Infrastruktur dan Lingkungan
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Pembangunan Berkelanjutan dan Tantangan Lingkungan Global
Pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu isu paling krusial dalam pembangunan modern. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Prinsip ini telah ditegaskan secara global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015 untuk dicapai pada tahun 2030.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ir. Indah Rahmatiah Siti Salami, M.Si., PhD, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, menyoroti bahwa pembangunan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi dan teknologi sering kali membawa konsekuensi serius terhadap kualitas lingkungan. Dampak tersebut pada akhirnya berbalik mengancam kesehatan manusia, sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan yang dilakukan benar-benar meningkatkan kesejahteraan?
Krisis Planet Global dan Dampak Aktivitas Manusia
Dunia saat ini menghadapi apa yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu krisis pencemaran lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Ketiga krisis ini berakar pada aktivitas manusia yang memanfaatkan sumber daya alam secara masif untuk memenuhi kebutuhan produksi barang dan jasa.
Berbagai fenomena seperti pencemaran udara dan air, penumpukan sampah di laut, serta kerusakan ekosistem menjadi indikator bahwa lingkungan berada dalam kondisi tertekan. Dampak perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa degradasi lingkungan memiliki konsekuensi langsung maupun tidak langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan manusia.
Keterkaitan Lingkungan dan Kesehatan Manusia
Prof. Indah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap kesehatan manusia. Hubungan ini telah dibuktikan melalui berbagai kasus nyata yang terdokumentasi, termasuk yang diangkat dalam film-film berbasis fakta seperti A Civil Action, Erin Brockovich, dan Dark Waters.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bagaimana pencemaran bahan kimia industri dapat menyebabkan klaster penyakit serius seperti leukemia dan kanker akibat paparan jangka panjang. Fakta ini memperkuat bukti bahwa kualitas lingkungan merupakan determinan penting kesehatan masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan dan Tujuan Kesehatan Global
Dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, tujuan ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera bagi semua usia menjadi fondasi utama. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 24% kematian global berkaitan dengan faktor lingkungan.
Temuan ini menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan bukan semata-mata isu ekologis, melainkan juga investasi langsung dalam perlindungan kesehatan manusia. Lingkungan yang tercemar akan meningkatkan beban penyakit dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Konsep Penyakit dan Interaksi Agen–Inang–Lingkungan
Dalam menjelaskan bagaimana penyakit dapat muncul akibat faktor lingkungan, Prof. Indah menguraikan konsep interaksi tiga komponen utama, yaitu agen penyebab penyakit, inang (manusia), dan lingkungan. Agen dapat berupa mikroorganisme, bahan kimia, atau faktor fisik seperti radiasi, sedangkan inang memiliki kerentanan berbeda akibat faktor genetik, perilaku, dan gaya hidup.
Lingkungan menjadi medium yang mempertemukan agen dan inang, termasuk kualitas air, udara, tanah, serta kondisi sanitasi dan sosial ekonomi. Penyakit muncul sebagai hasil interaksi kompleks ketiga komponen tersebut, yang dikenal sebagai web of causation.
Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan sebagai Alat Ilmiah
Untuk memahami dan memprediksi dampak pencemaran terhadap kesehatan, digunakan metode Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan (PRKL). Metode ini merupakan pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi bahaya, analisis pajanan, evaluasi dosis-respons, dan karakterisasi risiko.
Dalam PRKL, risiko dibedakan menjadi risiko karsinogenik dan non-karsinogenik. Hasil penilaian risiko menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau memerlukan tindakan pengelolaan melalui manajemen risiko.
Aplikasi Penilaian Risiko pada Kasus Nyata di Indonesia
Prof. Indah memaparkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Berbagai jenis pencemar ditemukan, mulai dari pestisida pertanian, limbah industri, hingga logam berat seperti arsenik.
Studi terhadap air tanah di Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa arsenik merupakan kontaminan dominan yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tinggi, baik non-karsinogenik maupun karsinogenik. Analisis spasial menunjukkan bahwa risiko kesehatan bervariasi antarwilayah dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat.
Paparan Melalui Air, Udara, dan Rantai Makanan
Selain air minum, manusia juga terpapar pencemar melalui udara dan makanan. Penelitian menunjukkan bahwa daerah industri memiliki risiko kesehatan lebih tinggi akibat pencemaran udara, namun daerah permukiman juga dapat mengalami risiko signifikan akibat akumulasi logam berat dalam debu dan rantai makanan.
Bioakumulasi zat pencemar dalam ikan dan bahan pangan memperlihatkan bahwa risiko kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, penilaian risiko harus mempertimbangkan karakteristik lokal dan perilaku penduduk.
Penilaian Risiko untuk Penentuan Prioritas Kebijakan
Salah satu kekuatan utama penilaian risiko kesehatan lingkungan adalah kemampuannya dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Dengan memetakan risiko secara spasial dan kuantitatif, pemerintah dapat menentukan wilayah prioritas yang memerlukan intervensi dan alokasi sumber daya.
Sejak tahun 2024, metode ini juga telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari Kajian Dampak Kesehatan dalam proses AMDAL, menandai pengakuan formal atas pentingnya pendekatan ini dalam perencanaan pembangunan.
Tantangan dan Kebutuhan Pendekatan Multidisiplin
Meskipun memiliki manfaat besar, penilaian risiko kesehatan lingkungan masih menghadapi tantangan, terutama terkait keberagaman pencemar baru (emerging pollutants), paparan dosis rendah jangka panjang, serta keterbatasan data kesehatan dan lingkungan.
Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut, diperlukan kerja sama multidisiplin yang melibatkan bidang teknik, kesehatan, statistik, instrumentasi, dan ilmu sosial. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi penilaian dan efektivitas kebijakan.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Indah Rahmatiah Siti Salami menegaskan bahwa perlindungan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kualitas lingkungan. Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan hadir sebagai alat ilmiah yang mampu menjembatani data pencemaran dengan dampak kesehatan secara kuantitatif dan sistematis.
Melalui pendekatan ini, pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berbasis bukti, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang. Di tengah kompleksitas tantangan lingkungan global, penilaian risiko menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pembangunan benar-benar membawa manfaat bagi manusia dan generasi mendatang.
Sumber
Salami, I. R. S.
Peran Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ramah Lingkungan
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Tantangan Mutu Lingkungan, Produk, dan Kesehatan
Kualitas lingkungan, keamanan produk, dan kesehatan masyarakat merupakan isu yang semakin kompleks seiring meningkatnya aktivitas industri dan konsumsi manusia. Pencemaran logam berat, senyawa toksik, serta penggunaan bahan kimia yang melebihi ambang batas pada produk pangan dan kosmetik berpotensi menurunkan kualitas hidup dan merusak lingkungan. Di sisi lain, pemantauan biomarker kesehatan seperti glukosa, kolesterol, dan asam urat menuntut metode analisis yang cepat, akurat, dan mudah diakses.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Henri Setianto, S.Si., M.T. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam memaparkan riset yang dikembangkan di Laboratorium Kimia Analitik, khususnya bidang elektroanalitik, dengan judul sensor elektrokimia berbasis karbon dan nanokomposit dengan pendekatan multidisipliner berbasis material. Orasi ini menegaskan peran sensor elektrokimia sebagai solusi strategis untuk menjawab kebutuhan pemantauan kualitas secara real time.
Sensor Elektrokimia sebagai Solusi Analitik Modern
Sensor elektrokimia dikembangkan berbasis teknik elektrometri, yang mencakup berbagai metode seperti voltametri, konduktometri, potensiometri, amperometri, serta spektroskopi impedansi. Teknik-teknik ini berfokus pada pengukuran arus, potensial, konduktansi, dan impedansi listrik yang berkaitan langsung dengan reaksi kimia suatu analit.
Keunggulan utama sensor elektrokimia terletak pada kemampuannya menggantikan metode analisis konvensional yang bergantung pada instrumen besar dan mahal seperti kromatografi atau ICP-MS. Metode konvensional membutuhkan preparasi sampel yang rumit, waktu analisis yang panjang, serta operator dengan keahlian khusus. Sebaliknya, sensor elektrokimia menawarkan portabilitas tinggi, biaya relatif rendah, preparasi minimal, kecepatan analisis, selektivitas, presisi, dan sensitivitas yang sangat tinggi.
Tantangan Pengembangan Sensor Elektrokimia
Meskipun memiliki banyak keunggulan, pengembangan sensor elektrokimia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kebutuhan analisis multianalit, yaitu kemampuan mendeteksi beberapa senyawa sekaligus dalam satu sensor. Selain itu, sensor diharapkan mampu melakukan pemantauan langsung di lapangan dengan hasil yang akurat dan presisi.
Tantangan lain meliputi peningkatan sensitivitas dan selektivitas, kemampuan mendeteksi analit dalam berbagai fase (padat, cair, dan gas), serta penyederhanaan proses preparasi sampel. Tantangan-tantangan inilah yang mendorong pengembangan rekayasa elektroda dan modifikasi material berbasis komposit dan nanomaterial.
Peran Material Nanokomposit dalam Rekayasa Elektroda
Dalam orasi ini, Prof. Henri menyoroti penggunaan berbagai material nanokomposit sebagai strategi utama peningkatan kinerja sensor. Nanopartikel memiliki luas permukaan yang sangat besar, sifat katalitik yang baik, serta kemampuan mempercepat reaksi oksidasi dan reduksi melalui transfer elektron yang efisien.
Grafena, sebagai salah satu bentuk karbon, dikenal sebagai konduktor listrik yang sangat baik dengan kapasitas adsorpsi tinggi. Sifat ini memungkinkan grafena berperan dalam proses prakonsentrasi analit, terutama pada konsentrasi yang sangat rendah sehingga sulit terdeteksi secara langsung. Selain itu, polimer bercetakan molekul atau ion memberikan selektivitas tinggi melalui mekanisme pengenalan bentuk dan berat molekul target.
Pendekatan material hijau juga menjadi perhatian penting, dengan memanfaatkan bahan alam dan prinsip kimia hijau yang aman, minim limbah, dan berkelanjutan.
Elektroda Karbon dan Strategi Modifikasinya
Elektroda berbasis karbon memiliki variasi yang sangat luas, mulai dari elektroda pasta karbon, karbon kaca, serat karbon, elektroda karbon cetak, hingga elektroda karbon berbasis nanomaterial. Dalam riset yang dipaparkan, elektroda karbon cetak menjadi salah satu platform utama yang dimodifikasi dengan berbagai material nanokomposit.
Modifikasi elektroda bertujuan meningkatkan respons arus, memperbaiki sensitivitas, serta menghasilkan efek katalitik yang sinergis antara material-modifikator. Pendekatan ini memungkinkan sensor digunakan secara efektif, bahkan dalam kondisi analit dengan konsentrasi sangat rendah.
Aplikasi Riset: Deteksi Senyawa Kimia dan Biomarker
Riset pertama yang dipaparkan memanfaatkan kombinasi nanopartikel perak dan grafena pada elektroda karbon cetak. Kombinasi ini menghasilkan efek sinergis yang meningkatkan aktivitas elektrokatalitik dan respons arus secara signifikan. Sensor yang dihasilkan mampu mendeteksi analit pada batas deteksi yang sangat rendah dengan rentang linear yang luas.
Penelitian kedua berfokus pada deteksi sodium dodesil sulfat, senyawa yang umum digunakan dalam produk kosmetik seperti sampo dan sabun. Modifikasi elektroda dilakukan menggunakan nanopartikel zinc oxide dan polimer bercetakan molekul. Kombinasi ini menghasilkan peningkatan sensitivitas hingga beberapa kali lipat dibandingkan elektroda tanpa modifikasi, sekaligus memberikan selektivitas tinggi terhadap senyawa target.
Penelitian ketiga mengembangkan elektroda karbon aktif untuk deteksi asam urat dengan memanfaatkan hidroksiapatit dari limbah cangkang telur yang dikombinasikan dengan nanopartikel zinc oxide. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kinerja sensor, tetapi juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan kimia hijau melalui pemanfaatan limbah.
Kontribusi terhadap Prinsip Kimia Hijau dan Keberlanjutan
Ketiga penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknik elektrometri dengan elektroda karbon termodifikasi nanokomposit mampu menghasilkan metode analitik yang efisien, akurat, dan ramah lingkungan. Penggunaan material hijau, minim preparasi, serta potensi pemantauan langsung di lapangan menjadikan sensor elektrokimia sebagai teknologi yang relevan untuk pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan sensor ini membuka peluang luas dalam pengawasan kualitas pangan, pemantauan lingkungan, serta deteksi dini kondisi kesehatan masyarakat dengan biaya yang lebih terjangkau dan aksesibilitas yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Henri Setianto menegaskan bahwa sensor elektrokimia berbasis karbon dan nanokomposit merupakan solusi analitik yang strategis dalam menjawab tantangan mutu lingkungan, keamanan produk, dan kesehatan. Melalui rekayasa elektroda dan pemanfaatan material nanokomposit serta material hijau, sensor elektrokimia mampu memberikan pemantauan yang cepat, sensitif, selektif, dan berkelanjutan.
Pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan kimia analitik, ilmu material, dan prinsip keberlanjutan ini menunjukkan arah masa depan teknologi sensor yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga relevan secara sosial dan lingkungan bagi Indonesia.
Sumber
Setianto, Henri.
Sensor Elektrokimia Berbasis Karbon dan Nanokomposit dengan Pendekatan Multidisipliner Berbasis Material.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
Teknologi Material
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Material Ringan sebagai Jawaban Tantangan Global
Isu pemanasan global dan kebutuhan akan pembangunan berkelanjutan menjadi tantangan besar abad ini. Salah satu kontributor utama emisi karbon adalah sektor transportasi, di mana bobot struktur sangat berpengaruh terhadap konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, pengembangan material ringan namun tetap kuat menjadi kunci penting dalam upaya menekan emisi dan meningkatkan efisiensi energi.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Hermawan Yudawisastra, M.M. dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara mengangkat tema rekayasa material komposit polimer dari riset fundamental menuju solusi industri yang berkelanjutan. Orasi ini mengajak hadirin menelusuri perjalanan panjang riset material komposit, dari laboratorium hingga implementasi nyata di dunia industri.
Material Komposit sebagai Solusi Struktur Ringan dan Kuat
Prof. Hermawan menekankan bahwa fase penggunaan suatu produk merupakan tahap yang paling banyak mengonsumsi energi dalam siklus hidupnya. Semakin berat suatu kendaraan atau struktur, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya. Oleh karena itu, material dengan rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi menjadi sangat strategis.
Material komposit menempati posisi unggul dibandingkan material konvensional karena memiliki sifat mekanik spesifik yang sangat tinggi. Kombinasi kekuatan, kekakuan, dan bobot ringan menjadikan komposit ideal untuk berbagai aplikasi struktural, mulai dari transportasi, bangunan, hingga infrastruktur modern.
Komposit Polimer Berpenguat Serat
Salah satu jenis komposit yang paling luas penggunaannya adalah komposit polimer berpenguat serat atau fiber reinforced polymer (FRP). Material ini terbentuk dari kombinasi serat yang kuat dan ringan dengan matriks polimer yang relatif mudah diproses, bahkan pada temperatur kamar.
Komposit polimer tidak hanya menawarkan kekuatan dan kekakuan tinggi yang dapat melampaui baja, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap korosi, suatu keunggulan penting dibandingkan logam. Sifat inilah yang mendorong pemanfaatan komposit polimer secara luas pada industri otomotif, kedirgantaraan, infrastruktur, dan konstruksi.
Struktur Berlapis dan Sandwich pada Komposit
Pengembangan lanjutan dari komposit polimer melahirkan komposit berlapis dan komposit sandwich. Komposit berlapis terdiri dari beberapa lapisan serat dengan orientasi berbeda yang disusun secara terencana untuk menghasilkan sifat mekanik optimal dalam berbagai arah pembebanan.
Sifat komposit berlapis ditentukan oleh interaksi pada berbagai skala, mulai dari skala makro, meso, mikro, hingga nano. Pada skala nano, kualitas ikatan antarmuka antara serat dan matriks, termasuk lapisan tipis atau sizing pada permukaan serat, sangat menentukan keandalan material secara keseluruhan.
Komposit sandwich, di sisi lain, mengombinasikan lapisan luar yang tipis, kaku, dan kuat dengan inti yang tebal namun sangat ringan. Struktur ini ideal untuk panel dan komponen yang menerima beban lentur, seperti bodi kendaraan dan konstruksi ringan.
Riset Laboratorium dan Arah Inovasi Komposit
Riset yang dikembangkan mencakup berbagai jenis komposit, mulai dari komposit berlapis, komposit sandwich, biokomposit, hingga kajian degradasi dan kegagalan komposit. Seluruh riset berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana merancang material yang lebih kuat, lebih ringan, dan lebih ramah lingkungan.
Contoh penerapan riset ini antara lain pengembangan bilah turbin angin berbasis komposit berlapis, serta functional integrated structural battery, yaitu struktur komposit yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen struktural, tetapi juga mampu menyimpan energi sebagai baterai. Pendekatan ini membuka peluang efisiensi bobot dan peningkatan kinerja sistem transportasi masa depan.
Biokomposit dan Tantangan Keandalannya
Biokomposit dipandang sebagai solusi material ramah lingkungan karena memanfaatkan serat hayati dan matriks polimer berbasis sumber terbarukan. Riset dilakukan menggunakan berbagai serat alami seperti kayu, bambu, serat nanas, dan serat tanaman lainnya, dikombinasikan dengan matriks polimer berbasis pati.
Meskipun menawarkan keunggulan keberlanjutan, biokomposit menghadapi tantangan berupa variasi sifat mekanik, sensitivitas terhadap kelembaban, serta degradasi ikatan antarmuka serat dan matriks. Oleh karena itu, riset difokuskan pada modifikasi antarmuka dan optimasi proses untuk meningkatkan keandalan biokomposit agar layak diaplikasikan secara luas di industri.
Mekanisme Kerusakan dan Metode Evaluasi Non-Destruktif
Berbeda dengan logam, kegagalan komposit sering kali terjadi pada skala mikro tanpa perubahan visual yang nyata. Kerusakan dapat berupa retak matriks, tercabutnya serat, hingga delaminasi antar lapisan yang menyebabkan penurunan sifat mekanik secara signifikan.
Untuk menjawab tantangan ini, dikembangkan metode pengujian tak merusak berbasis gelombang ultrasonik yang mampu mendeteksi degradasi sifat elastis komposit. Metode ini memungkinkan pemantauan kondisi material dan prediksi umur pakai tanpa merusak komponen.
Dari Riset Dasar Menuju Solusi Industri
Pemahaman fundamental mengenai struktur, sifat, proses, dan performa komposit menjadi dasar penerapan di industri. Implementasi riset dilakukan melalui rekayasa balik produk komposit, analisis kegagalan, evaluasi kelayakan operasi, serta penilaian umur sisa komponen.
Pendekatan remaining life assessment memungkinkan penentuan sisa umur pakai peralatan komposit secara sistematis, sehingga keputusan perbaikan atau penggantian dapat dilakukan secara tepat waktu. Selain itu, hasil riset juga diwujudkan dalam penyusunan pedoman teknis penggunaan, perbaikan, dan inspeksi berbasis risiko untuk komponen komposit di industri.
Sinergi Menuju Masa Depan Material Berkelanjutan
Prof. Hermawan menegaskan bahwa masa depan teknologi komposit tidak dapat dibangun secara terpisah. Diperlukan sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem riset, inovasi, dan produksi yang mandiri serta berdaya saing global.
Riset material komposit polimer yang terintegrasi antara pemahaman fundamental dan kebutuhan industri menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengurangan dampak lingkungan.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Hermawan Yudawisastra menunjukkan bahwa rekayasa material komposit polimer merupakan perjalanan panjang dari riset dasar menuju solusi industri yang nyata. Melalui pemahaman mendalam tentang struktur, sifat, proses, dan mekanisme kerusakan, komposit dapat dirancang menjadi material yang ringan, kuat, multifungsi, dan berkelanjutan.
Pendekatan ini menegaskan peran strategis riset material dalam menjawab tantangan global, sekaligus memperkuat kontribusi ilmu teknik material terhadap pembangunan industri nasional yang ramah lingkungan dan berdaya saing.
Sumber
Yudawisastra, Hermawan.
Rekayasa Material Komposit Polimer dari Riset Fundamental Menuju Solusi Industri yang Berkelanjutan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung.
Inovasi Teknologi
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Keamanan sebagai Tantangan Utama Sistem Tertanam
Perkembangan teknologi digital telah mendorong pemanfaatan sistem tertanam (embedded systems) secara masif di berbagai sektor, mulai dari komunikasi, transportasi, industri, hingga keamanan. Di balik manfaatnya yang besar, sistem tertanam juga membawa tantangan serius terkait keamanan, terutama ketika sistem tersebut digunakan untuk melindungi data sensitif dan infrastruktur kritis.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Arif Sasongko, ST., MT., PhD dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika mengangkat tema hardware–software codesign untuk sistem tertanam berorientasi keamanan. Orasi ini menyoroti pentingnya pendekatan perancangan terpadu antara perangkat keras dan perangkat lunak dalam menjawab kompleksitas ancaman keamanan di era digital.
Industri Semikonduktor dan Ekosistem Global
Prof. Arif membuka orasinya dengan menggambarkan ekosistem industri semikonduktor global yang terbagi menjadi dua domain utama, yaitu desain dan manufaktur. Banyak perusahaan teknologi besar berfokus pada perancangan cip tanpa memiliki fasilitas manufaktur sendiri, sementara proses fabrikasi dilakukan oleh perusahaan manufaktur khusus yang sangat padat modal dan teknologi.
Struktur industri ini menjadikan semikonduktor sebagai komoditas strategis yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan perang dagang global. Tingginya biaya investasi fasilitas manufaktur mendorong pembagian peran yang jelas antara perancang cip, produsen, serta perusahaan pengujian dan perakitan. Kondisi ini menempatkan desain sebagai aspek krusial yang menentukan kualitas, kinerja, dan keamanan produk akhir.
Sistem Tertanam dan Karakteristiknya
Produk semikonduktor dapat diklasifikasikan menjadi komputer tujuan umum dan sistem tertanam. Berbeda dengan komputer tujuan umum yang dirancang untuk fleksibilitas pengguna dalam mengembangkan aplikasi, sistem tertanam memiliki fungsi spesifik dan umumnya tidak dimaksudkan untuk dikonfigurasi ulang oleh pengguna akhir.
Rentang kompleksitas sistem tertanam sangat luas, mulai dari sistem sederhana hingga sistem dengan arsitektur yang sangat kompleks. Sistem ini digunakan di berbagai sektor seperti otomotif, telekomunikasi, perangkat medis, industri, smart home, dan terutama sistem keamanan. Dalam konteks keamanan, sistem tertanam memiliki karakteristik khusus seperti keterbatasan sumber daya, kebutuhan keamanan sejak tahap desain, serta perlindungan terhadap serangan fisik dan logis.
Keamanan sebagai Bagian dari Desain Awal
Prof. Arif menekankan bahwa keamanan pada sistem tertanam tidak dapat ditambahkan sebagai fitur tambahan di tahap akhir. Keamanan harus dirancang sejak awal, mencakup aspek manajemen kunci, perlindungan komunikasi, serta pengelolaan siklus hidup sistem secara menyeluruh.
Sistem keamanan juga dihadapkan pada tuntutan standar dan sertifikasi yang kompleks. Setiap tahap desain harus mempertimbangkan kepatuhan terhadap standar internasional, baik yang berkaitan dengan aplikasi, protokol komunikasi, maupun sistem operasi dan mekanisme perlindungan data.
Pendekatan Hardware–Software Codesign
Untuk sistem yang sederhana, pendekatan konvensional dengan memanfaatkan platform perangkat keras yang tersedia dan mengembangkan perangkat lunak di atasnya masih dapat diterapkan. Namun, untuk sistem tertanam yang kompleks dan berorientasi keamanan tinggi, pendekatan ini tidak lagi memadai.
Pendekatan hardware–software codesign menawarkan solusi dengan merancang perangkat keras dan perangkat lunak secara serempak. Proses ini dimulai dari pendefinisian fungsi pada level abstrak, dilanjutkan dengan partisi fungsi ke dalam perangkat keras atau perangkat lunak berdasarkan parameter kinerja, biaya, fleksibilitas, dan terutama keamanan.
Dalam konteks keamanan, Prof. Arif memperkenalkan konsep security-aware partitioning, yaitu keputusan perancangan yang memprioritaskan keamanan meskipun solusi tersebut mungkin kurang optimal dari sisi efisiensi atau biaya. Setiap tahap perancangan disertai dengan simulasi bertingkat untuk memastikan asumsi desain sesuai dengan perilaku sistem nyata.
Alur Perancangan Sistem Tertanam Aman
Perancangan sistem tertanam berorientasi keamanan diawali dengan penyusunan project charter, penetapan tata kelola keamanan, serta definisi siklus hidup sistem. Spesifikasi yang dihasilkan tidak hanya mencakup fungsi dan kinerja, tetapi juga pemetaan ancaman keamanan yang mungkin muncul sepanjang siklus desain.
Tahap berikutnya melibatkan proses partisi, pemetaan, dan simulasi berlapis, mulai dari pemodelan fungsional hingga simulasi tingkat rangkaian dan hardware-in-the-loop. Pendekatan iteratif ini bertujuan memperoleh rancangan dengan figure of merit yang optimal tanpa mengorbankan aspek keamanan.
Aplikasi pada Paspor Elektronik
Sebagai contoh implementasi, Prof. Arif memaparkan pengembangan cip untuk paspor elektronik. Paspor elektronik merupakan dokumen negara yang memuat data sensitif dan memiliki implikasi keamanan nasional. Oleh karena itu, desain cip harus memenuhi standar internasional yang ketat dan menjamin keamanan data pemilik paspor.
Pengembangan cip dilakukan melalui tahap prototipe pada papan pengembangan, diikuti dengan perancangan sirkuit analog, digital, sistem komunikasi, pemanen energi, serta perangkat lunak. Selain aspek keamanan, pengembangan ini juga diarahkan untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri, sehingga memberikan manfaat ekonomi dan strategis bagi Indonesia.
Enkripsi Suara End-to-End
Contoh kedua yang disampaikan adalah sistem end-to-end speech encryption. Berbeda dengan metode konvensional yang mengenkripsi data digital hasil sampling suara, pendekatan ini mengenkripsi sinyal suara dalam bentuk analog sebelum dikonversi menjadi data digital. Tujuannya adalah mencegah penyadapan pada tingkat perangkat.
Pendekatan ini mempertahankan karakteristik suara manusia melalui enkripsi berbasis silabel, sehingga hasil dekripsi tetap terdengar alami. Implementasi sistem ini dilakukan menggunakan FPGA dan komponen diskrit, dengan hasil pengujian menunjukkan ketahanan terhadap kompresi dan gangguan komunikasi digital.
Fleksibilitas Metode dan Tantangan Ke Depan
Dua contoh aplikasi tersebut menunjukkan bahwa metode hardware–software codesign dapat diterapkan baik pada perancangan cip maupun sistem berbasis FPGA. Metode ini mampu menjawab keterbatasan sumber daya, tuntutan keamanan tinggi, serta kebutuhan sertifikasi yang kompleks.
Ke depan, pendekatan ini dinilai semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem tertanam yang aman di tengah ancaman siber dan ketergantungan global pada teknologi semikonduktor.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Arif Sasongko menegaskan bahwa keamanan sistem tertanam harus menjadi bagian integral dari proses perancangan sejak tahap awal. Pendekatan hardware–software codesign memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk mengelola kompleksitas, keterbatasan sumber daya, dan ancaman keamanan secara simultan.
Melalui contoh aplikasi paspor elektronik dan enkripsi suara end-to-end, orasi ini menunjukkan bahwa perancangan serempak perangkat keras dan perangkat lunak tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga membuka peluang kemandirian teknologi nasional. Pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem tertanam yang aman, andal, dan berkelanjutan di masa depan.
Sumber
Sasongko, Arif.
Hardware–Software Codesign untuk Sistem Tertanam Berorientasi Keamanan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung.
Perkembangan Bisnis
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Kepemimpinan sebagai Konsep yang Terus Berevolusi
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Donald Kristopel Lantu, ST., MBA., PhD mengangkat tema pengembangan kepemimpinan bisnis dengan fokus pada pergeseran paradigma dari individu menuju ekosistem. Orasi ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan konsep yang terus berkembang dan tidak pernah memiliki satu definisi tunggal yang disepakati.
Prof. Donald membuka paparannya dengan refleksi bahwa jika seratus orang ditanya mengenai definisi kepemimpinan, maka akan muncul lebih dari seratus jawaban. Keragaman definisi ini mencerminkan kompleksitas kepemimpinan sebagai fenomena sosial yang dipengaruhi oleh konteks zaman, budaya, serta dinamika organisasi.
Evolusi Teori Kepemimpinan: Dari Great Man hingga Kontinjensi
Perkembangan teori kepemimpinan diawali oleh pendekatan klasik pada awal abad ke-20 yang dikenal dengan teori great man. Pendekatan ini memandang pemimpin sebagai individu istimewa yang terlahir dengan bakat alami dan tidak dapat dibentuk. Pemimpin dipersepsikan sebagai figur heroik dengan kualitas luar biasa yang membedakannya dari manusia pada umumnya.
Namun, pendekatan tersebut tidak menghasilkan temuan yang konklusif. Kritik terhadap teori bawaan melahirkan pendekatan behavioristik yang menekankan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan dikembangkan melalui pelatihan. Semua individu pada prinsipnya memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, pendekatan ini pun menghadapi keterbatasan karena belum sepenuhnya mampu menjelaskan perbedaan efektivitas kepemimpinan dalam situasi yang berbeda.
Keterbatasan tersebut kemudian melahirkan pendekatan kontinjensi yang memasukkan variabel situasional sebagai faktor penting. Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi oleh karakteristik pengikut, struktur tugas, dan distribusi kekuasaan dalam organisasi. Dalam kerangka ini, gaya kepemimpinan dipandang perlu menyesuaikan dengan kondisi bawahan dan konteks organisasi.
Transformasional dan Transaksional: Memasukkan Pengikut dalam Ekuasi
Perkembangan berikutnya ditandai oleh munculnya teori kepemimpinan transformasional dan transaksional. Kepemimpinan transformasional menempatkan pengikut sebagai bagian integral dari proses kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya mengandalkan otoritas formal, tetapi berupaya menginspirasi, mengenali kebutuhan individu bawahan, serta memberdayakan mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Sebaliknya, kepemimpinan transaksional menekankan mekanisme pertukaran melalui sistem penghargaan dan hukuman. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendorong pencapaian kinerja jangka pendek, meskipun memiliki keterbatasan dalam membangun komitmen jangka panjang dan kreativitas organisasi.
Diskursus kepemimpinan dari pendekatan klasik hingga modern menunjukkan kecenderungan memposisikan pemimpin sebagai figur heroik. Ketika organisasi berhasil, pemimpin dipuja; ketika gagal, pemimpin dikritik secara keras. Pola ini menciptakan tekanan besar bagi individu pemimpin dan melanggengkan ilusi bahwa keberhasilan organisasi sepenuhnya ditentukan oleh satu sosok.
Paradigma Baru: Kepemimpinan sebagai Proses Sosial dan Etis
Dalam konteks kontemporer, Prof. Donald menekankan perlunya pergeseran paradigma menuju kepemimpinan sebagai proses sosial. Keberhasilan organisasi dipahami sebagai hasil interaksi antara pemimpin, pengikut, dan konteks, bukan semata-mata kemampuan individu pemimpin. Pendekatan ini menggeser fokus dari glorifikasi individu menuju penguatan sistem dan relasi sosial.
Aspek etika juga menjadi perhatian utama dalam kepemimpinan modern. Berbagai kasus pelanggaran etika oleh pemimpin menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari integritas moral. Dalam konteks Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa toleransi terhadap pelanggaran etika memiliki batas tertentu, terutama ketika menyangkut aspek moral personal yang dianggap fundamental oleh masyarakat.
Perspektif Global dan Lokal dalam Kepemimpinan
Sebagian besar teori kepemimpinan berkembang di konteks Barat, sehingga sering kali kurang sensitif terhadap nilai-nilai lokal. Prof. Donald menekankan pentingnya memasukkan perspektif budaya dalam memahami kepemimpinan. Di Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan lokal seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara memberikan landasan etis dan sosial yang kuat, mulai dari keteladanan di depan hingga pemberdayaan dari belakang.
Penelitian lintas budaya juga menunjukkan bahwa preferensi gaya kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh nilai masyarakat. Budaya kolektivis cenderung menerima kepemimpinan paternalistik, sementara budaya individualis lebih menghargai partisipasi dan egalitarianisme. Oleh karena itu, pendekatan kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat organisasi beroperasi.
Perubahan Lanskap Global: Dari VUCA ke BANI
Perubahan lanskap global turut mengubah tuntutan terhadap kepemimpinan. Dunia yang sebelumnya relatif stabil berubah menjadi lingkungan yang volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Setelah pandemi COVID-19, kondisi ini berkembang menjadi situasi yang rapuh, penuh kecemasan, nonlinier, dan sulit dipahami.
Dalam kondisi ini, pemimpin dituntut memiliki kemampuan adaptif dalam mengelola ketidakpastian dan kerentanan sistemik. Salah satu pembelajaran penting adalah perlunya kolaborasi dan pengelolaan aset secara fleksibel untuk menurunkan risiko biaya tetap yang tinggi. Kepemimpinan tidak lagi berfokus pada penguasaan aset, melainkan pada kemampuan membangun jejaring dan ekosistem yang tangguh.
Ambidextrous Leadership dan Pengembangan Ekosistem
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Donald mengemukakan konsep ambidextrous leadership, yaitu kemampuan organisasi dan pemimpin untuk menjalankan dua fokus sekaligus. Di satu sisi, organisasi perlu mengeksploitasi bisnis yang ada untuk menghasilkan arus kas melalui efisiensi dan transformasi digital. Di sisi lain, organisasi harus mengeksplorasi inovasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
Pendekatan ini menuntut perbedaan struktur, budaya, dan mekanisme pengendalian. Eksploitasi cenderung bersifat mekanistis dan terpusat, sementara eksplorasi menekankan desentralisasi, kolaborasi, dan inovasi radikal. Kepemimpinan berperan sebagai penghubung yang menyeimbangkan kedua orientasi tersebut dalam satu ekosistem organisasi.
Pengembangan Kepemimpinan Berkelanjutan
Pengembangan kepemimpinan dipandang sebagai investasi strategis yang harus dilakukan di seluruh level organisasi. Prof. Donald menegaskan bahwa membangun pemimpin dari dalam organisasi jauh lebih efektif dibandingkan merekrut dari luar. Perkembangan praktik pengembangan kepemimpinan menunjukkan pergeseran dari pelatihan satu kali menuju pendekatan berjenjang, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, praktik pengembangan kepemimpinan melalui corporate university dan platform pembelajaran daring menunjukkan kemajuan signifikan. Integrasi teknologi memungkinkan pengembangan kepemimpinan yang adaptif dan relevan dengan tantangan abad ke-21, dengan fokus pada kapabilitas kolektif dan dinamika ekosistem.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Donald Kristopel Lantu menegaskan bahwa kepemimpinan bisnis modern tidak lagi dapat dipahami sebagai kapasitas individual semata. Kepemimpinan merupakan proses sosial yang hidup dalam ekosistem organisasi dan lingkungan yang lebih luas. Pergeseran paradigma ini menuntut pemimpin yang adaptif, etis, kolaboratif, dan mampu membangun sistem kepemimpinan yang berkelanjutan.
Investasi dalam pengembangan kepemimpinan berbasis ekosistem menjadi fondasi penting bagi daya saing, ketahanan, dan keberlanjutan organisasi di tengah ketidakpastian global. Kepemimpinan pada akhirnya dimaknai sebagai panggilan untuk melayani kemajuan bersama demi kepentingan yang lebih besar.
Sumber
Lantu, Donald Kristopel.
Pengembangan Kepemimpinan Bisnis: Pergeseran Paradigma dari Individu ke Ekosistem.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.
Industri Manufaktur
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026
Pendahuluan: Latar Belakang Akademik dan Pengantar Orasi
Orasi ilmiah ini diawali dengan pembacaan riwayat hidup Prof. Dr. Ir. Anas Mar’ruf, MT oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, ST., M., PhD. Prof. Anas Mar’ruf lahir di Sampang pada 20 Januari 1969 dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Malang, Jawa Timur. Pendidikan sarjana dan magister beliau diselesaikan di Institut Teknologi Bandung, sementara pendidikan doktoral ditempuh di Toyohashi University of Technology, Jepang, pada periode 1996–2000.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Anas Mar’ruf telah membimbing lebih dari seratus mahasiswa sarjana, puluhan mahasiswa magister, serta mahasiswa doktoral. Jabatan fungsional beliau mencapai Guru Besar pada 1 Desember 2024. Selain aktif sebagai dosen di Program Studi Teknik Industri ITB, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Manajemen Rekayasa, asesor BAN-PT dan LAM Teknik, serta Direktur Keuangan ITB sejak tahun 2020.
Perubahan Paradigma Sistem Manufaktur
Dalam orasinya, Prof. Anas Mar’ruf menguraikan bahwa paradigma sistem manufaktur mengalami perubahan signifikan seiring dengan evolusi kebutuhan konsumen. Pada tahap awal, industri manufaktur berfokus pada produksi massal untuk menekan biaya produksi. Namun, seiring perubahan perilaku konsumen, faktor kualitas, variasi, dan keterlibatan konsumen dalam proses desain menjadi semakin penting.
Perubahan ini terlihat jelas pada industri otomotif dan elektronik yang menawarkan variasi produk dalam warna, kapasitas, dan fitur. Konsumen tidak lagi hanya memilih produk yang tersedia, tetapi juga turut berpartisipasi dalam proses perancangan, sebagaimana ditunjukkan oleh praktik customisasi produk yang memungkinkan desain individual dengan waktu pengiriman yang singkat.
Strategi Manufaktur dan Analogi Industri Makanan
Untuk menjelaskan strategi manufaktur, Prof. Anas Mar’ruf menggunakan analogi industri makanan. Produksi massal atau make to stock dianalogikan dengan warung bubur ayam yang hanya menyediakan satu jenis produk tetapi siap disajikan dengan cepat. Strategi assemble to order diibaratkan seperti rumah makan Padang, di mana konsumen memilih kombinasi menu yang tersedia dan disajikan dalam waktu singkat.
Strategi make to order dianalogikan dengan restoran yang baru memproses makanan setelah pesanan diterima, sementara engineer to order digambarkan sebagai proses memasak berdasarkan bahan yang tersedia di rumah. Dari keempat strategi ini, muncul pendekatan baru berupa customisasi massal yang menggabungkan variasi produk dengan volume produksi yang tinggi.
Soft Automation dalam Industri Make to Order dan Engineer to Order
Fokus penelitian Prof. Anas Mar’ruf diarahkan pada industri make to order, engineer to order, dan customisasi massal. Pada industri ini, karakteristik utama adalah variasi produk yang tinggi dengan jumlah pesanan yang relatif sedikit. Tiga pertanyaan utama yang harus dijawab adalah bagaimana produk dibuat, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan berapa biaya yang harus ditawarkan kepada konsumen.
Pada tahap perancangan produk dan proses, tantangan utama adalah ketergantungan pada operator ahli yang menerjemahkan gambar teknik menjadi instruksi pemesinan. Proses ini dinilai tidak efisien karena waktu mesin banyak terbuang. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan aplikasi perangkat lunak CAD/CAM yang memindahkan pengetahuan operator ke dalam basis data sehingga proses desain dapat langsung menghasilkan instruksi mesin secara otomatis.
Implementasi sistem ini terbukti mengurangi waktu setup secara signifikan melalui konsep single minute exchange of die. Hasilnya, kebutuhan akan operator ahli berkurang dan digantikan oleh operator dengan latar belakang pendidikan non-teknik, karena pengetahuan teknis telah terintegrasi dalam perangkat lunak.
Perancangan Lintasan Produksi untuk Customisasi Massal
Penelitian berikutnya berfokus pada perancangan lintasan perakitan dalam konteks customisasi massal. Pada industri perakitan sepeda motor, terdapat ratusan elemen pekerjaan yang sebelumnya dirancang berbasis pengalaman dan trial and error. Melalui pengembangan algoritma perancangan lintasan perakitan dan implementasi dalam aplikasi, jumlah operator dapat direduksi secara signifikan dalam waktu perancangan yang sangat singkat.
Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis algoritma dan komputasi mampu meningkatkan efisiensi produksi secara nyata, meskipun juga memunculkan tantangan sosial berupa resistensi akibat pengurangan tenaga kerja.
Kolaboratif Robot dan Kompleksitas Perancangan Produksi
Perkembangan berikutnya adalah penelitian tentang robot kolaboratif yang mampu bekerja berdampingan dengan manusia. Robot jenis ini mudah diprogram, fleksibel, dan memiliki sistem keselamatan yang memungkinkan berhenti otomatis ketika terjadi kontak dengan operator.
Namun, fleksibilitas ini juga meningkatkan kompleksitas perancangan lintasan produksi, terutama pada industri yang sering melakukan perubahan produk. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan berbagai algoritma heuristik berbasis perhitungan matematis yang diimplementasikan dalam aplikasi perancangan lintasan produksi kolaboratif.
Estimasi Waktu dan Biaya Produksi Berbasis Machine Learning
Dalam menjawab pertanyaan mengenai waktu dan biaya produksi, Prof. Anas Mar’ruf memaparkan pemanfaatan machine learning untuk meningkatkan akurasi estimasi. Pendekatan ini digunakan untuk memperbaiki kelemahan perangkat lunak komersial yang sering menghasilkan kesalahan estimasi signifikan, terutama pada produk dengan geometri kompleks.
Dengan memanfaatkan data historis dan pembelajaran mesin, kesalahan estimasi waktu dapat ditekan secara drastis, sementara estimasi biaya desain dapat diturunkan dari pendekatan berbasis intuisi menjadi pendekatan berbasis data dan kompleksitas desain.
Hard Automation dan Sistem Manufaktur Fleksibel
Bagian kedua orasi difokuskan pada otomasi keras atau hard automation. Tantangan utama pada otomasi ini adalah keberagaman produk yang menyebabkan mesin sering menganggur ketika operator tidak tersedia. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan sistem sel manufaktur fleksibel yang memungkinkan mesin beroperasi selama 24 jam.
Dalam sistem ini, operator hanya bekerja pada jam normal untuk menyiapkan benda kerja, sementara proses produksi selanjutnya dijalankan secara otomatis oleh sistem terintegrasi yang dikendalikan oleh application server. Sistem ini juga mampu melakukan penjadwalan ulang secara otomatis ketika terjadi gangguan seperti kerusakan alat potong.
Integrasi Siber-Fisik dan Internet of Things
Tahap lanjut dari pengembangan ini adalah integrasi sistem siber-fisik melalui pemanfaatan Internet of Things. Sistem ini memungkinkan pemantauan status pesanan, aktivitas operator, dan utilisasi mesin secara real-time melalui perangkat bergerak. Seluruh komponen dikembangkan menggunakan perangkat yang tersedia di dalam negeri dan diintegrasikan dengan sistem perencanaan sumber daya perusahaan.
Implementasi ini tidak hanya meningkatkan transparansi proses produksi, tetapi juga memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam lingkungan manufaktur yang dinamis.
Penutup dan Refleksi Akademik
Pada bagian akhir orasi, Prof. Anas Mar’ruf menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga, pembimbing, kolega, mahasiswa, dan institusi yang telah mendukung perjalanan akademik dan profesional beliau. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Anas Mar’ruf menegaskan bahwa transformasi otomasi sistem produksi merupakan keniscayaan dalam menghadapi kompleksitas dan dinamika industri modern. Integrasi teknologi lunak, keras, dan siber-fisik menjadi kunci untuk mewujudkan sistem manufaktur yang fleksibel, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan konsumen.
Pendekatan berbasis komputasi, algoritma, dan pembelajaran mesin yang dipaparkan dalam orasi ini menunjukkan relevansi strategis bagi pengembangan industri nasional, khususnya dalam mendorong daya saing manufaktur Indonesia di era customisasi massal.
Sumber
Mar’ruf, Anas.
Transformasi Otomasi Sistem Produksi, Integrasi Teknologi Lunak, Keras, dan Cyber Fisik.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung.