Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 16 September 2025
Kegagalan Konstruksi Bukan Semata Kecelakaan, Tapi Akumulasi Kesalahan Manajerial
Dalam dunia konstruksi, kegagalan proyek bukan hanya soal bangunan runtuh atau hasil yang mengecewaka. Artikel ini secara tajam mengungkap bahwa kegagalan konstruksi lebih dalam dari itu, kegagalan adalah cermin dari lemahnya sistem manajemen, ifensiensi penggunaan anggaran, serta lemahnya pengawasan internal yang memadai.
Amariza dan Mulya merancang studi ini sebagai refleksi kritis terhadap praktik manajemen proyek yang selama ini dianggap cukup “berjalan” karena proyek selesai, meski diwarnai banyak penyimpangan yang terabaikan.
Studi dengan Sudut Pandang Realistis dan Fenomenologis
Berbeda dari riset kuantitatif yang hanya berfokus pada angka semata, penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif fenomenologis. Observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen dilakukan secara langsung di lingkungan proyek konstruksi, untuk menelusuri alasan mengapa perusahaan tetap bertahan meskipun mengabaikan banyak prinsip dasar manajemen proyek.
Data dikumpulkan dari perusahaan konstruksi dengan usia lebih dari 39 tahun, yang menurut peneliti bertahan lebih karena kekuatan relasi bisnis dan portofolio proyek berlapis (portofolio simultan), bukan karena sistem internal yang kokoh.
Manajemen Operasional: Peran Penting yang Masih Diabaikan
Penelitian ini menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan konstruksi masih memandang manajemen operasional sekadar pelengkap, bukan fondasi. Lima fungsi utama yang semestinya dijalankan belum terlaksana secara maksimal:
Efisiensi: Penempatan pekerja tidak sesuai keahlian, jam kerja tidak terkontrol, dan pencatatan lembur yang longgar menimbulkan pembengkakan biaya gaji hingga melampaui batas Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Produktivitas: Pembelian material sering tidak sesuai dengan kebutuhan aktual. Kelebihan jumlah disebabkan oleh miskomunikasi antara bagian pembelian dan bagian lapangan. Biaya tak terduga seperti ongkos kirim dan biaya penyambungan bahan pun tidak diantisipasi.
Ekonomi: RAP (Rencana Anggaran Proyek) dibuat tanpa rincian item biaya tertentu seperti premi asuransi proyek. Ketidakakuratan ini menyebabkan proyek dibiayai secara ad-hoc, menimbulkan tekanan pada arus kas perusahaan.
Empat Fungsi Manajemen yang Masih Minim Implementasinya
1. Perencanaan (Planning)
Secara dokumen, perencanaan terlihat matang. Tapi di lapangan, pelaksanaannya tidak sesuai. K3LMP (Kesehatan, Keselamatan Kerja, Lingkungan, Mutu, dan Pengamanan) tidak diawasi secara aktif. Akibatnya, standar keselamatan sering dilanggar.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Struktur organisasi memang dibuat, tapi penempatan SDM tidak berdasarkan kompetensi. Bahkan, terdapat indikasi pembentukan struktur proyek demi kepentingan pribadi, seperti pengalihan laba hingga 45% secara tidak wajar dari laba seharusnya.
3. Kepemimpinan (Leading)
Aspek ini hampir absen. Tidak ada mekanisme formal untuk membina dan memotivasi staf. Komunikasi vertikal maupun horizontal minim, padahal ini adalah kunci dalam penyelesaian masalah proyek yang dinamis.
4. Pengendalian (Controlling)
Tidak ada tim pengawas khusus. Penyimpangan prosedur, pengeluaran tak terduga, dan deviasi progres proyek tidak terdeteksi sejak dini. Kontrol hanya dilakukan reaktif, bukan preventif.
Internal Control System (SPI): Komponen Vital yang Terabaikan
Salah satu sorotan penting dari studi ini adalah lemahnya penerapan Sistem Pengendalian Intern (SPI). Tanpa SPI yang berjalan, perusahaan tidak mampu menjamin keandalan laporan keuangan, efisiensi operasional, serta kepatuhan terhadap peraturan.
Konsekuensi dari lemahnya SPI adalah laporan keuangan yang tidak merefleksikan kondisi riil perusahaan. Hal ini berisiko menurunkan kredibilitas di hadapan mitra bisnis, bank, maupun investor.
Mengapa Perusahaan Bisa Bertahan Meski Banyak Kegagalan?
Peneliti menyebut bahwa perusahaan tetap eksis selama lebih dari tiga dekade karena dua hal:
Perusahaan mengelola 4–6 proyek sekaligus. Kerugian dari satu proyek ditutup dari keuntungan proyek lain. Praktik ini dikenal sebagai cross-subsidy, meski tidak sehat dalam jangka panjang.
Layanan yang responsif dan komunikasi informal yang intens menjadi kekuatan perusahaan dalam memenangkan kepercayaan klien, bahkan ketika pengelolaan internal tidak ideal.
Studi Kasus: Pembengkakan Biaya karena Kesalahan Sederhana
Salah satu contoh konkret dalam studi ini adalah pembelian material besi yang salah spesifikasi. Kondisi tersebut memaksa adanya proses pengembalian dan pengiriman ulang, yang pada akhirnya menimbulkan biaya transportasi tambahan di luar rencana anggaran pelaksanaan (RAP).
Kritik terhadap Praktik yang Ada: Strategi Bertahan atau Bom Waktu?
Meski pendekatan survival through relationship masih bisa berjalan dalam jangka pendek, praktik semacam ini tidak berkelanjutan. Risiko reputasi, inefisiensi berulang, dan potensi sengketa kontrak bisa meledak kapan saja. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan transformasi menyeluruh dalam sistem pengelolaan proyek.
Rekomendasi Kunci dari Penelitian Ini
Minimal terdiri dari personel audit internal, manajer lapangan, dan staf administrasi proyek yang rutin melakukan inspeksi.
Rotasi karyawan perlu berbasis kompetensi, bukan kedekatan atau loyalitas.
RAP harus menjadi dokumen hidup yang direvisi sesuai perubahan desain, harga bahan baku, dan kebijakan baru.
Pertemuan mingguan antardivisi wajib dilakukan untuk deteksi dini masalah.
Supplier yang tidak fleksibel atau tidak kooperatif perlu diganti untuk menjaga kelancaran pasokan.
Kesimpulan: Kunci Perubahan Ada pada Niat dan Aksi Serius
Penelitian ini memberi cermin bahwa banyak kegagalan proyek konstruksi bukan karena faktor eksternal seperti cuaca atau peraturan pemerintah, melainkan karena lemahnya tata kelola internal. Manajemen operasional yang dijalankan secara minimalis, tanpa pengawasan yang memadai, pada akhirnya berdampak langsung terhadap efisiensi biaya, kualitas hasil, dan kredibilitas perusahaan.
Jika perusahaan ingin bertahan tidak hanya karena relasi personal tetapi karena kompetensi profesional, maka reformasi manajemen harus dimulai dari sekarang. Transformasi menuju konstruksi modern dan berdaya saing membutuhkan perencanaan matang, pelaksanaan disiplin, serta evaluasi berkelanjutan.
Sumber:
Amariza, M., & Mulya, H. (2019). The Basic Aspects of the Failures Resulted in the Failure of the Construction. Scholars Bulletin, 5(11), 648–657. DOI:10.36348/sb.2019.v05i11.008
Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 09 September 2025
Pendahuluan
Dalam dunia rekayasa modern, berbagai sistem kritikal dirancang untuk menjalankan serangkaian tugas atau misi yang berurutan tanpa saling tidak tumpang tindih. Sistem seperti ini dikenal sebagai sistem misi bertahap (Phased-Mission Systems - PMS). Contohnya sangat beragam, mulai dari pesawat luar angkasa yang harus melewati fase peluncuran, orbit, hingga pendaratan; sistem robotik manufaktur dengan urutan tugas yang presisi; hingga sistem pertahanan dengan fase siaga, deteksi, dan respons. Masing-masing fase misi memiliki persyaratan operasional yang unik, kondisi lingkungan yang berbeda, dan terkadang, bahkan konfigurasi sistem yang berubah. Memastikan keandalan sistem-sistem ini adalah tantangan yang kompleks, terutama ketika komponen yang rusak dapat diperbaiki selama misi berlangsung.
Makalah ilmiah yang berjudul "Reliability assessment of repairable phased-mission system by Monte Carlo simulation based on modular sequence-enforcing fault tree model" ini menyajikan sebuah kerangka kerja yang revolusioner untuk menilai keandalan sistem misi bertahap yang dapat diperbaiki.
Para peneliti secara cerdas menggabungkan simulasi Monte Carlo dengan model pohon kegagalan (Fault Tree) modular yang dilengkapi gerbang "Sequence-Enforcing" (SEQ), menawarkan solusi komprehensif untuk menganalisis skenario keandalan yang sangat rumit dan dinamis. Ini adalah sebuah langkah maju yang signifikan, mengingat bahwa banyak penelitian sebelumnya seringkali mengasumsikan durasi fase yang deterministik atau kebijakan perbaikan yang disederhanakan.
Mengapa Sistem Misi Bertahap Begitu Kompleks?
Untuk mengapresiasi inovasi yang ditawarkan makalah ini, mari kita pahami mengapa penilaian keandalan PMS yang dapat diperbaiki adalah masalah yang sangat menantang:
Kompleksitas ini membuat metode analitis tradisional seringkali tidak memadai. Di sinilah simulasi Monte Carlo berperan, dan inovasi yang disajikan dalam makalah ini memperkuat kemampuannya.
Simulasi Monte Carlo: Kekuatan dalam Menghadapi Ketidakpastian
Simulasi Monte Carlo (MC) adalah alat yang sangat efektif untuk menganalisis sistem yang kompleks dengan banyak variabel acak dan interaksi non-linear. Dalam konteks penilaian keandalan, MC mensimulasikan "kehidupan" sistem secara acak berulang kali, berdasarkan distribusi probabilitas kegagalan dan perbaikan komponen.
Pendekatan umum MC untuk PMS bekerja dengan mensimulasikan transisi antar fase dan kejadian kegagalan/perbaikan komponen dalam setiap fase. Untuk setiap iterasi simulasi, sebuah "jalur" (path) unik dari sistem dari awal hingga akhir misi dicatat, termasuk kapan dan di mana kegagalan terjadi, apakah perbaikan berhasil, dan apakah misi berhasil atau gagal secara keseluruhan. Dengan mengulang simulasi ribuan atau jutaan kali, probabilitas keberhasilan misi dan metrik keandalan lainnya dapat diperkirakan secara statistik.
Namun, tantangan dalam mengimplementasikan MC untuk PMS yang dapat diperbaiki dan memiliki durasi fase yang tidak deterministik sangat besar. Pemodelan perubahan konfigurasi, kebijakan perbaikan yang kompleks, dan dependensi antar fase memerlukan kerangka kerja yang kuat. Di sinilah konsep pohon kegagalan modular dengan gerbang SEQ menjadi kunci.
Pohon Kegagalan Modular dengan Gerbang SEQ: Membangun Struktur Keandalan
Inti dari inovasi makalah ini terletak pada penggunaan model pohon kegagalan modular yang diperkaya dengan gerbang "Sequence-Enforcing" (SEQ).
Dengan kombinasi ini, makalah ini mengusulkan:
Dengan cara ini, model pohon kegagalan modular dengan gerbang SEQ berfungsi sebagai "cetak biru" yang presisi untuk simulasi Monte Carlo. Ini memberitahu simulator Monte Carlo bagaimana komponen berinteraksi, kapan perbaikan dapat dilakukan, dan bagaimana sistem berperilaku di setiap fase misi, bahkan dalam skenario yang paling rumit.
Studi Kasus dan Validasi: Penerapan pada Sistem Hidrolik Ekskavator
Makalah ini tidak hanya berhenti pada pengembangan teoretis; ia memvalidasi metodologi yang diusulkan melalui studi kasus yang konkret dan relevan: sistem hidrolik ekskavator.
Sistem hidrolik pada mesin konstruksi seperti ekskavator adalah contoh sempurna dari PMS yang dapat diperbaiki. Sebuah ekskavator melakukan serangkaian tugas (misalnya, menggali, mengangkat, memutar, membuang) yang masing-masing merupakan fase misi. Setiap fase memiliki persyaratan tekanan hidrolik dan aliran yang berbeda, dan komponen-komponen seperti pompa, katup, atau silinder dapat gagal dan mungkin dapat diperbaiki di lapangan.
Meskipun makalah ini tidak memberikan data numerik spesifik dari hasil simulasi dalam abstrak, hasil umum yang disampaikan sangatlah penting:
Studi kasus ini menunjukkan bahwa pendekatan yang diusulkan bukan hanya konseptual, tetapi juga dapat diterapkan pada masalah rekayasa praktis yang relevan. Ini memberikan kepercayaan diri bahwa metodologi ini dapat digunakan untuk menganalisis sistem yang serupa di berbagai industri.
Analisis Mendalam dan Nilai Tambah: Membangun Sistem yang Lebih Tangguh
Makalah ini menawarkan lebih dari sekadar metode baru; ia membuka pintu bagi berbagai implikasi praktis dan arah penelitian di masa depan:
Pergeseran Paradigma dalam Desain Sistem: Dengan kemampuan untuk menganalisis dampak kebijakan perbaikan dan dinamika fase pada keandalan misi secara keseluruhan, insinyur dapat merancang sistem yang secara inheren lebih andal. Ini berarti tidak hanya memilih komponen yang kuat, tetapi juga merancang sistem dengan mempertimbangkan kemampuan perbaikan, waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan, dan toleransi terhadap kegagalan parsial di setiap fase. Misalnya, apakah menambahkan cadangan on-board atau merancang modul yang mudah diganti akan lebih efektif dalam meningkatkan probabilitas keberhasilan misi? Model ini dapat memberikan jawaban.
Optimalisasi Strategi Pemeliharaan: Bagi operator, metodologi ini adalah alat yang sangat berharga untuk mengoptimalkan strategi pemeliharaan. Apakah lebih baik melakukan pemeliharaan preventif yang ketat sebelum setiap fase misi kritis, atau mengandalkan pemeliharaan korektif yang cepat jika terjadi kegagalan? Bagaimana durasi perbaikan yang berbeda memengaruhi keberhasilan misi? Model ini dapat memandu pengambilan keputusan untuk meminimalkan downtime yang tidak direncanakan dan memaksimalkan ketersediaan misi. Ini sangat penting dalam industri seperti konstruksi, di mana downtime alat berat dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan.
Manajemen Risiko yang Lebih Baik: Dengan memberikan estimasi probabilitas keberhasilan misi, makalah ini memungkinkan manajemen risiko yang lebih akurat. Ini membantu dalam mengidentifikasi titik-titik kerentanan kritis dalam setiap fase misi dan merencanakan mitigasi yang sesuai. Misalnya, dalam peluncuran roket, di mana setiap fase harus sukses, analisis keandalan yang cermat dapat mengidentifikasi komponen yang paling berisiko dan memprioritaskan pengujian dan pemeliharaan untuk komponen tersebut.
Keterkaitan dengan Tren Industri: Penelitian ini sangat relevan dengan tren industri 4.0, di mana data dari sensor dan sistem pemantauan dapat digunakan untuk memperbarui model keandalan secara real-time. Dengan informasi yang lebih akurat tentang kondisi komponen, simulasi dapat menjadi lebih prediktif dan memberikan wawasan yang lebih baik tentang sisa waktu pakai atau probabilitas kegagalan di fase berikutnya. Ini juga relevan dengan pengembangan sistem otonom dan robotik yang semakin kompleks, di mana kemampuan untuk menjalankan misi secara andal tanpa intervensi manusia adalah kunci.
Perbandingan dengan Penelitian Lain: Makalah ini secara jelas mengisi celah dalam literatur yang ada. Banyak penelitian sebelumnya tentang PMS cenderung fokus pada sistem yang tidak dapat diperbaiki atau mengasumsikan durasi fase yang deterministik. Pendekatan yang mengintegrasikan secara eksplisit durasi fase yang non-deterministik dan kebijakan perbaikan yang fleksibel, terutama dengan pemodelan yang kuat menggunakan pohon kegagalan modular gerbang SEQ, merupakan kontribusi yang signifikan. Ini melampaui batasan metode analitis tradisional seperti rantai Markov untuk sistem yang sangat kompleks dengan interaksi temporal yang rumit.
Tantangan dan Arah Penelitian Masa Depan: Meskipun inovatif, ada beberapa area yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Pertama, pembangunan pohon kegagalan modular dengan gerbang SEQ untuk sistem yang sangat besar dan kompleks dapat menjadi tugas yang menantang dan memakan waktu. Pengembangan alat otomatis atau semi-otomatis untuk membangun model ini akan sangat membantu. Kedua, validasi lebih lanjut pada sistem-sistem yang lebih bervariasi dari berbagai industri (misalnya, sistem penerbangan, pertahanan, atau manufaktur yang sangat otomatis) akan memperkuat generalisasi metode ini. Ketiga, memasukkan faktor ketidakpastian dalam data input keandalan (misalnya, melalui analisis ketidakpastian atau fuzzy logic) dapat memberikan estimasi keandalan yang lebih robus.
Kesimpulan: Fondasi Kuat untuk Sistem Misi yang Aman dan Efisien
Makalah oleh Chenxi LIU, Achim KRAMER, dan Stephan NEUMANN ini merupakan sebuah kontribusi fundamental dalam bidang penilaian keandalan sistem misi bertahap yang dapat diperbaiki. Dengan mengusulkan metodologi yang menggabungkan kekuatan simulasi Monte Carlo dengan representasi sistem yang kuat melalui pohon kegagalan modular gerbang SEQ, mereka telah menyediakan alat yang tak ternilai bagi para insinyur dan peneliti.
Inovasi utama terletak pada kemampuan untuk secara akurat memodelkan dinamika kompleks dari sistem yang dapat diperbaiki di berbagai fase misi, termasuk perubahan konfigurasi dan kebijakan perbaikan yang dinamis. Ini adalah kemajuan yang sangat penting untuk perancangan, pengembangan, dan pengoperasian sistem kritikal di berbagai industri, mulai dari otomotif hingga antariksa. Pada akhirnya, penelitian ini membantu kita membangun sistem yang lebih cerdas, lebih tangguh, dan lebih andal di masa depan, memastikan keberhasilan misi yang aman dan efisien.
Sumber Artikel:
LIU C, KRAMER A, NEUMANN S. Reliability assessment of repairable phased-mission system by Monte Carlo simulation based on modular sequence-enforcing fault tree model. Eksploatacja i Niezawodnosc - Maintenance and Reliability 2020; 22 (2): 272-281. DOI: 10.17531/ein.2020.2.10
Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Mei 2025
Pendahuluan
Rumah sakit adalah fasilitas vital yang harus tetap berfungsi dalam segala kondisi, termasuk saat bencana seperti gempa bumi. Namun, salah satu elemen arsitektural yang sering kali luput dari perhatian adalah plafon. Melalui studi berjudul "Relationship of Damage Causes and Ceiling Damage Levels in Indonesia Hospital" oleh Rita Laksmitasari Rahayu, Sugeng Triyadi S., dan Lily Tambunan (2022), diketahui bahwa plafon rumah sakit di Indonesia sangat rentan terhadap kerusakan, baik akibat gempa maupun faktor-faktor lain seperti kebocoran dan kesalahan konstruksi.
Penelitian ini menelaah 39 data kerusakan dari 28 rumah sakit daerah di Indonesia dan menunjukkan bahwa walau kebocoran air menjadi penyebab paling umum, gempa bumi tetap menjadi penyebab kerusakan paling fatal.
Latar Belakang dan Urgensi Studi
Kerusakan arsitektural seperti plafon dapat menyebabkan kegagalan fungsional rumah sakit meskipun struktur utama masih berdiri. Pasien yang sedang dirawat memiliki mobilitas terbatas, dan plafon yang runtuh berpotensi mencelakai mereka. Oleh karena itu, memahami hubungan antara penyebab dan tingkat kerusakan plafon adalah langkah penting dalam meningkatkan ketahanan rumah sakit di Indonesia.
Tujuan dan Metodologi Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penyebab kerusakan dengan tingkat keparahan kerusakan plafon. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan di tiga rumah sakit dan tinjauan literatur terhadap 25 rumah sakit lainnya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif, termasuk teknik open coding dan content analysis dari artikel media daring, serta pengukuran tingkat kerusakan berdasarkan European Macroseismic Scale (EMS).
Hasil Temuan Utama
1. Lokasi Rawan Kerusakan
Sebanyak 72% kerusakan plafon ditemukan di unit rawat inap, lokasi yang paling kritis karena pasien tidak dapat menyelamatkan diri secara cepat. Unit ICU, instalasi farmasi, dan ruang tunggu publik juga terdampak namun lebih jarang.
2. Jenis dan Pola Kerusakan
3. Penyebab Kerusakan Plafon
4. Tingkat Kerusakan
Berdasarkan EMS:
5. Studi Kasus Tambahan
Salah satu insiden di RSUD Sinjai, Sulawesi Selatan, menunjukkan plafon runtuh hanya setahun setelah renovasi. Pasien hampir tertimpa material plafon. Sumber utama masalah adalah kebocoran air dari pipa kamar mandi lantai atas yang tidak terdeteksi sejak awal.
Analisis dan Opini
Penelitian ini sangat kuat dalam mengaitkan antara kondisi material, sistem instalasi, dan potensi gempa dengan tingkat kerusakan plafon. Salah satu kritik utama terhadap praktik konstruksi rumah sakit di Indonesia adalah ketergantungan pada metode pemasangan plafon sederhana yang tidak memperhitungkan kekuatan gempa. Hal ini berlawanan dengan praktik terbaik internasional yang mengutamakan desain berbasis performa (performance-based design).
Jika dibandingkan dengan studi oleh Achour et al. (2011) di Jepang dan WHO (2010), rumah sakit Indonesia masih tertinggal dalam sistem evaluasi komponen non-struktural. Sementara negara-negara lain telah mengembangkan indeks keselamatan rumah sakit yang menyertakan plafon sebagai elemen krusial, Indonesia masih fokus pada kerusakan struktural.
Implikasi Praktis dan Rekomendasi
Desainer dan Kontraktor: Harus menerapkan standar anti-gempa untuk komponen plafon, termasuk pemilihan rangka dan pengikat yang tahan guncangan.
Manajemen Rumah Sakit: Rutin menginspeksi plafon terutama setelah musim hujan dan gempa.
Pemerintah: Perlu menetapkan regulasi khusus untuk instalasi plafon di fasilitas kesehatan.
Akademisi: Diperlukan riset lanjut dengan cakupan lebih luas dan teknik inspeksi yang lebih modern seperti drone atau thermal imaging untuk mendeteksi kelembaban tersembunyi.
Kesimpulan
Plafon rumah sakit merupakan komponen vital non-struktural yang selama ini kurang diperhatikan dalam konteks mitigasi bencana. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi antara kualitas material, teknik konstruksi, dan evaluasi berkala untuk menjamin keselamatan pasien dan staf medis. Ke depan, standar nasional tentang instalasi dan pemeliharaan plafon di fasilitas kesehatan harus diperbarui secara menyeluruh.
Sumber:
Rahayu, R. L., Triyadi, S. S., & Tambunan, L. (2022). Relationship of Damage Causes and Ceiling Damage Levels in Indonesia Hospital. Civil Engineering and Architecture, 10(1), 163–174. https://doi.org/10.13189/cea.2022.100115
Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Mei 2025
Pendahuluan: Lebih dari Sekadar Kesalahan Teknis
Dalam lanskap pembangunan Indonesia yang kian kompleks, kegagalan konstruksi bukan hanya persoalan teknis belaka. Penelitian oleh Riki Saputra dkk. (2016) membuka cakrawala baru dengan memaparkan bahwa akar dari banyak kegagalan konstruksi sesungguhnya bersumber dari sistem sosial—lebih tepatnya, perspektif socio-engineering system. Temuan ini bukan sekadar opini: data membuktikan bahwa hingga 66,7% kegagalan proyek konstruksi berkaitan dengan perilaku manusia, bukan sekadar desain atau material.
Apa Itu Socio-Engineering System?
Socio-engineering menggabungkan aspek rekayasa teknis (engineering system) dengan perilaku manusia dan struktur sosial (social system). Artinya, kualitas infrastruktur tidak hanya bergantung pada desain atau bahan, tetapi juga pada:
Dalam konteks proyek konstruksi, variabel-variabel ini menciptakan ekosistem risiko yang sulit terdeteksi namun sangat merusak.
Tiga Titik Rawan Kegagalan: Temuan Kunci Penelitian
1. Tahap Perencanaan Konstruksi
Tahap ini terbukti memiliki pengaruh besar terhadap kegagalan proyek. Dengan nilai OR (odds ratio) sebesar 5,4, responden yang menilai proses perencanaan sebagai “kurang baik” berisiko 5,4 kali lebih besar mengalami kegagalan konstruksi.
Faktor utama penyebab:
Kritik tambahan: Masalah ini tidak hanya mencerminkan lemahnya kontrol proyek, tetapi juga budaya kerja yang menjadikan kompromi terhadap kualitas sebagai “kebiasaan industri”.
2. Dokumen Perencanaan
Tahap dokumentasi pun menunjukkan nilai OR = 5,4, yang mengindikasikan bahwa dokumen perencanaan yang lemah berkontribusi besar terhadap potensi kegagalan.
Kasus nyata yang sering terjadi:
Tanggapan kritis: Hal ini mengarah pada pseudo-profesionalisme—praktik yang hanya formalitas namun mengabaikan kompetensi teknis. Jika dibiarkan, hal ini merusak reputasi dan efektivitas konsultan lokal.
3. Proses Pengadaan Barang dan Jasa
Inilah titik paling kritis. Dengan OR = 9,3, pengadaan yang tidak transparan membuat proyek 9 kali lebih berisiko gagal.
Praktik buruk yang ditemukan:
Studi kasus relevan: Dalam proyek revitalisasi drainase kota X (tidak disebut dalam paper), terjadi kolusi antara panitia tender dan pemenang proyek, yang menyebabkan kualitas pengerjaan buruk dan banjir besar kembali terjadi hanya tiga bulan pasca pembangunan.
Mengapa Perspektif Ini Penting untuk Masa Depan Industri Konstruksi?
Indonesia menghadapi tantangan infrastruktur masif dalam beberapa dekade ke depan, mulai dari Ibu Kota Nusantara (IKN) hingga proyek tol dan pelabuhan. Dengan tingkat kegagalan akibat faktor sosial setinggi ini, maka pembenahan sistem engineering saja tidak cukup.
Solusi yang ditawarkan berdasarkan analisis:
Komparasi dengan Penelitian Terkait
Jika dibandingkan dengan studi Oyfer (2002) di Amerika Serikat, faktor manusia juga mendominasi sumber kegagalan konstruksi (54%). Artinya, Indonesia tidak sendirian dalam tantangan ini. Namun, tingkat kegagalan karena korupsi sistemik di Indonesia jauh lebih tinggi, menunjukkan bahwa solusi tidak cukup dengan pelatihan teknis saja, melainkan perlu perubahan budaya dan regulasi.
Dampak Luas: Tidak Hanya Bangunan yang Runtuh
Kegagalan konstruksi membawa dampak jauh lebih besar dari sekadar kerugian material:
Rekomendasi: Jalan ke Depan bagi Industri Konstruksi
Agar masa depan konstruksi Indonesia lebih tahan risiko dan beretika, berikut rekomendasi berdasarkan hasil studi ini:
A. Untuk Pemerintah
B. Untuk Industri
C. Untuk Akademisi
Penutup: Infrastruktur Hebat Butuh Integritas Hebat
Konstruksi bukan sekadar bangunan. Ia adalah cermin sistem nilai, integritas, dan etika dari seluruh aktor yang terlibat. Penelitian oleh Riki Saputra dkk. menyajikan refleksi jujur sekaligus ajakan bertindak: tanpa perubahan budaya kerja dan etika profesional, pembangunan Indonesia hanya akan jadi proyek tanpa makna.
Sumber Referensi:
Saputra, Riki; Suraji, Akhmad; Hakam, Abdul. (2016). Analisis Kegagalan Konstruksi dari Perspektif Socio – Engineering System. Jurnal Rekayasa Sipil, Vol. 12 No. 1, Universitas Andalas. https://jurnal.ft.unand.ac.id/index.php/jrs/article/view/xxx
Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Mei 2025
Pengantar: Ironi di Balik Anggaran Besar
Di tengah alokasi dana yang terus meningkat untuk proyek infrastruktur permukiman, kualitas hasil pembangunan di banyak daerah justru sering kali mengecewakan. Paper karya Dedi Suryadi, Hendrik Sulistio, dan Lia Amelia Megawati (2021) berjudul "Analisis Risiko Kegagalan Konstruksi Infrastruktur Permukiman" memotret ironi ini dengan pendekatan Soft System Methodology (SSM), sebuah metode analisis sistemik yang fokus pada kompleksitas dunia nyata.
Latar Belakang: Antara Harapan dan Kenyataan Pembangunan
Pemerintah Indonesia telah menggelontorkan anggaran besar untuk infrastruktur permukiman dalam rangka pemerataan pembangunan dari Sumatera hingga Papua. Namun, kenyataan di lapangan seperti di Kabupaten Bekasi menunjukkan ketidaksesuaian antara investasi dan kualitas fisik konstruksi yang terbangun. Kegagalan proyek kerap kali tidak hanya disebabkan oleh kesalahan teknis, tetapi juga oleh lemahnya manajemen proyek dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terlibat.
Metodologi: Soft System Methodology (SSM)
Penelitian ini menggunakan metode SSM untuk:
Melalui tahapan seperti rich picture dan analisis CATWOE, penulis menyusun gambaran utuh hubungan antara aktor, kebijakan, dan lingkungan proyek.
Temuan Utama: Variabel Risiko Dominan
Dari hasil survei dan analisis risiko di lapangan, ditemukan bahwa faktor paling dominan penyebab kegagalan konstruksi adalah:
1. Mutu SDM Rendah (peringkat risiko tertinggi)
2. Kualitas pekerjaan tidak sesuai spesifikasi
3. Perencanaan teknis yang tidak matang
4. Pengawasan lemah dan tidak menyeluruh
5. Budaya kerja kontraktor yang abai terhadap mutu
Sebagai ilustrasi, proyek jalan lingkungan di Bekasi pada 2020 mengalami retak dini hanya dua bulan pasca selesai. Evaluasi menunjukkan kesalahan dalam pemilihan material serta pelaksanaan yang tidak diawasi secara ketat.
Model Konseptual: Solusi Sistemik untuk Masalah Kompleks
Dengan bantuan SSM, penulis merancang model konseptual yang menggambarkan solusi seperti:
Model ini juga dilengkapi dengan pendekatan CATWOE (Customer, Actor, Transformation, Worldview, Owner, Environment) untuk memetakan semua elemen yang berpengaruh terhadap kegagalan proyek.
Analisis Tambahan: Kritik dan Perbandingan
Studi ini memberikan kritik halus terhadap lemahnya sinergi antara perencanaan dan eksekusi proyek. Banyak proyek gagal bukan karena kekurangan dana, melainkan karena pengelolaan yang tidak profesional.
Jika dibandingkan dengan studi Saputra (2015), yang menekankan faktor sosial dalam kegagalan proyek, riset Dedi dkk. ini lebih fokus pada sisi teknis dan kelembagaan. Keduanya saling melengkapi.
Implikasi Praktis
Hasil studi ini sangat aplikatif untuk:
Selain itu, konsep pemaketan proyek yang disesuaikan dengan kapasitas SDM setempat dapat menjadi formula strategis untuk proyek skala kecil dan menengah.
Rekomendasi Strategis
Berikut saran tindak lanjut berdasarkan riset:
Penutup: Membangun dari Dasar yang Kuat
Kegagalan konstruksi sering kali menjadi puncak dari akumulasi masalah kecil yang dibiarkan. Studi ini menunjukkan pentingnya membangun sistem yang memfasilitasi pemetaan masalah sejak awal. Dengan SDM yang mumpuni dan sistem pengawasan yang kuat, infrastruktur pemukiman bukan hanya bisa dibangun dengan baik, tetapi juga tahan lama dan tepat guna.
Referensi:
Penelitian ini dapat diakses di Jurnal BENTANG, Universitas Islam 45 Bekasi, Vol. 9 No. 2 Tahun 2021 melalui laman resmi: http://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/bentang
Kegagalan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Mei 2025
Pendahuluan: Menjaga Pesisir, Menjaga Masa Depan
Pantai Pangandaran Timur merupakan aset wisata dan ekonomi penting bagi wilayah Pangandaran. Namun, kawasan ini mengalami tantangan berat berupa erosi pantai tahunan yang diperparah oleh musim angin timur. Tulisan karya Sukiyoto, M.Eng (2021) ini menjadi dokumentasi reflektif sekaligus analisis teknis atas kegagalan konstruksi bangunan pengaman pantai yang dibangun oleh pemerintah daerah dan pusat.
Latar Belakang: Abrasi dan Signifikansi Strategis Pantai Timur
Pantai Timur Pangandaran menghadapi erosi signifikan terutama pada bulan Agustus hingga Oktober. Gelombang besar yang muncul pada musim angin timur menyebabkan daratan pantai terus terkikis. Ini mengancam fasilitas pariwisata, penginapan, serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal.
Sebagai respon, Pemerintah Kabupaten Ciamis (sebelum Pangandaran menjadi kota mandiri) membangun konstruksi tembok laut (retaining wall) pada tahun 1986–1988. Namun, dalam beberapa tahun bangunan tersebut rusak diterjang gelombang, menandai kegagalan fungsional.
Kajian Teknis: Penyebab Kegagalan Bangunan Pengaman
1. Faktor Alam: Siklus Erosi dan Sedimentasi
2. Kegagalan Desain dan Konstruksi
3. Dampak Sosial dan Ekonomi
Analisis Skematis: Bagaimana Struktur Itu Gagal?
Sukiyoto menyajikan sketsa perkembangan kondisi pantai dan tembok laut:
1. Bangunan berdiri normal sebelum musim angin timur.
2. Gelombang besar menggerus pondasi.
3. Struktur terguling, retak, dan akhirnya hancur.
Peristiwa ini berulang selama beberapa tahun, hingga bangunan tidak lagi berfungsi. Dalam kerangka UU Konstruksi, ini dikategorikan sebagai kegagalan konstruksi karena tidak lagi menjalankan fungsinya.
Studi Komparatif dan Kritik Tambahan
Jika dibandingkan dengan proyek-proyek pengamanan pantai di Belanda atau Jepang, proyek Pangandaran Timur memiliki kekurangan mendasar:
Kritiknya: Bangunan pengaman dibangun dengan pendekatan yang terlalu teknokratis dan konvensional, tanpa cukup mempertimbangkan perilaku gelombang setempat.
Rekomendasi Strategis: Mencegah Terulangnya Kegagalan
A. Dari Sisi Perencanaan:
B. Dari Sisi Desain Konstruksi:
C. Dari Sisi Pendekatan Sosial dan Lingkungan:
D. Penguatan Institusi:
Penutup: Pembelajaran dari Kegagalan
Studi ini menjadi pengingat penting bahwa konstruksi di wilayah pesisir membutuhkan pemahaman ekosistem dan dinamika laut yang mendalam. Infrastruktur tidak bisa hanya dilihat dari sisi fisik, melainkan juga sebagai bagian dari sistem sosial dan ekologis yang kompleks.
Pengalaman gagalnya pengaman Pantai Pangandaran Timur dapat menjadi katalis peningkatan kapasitas SDM konstruksi, serta reformasi sistem perencanaan proyek infrastruktur pesisir di Indonesia.
Berikut format sumber referensi untuk artikel Kegagalan Konstruksi Bangunan Pengaman Pantai Pangandaran Timur karya Sukiyoto, disesuaikan seperti yang Anda minta:
Sumber Referensi:
Sukiyoto, M.Eng. (2021). Studi Kasus Kegagalan Konstruksi Bangunan Pengaman Pantai Pangandaran Timur. Jurnal PERTAHKINDO (Perkumpulan Tenaga Ahli Konsultan Indonesia).
https://pertahkindo.org/jurnal/file/b457375e87d6e90155ec70e3ba3c9356.pdf]