Terhenti Ekspor Nikel Mentah, Industri Pengolahan dan Smelter Siap Menggeliat Kembali

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

07 Maret 2024, 08.17

Sumber: republika.co.id

JAKARTA, KOMPAS - Grup Bisnis Baja Wuhan (Wisco) tengah menjajaki peluang investasi di sektor baja Indonesia. Hal ini atas perintah pemerintah Tiongkok untuk melaksanakan perjanjian antara Presiden Tiongkok dan Presiden India yang ditandatangani pada Oktober 2013.

"Wuhan tertarik pada investasi. komponen senilai lebih dari 5 miliar dolar. pelabuhan dan laut dalam .” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Rabu (19/3). Hal itu dilakukan Hidayat usai menerima kunjungan pimpinan Asosiasi Pengusaha Wuhan dan delegasi Kementerian Perindustrian. Kami meluncurkan .

Menurut Hidayat, masuknya investasi di sektor baja akan menguntungkan Tiongkok karena akan menghasilkan produk substitusi impor. Saya tawarkan di Jawa Timur sebab, kalau membutuhkan infrastruktur lengkap, di luar Jawa belum ada," tutur Hidayat.

Terkecuali, kata Hidayat, kalau investor mau membangun infrastruktur sendiri, seperti yang dilakukan PT Sulawesi Mining Investment (SMI). SMI membangun instalasi pemurnian dan pengolahan feronikel di Morowali, Sulawesi Selatan.

Perusahaan tersebut membuat sendiri pembangkit listrik, pelabuhan laut, dan pelabuhan udara. "Kami mengapresiasi adanya perusahaan yang serius mau membangun smelter (instalasi pemurnian dan pengolahan) di negeri ini," kata Hidayat.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama PT SMI Alexander Barus, di Jakarta, Selasa (18/3), menuturkan, pembangunan instalasi pengolahan feronikel ini merupakan antisipasi sejak awal terkait larangan ekspor bijih nikel.

"Ini karena, pada intinya, UU No 4/2009 telah berlaku sehingga ekspor bijih nikel sudah dilarang. Kami dari awal mengantisipasi dengan membangun instalasi pengolahan feronikel," papar Alexander.

Pada saat bersamaan, mereka juga mengembangkan kawasan industri seluas 1.200 hektar. "Kami harapkan nantinya industriindustri hilir pengolahan nikel dan baja tahan karat akan masuk ke sana," ujar Alexander.

Menurut Alexander, sebelum industri hilir baja tahan karat itu terbangun di Morowali, untuk sementara produk feronikel akan dijual ke China.

”Nantinya industri aluminium yang terbangun di Morowali akan menggunakan feronikel dari Morowali dan ferrochrome dari Zimbabwe,” kata Alexander.

Hidayat mengatakan, Indonesia sudah puluhan tahun mengekspor bahan mentah berupa nikel. Di sisi lain, industri pengolahan tidak berkembang di Indonesia.

Menurut undang-undang mineral baru, yang mulai berlaku pada tahun 2009, perusahaan harus membangun fasilitas pengolahan dalam waktu lima tahun.

Lima tahun kemudian, pemerintah memutuskan. : . Hentikan ekspor bahan mentah. Sesuai UU Minerba, nikel sama sekali tidak boleh diimpor.

Soal larangan impor nikel, Jepang disebut-sebut akan kesulitan karena 44% impor nikel hingga saat ini berasal dari Indonesia. Produksi juga turun karena pasokan nikel di Jepang tidak bisa digantikan oleh pembeli nikel dari negara lain.

Hidayat mengatakan ini saatnya kerja sama karena kedua pihak membutuhkan dua hal. Indonesia yang memiliki nikel sudah melarang ekspor bahan mentah tersebut, namun membutuhkan teknologi dan investasi. .


Hidayat mengatakan kewajiban membangun pabrik pengolahan di Indonesia merupakan persyaratan hukum. (Kas).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan pemurnian (smelting). Sebab, peningkatan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri sejalan dengan kebijakan yang mendasarinya.

Rencana strategis berdasarkan instruksi Presiden Joko Widodo, pada akhirnya akan menghentikan pengangkutan mineral dan bahan organik. Presiden Joko Widodo telah mengumumkan akan berhenti mengekspor bahan baku nikel dan tahun depan akan berhenti mengekspor bauksit, tembaga, emas, dan timah. Menteri Perindustrian Agus mengatakan Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (28/12)

Kemarin Senin ( 27) /12) Dewan Negara didampingi beberapa menteri senior kabinet Indonesia, antara lain Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perindustrian Agus Pabrik produksi bijih nikel PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) berlokasi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Pertemuan tersebut digelar di Kabupaten Konawe, Sulawesi Selatan. Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi menjelaskan PT GNI merupakan produsen feronikel dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 1,8 juta ton.

Perusahaan menawarkan nilai tambah yang signifikan dari olahan bijih nikel hingga feronikel, dengan nilai tambah meningkat 14 kali lipat. Pengolahan bijih nikel menjadi pelet baja tahan karat akan meningkatkan nilai tambah sebesar 19 kali lipat.

Investasi tambahan PT GNI ini akan memungkinkannya mencapai target mineral dan home in house selanjutnya. “Ini melengkapi lini produksi yang dilakukan di Pabrik Peleburan Stainless Steel PT Obsidian di Konaue, Sulawesi Tenggara,” kata Agus.

PT Obsidian Stainless Steel memproduksi feronikel dan kapasitas produksi 1,2 juta ton per tahun. Ini adalah mesin pengecoran. industri Kami memproduksi 1 juta ton billet baja tahan karat setiap tahun. Selain itu, ada PT Virtue Dragon Nickel Industry yang juga memiliki pabrik produksi yang memproduksi 1 juta ton feronikel per tahun. PT GNI, PT Obsidian Steel, dan PT Virtue Dragon Nickel Industry tergabung dalam kelompok ini. bahan mineral mentah internal. “Ini merupakan bagian dari rencana besar pemerintah Indonesia untuk mendorong industri hilir guna meningkatkan nilai tambah,” kata Menperin. Total investasi di tiga perusahaan produksi minyak tersebut mencapai 8 miliar dolar, dengan 27.000 karyawan.

Selain itu, ekspor produk feronikel meningkat setiap tahunnya. Ini merupakan keuntungan besar dibandingkan mata uang asing lainnya. “Tahun 2020 pendapatannya mencapai $4,7 miliar, dan pada periode Januari-Oktober 2021 mencapai $5,6 miliar,” ujarnya. Negara ini mengekspor produk berbahan dasar nikel (lembaran baja tahan karat, billet baja tahan karat, dan batangan baja tahan karat), dan total ekspor diperkirakan mencapai $1,63 miliar pada tahun 2020. Agus juga menyampaikan bahwa keberhasilan basis kebijakan pertanian tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan produksi.

Selanjutnya, berkembangnya industri manufaktur pada gedung-gedung telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional dan masyarakat lokal, sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Misalnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Konawe sebagian besar 5-6 persen sebelum investasi, dan dalam dua tahun terakhir pertumbuhannya mencapai sepuluh persen,” ujarnya.

kerja Dampak positifnya bisa menurunkan angka kemiskinan. “Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermanfaat antara industri dan masyarakat yang memungkinkan pengembangan bersama, termasuk tumbuhnya kewirausahaan di lingkungan pabrik, dan peningkatan infrastruktur sosial yang diperlukan masyarakat,” kata Mendag. .\ n
Pada tahun 2019 hingga 2021, mampu menyumbang pendapatan negara sebesar Rp1,03 triliun dalam bentuk pajak. Secara total, nilai output pabrik produksi nikel Indonesia mencapai $15,7 miliar.

Saat ini, Presiden PT GNI Wisma Bharuna mengatakan, saat ini di Indonesia banyak sekali produk-produk berbahan stainless steel yang digunakan untuk memproduksi panci, sendok, dan lain-lain. Kita berharap hasil akhirnya, semua produk bisa diproduksi di desa, dan teknologi bisa ditransfer, semuanya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. , kekayaan adalah kekayaan masa depan kita untuk semua. “Nantinya teknologi, metal, anak-anak berbakat, semua lapangan kerja akan dialihkan. Ya Indonesia kaya, semuanya ada disini,” kata Wisma.

Disadur dari :  https://ekonomi.republika.co.id/berita/r4tt35383/ekspor-nikel-mentah-disetop-industri-pengolahan-dan-smelter-bakal-menggeliat