Tragedi Penerbangan NBA 823: Kecelakaan Mematikan di Udara Indonesia

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

27 Maret 2024, 09.57

Sumber: id.wikipedia.org

Nusantara Buana Air Penerbangan 823 adalah penerbangan domestik Aviocar CASA C-212 tidak terjadwal dari Medan ke Kutakane, Indonesia, ketika jatuh di hutan pada tanggal 29 September 2011, menewaskan semua penumpang. 18 orang di dalamnya.
\ nInvestigasi Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Indonesia, pesawat tersebut terbang di awan pada saat kecelakaan dan kehilangan jarak pandang ke negara tersebut. Insiden tersebut diklasifikasikan sebagai Otoritas Penerbangan Sipil (CFIT).

Riwayat penerbangan

Penerbangan ini dioperasikan oleh Nusantara Buana Air (NBA) sebagai penerbangan penumpang tidak berjadwal dari Bandara Internasional Polandia, Penerbangan Nusantara Buana Air . Dari Medan menuju Bandara Alas Leuser di Kutakane. Penerbangan berangkat dari Medan pada pukul 07:28 WIB (00:28 UTC) dan diperkirakan tiba di Kutakane pada pukul 00:58 UTC. Ada 16 penumpang di pesawat, dua pilot, dua anak-anak, dan dua anak-anak. Penerbangan dilakukan berdasarkan aturan penerbangan visual (VFR).

Pada pukul 00:32 UTC, pesawat menghubungi direktur darat dan melaporkan bahwa pesawat tersebut mendaki ke ketinggian 4.000 hingga 8.000 kaki dan siap setibanya di Kutacane. Izin juga diminta untuk berlayar langsung ke sinyal "PAPA" pada 00:50 UTC. Sekitar pukul 00:41 UTC, pesawat melaporkan kontak berhasil dengan Radio Kutacane. Komunikasi dengan CEO Medan pun berakhir. Pilot mencoba tiga kali untuk menghubungi stasiun radio Kutakane tetapi tidak ada tanggapan.

Sekitar pukul 00.50 UTC, pesawat terakhir terlihat di layar radar sekitar 35 nm dari VOR MDN. Pada pukul 01:00 UTC, otoritas bandara Kutacane menghubungi pejabat NBA di Kutacane dan menanyakan lokasi pesawat. Staf NBA di Kutacane menghubungi kantor NBA di Medan dan menginformasikan bahwa penerbangan belum tiba di Kutacane. Pesawat tidak menerima sinyal bahaya.

Sekitar pukul 0120 UTC, karavan Cessna yang dioperasikan Susi Air terbang dari Kutacane menuju Medan dan melaporkan cuaca dalam kondisi cuaca ekstrim (VMC) dan gas. Awan terlihat di beberapa puncak gunung. Sekitar pukul 01:50 UTC, pihak berwenang di Bandara Medan menerima panggilan darurat dari Departemen Pencarian dan Pertolongan Jakarta.

Pada pukul 07:00 UTC, dua pesawat Susi Air Cessna memulai pencarian. Mereka menemukan bangkai pesawat dalam posisi turun 70° di ketinggian 5.055 kaki di Taman Nasional Gunung Leuser, 16 kilometer dari Kutacane. Pesawat tersebut rusak parah akibat benturan tersebut, dan tidak ada satupun dari 18 penumpangnya yang selamat. Pesawat tersebut merupakan Aviocar CASA C-212-200 milik Nusantara Buana Air. Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 1989, nomor ekor PK-TLF dan C/N/msn 283/88N. Tidak ada catatan adanya masalah mekanis atau kerusakan pada pesawat pada saat kecelakaan terjadi.

Penumpang dan awak

Pesawat tersebut memiliki 18 orang di dalamnya, 2 pilot dan 16 penumpang, 2 anak-anak dan 2 bayi. . Kapten memiliki pengalaman penerbangan 5.935 jam dan pengalaman penerbangan CASA C-212 3.730 jam. Seorang co-pilot memiliki pengalaman terbang 2.500 jam dan pengalaman terbang 1.100 jam di pesawat jenis ini. Mantan pilot TNI AU.

Disadur dari Artikel : id.wikipedia.com