Pelindo Menangani 17,7 Juta TEUs pada Tahun 2023, Naik 3%

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari

11 Juni 2024, 05.35

Sumber: indoshippinggazette.com

Di tengah perlambatan ekonomi, Pelabuhan Indonesia (PT. Pelindo) masih menikmati peningkatan throughput yang ditangani pelabuhan-pelabuhannya pada tahun lalu (2023), baik volume peti kemas maupun non peti kemas. Operator pelabuhan milik negara ini menikmati pertumbuhan throughput peti kemas sebesar 3% secara tahunan, menjadi 17,7 juta TEUs dan pertumbuhan kargo yang ditangani sebesar 6%, menjadi 170 juta ton.

Memuji kinerja positif tersebut, Direktur Utama PT. Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono mengatakan, “Ini adalah tren positif pasca merger. Sejak tahun 2021, kami terus menjaga peningkatan positif dalam operasional”. Sejalan dengan pertumbuhan throughput yang positif, jumlah kunjungan kapal juga meningkat sebesar 7% menjadi 1,28 miliar GT Sementara itu, jumlah penumpang juga tumbuh lebih tinggi, yaitu sebesar 20%, menjadi 18,1 juta orang.

Arif mengungkapkan bahwa model manajemen yang terpusat menjadi salah satu kunci peningkatan kinerja operasional. Arif menjelaskan bahwa hal ini memungkinkan Pelindo memiliki kendali strategis yang lebih baik, sehingga memudahkan dalam melakukan transformasi layanan operasional secara end-to-end seperti menciptakan standarisasi sistem layanan operasional pelabuhan yang sebelumnya bervariasi antar pelabuhan.

Pelindo juga terus melakukan inovasi dengan meluncurkan berbagai aplikasi untuk memudahkan aktivitas kepelabuhanan. Sebut saja TOS (Terminal Operating System) untuk mendukung layanan peti kemas, PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose) untuk memperkuat layanan non peti kemas, dan Phinnisi untuk sistem operasi layanan kapal.

“Standarisasi operasional secara menyeluruh di seluruh pelabuhan secara nasional dan manajemen yang efektif dari seluruh insan Pelindo telah membawa kami pada posisi ini, sedangkan beberapa langkah strategis di tahun 2023 dengan memanfaatkan teknologi terkini seperti TOS, PTOS-M dan Phinnisi telah mendukung peningkatan efisiensi operasional,” jelas Arif.

Pasca penggabungan, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan adanya peningkatan kegiatan bongkar muat di seluruh pelabuhan Pelindo, yang dibuktikan dengan meningkatnya BSH (box/kapal/jam) dan BCH (box/crane/jam). BSH di Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan bahkan meningkat tiga kali lipat, dari 20 boks menjadi 60 boks per kapal per jam. Pelabuhan lain di Indonesia Timur yaitu Terminal Peti Kemas Ambon, juga meningkat tiga kali lipat, dari 12 boks menjadi 35 boks.

Seperti diberitakan sebelumnya, biaya operasional perusahaan pelayaran yang berbisnis di Pelabuhan Sorong (Terminal Peti Kemas TPK Sorong) turun lebih dari 30%. Semakin pendeknya waktu inap di pelabuhan dan meningkatnya produktivitas yang diindikasikan dengan semakin tingginya BSH (box/kapal/jam), telah membantu kinerja pelayaran untuk tetap bertahan di posisi ini, berkat transformasi operasional dan peningkatan sumber daya manusia yang telah dilakukan oleh operator terminal. “Ada peningkatan operasional yang signifikan dalam setahun terakhir. Proses bongkar muat menjadi lebih cepat, sehingga waktu inap di pelabuhan menjadi lebih singkat. Tentu saja hal ini berdampak pada peningkatan operasional kami,” ujar Faizal Arifin, Kepala Cabang Sorong PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL).

“Sulit untuk menghitung jumlah penghematan dari hal ini, tetapi biaya operasional kami selama berlabuh turun lebih dari 30%,” kata Faisal, mengakui bahwa perusahaan pelayaran juga mendapatkan keuntungan tambahan dari TRV (turn round voyage) yang lebih pendek. Senada dengan hal tersebut, Kepala Cabang PT Tanto Intim Line (Tanto) Sorong Slamet Riyanto mengakui bahwa pelayanan petikemas di Sorong semakin baik, berkat program-program transformasi Pelindo yang mendukung kinerja terminal ini menjadi lebih baik.

Ia juga mengakui bahwa kinerja yang lebih baik ini telah mendorong perusahaan pelayaran untuk menambah layanan. Tanto, shipping line nomor dua di TPK Sorong dengan pangsa pasar 31%, telah menambah call menjadi 5 call per bulan, dari sebelumnya hanya 3 call. Namun, ia berharap Pelindo terus meningkatkan kompetensi, keterampilan, dan etos kerja sumber daya manusia. Seperti halnya shipping line, perusahaan forwarder juga mengakui bahwa transformasi operasi dan digitalisasi telah membantu mempercepat proses pengiriman dokumen dan peti kemas dari terminal, berkat adopsi IBS (Integrated Billing System).

Ernest Montolalu, pemilik  penerusan Serakor Raya yang berbasis di Jayapura (Papua), menjelaskan bahwa IBS telah membantu perusahaan forwarder dalam proses dokumen, sementara operasi berbasis planning control di terminal telah memangkas TRT (truck round time) untuk pengiriman peti kemas dari terminal. “Tidak perlu antri di loket untuk mengurus dokumen, tapi bisa secara online melalui IBS. Proses penagihan juga lebih cepat melalui IBS ini,” jelas Ernest. “Waktu tempuh TRT juga semakin singkat. Sebuah truk hanya menghabiskan waktu kurang dari 15 menit untuk memuat kontainer dari terminal,” katanya.

Strategi nasional pencegahan korupsi (Stranas-PK) sejalan dengan program-program perbaikan yang dilakukan oleh Pelindo yang sejalan dengan program-program untuk mendorong pencegahan tindak pidana korupsi di lingkungan pelabuhan. “Kami menilai Pelindo dengan program digitalisasinya telah membuahkan hasil. Secara sederhana, digitalisasi pelabuhan telah memberikan dampak positif terhadap proses bongkar muat yang saat ini lebih cepat dan lebih efisien,” ujar Pahala Nainggolan, Deputi bidang pencegahan dan Monitoring KPK.

Pada tahun 2024, Pelindo akan melanjutkan program transformasi di lingkungan perusahaan, sekaligus berupaya meningkatkan perannya, tidak hanya sebagai pintu gerbang maritim tetapi juga sebagai traffic stimulator, yaitu mendorong pertumbuhan lalu lintas barang melalui integrasi kawasan industri dengan pelabuhan. “Kami terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun investor, agar dapat membangun kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan yang pada akhirnya akan mendorong efisiensi dari sisi biaya logistik,” pungkas Arif.

Disadur dari: indoshippinggazette.com