1. Pendahuluan
Indonesia sering disebut kaya sumber daya alam. Tapi ada satu ironi yang jarang dibahas dengan jujur: kekayaan itu tidak otomatis membuat kita berdaulat. Kekayaan hanya menjadi kekuatan ketika kita mampu mengolahnya.
Di sinilah orasi ilmiah Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati menempatkan teknologi bioproses sebagai jembatan strategis. Bukan sekadar teknologi pengolahan, melainkan strategi besar untuk membawa Indonesia menuju ekonomi berbasis bioekonomi—ekonomi yang bertumpu pada pemanfaatan sumber daya hayati dan biomassa secara optimal.
Orasi ini dimulai dari definisi yang sederhana namun kuat: teknologi bioproses adalah teknik untuk mengubah bahan baku menjadi berbagai produk atau jasa dengan memanfaatkan agensia biologis, seperti bakteri, ragi, jamur, alga, hingga sel tingkat tinggi, bahkan komponen sel seperti protein.
Yang dihasilkan pun tidak hanya satu jenis. Produk bioproses dapat berupa:
-
produk pangan (contoh seperti coklat, gula, atau bahan berbasis biomassa untuk roti)
-
produk energi
-
produk kesehatan dan farmasi
-
produk kimia secara umum
-
jasa pengolahan limbah
Kalau kita baca dari perspektif mahasiswa dan pekerja, bioproses adalah konsep yang menggabungkan dua kebutuhan besar sekaligus: kebutuhan pangan dan kebutuhan energi. Keduanya adalah sektor yang akan terus ditekan oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan iklim, dan dinamika global.
Yang membuat bioproses terasa semakin relevan adalah keunggulannya dibanding proses kimia konvensional. Dalam orasi ini disebutkan beberapa keunggulan utama:
-
bisa dioperasikan pada temperatur dan tekanan moderat
-
tidak membutuhkan katalis logam
-
berlangsung lebih spesifik
-
relatif mudah diterapkan di berbagai skala
Untuk memperjelas, Prof. Penia memberi ilustrasi yang sangat konkret melalui produksi xylitol, pemanis alternatif.
Xylitol dapat diproduksi melalui fermentasi menggunakan ragi pada temperatur sekitar 30–37°C, sedangkan proses kimia membutuhkan katalis logam berat seperti rutenium, temperatur sekitar 100–140°C, dan tekanan sekitar 5,5 MPa.
Contoh lain yang digunakan adalah produksi aspartam. Dengan proses enzimatik, produk yang dihasilkan lebih spesifik. Sementara proses kimiawi bisa menghasilkan isomer lain yang tidak manis.
Dua contoh ini memperlihatkan ide besar yang ingin ditekankan orasi ini: bioproses bukan hanya “lebih hijau”, tetapi lebih efisien dan lebih presisi.
Lalu Prof. Penia membawa pembahasan ke jantung orasinya: biomassa Indonesia.
Orasi ini tidak berbicara tentang biomassa sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai komoditas nyata yang dekat dengan ekonomi Indonesia: kakao, singkong, dan tandan kosong kelapa sawit. Tiga biomassa ini dipilih bukan hanya karena jumlahnya besar, tetapi karena potensi peningkatan nilainya sangat tinggi, sementara pemanfaatannya masih menyisakan banyak masalah.
2. Kakao: Masalah “Murah” Bukan Karena Produksi Kecil, tapi Karena Prosesnya Tidak Optimal
Kakao adalah pembuka yang menarik, karena masalahnya bukan minim produksi. Indonesia justru disebut sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di dunia, berada di peringkat tiga.
Namun yang membuat posisi ini terasa pahit adalah kenyataan bahwa kakao Indonesia masih dihargai murah. Prof. Penia menyebut salah satu penyebabnya: biji kakao Indonesia banyak yang tidak difermentasi.
Di titik ini, kita melihat bahwa persoalan nilai tambah sering bukan pada “berapa banyak produksi”, tetapi pada “seberapa matang proses pascapanen”.
Fermentasi bukan sekadar tahap tambahan. Dalam orasi ini, fermentasi disebut menentukan kualitas aroma dan rasa biji kakao. Untuk membuktikannya, tim Prof. Penia melakukan pemetaan metabolit dengan memvariasikan proses fermentasi dan pemanggangan.
Hasilnya menunjukkan pemisahan yang jelas: biji kakao yang tidak difermentasi berada dalam satu kelompok yang sama, sementara biji kakao yang difermentasi (dengan variasi proses pemanggangan) terkumpul pada kelompok lain.
Secara analitis, temuan ini memberi dua pesan penting:
-
fermentasi memang mengubah karakter kimia dan profil metabolit kakao secara signifikan
-
kualitas bukan sesuatu yang “muncul belakangan”, tetapi dibangun sejak proses awal
Lalu muncul pertanyaan berikutnya yang lebih praktis: kalau fermentasi penting, kenapa petani jarang melakukannya?
Orasi memberi jawaban yang sangat realistis: fermentasi berlangsung cukup lama. Padahal sebenarnya proses fermentasi kakao cukup sederhana dan bisa dilakukan oleh mikroba indigenus yang hadir secara alami pada biji kakao, termasuk ragi, bakteri asam laktat, dan bakteri asam asetat.
Di sinilah teknologi bioproses masuk sebagai solusi.
Tim Prof. Penia mencoba merekayasa proses dengan menambahkan starter mikroba di awal fermentasi, dengan tujuan mempersingkat waktu fermentasi. Hasilnya positif: penambahan starter dapat mempersingkat waktu fermentasi.
Langkah berikutnya menjadi jelas: jika starter bisa mempercepat, maka tantangan selanjutnya adalah membuat fermentasi mudah dilakukan oleh pelaku lapangan. Karena itu, Prof. Penia menekankan perlunya pengembangan reaktor-reaktor untuk pelaksanaan fermentasi kakao, agar proses fermentasi bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Jika dibaca sebagai strategi industri, ini adalah peta hilirisasi yang cukup logis:
-
identifikasi titik lemah kualitas (fermentasi tidak dilakukan)
-
buktikan dampaknya melalui metabolit profiling
-
percepat proses lewat starter
-
kembangkan reaktor agar bisa diterapkan di lapangan
-
tingkatkan nilai jual kakao nasional
Bagi mahasiswa, bagian kakao ini menunjukkan bahwa bioproses bukan sekadar fermentasi, tetapi manajemen kualitas berbasis sains. Bagi pekerja, terutama di rantai pasok pangan, bagian ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah sering dimulai dari intervensi proses yang terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
3. Singkong: Ketahanan Pangan Tidak Cukup dengan Produksi Tinggi, Kalau Umur Simpannya Pendek dan Prosesnya Tidak Higienis
Setelah membahas kakao, Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati menggeser fokus ke biomassa yang lebih dekat dengan isu pangan nasional: singkong.
Singkong sering dipandang sebagai “pangan alternatif” atau bahan pangan sekunder. Padahal dalam orasi ini, singkong diposisikan sebagai salah satu tanaman pangan dominan di Indonesia, dan bahkan punya produktivitas yang sangat tinggi dibanding tanaman pangan lainnya.
Di tengah jumlah penduduk Indonesia yang besar, singkong punya nilai strategis karena ia dapat menopang ketahanan pangan. Orasi menyebut bahwa pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 274,8 juta jiwa. Jika kebutuhan pangan semakin besar, maka tanaman dengan produktivitas tinggi seperti singkong tidak mungkin dibiarkan hanya menjadi bahan baku tapioka atau gaplek.
Namun masalah singkong bukan di produksinya. Masalahnya adalah “keterbatasan kualitas fungsi” dan “keterbatasan umur simpan”.
Prof. Penia menjelaskan beberapa kelemahan utama singkong:
-
umur simpan yang pendek
-
kandungan sianogenik
-
pemanfaatannya yang terbatas
Masalah sianogenik ini bukan detail kecil, karena berkaitan dengan aspek keamanan pangan. Sementara umur simpan yang pendek membuat singkong sulit diperlakukan sebagai komoditas yang fleksibel dalam rantai pasok. Singkong cepat rusak, sehingga nilainya sering jatuh dan petani tidak punya banyak ruang tawar.
Karena itu, riset Prof. Penia mencoba mengubah bukan sekadar bentuk singkong, tetapi karakteristik tepung singkongnya. Caranya adalah melalui fermentasi.
Fermentasi umbi singkong diklaim mampu:
-
menurunkan kadar sianida
-
menghilangkan aroma khas dan warna khas singkong
-
meningkatkan potensi pemanfaatan tepung yang dihasilkan
Secara proses, alurnya terlihat sederhana: pengupasan kulit, pencucian, pemotongan atau penyerpihan, fermentasi, lalu pengeringan dan penggilingan.
Tetapi yang membuatnya menarik adalah bagian yang sering tidak dibahas dalam narasi inovasi pangan: bagaimana proses fermentasi dilakukan di masyarakat.
Prof. Penia menjelaskan bahwa praktik fermentasi tradisional sering dilakukan dengan cara serpihan singkong diletakkan dalam karung, lalu ditenggelamkan atau diletakkan dalam kolam atau bak terbuka. Sistem seperti ini punya banyak kelemahan:
-
kapasitas produksi rendah
-
efisiensi ruang terbatas
-
waktu proses lama
-
proses tidak terkontrol
-
tidak higienis
Di sinilah teknologi bioproses bekerja bukan sekadar di level mikroba, tetapi di level desain sistem.
Tim Prof. Penia mulai dengan skala laboratorium untuk mengolah 3–5 kg singkong dengan modifikasi aliran untuk meningkatkan kontak antara mikroba dan singkong. Hasilnya, waktu fermentasi dapat dipersingkat menjadi 8 jam.
Namun yang lebih penting adalah langkah berikutnya: bagaimana membuat proses ini layak secara industri dan tetap higienis.
Prof. Penia memaparkan desain fermentor tertutup dengan konsep tray yang dapat bergerak, sehingga seluruh reaktor hanya perlu dibuka di sisi awal dan sisi akhir. Dengan cara ini, proses fermentasi dapat dijalankan lebih higienis.
Inovasi ini kemudian dibangun hingga skala semi-pilot untuk mengolah sekitar 72 kg singkong per hari, lalu ditingkatkan lagi hingga skala 1 ton singkong per hari.
Yang menarik, fasilitas skala 1 ton per hari ini ditempatkan di Lab Pabrik Pendidikan Teknik Pangan di Jatinangor, dan digunakan untuk mendukung perkuliahan evaluasi kinerja pabrik pangan bagi mahasiswa.
Ini memberi pesan penting: riset bioproses yang baik tidak berhenti pada prototipe, tetapi dibawa ke skala yang cukup dekat dengan industri, sekaligus menjadi media belajar bagi generasi berikutnya.
Orasi ini juga menyebut bahwa proses tersebut sudah diterapkan pada skala industri dengan dukungan alumni dan mitra, serta berkembang ke pengembangan produk turunannya seperti roti, mie, dan sereal sarapan.
Dengan kata lain, singkong tidak lagi hanya dipahami sebagai bahan pangan murah. Ia diposisikan sebagai biomassa strategis yang bisa naik kelas lewat bioproses dan rekayasa sistem produksi.
4. Tandan Kosong Sawit: Dari Limbah Raksasa ke Kilang Biomassa Terintegrasi
Jika kakao adalah masalah kualitas dan singkong adalah masalah umur simpan serta higienitas proses, maka tandan kosong kelapa sawit (TKS) adalah masalah skala.
Prof. Penia mengingatkan bahwa Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Namun produksi kelapa sawit bukan hanya menghasilkan minyak sawit, tetapi juga menghasilkan biomassa limbah pabrik sawit dalam jumlah sangat besar, termasuk tandan kosong, cangkang, dan serat.
Orasi memberi ilustrasi angka yang sangat kuat: untuk menghasilkan 1 ton crude palm oil (CPO), juga dihasilkan sekitar 1,1 ton tandan kosong sawit.
Dan pada tahun 2023, disebutkan produksi CPO mencapai 50 juta ton, sehingga kita bisa membayangkan volume TKS yang dihasilkan.
Di titik ini, TKS bukan sekadar “limbah”. Ia adalah bahan baku raksasa yang jika tidak dikelola akan menjadi beban lingkungan, tetapi jika diolah bisa menjadi sumber produk kimia bernilai.
Secara struktur, TKS adalah bahan lignoselulosa: selulosa dikelilingi hemiselulosa dan diikat lignin yang merupakan senyawa poliaromatik.
Untuk mengolah lignoselulosa menjadi produk, orasi memaparkan tahapan umum:
-
perlakuan awal (pretreatment)
-
hidrolisis enzimatik
-
fermentasi
Lalu Prof. Penia menunjukkan portofolio produk yang dapat dihasilkan dengan memanfaatkan tiap fraksi utama TKS:
-
selulosa → hidrolisis, fermentasi, hilir → bioetanol
-
hemiselulosa → hidrolisis, fermentasi, hilir berbasis membran → xylitol (pemanis alternatif)
-
lignin → fermentasi dan proses hilir → vanilin (perisa pangan)
-
sisa kandungan minyak dalam TKS → fermentasi fasa padat dan ekstraksi → karoten (provitamin A)
Sampai di sini, orasinya sudah memberi gambaran lengkap: TKS bisa menjadi sumber bahan bakar, pemanis, aditif pangan, hingga senyawa bernilai tinggi untuk nutrisi.
Namun Prof. Penia tidak berhenti pada daftar produk. Ia justru menunjukkan kelemahan pendekatan yang umum terjadi: proses-proses ini sering dilakukan terpisah.
Misalnya, jika fokus hanya pada selulosa untuk bioetanol, maka komponen lain seperti hemiselulosa atau sisa minyak bisa terbuang. Jika fokus hanya pada produk lain, fraksi lain juga bisa tidak termanfaatkan.
Masalah utamanya adalah: biomassa yang kaya komponen sering diperlakukan sebagai bahan yang hanya diambil satu bagian, sisanya dibuang.
Karena itu, Prof. Penia membawa kita ke konsep yang lebih matang: kilang biomassa terintegrasi.
Kilang biomassa terintegrasi berarti mengintegrasikan berbagai proses pengolahan agar seluruh komponen biomassa termanfaatkan, sehingga tidak ada yang terbuang menjadi sampah.
Dalam upaya tersebut, timnya mengembangkan fraksionasi lignin, xilosa, dan glukosa secara optimal melalui variasi konfigurasi pretreatment dan hidrolisis.
Contohnya, steam explosion digunakan sebagai tahapan awal untuk memperoleh selulosa. Jika diikuti hidrolisis, maka glukosa dan xilosa dapat diambil dalam jumlah besar pada hidrolisat, sementara lignin dapat diambil pada cairan samping (black liquor), dengan gula yang terbuang minimal.
Namun ada trade-off. Ketika steam explosion dikombinasikan dengan fermentasi fasa padat sebelumnya, selain glukosa, xilosa, dan lignin, juga bisa diperoleh karoten bernilai tinggi pada proses awal. Tetapi dalam konfigurasi ini, lignin bisa terbawa glukosa dan xilosa dalam jumlah signifikan sehingga sulit dimanfaatkan, sehingga dibutuhkan optimasi lanjutan.
Bagian ini menunjukkan wajah asli riset bioproses: bukan sekadar “bisa jadi produk A”, tetapi bagaimana mengatur konfigurasi proses agar menghasilkan fraksi dengan kemurnian dan pemanfaatan maksimum.
Dan dari sini pesan besarnya mengeras: jika Indonesia ingin masuk ke bioekonomi, kita tidak cukup punya biomassa. Kita harus punya sistem pengolahan yang terintegrasi, efisien, dan mampu memaksimalkan seluruh fraksi biomassa.
5. Kenapa Bioekonomi Butuh Teknologi Bioproses: Nilai Tambah, Kemandirian Industri, dan Prinsip “Tidak Ada yang Menjadi Sampah”
Kalau kita membaca orasi Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati sebagai satu garis besar strategi, maka teknologi bioproses sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang sangat mendasar bagi Indonesia: bagaimana negara kaya biomassa bisa berhenti menjadi pemasok bahan mentah murah?
Bioekonomi bukan sekadar tren kata. Bioekonomi adalah cara memindahkan pusat nilai dari “ekstraksi” menjadi “transformasi”.
Dan bioproses adalah mesin transformasinya.
Prof. Penia menjelaskan bahwa bioproses memanfaatkan agensia biologis seperti bakteri, ragi, jamur, alga, hingga komponen sel seperti enzim dan protein untuk mengubah bahan baku menjadi produk atau jasa. Keunggulan bioproses bukan hanya pada label ramah lingkungan, tetapi juga pada logika efisiensi: operasi pada temperatur dan tekanan moderat, tanpa katalis logam, spesifik, dan bisa diadaptasi di banyak skala.
Di sisi lain, orasi ini secara tidak langsung memperlihatkan dua masalah utama Indonesia:
-
banyak biomassa belum dimanfaatkan secara optimal
-
jika dimanfaatkan pun sering hanya mengambil satu fraksi dan membuang sisanya
Dari sinilah konsep “tidak ada yang menjadi sampah” menjadi bukan sekadar slogan, tetapi prinsip desain industri.
5.1 Nilai tambah dimulai dari proses, bukan dari branding
Studi kakao adalah contoh paling sederhana.
Indonesia bisa berada di peringkat tiga produsen kakao dunia, tetapi tetap dihargai murah karena biji kakao banyak yang tidak difermentasi. Artinya, kualitas bukan “ditambahkan di akhir”, tetapi dibangun sejak proses awal.
Riset Prof. Penia menunjukkan bahwa fermentasi mengubah profil metabolit kakao dengan jelas, dan penambahan starter dapat mempersingkat waktu fermentasi.
Secara praktis, kalau fermentasi bisa dipercepat, maka hambatan utama di lapangan berkurang. Lalu, ketika reaktor fermentasi dikembangkan agar proses lebih mudah dilakukan, jalur hilirisasi menjadi lebih realistis: petani tidak dipaksa melakukan proses sulit, tetapi diberikan sistem yang memudahkan.
Dan di sinilah nilai tambah tercipta. Bukan karena branding “kakao premium”, tetapi karena prosesnya benar-benar menghasilkan kualitas premium.
5.2 Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi soal stabilitas rantai pasok dan keamanan konsumsi
Studi singkong menunjukkan hal lain: ketahanan pangan tidak cukup dengan produktivitas tinggi jika umur simpan pendek dan pengolahannya tidak higienis.
Fermentasi singkong mampu menurunkan kadar sianida, menghilangkan aroma serta warna khas, dan meningkatkan potensi pemanfaatannya. Tetapi orasi ini juga menunjukkan sisi yang sering luput: metode tradisional yang tidak terkontrol dan tidak higienis membuat proses sulit ditingkatkan ke skala industri.
Inovasi fermentor tertutup berbasis tray yang bergerak memperlihatkan bahwa bioproses bukan hanya soal mikroba, tetapi soal rekayasa proses dan desain alat.
Ketika fermentasi bisa dipersingkat menjadi sekitar 8 jam, lalu ditingkatkan ke skala puluhan kilogram hingga 1 ton per hari, maka singkong berubah status: dari bahan pangan yang cepat rusak menjadi bahan baku industri pangan yang lebih stabil dan fleksibel.
Di sinilah bioekonomi berhubungan langsung dengan ketahanan pangan. Produk turunannya seperti roti, mie, dan sereal sarapan menunjukkan bahwa biomassa lokal bisa naik kelas jika prosesnya dirancang secara industri.
5.3 Bioenergi dan bahan kimia bernilai: sawit bukan hanya minyak, tetapi sistem kilang biomassa
Kasus tandan kosong sawit (TKS) memperlihatkan skala yang lebih besar dan lebih strategis.
Untuk 1 ton CPO, dihasilkan sekitar 1,1 ton TKS. Dengan produksi CPO yang disebut mencapai 50 juta ton pada 2023, volume TKS menjadi sangat besar.
Jika TKS dibiarkan, ia menjadi beban. Jika diolah, ia menjadi aset.
Orasi menjelaskan bahwa TKS sebagai lignoselulosa dapat diolah melalui pretreatment, hidrolisis enzimatik, dan fermentasi.
Yang lebih menarik adalah portofolio produk yang bisa dihasilkan dari fraksi berbeda:
-
bioetanol dari selulosa
-
xylitol dari hemiselulosa
-
vanilin dari lignin
-
karoten dari sisa minyak yang diolah lewat fermentasi fasa padat
Namun Prof. Penia menegaskan kelemahan pendekatan terpisah: kalau proses hanya mengejar satu produk, fraksi lain terbuang. Di sinilah konsep kilang biomassa terintegrasi menjadi penting: mengintegrasikan proses agar seluruh komponen termanfaatkan dan tidak ada yang terbuang menjadi sampah.
Secara analitis, ini adalah bentuk bioekonomi yang matang. Karena ekonomi berbasis biomassa yang hanya memproduksi satu output tetap rentan dan boros. Tetapi sistem terintegrasi menghasilkan multi-produk, lebih tahan terhadap fluktuasi pasar, dan lebih efisien terhadap bahan baku.
Dan di level negara, ini juga menyentuh agenda kemandirian industri: bahan baku lokal diproses di dalam negeri, menghasilkan produk bernilai tinggi, bukan hanya komoditas mentah.
6. Kesimpulan: Biomassa Indonesia Akan Tetap Murah Jika Tidak Diolah, dan Bioproses adalah Jalur Naik Kelasnya
Orasi Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati memperlihatkan bahwa teknologi bioproses adalah fondasi penting untuk membangun bioekonomi Indonesia. Bioproses memanfaatkan agensia biologis untuk mengubah bahan baku menjadi berbagai produk pangan, energi, kesehatan, kimia, hingga jasa pengolahan limbah, dengan keunggulan proses yang lebih moderat dan lebih spesifik dibanding proses kimia konvensional.
Melalui studi kakao, orasi ini menunjukkan bahwa persoalan nilai tambah sering terjadi karena proses yang tidak optimal, seperti biji kakao yang tidak difermentasi sehingga kualitas aroma dan rasa turun dan harga menjadi murah. Fermentasi yang dipercepat dengan starter dan dukungan pengembangan reaktor menjadi jalur nyata untuk memperbaiki kualitas dan meningkatkan nilai jual.
Melalui studi singkong, orasi ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan produktivitas tinggi. Umur simpan singkong yang pendek dan adanya kandungan sianogenik menjadi hambatan, yang dapat diatasi lewat fermentasi terkontrol dan higienis. Inovasi fermentor tertutup berbasis tray serta peningkatan skala produksi hingga 1 ton per hari menunjukkan bahwa bioproses dapat dijembatani menuju implementasi industri.
Melalui studi tandan kosong sawit, orasi ini menunjukkan potensi biomassa dalam skala raksasa. TKS bukan hanya limbah, tetapi sumber lignoselulosa yang dapat diolah menjadi berbagai produk seperti bioetanol, xylitol, vanilin, dan karoten. Namun pendekatan yang terpisah-pisah akan membuang banyak fraksi. Karena itu, kilang biomassa terintegrasi menjadi kunci untuk memastikan semua komponen biomassa termanfaatkan dan tidak ada yang menjadi sampah.
Bagi mahasiswa, orasi ini memberi gambaran bahwa bioteknologi dan rekayasa bioproses bukan disiplin sempit, melainkan bidang strategis yang menghubungkan pangan, energi, industri, dan keberlanjutan. Bagi pekerja, terutama di industri pangan, perkebunan, dan energi, orasi ini menunjukkan bahwa biomassa lokal hanya akan menjadi kekuatan ekonomi jika ada teknologi pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah secara konsisten dan terukur.
Pada akhirnya, biomassa Indonesia akan tetap murah jika tidak diolah. Dan bioproses adalah jalur naik kelasnya.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Made Tri Ari Penia Kresnowati: Teknologi Bioproses untuk Pengolahan Biomassa. 2024.
OECD. The Bioeconomy to 2030: Designing a Policy Agenda. 2009.
International Energy Agency. Bioenergy and biorefineries: technology pathways and outlook. (diakses 2026).
UN FAO. Cassava: value chains, processing, and food security. (diakses 2026).
European Bioplastics. Biorefineries and biomass valorization for sustainable products. (diakses 2026).