Tragedi Kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak: Mengungkap Kronologi dan Dampaknya

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

27 Maret 2024, 10.30

Sumber: id.wikipedia.org

Kecelakaan Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) terjadi pada 9 Mei 2012, ketika pesawat Sukhoi Superjet 100 hilang saat penerbangan demonstrasi berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Indonesia. Pada 10 Mei 2012, puing-puing Sukhoi Superjet ditemukan di lereng Gunung Salak, gunung berapi di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Karena luasnya puing-puing di gunung tersebut, tim penyelamat memutuskan bahwa pesawat tersebut jatuh langsung ke lereng gunung berbatu dan bukan "tidak dapat diatasi".

Pesawat yang jatuh tersebut adalah SSJ-100, nomor registrasi. RA-97004, msn 95004. Pesawat ini dibuat pada tahun 2009 dan memiliki lebih dari 800 jam terbang pada saat menghilang. Superjet 100 adalah pesawat pertama yang diproduksi di Rusia setelah kecelakaan tersebut. Uni Soviet.

Tur Pameran

Pesawat tersebut ditembak jatuh pada tur pameran bertajuk "Welcome Asia!" di Asia Tengah dan Selatan setelah mengunjungi Kazakhstan, Pakistan dan Myanmar. Rencananya juga akan dilanjutkan dengan Laos. Vietnam Pada saat krisis ini, Sukhoi menerima 42 pesanan dari Indonesia, dengan total 170 pesawat, dengan rencana mencapai 1.000.

Kedatangan pesawat tersebut merupakan unjuk rasa untuk memperkenalkan pesawat baru. produk ke Indonesia. Seorang pengungsi Indonesia. PT Tri Marga Rekatama adalah agen atau perwakilan Perusahaan Sukhoi di Indonesia. Dalam program promosi udara, rombongan membagikan 100 orang untuk mengikuti fun flight di Bandara Halim Perdanakusuma.

Mengundang pengusaha Indonesia, jurnalis, dan kelompok terlibat lainnya. ke bagian pesawat, itu saja. Happy flight dibagi menjadi beberapa grup dan Bandara Halim Perdanakusumah – Queen Harbour-Bandara Halim Perdanakusuma. Pengiriman pertama berjalan dengan baik dan aman. Setelah sekitar [30-35 menit] penerbangan, pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Pada giliran kedua pesawat lepas landas, Superjet 100 kedua diisi [50] orang. kendaraan [42] semua pengunjung adalah turis, [8] pelaut, beberapa warga negara Rusia. Pada penerbangan kedua inilah masalah terjadi.

Pukul [14:00 WIB] (07:00 UTC) SSJ-100 lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan demonstrasi regional dan dijadwalkan mendarat dari bandara baru. Awal pertama Penerbangan tersebut merupakan pertunjukan kedua hari itu. Di dalamnya ada 6 awak, 2 awak Sukhoi dan 37 penumpang. Di antara penumpang tersebut terdapat perwakilan Aviastar Mandiri, Batavia Air, Pelita Air Service, dan Sriwijaya Air. [15:30] (08:30 UTC), pilot Alexander Yablonstev, yang kemudian dianggap sebagai orang pertama yang menerbangkan pesawat di Indonesia, mengubah ketinggian dari [10.000 kaki] (3.000 m) menjadi [6.000 kaki] (1.800 m). ). Pengendalian pesawat telah dibersihkan dan ini merupakan kontak terakhir dengan pesawat yang saat itu berada sekitar [75 nautical mile] (139 km) selatan Jakarta dekat Gunung Salak [14.33 WIB] Petugas bandara tidak dapat berbicara. Air Force One.

Pencarian darat dan udara untuk pesawat tersebut dimulai, namun dibatalkan karena matahari telah terbenam. Pada tanggal 10 Mei [09:00 WIB] (02:00 UTC), sebuah Sukhoi Superjet [1.500 meter] jatuh di Gunung Haraka (6°42′35″S 106°44′03″T). Yang diketahui, pesawat tersebut terbang menuju Jakarta sebelum jatuh di Gunung Salak. Laporan awal menunjukkan bahwa pesawat tersebut menabrak tepi tebing pada ketinggian [6.250 kaki] (1.900 meter), terguling menuruni bukit dan berhenti di ketinggian [5.300 meter] (1.600 meter). Meski pesawat tampak tetap berada di udara, namun rusak parah dan tidak ada tanda-tanda korban selamat. Pesawat dan tim penyelamat tidak dapat mencapai lokasi kecelakaan pada malam 10 Mei. Beberapa tim penyelamat mencoba mengakses jenazah dengan berjalan kaki.

Disadur dari Artikel : id.wikipedia.com