Startup
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 11 Februari 2025
Salah satu startup teknologi pendidikan (edutech) karya anak bangsa, MySkill, meraih pendanaan tahap awal dari East Venture. Perusahaan venture capital terkemuka di Asia Tenggara inipun merupakan investor pertama pada unicorn Indonesia, yakni Tokopedia dan Traveloka.
Menurut Co-Founder dan Chief Executive Officer MySkill, Angga Fauzan, dana itu akan mempercepat misinya dalam mendukung para pencari kerja di Indonesia untuk menggapai karir impian mereka. "Kami sangat berterima kasih dan menghargai dukungan pendanaan ini dari East Ventures," ujar Angga di Bandung, Rabu (18/5).
Meski tidak menyebut nilai yang diinvestasikan, menurut Angga, startup rintisannya yang fokus terhadap persiapan karir dan pengembangan skill bagi kaum muda ini akan mengalokasikan pendanaan tersebut untuk mempercepat ekspansi serta mengembangkan produk yang ditawarkan.
Saat ini, kata dia, MySkill mengembangkan metode penggabungan tiga jenis pembelajaran yakni Independen, Interaktif, dan Privat. Tiga solusi pembelajaran utama ini termasuk Mentoring Privat, Bootcamp Interaktif, dan Video E-Learning On-Demand.
Kombinasi dari berbagai solusi ini, kata dia, diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam, di mana secara langsung akan bermanfaat dan mempertajam keterampilan para pengguna dalam mendapatkan pekerjaan impian mereka.
"Kombinasi ini dapat menghadirkan hasil yang lebih baik dari proses pembelajaran. Dengan solusi inovatif yang memastikan hasil pembelajaran yang lebih baik, kami berharap akan menciptakan efek domino dalam menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang lebih baik di Indonesia," paparnya.
Angga menjelaskan, MySkill didirikan pada pertengahan tahun 2021 bersama Erahmat selaku Co-Founder & Chief Business Officer. Keduanya menyadari akan kesenjangan keterampilan yang sangat besar antara dunia akademik dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. "Karena ada kesenjangan itu, berujung pada banyak orang kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak," katanya.
Kondisi inipun, kata dia, tercermin pada studi JP Morgan dan Singapore Management University yang menemukan bahwa salah satu penyebab rendahnya jumlah tenaga kerja berkualitas di Indonesia dikarenakan kesenjangan antara dunia akademik dan industri. "Situasi ini diperparah oleh pandemi yang akibatnya dirasakan oleh lebih dari 29 juta pekerja di Indonesia. Ini menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)," katanya.
Berdasarkan itu, MySkill mendemokratisasi peningkatan keterampilan dan pencarian pekerjaan untuk lebih dari 70 juta tenaga kerja muda di Indonesia. Saat ini, startup edutech ini telah memiliki lebih dari 700.000 pengguna dalam waktu kurang dari satu tahun sejak beroperasi. Principal East Ventures, Devina Halim, memastikan pihaknya sangat antusias dalam menjadikan MySkill sebagai bagian dari portofolionya.
Devina pun meyakini, MySkill akan menjadi solusi yang tepat dalam memastikan kesiapan dunia akademik dan keterampilan penggunanya dalam mendapatkan pekerjaan impian. "Melihat kesenjangan besar yang dihadapi ketenagakerjaan Indonesia saat ini, kami percaya MySkill dapat membawa lebih banyak pertumbuhan serta dampak ke industri tenaga kerja di Indonesia," katanya. Untuk diketahui, MySkill berbasis di Indonesia yang didirikan oleh Angga dan Erahmat, kawan semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka berdua telah berkecimpung di dunia pendidikan dan bisnis selama lebih dari enam tahun.
Angga mulai membangun organisasi komunitas pendidikannya di ITB dan mendapatkan nominasi Edinburgh Student Awards saat menempuh magister di Britania Raya. Angga juga telah bekerja sebagai profesional di bidang marketing selama lebih dari 6 tahun di berbagai startup seperti Zenius dan Bibit. Sedangkan Erahmat saat ini sedang menyelesaikan studi PhD-nya di Korea Selatan, sesaat usai menyelesaikan S1 di ITB.
Sumber: republika.co.id
Startup
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 11 Februari 2025
PT Greatedu Global Mahardika (Greatedu) kembali menambah portofolio sebagai salah satu perusahaan yang concern di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) ramah teknologi. Kali ini, platform pendidikan digital tersebut berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Greatedu berkolaborasi dengan Kemendikbud untuk menyelenggarakan kampus merdeka, kerja sama ini juga merupakan salah satu target perusahaan pada 2022,” ujar Chief Executive Officer (CEO) PT Greatedu Global Mahardika (Greatedu) Ade Irma Setya Negara dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (27/7/2022).
Menurut Irma, dalam kolaborasi tersebut Greatedu sudah men-submit dua aktivitas, yaitu data analyst dan UI/UX. Dia mengatakan, Studi Independen Bersertifikat adalah bagian dari program Kampus Merdeka yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas, namun tetap diakui sebagai bagian dari perkuliahan.
Program ini diperuntukan bagi mahasiswa yang ingin membekali diri dalam dunia industri dengan menguasasi kompetensi yang sesuai. Dalam hal ini yang dipelajari mencakup, pertama, mempelajari kompetensi yang spesifik, praktis, dan dibutuhkan pada masa mendatang. Kedua, berinteraksi dengan para pakar untuk memahami penerapannya. Ketiga, mempraktekkan kompetensi tersebut dalam sebuah proyek riil.
"Para mahasiswa yang mengikuti juga akan mendapatkan pembelajaran yang relevan yakni ilmu praktis dan sertifikasi sesuai dengan kebutuhan industri. Mengubah aspirasi jadi aksi yakni kesempatan untuk masuk ke jalur karir yang diinginkan," jelas Irma. Selain itu, tutur Irma, mahasiswa juga bisa berkreativitas tanpa batas dengan adanya pengalaman mengimplementasikan ilmu yang sesuai standar industri.
"Membangun dan memperluas koneksi yakni berjejaring dengan pihak-pihak yang relevan dengan karir pilihan. Jadi harapannya peserta Studi Independen Bersertifikat dapat mengikuti dengan maksimal, karena aktivitas ini akan dikonversi dengan 20 SKS di bangku kuliah,"ujar dia.
"Apalagi saat ini link and match antara dunia pendidikan dan industri masih jadi tantangan besar bagi para penggerak pendidikan. Mahasiswa yang sudah terbiasa dengan dunia industri tentunya akan lebih berpeluang dalam dunia kerja," ujar Irma. Dia menambahkan, pelaksanaan kolaborasi dengan Kemendikbud berlangsung selama lima bulan.
Sumber: tribunnews.com