1. Pendahuluan
Di banyak organisasi, “transformasi digital” sering diperlakukan seperti tujuan akhir. Perusahaan membangun aplikasi baru, membuat dashboard, memindahkan dokumen ke cloud, dan mengotomasi proses bisnis. Setelah itu, mereka merasa sudah modern. Tetapi semakin kita hidup di era krisis iklim, muncul pertanyaan yang lebih menuntut: modern untuk siapa, dan modern dalam cara apa?
Orasi ilmiah Prof. Kridanto Surendro mengajak kita memikirkan ulang posisi sistem informasi dalam konteks yang lebih besar, yaitu keberlanjutan. Bukan sekadar keberlanjutan dalam arti “sistemnya tidak down”, tetapi keberlanjutan sebagai cara manusia menjaga masa depan planet sambil tetap menjalankan ekonomi.
Narasinya dibuka dengan sesuatu yang sangat mendasar: karbon dioksida sebenarnya bagian dari sistem alami. Makhluk hidup menghasilkan karbon dioksida lewat pernapasan, sementara tumbuhan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis. Namun yang membuatnya menjadi krisis adalah laju dan skala emisi karbon akibat aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Ketika emisi ini terus bertambah, gas rumah kaca menumpuk dan mendorong pemanasan global.
Dalam orasi ini juga disebutkan target yang semakin sering kita dengar dalam diskusi iklim global: emisi harus dikurangi setengah sebelum 2030, lalu mencapai kondisi net zero pada 2050 agar pemanasan global tidak melewati batas 1,5 derajat Celcius. Angka ini bukan sekadar alarm ilmiah, tetapi dasar arah kebijakan dunia, termasuk standar baru di industri.
Yang menarik, Prof. Kridanto tidak berhenti pada narasi iklim sebagai isu lingkungan, melainkan membawa kita ke ranah yang lebih “organisasi”: bagaimana perusahaan, kampus, dan institusi sebenarnya akan berhadapan dengan tuntutan data emisi karbon. Di sinilah sistem informasi menjadi relevan, karena pengurangan emisi bukan hanya keputusan moral, melainkan keputusan operasional yang butuh bukti.
Dan di era sekarang, bukti berarti data.
Tetapi ketika kita bicara data emisi karbon, persoalannya ternyata tidak sesederhana “hitung saja”. Justru inti kritik orasi ini adalah bahwa pengelolaan dan pengolahan data emisi karbon bersifat kompleks dan simpang siur. Perhitungan mungkin terlihat mudah di atas kertas, namun ketika organisasi mencoba benar-benar memotret emisi secara utuh, mereka akan terseret ke labirin data: tersebar di banyak unit, formatnya berbeda, sumbernya bervariasi, dan kadang tidak sinkron.
Kita bisa melihat kenapa banyak laporan keberlanjutan di Indonesia terdengar normatif. Mereka dipenuhi foto kegiatan lingkungan dan kalimat-kalimat komitmen, tetapi miskin penjelasan tentang nilai emisi yang konkret serta perbaikannya dari tahun ke tahun. Ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan masalah sistem. Kalau datanya tidak tertata, laporan memang hanya bisa jadi narasi.
Dari sini, sustainable information system menjadi gagasan yang sangat praktis: sistem informasi yang tidak hanya membuat organisasi lebih cepat, tetapi juga membuat organisasi lebih bertanggung jawab.
Dalam konteks mahasiswa, topik ini terasa relevan karena banyak generasi muda yang terlibat dalam isu lingkungan, tetapi sering tidak tahu bagaimana mengubah kepedulian menjadi sistem kerja. Dalam konteks pekerja, topik ini bahkan lebih keras: semakin banyak industri dituntut membuktikan emisinya melalui standar global, sehingga “punya data yang bisa dipercaya” bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan.
2. Green ICT dan Green by ICT: Dua Wajah Teknologi yang Sering Tertukar
Salah satu bagian paling penting dari orasi ini adalah pembedaannya terhadap dua istilah yang sering terdengar mirip, tetapi sebenarnya membawa orientasi yang berbeda: Green ICT dan Green by ICT.
Di dunia sistem informasi, Green ICT mengacu pada penggunaan perangkat dan sumber daya teknologi informasi yang ramah lingkungan. Sederhananya, ini tentang membuat teknologi itu sendiri lebih hemat energi, lebih efisien, dan tidak boros sumber daya. Contohnya bisa berupa server yang lebih efisien, penggunaan energi yang lebih rendah, manajemen pendinginan pusat data yang lebih baik, atau kebijakan perangkat keras yang lebih berkelanjutan.
Sedangkan Green by ICT adalah pemanfaatan teknologi informasi untuk membantu mengurangi emisi karbon di luar teknologi itu sendiri. Artinya, teknologi menjadi alat untuk mengurangi emisi dalam sistem yang lebih luas: misalnya efisiensi rantai pasok, optimalisasi transportasi, pengurangan perjalanan lewat sistem kerja jarak jauh yang efektif, pemantauan energi dalam gedung, atau otomatisasi proses yang mengurangi pemborosan material.
Perbedaan dua istilah ini penting karena sering terjadi kesalahan berpikir dalam organisasi. Banyak organisasi merasa sudah “go green” hanya karena mereka mengganti lampu kantor dengan LED atau membeli perangkat hemat energi. Itu baik, tetapi belum tentu menyentuh inti emisi terbesar dalam sistem mereka. Di sisi lain, organisasi bisa saja membangun sistem digital yang canggih untuk efisiensi bisnis, tetapi justru membuat konsumsi energi TIK membengkak karena pusat data membesar dan penggunaan komputasi meningkat.
Di sinilah sustainable information system harus bekerja sebagai penyeimbang: ia tidak boleh hanya memilih salah satu, tetapi memetakan keduanya sebagai dua tanggung jawab yang berjalan bersama.
Orasi ini juga menyebutkan panduan dari World Bank yang mengusulkan perhitungan emisi karbon sektor TIK dengan fokus pada emisi operasional saja. Secara praktis, ini seperti “jalan cepat” untuk memulai: hitung berapa lama komputer digunakan, server berjalan, AC dipakai, dan seterusnya. Dengan pendekatan seperti itu, perhitungan emisi pusat data menjadi lebih mudah.
Namun, Prof. Kridanto juga mengingatkan bahwa kompleksitas emisi tidak bisa selalu dipangkas sesederhana itu. Ada masalah besar yang sering luput ketika organisasi menghitung emisi: emisi yang melekat pada produk atau komponen yang digunakan. Dalam bahasa yang lebih familiar untuk industri, ini terkait emisi pada rantai pasok. Emisi bukan hanya dari aktivitas operasional langsung, tetapi juga dari barang dan jasa yang dipakai organisasi.
Di sini muncul dilema yang sering terjadi dalam praktik. Kalau organisasi hanya menghitung emisi operasional, mereka memang bisa bergerak cepat dan punya angka awal. Tetapi angkanya bisa menipu karena tidak menggambarkan keseluruhan jejak karbon. Sebaliknya, jika organisasi mencoba menghitung semuanya sejak awal, mereka bisa tersandung kompleksitas data dan akhirnya tidak jalan sama sekali.
Sustainable information system seharusnya membantu organisasi keluar dari dilema itu.
Cara berpikirnya adalah: mulai dengan kerangka yang masuk akal, lalu bangun sistem data yang makin matang. Tidak harus sempurna sejak tahun pertama, tetapi harus jelas arahnya.
Dalam orasi ini, Prof. Kridanto mengusulkan perlunya tata kelola emisi karbon dan bahkan membayangkan perlunya sistem terintegrasi yang mirip ERP untuk emisi. Gagasannya sederhana: kalau organisasi bisa menyusun sistem terintegrasi untuk keuangan, supply chain, dan HR, mengapa tidak bisa untuk data emisi?
Jawabannya bukan tidak bisa. Tantangannya adalah kemauan dan desain arsitekturnya.
Karena berbeda dengan data keuangan yang biasanya sudah rapi dalam sistem, data emisi sering berserakan: di gedung, di vendor listrik, di transportasi, di aktivitas pengguna, di pembelian perangkat, bahkan di kebiasaan manusia sehari-hari. Maka sustainable information system harus dimulai dari satu fondasi: arsitektur data yang memetakan sumber dan aliran data emisi.
Bagian ini membuat sustainable information system terasa bukan sebagai topik abstrak, tetapi sebagai proyek nyata: merapikan data, mengurangi simpang siur, dan membuat keputusan berbasis angka yang bisa diverifikasi.
3. Mengukur Emisi Aktivitas Mahasiswa: Dari Isu Global ke Kebijakan Kampus yang Nyata
Di banyak forum, isu emisi karbon sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia terdengar seperti urusan konferensi internasional, target negara, atau negosiasi antar pemerintah. Tetapi orasi Prof. Kridanto Surendro justru menarik isu itu turun ke level yang lebih dekat: aktivitas individu dalam institusi pendidikan, khususnya mahasiswa.
Ini langkah yang menarik, karena kampus sering menempatkan diri sebagai agen perubahan sosial, tetapi jarang mengukur jejak karbon aktivitas internalnya secara serius. Padahal kampus adalah kota kecil. Ada gedung, listrik, ruang kelas, laboratorium, transportasi harian, konsumsi perangkat elektronik, hingga aktivitas belajar mandiri yang terus berulang. Semua itu menghasilkan emisi. Yang membedakan kampus dengan industri adalah karakter aktivitasnya, bukan ketiadaan emisinya.
Dalam penelitian yang disebutkan di orasi, Prof. Kridanto dan tim membatasi kontribusi emisi mahasiswa pada dua kategori utama: Scope 2 dan Scope 3. Scope 2 dipahami sebagai pemanfaatan fasilitas elektronik di kampus seperti penggunaan kelas dan laboratorium. Scope 3 mencakup aktivitas mahasiswa yang terkait dengan proses belajar-mengajar, termasuk kuliah, ujian, praktikum, belajar mandiri, transportasi, dan aktivitas terkait lainnya.
Pembatasan ini penting karena ia menunjukkan metode yang realistis. Mengukur emisi secara total dari kehidupan mahasiswa bisa sangat kompleks. Tetapi dengan membuat batas yang masuk akal dan sesuai konteks kampus, pengukuran menjadi mungkin dilakukan tanpa menunggu sistem sempurna.
Penelitian ini dilakukan dalam periode Agustus 2022 sampai Mei 2023 dengan melibatkan 1.071 mahasiswa dari program studi Teknik Informatika, Sistem dan Teknologi Informasi, serta Magister Informatika.
Hasilnya memberikan angka yang cukup tegas: total emisi karbon yang diperoleh sebesar 612.813 kg per tahun. Jika dibagi per mahasiswa, emisinya sekitar 570,2 kg per tahun, dengan emisi rata-rata harian sebesar 3,08 kg per hari.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mengubah isu keberlanjutan dari sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang bisa dibayangkan.
3,08 kg per hari mungkin terdengar kecil jika berdiri sendiri. Tapi ketika dikalikan ribuan mahasiswa, hasilnya menjadi sangat besar. Dan di situlah pesan utamanya muncul: emisi bukan hanya soal pabrik, kendaraan besar, atau industri energi. Emisi juga lahir dari rutinitas yang dianggap normal.
Yang lebih penting, angka ini bisa menjadi dasar kebijakan.
Prof. Kridanto menyebut bahwa dari hasil penelitian, dapat diusulkan beberapa kebijakan untuk mengurangi konsumsi energi dan menciptakan lingkungan ITB yang bersih.
Dalam konteks kampus, kebijakan seperti ini sebenarnya bisa mengambil banyak bentuk, misalnya:
-
pengaturan penggunaan ruang kelas dan laboratorium agar lebih efisien
-
optimasi jadwal agar mengurangi kebutuhan ruang kosong dengan listrik menyala
-
kebijakan transportasi dan akses kampus yang mendorong pilihan lebih rendah emisi
-
strategi hybrid learning yang tidak sekadar “online”, tapi benar-benar menekan pemborosan energi dan mobilitas yang tidak perlu
-
standardisasi perangkat dan praktik penggunaan energi di lingkungan akademik
Namun, inti dari semua kebijakan itu adalah satu: kebijakan tidak bisa berdiri tanpa data.
Di sinilah sustainable information system berperan sebagai pengubah permainan. Karena tanpa sistem yang rapi, kampus hanya akan mengulang pola “komitmen tanpa ukuran”. Dan ketika tidak ada ukuran, tidak ada cara untuk menilai apakah kebijakan berhasil atau hanya menjadi simbol.
Orasi ini juga menyinggung bahwa banyak sustainability report perusahaan di Indonesia masih normatif: menampilkan foto-foto perbaikan lingkungan, tetapi tidak menjelaskan nilai emisi karbon serta bagaimana perbaikan terjadi dari waktu ke waktu.
Fenomena ini tidak terjadi hanya di perusahaan, tetapi juga berpotensi terjadi di kampus. Kita bisa melakukan banyak kegiatan “hijau”, tetapi jika tidak ada sistem data, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah emisi kita turun atau hanya berpindah bentuk.
Dan di sinilah isu emisi mahasiswa menjadi contoh yang kuat. Ia menunjukkan bahwa pengukuran bisa dimulai dari satu unit aktivitas, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih luas. Kampus tidak harus menunggu “sistem nasional” untuk mulai bertanggung jawab pada data internalnya.
4. Net Zero Emission Framework dan AI: Ketika Sistem Informasi Tidak Hanya Menghitung, Tapi Memprediksi
Salah satu bagian paling menarik dalam orasi Prof. Kridanto adalah gagasannya bahwa sustainable information system seharusnya tidak berhenti pada pencatatan emisi karbon. Ia harus bergerak menuju pengelolaan yang lebih matang: terintegrasi, terencana, dan mampu memprediksi.
Di sini, Prof. Kridanto menjelaskan bahwa untuk mengatasi kompleksitas pengumpulan dan pengelolaan data emisi karbon secara terintegrasi, digunakan rancangan kerja Net Zero Emission Framework yang disusun secara top-down pada level platform kecerdasan bisnis.
Lalu muncul kalimat yang menjadi pembeda besar: platform ini memanfaatkan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan informasi kuantum untuk pemrosesan dan prediksi emisi karbon. Yang dilakukan bukan hanya mencatat dan menghitung, tetapi memprediksi berapa besar emisi karbon yang akan terjadi pada periode tertentu.
Pernyataan ini membawa kita pada satu perubahan mendasar dalam cara organisasi mengelola keberlanjutan.
Selama ini, emisi sering dikelola seperti laporan keuangan yang terlambat. Kita menghitung setelah kejadian, lalu menyimpulkan “tahun ini naik” atau “tahun ini turun”. Tetapi untuk benar-benar menurunkan emisi, organisasi membutuhkan pendekatan proaktif. Mereka perlu tahu tren, memprediksi lonjakan, dan merancang intervensi sebelum masalah membesar.
Dalam bahasa sistem informasi, ini berarti pergeseran dari descriptive analytics menuju predictive analytics. Dari “apa yang terjadi” menuju “apa yang mungkin terjadi”.
Namun, prediksi tidak bisa lahir dari sistem yang datanya berantakan.
Itulah sebabnya orasi ini menekankan kebutuhan arsitektur emisi karbon. Prof. Kridanto menyebut bahwa pengelolaan data emisi karbon tidak sederhana, data bersifat kompleks, tersebar, dan simpang siur. Karena itu perlu upaya membuat arsitektur emisi karbon sebagai rencana pengembangan aplikasi.
Arsitektur data ini pada dasarnya adalah peta yang menjawab pertanyaan besar:
-
data emisi datang dari mana?
-
siapa pemilik data?
-
bagaimana data dikumpulkan?
-
format apa yang digunakan?
-
seberapa sering data diperbarui?
-
bagaimana data dibersihkan dan divalidasi?
-
bagaimana data diolah menjadi indikator yang bisa dipakai pimpinan?
Tanpa arsitektur, organisasi akan melakukan pengukuran yang tidak konsisten. Satu unit memakai metode A, unit lain memakai metode B. Hasilnya tidak bisa dibandingkan. Lalu organisasi terjebak dalam laporan yang terlihat “ada angka”, tetapi angka itu tidak bisa dipercaya.
Selain arsitektur, orasi ini juga menekankan pentingnya tata kelola (governance).
Prof. Kridanto mengutip pandangan bahwa tata kelola adalah sistem di mana entitas dapat diarahkan dan dikendalikan sesuai harapan. Ini relevan, karena data emisi bukan hanya data teknis. Ia data yang menyentuh kepentingan banyak pihak: keuangan, operasional, reputasi, dan kepatuhan terhadap standar.
Tanpa tata kelola, sistem informasi emisi akan mengalami masalah klasik:
-
data tidak lengkap karena unit enggan melapor
-
data tidak konsisten karena definisinya berbeda-beda
-
data tidak dipakai karena pimpinan tidak percaya
-
data tidak ditindaklanjuti karena tidak ada SOP keputusan
Karena itu, gagasan Prof. Kridanto tentang sistem terintegrasi yang “mirip ERP untuk emisi karbon” terdengar sangat logis.
ERP mengintegrasikan proses keuangan, SDM, logistik, dan produksi dalam satu sistem. Jika organisasi bisa mengintegrasikan uang dan inventori, seharusnya organisasi juga bisa mengintegrasikan jejak karbon. Bedanya, sistem emisi memerlukan definisi yang lebih rumit karena jejak karbon tersebar dalam rantai aktivitas dan rantai pasok.
Orasi ini juga menyebut gagasan Informatika Energi dari Richard T. Watson tahun 2010, yang mengakui peran sistem informasi dalam mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Ini penting sebagai konteks akademik: sustainable information system bukan ide yang muncul tiba-tiba, tetapi bagian dari evolusi pemikiran bahwa masalah lingkungan bukan hanya masalah teknologi energi, tetapi juga masalah informasi.
Pada akhirnya, bagian ini menguatkan satu kesimpulan analitis:
Sustainable information system bukan sistem informasi yang “bertema hijau”, tetapi sistem informasi yang mampu menciptakan keputusan yang lebih tepat tentang emisi.
Ia menuntut data yang rapi, arsitektur yang jelas, tata kelola yang tegas, dan kemampuan analitik yang naik kelas dari sekadar perhitungan menuju prediksi.
Dan jika sistem seperti ini bisa berjalan di kampus, ia akan menjadi contoh yang kuat bahwa keberlanjutan bukan hanya urusan korporasi besar, tetapi bisa dimulai dari institusi pendidikan sebagai tempat lahirnya pengetahuan dan kebijakan berbasis data.
5. Sustainable Information System untuk Organisasi: Dari ESG dan SDGs ke Keputusan Operasional yang Bisa Dipertanggungjawabkan
Setelah emisi karbon mahasiswa dipetakan dan kerangka Net Zero Emission Framework diperkenalkan, orasi Prof. Kridanto Surendro sebenarnya mendorong kita ke satu pertanyaan yang lebih besar: apa dampaknya bagi organisasi secara keseluruhan?
Karena jika sustainability hanya berhenti pada slogan atau kampanye, organisasi tidak akan berubah. Perubahan baru terjadi ketika keberlanjutan masuk ke mekanisme kerja sehari-hari: anggaran, target, prosedur, dan sistem evaluasi.
Di sinilah sustainable information system menjadi penting. Ia berfungsi sebagai mesin yang mengubah “komitmen hijau” menjadi keputusan operasional yang bisa dipertanggungjawabkan.
Untuk memahami urgensinya, kita perlu melihat bagaimana tekanan global terhadap organisasi berkembang. ESG (Environmental, Social, Governance) bukan lagi istilah untuk laporan tahunan. Ia berubah menjadi cara investor, regulator, dan pasar menilai kredibilitas perusahaan. SDGs juga bukan sekadar proyek sosial, tetapi sering menjadi kerangka komunikasi global tentang kontribusi organisasi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Namun, masalahnya tetap sama: tanpa sistem data, ESG dan SDGs mudah berubah menjadi narasi kosong.
Orasi ini menyoroti fenomena yang banyak orang sebenarnya sudah rasakan tetapi jarang disebut langsung: banyak laporan keberlanjutan perusahaan di Indonesia masih normatif. Laporan tersebut sering menampilkan dokumentasi kegiatan dan pernyataan komitmen, tetapi belum menjelaskan nilai emisi karbon secara jelas serta bagaimana nilai itu berubah dari waktu ke waktu. Ini membuat sustainability report lebih dekat dengan komunikasi reputasi daripada alat manajemen.
Di titik ini, sustainable information system bekerja sebagai koreksi.
Sistem informasi yang berkelanjutan tidak bertugas membuat laporan terlihat menarik, tetapi memastikan data emisi dan dampaknya benar-benar tercatat, tervalidasi, dan bisa digunakan untuk mengambil keputusan.
Dalam praktik organisasi, ini akan memengaruhi banyak area.
Pertama, organisasi akan dipaksa mendefinisikan apa yang dimaksud dengan emisi, dan bagaimana emisi dihitung.
Tanpa definisi yang konsisten, angka akan selalu bisa diperdebatkan. Itulah sebabnya orasi ini menekankan kompleksitas data emisi yang simpang siur. Jika sumber data tersebar dan formatnya berbeda-beda, maka organisasi cenderung menghasilkan perhitungan yang tidak konsisten antar unit.
Kedua, organisasi akan dipaksa membangun arsitektur data emisi.
Arsitektur di sini bukan sekadar diagram teknis, tetapi peta tanggung jawab dan aliran informasi. Ia menetapkan siapa pemilik data, siapa yang menginput, siapa yang mengolah, siapa yang memverifikasi, dan siapa yang menggunakan data tersebut untuk keputusan. Dengan arsitektur, emisi tidak lagi menjadi isu yang “ditaruh di divisi lingkungan”, tetapi menjadi isu lintas unit yang bisa ditelusuri.
Ketiga, organisasi akan masuk ke tahap yang lebih dewasa: pengendalian, bukan hanya pengukuran.
Banyak organisasi hari ini berada pada fase awal: mereka baru belajar menghitung emisi. Tetapi menghitung emisi saja belum mengurangi emisi. Pengurangan emisi membutuhkan kontrol, dan kontrol membutuhkan sistem.
Di sinilah pendekatan yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin menjadi relevan. Dalam orasi, ditegaskan bahwa platform yang dikembangkan tidak hanya menghitung emisi, tetapi memprediksi emisi pada periode tertentu. Ini mengubah pola pikir organisasi: dari reaktif menjadi proaktif.
Jika organisasi tahu bahwa emisi bulan depan diprediksi naik karena pola konsumsi energi tertentu, organisasi bisa merancang intervensi: menata ulang jadwal operasional, mengoptimalkan penggunaan energi, atau mengubah kebijakan penggunaan fasilitas.
Keempat, sustainable information system membuat keberlanjutan lebih “terasa” bagi pekerja.
Salah satu alasan sustainability sering gagal diterapkan adalah karena pekerja tidak tahu apa yang harus mereka ubah. Mereka hanya mendengar target besar seperti net zero 2050, tetapi tidak melihat hubungan antara pekerjaan harian dengan target itu.
Ketika data emisi dipecah menjadi aktivitas dan proses, hubungan itu mulai terlihat. Misalnya, konsumsi listrik gedung, pemakaian AC, jadwal laboratorium, mobilitas harian, atau penggunaan perangkat. Semua ini bukan hal abstrak. Semua ini adalah perilaku organisasi.
Maka sustainable information system sebenarnya bukan hanya alat teknis, tetapi alat perubahan perilaku kolektif. Ia membuat organisasi bisa mengatakan, “di titik ini emisi kita naik,” dan “di titik itu emisi kita turun,” dengan alasan yang bisa ditelusuri.
Kelima, sistem ini menjadi jembatan antara kebijakan dan audit.
Dalam dunia bisnis, komitmen yang serius selalu harus bisa diaudit. Begitu perusahaan masuk ke rantai pasok global, tuntutan audit akan semakin kuat. Dan audit tidak bisa dipenuhi dengan cerita, tetapi dengan data.
Sustainable information system membantu organisasi menjawab pertanyaan audit dengan lebih tegas: data apa yang dipakai, bagaimana dikumpulkan, bagaimana dihitung, dan bagaimana konsisten antar periode.
Jika kita rangkum, orasi ini membawa pesan bahwa keberlanjutan tidak akan stabil jika bergantung pada kampanye. Keberlanjutan baru stabil jika ia masuk ke sistem informasi organisasi.
6. Kesimpulan: Sistem Informasi Berkelanjutan Adalah Infrastruktur Data untuk Masa Depan Rendah Karbon
Orasi Prof. Kridanto Surendro memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan hanya isu energi dan lingkungan, tetapi juga isu informasi. Target global seperti pengurangan emisi sebelum 2030 dan net zero 2050 menuntut organisasi memiliki kemampuan yang lebih serius dalam mengelola data.
Tetapi data emisi karbon bukan data yang sederhana. Dalam orasi ini ditekankan bahwa pengelolaan dan pengolahan data emisi karbon bersifat kompleks, tersebar, dan simpang siur. Karena itu, organisasi tidak bisa mengandalkan pendekatan manual atau laporan normatif. Mereka membutuhkan sistem informasi yang dirancang secara khusus untuk keberlanjutan.
Perbedaan antara Green ICT dan Green by ICT menunjukkan bahwa teknologi informasi punya dua tanggung jawab sekaligus: membuat infrastrukturnya sendiri lebih hemat energi, dan membantu menurunkan emisi di sistem organisasi yang lebih luas. Sustainable information system berada di tengah keduanya, sebagai pendekatan yang tidak hanya mendigitalisasi proses, tetapi memastikan digitalisasi menghasilkan dampak rendah karbon yang terukur.
Penelitian emisi aktivitas mahasiswa menjadi contoh konkret bahwa pengukuran bisa dilakukan dengan batas yang realistis, misalnya melalui Scope 2 dan Scope 3. Hasilnya menunjukkan emisi tahunan yang besar dan emisi rata-rata harian per mahasiswa yang cukup signifikan jika dilihat secara kolektif. Data seperti ini mengubah keberlanjutan dari isu moral menjadi isu operasional yang bisa dikelola melalui kebijakan kampus.
Orasi ini juga menunjukkan arah yang lebih maju: pembangunan Net Zero Emission Framework berbasis kecerdasan bisnis yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk memproses serta memprediksi emisi karbon. Pendekatan ini menandai pergeseran dari sekadar menghitung emisi menjadi memprediksi dan mengendalikan emisi.
Pada akhirnya, sustainable information system dapat dibaca sebagai bentuk infrastruktur baru: infrastruktur data untuk masa depan rendah karbon. Organisasi yang mampu membangun arsitektur data emisi, tata kelola yang jelas, serta analitik yang matang akan lebih siap menghadapi tuntutan global. Organisasi yang tidak siap akan tertinggal, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak memiliki sistem yang memadai untuk membuktikan dan mengendalikan dampaknya.
Bagi mahasiswa, artikel ini menunjukkan bahwa sistem informasi bukan hanya alat bisnis, tetapi alat keberlanjutan yang semakin penting di masa depan. Bagi pekerja, artikel ini menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan “bagian lain”, tetapi harus masuk ke inti sistem kerja, karena tuntutan data dan audit akan semakin keras.
Dan bagi institusi seperti kampus, keberlanjutan adalah kesempatan untuk menjadi contoh: membangun sistem berbasis data yang bukan hanya mengurangi emisi, tetapi juga mendidik generasi yang terbiasa membuat keputusan berbasis bukti.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Kridanto Surendro: Sustainable Information System. 2024.
Watson, R. T. Energy Informatics: A New Discipline. 2010.
World Bank. Digital Development dan pedoman pendekatan emisi sektor TIK. (diakses 2026).
UNFCCC. Net Zero dan jalur pembatasan pemanasan global 1,5°C. (diakses 2026).
GHG Protocol. Corporate Accounting and Reporting Standard (Scope 1, 2, 3). (diakses 2026).