perjalanan) dan kapasitas infrastruktur transportasi (yang melayani perjalanan).

Ada fakta besar yang menjadi landasan urgensinya. Proporsi penduduk dunia yang hidup di perkotaan meningkat terus dari waktu ke waktu. Kenaikan populasi perkotaan ini otomatis memperbesar kompleksitas kehidupan kota, termasuk kebutuhan mobilitas harian.

Dalam waktu yang sama, jumlah kendaraan tumbuh cepat, sementara pertumbuhan kapasitas infrastruktur transportasi cenderung stagnan. Dari sinilah gap muncul: permintaan pergerakan melonjak, tetapi sistem transportasi tidak tumbuh sebanding.

Orasi ini juga menampilkan hubungan yang lebih tajam: semakin besar ukuran kota, salah satunya ditunjukkan oleh populasi yang besar, maka travel time index yang mencerminkan tingkat kemacetan juga meningkat. Bahkan muncul pola yang cukup “tidak adil”: semakin rendah pendapatan sebuah kota, semakin akut kemacetannya.

Ini membuat kemacetan bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi masalah produktivitas dan ketimpangan. Kota yang lebih miskin cenderung punya sistem transportasi lebih rapuh, lalu produktivitasnya tertekan, lalu pertumbuhannya makin tertinggal. Dalam jangka panjang, disparitas ekonomi bisa makin melebar karena kemacetan ikut menjadi mesin ketertinggalan.

Di titik ini, Prof. Miming membawa kita pada kesimpulan awal: kota butuh model perencanaan tata ruang yang tidak lagi berdiri sendiri, tetapi merujuk pada kemampuan infrastruktur transportasi. Dengan kata lain, tata ruang harus punya “rem” yang jelas: batas perkembangan ruang yang sesuai daya dukung transportasi, bukan berkembang liar sampai akhirnya kota kewalahan.

Ini bukan gagasan anti pembangunan. Ini gagasan pro keberlanjutan kota. Karena ketika kota tumbuh melampaui daya dukung transportasinya, pertumbuhan itu bukan lagi kemajuan, melainkan pemindahan beban ke masa depan.

 

2. Model Tata Ruang Berbasis Daya Dukung Infrastruktur: Mengukur Batas Pertumbuhan sebelum Kota Masuk Titik Jenuh

Kekuatan orasi Prof. Miming ada pada caranya menjelaskan konsep daya dukung transportasi dengan bahasa yang mudah dipahami.

Ia menggambarkan kurva pertumbuhan permintaan perjalanan yang tumbuh secara alami. Jika tidak ada intervensi, permintaan ini akan terus naik hingga bersinggungan dengan kapasitas transportasi yang tersedia. Pada titik pertemuan itu, masalah mulai muncul. Jika pertumbuhan permintaan terus dibiarkan, maka permintaan akan melampaui kemampuan infrastruktur, dan gap permintaan–kapasitas akan semakin lebar.

Di kota nyata, gap ini terlihat dalam bentuk:

  • kemacetan yang semakin panjang

  • waktu tempuh yang makin tidak rasional

  • biaya logistik yang meningkat

  • beban energi dan emisi yang membesar

  • penurunan kualitas hidup karena jam produktif habis di jalan

Karena itu, Prof. Miming memperkenalkan model perencanaan tata ruang yang merujuk pada analisis daya dukung infrastruktur.

Inti modelnya sederhana dalam logika, tetapi besar dampaknya: kota harus mengetahui lebih dulu berapa volume pergerakan maksimum yang masih bisa diakomodasi oleh jaringan jalan dan sistem transportasinya. Setelah itu, volume maksimum tersebut menjadi dasar untuk menghitung seberapa besar pengembangan guna lahan yang boleh dilakukan.

Di sini ada dua sisi yang harus dibaca bersama:

  1. sisi sediaan (supply)

  2. sisi permintaan (demand)

Di sisi sediaan, model mengukur kemampuan jaringan jalan dalam mengakomodasi pergerakan. Ini juga berkaitan dengan potensi ruang yang masih bisa dialokasikan untuk infrastruktur transportasi. Pada akhirnya, kita bisa memperkirakan volume pergerakan maksimum yang masih dapat dilayani.

Di sisi permintaan, volume maksimum yang bisa dilayani ini kemudian menjadi landasan untuk menghitung luas lahan yang “diizinkan” untuk dibangun. Karena setiap pembangunan perumahan, kawasan komersial, fasilitas pendidikan, rumah sakit, dan pusat kegiatan ekonomi akan memicu bangkitan dan tarikan perjalanan baru.

Yang membuat model ini terasa realistis adalah pengakuannya bahwa ketika beban infrastruktur sudah jenuh, bukan berarti kota tidak boleh tumbuh sama sekali. Kota masih bisa tumbuh, tetapi dengan upaya tambahan yang meningkatkan efisiensi ruang transportasi, misalnya melalui revitalisasi angkutan umum. Revitalisasi angkutan umum disebut penting karena dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang jalan melalui peningkatan okupansi. Dengan ruang jalan yang sama, kapasitas angkut manusia bisa lebih besar.

Ini adalah cara berpikir yang lebih “dewasa” tentang kemacetan. Kemacetan tidak harus diselesaikan hanya dengan memperbesar ruang untuk kendaraan pribadi, karena itu hampir selalu kalah cepat dari pertumbuhan permintaan. Kemacetan harus diselesaikan dengan memperbaiki struktur permintaan melalui pengendalian tata guna lahan dan peningkatan kapasitas angkut transportasi massal.

Prof. Miming juga memberi ilustrasi simulasi kasus Kota Bandung pada beberapa jalan utama, seperti Jalan Asia Afrika, Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Kopo, dan Wastukencana. Dari simulasi ini, timnya mengukur ruang jalan yang tersedia, kemungkinan pengembangannya, lalu menentukan batas pengembangan luas lantai guna lahan di sepanjang koridor jalan tersebut. Terlepas dari perubahan kondisi kota setelah tahun penelitian, studi ini menunjukkan logika besar yang bisa ditiru kota lain: tata ruang harus dikaitkan dengan kemampuan jaringan jalan untuk menjaga rasio volume terhadap kapasitas tetap pada kondisi baik.

Artinya, bukan sekadar kota punya rencana tata ruang, tetapi kota punya mekanisme kuantitatif untuk menjaga agar rencana itu tidak melampaui kapasitas sistem transportasinya.

 

3. Mengapa Rencana Kota Sering Gagal: Ketika Tata Ruang Memicu Perjalanan yang Tidak Pernah Bisa Ditampung

Di banyak kota, kemacetan sebenarnya bukan lahir dari “kurang jalan” semata, tetapi dari keputusan pembangunan yang memproduksi perjalanan dalam jumlah besar tanpa menghitung apakah sistem transportasinya mampu menampungnya.

Inilah salah satu kritik paling penting dalam orasi Prof. Miming Miharja: perencanaan tata ruang dan perencanaan transportasi sering berjalan terpisah, padahal keduanya saling menciptakan masalah satu sama lain.

Ketika sebuah kota membangun pusat komersial baru, kawasan hunian baru, atau koridor bisnis baru, kota sedang menciptakan bangkitan dan tarikan perjalanan. Ini bukan konsep teoritis. Setiap gedung yang dibangun menghasilkan pergerakan: orang pergi bekerja, orang pulang, barang masuk, layanan keluar, dan aktivitas ekonomi berputar.

Masalahnya, banyak kota tidak “mengunci” pembangunan itu dengan batas daya dukung transportasi. Akibatnya, permintaan tumbuh liar, sementara kapasitas jaringan jalan tetap.

Orasi ini menegaskan bahwa permintaan perjalanan di kota tumbuh terus menerus, sementara pertumbuhan kapasitas infrastruktur transportasi cenderung tidak sebanding. Ketika dua kurva ini bertemu, lalu permintaan melampaui kapasitas, kota masuk ke kondisi overload.

Di atas kertas, hal ini terlihat seperti mismatch sederhana. Tetapi di lapangan, mismatch itu memecah kota menjadi problem yang lebih kompleks, salah satunya job–housing mismatch.

Job–housing mismatch terjadi ketika lokasi pekerjaan terkonsentrasi di satu area, sementara permukiman terdorong ke area lain, biasanya lebih jauh dan lebih murah. Akibatnya, perjalanan harian menjadi panjang, masif, dan repetitif. Bukan hanya satu arah, tetapi dua arah sekaligus: pagi masuk, sore keluar.

Dalam konteks metropolitan, job–housing mismatch bisa berarti satu kota menjadi pusat pekerjaan, sementara kota-kota sekitarnya menjadi “penyedia hunian”. Setiap pagi, ribuan hingga jutaan orang melakukan commuting lintas batas administrasi, dan sistem jalan tidak pernah diberi kesempatan bernapas.

Orasi ini memperlihatkan bahwa makin besar ukuran kota, travel time index meningkat, dan kota dengan pendapatan lebih rendah cenderung memiliki kemacetan lebih tinggi. Jika kita kaitkan dengan job–housing mismatch, ini sangat masuk akal. Kota yang lebih lemah secara ekonomi sering tidak punya cukup ruang fiskal untuk membangun transportasi publik yang kuat, sementara pertumbuhan penduduk dan kendaraan terus terjadi.

Di sinilah perencanaan sering gagal bukan karena tidak ada dokumen, tetapi karena tidak ada mekanisme kontrol terhadap pertumbuhan.

Prof. Miming menawarkan cara berpikir yang lebih terkendali melalui analisis daya dukung. Dalam modelnya, sisi supply dipetakan lewat kapasitas jaringan jalan dan potensi ruang pengembangan infrastruktur, sehingga diperoleh volume pergerakan maksimum yang bisa dilayani.

Lalu, sisi demand dikendalikan lewat batasan luas lantai guna lahan yang diizinkan berkembang di koridor tertentu.

Cara ini sebenarnya bukan membatasi kota agar tidak berkembang, tetapi memastikan kota berkembang dengan stabil, agar pertumbuhan tidak mengorbankan kualitas hidup.

Dan di titik ini kita bisa melihat alasan mengapa pendekatan “tambah jalan” sering gagal. Menambah jalan berarti memperbesar supply, tetapi jika demand terus meningkat karena pembangunan tidak dikendalikan, maka supply baru akan segera habis. Kota hanya mengejar, tetapi tidak pernah mengejar sampai tuntas.

Maka, inti dari bagian ini adalah: kemacetan adalah produk dari tata ruang yang tidak terikat oleh daya dukung transportasi.

 

4. Perspektif Kelembagaan: Ketika Masalah Transportasi Bukan Sekadar Teknik, tapi Soal Kebiasaan, Koordinasi, dan Kepercayaan

Bagian menarik dari orasi Prof. Miming adalah ketika ia mengakui bahwa transportasi bukan hanya persoalan perhitungan teknis, tetapi persoalan kelembagaan.

Kota bisa memiliki rencana tata ruang yang bagus, bisa memiliki model daya dukung yang rapi, bahkan bisa punya target pengendalian pengembangan. Tetapi semua itu akan rapuh jika tata kelola tidak mampu menyatukan banyak pihak yang terlibat dalam sistem transportasi.

Karena transportasi adalah urusan lintas sektor dan lintas wilayah.

Di kota-kota besar, arus perjalanan tidak mengenal batas administratif. Orang tinggal di satu kota, bekerja di kota lain, sekolah di kota lain, dan berbelanja di lokasi lain. Maka, solusi transportasi yang hanya dibuat oleh satu pemerintah daerah akan selalu terbentur batas: kebijakan berhenti di perbatasan, tetapi masalahnya tetap lewat.

Orasi ini menyinggung gagasan relational contracting, yaitu kerja sama berdasarkan hubungan antar pihak dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur.

Intinya, kerja sama lintas daerah tidak selalu harus dibangun lewat kontrak kaku yang penuh formalitas dan sanksi. Dalam banyak kasus kompleks, yang diperlukan adalah mekanisme kerja sama yang bertahan karena ada hubungan dan saling percaya, bukan hanya karena ada dokumen.

Relational contracting dalam konteks transportasi bisa dipahami sebagai cara membangun kolaborasi jangka panjang untuk:

  • menyepakati prioritas proyek lintas wilayah

  • membagi beban biaya dan manfaat secara adil

  • menyatukan data transportasi lintas daerah

  • menyelaraskan kebijakan tata ruang agar tidak saling “membuang beban”

  • membangun sistem transportasi yang tidak terpecah oleh batas administrasi

Masalahnya, kerja sama lintas daerah sering sulit karena ada konflik kepentingan yang nyata. Kota pusat ingin membatasi kendaraan masuk, tetapi kota satelit ingin warganya tetap bisa bekerja. Kota pusat ingin mengendalikan pengembangan lahan, tetapi developer menekan agar pembangunan tetap berjalan. Pemerintah daerah ingin meningkatkan pendapatan lewat pembangunan, tetapi sistem transportasi sudah tidak sanggup menampungnya.

Di sinilah persoalan transportasi bertemu dengan kebiasaan manusia dan ekonomi politik kota.

Orasi ini menegaskan bahwa persoalan transportasi tidak akan selesai jika kebijakan tidak mempertimbangkan perilaku dan kebiasaan masyarakat. Kebiasaan memakai kendaraan pribadi, misalnya, bukan semata karena “tidak peduli”, tetapi karena transportasi publik sering dianggap tidak nyaman, tidak aman, atau tidak terintegrasi.

Karena itu, Prof. Miming menekankan revitalisasi angkutan umum sebagai bagian dari strategi meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang jalan, terutama lewat peningkatan okupansi kendaraan.

Secara sederhana, ini logika yang sangat kuat:

  • satu mobil membawa 1–2 orang dan memakan ruang besar

  • satu bus membawa puluhan orang dalam ruang yang relatif lebih efisien

Jika kota ingin menurunkan kemacetan tanpa terus memperlebar jalan, maka okupansi harus dinaikkan. Dan okupansi dinaikkan bukan dengan memaksa orang pindah moda secara moral, tetapi dengan membangun sistem angkutan umum yang membuat orang rela pindah.

Pada akhirnya, bagian kelembagaan ini memperlihatkan bahwa kota tidak akan bisa mengelola kemacetan hanya dengan rumus. Kota butuh governance: koordinasi lintas wilayah, aturan yang konsisten, serta kemampuan membangun kepercayaan antar pihak.

Dan di sinilah model daya dukung tata ruang menjadi semakin penting. Model itu memberikan bahasa bersama bagi banyak pihak: berapa batas kapasitas, berapa batas pengembangan, dan apa konsekuensinya jika batas dilanggar.

Tanpa bahasa bersama, kerja sama lintas daerah hanya akan menjadi negosiasi politik yang tidak pernah selesai.

 

5. Studi Bandung dan Pelajaran Praktis: Mengubah “Rencana” Menjadi Batas yang Terukur

Salah satu hal yang membuat orasi Prof. Miming Miharja terasa kuat adalah ia tidak berhenti pada konsep, tetapi menunjukkan bagaimana konsep daya dukung transportasi bisa dipakai sebagai alat kerja yang nyata, bahkan sampai ke level koridor jalan.

Di sini, kita bisa melihat pergeseran cara berpikir yang penting:

  • dari perencanaan sebagai dokumen

  • menjadi perencanaan sebagai batas operasional

Karena dalam praktik kota, rencana tata ruang yang tidak memiliki batas terukur sering berubah menjadi slogan. Ia cantik di peta, tetapi tidak punya daya menahan tekanan pembangunan.

Orasi ini memperlihatkan bahwa pendekatan berbasis daya dukung mencoba memecahkan masalah itu dengan cara kuantitatif: menentukan volume maksimum pergerakan yang dapat dilayani, lalu menghubungkannya dengan batas pengembangan guna lahan.

Studi Bandung yang dipaparkan adalah contoh bagaimana prinsip ini diterapkan dalam skala yang sangat realistis: jalan-jalan utama.

Koridor jalan seperti Jalan Asia Afrika, Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Kopo, dan Wastukencana digunakan sebagai lokasi simulasi. Yang diukur bukan hanya seberapa macet, tetapi apa yang bisa dilakukan kota jika ingin menjaga rasio volume terhadap kapasitas tetap di kondisi yang baik.

Secara konseptual, proses ini bisa dibayangkan seperti langkah berikut:

  1. Mengukur ruang jalan yang tersedia dan kapasitas jaringan yang ada

  2. Mengestimasi potensi pengembangan infrastruktur transportasi (apakah masih bisa ditambah atau sudah mentok)

  3. Menentukan volume maksimum pergerakan yang masih dapat dilayani tanpa jatuh ke kondisi jenuh

  4. Mengaitkan volume maksimum itu dengan batas luas lantai guna lahan yang boleh tumbuh di sepanjang koridor

Langkah keempat ini adalah “momen penting” yang jarang terjadi di perencanaan konvensional. Biasanya kota membuat RTRW dan RDTR yang memetakan zona, lalu pembangunan berjalan mengikuti pasar. Tetapi ketika daya dukung dijadikan acuan, pembangunan tidak bisa melampaui kapasitas transportasi tanpa konsekuensi.

Kota seakan berkata: “kamu boleh membangun, tapi ada batasnya.”

Dari sisi ekonomi, ini terdengar seperti pembatasan. Tetapi dari sisi sistem kota, ini adalah cara mempertahankan fungsi kota agar tidak runtuh akibat kepadatan perjalanan yang berlebihan.

Poin lain yang juga penting adalah bahwa orasi ini tidak menutup opsi pertumbuhan. Ketika kapasitas jalan terbatas, Prof. Miming menekankan revitalisasi angkutan umum untuk meningkatkan efisiensi ruang jalan melalui peningkatan okupansi.

Artinya, kota punya dua cara menaikkan daya tampung mobilitas:

  • menambah kapasitas fisik (yang sering mahal dan terbatas ruangnya)

  • menaikkan efisiensi kapasitas lewat transportasi massal (yang memindahkan lebih banyak orang per ruang jalan)

Ini memberi pembelajaran praktis bahwa kota tidak boleh hanya “bertambah besar”, tetapi harus “bertambah cerdas” dalam mengelola pergerakan.

Pada titik ini, studi Bandung bukan hanya contoh lokal. Ia adalah prototipe cara berpikir yang bisa diterapkan kota lain: jadikan koridor sebagai unit pengendalian, bukan sekadar wilayah zonasi, dan jadikan transportasi sebagai rem tata ruang, bukan sebagai korban dari tata ruang.

 

6. Kesimpulan: Kota yang Tumbuh Tanpa Rem Transportasi Akan Menjadi Kota yang Terjebak

Orasi Prof. Miming Miharja membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak terlalu nyaman, tetapi sangat realistis: kota tidak bisa berkembang tanpa batas jika sistem transportasinya tidak berkembang sebanding.

Kemacetan bukan sekadar masalah lalu lintas harian. Ia adalah sinyal bahwa struktur kota tidak seimbang. Ketika permintaan perjalanan tumbuh lebih cepat daripada kapasitas transportasi, kota akan masuk ke kondisi overload, dan gap permintaan–kapasitas akan melebar.

Di titik itulah waktu tempuh membengkak, produktivitas turun, biaya logistik naik, kualitas hidup menurun, dan ketimpangan semakin sulit dikendalikan.

Karena itu, orasi ini menawarkan pendekatan yang lebih terukur: perencanaan tata ruang berbasis daya dukung infrastruktur transportasi. Dalam pendekatan ini, batas volume pergerakan yang dapat dilayani menjadi dasar untuk menentukan seberapa besar pembangunan guna lahan bisa dilakukan. Tata ruang tidak lagi menjadi peta ideal tanpa kontrol, tetapi menjadi sistem yang terhubung langsung dengan kemampuan jaringan transportasi.

Studi simulasi Bandung pada beberapa koridor jalan menunjukkan bahwa konsep ini dapat diterapkan dalam skala praktis, dengan cara mengukur kapasitas jalan, memetakan ruang yang tersedia, lalu menetapkan batas luas lantai pengembangan di sepanjang koridor tersebut. Ini memberi kota alat kontrol yang lebih konkret dibanding sekadar regulasi zonasi yang sering kalah oleh tekanan pembangunan.

Orasi ini juga menekankan bahwa solusi tidak bisa bergantung pada “tambah jalan terus”, karena ruang kota terbatas dan pertumbuhan permintaan tidak pernah berhenti. Revitalisasi angkutan umum menjadi strategi penting karena meningkatkan okupansi dan efisiensi pemanfaatan ruang jalan.

Namun, pendekatan teknis ini tidak bisa berdiri sendiri. Transportasi adalah masalah kelembagaan, yang menuntut koordinasi lintas wilayah, konsistensi kebijakan, dan mekanisme kerja sama jangka panjang. Gagasan relational contracting menjadi relevan karena transportasi metropolitan tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja.

Bagi mahasiswa, orasi ini memberi pelajaran bahwa perencanaan kota yang kuat bukan yang paling indah di peta, tetapi yang paling mampu menjaga sistem tetap berfungsi. Bagi pekerja, terutama di bidang perencanaan, transportasi, dan pemerintahan, orasi ini menunjukkan cara berpikir yang lebih realistis: pembangunan harus memiliki rem, dan rem itu adalah daya dukung.

Pada akhirnya, kota yang tumbuh tanpa rem transportasi akan menjadi kota yang terjebak. Sebaliknya, kota yang tumbuh dengan batas daya dukung yang jelas akan punya peluang lebih besar untuk menjadi kota yang produktif, layak huni, dan berkelanjutan.

 

 

Daftar Pustaka

Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Miming Miharja: Tata Ruang Berbasis Daya Dukung Infrastruktur Transportasi. 2024.

Litman, T. Transportation Demand Management: Strategies to Reduce Congestion and Emissions. (diakses 2026).

World Bank. Urban Mobility and Congestion in Developing Cities. (diakses 2026).

UN-Habitat. Urban Transport and Sustainable Development: Planning, Governance, and Equity. (diakses 2026).

Downs, A. Still Stuck in Traffic: Coping with Peak-Hour Traffic Congestion. 2004.

Selengkapnya
Tata Ruang Berbasis Daya Dukung Transportasi: Cara Realistis Mengurangi Kemacetan Kota Tanpa Ilusi “Tambah Jalan Terus”

Ilmu Olahraga

Ilmu Keolahragaan untuk Kesehatan dan Prestasi: Mengapa Kebugaran Rendah Mahasiswa Bisa Jadi Bom Waktu Penyakit Degeneratif

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 20 Januari 2026


1. Pendahuluan

Ada satu ironi yang sering tidak terlihat dalam kehidupan kampus: semakin tinggi kualitas akademik sebuah institusi, semakin besar ilusi bahwa pengembangan manusia cukup dilakukan lewat otak. Padahal manusia tidak hidup hanya dari kemampuan berpikir. Ia hidup dari tubuh yang bergerak, paru-paru yang mampu memasok oksigen, jantung yang sanggup menahan tekanan, dan kebiasaan fisik yang dibangun bertahun-tahun.

Orasi ilmiah Prof. Tommy Apriantono menempatkan olahraga dan kebugaran bukan sebagai “aktivitas tambahan”, tetapi sebagai isu strategis yang menyentuh dua hal sekaligus: kesehatan masyarakat dan prestasi olahraga. Bahkan sebelum masuk ke riset bulutangkis dan sepak bola, orasi ini menyiapkan konteks besar yang terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini: penyakit degeneratif.

Prof. Tommy mengaitkan olahraga dengan realitas beban penyakit global. Penyakit kardiovaskular disebut sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, diikuti kanker, penyakit pernapasan, dan diabetes. Narasi ini lalu ditarik ke konteks Indonesia lewat data beban klaim BPJS tahun 2021, yang menunjukkan bahwa penyakit jantung menjadi klaim tertinggi, diikuti diabetes, kanker, dan stroke.

Dari sini, olahraga tidak lagi terdengar seperti urusan gaya hidup, melainkan bagian dari strategi pencegahan beban negara. Dalam bahasa yang lebih keras: kebugaran bukan hanya urusan individu, tapi urusan sistem kesehatan.

Di ITB, pesan ini punya konteks yang lebih spesifik. Prof. Tommy menyebut bahwa ITB melihat pentingnya olahraga untuk kesehatan karena banyak alumni mengalami sakit di masa produktif. Karena itu mata kuliah olahraga diresmikan pada 1990, dengan pandangan bahwa olahraga adalah simulasi kehidupan, membentuk mahasiswa lebih terampil dan cekatan dalam pengambilan keputusan serta menghadapi tantangan harian.

Namun bagian yang paling menarik justru bukan sejarah mata kuliahnya, melainkan jarak antara tujuan dan realitasnya.

Prof. Tommy menyampaikan bahwa ketika kebugaran mahasiswa TPB diuji di awal dan di akhir, memang terjadi perubahan. Tetapi lebih dari 60% mahasiswa masih masuk kategori “jelek” dan “jelek sekali”.

Di saat yang sama, ada paradoks evaluasi: kelulusan mata kuliah olahraga mahasiswa TPB rata-rata lulus 96–98%, dan sebagian besar mendapatkan nilai A. Artinya, indikator akademik menyatakan “berhasil”, tetapi indikator fisiologis menyatakan “belum”.

Di titik ini, orasi Prof. Tommy terasa seperti kritik yang tenang namun tajam: sistem penilaian yang terlalu mudah menciptakan rasa aman palsu, sementara risiko kebugaran rendah tetap menumpuk.

Perubahan kurikulum 2024 menjadi respons yang cukup konkret: sistem penilaian berubah menjadi pass and fail, dengan standar tes lari 2,4 km (Cooper test). Mahasiswa putra harus di bawah 14 menit dan putri di bawah 18 menit untuk mencapai kategori cukup agar lulus. Jika belum lulus, mahasiswa diberi waktu 2 bulan untuk latihan mandiri dan kemudian diuji ulang.

Kebijakan ini bukan sekadar “memperketat syarat”. Ini adalah upaya menghubungkan penilaian dengan kebugaran nyata, bukan dengan kepatuhan formal. Bagian pendahuluan ini sudah menunjukkan satu pesan analitis utama: olahraga di kampus bukan soal fasilitas dan nilai, tetapi soal membangun ketahanan tubuh jangka panjang agar generasi produktif tidak menjadi generasi dengan risiko penyakit degeneratif yang meningkat.

 

2. Olahraga Kesehatan sebagai Prioritas: Kebugaran Rendah Hari Ini, Biaya Penyakit Besok

Orasi Prof. Tommy memposisikan olahraga kesehatan sebagai prioritas pertama, dengan alasan yang sangat pragmatis: semakin rendah tingkat kebugaran kardiorespirasi, semakin tinggi risiko terkena penyakit degeneratif di masa depan.

Pesan ini terasa kuat karena kebugaran kardiorespirasi sering dianggap sesuatu yang bisa “diperbaiki nanti”. Banyak orang berpikir bahwa olahraga bisa dikejar ketika sudah kerja, ketika sudah mapan, ketika sudah punya waktu. Tetapi orasi ini menekankan bahwa kebugaran adalah investasi yang paling murah jika dimulai sejak dini, dan paling mahal jika ditunda.

Prof. Tommy bahkan menyampaikan perbandingan yang cukup tegas: VO2 max mahasiswa TPB ITB dibandingkan rekan seusia di Jepang, Cina, dan Amerika Serikat berada jauh di bawah. Dampaknya diperkirakan bahwa penyakit degeneratif akan menjadi permasalahan karena rendahnya cardiorespiratory fitness meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Ini bukan hanya isu individu, tetapi isu sistem pendidikan dan kebijakan nasional.

Orasi ini menyoroti bahwa beberapa negara seperti Jepang, Australia, dan Amerika Serikat meningkatkan partisipasi olahraga generasi muda dengan menambah jam olahraga dan mewajibkan satu kegiatan ekstrakurikuler. Sebaliknya, di Indonesia mata pelajaran olahraga dihapus pada semester 6 SMP dan SMA, yang berpotensi menurunkan tingkat kebugaran dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Di titik ini, orasi Prof. Tommy tidak sekadar membahas olahraga sebagai disiplin, tetapi olahraga sebagai kebijakan sosial. Ketika jam olahraga berkurang, dampaknya bukan hanya “anak kurang bergerak”, tetapi “negara menabung risiko” dalam bentuk beban kesehatan. Ada juga logika ekonomi kesehatan yang sangat jelas: semakin seseorang mencapai kebugaran yang baik, risiko terkena penyakit degeneratif semakin rendah, sehingga beban negara untuk membayar asuransi kesehatan berkurang.

Ini membuat olahraga terasa seperti intervensi yang paling rasional. Dibanding membayar mahal ketika penyakit sudah muncul, lebih masuk akal membangun kebiasaan olahraga sejak usia dini. Namun orasi ini tidak berhenti pada narasi pencegahan. Prof. Tommy juga menempatkan ilmu olahraga sebagai disiplin ilmu yang berkembang pesat pada akhir abad ke-20. Ia mendefinisikan ilmu olahraga sebagai disiplin yang mempelajari penerapan prinsip ilmiah dan teknologi untuk meningkatkan prestasi olahraga.

Perluasan ilmu olahraga di negara-negara berprestasi membuatnya menjadi bagian dari sistem pembinaan atlet elit. Artinya, olahraga prestasi dan olahraga kesehatan bukan dua jalur yang saling bertabrakan, tetapi saling menguatkan. Ketika masyarakat bugar, basis calon atlet menjadi lebih besar. Ketika ilmu olahraga berkembang, prestasi meningkat tanpa mengorbankan kesehatan atlet.

Di sini, olahraga kesehatan dan olahraga prestasi bertemu pada satu titik: keduanya membutuhkan data tubuh, pemahaman fisiologi, dan desain latihan yang tepat. Dan dari sinilah orasi Prof. Tommy bergerak ke ranah yang lebih teknis tetapi sangat aplikatif: bagaimana mengukur beban internal dan eksternal atlet di bulutangkis dan sepak bola, serta bagaimana ilmu keolahragaan bisa menekan cedera dan meningkatkan performa.

 

3. Bulutangkis: Membaca Tubuh Atlet lewat VO2 Max, Laktat, dan Pola Rally–Istirahat

Kalau olahraga kesehatan berbicara tentang “mencegah penyakit masa depan”, maka olahraga prestasi berbicara tentang “menang hari ini”. Tapi dua tujuan ini ternyata memakai bahasa yang sama: bahasa fisiologi.

Di orasi Prof. Tommy Apriantono, bulutangkis dijadikan contoh utama bagaimana ilmu keolahragaan bekerja sebagai alat ukur dan alat kendali. Bukan hanya melihat siapa yang kuat, tapi menjelaskan kuatnya dari mana, runtuhnya kapan, dan apa yang perlu dilatih agar performa tidak putus di tengah pertandingan.

Penelitian bulutangkis yang dipaparkan punya tujuan yang jelas: mengukur variabel internal fisiologi dan aktivitas eksternal selama pertandingan, pada kategori tunggal putra dan putri. Studi dilakukan pada atlet PB Jaya Raya, melibatkan tujuh atlet putra dan tujuh atlet putri, dengan tes laboratorium dan simulasi pertandingan.

Hasil awalnya menunjukkan sesuatu yang sering kita anggap “wajar”, tapi tetap penting ketika dijadikan angka: VO2 max putra lebih tinggi dibanding putri. Rata-rata VO2 max putra sekitar 50,23 ml/menit/kg, sementara putri sekitar 40,3 ml/menit/kg.

Angka ini penting karena VO2 max adalah indikator kapasitas aerobik, dan dalam pertandingan yang panjang, kapasitas aerobik menentukan seberapa lama atlet bisa mempertahankan kualitas gerak tanpa kehilangan kontrol. Namun yang menarik, Prof. Tommy menunjukkan bahwa tidak semua indikator menunjukkan perbedaan yang sama.

Kadar laktat maksimal sebelum dan sesudah tes tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara putra dan putri. Ini memberi sinyal bahwa walaupun kapasitas aerobik berbeda, respon metabolik tertentu bisa saja berada di level yang relatif sebanding tergantung pola pertandingan dan intensitas kerja.

Bagian berikutnya masuk ke sesuatu yang lebih spesifik dan “berasa bulutangkis”: pola rally dan istirahat.

Waktu rally selama pertandingan antara putra dan putri tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Tetapi periode istirahat rata-rata berbeda signifikan, dengan putra cenderung lebih singkat sekitar 24,4 detik dibanding putri sekitar 28,1 detik.

Ini detail kecil yang sebenarnya besar. Karena selisih beberapa detik dalam pertandingan bulutangkis bukan sekadar jeda, tetapi menentukan cara tubuh mengatur napas, mengatur pemulihan, dan mempersiapkan rally berikutnya. Atlet yang mampu memotong waktu istirahat biasanya punya dua keuntungan: tekanan psikologis ke lawan dan ritme pertandingan yang lebih “mereka kuasai”. Tetapi itu hanya mungkin jika sistem energi dan kapasitas pemulihan mereka cukup kuat.

Lalu, dari uji lapangan, perbedaan fisiologis semakin terlihat.

Volume oksigen yang dikonsumsi saat pertandingan (VO2 selama game) pada putra lebih tinggi sekitar 40,33 ml dibanding putri sekitar 33,08 ml. Ada juga perbedaan signifikan pada ventilasi paru: putra sekitar 54,9 dan putri sekitar 40,53. Dan yang paling “terasa nyata” bagi atlet dan pelatih adalah energi expenditure, energi yang dipakai per menit. Putra lebih tinggi sekitar 12,81 kkal/menit, sedangkan putri sekitar 5,71 kkal/menit.

Di sini kita melihat fungsi ilmu olahraga bukan sekadar mendeskripsikan perbedaan gender, tetapi membentuk program latihan yang relevan. Karena kalau kebutuhan energi dan ventilasi berbeda, maka desain latihan, desain intensitas interval, hingga strategi pemulihan harus disesuaikan. Orasi juga memaparkan riset lain yang fokus pada karakteristik fisiologi atlet junior bulutangkis Indonesia kategori ganda putra, dengan uji laboratorium dan uji lapangan.

Hasilnya menunjukkan bahwa laktat setelah tes laboratorium lebih tinggi sekitar 12,3 mmol dibanding tes lapangan sekitar 4,6 mmol. Denyut jantung pada tes laboratorium juga lebih tinggi sekitar 186 dibanding 152 saat pertandingan.

Ini menjelaskan satu hal penting: tes laboratorium bisa mendorong tubuh ke intensitas yang lebih ekstrem dibanding kondisi pertandingan nyata, sehingga hasilnya harus dibaca sebagai kapasitas puncak, bukan gambaran identik kondisi pertandingan.

Dari analisis karakteristik pertandingan, pola rally yang paling sering terjadi ternyata berlangsung di bawah 15 detik, sekitar 96,5% dari rally, sedangkan rally lebih panjang (lebih dari 15 detik hingga kurang dari 1 menit) hanya sekitar 3,5%. Rata-rata rally sekitar 11,3 detik dan istirahat sekitar 12,6 detik.

Temuan ini memberikan dasar desain latihan yang sangat konkret: latihan harus meniru struktur pertandingan.

Bulutangkis ganda putra, dalam data ini, bukan olahraga dengan rally panjang yang dominan. Ia adalah olahraga ledakan pendek yang berulang-ulang. Dan itu mengarah pada kesimpulan sistem energi dominan: anaerobic system, khususnya sistem ATP-PC sekitar 96,5%, dengan kontribusi kecil dari glikolisis asam laktat sekitar 3,5%.

Ini menjelaskan mengapa banyak atlet terlihat “cepat habis” jika kekuatan eksplosifnya turun, atau mengapa mereka bisa tampak segar tetapi tiba-tiba runtuh ketika repetisi eksplosif tidak lagi stabil. Karena energi dominannya ada pada ledakan, bukan daya tahan panjang.

Bagi pelatih, angka-angka ini bukan hiasan. Ini adalah peta latihan: berapa durasi kerja, berapa durasi istirahat, sistem energi apa yang harus diprioritaskan.

Dan bagi mahasiswa, ini pelajaran yang lebih besar: olahraga prestasi modern bukan hanya “skill”. Ia adalah sistem pengukuran tubuh.

 

4. Sepak Bola: Beban Internal vs Eksternal, dan Kenapa Gelandang Tidak Bisa Dilatih Seperti Bek

Jika bulutangkis memperlihatkan ledakan pendek berulang, sepak bola memperlihatkan sesuatu yang lebih kompleks: pertandingan panjang dengan perubahan intensitas yang tidak selalu bisa diprediksi.

Karena itu, Prof. Tommy memaparkan analisis sepak bola dengan dua lensa sekaligus:

  1. beban internal

  2. beban eksternal

Beban internal menggambarkan apa yang terjadi di dalam tubuh: denyut jantung, persepsi kelelahan, respon fisiologis. Beban eksternal menggambarkan output fisik yang terlihat: total jarak, sprint, kecepatan, dan pola gerak yang bisa ditangkap melalui teknologi seperti GPS.

Dalam penelitian yang dipaparkan, beban internal diukur menggunakan heart rate monitor, sedangkan beban eksternal diukur dengan sistem GPS. Yang menarik, data tidak hanya dibaca “sepanjang satu pertandingan”, tetapi dibandingkan antar fase kompetisi: fase grup, semifinal, final, hingga perebutan juara 3.

Hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan pada beberapa variabel beban internal (misalnya heart rate rata-rata) pada pertandingan tertentu, dan pada skala persepsi kelelahan juga muncul perbedaan signifikan di beberapa pasangan pertandingan. Sementara denyut nadi maksimal tidak menunjukkan perbedaan signifikan.

Secara analitis, ini logis. Denyut jantung maksimal adalah kapasitas puncak tubuh yang relatif stabil dalam jangka pendek. Tetapi denyut rata-rata dan persepsi kelelahan lebih sensitif terhadap konteks pertandingan: tekanan, tempo, strategi, dan beban psikologis.

Di sisi beban eksternal, total jarak lari menunjukkan perbedaan signifikan pada beberapa perbandingan pertandingan, begitu juga jarak sprint. Sedangkan kecepatan lari tidak selalu berbeda signifikan.

Ini menunjukkan bahwa performa sepak bola bukan hanya soal “seberapa cepat”, tetapi seberapa sering dan seberapa jauh atlet harus bergerak dalam situasi nyata pertandingan. Dua pemain bisa punya top speed yang mirip, tetapi satu pemain dipaksa sprint lebih sering, atau berlari total lebih jauh, sehingga beban totalnya berbeda.

Lalu bagian yang paling aplikatif muncul ketika analisis dilakukan berdasarkan posisi.

Orasi ini membandingkan pemain bertahan, gelandang, dan penyerang. Hasilnya menunjukkan:

  • denyut jantung rata-rata paling rendah ada pada pemain bertahan

  • penyerang cenderung lebih lelah dibanding bertahan dan gelandang

  • total jarak paling tinggi ada pada gelandang

  • jarak sprint dan perbedaan kecepatan juga bervariasi antar posisi

Kalau dibaca seperti cerita, ini sebenarnya menggambarkan logika sepak bola yang kita rasakan dari mata: gelandang adalah mesin mobilitas, penyerang adalah mesin ledakan dan tekanan, bek adalah penjaga struktur yang lebih terikat posisi.

Namun ketika logika itu diubah menjadi data, manfaatnya menjadi sangat jelas: pelatih tidak boleh menyamaratakan program latihan.

Gelandang tidak bisa dilatih seperti bek. Penyerang tidak bisa dilatih seperti gelandang. Karena beban fisiologis dan tuntutan geraknya berbeda.

Dengan kata lain, ilmu keolahragaan mengubah “perasaan pelatih” menjadi angka yang bisa dipakai untuk:

  • merancang program latihan spesifik posisi

  • mengatur rotasi pemain dan pemulihan

  • menekan risiko cedera akibat beban berlebih

  • memantau konsistensi performa antar pertandingan

Dan ini membawa kita kembali ke inti orasi: peran ilmu keolahragaan bukan hanya meningkatkan prestasi, tetapi juga injuri preventif, mencegah cedera agar performa bisa stabil dan karier atlet tidak rusak sebelum waktunya.

 

5. Injuri Preventif: Kenapa Pemantauan Beban Itu “Asuransi” bagi Atlet dan Sistem Pembinaan

Dalam olahraga prestasi, cedera sering diperlakukan seperti “risiko normal”. Atlet cedera, lalu rehabilitasi, lalu kembali bermain. Tapi pola itu sebenarnya mahal, bukan hanya secara medis, tetapi secara karier, psikologis, dan kualitas performa tim.

Orasi Prof. Tommy Apriantono membawa kita ke satu sudut pandang yang lebih modern: cedera bukan sekadar kejadian acak. Cedera sering muncul sebagai akumulasi beban yang tidak terkelola dengan baik. Dan jika beban bisa diukur, maka sebagian risiko cedera bisa dikendalikan.

Di sinilah konsep beban internal dan eksternal yang dipaparkan pada bagian sepak bola sebelumnya menjadi sangat penting. Pemantauan heart rate, persepsi kelelahan, serta data GPS bukanlah “alat tambahan”, tetapi cara untuk melihat risiko yang tidak terlihat dari mata.

Pelatih mungkin bisa melihat atlet tampak segar, tapi data bisa menunjukkan bahwa beban internalnya sudah tinggi. Atlet mungkin tampak biasa saja di sesi latihan, tetapi jarak sprint totalnya bisa menunjukkan bahwa ia sudah menumpuk beban eksplosif lebih besar dibanding rekan setimnya.

Dan akumulasi beban semacam ini adalah pintu masuk cedera.

Pendekatan injuri preventif dalam orasi ini bisa dibaca sebagai perubahan paradigma:

  • dari memperbaiki cedera → menuju mencegah cedera

  • dari menunggu atlet “drop” → menuju memonitor tanda-tanda awal

  • dari latihan seragam → menuju latihan berbasis kebutuhan dan posisi

Bagian bulutangkis memberi contoh betapa spesifiknya kebutuhan sistem energi. Jika mayoritas rally berada di bawah 15 detik, maka repetisi eksplosif menjadi tuntutan utama. Tetapi repetisi eksplosif juga punya risiko tinggi pada otot, tendon, dan sendi. Jika latihan eksplosif dikejar tanpa kontrol pemulihan, maka cedera overuse sangat mungkin muncul.

Bagian sepak bola juga memperlihatkan bahwa beban berbeda antar posisi. Gelandang memiliki total jarak tertinggi, penyerang cenderung lebih lelah, dan pemain bertahan memiliki beban internal rata-rata lebih rendah. Maka cedera yang dominan pun bisa berbeda: gelandang rentan pada akumulasi volume, penyerang rentan pada sprint berulang, sementara bek rentan pada perubahan arah dan duel fisik.

Di sinilah ilmu olahraga bekerja sebagai “asuransi” bagi atlet.

Karena biaya terbesar dalam pembinaan atlet bukan hanya dana latihan, tetapi waktu. Jika atlet kehilangan dua bulan karena cedera, mereka bukan hanya kehilangan pertandingan, tetapi kehilangan fase adaptasi latihan yang sulit dikembalikan.

Dari perspektif organisasi olahraga, injuri preventif juga berarti efisiensi pembinaan. Atlet yang sehat lebih mudah dikembangkan, lebih mudah dipantau progresnya, dan lebih konsisten performanya.

Dan di level kampus, pesan ini terasa lebih luas lagi. Jika mahasiswa muda sudah masuk kategori kebugaran “jelek” dan “jelek sekali” dalam proporsi besar, itu bukan hanya masalah kemampuan lari 2,4 km. Itu berarti tubuh generasi produktif sedang membangun risiko, dan risiko itu akan “dibayar” nanti dalam bentuk sakit dan penurunan produktivitas.

Pada titik ini, injuri preventif bukan hanya isu atlet elit. Ia adalah isu masyarakat: bagaimana kita mencegah tubuh menjadi rapuh sebelum usia produktif berakhir.

 

6. Kesimpulan: Ilmu Keolahragaan adalah Jembatan antara Kesehatan Populasi dan Prestasi Atletik

Orasi Prof. Tommy Apriantono memperlihatkan bahwa olahraga tidak bisa lagi dipahami sebagai aktivitas tambahan yang dilakukan ketika sempat. Olahraga harus diposisikan sebagai fondasi kesehatan dan sebagai instrumen prestasi yang berbasis sains.

Di level kesehatan, orasi ini menegaskan bahwa kebugaran kardiorespirasi berhubungan langsung dengan risiko penyakit degeneratif. Data global dan konteks Indonesia memperlihatkan bahwa penyakit seperti jantung, diabetes, kanker, dan stroke menjadi beban yang besar. Jika kebugaran generasi muda rendah, negara pada dasarnya sedang menabung beban kesehatan yang mahal di masa depan.

Di level institusi pendidikan, orasi ini menyoroti paradoks yang kuat: nilai mata kuliah olahraga mahasiswa bisa tinggi, tetapi kebugaran fisiknya masih rendah. Perubahan sistem penilaian menjadi pass and fail dengan standar Cooper test adalah bentuk upaya untuk menghubungkan nilai dengan kebugaran nyata.

Di level prestasi olahraga, orasi ini menunjukkan bagaimana ilmu olahraga membedah performa dengan cara yang konkret. Dalam bulutangkis, variabel seperti VO2 max, ventilasi, energi expenditure, serta pola rally dan istirahat menjadi dasar memahami sistem energi dominan. Dalam sepak bola, pemantauan beban internal dan eksternal menunjukkan bagaimana tuntutan pertandingan berbeda antar fase kompetisi dan antar posisi pemain, sehingga latihan tidak bisa disamaratakan.

Arah besarnya jelas: ilmu keolahragaan bukan sekadar teori di kelas, tetapi alat untuk menyusun latihan yang lebih presisi, mencegah cedera, dan menjaga performa tetap stabil.

Bagi mahasiswa, orasi ini memberi peringatan yang halus tetapi serius: kebugaran rendah bukan masalah kecil. Ia adalah indikator risiko jangka panjang. Bagi pekerja, terutama di sektor olahraga, pendidikan, dan kesehatan, orasi ini memperlihatkan bahwa intervensi olahraga yang benar bukan sekadar meningkatkan aktivitas, tetapi membangun sistem pengukuran, pemantauan, dan kebijakan yang membuat olahraga menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, pesan orasi ini terasa sederhana: tubuh yang sehat bukan bonus, tetapi prasyarat hidup produktif. Dan prestasi olahraga yang konsisten bukan hasil bakat semata, tetapi hasil sains yang dipakai dengan disiplin.

 

 

Daftar Pustaka

Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Tommy Apriantono: Ilmu Keolahragaan untuk Kesehatan dan Prestasi. 2024.

World Health Organization. Physical Activity Guidelines and Recommendations. (diakses 2026).

American College of Sports Medicine. ACSM Guidelines for Exercise Testing and Prescription. Edisi terbaru. (diakses 2026).

FIFA Medical Network. Injury prevention and load monitoring in football. (diakses 2026).

Gabbett, T. J. The training–injury prevention paradox: should athletes be training smarter and harder? (diakses 2026).

Selengkapnya
Ilmu Keolahragaan untuk Kesehatan dan Prestasi: Mengapa Kebugaran Rendah Mahasiswa Bisa Jadi Bom Waktu Penyakit Degeneratif

Kesehatan Digital & Inovasi Medis

Obat Asam Urat dari Tanaman Indonesia: Mengapa Riset Anti-Hiperurisemia Penting Meski Allopurinol Murah dan Mudah Dicari

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 20 Januari 2026


1. Pendahuluan

Penyakit asam urat sering dianggap sepele. Banyak orang menganggapnya hanya “nyeri sendi yang datang sesekali” dan akan hilang kalau minum obat. Tetapi orasi ilmiah Prof. Muhamad Insanu memposisikan hiperurisemia secara lebih serius: ia bukan sekadar rasa sakit, melainkan pintu masuk menuju rangkaian masalah metabolik yang lebih besar.

Hiperurisemia adalah kondisi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat karena produksi berlebih dan/atau ekskresi yang tidak mencukupi, bahkan pada pola makan yang dianggap normal. Dalam orasi ini disebutkan batas praktisnya: kadar asam urat maksimal sekitar 7 mg/dL pada laki-laki dan 5,7 mg/dL pada perempuan.

Yang menarik, Prof. Insanu tidak hanya menjelaskan definisi klinis. Ia menempatkan asam urat dalam “peta besar” penyakit kronis. Disebutkan bahwa asam urat termasuk penyakit kronis terbesar keempat setelah hipertensi, hiperglikemia, dan hiperlipidemia. Artinya, asam urat tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan pola hidup modern: konsumsi tinggi, aktivitas rendah, dan metabolisme yang semakin terganggu.

Tetapi bagian yang paling penting justru bukan angka uratnya. Bagian yang paling membahayakan adalah komorbiditasnya: penyakit penyerta yang membentuk semacam lingkaran setan. Dalam orasi ini disebutkan beberapa komorbiditas yang sering terkait, termasuk penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, obesitas, diabetes, hipertensi, serta sindrom metabolik.

Jika dilihat dari sudut pandang orang awam, asam urat baru dianggap “serius” ketika sudah menyerang kaki dan membuat sendi membengkak, memerah, dan sakit luar biasa. Prof. Insanu menjelaskan bahwa kondisi ini bisa meningkat menjadi gout, dan meskipun tidak selalu mematikan, rasa sakitnya dapat mengganggu kualitas hidup secara ekstrem. Bahkan jika dibiarkan, gout bisa memicu terbentuknya benjolan yang disebut tofi.

Di sinilah riset menjadi relevan. Karena banyak orang bisa hidup bertahun-tahun dengan asam urat tinggi, tetapi tanpa sadar mereka sedang berjalan menuju komplikasi. Dan ketika komplikasi muncul, biaya kesehatan meningkat, produktivitas turun, dan hidup jadi lebih rapuh.

Namun muncul pertanyaan yang mungkin juga akan muncul di kepala pembaca pekerja: kalau obat asam urat sudah ada dan murah, mengapa masih perlu riset?

Prof. Insanu menjawabnya dengan cara yang praktis dan jujur: masalah utamanya bukan ketersediaan obat, tetapi efek samping dan keterbatasan terapi pada sebagian pasien.

Artinya, penelitian obat alternatif dari tumbuhan bukan proyek romantik. Ia adalah upaya mencari opsi terapi yang lebih aman, lebih cocok untuk variasi kondisi pasien, sekaligus membuka peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang masih jauh dari maksimal. Dan ketika riset ini dilakukan oleh peneliti farmasi, tujuan akhirnya bukan sekadar membuktikan “tanaman ini punya aktivitas”, tetapi membangun jalur pembuktian ilmiah dari pengetahuan tradisional menuju kandidat produk kesehatan yang kredibel.

 

2. Mengapa Tanaman Obat Masuk Akal untuk Asam Urat: Celah antara Terapi Standar dan Kebutuhan Pasien

Bagian menarik dari orasi Prof. Insanu adalah cara ia menjelaskan manajemen terapi hiperurisemia. Ia membaginya menjadi dua jalur besar: nonfarmakologi dan farmakologi.

Nonfarmakologi adalah terapi tanpa obat, yang secara praktik berarti memperbaiki pola makan, menurunkan berat badan, menghindari makanan tinggi purin, serta meningkatkan aktivitas fisik. Jalur ini terdengar ideal, tetapi realitasnya sulit. Banyak pasien memahami anjurannya, tetapi tidak bisa konsisten. Dan di sinilah hiperurisemia sering bertahan lama: bukan karena pasien tidak tahu, tetapi karena perilaku makan dan gaya hidup lebih sulit diubah daripada mengganti obat.

Farmakologi adalah terapi dengan obat, dan dalam orasi ini dijelaskan beberapa kategori utama:

  1. anti nyeri, seperti naproksen, natrium diklofenak, kolkisin, dan prednison

  2. penghambat pembentukan asam urat, yaitu inhibitor xanthine oxidase seperti allopurinol

  3. urikosurik, yang membantu pengeluaran asam urat melalui urin seperti probenesid

  4. konversi asam urat menjadi zat lain yang lebih larut seperti peglotikase yang mengubah asam urat menjadi allantoin

Ini peta terapi yang sangat masuk akal secara klinis. Tetapi lagi-lagi, masalah nyata muncul pada pengalaman pasien.

Prof. Insanu menjelaskan alasan mengapa riset tumbuhan obat menjadi penting: efek samping dari obat-obat tersebut. Salah satu contoh efek samping yang ia sebutkan adalah munculnya kemerahan di bibir, yang semakin meningkat ketika konsumsi obat juga meningkat.

Di titik ini, kita melihat celah kebutuhan. Obat yang murah belum tentu cocok untuk semua orang. Obat yang efektif belum tentu nyaman untuk penggunaan jangka panjang. Dan penyakit metabolik seperti hiperurisemia sering membutuhkan pengelolaan yang konsisten, bukan penanganan sesaat. Karena itu, riset tanaman obat diarahkan ke tiga tujuan besar:

  1. mencari alternatif obat penurun asam urat

  2. memberikan pembuktian ilmiah untuk tumbuhan obat tradisional penurun asam urat

  3. meningkatkan aktivitas ekstrak atau senyawa aktif dari tanaman

Metode eksplorasi yang dipakai juga memperlihatkan bahwa riset ini tidak berjalan asal coba. Prof. Insanu menyebut pendekatan seperti telaah pustaka, studi etnofarmakologi, dan mini survei untuk pencarian tanaman.

Sementara pengujiannya dilakukan lewat dua jalur:

  • pengujian in vitro, misalnya lewat tabung reaksi untuk melihat penghambatan enzim tertentu

  • pengujian in vivo, menggunakan hewan uji untuk melihat efek biologisnya

Ini penting karena banyak klaim tanaman obat berhenti di level “katanya ampuh”. Tetapi riset farmasi menuntut pembuktian berlapis: mekanisme, aktivitas, keamanan, dan konsistensi.

Selain itu, orasi ini menyebut fakta besar yang sering jadi kebanggaan sekaligus tantangan: Indonesia memiliki sekitar 19.000 tanaman obat, 16.000 di antaranya sudah diidentifikasi, dan 9.600 diketahui memiliki khasiat obat. Tetapi hanya sekitar 200 tanaman yang benar-benar digunakan dalam industri obat tradisional. Angka ini seperti alarm halus: Indonesia kaya bahan, tetapi miskin hilirisasi.

Dari sisi pekerja industri, data ini adalah peluang ekonomi. Dari sisi akademisi, data ini adalah daftar panjang pekerjaan rumah. Dari sisi pemerintah, ini mengarah pada agenda kemandirian bahan baku obat.

Dan di sinilah riset anti-hiperurisemia menjadi contoh yang konkret: satu penyakit, satu target enzim, lalu eksplorasi tanaman dari berbagai daerah dan tradisi pengobatan untuk menemukan kandidat terbaik.

 

3. Studi Kasus Tanaman Indonesia: Dari Papua sampai Makassar, Dari Halaman Rumah sampai Tradisi Lokal

Salah satu kekuatan orasi Prof. Muhamad Insanu adalah cara ia menyusun riset anti-hiperurisemia sebagai kerja eksplorasi yang nyata dan sangat “Indonesia”. Bukan sekadar mencari kandidat obat dari literatur luar negeri, tetapi menggali tanaman yang sudah digunakan masyarakat, lalu diuji dengan pendekatan farmasi modern.

Pola kerjanya konsisten: ada pengetahuan tradisional, ada pengujian aktivitas, lalu ada tahap isolasi senyawa untuk memastikan komponen apa yang benar-benar berperan.

Berikut enam contoh kasus yang dipaparkan dalam orasi.

3.1 Sarang Semut Papua: Tradisi Lokal yang Dibuktikan Lewat Penghambatan Xanthine Oxidase

Sarang semut dari Papua adalah contoh yang menarik karena ia bukan “tanaman populer” seperti jahe atau kunyit. Sarang semut dikenal dan digunakan secara tradisional di Papua, tetapi secara ilmiah perlu dipastikan mana spesies yang memang paling aktif.

Prof. Insanu menjelaskan bahwa “sarang semut” ternyata tidak hanya satu jenis, melainkan terdiri dari beberapa spesies. Karena itu, timnya menguji satu per satu untuk melihat mana yang paling baik dalam menghambat enzim xanthine oxidase, enzim kunci dalam pembentukan asam urat.

Hasilnya, salah satu spesies menunjukkan aktivitas terbaik, yaitu sarang semut dengan spesies Myrmecodia tuberosa. Setelah itu, tim melakukan isolasi senyawa dan berhasil memperoleh tiga senyawa yang aktif dalam penghambatan asam urat.

Di sini terlihat pentingnya proses ilmiah: masyarakat sudah punya praktik penggunaan, tetapi riset memberi validasi sekaligus memisahkan bagian yang “benar-benar bekerja” dari yang hanya kebetulan dipercaya.

3.2 Idat dari Riau: Dari Tradisi Sumatera ke Satu Senyawa Aktif

Studi kasus berikutnya datang dari Riau, Sumatera. Prof. Insanu menyebut tanaman idat sebagai kandidat yang dibawa dari daerah tersebut, kemudian diteliti lebih lanjut.

Hasilnya, dari tanaman ini tim berhasil mengisolasi satu senyawa yang menunjukkan aktivitas penghambatan asam urat.

Kasus idat ini menarik karena menunjukkan bahwa riset tanaman obat tidak selalu harus dimulai dari tanaman yang sudah dikenal secara nasional. Justru banyak tanaman lokal yang potensinya besar, tetapi baru terlihat ketika ada jembatan antara pengetahuan tradisional dan metode riset farmasi.

3.3 Jambu Air: Tanaman “Dekat Sekali” yang Ternyata Punya Aktivitas

Jika sarang semut Papua dan idat terasa eksotis karena konteks wilayahnya, jambu air justru kebalikannya. Prof. Insanu mengingatkan bahwa jambu air sering ada di halaman rumah. Namun kedekatan ini tidak otomatis membuatnya dipahami secara ilmiah.

Dalam risetnya, tim menggunakan daun jambu air, lalu berhasil mengisolasi satu senyawa yang aktif sebagai anti asam urat.

Ini memberi pesan sederhana tetapi kuat: tanaman yang selama ini kita lihat sebagai buah konsumsi harian bisa mengandung komponen bioaktif yang relevan untuk penyakit metabolik.

3.4 Buah Malaka (Phyllanthus emblica): Kandidat Tradisional dengan Aktivitas In Vivo

Buah malaka, atau Phyllanthus emblica, disebut digunakan secara tradisional di Sumatera. Dari riset yang dipaparkan, tim berhasil mengisolasi satu senyawa, lalu dilakukan upaya untuk meningkatkan aktivitasnya dalam penanganan asam urat.

Yang penting, buah malaka juga ditunjukkan aktif secara in vivo dalam penanganan asam urat, dengan dukungan kolaborasi bidang farmakologi.

Ini poin penting, karena banyak kandidat tanaman “bagus” di tahap in vitro tetapi melemah ketika masuk sistem biologis yang lebih kompleks. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa efeknya lebih realistis untuk pengembangan lanjutan.

3.5 Sidaguri: Dua Senyawa Flavonoid Glikosida dan Variasi Kandungan Berdasarkan Lokasi

Sidaguri menjadi studi kasus yang sangat kaya karena memperlihatkan dua hal sekaligus: isolasi senyawa aktif dan variasi kandungan akibat lingkungan tumbuh.

Prof. Insanu menyebut riset ini sebagai kolaborasi beberapa kampus di Indonesia, dan dari sidaguri berhasil diisolasi dua senyawa flavonoid glikosida.

Lalu bagian menariknya: sidaguri yang tampak “sama” ternyata kandungannya bisa berbeda tergantung lokasi dan ketinggian. Dalam orasi disebutkan perbandingan sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat seperti Lembang, Subang, Banjaran, dan Sukabumi, dan disimpulkan bahwa kandungannya berbeda pada ketinggian yang berbeda.

Dari perspektif industri herbal, ini bukan detail kecil. Ini menyentuh isu standarisasi bahan baku, salah satu masalah terbesar dalam hilirisasi obat tradisional. Tanpa standar kualitas, produk berbasis tanaman bisa berubah-ubah efeknya antar batch.

3.6 Parang Romang: Dari Makassar ke Kajian In Silico Menuju Publikasi Lanjut

Studi kasus terakhir yang disebut Prof. Insanu adalah Parang Romang, yang datang dari Makassar. Tim melakukan isolasi, dan juga melakukan kajian in silico untuk memahami aktivitasnya. Hasilnya sedang diupayakan untuk dipublikasikan di jurnal yang lebih baik.

Di bagian ini, terlihat bahwa riset anti-hiperurisemia tidak berhenti pada “tanaman A bekerja”, tetapi bergerak menuju pemahaman mekanistik dan peluang publikasi yang lebih kuat.

Dan kalau semua studi kasus ini dirangkum, pola besarnya terasa jelas: Indonesia punya banyak kandidat, dan riset ilmiah bertugas memilah mana yang paling menjanjikan, mengisolasi senyawa aktif, lalu menyiapkan jalan menuju hilirisasi.

 

4. Mengapa Flavonoid Jadi Kunci Aktivitas: Struktur Kimia, Gugus Hidroksil, dan Efek Gula pada Penurunan Aktivitas

Setelah memaparkan berbagai studi kasus, Prof. Insanu menyimpingkan satu benang merah yang mengikat sebagian besar kandidat tanaman tersebut: banyak aktivitas anti-hiperurisemia berkaitan dengan golongan flavonoid.

Ini bukan klaim lepas, tetapi observasi yang masuk akal dalam kimia farmasi. Karena flavonoid merupakan kelompok senyawa yang luas dan sering terlibat dalam aktivitas biologis berbagai tanaman.

Dalam orasi, Prof. Insanu menjelaskan bahwa flavonoid yang aktif sebagai anti asam urat terutama berasal dari golongan flavon dan flavonol.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “flavonoid itu apa”, tapi “mengapa golongan ini bisa efektif?”

Jawabannya muncul dari struktur kimia.

4.1 Struktur dasar flavonoid menentukan interaksi dengan target enzim

Flavonoid memiliki kerangka struktur yang memungkinkan interaksi dengan enzim-enzim tertentu, termasuk xanthine oxidase. Dalam konteks hiperurisemia, menghambat enzim ini berarti menekan proses pembentukan asam urat.

Walaupun orasi tidak masuk ke detail mekanisme docking satu per satu, arah pesannya jelas: struktur menentukan aktivitas, dan aktivitas ini bisa diprediksi serta diuji.

4.2 Gugus hidroksil (–OH) meningkatkan aktivitas

Prof. Insanu menegaskan bahwa keberadaan gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas flavonoid sebagai anti asam urat.

Secara analitis, ini masuk akal karena gugus hidroksil sering memengaruhi:

  • kemampuan senyawa membentuk ikatan hidrogen

  • kelarutan dalam medium biologis tertentu

  • afinitas interaksi dengan situs aktif enzim

Maka bukan hanya “nama senyawanya” yang penting, tetapi posisi dan jumlah gugus –OH di struktur tersebut.

4.3 Penambahan gula (glikosida) justru menurunkan aktivitas

Bagian ini menarik karena sering bertentangan dengan persepsi awam. Banyak orang mengira semakin “kompleks” senyawa, semakin kuat efeknya. Padahal Prof. Insanu menyebut bahwa penambahan gula pada gugus flavonoid justru menurunkan aktivitasnya.

Dalam bahasa yang sederhana: flavonoid aglikon (tanpa gula) cenderung lebih aktif, sedangkan flavonoid glikosida (dengan gula) aktivitasnya bisa turun.

Bagi riset tanaman, poin ini penting karena dua hal:

  1. ekstrak tanaman bisa kaya glikosida, tetapi efeknya tidak selalu sekuat yang diperkirakan

  2. jika ingin meningkatkan aktivitas, riset bisa diarahkan ke pemurnian aglikon atau modifikasi struktur

Dan ini nyambung dengan arah riset lanjutan yang disebut Prof. Insanu: mengarah ke metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.

Artinya, riset tidak berhenti pada eksplorasi bahan, tetapi bergerak ke optimasi: bagaimana membuat kandidat terbaik menjadi lebih efektif, lebih konsisten, dan lebih siap diproduksi.

 

5. Tantangan Hilirisasi Tanaman Anti-Asam Urat: Standarisasi, Reproducibility, dan Realitas Industri

Kalau bagian studi kasus memberi kesan bahwa Indonesia punya banyak kandidat tanaman anti-hiperurisemia, bagian berikutnya membuat kita berpikir lebih realistis: mengapa kekayaan kandidat itu belum otomatis berubah menjadi produk yang kuat di pasar, atau bahkan menjadi bahan baku farmasi yang benar-benar mapan.

Jawabannya ada pada hilirisasi.

Hilirisasi bukan sekadar “membuat produk herbal” dan menjualnya. Hilirisasi adalah proses panjang yang memastikan bahwa sebuah kandidat bahan alam bisa:

  • konsisten kandungannya

  • konsisten efek biologisnya

  • aman dikonsumsi dalam jangka panjang

  • punya bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan

  • dapat diproduksi dalam skala industri

Dan orasi Prof. Muhamad Insanu memberi beberapa petunjuk yang sangat nyata tentang tantangan itu.

5.1 Variasi kandungan antar lokasi: tanaman yang sama belum tentu kualitasnya sama

Kasus sidaguri yang dipaparkan sebelumnya adalah contoh yang sangat jelas. Sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat menunjukkan kandungan yang berbeda pada ketinggian yang berbeda. Ini berarti bahan baku tanaman bersifat sensitif terhadap lingkungan tumbuh.

Di dunia industri, variasi seperti ini adalah masalah besar. Karena konsumen, dokter, atau sistem kesehatan tidak bisa menerima produk yang efeknya “kadang terasa, kadang tidak”.

Maka hilirisasi selalu bertemu dengan pertanyaan standar:

  • bagian mana dari tanaman yang dipakai? daun, akar, batang, atau buah?

  • kapan tanaman dipanen?

  • ditanam di mana, dengan kondisi tanah seperti apa?

  • bagaimana proses pengeringan dan penyimpanannya?

  • bagaimana metode ekstraksi agar konsisten?

Jawaban atas pertanyaan ini yang menentukan apakah kandidat tanaman bisa bergerak dari “hasil penelitian” menjadi “produk yang bisa diandalkan”.

5.2 Reproducibility: riset harus bisa diulang dengan hasil yang mirip

Di tahap penelitian, penemuan satu senyawa aktif adalah pencapaian besar. Tetapi industri akan bertanya hal lain: bisa tidak hasil ini diulang?

Konsistensi bukan hanya soal kadar senyawa, tetapi soal performa biologis. Misalnya, jika ekstrak sarang semut Papua menunjukkan penghambatan xanthine oxidase yang baik, industri akan membutuhkan standar produksi agar efektivitas itu stabil, bukan hanya muncul pada batch tertentu.

Inilah alasan mengapa studi yang mengisolasi senyawa aktif punya nilai strategis. Ketika senyawa aktif sudah diketahui, proses standarisasi menjadi lebih mungkin dilakukan, karena pengukuran bisa dipusatkan pada marker compound.

5.3 Dari in vitro ke in vivo: banyak kandidat “bagus” gugur di tahap tubuh nyata

Prof. Insanu membedakan pengujian tanaman menjadi in vitro dan in vivo. Ini menegaskan bahwa keberhasilan di tabung reaksi belum tentu bertahan dalam sistem biologis yang kompleks.

Di tubuh, senyawa menghadapi masalah seperti:

  • penyerapan di saluran cerna

  • metabolisme hati

  • ikatan dengan protein plasma

  • distribusi ke jaringan

  • eliminasi lewat ginjal atau empedu

  • interaksi dengan senyawa lain dalam ekstrak

Itulah sebabnya kasus buah malaka menjadi penting karena menunjukkan aktivitas in vivo. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa kandidat tersebut tidak hanya “kuat di teori”, tetapi punya peluang lebih tinggi untuk menjadi terapi yang relevan.

5.4 Optimasi aktivitas: senyawa aktif belum tentu langsung optimal untuk terapi

Bagian tentang flavonoid menunjukkan bahwa aktivitas ditentukan oleh struktur. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sedangkan penambahan gula dapat menurunkan aktivitas.

Ini memberi arah strategis untuk pengembangan lanjutan. Jika flavonoid glikosida kurang aktif, maka riset bisa mencari:

  • bentuk aglikonnya

  • cara meningkatkan proporsi senyawa aktif tertentu

  • metode ekstraksi yang lebih selektif

  • modifikasi struktur dan modifikasi sediaan

Orasi Prof. Insanu juga menyebut arah riset lanjutan menuju metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan. Ini menegaskan bahwa perjalanan obat herbal modern bukan berhenti di “tanaman mana yang manjur”, tetapi berlanjut ke “bagaimana membuatnya stabil dan kuat”.

5.5 Realitas kebutuhan masyarakat: terapi alternatif harus aman dan bisa dipakai jangka panjang

Hiperurisemia adalah kondisi yang sering butuh pengelolaan panjang. Di banyak pasien, masalahnya bukan serangan gout sekali dua kali, tetapi kadar asam urat yang bertahan tinggi bertahun-tahun. Terapi yang dibutuhkan bukan sekadar cepat, tetapi bisa dipakai konsisten.

Di sinilah tanaman obat punya peluang, tetapi juga punya tuntutan yang sama: keamanan jangka panjang, konsistensi, dan interaksi obat memastikan ia tidak menambah risiko.

Maka, penelitian Prof. Insanu bisa dibaca sebagai upaya memperluas “ruang aman” terapi: menyediakan alternatif bagi pasien yang tidak cocok dengan terapi tertentu, atau membutuhkan pendekatan yang lebih toleran.

 

6. Kesimpulan: Riset Tanaman Anti-Hiperurisemia adalah Jalan Ilmiah untuk Memperluas Pilihan Terapi, Bukan Sekadar Tren Herbal

Orasi Prof. Muhamad Insanu memperlihatkan bahwa riset tanaman anti-hiperurisemia bukan proyek yang berdiri di pinggir farmasi modern. Ia justru bergerak di pusat kebutuhan masyarakat, karena hiperurisemia adalah penyakit metabolik yang luas dampaknya dan sering berkaitan dengan berbagai komorbiditas seperti gangguan kardiovaskular dan ginjal.

Terapi standar untuk hiperurisemia sudah tersedia, tetapi tidak semua pasien cocok dengan obat yang sama, terutama karena faktor efek samping dan kebutuhan penggunaan jangka panjang. Di sinilah eksplorasi tanaman menjadi relevan sebagai jalur ilmiah untuk memperluas pilihan terapi.

Melalui studi kasus seperti sarang semut Papua, idat dari Riau, jambu air, buah malaka, sidaguri, dan Parang Romang, orasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kandidat yang sangat beragam, dari tradisi lokal sampai tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Riset tidak berhenti pada klaim, tetapi bergerak melalui pengujian in vitro dan in vivo, serta isolasi senyawa aktif untuk memastikan komponen mana yang benar-benar berperan.

Benang merah pentingnya terletak pada flavonoid, khususnya flavon dan flavonol, di mana struktur kimia menentukan aktivitas. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sementara penambahan gula dapat menurunkan aktivitas. Ini membuka ruang untuk optimasi melalui pendekatan modern seperti metabolomik, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.

Namun, orasi ini juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering muncul pada tahap hilirisasi: standarisasi bahan baku, variasi kandungan berdasarkan lokasi tumbuh, reproducibility hasil, serta kebutuhan bukti keamanan jangka panjang. Tanaman yang aktif tidak otomatis menjadi produk yang siap dipakai, kecuali dibangun melalui sistem riset dan produksi yang matang.

Bagi mahasiswa, orasi ini memberi pelajaran bahwa farmasi bahan alam bukan sekadar “mencari tanaman manjur”, tetapi membangun bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi pekerja, terutama yang bergerak di industri obat tradisional atau kesehatan, orasi ini menunjukkan peluang besar Indonesia: kekayaan hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga aset kesehatan dan ekonomi, jika hilirisasi dilakukan dengan disiplin.

Pada akhirnya, penelitian tanaman anti-hiperurisemia adalah salah satu contoh penting bahwa keunggulan Indonesia bisa dibangun bukan dengan meniru, tetapi dengan memaksimalkan apa yang kita miliki melalui proses ilmiah yang kuat.

 

 

Daftar Pustaka

Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Muhamad Insanu: Eksplorasi Tanaman Berpotensi Anti-Hiperurisemia. 2024.

Dalbeth, N., Merriman, T. R., & Stamp, L. K. Gout. Lancet. 2016.

Richette, P., & Bardin, T. Gout. The Lancet. 2010.

World Health Organization. Traditional Medicine Strategy. Edisi terbaru. (diakses 2026).

European League Against Rheumatism (EULAR). Evidence-based recommendations for the diagnosis and management of gout. (diakses 2026).

Selengkapnya
Obat Asam Urat dari Tanaman Indonesia: Mengapa Riset Anti-Hiperurisemia Penting Meski Allopurinol Murah dan Mudah Dicari
« First Previous page 2 of 1.406 Next Last »