Tragedi Penerbangan MNA5601: Kecelakaan Mematikan yang Mengguncang Indonesia pada Tahun 1992

Dipublikasikan oleh Admin

12 April 2024, 17.34

Sumber: id.wikipedia.org

Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 5601 (MNA5601/MZ5601) adalah penerbangan domestik berjadwal yang berangkat dari Bandara Internasional Akhmad Yani, Semarang, Jawa Tengah ke Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Pada tanggal 18 Oktober 1992, pesawat CASA/IPTN berusia dua tahun CN-235-10 jatuh di sisi Gunung Puntang dekat Gunung Papandayan, Jawa Barat, Indonesia pada pukul 13.30 saat mendarat di Bandung. cuaca buruk Pesawat meledak akibat benturan, menewaskan seluruh 27 penumpang dan empat awak.

Penerbangan 5601 merupakan kecelakaan penerbangan sipil terburuk yang melibatkan CASA/IPTN CN -235, menjadikannya kecelakaan paling mematikan dalam sejarah perusahaan dan paling mematikan dalam sejarah. Ini adalah bencana udara paling mematikan kedua di Indonesia sejak tahun 1992, ketika sebuah pesawat jatuh di sebuah gunung di Indonesia timur, menewaskan 70 orang. Ini juga merupakan kecelakaan udara paling mematikan yang melibatkan pesawat Indonesia. Pada saat kecelakaan terjadi, ini merupakan kecelakaan penerbangan paling mematikan di Jawa Barat, dan kemudian dilampaui pada tahun 2012 ketika sebuah Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak, menewaskan 50 orang.

Insiden tersebut menimbulkan kontroversi besar dan gangguan kepercayaan pada semua maskapai penerbangan yang menggunakan pesawat buatan Indonesia. Pasalnya, pesawat tersebut dibuat dan dirancang oleh mantan Presiden Indonesia Bachharudin Jusuf Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Habibie membantah kecelakaan itu disebabkan oleh kesalahan desain. Penyidik ​​Komite Nasional Keselamatan Transportasi memastikan bahwa penyebab kecelakaan itu bukan karena cacat desain melainkan kesalahan pilot akibat cuaca buruk.

Penerbangan tersebut dioperasikan selama 29 tahun. Seorang wanita tua bernama Fierda Basaria Panggabean. Pesawat berada 3.800 m (12.500 kaki) di atas permukaan laut ketika Fierda meminta untuk mengurangi ketinggian. Cuaca di Bandung saat itu kurang bagus, disertai hujan ringan dan sedikit kilat. Namun, Fierda memutuskan untuk mendekati bandara. Namun, tanpa kontak dengan menara kendali, pesawat tersebut menghilang dari radar.

Pesawat yang rusak itu ditemukan di Gunung Puntang. Jenazah Pierda ditemukan menempel di kemudi pesawat, sebagai upaya terakhir menghindari kecelakaan, dalam proses penyembuhan. Jenazah korban ditemukan terbakar dan berserakan di kawasan tersebut. Operasi penyelamatan dilakukan Badan SAR Nasional dengan dukungan warga dan pihak militer. Karena medan yang buruk, proses evakuasi memakan waktu 3 jam. Pasca kejadian, jenazah almarhum dilarikan ke RSUD Kabupaten Garut untuk dilakukan otopsi dan persiapan pemindahan ke rumah duka. Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas, dan Walikota Garut, Momon Gandasasmita mengelola evakuasi dan pertolongan para korban.

Disadur dari: id.wikipedia.com