Tragedi Hilangnya Pesawat PZL M28 Skytruck di Laut Cina Selatan: Pencarian dan Penyelamatan yang Menyulitkan

Dipublikasikan oleh Admin

11 April 2024, 17.25

Sumber: id.wikipedia.org

Pada tanggal 3 Desember 2016, sebuah Skytruck PZL M28 milik Kepolisian Negara Republik Indonesia menghilang di atas Laut Cina Selatan saat mencoba mendarat di bandara Hang Nadim, Kepulauan Riau. Pesawat lepas landas dari bandara Depati Amir di Pangkal Pinang, ibu kota provinsi Bangka Belitung. Ada tiga pilot dan 10 penumpang di pesawat itu. Tidak ada yang selamat. Basarnas membentuk tim SAR yang dibantu oleh tim SAR Singapura.

Pesawat dan awak

Pesawat yang jatuh adalah jenis PZL M28 Skytruck dengan nomor registrasi P-4201, dibuat pada tahun 2004. Pesawat ini memiliki lebih dari 2.500 jam terbang.

Menurut pihak berwenang, seluruh awak pesawat memiliki lebih dari 2.000 jam terbang.

Kecelakaan

Pesawat dari pesawat tersebut 10 penumpang, 3 awak. Semua orang di atas adalah polisi Indonesia.

Pesawat lepas landas dari Bandara Depati Amir pukul 09.24 waktu setempat menuju Bandara Hang Nadim di Batam, Kepulauan Riau. Pesawat akan mendarat di Batam pada pukul 10.58. Saat terbang di atas Laut Seine, terjadi masalah teknis pada pesawat. Asap terlihat keluar dari mesin pesawat. Nelayan setempat yang menyaksikan jatuhnya pesawat sepakat bahwa pesawat langsung terjun ke laut tak lama setelah mesin mulai mengeluarkan asap.

Pencarian dan penyelamatan

Tak lama setelah jatuhnya pesawat, puing-puing pesawat muncul dan mulai terjadi pagi hari. Pada pukul 12.30 waktu setempat, nelayan di Xixang menemukan puing-puing biru yang diyakini berasal dari pesawat. Mereka juga menemukan beberapa kursi dan barang-barang pribadi. Banyak bagian tubuh yang ditemukan. Nelayan membenarkan bahwa mereka menemukan bangkai kapal tersebut 40 mil laut dari Kijang, ibu kota Tanjung Pinang.

Basarnas membentuk tim pencarian dan penyelamatan. Tim SAR Tanjung Pinang mengirimkan dua perahu untuk mencari puing-puing pesawat. Dipimpin oleh Kapolda Riau. Polisi mengirimkan empat perahu. TNI Angkatan Laut juga telah mengerahkan KRI Cucut dan KRI Pattimura. Kru pencari mengaku menemukan beberapa barang pribadi korban, termasuk foto penumpang pesawat. Operasi pencarian terhambat karena cuaca buruk. Kepala Operasi Sam Budigusdian mengatakan operasi ditunda karena cuaca buruk dan pesawat tidak bisa terbang. Selain itu, sinyal komunikasi buruk.

Pukul 17.55, ditemukan benda padat dan tidak utuh di dekat lokasi, dengan tumpahan minyak di kedalaman 2 meter. Keesokan harinya, tiga kapal Departemen Pertahanan diberangkatkan untuk mendukung operasi tersebut. Singapura mengirimkan pesawat dan helikopter. Inspektur dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional juga mengambil bagian dalam operasi tersebut. Menurut Kepala Basarnas, operasi pencarian dan penyelamatan ini melibatkan 300 personel dan 15 kapal.

Area pencarian mencakup 200 mil laut persegi. Tim penyidik ​​menyebut lokasi pencarian berada di kawasan Mantang dan Gijang. Tim investigasi menemukan lokasi tumpahan minyak pada 3 Desember. Analisis menunjukkan bahwa pesawat jatuh di perairan dangkal, sekitar 23 atau 32 meter.

Penyelam telah dikerahkan untuk operasi ini. Analisis terhadap puing-puing tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar puing yang ditemukan tim berasal dari bagian depan pesawat. Pihak berwenang mengatakan hidung pesawat mungkin rusak saat menabrak laut. Mereka juga mengatakan sebagian besar jenazah ditemukan dalam jenazah yang terendam air.

Gubernur Kepulauan Riau Noordin Bashirun dan Brigjen Paris ikut serta dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Anggota dewan kemudian meminta para nelayan untuk bergabung dalam pencarian, dengan mengatakan bahwa mereka “memiliki mata yang lebih baik”. Masyarakat diminta untuk melaporkan barang-barang pribadi atau jenazah yang ditemukan di laut kepada pihak berwajib.

Fokus wilayah upaya pencarian dan penyelamatan adalah antara Pulau Pintar, Pulau Sebanca, Pulau Senayang, dan Pulau Menasac. Pihak berwenang mengatakan jenazah penumpang yang hilang dan puing-puing pesawat kemungkinan besar tidak akan jauh dari kerusakan total karena arus laut dan kecepatan angin tidak cukup kuat untuk menghantam area pemindahan puing-puing tersebut. Namun, menurut Soelistyo, Kepala Basarnas, sebenarnya bangkai kapal tersebut berada di perairan Indonesia, namun kotak hitam perekam penerbangan telah dipindahkan ke perairan Singapura. Ia meminta pemerintah Singapura untuk menemukan kotak hitam tersebut.

Pencarian dilanjutkan pada 5 Desember 2016. Keempat jenazah korban ditemukan hari itu juga. Menurut Direktur Erlangga, ekor pesawat akan diangkat dari laut pada pukul sepuluh. Pesawat sepanjang 3 m ditemukan pada 0 17' 321" N 104 50' 518" E dalam perairan 24 m. Area pencarian juga diperluas sejauh 5 km karena jenazah terbawa arus laut sejauh 5 km dari bangkai kapal sebenarnya.

Disadur dari: id.wikipedia.com