Perkembangan Bisnis
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Kepemimpinan sebagai Konsep yang Terus Berevolusi
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Donald Kristopel Lantu, ST., MBA., PhD mengangkat tema pengembangan kepemimpinan bisnis dengan fokus pada pergeseran paradigma dari individu menuju ekosistem. Orasi ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan konsep yang terus berkembang dan tidak pernah memiliki satu definisi tunggal yang disepakati.
Prof. Donald membuka paparannya dengan refleksi bahwa jika seratus orang ditanya mengenai definisi kepemimpinan, maka akan muncul lebih dari seratus jawaban. Keragaman definisi ini mencerminkan kompleksitas kepemimpinan sebagai fenomena sosial yang dipengaruhi oleh konteks zaman, budaya, serta dinamika organisasi.
Evolusi Teori Kepemimpinan: Dari Great Man hingga Kontinjensi
Perkembangan teori kepemimpinan diawali oleh pendekatan klasik pada awal abad ke-20 yang dikenal dengan teori great man. Pendekatan ini memandang pemimpin sebagai individu istimewa yang terlahir dengan bakat alami dan tidak dapat dibentuk. Pemimpin dipersepsikan sebagai figur heroik dengan kualitas luar biasa yang membedakannya dari manusia pada umumnya.
Namun, pendekatan tersebut tidak menghasilkan temuan yang konklusif. Kritik terhadap teori bawaan melahirkan pendekatan behavioristik yang menekankan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan dikembangkan melalui pelatihan. Semua individu pada prinsipnya memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, pendekatan ini pun menghadapi keterbatasan karena belum sepenuhnya mampu menjelaskan perbedaan efektivitas kepemimpinan dalam situasi yang berbeda.
Keterbatasan tersebut kemudian melahirkan pendekatan kontinjensi yang memasukkan variabel situasional sebagai faktor penting. Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi oleh karakteristik pengikut, struktur tugas, dan distribusi kekuasaan dalam organisasi. Dalam kerangka ini, gaya kepemimpinan dipandang perlu menyesuaikan dengan kondisi bawahan dan konteks organisasi.
Transformasional dan Transaksional: Memasukkan Pengikut dalam Ekuasi
Perkembangan berikutnya ditandai oleh munculnya teori kepemimpinan transformasional dan transaksional. Kepemimpinan transformasional menempatkan pengikut sebagai bagian integral dari proses kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya mengandalkan otoritas formal, tetapi berupaya menginspirasi, mengenali kebutuhan individu bawahan, serta memberdayakan mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Sebaliknya, kepemimpinan transaksional menekankan mekanisme pertukaran melalui sistem penghargaan dan hukuman. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendorong pencapaian kinerja jangka pendek, meskipun memiliki keterbatasan dalam membangun komitmen jangka panjang dan kreativitas organisasi.
Diskursus kepemimpinan dari pendekatan klasik hingga modern menunjukkan kecenderungan memposisikan pemimpin sebagai figur heroik. Ketika organisasi berhasil, pemimpin dipuja; ketika gagal, pemimpin dikritik secara keras. Pola ini menciptakan tekanan besar bagi individu pemimpin dan melanggengkan ilusi bahwa keberhasilan organisasi sepenuhnya ditentukan oleh satu sosok.
Paradigma Baru: Kepemimpinan sebagai Proses Sosial dan Etis
Dalam konteks kontemporer, Prof. Donald menekankan perlunya pergeseran paradigma menuju kepemimpinan sebagai proses sosial. Keberhasilan organisasi dipahami sebagai hasil interaksi antara pemimpin, pengikut, dan konteks, bukan semata-mata kemampuan individu pemimpin. Pendekatan ini menggeser fokus dari glorifikasi individu menuju penguatan sistem dan relasi sosial.
Aspek etika juga menjadi perhatian utama dalam kepemimpinan modern. Berbagai kasus pelanggaran etika oleh pemimpin menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari integritas moral. Dalam konteks Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa toleransi terhadap pelanggaran etika memiliki batas tertentu, terutama ketika menyangkut aspek moral personal yang dianggap fundamental oleh masyarakat.
Perspektif Global dan Lokal dalam Kepemimpinan
Sebagian besar teori kepemimpinan berkembang di konteks Barat, sehingga sering kali kurang sensitif terhadap nilai-nilai lokal. Prof. Donald menekankan pentingnya memasukkan perspektif budaya dalam memahami kepemimpinan. Di Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan lokal seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara memberikan landasan etis dan sosial yang kuat, mulai dari keteladanan di depan hingga pemberdayaan dari belakang.
Penelitian lintas budaya juga menunjukkan bahwa preferensi gaya kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh nilai masyarakat. Budaya kolektivis cenderung menerima kepemimpinan paternalistik, sementara budaya individualis lebih menghargai partisipasi dan egalitarianisme. Oleh karena itu, pendekatan kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat organisasi beroperasi.
Perubahan Lanskap Global: Dari VUCA ke BANI
Perubahan lanskap global turut mengubah tuntutan terhadap kepemimpinan. Dunia yang sebelumnya relatif stabil berubah menjadi lingkungan yang volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Setelah pandemi COVID-19, kondisi ini berkembang menjadi situasi yang rapuh, penuh kecemasan, nonlinier, dan sulit dipahami.
Dalam kondisi ini, pemimpin dituntut memiliki kemampuan adaptif dalam mengelola ketidakpastian dan kerentanan sistemik. Salah satu pembelajaran penting adalah perlunya kolaborasi dan pengelolaan aset secara fleksibel untuk menurunkan risiko biaya tetap yang tinggi. Kepemimpinan tidak lagi berfokus pada penguasaan aset, melainkan pada kemampuan membangun jejaring dan ekosistem yang tangguh.
Ambidextrous Leadership dan Pengembangan Ekosistem
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Donald mengemukakan konsep ambidextrous leadership, yaitu kemampuan organisasi dan pemimpin untuk menjalankan dua fokus sekaligus. Di satu sisi, organisasi perlu mengeksploitasi bisnis yang ada untuk menghasilkan arus kas melalui efisiensi dan transformasi digital. Di sisi lain, organisasi harus mengeksplorasi inovasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
Pendekatan ini menuntut perbedaan struktur, budaya, dan mekanisme pengendalian. Eksploitasi cenderung bersifat mekanistis dan terpusat, sementara eksplorasi menekankan desentralisasi, kolaborasi, dan inovasi radikal. Kepemimpinan berperan sebagai penghubung yang menyeimbangkan kedua orientasi tersebut dalam satu ekosistem organisasi.
Pengembangan Kepemimpinan Berkelanjutan
Pengembangan kepemimpinan dipandang sebagai investasi strategis yang harus dilakukan di seluruh level organisasi. Prof. Donald menegaskan bahwa membangun pemimpin dari dalam organisasi jauh lebih efektif dibandingkan merekrut dari luar. Perkembangan praktik pengembangan kepemimpinan menunjukkan pergeseran dari pelatihan satu kali menuju pendekatan berjenjang, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, praktik pengembangan kepemimpinan melalui corporate university dan platform pembelajaran daring menunjukkan kemajuan signifikan. Integrasi teknologi memungkinkan pengembangan kepemimpinan yang adaptif dan relevan dengan tantangan abad ke-21, dengan fokus pada kapabilitas kolektif dan dinamika ekosistem.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Donald Kristopel Lantu menegaskan bahwa kepemimpinan bisnis modern tidak lagi dapat dipahami sebagai kapasitas individual semata. Kepemimpinan merupakan proses sosial yang hidup dalam ekosistem organisasi dan lingkungan yang lebih luas. Pergeseran paradigma ini menuntut pemimpin yang adaptif, etis, kolaboratif, dan mampu membangun sistem kepemimpinan yang berkelanjutan.
Investasi dalam pengembangan kepemimpinan berbasis ekosistem menjadi fondasi penting bagi daya saing, ketahanan, dan keberlanjutan organisasi di tengah ketidakpastian global. Kepemimpinan pada akhirnya dimaknai sebagai panggilan untuk melayani kemajuan bersama demi kepentingan yang lebih besar.
Sumber
Lantu, Donald Kristopel.
Pengembangan Kepemimpinan Bisnis: Pergeseran Paradigma dari Individu ke Ekosistem.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.
Industri Manufaktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Latar Belakang Akademik dan Pengantar Orasi
Orasi ilmiah ini diawali dengan pembacaan riwayat hidup Prof. Dr. Ir. Anas Mar’ruf, MT oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, ST., M., PhD. Prof. Anas Mar’ruf lahir di Sampang pada 20 Januari 1969 dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Malang, Jawa Timur. Pendidikan sarjana dan magister beliau diselesaikan di Institut Teknologi Bandung, sementara pendidikan doktoral ditempuh di Toyohashi University of Technology, Jepang, pada periode 1996–2000.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Anas Mar’ruf telah membimbing lebih dari seratus mahasiswa sarjana, puluhan mahasiswa magister, serta mahasiswa doktoral. Jabatan fungsional beliau mencapai Guru Besar pada 1 Desember 2024. Selain aktif sebagai dosen di Program Studi Teknik Industri ITB, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Manajemen Rekayasa, asesor BAN-PT dan LAM Teknik, serta Direktur Keuangan ITB sejak tahun 2020.
Perubahan Paradigma Sistem Manufaktur
Dalam orasinya, Prof. Anas Mar’ruf menguraikan bahwa paradigma sistem manufaktur mengalami perubahan signifikan seiring dengan evolusi kebutuhan konsumen. Pada tahap awal, industri manufaktur berfokus pada produksi massal untuk menekan biaya produksi. Namun, seiring perubahan perilaku konsumen, faktor kualitas, variasi, dan keterlibatan konsumen dalam proses desain menjadi semakin penting.
Perubahan ini terlihat jelas pada industri otomotif dan elektronik yang menawarkan variasi produk dalam warna, kapasitas, dan fitur. Konsumen tidak lagi hanya memilih produk yang tersedia, tetapi juga turut berpartisipasi dalam proses perancangan, sebagaimana ditunjukkan oleh praktik customisasi produk yang memungkinkan desain individual dengan waktu pengiriman yang singkat.
Strategi Manufaktur dan Analogi Industri Makanan
Untuk menjelaskan strategi manufaktur, Prof. Anas Mar’ruf menggunakan analogi industri makanan. Produksi massal atau make to stock dianalogikan dengan warung bubur ayam yang hanya menyediakan satu jenis produk tetapi siap disajikan dengan cepat. Strategi assemble to order diibaratkan seperti rumah makan Padang, di mana konsumen memilih kombinasi menu yang tersedia dan disajikan dalam waktu singkat.
Strategi make to order dianalogikan dengan restoran yang baru memproses makanan setelah pesanan diterima, sementara engineer to order digambarkan sebagai proses memasak berdasarkan bahan yang tersedia di rumah. Dari keempat strategi ini, muncul pendekatan baru berupa customisasi massal yang menggabungkan variasi produk dengan volume produksi yang tinggi.
Soft Automation dalam Industri Make to Order dan Engineer to Order
Fokus penelitian Prof. Anas Mar’ruf diarahkan pada industri make to order, engineer to order, dan customisasi massal. Pada industri ini, karakteristik utama adalah variasi produk yang tinggi dengan jumlah pesanan yang relatif sedikit. Tiga pertanyaan utama yang harus dijawab adalah bagaimana produk dibuat, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan berapa biaya yang harus ditawarkan kepada konsumen.
Pada tahap perancangan produk dan proses, tantangan utama adalah ketergantungan pada operator ahli yang menerjemahkan gambar teknik menjadi instruksi pemesinan. Proses ini dinilai tidak efisien karena waktu mesin banyak terbuang. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan aplikasi perangkat lunak CAD/CAM yang memindahkan pengetahuan operator ke dalam basis data sehingga proses desain dapat langsung menghasilkan instruksi mesin secara otomatis.
Implementasi sistem ini terbukti mengurangi waktu setup secara signifikan melalui konsep single minute exchange of die. Hasilnya, kebutuhan akan operator ahli berkurang dan digantikan oleh operator dengan latar belakang pendidikan non-teknik, karena pengetahuan teknis telah terintegrasi dalam perangkat lunak.
Perancangan Lintasan Produksi untuk Customisasi Massal
Penelitian berikutnya berfokus pada perancangan lintasan perakitan dalam konteks customisasi massal. Pada industri perakitan sepeda motor, terdapat ratusan elemen pekerjaan yang sebelumnya dirancang berbasis pengalaman dan trial and error. Melalui pengembangan algoritma perancangan lintasan perakitan dan implementasi dalam aplikasi, jumlah operator dapat direduksi secara signifikan dalam waktu perancangan yang sangat singkat.
Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis algoritma dan komputasi mampu meningkatkan efisiensi produksi secara nyata, meskipun juga memunculkan tantangan sosial berupa resistensi akibat pengurangan tenaga kerja.
Kolaboratif Robot dan Kompleksitas Perancangan Produksi
Perkembangan berikutnya adalah penelitian tentang robot kolaboratif yang mampu bekerja berdampingan dengan manusia. Robot jenis ini mudah diprogram, fleksibel, dan memiliki sistem keselamatan yang memungkinkan berhenti otomatis ketika terjadi kontak dengan operator.
Namun, fleksibilitas ini juga meningkatkan kompleksitas perancangan lintasan produksi, terutama pada industri yang sering melakukan perubahan produk. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan berbagai algoritma heuristik berbasis perhitungan matematis yang diimplementasikan dalam aplikasi perancangan lintasan produksi kolaboratif.
Estimasi Waktu dan Biaya Produksi Berbasis Machine Learning
Dalam menjawab pertanyaan mengenai waktu dan biaya produksi, Prof. Anas Mar’ruf memaparkan pemanfaatan machine learning untuk meningkatkan akurasi estimasi. Pendekatan ini digunakan untuk memperbaiki kelemahan perangkat lunak komersial yang sering menghasilkan kesalahan estimasi signifikan, terutama pada produk dengan geometri kompleks.
Dengan memanfaatkan data historis dan pembelajaran mesin, kesalahan estimasi waktu dapat ditekan secara drastis, sementara estimasi biaya desain dapat diturunkan dari pendekatan berbasis intuisi menjadi pendekatan berbasis data dan kompleksitas desain.
Hard Automation dan Sistem Manufaktur Fleksibel
Bagian kedua orasi difokuskan pada otomasi keras atau hard automation. Tantangan utama pada otomasi ini adalah keberagaman produk yang menyebabkan mesin sering menganggur ketika operator tidak tersedia. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan sistem sel manufaktur fleksibel yang memungkinkan mesin beroperasi selama 24 jam.
Dalam sistem ini, operator hanya bekerja pada jam normal untuk menyiapkan benda kerja, sementara proses produksi selanjutnya dijalankan secara otomatis oleh sistem terintegrasi yang dikendalikan oleh application server. Sistem ini juga mampu melakukan penjadwalan ulang secara otomatis ketika terjadi gangguan seperti kerusakan alat potong.
Integrasi Siber-Fisik dan Internet of Things
Tahap lanjut dari pengembangan ini adalah integrasi sistem siber-fisik melalui pemanfaatan Internet of Things. Sistem ini memungkinkan pemantauan status pesanan, aktivitas operator, dan utilisasi mesin secara real-time melalui perangkat bergerak. Seluruh komponen dikembangkan menggunakan perangkat yang tersedia di dalam negeri dan diintegrasikan dengan sistem perencanaan sumber daya perusahaan.
Implementasi ini tidak hanya meningkatkan transparansi proses produksi, tetapi juga memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam lingkungan manufaktur yang dinamis.
Penutup dan Refleksi Akademik
Pada bagian akhir orasi, Prof. Anas Mar’ruf menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga, pembimbing, kolega, mahasiswa, dan institusi yang telah mendukung perjalanan akademik dan profesional beliau. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Anas Mar’ruf menegaskan bahwa transformasi otomasi sistem produksi merupakan keniscayaan dalam menghadapi kompleksitas dan dinamika industri modern. Integrasi teknologi lunak, keras, dan siber-fisik menjadi kunci untuk mewujudkan sistem manufaktur yang fleksibel, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan konsumen.
Pendekatan berbasis komputasi, algoritma, dan pembelajaran mesin yang dipaparkan dalam orasi ini menunjukkan relevansi strategis bagi pengembangan industri nasional, khususnya dalam mendorong daya saing manufaktur Indonesia di era customisasi massal.
Sumber
Mar’ruf, Anas.
Transformasi Otomasi Sistem Produksi, Integrasi Teknologi Lunak, Keras, dan Cyber Fisik.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung.
Teknologi Infrastruktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Orasi Ilmiah dan Latar Belakang Akademik
Orasi ilmiah ini diawali dengan pembacaan riwayat hidup Prof. Ir. Made Suarjana, M.Si., PhD oleh Prof. Dr. Ir. Rudi Hermawan Karsaman, M.Si. Prof. Made Suarjana lahir di Tabanan, Bali, pada 23 November 1961 dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Beliau menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Singaraja, menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Sipil pada tahun 1986, pendidikan magister di Stanford University pada tahun 1989, serta pendidikan doktor di universitas yang sama pada tahun 1994. Pada tahun 2020, beliau juga mengikuti Program Insinyur di Institut Teknologi Bandung.
Karier akademik Prof. Made Suarjana di ITB dimulai sejak 1 Maret 1987 sebagai pegawai negeri sipil dan mencapai jabatan Guru Besar pada 1 Desember 2024. Bidang keahlian beliau adalah pemodelan numerik dan komputasi untuk infrastruktur. Selain aktif dalam pendidikan dan penelitian, beliau juga mengemban berbagai jabatan struktural, menghasilkan publikasi ilmiah nasional dan internasional, serta berkontribusi dalam pengabdian masyarakat dan konsultasi teknik di bidang struktur.
Kebutuhan Infrastruktur dan Tantangan Geografis Indonesia
Dalam orasinya, Prof. Made Suarjana mengawali pembahasan dengan menyoroti kebutuhan infrastruktur yang semakin besar dan kompleks. Infrastruktur modern mencakup jembatan dengan bentang hingga beberapa kilometer, gedung bertingkat sangat tinggi, serta eksplorasi dan pembangunan infrastruktur di laut hingga kedalaman mencapai satu kilometer.
Tantangan tersebut semakin diperberat oleh kondisi geografis Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik. Kondisi ini menghasilkan bentang alam yang kompleks, dengan gunung, lembah, dan jurang yang dalam, serta kondisi tanah yang sering kali tidak stabil. Selain itu, risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi menjadi faktor dominan yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengendalian infrastruktur.
Peran Metode Numerik dalam Rekayasa Infrastruktur
Untuk menjawab kompleksitas tersebut, metode numerik dan komputasi menjadi alat utama dalam rekayasa infrastruktur modern. Metode ini digunakan untuk memahami respons struktur terhadap beban, seperti reaksi, gaya dalam, dan deformasi. Berdasarkan hasil analisis numerik inilah keputusan rekayasa diambil dengan tujuan menghasilkan infrastruktur yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Perkembangan metode numerik berjalan seiring dengan kemajuan teknologi komputer. Dari analisis statik dua dimensi, berkembang ke analisis dinamik dan tiga dimensi, hingga saat ini mencakup analisis nonlinear dan analisis riwayat waktu dinamik yang kompleks. Metode numerik tidak hanya digunakan pada tahap perancangan, tetapi juga pada seluruh siklus hidup infrastruktur, termasuk rekonstruksi, pengembangan, dan investigasi kegagalan.
Aplikasi Metode Numerik pada Infrastruktur Lepas Pantai
Salah satu karya yang dipaparkan dalam orasi ini adalah pengembangan metode perkuatan untuk anjungan lepas pantai. Struktur ini umumnya terendam di dalam air dan digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas. Seiring waktu, anjungan lepas pantai dapat mengalami penurunan kapasitas akibat korosi atau kerusakan mekanis, seperti benturan kapal.
Karena keterbatasan metode perbaikan di lingkungan laut, Prof. Made Suarjana dan tim mengusulkan metode perkuatan menggunakan grout. Analisis numerik menunjukkan bahwa metode ini mampu mengembalikan kekuatan sambungan tubular yang mengalami penipisan akibat korosi, serta memperbaiki elemen yang mengalami deformasi lokal. Hasil analisis tersebut menjadi dasar persetujuan untuk implementasi di lapangan.
Pengendalian Kerusakan pada Struktur Tahan Gempa
Dalam konteks struktur tahan gempa, Prof. Made Suarjana menegaskan bahwa kerusakan pada struktur diperbolehkan selama dapat dikendalikan. Prinsip ini diwujudkan melalui pengembangan elemen struktural yang berfungsi sebagai sekering, yaitu elemen yang dirancang untuk menerima kerusakan terlebih dahulu saat gempa besar terjadi.
Elemen sekering ini dirancang agar mudah diganti setelah gempa, sehingga kerusakan tidak menyebar ke elemen utama struktur. Pendekatan ini telah dikaji secara numerik dan diuji melalui pembuatan prototipe struktur baja. Pengujian eksperimental dilakukan untuk memahami perilaku elemen tersebut, sementara pengembangan lanjutan masih terus berlangsung.
Inovasi Sistem Jembatan Bentang Tinggi
Pengembangan metode numerik juga diterapkan pada perancangan jembatan yang menyeberangi lembah dalam. Sistem girder pracetak yang umum digunakan sering menghasilkan pilar dengan perilaku kantilever yang sangat fleksibel dan membutuhkan kekuatan besar di bagian dasar.
Melalui pengembangan sistem struktural yang memodifikasi perilaku girder pracetak, struktur jembatan dapat berperilaku sebagai portal dengan kinerja yang lebih baik. Sistem ini telah diterapkan pada beberapa jembatan tinggi di jalan tol Cipularang dan Manado–Bitung, menunjukkan solusi yang sederhana namun efektif.
Obsesi Akademik: Rumah Tahan Gempa untuk Indonesia
Bagian penting dari orasi ini adalah pembahasan mengenai pengembangan rumah tahan gempa. Meskipun rumah tinggal umumnya hanya satu hingga tiga lantai, justru bangunan inilah yang paling banyak menimbulkan korban saat gempa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap kualitas perencanaan dan pelaksanaan struktur rumah sederhana.
Prof. Made Suarjana menyoroti bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki standar nasional khusus untuk rumah tahan gempa. Sistem yang umum digunakan adalah dinding bata terkekang, yang memiliki karakteristik berbeda dengan sistem portal beton atau baja yang lebih banyak diatur dalam standar nasional.
Pendekatan Eksperimental dan Pemodelan Numerik Rumah Tahan Gempa
Untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik, dilakukan investigasi lapangan pascagempa, studi eksperimental skala penuh, dan pengembangan model numerik. Pengujian dilakukan terhadap berbagai konfigurasi rumah, termasuk pengaruh detail penulangan, bukaan, dan metode pengakuran.
Hasil pengujian tersebut dikompilasi dalam bentuk basis data yang mencakup kurva histeresis, mode kerusakan, dan mekanisme keruntuhan. Dari basis data ini dikembangkan model numerik, baik model sederhana berbasis batang maupun model elemen hingga mikro yang sangat detail. Model-model tersebut telah dikalibrasi dan diverifikasi terhadap hasil eksperimen, menunjukkan tingkat kesesuaian yang semakin baik.
Kontribusi terhadap Mitigasi Bencana dan Ketangguhan Infrastruktur
Data dan model yang dikembangkan digunakan untuk menyusun model kerentanan bangunan dan model fatalitas empiris yang relevan dengan kondisi Indonesia. Model ini memiliki peran strategis dalam perencanaan mitigasi bencana dan respons cepat pascabencana, sehingga penanganan dapat dilakukan secara terencana dan tepat sasaran.
Metode numerik dan komputasi, sebagaimana ditegaskan dalam orasi ini, menjadi tonggak penting dalam kemajuan rekayasa infrastruktur modern. Metode ini memungkinkan pemodelan fenomena kompleks secara realistis, simulasi kondisi ekstrem, serta integrasi hasil eksperimen dan analisis untuk menghasilkan solusi rekayasa yang lebih andal.
Penutup dan Refleksi Akademik
Pada bagian akhir orasi, Prof. Made Suarjana menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pimpinan ITB, para pembimbing, kolega, mahasiswa, mitra kolaborasi, serta keluarga yang telah mendukung perjalanan akademik dan penelitian beliau. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Made Suarjana menegaskan bahwa metode numerik dan komputasi memiliki peran fundamental dalam pengembangan infrastruktur Indonesia yang aman, efisien, dan tangguh terhadap bencana. Melalui integrasi analisis numerik, eksperimen, dan investigasi lapangan, rekayasa infrastruktur dapat menjawab tantangan geografis dan kegempaan yang khas di Indonesia.
Pengembangan rumah tahan gempa dan infrastruktur berkelanjutan menjadi fokus strategis yang relevan secara sosial dan teknis, sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan rekayasa tidak hanya diukur dari skala bangunan, tetapi dari kemampuannya melindungi kehidupan manusia.
Sumber
Suarjana, Made.
Aplikasi Metode Numerik dan Komputasi untuk Pengembangan Infrastruktur di Indonesia.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.
Teknologi Infrastruktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Infrastruktur Energi dan Tantangan Dinamika Struktur Lepas Pantai
Dalam orasi ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang disampaikan di Aula Barat ITB, Prof. Ir. Rildova, M.T., PhD membahas dinamika struktur lepas pantai dalam konteks infrastruktur energi, mulai dari energi konvensional hingga energi terbarukan. Hampir seluruh bangunan lepas pantai pada dasarnya merupakan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan pengangkatan, pengolahan, atau pembangkitan energi di laut.
Struktur lepas pantai secara historis didominasi oleh anjungan minyak dan gas bumi. Namun, seiring berkembangnya tuntutan global terhadap energi terbarukan, pengembangan infrastruktur energi di laut kini mencakup turbin angin lepas pantai, panel surya terapung, hingga potensi energi gelombang. Perubahan spektrum ini menuntut pendekatan dinamika struktur yang semakin komprehensif dan adaptif.
Kegagalan Struktur sebagai Pemicu Perkembangan Keilmuan
Salah satu pendorong utama perkembangan penelitian dalam dinamika struktur adalah kegagalan, kecelakaan, atau kerusakan struktur. Prof. Rildova menegaskan bahwa banyak kemajuan keilmuan justru lahir dari upaya memahami penyebab kegagalan struktur yang sebelumnya tidak terantisipasi.
Dalam konteks dinamika struktur, kegagalan Jembatan Tacoma Narrows tahun 1940 sering dijadikan contoh klasik, di mana beban angin yang relatif tidak besar memicu respons dinamik yang sangat signifikan hingga menyebabkan keruntuhan. Pada struktur lepas pantai, contoh serupa ditunjukkan melalui kasus anjungan Alexander Kielland di Laut Utara pada tahun 1980 yang terbalik akibat beban gelombang. Investigasi menunjukkan bahwa kegagalan tersebut berawal dari satu sambungan las yang kurang baik, yang kemudian berkembang menjadi keruntuhan akibat beban siklik jangka panjang.
Kasus-kasus ini menegaskan bahwa dinamika struktur sering kali menjadi persoalan serius justru pada kondisi beban yang tampak “biasa”, ketika frekuensi beban mendekati frekuensi alami struktur dan memicu resonansi.
Beban Dinamik pada Struktur Lepas Pantai
Struktur lepas pantai menghadapi berbagai jenis beban dinamik yang kompleks. Untuk konteks Indonesia, gempa bumi menjadi salah satu beban dominan, disusul oleh beban gelombang dan angin. Pada struktur dengan ketinggian signifikan seperti turbin angin lepas pantai, pengaruh beban angin menjadi sangat penting.
Selain itu, komponen bergerak seperti bilah turbin menghasilkan gaya dorong dan gaya inersia yang berubah terhadap waktu. Seluruh beban ini berinteraksi dan membentuk respons dinamik struktur yang harus dipahami secara menyeluruh dalam proses perancangan.
Konsep Dasar Dinamika Struktur dan Resonansi
Dalam pendidikan dinamika struktur, Prof. Rildova menekankan pentingnya pemahaman konsep faktor amplifikasi dinamik. Respons struktur terhadap beban harmonik sangat bergantung pada perbandingan antara frekuensi beban dan frekuensi alami struktur. Ketika kedua frekuensi tersebut saling mendekati, respons struktur dapat meningkat secara signifikan akibat resonansi.
Konsep ini kemudian dimanfaatkan dalam praktik rekayasa melalui pendekatan analisis statik ekuivalen, di mana efek dinamik telah “diwakili” oleh faktor-faktor tertentu. Dalam perencanaan bangunan tahan gempa, pendekatan ini dikenal melalui konsep respons spektrum yang telah dirumuskan dalam berbagai standar dan kode desain.
Optimalisasi dan Efisiensi Struktur Lepas Pantai
Pada masa awal pengembangan anjungan lepas pantai, struktur sering dirancang sangat kuat tanpa mempertimbangkan efisiensi material secara ketat. Hal ini dipengaruhi oleh nilai cadangan energi yang jauh lebih besar dibandingkan biaya struktur. Namun, pada kondisi ladang minyak marginal dan proyek energi terbarukan, efisiensi menjadi faktor kunci.
Optimalisasi struktur bertujuan untuk menghasilkan desain yang lebih ringan, lebih ekonomis, namun tetap aman. Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan di struktur darat, di mana pembelajaran dari kerusakan gempa mendorong inovasi seperti isolasi dasar dan sistem peredam energi.
Strategi Pengurangan Respons Dinamik
Dalam struktur lepas pantai, berbagai strategi telah dikaji untuk mengurangi respons dinamik. Salah satunya adalah penggunaan alat peredam seperti tuned mass damper, baik berbasis massa padat maupun cairan, yang dirancang untuk menyerap energi getaran pada frekuensi tertentu.
Pendekatan lain adalah penerapan konsep elemen “sekering” struktural, di mana bagian tertentu dari struktur dirancang untuk mengalami kerusakan terlebih dahulu demi melindungi elemen utama. Studi numerik menunjukkan bahwa penggunaan peredam dapat mengurangi perpindahan struktur hingga sekitar 20% serta meningkatkan umur kelelahan struktur secara signifikan, meskipun penerapannya di lapangan masih menghadapi tantangan teknis dan lingkungan.
Tantangan Implementasi di Lingkungan Laut
Implementasi sistem peredam pada struktur lepas pantai menghadapi kendala ruang yang terbatas, karena anjungan umumnya telah dipenuhi peralatan operasional. Selain itu, peredam membutuhkan ruang gerak yang memadai dan harus tahan terhadap lingkungan laut yang keras, termasuk korosi dan paparan langsung terhadap cuaca ekstrem.
Karena itu, hingga saat ini sebagian besar penelitian masih berada pada tahap numerik dan eksperimen laboratorium, dengan penerapan lapangan yang masih sangat terbatas.
Dinamika pada Sistem Non-Struktural dan Proses Instalasi
Selain struktur utama, komponen non-struktural seperti pipa riser juga mengalami beban dinamik yang signifikan. Gerakan struktur terapung akibat gelombang dapat menyebabkan tegangan tinggi pada titik-titik tertentu, terutama di dekat dasar laut. Modifikasi geometri, seperti penggunaan pengapung tambahan untuk membentuk konfigurasi menyerupai huruf “S”, dapat membantu mereduksi respons dinamik pada bagian kritis.
Dinamika struktur juga menjadi isu penting pada tahap transportasi, instalasi, dan dekomisioning. Selama proses pengangkatan dan pemindahan, struktur dapat mengalami resonansi pada periode gelombang tertentu. Studi numerik menunjukkan bahwa modifikasi sistem pengangkatan, seperti penambahan rigging lines, dapat menurunkan amplifikasi respons hingga berada dalam batas yang dapat diterima.
Menuju Infrastruktur Energi Terbarukan
Sebagai bagian dari pengembangan energi terbarukan, Prof. Rildova juga menyoroti penelitian mengenai panel surya terapung di laut. Struktur ini terdiri atas modul pengapung yang dihubungkan dengan konektor dan ditambatkan ke dasar perairan. Tantangan utama terletak pada desain sambungan, apakah dibuat kaku atau fleksibel, karena masing-masing pilihan menghasilkan respons gaya dan perpindahan yang berbeda.
Selain itu, pengembangan pembangkit energi gelombang menghadirkan tantangan dinamika yang berlawanan dengan struktur konvensional. Pada sistem ini, struktur justru diharapkan memiliki respons besar terhadap gelombang kecil agar energi yang dapat diekstraksi menjadi optimal.
Refleksi Akademik dan Penutup
Pada bagian akhir orasi, Prof. Rildova menyampaikan apresiasi kepada pimpinan ITB, senat akademik, Forum Guru Besar, kolega, mentor, serta keluarga yang telah mendukung perjalanan akademiknya hingga mencapai jabatan guru besar. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian bagi institusi dan masyarakat.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Rildova menegaskan bahwa dinamika struktur merupakan aspek krusial dalam perancangan dan pengembangan infrastruktur lepas pantai, baik untuk energi konvensional maupun energi terbarukan. Kegagalan struktur, resonansi, dan respons dinamik menjadi pelajaran penting dalam membangun sistem yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
Ke depan, tantangan terbesar terletak pada penerapan hasil penelitian numerik dan laboratorium ke skala lapangan, khususnya dalam lingkungan laut yang keras dan kompleks. Namun, dengan pendekatan ilmiah yang berkelanjutan, dinamika struktur lepas pantai memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi global.
Sumber
Rildova.
Dinamika Struktur Lepas Pantai dari Infrastruktur Energi Konvensional hingga Energi Terbarukan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.
url: https://www.youtube.com/watch?v=kdI0YpcbLic
Matematika
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Ketidaklinieran sebagai Inti Kerumitan Alam
Dalam orasi ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang disampaikan di Aula Barat ITB, Prof. Dr. Johan Matius Tuan Kota, S.Si., M.Si., PhD mengangkat tema “Ketidaklinieran: Signifikansi Kerumitan dan Hampirannya”. Orasi ini merupakan refleksi perjalanan akademik beliau selama lebih dari dua dekade di bidang teori dan aplikasi sistem dinamik tak linear, sebuah bidang yang mempelajari perilaku sistem yang tidak dapat dijelaskan secara sederhana melalui hubungan sebab-akibat yang proporsional.
Prof. Johan memulai orasinya dengan menempatkan ketidaklinieran sebagai esensi dari banyak fenomena alam, sekaligus sumber utama dari kerumitan yang sering kali sulit dipahami, namun menyimpan keindahan tersendiri bagi mereka yang bersedia menelusurinya lebih dalam.
Makna Dasar Ketidaklinieran
Ketidaklinieran secara sederhana dijelaskan sebagai hubungan antara masukan dan luaran yang tidak proporsional. Perubahan kecil pada input dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar, atau sebaliknya. Konsep ini diilustrasikan melalui perbandingan antara fungsi linear dan fungsi tak linear, di mana pada fungsi linear rasio perubahan selalu konstan, sedangkan pada fungsi tak linear rasio tersebut bergantung pada posisi pengamatan.
Melalui contoh fungsi kuadrat dan konsep turunan, Prof. Johan menunjukkan bahwa ketidaklinieran dapat didekati secara lokal melalui estimasi linear. Namun, pendekatan ini hanya berlaku dalam skala terbatas dan tidak mampu menangkap keseluruhan perilaku sistem yang kompleks.
Kerumitan dan Resolusi Tak Hingga
Ketidaklinieran tidak hanya berarti ketidaksederhanaan, tetapi juga tingkat kerumitan yang sangat tinggi. Dalam sistem tak linear tertentu, perilaku global sistem tidak dapat ditangkap meskipun wilayah pengamatan diperluas. Hal ini menuntut apa yang disebut sebagai resolusi tak hingga, sebuah kondisi yang secara praktis mustahil dicapai sepenuhnya.
Perbedaan antara sistem tak linear yang masih dapat direpresentasikan sebagai kombinasi terbatas dari fungsi basis dan sistem yang benar-benar kompleks menjadi penekanan penting dalam orasi ini. Kedua sistem sama-sama tak linear, tetapi memiliki tingkat kerumitan yang sangat berbeda.
Ketidaklinieran dalam Seni dan Budaya
Untuk memperluas pemahaman, Prof. Johan mengaitkan konsep ketidaklinieran dengan berbagai bidang di luar matematika. Dalam dunia perfilman, film Magnolia karya Paul Thomas Anderson ditampilkan sebagai contoh narasi tak linear, di mana alur cerita disajikan tidak berdasarkan kronologi waktu dan melibatkan banyak karakter yang berjalan paralel.
Dalam musik klasik, karya Béla Bartók seperti Concerto for Orchestra dan Violin Concerto No. 2 menjadi contoh bagaimana ketidaklinieran diwujudkan melalui penggunaan tangga nada yang tidak standar, eskalasi emosi yang kompleks, serta struktur musikal yang tidak mengikuti pola konvensional. Dunia jazz juga menampilkan ketidaklinieran melalui karya Miles Davis dan Wayne Shorter, di mana peran instrumen dibalik dan improvisasi menjadi elemen utama.
Dalam sastra, novel House of Leaves karya Mark Z. Danielewski menunjukkan ketidaklinieran melalui tata letak teks yang tidak lazim, memaksa pembaca untuk berinteraksi secara aktif dengan struktur cerita.
Sistem Getaran Tak Linear dalam Rekayasa
Ketidaklinieran juga memainkan peran krusial dalam dunia rekayasa, khususnya pada sistem getaran struktur. Prof. Johan mengaitkan hal ini dengan fenomena getaran pada struktur lepas pantai dan jembatan, termasuk kasus Jembatan Millennium di London yang mengalami getaran lateral akibat sinkronisasi langkah pejalan kaki.
Pemahaman terhadap sistem getaran tak linear menjadi sangat penting karena interaksi antar mode getaran dapat memicu respons yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, langkah awal yang bijaksana adalah memahami sistem getaran linier sebelum melangkah ke sistem tak linear yang jauh lebih kompleks.
Dari Sistem Linier ke Sistem Tak Linear
Dalam sistem getaran linier konservatif, solusi dapat direpresentasikan secara geometris dalam ruang fase berdimensi tinggi dan memiliki perilaku yang teratur tanpa pertukaran energi antar mode. Namun, ketika ketidaklinieran diperkenalkan, deskripsi lengkap seperti itu tidak lagi realistis.
Pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui irisan ruang fase dan konstruksi pemetaan berdimensi lebih rendah. Dengan metode ini, dapat diamati apakah ketidaklinieran masih mempertahankan perilaku linier atau justru menghancurkannya, bergantung pada perbandingan frekuensi antar mode getaran.
Aproksimasi sebagai Kunci Pemahaman
Salah satu pesan utama orasi ini adalah pentingnya aproksimasi. Dalam sistem tak linear, solusi eksak sering kali tidak tersedia atau tidak realistis untuk dicari. Oleh karena itu, tantangannya adalah bagaimana membangun hampiran yang cukup sederhana untuk dianalisis, namun tetap mampu menangkap fenomena penting yang terjadi dalam sistem.
Prinsip ini diperkuat dengan pandangan Aristoteles bahwa manusia seharusnya puas dengan tingkat presisi yang dapat diterima oleh alam, tanpa memaksakan ketepatan mutlak ketika hanya aproksimasi yang memungkinkan.
Studi Kasus Sistem Dinamika Atmosfer
Sebagai contoh konkret, Prof. Johan memaparkan pengalamannya dalam mempelajari model dinamika atmosfer yang berasal dari persamaan Navier–Stokes. Dengan menggunakan reduksi dimensi melalui analisis komponen utama, sistem yang sangat kompleks dapat disederhanakan menjadi beberapa mode getaran utama.
Analisis terhadap interaksi dua mode dominan menunjukkan adanya dua rezim dinamika yang berbeda, yaitu rezim pertukaran energi aktif dan rezim getaran yang berjalan sendiri tanpa interaksi. Meskipun solusi homoklinik tidak secara eksplisit muncul, perilaku yang menyerupainya dapat direkonstruksi melalui pendekatan geometris.
Koeksistensi Keteraturan dan Kekacauan
Ketidaklinieran juga memungkinkan koeksistensi antara perilaku reguler dan perilaku kaotik dalam satu sistem yang sama. Sistem sederhana sekalipun dapat menunjukkan dinamika yang dapat diprediksi pada satu wilayah ruang fase, sementara wilayah lain menampilkan perilaku yang sepenuhnya tak terduga.
Fenomena ini menegaskan bahwa ketidaklinieran tidak selalu bersifat negatif. Justru melalui ketidaklinieran, pemahaman yang lebih mendalam tentang alam semesta dapat dicapai.
Refleksi Akademik dan Penutup
Pada bagian akhir orasinya, Prof. Johan menyampaikan refleksi atas perjalanan akademiknya serta ucapan terima kasih kepada para mentor, kolega, dan keluarga yang telah berperan penting dalam pembentukan karier ilmiahnya. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian bagi bangsa dan almamater.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Johan Matius Tuan Kota menegaskan bahwa ketidaklinieran merupakan sumber utama kerumitan dalam sistem alam, namun sekaligus membuka jalan menuju pemahaman yang lebih kaya dan mendalam. Melalui pendekatan aproksimasi yang bijaksana, ketidaklinieran tidak harus ditakuti, melainkan dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjelaskan fenomena kompleks yang tidak dapat dijangkau oleh model linier.
Pemikiran ini relevan tidak hanya dalam matematika dan rekayasa, tetapi juga dalam seni, budaya, dan kehidupan secara umum, di mana kerumitan sering kali menjadi pintu masuk menuju keindahan dan pemahaman yang lebih luas.
Sumber
Tuan Kota, Johan Matius.
Ketidaklinieran: Signifikansi Kerumitan dan Hampirannya.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
Teknologi Infrastruktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Revitalisasi Pesisir Jakarta sebagai Tantangan Strategis
Pesisir Jakarta merupakan wilayah dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang tinggi. Sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional, Jakarta menghadapi tekanan besar berupa banjir, penurunan muka tanah, kepadatan permukiman, serta keterbatasan sumber daya air baku. Permasalahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan dan diperparah oleh kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah pesisir utara Pulau Jawa.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Andoyo Wurianto, M.Si., PhD mengangkat tema Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta. Orasi ini disampaikan pada saat isu pembangunan Giant Seawall tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Prof. Andoyo menegaskan sejak awal bahwa konsep yang dipaparkannya merupakan salah satu usulan, mengingat hingga saat ini belum terdapat satu desain definitif dari pemerintah.
Banjir, Penurunan Muka Tanah, dan Ketergantungan Air Baku
Salah satu permasalahan utama Jakarta adalah banjir yang datang dari berbagai arah. Ketika hujan terjadi di wilayah Bogor, Jakarta menerima banjir kiriman dari hulu. Ketika hujan turun di Jakarta sendiri, sistem drainase yang terbatas menyebabkan genangan meluas. Pada saat bersamaan, pasang laut yang tinggi juga memicu banjir rob di kawasan pesisir.
Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa wilayah pesisir Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang signifikan. Penurunan ini ditengarai terutama disebabkan oleh pengambilan air tanah secara masif, baik oleh individu maupun industri. Ketergantungan masyarakat terhadap air tanah terjadi karena pasokan air baku dari sistem penyediaan air bersih belum mampu memenuhi kebutuhan secara penuh. Dalam orasinya, Prof. Andoyo mengutip berbagai referensi yang menunjukkan bahwa di beberapa lokasi, penurunan muka tanah Jakarta dapat mencapai sekitar sepuluh sentimeter per tahun.
Keterbatasan Tanggul Pantai Konvensional
Berbagai upaya perlindungan pantai sebenarnya telah dilakukan, salah satunya melalui pembangunan tanggul pantai. Namun, tanggul pantai konvensional yang dibangun tepat di garis pantai memiliki keterbatasan serius. Di kawasan dengan kepadatan permukiman tinggi seperti Muara Angke, pembangunan tanggul pantai kerap terhambat karena keterbatasan ruang dan potensi penggusuran.
Akibatnya, masyarakat di kawasan pesisir harus hidup berdampingan dengan banjir rob yang terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini memunculkan narasi “hidup selaras dengan alam”, yang pada praktiknya sering dimaknai sebagai penerimaan terhadap risiko yang terus berulang tanpa solusi struktural yang memadai.
Konsep Tanggul Lepas Pantai dan Waduk Pantai
Sebagai alternatif, Prof. Andoyo mengusulkan konsep tanggul lepas pantai. Istilah ini sengaja digunakan untuk membedakannya dari tanggul pantai dan untuk menghindari resistensi sosial yang sering melekat pada istilah Giant Seawall. Tanggul lepas pantai dirancang dibangun di laut, sehingga tidak langsung bersinggungan dengan kawasan permukiman padat di daratan.
Konsep ini dipadukan dengan pembangunan waduk pantai yang berfungsi sebagai sumber air baku baru bagi Jakarta. Waduk pantai diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap pasokan air dari wilayah lain seperti Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian, sekaligus menurunkan tekanan terhadap pengambilan air tanah.
Menjaga Fungsi Strategis Pelabuhan Tanjung Priok
Dalam pengembangan konsep tersebut, Prof. Andoyo menekankan pentingnya menjaga fungsi Pelabuhan Tanjung Priok sebagai mesin ekonomi nasional. Oleh karena itu, area Tanjung Priok tidak disentuh oleh bangunan tanggul lepas pantai maupun jembatan yang berpotensi menghambat pergerakan kapal.
Menurut Prof. Andoyo, ruang laut di sekitar pelabuhan memiliki kebutuhan yang bahkan lebih besar dibandingkan ruang darat. Dengan tidak mengganggu Tanjung Priok, konsep tanggul lepas pantai justru diarahkan untuk mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi pelabuhan tersebut.
Pendekatan Investasi dan Pembiayaan Berbasis Bisnis
Prof. Andoyo menegaskan bahwa proyek perlindungan pesisir berskala besar tidak seharusnya sepenuhnya membebani anggaran negara. Oleh karena itu, konsep tanggul lepas pantai dirancang sebagai investasi yang mampu membiayai dirinya sendiri.
Pada sisi barat pesisir Jakarta, diusulkan pembangunan pulau-pulau baru dengan skala yang sebanding dengan pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk. Pulau-pulau ini berpotensi dikembangkan sebagai kawasan properti yang mampu menghasilkan pendapatan. Selain itu, waduk pantai dapat dimanfaatkan untuk penjualan air baku, sementara jaringan jalan tol baru dirancang dengan skema pembiayaan bersama antara infrastruktur dan pengembangan kawasan.
Energi Terbarukan dan Optimalisasi Ruang Laut
Selain fungsi perlindungan pantai dan penyediaan air, tanggul lepas pantai juga membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan. Permukaan waduk pantai dan struktur tanggul dapat dimanfaatkan untuk pemasangan panel surya, sementara contoh dari negara lain seperti Belanda menunjukkan potensi integrasi dengan infrastruktur energi angin, meskipun karakteristik angin di Indonesia memiliki keterbatasan tersendiri.
Revitalisasi Kawasan Timur: Pertamina, Marunda, dan Nelayan
Di kawasan timur pesisir Jakarta, Prof. Andoyo mengusulkan pengembangan yang lebih kompleks. Salah satu elemen penting adalah pembangunan terminal terpadu Pertamina di pulau lepas pantai. Terminal ini dirancang untuk memisahkan fasilitas energi strategis dari kawasan permukiman padat, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik energi nasional.
Selain itu, kawasan Marunda diusulkan untuk direvitalisasi melalui penyediaan lahan baru bagi relokasi dan pengembangan pelabuhan. Prof. Andoyo juga menekankan pentingnya kehadiran pelabuhan perikanan yang memadai bagi nelayan Jakarta. Dalam konsep yang diajukan, nelayan tidak dipinggirkan, melainkan ditempatkan berdekatan dengan fasilitas sandar dan kawasan aktivitasnya, sehingga kehidupan sosial dan ekonomi mereka dapat ditingkatkan secara bermartabat.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Andoyo Wurianto menegaskan bahwa revitalisasi pesisir Jakarta membutuhkan pendekatan terpadu yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan fisik dari banjir dan rob, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Konsep tanggul lepas pantai dan waduk pantai yang diusulkan menawarkan solusi alternatif yang berupaya menjawab permasalahan banjir, penurunan muka tanah, serta keterbatasan air baku secara simultan.
Dengan menjaga fungsi strategis pelabuhan, membuka peluang investasi, dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat pesisir, konsep ini menunjukkan bahwa perlindungan pantai dapat dirancang sebagai bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek infrastruktur semata.
Sumber
Andoyo Wurianto. Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), 24 Mei 2025.
url: https://www.youtube.com/watch?v=IUPzM1jqq-E