Roket: Teknologi, Pengunaan dan Sejarah

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

03 April 2024, 10.10

Roket Soyuz TMA-13 lepas landas dari Kosmodrom Baikonur. Soyuz adalah roket yang paling sering digunakan di masa kini. (id.wikipedia.org)

Roket

Roket merupakan wahana luar angkasa, peluru kendali, atau kendaraan terbang yang mendapatkan dorongan melalui reaksi roket terhadap keluarnya secara cepat bahan fluida dari keluaran mesin roket. Mesin roket menghasilkan gas dengan kecepatan hipersonik melalui reaksi kimia di ruang bakar, menciptakan dorongan reaktif yang besar, sesuai dengan Hukum Pergerakan Newton ke-3. Penggunaan roket dimulai pada abad ke-13 untuk keperluan militer dan rekreasional, namun intensifikasi penggunaan dalam militer, industri, dan eksplorasi luar angkasa dimulai pada awal abad ke-20.

Roket memiliki berbagai aplikasi, termasuk sebagai kembang api, persenjataan, kendaraan peluncur luar angkasa, dan eksplorasi ke planet lain. Meskipun kurang efisien pada kecepatan rendah, roket mampu memberikan akselerasi luar biasa dan mencapai kecepatan sangat tinggi dengan efisiensi yang dapat diterima. Meskipun menyimpan sejumlah besar energi yang dapat dilepaskan dengan mudah, risiko dari roket kimia dapat diminimalkan melalui desain, tes, dan penggunaan yang berhati-hati.

Ukuran roket bervariasi, mulai dari model kecil seperti kembang api hingga yang besar seperti Saturn V yang digunakan dalam program Apollo. Mayoritas roket saat ini adalah roket kimia, menggunakan bahan bakar padat atau cair untuk menghasilkan dorongan. Ada juga konsep roket lain seperti pendorong ion yang menggunakan energi elektromagnet dan roket termal nuklir, meskipun terakhir ini belum pernah digunakan secara luas.

Penggunaan untuk militer

Dalam konteks militer, roket merujuk pada bahan peledak berpendorong tanpa alat pengendali. Roket dapat diluncurkan dari pesawat penyerang darat untuk serangan udara-ke-permukaan, ditembakkan dari darat atau laut ke sasaran udara-ke-darat, atau ditembakkan dari darat atau laut ke sasaran permukaan lainnya. Selama Perang Vietnam, roket darat-udara tanpa kendali digunakan untuk menyerang pesawat yang terbang dalam formasi. Peluru kendali mirip dengan roket namun dilengkapi dengan sistem kendali untuk meningkatkan akurasi dalam mengenai sasaran.

Sejarah roket

Roket pertama kali dikembangkan di Tiongkok pada abad ke-13, awalnya digunakan sebagai kembang api yang bisa melesat ke udara. Mercon berubah menjadi roket, menjadi sarana untuk membawa muatan dalam konteks perang maupun perdamaian. Pada masa perang, mercon diubah menjadi peluncur panah api untuk menghalau serangan musuh, seperti yang digunakan oleh tentara China melawan serangan bangsa Mongolia pada tahun 1232.

Pengetahuan tentang pembuatan mercon menyebar ke India dan bangsa Barat melalui jalur perdagangan, dan di tangan bangsa Barat, mercon berkembang menjadi roket setelah serangkaian penelitian selama lima abad. Nama "roket" berasal dari Italia "Rocchetta," sebuah petasan kecil yang diciptakan oleh artificer Italia Muratori pada tahun 1379. Robert Anderson, ilmuwan Inggris, memainkan peran penting dengan menciptakan cetakan roket dan campuran bahan bakar roket (propelan) pada tahun 1696. Namun, baru pada awal abad ke-20, ilmuwan seperti Konstantin Tsiolkovsky dari Rusia dan Robert Goddard dari Amerika Serikat bermimpi menggunakan roket untuk perjalanan ke luar angkasa.

Roket modern dimulai dengan penemuan Robert Goddard, seorang insinyur Amerika Serikat, yang meningkatkan daya dorong dan keefisienan roket dengan menempatkan corong de Laval pada kamar pembakaran mesin roket. Pada tahun 1926, Goddard berhasil meluncurkan roket pertama di Auburn, Massachusetts, menggunakan minyak dan oksigen. Di Jerman, roket digunakan sebagai senjata dalam Perang Dunia II, yang kemudian memunculkan pengembangan roket modern oleh Hermann Oberth dan Wernher von Braun.

Setelah Perang Dunia II, teknologi roket dibawa ke Uni Soviet dan Amerika Serikat, yang mengembangkan roket untuk peluru kendali pada tahun 1950-an. Uni Soviet berhasil meluncurkan Sputnik ke orbit pada tahun 1957, diikuti oleh peluncuran kosmonot Yuri Gagarin pada tahun 1961. Amerika Serikat juga mencetak sejarah dengan misi Apollo 11 pada tahun 1969, yang membawa Neil Armstrong dan Edwin Aldrin mendarat di bulan.Saat ini, industri angkasa luar menjadi bisnis yang sangat menjanjikan, dengan roket menjadi sarana utama untuk meluncurkan satelit komersial ke orbit. NASA dan European Space Agency (ESA) adalah dua pemasok utama roket untuk misi ini.

Pada zaman kuno

Ketersediaan bubuk hitam atau mesiu untuk mendorong proyektil adalah salah satu pelopor pengembangan roket berbahan bakar padat. Pada abad ke sembilan, ahli kimia Taoisme Tiongkok menemukan bubuk hitam saat sedang berusaha membuat obat awet muda. Penemuan ini secara kebetulan membawa pada eksperimen senjata seperti bom, meriam, panah api pembakar, dan panah api pembakar berpendorong roket. Penemuan mesiu diperkirakan terjadi selama periode eksperimen produk alkimia.

Pada masa awal di Tiongkok, penggunaan roket terjadi dalam konteks pertempuran. Salah satu catatan pertama penggunaan roket tercatat dalam pertempuran oleh orang Tiongkok pada tahun 1232 melawan Mongol. Laporan menyebutkan panah api dan 'panci besi' yang dapat didengar hingga jarak 5 liga (sekitar 25 km), menyebabkan kerusakan hingga radius 600 meter, mungkin akibat pecahan peluru. Penggunaan roket juga tercatat dalam catatan tentang tikus-tanah pada tahun 1264 yang digunakan untuk mengusir Ibu Suri-Kung Sheng dalam sebuah pesta.

Salah satu teks awal yang mencatat penggunaan roket adalah Huolongjing yang ditulis oleh perwira artileri Tiongkok, Jiao Yu, pada pertengahan abad ke-14. Teks ini juga menyebutkan penggunaan pertama yang diketahui dari roket multi-tahap, yang dikenal sebagai 'api-naga keluar dari air,' yang banyak digunakan oleh Angkatan Laut Tiongkok.

Penyebaran teknologi roket

Teknologi roket pertama kali dikenal di Eropa setelah penggunaannya oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Genghis Khan dan Ogadai Khan saat mereka menaklukkan sebagian wilayah Rusia, Eropa Timur, dan Eropa Tengah. Mongolia memperoleh teknologi ini melalui penaklukan Tiongkok bagian utara dan melibatkan pekerja ahli peroketan Tiongkok sebagai tentara bayaran untuk militer Mongol. Laporan dari Pertempuran Mohi pada tahun 1241 mencatat penggunaan senjata roket-seperti oleh bangsa Mongol terhadap Magyar. Teknologi roket juga menyebar ke Korea pada abad ke-15 dengan penggunaan hwacha beroda yang meluncurkan roket Shin Ki Chon.

Pengaruh Utsmani dalam pengepungan Konstantinopel pada tahun 1453 juga mempercepat penyebaran roket ke Eropa. NASA menyatakan bahwa roket muncul dalam sastra Arab pada tahun 1258 Masehi, yang menggambarkan penyerbuan Mongol menggunakan roket untuk merebut kota Baghdad. Antara tahun 1270 dan 1280, Hasan Al-Rammah menulis buku al-furusiyyah wa al-manasib al-harbiyya (Buku Tentang Penunggang Kuda dan Alat Perang Cerdik), yang mencakup 107 resep bubuk mesiu, 22 di antaranya untuk roket. Namun, resep Al-Rammah dikatakan lebih mudah meledak daripada roket yang digunakan di Tiongkok pada saat itu.

Nama "roket" berasal dari Italia "Rocchetta" yang merujuk pada sekering kecil, yang diciptakan oleh ahli seni Italia Muratori pada tahun 1379.Antara tahun 1529 dan 1556, Conrad Haas menulis buku yang menggambarkan teknologi roket, termasuk gerakan roket multi-tahap, campuran bahan bakar, dan pengenalan fin berbentuk Delta dan nozzle berbentuk lonceng.

Pada akhir abad ke-18, roket digunakan dalam peperangan di India melawan Inggris, yang kemudian memajukan teknologi roket tersebut lebih lanjut pada abad ke-19. William Congreve menjadi tokoh utama dalam bidang roket saat itu. Penggunaan roket dalam peperangan meluas di Eropa, dan lampu merah roket bahkan menjadi inspirasi untuk lagu kebangsaan Amerika Serikat, "The Star-Spangled Banner".

Meskipun teknologi roket pada saat itu tidak efisien, roket modern dimulai ketika Robert Goddard memasukkan corong de Laval pada kamar pembakaran mesin roket, meningkatkan daya dorong dan efisiensi, membuka kemungkinan perjalanan vertikal ke angkasa. Teknik ini kemudian digunakan dalam roket V-2, yang dirancang oleh Wernher Von Braun, yang memainkan peran penting dalam memajukan roket modern. V-2 digunakan secara luas oleh Jerman Nazi sebagai senjata teror terhadap Inggris pada akhir Perang Dunia II, menandai awal Zaman Angkasa.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Roket