Apa Saja Manfaat Hutan Bakau?

Dipublikasikan oleh Farrel Hanif Fathurahman

20 Mei 2024, 16.33

Hutan bakau di Muara Angke, Jakarta (2007) - Wikipedia

Hutan bakau, juga dikenal sebagai mangrove, adalah jenis hutan yang tumbuh di air payau dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh di daerah di mana pelumpuran dan akumulasi bahan organik terjadi. Tempat air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawa dari hulu ke teluk-teluk yang terlindung dari ombak.

Pelumpuran, yang mengurangi abrasi tanah, salinitas tanah yang tinggi, dan daur penggenangan oleh pasang-surut air laut adalah ciri khas ekosistem hutan bakau. Tempat semacam ini hanya memiliki beberapa jenis tumbuhan yang bertahan hidup, dan karena telah melalui proses evolusi dan adaptasi, kebanyakan jenis tumbuhan ini berasal dari hutan bakau.

Hutan bakau tersebar luas di daerah yang cukup panas di seluruh dunia, terutama di daerah tropika dan sedikit subtropika di sekitar khatulistiwa. Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia dengan luas antara 2,5 juta hingga 4,5 juta hektar. lebih besar dari Australia (0,97 ha), Nigeria (1,1 juta ha), dan Brazil (1,3 juta ha) masing-masing (Spalding et al., 1997 dalam Noor et al., 1999). Namun, sebagian besar kondisi mangrove di Indonesia sangat buruk, dan luas bakau di Indonesia mencapai 25% dari luas mangrove global. Di pantai timur Sumatra, pantai barat, dan selatan Kalimantan, hutan bakau yang luas terletak di sekitar Dangkalan Sunda yang relatif tenang. Hutan-hutan ini di pantai utara Jawa telah lama terkikis karena kebutuhan penduduknya akan lahan. Hutan bakau yang masih baik di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni, di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul. Luas hutan bakau Papua mencapai 1,3 juta ha, atau sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Manfaat

Hutan bakau memberikan manfaat ekonomi dengan menghasilkan beberapa jenis kayu berkualitas tinggi serta hasil non-kayu, atau hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti arang kayu, tanin, bahan pewarna dan kosmetik, serta bahan pangan dan minuman. Hewan yang biasa ditangkap juga termasuk di antaranya, seperti biawak air (Varanus salvator), kepiting bakau (Scylla serrata), udang lumpur (Thalassina anomala), siput bakau (Telescopium telescopium), dan berbagai jenis ikan belodok. Hutan bakau memiliki banyak manfaat ekologis, termasuk perlindungan pantai, tempat tinggal berbagai jenis satwa, dan tempat pembesaran (nursery ground) bagi banyak jenis ikan laut.

Hutan bakau melakukan banyak hal untuk melindungi pantai dari abrasi atau pengikisan serta meredam gelombang besar, seperti semong, yang juga dikenal sebagai tsunami. Di Jepang, membangun green belt, atau sabuk hijau, yang terdiri dari hutan bakau, adalah salah satu upaya untuk mengurangi dampak ancaman semong. Di Indonesia, sekitar 28 wilayah dikategorikan rawan tsunami karena hutan bakau telah banyak dialihfungsikan menjadi tambak, kebun kelapa sawit, dan alih fungsi lainnya.

Perkembangbiakan

Ciri-ciri penting lainnya dari ras ini terlihat pada pembiakannya. Perkecambahan lumpur yang normal dari benih-benih ini hampir sulit dilakukan di hutan bakau karena kondisi lingkungan yang ekstrim. Selain lingkungan kimia yang keras, lumpur dan pasang surut air laut merupakan faktor fisik yang menghambat pertumbuhan benih.

Mayoritas tumbuhan hutan bakau mengandung buah atau biji yang dapat mengapung dan menyebar mengikuti arus udara. Selain itu, banyak spesies bakau yang bersifat vivipar, artinya benihnya bertunas sebelum buahnya jatuh dari pohon.

Contoh yang paling umum adalah perkecambahan kendeka (Bruguiera), tengar (Ceriops), dan buah bakau (Rhizophora). Buah dari pohon ini telah berkecambah, dan ketika masih tergantung di batangnya, telah tumbuh akar yang panjang menyerupai tombak. Buah-buahan ini mungkin langsung tumbuh di lumpur tempat mereka jatuh, terbawa arus air pasang, atau dipindahkan dan ditanam di tempat lain di dalam hutan. Ia juga dapat diangkut ke lokasi yang jauh melalui arus laut.

Meski masih dalam tandan, namun tunas buah palem (Nypa fruticans) belum muncul. Sementara itu, tidak terlihat dari luar, buah api, jeruju (Acanthus), kaboa (Aegiceras), dan berbagai jenis buah lainnya sudah mulai bertunas di pohonnya. Anak-anak muda yang menanam pohon pasti akan lebih sukses dalam hidup karena manfaatnya. Bibit seperti ini disebut propagul.

Propelan tersebut, bersama dengan sampah laut lainnya, dapat terbawa arus laut sejauh beberapa kilometer dan bahkan dapat menyelimuti laut atau selat. Propagule memiliki kemampuan untuk "tidur" atau beristirahat selama perjalanan hingga mencapai tujuan. Jenis propagul tertentu mempunyai kemampuan untuk mengubah bobot relatif bagian tubuhnya secara bertahap, menyebabkan akar mulai tenggelam dan propagul melayang vertikal di udara. Fitur ini memungkinkan propagul menempel pada dasar yang berlumpur dan dangkal berulang kali.

Sumber:

https://id.wikipedia.org