Denda dalam Sistem Daur Ulang Mid-Devon: Efek Pemicu Jangka Pendek, Dinamika Penurunan Kinerja, dan Tantangan Keberlanjutan Kebijakan

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat

04 Januari 2026, 18.16

1. Pendahuluan

Bagian diskusi dalam studi Mid-Devon menawarkan pembacaan reflektif terhadap dinamika kebijakan denda daur ulang setelah periode implementasi awal. Di sini, peningkatan tingkat daur ulang pada fase awal diposisikan sebagai indikator keberhasilan jangka pendek, tetapi segera dikaitkan dengan pertanyaan yang lebih kritis: mengapa tren tersebut kemudian mengalami perlambatan, bahkan sedikit penurunan pada tahun-tahun tertentu, dan sejauh mana fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori perverse incentives.

Pendekatan diskusi ini tidak berhenti pada evaluasi angka, tetapi berupaya menghubungkan performa sistem dengan konteks kebijakan sejenis — mulai dari pajak landfill, plastic bag charge, hingga skema insentif berbasis penghargaan. Dengan cara tersebut, studi menganalisis posisi denda bukan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari keluarga instrumen ekonomi yang memiliki pola dampak relatif serupa: mendorong perubahan perilaku secara cepat di fase awal, kemudian menghadapi tantangan stabilitas jangka menengah.

Kerangka ini penting karena memperluas pemahaman tentang denda. Alih-alih dipahami sebagai alat yang secara otomatis akan mempertahankan kinerja sistem, denda diposisikan sebagai pemicu awal yang efektivitasnya sangat bergantung pada desain lanjutan, dukungan kebijakan pelengkap, serta dinamika sosial yang mengiringi praktik pemilahan di tingkat rumah tangga.

 

2. Kenaikan dan Penurunan Tingkat Daur Ulang: Membaca Pola Efek Kebijakan dalam Tahap Jangka Pendek–Menengah

Bagian diskusi menunjukkan bahwa tren kinerja Mid-Devon mengikuti pola dua fase: kenaikan yang relatif tajam setelah denda diperkenalkan, kemudian penurunan moderat pada periode berikutnya. Pola ini dianalisis melalui beberapa dimensi.

a. Fase awal: peningkatan tajam sebagai indikasi keberhasilan pemicu eksternal

Setelah denda diperkenalkan, tingkat daur ulang meningkat lebih cepat dibandingkan tren sebelumnya. Studi membacanya sebagai bukti bahwa disinsentif ekonomi mampu mendorong warga meningkatkan perhatian pada pemilahan. Pola ini sejalan dengan temuan pada kebijakan sejenis seperti plastic bag charges dan pajak landfill, di mana instrumen ekonomi memicu perubahan perilaku secara cepat pada tahap awal. Dengan demikian, denda terbukti efektif sebagai shock policy yang memberi dorongan awal terhadap disiplin pemilahan.

b. Fase berikutnya: penurunan pasca-stabilisasi sebagai tanda melemahnya efek disinsentif

Pada periode 2016–2018, tingkat daur ulang mengalami penurunan setelah fase peningkatan. Diskusi membandingkan fenomena ini dengan kebijakan ekonomi lain yang memerlukan peningkatan tarif agar efek perilaku tetap terjaga. Ketika denda tidak lagi dipersepsikan cukup “kuat”, perilaku warga cenderung bergerak menuju titik keseimbangan baru yang kurang disiplin. Di titik ini, denda mulai diperlakukan sebagai “harga”, bukan sebagai larangan normatif — sebuah risiko yang telah banyak dicatat dalam literatur instrumen ekonomi.

c. Peran variabel eksternal: peningkatan kesadaran publik dan eksposur media

Studi juga menyoroti bahwa tren kenaikan daur ulang tidak hanya dipengaruhi denda. Analisis media di tingkat nasional dan lokal menunjukkan peningkatan intensitas pemberitaan isu sampah dan polusi plastik. Paparan informasi ini berpotensi meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan, yang turut mendorong perubahan perilaku. Namun, karena kenaikan Mid-Devon tetap lebih tinggi dibandingkan tren nasional, kesadaran publik dipandang sebagai faktor pendukung — bukan penjelasan utama.

Melalui pembacaan tersebut, bagian ini menegaskan bahwa dinamika naik-turun kinerja daur ulang tidak dapat dijelaskan oleh denda secara tunggal. Efek kebijakan bersifat bertahap, kontekstual, dan berinteraksi dengan berbagai faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan pelengkap.

 

3. Membaca Tren Penurunan melalui Kerangka Perverse Incentives dan Dinamika Kepatuhan

Penurunan tingkat daur ulang pada fase pasca-stabilisasi tidak dibaca sebagai kegagalan total kebijakan, tetapi sebagai tanda bahwa efek disinsentif memiliki batas operasional. Di titik inilah teori perverse incentives menjadi relevan untuk menjelaskan bagaimana sebagian warga merespons kebijakan dengan cara-cara yang tidak selalu sejalan dengan tujuan sistem.

a. Denda berubah dari instrumen korektif menjadi “biaya sosial” yang dinegosiasikan warga

Pada fase awal, denda dipersepsikan sebagai larangan yang kuat. Namun seiring waktu, sebagian warga mulai memaknai denda sebagai risiko yang dapat dinegosiasikan: mereka menimbang antara usaha tambahan untuk memilah dan kemungkinan terkena penalti. Pergeseran makna ini menjelaskan mengapa disiplin perilaku melemah tanpa adanya penguatan kebijakan pendukung.

b. Adaptasi perilaku menghasilkan kepatuhan defensif, bukan kepatuhan reflektif

Sebagian rumah tangga berfokus pada strategi menghindari kesalahan teknis atau inspeksi, bukan memperdalam pemahaman terhadap logika pemilahan. Dalam kerangka perverse incentives, hal ini menciptakan kepatuhan permukaan yang bergantung pada tekanan eksternal, sehingga tidak stabil ketika konteks pengawasan berubah.

c. Sistem kehilangan ruang pembelajaran karena indikator keberhasilan terlalu bertumpu pada angka

Ketika evaluasi kebijakan hanya menyoroti kenaikan atau penurunan persentase daur ulang, dinamika sosial yang terjadi di balik angka menjadi kurang terbaca. Studi menekankan bahwa tanda-tanda kelelahan kepatuhan, kebingungan aturan, atau penurunan motivasi seharusnya dibaca sebagai sinyal desain kebijakan — bukan semata variasi statistik.

Dari sudut pandang ini, penurunan pasca-stabilisasi justru membuka ruang refleksi: kebijakan perlu bergerak dari logika hukuman menuju logika pendampingan, edukasi, dan penguatan kapasitas sistem.

 

4. Implikasi Kebijakan dan Kesimpulan: Dari Efek Pemicu Menuju Desain Kebijakan yang Berkelanjutan

Bagian kesimpulan menegaskan bahwa denda terbukti memiliki efek pemicu jangka pendek terhadap peningkatan tingkat daur ulang, tetapi keberlanjutan dampaknya sangat bergantung pada integrasi dengan instrumen non-sanksi dan peningkatan kualitas layanan publik.

a. Denda efektif sebagai katalis awal, tetapi tidak memadai sebagai motor utama perubahan jangka panjang

Efek kebijakan kuat pada fase pertama, lalu melemah ketika warga telah menyesuaikan diri dengan aturan. Kondisi ini menunjukkan bahwa denda harus diposisikan sebagai instrumen transisi — mendorong perubahan awal sambil menyiapkan fondasi perilaku yang lebih berbasis pemahaman.

b. Penguatan kebijakan perlu difokuskan pada edukasi, komunikasi yang jelas, dan peningkatan fasilitas

Studi menegaskan bahwa keberlanjutan kinerja lebih mungkin tercapai ketika warga merasa dimampukan untuk patuh, bukan hanya ditekan untuk patuh. Kombinasi dukungan layanan, kejelasan prosedur, dan ruang umpan balik publik menjadi elemen kunci.

c. Evaluasi kebijakan harus menggabungkan indikator kinerja sistem dengan pengalaman sosial warga

Hasil Mid-Devon menunjukkan bahwa angka keberhasilan hanya bermakna jika selaras dengan kualitas pengalaman kebijakan. Dengan membaca data dan pengalaman secara bersamaan, pembuat kebijakan dapat merancang intervensi yang lebih sensitif, inklusif, dan responsif.

Secara keseluruhan, studi ini menempatkan denda sebagai instrumen yang berdampak namun bersyarat. Ia mampu mempercepat perubahan awal, tetapi keberhasilan jangka panjang menuntut integrasi dengan pendekatan edukatif, kolaboratif, dan berbasis dukungan struktural — selaras dengan tujuan circular economy.

 

Daftar Pustaka
Bulkeley, H., Gregson, N., & Rees, G. (2013). Fines in Recycling as an Economic Policy: Public Perceptions and Social Implications in the UK Waste System.

DEFRA. (2019). Resources and Waste Strategy for England.

Ellen MacArthur Foundation. (2021). Universal Circular Economy Policy Goals.

OECD. (2017). Policy Instruments for the Circular Economy: Incentives and Systemic Effects.