Pemulihan Ekonomi Indonesia melalui Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Era Pasca Pandemi

Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani

10 Mei 2024, 12.49

jakartaglobe.id

Jakarta. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta di Indonesia terus dilakukan untuk membantu usaha kecil berkembang dan mendorong pemulihan ekonomi Indonesia dari pandemi, menurut sebuah diskusi virtual baru-baru ini.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. 

Indonesia adalah rumah bagi 64,2 juta UMKM, dengan usaha mikro-kecil mewakili 98,68 persen dari sektor ini, demikian data pemerintah menunjukkan. UMKM menyumbang 61 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. 

Namun, Covid-19 telah memberikan dampak yang cukup berat bagi UMKM. Sebuah survei tahun 2020 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan bahwa 94,69 persen UMKM mengalami penurunan penjualan selama pandemi.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membantu UMKM bangkit kembali. Tahun ini, pemerintah mengalokasikan Rp 744,7 triliun ($51,8 miliar) untuk penanganan Covid-19 dan program pemulihan ekonomi. Dari anggaran tersebut, Rp 162,4 triliun dialokasikan untuk bantuan UMKM dan koperasi, termasuk bantuan modal kerja, menurut Loto Srinaita Ginting, staf ahli di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

BUMN juga memainkan perannya dalam mendukung UMKM melalui sejumlah inisiatif.

"Dengan program Rumah BUMN, kami membantu UMKM untuk menjadi lebih modern, go digital, dan terbiasa bertransaksi secara online. Kami telah mendirikan 236 Rumah BUMN di seluruh provinsi," kata Loto dalam webinar tentang sinergi untuk UMKM pada hari Rabu.

Data menunjukkan bahwa 592.296 UKM telah mendaftar di platform Rumah BUMN. Sekitar 71.525 UMKM telah aktif menggunakan media sosial untuk promosi dan penjualan. Sekitar 15.641 UKM berada di pasar online.

Menurut Loto, BUMN juga membantu UMKM untuk mendapatkan sertifikasi produk mereka.

Inisiatif lain termasuk menyediakan akses pembiayaan bagi UMKM melalui Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara). 
Holding Ultra Mikro (UMi) yang baru saja dibentuk dapat meningkatkan akses pembiayaan kepada perusahaan-perusahaan skala ultra mikro, kata Loto. 

Holding ini terdiri dari tiga BUMN, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM). 
"BRI memiliki sekitar 9.618 outlet, jaringan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan Pegadaian dan PNM. Melalui UMI, kami akan memanfaatkan jaringan BRI yang luas dengan menambah layanan Pegadaian dan PNM di outlet-outlet BRI," ujar Loto.

Ia menambahkan, "BUMN menjadikan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok mereka. [...] Seiring waktu, hal ini dapat menciptakan efisiensi dan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar."

BUMN mendukung UMKM melalui kurasi dan perluasan akses pasar, baik secara offline maupun online. 

PaDi UMKM - pasar online andalan pemerintah - membantu menghubungkan UMKM dengan BUMN sebagai pembelinya. Dalam konferensi tersebut, terungkap bahwa PaDi UMKM telah menghasilkan volume transaksi sebesar Rp 16,2 triliun untuk periode 1 Januari hingga 30 November 2021. 

"[Terkait ekspansi offline,] kami sedang merenovasi gedung Sarinah, yang akan mentransformasi bisnisnya dengan memprioritaskan produk lokal dan UMKM," ujar Loto, sembari menambahkan bahwa gedung tersebut akan dibuka kembali pada bulan Maret mendatang.

Pemerintah juga telah mengalokasikan 30 persen dari area komersial di infrastruktur publik, seperti bandara dan tempat istirahat jalan tol, untuk UMKM. 

Beradaptasi dengan Perubahan

Pandemi Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen. Pelanggan, misalnya, kini tidak lagi melakukan pembayaran tunai untuk menghindari virus, dan ini adalah perubahan yang harus diadaptasi oleh UMKM. Penyedia aplikasi bisnis ritel dan sistem kasir Youtap Indonesia melaporkan pertumbuhan transaksi nontunai di antara para merchant-nya sebesar delapan kali lipat sepanjang Januari-November 2021.

"UMKM dapat menjadi mesin pertumbuhan [ekonomi], tetapi mereka harus beralih ke digital. [Selain transformasi digital, kolaborasi juga sangat penting," ujar CEO Youtap Indonesia Herman Suharto pada konferensi yang sama.

Youtap berupaya membangun ekosistem digital terbesar di Indonesia yang menghubungkan UMKM dengan bank, biller, pedagang perusahaan, dan lain-lain. 

Perusahaan rintisan ini menawarkan solusi digital yang relevan di masa pandemi, termasuk memungkinkan UMKM menerima pembayaran non-tunai melalui QRIS. Youtap juga telah meluncurkan PHP ('Pesan dari Hape' atau 'Order on Mobile') untuk layanan makan di tempat, antar jemput, antar jemput, dan drive-thru. Serta Belanja Stok untuk pengisian ulang stok.
Sejauh ini, Youtap telah memberdayakan lebih dari 200.000 UMKM secara digital di 510 kota di Indonesia, tambah Herman.

Webinar ini merupakan acara kerjasama Majalah Investor dengan Youtap Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Jamkrindo, Pegadaian, dan Astrapay.

Disadur dari: jakartaglobe.id