Usaha Besi dan Baja Wuhan Jajaki Peluang Investasi yang Menjanjikan

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

07 Maret 2024, 08.15

JAKARTA, KOMPAS - Grup Bisnis Baja Wuhan (Wisco) tengah menjajaki peluang investasi di sektor baja Indonesia. Hal ini atas perintah pemerintah Tiongkok untuk melaksanakan perjanjian antara Presiden Tiongkok dan Presiden India yang ditandatangani pada Oktober 2013.

"Wuhan tertarik pada investasi. komponen senilai lebih dari 5 miliar dolar. pelabuhan dan laut dalam .” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Rabu (19/3). Hal itu dilakukan Hidayat usai menerima kunjungan pimpinan Asosiasi Pengusaha Wuhan dan delegasi Kementerian Perindustrian. Kami meluncurkan .

Menurut Hidayat, masuknya investasi di sektor baja akan menguntungkan Tiongkok karena akan menghasilkan produk substitusi impor. Saya tawarkan di Jawa Timur sebab, kalau membutuhkan infrastruktur lengkap, di luar Jawa belum ada," tutur Hidayat.

Terkecuali, kata Hidayat, kalau investor mau membangun infrastruktur sendiri, seperti yang dilakukan PT Sulawesi Mining Investment (SMI). SMI membangun instalasi pemurnian dan pengolahan feronikel di Morowali, Sulawesi Selatan.

Perusahaan tersebut membuat sendiri pembangkit listrik, pelabuhan laut, dan pelabuhan udara. "Kami mengapresiasi adanya perusahaan yang serius mau membangun smelter (instalasi pemurnian dan pengolahan) di negeri ini," kata Hidayat.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama PT SMI Alexander Barus, di Jakarta, Selasa (18/3), menuturkan, pembangunan instalasi pengolahan feronikel ini merupakan antisipasi sejak awal terkait larangan ekspor bijih nikel.

"Ini karena, pada intinya, UU No 4/2009 telah berlaku sehingga ekspor bijih nikel sudah dilarang. Kami dari awal mengantisipasi dengan membangun instalasi pengolahan feronikel," papar Alexander.

Pada saat bersamaan, mereka juga mengembangkan kawasan industri seluas 1.200 hektar. "Kami harapkan nantinya industriindustri hilir pengolahan nikel dan baja tahan karat akan masuk ke sana," ujar Alexander.

Menurut Alexander, sebelum industri hilir baja tahan karat itu terbangun di Morowali, untuk sementara produk feronikel akan dijual ke China.

”Nantinya industri aluminium yang terbangun di Morowali akan menggunakan feronikel dari Morowali dan ferrochrome dari Zimbabwe,” kata Alexander.

Hidayat mengatakan, Indonesia sudah puluhan tahun mengekspor bahan mentah berupa nikel. Di sisi lain, industri pengolahan tidak berkembang di Indonesia.

Menurut undang-undang mineral baru, yang mulai berlaku pada tahun 2009, perusahaan harus membangun fasilitas pengolahan dalam waktu lima tahun.

Lima tahun kemudian, pemerintah memutuskan. : . Hentikan ekspor bahan mentah. Sesuai UU Minerba, nikel sama sekali tidak boleh diimpor.

Soal larangan impor nikel, Jepang disebut-sebut akan kesulitan karena 44% impor nikel hingga saat ini berasal dari Indonesia. Produksi juga turun karena pasokan nikel di Jepang tidak bisa digantikan oleh pembeli nikel dari negara lain.

Hidayat mengatakan ini saatnya kerja sama karena kedua pihak membutuhkan dua hal. Indonesia yang memiliki nikel sudah melarang ekspor bahan mentah tersebut, namun membutuhkan teknologi dan investasi. Hidayat mengatakan kewajiban membangun pabrik pengolahan di Indonesia merupakan persyaratan hukum. (Kas).

Disadur dari : https://kemenperin.go.id/artikel/8832/Usaha-Besi-dan-Baja-Wuhan-Jajaki Investasi