1. Pendahuluan
Dalam banyak kasus pencemaran lingkungan, masalahnya bukan karena manusia tidak tahu bahwa limbah itu berbahaya. Masalahnya justru karena limbah sering hadir dalam bentuk yang “terlihat biasa,” menyebar perlahan, lalu menjadi normal baru. Kita baru panik ketika bau menyengat muncul, ketika tanah menjadi hitam pekat, atau ketika air sungai berubah warna. Padahal pada saat itu, pencemaran biasanya sudah terlanjur masuk ke sistem ekologis—menempel pada tanah, meresap ke air tanah, dan bergerak ke rantai makanan dengan cara yang nyaris tak kasat mata.
Salah satu bentuk pencemaran yang sering membawa dampak panjang adalah pencemaran organik kompleks, terutama yang bersumber dari minyak dan turunannya. Minyak bukan hanya kotoran yang “menutupi permukaan tanah.” Ia adalah campuran senyawa yang sulit diurai, sebagian bersifat toksik, sebagian mudah menguap, sebagian lagi justru menempel kuat pada partikel tanah dan bertahan lama. Ketika pencemaran minyak terjadi di lokasi industri, kawasan pesisir, atau area terpencil, proses pemulihannya hampir selalu berhadapan dengan dua pertanyaan besar: bagaimana membersihkan tanpa merusak lingkungan lebih jauh, dan bagaimana memastikan pencemar benar-benar hilang, bukan sekadar dipindahkan tempat.
Di titik ini, rekayasa proses biologi dalam teknik lingkungan menjadi pendekatan yang terasa paling masuk akal. Ia tidak memulai dengan ide “mengangkat semua tanah lalu membuangnya,” tetapi dengan ide yang lebih halus: mempercepat proses alamiah yang sebenarnya sudah terjadi, yaitu biodegradasi oleh mikroorganisme. Mikroba memang bukan pahlawan romantis yang bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, tetapi mereka memiliki kemampuan yang unik: mereka bisa memecah pencemar organik menjadi senyawa sederhana, asalkan kondisi lingkungannya tepat.
Artikel ini membahas rekayasa bioproses dan penerapannya dalam pengendalian pencemaran secara naratif-analitis. Pembahasan diarahkan untuk menunjukkan bahwa bioremediasi bukan sekadar “menebar bakteri,” melainkan pekerjaan teknik yang membutuhkan desain, kontrol, dan ketelitian. Di balik kalimat sederhana seperti “biodegradasi berlangsung,” ada banyak variabel yang harus dipastikan: oksigen cukup, nutrien seimbang, pH sesuai, suhu mendukung, dan mikroba yang dipakai memang memiliki kemampuan untuk “memakan” senyawa yang kita anggap sebagai masalah.
2. Biodegradasi Itu Tidak Pernah Sesederhana Persamaan Kimia
Di banyak buku pelajaran, biodegradasi sering disederhanakan menjadi persamaan reaksi yang rapi. Satu molekul gula bereaksi dengan oksigen, lalu menghasilkan karbon dioksida dan air. Pada level teori dasar, ini tidak salah. Tetapi di lapangan, persamaan itu terlalu bersih untuk menggambarkan kenyataan. Pencemar yang ada di lingkungan bukan hanya “gula.” Ia adalah campuran senyawa dengan struktur kompleks, ukuran molekul yang besar, kelarutan rendah, bahkan kadang membawa gugus kimia yang membuatnya sulit terurai.
Yang membuat biodegradasi bekerja bukan persamaannya, tetapi katalisnya. Dan katalis itu adalah mikroorganisme. Mikroba adalah mesin biologis yang bekerja dengan naluri paling sederhana: bertahan hidup. Mereka akan memakan apa yang paling mudah dimakan terlebih dulu. Mereka akan tumbuh jika ada sumber karbon dan energi. Mereka akan melambat jika kekurangan nutrien, atau jika lingkungan terlalu asam, terlalu panas, atau terlalu miskin oksigen. Dalam praktik, biodegradasi adalah drama kecil tentang kecocokan antara mikroba dan lingkungan.
Salah satu tantangan paling mendasar adalah bahwa pencemar sering tidak “ramah” bagi mikroba. Ada senyawa yang terlalu besar sehingga tidak bisa masuk ke dalam sel. Ada senyawa seperti minyak yang sulit larut dalam air, sehingga mikroba kesulitan mengaksesnya. Ada senyawa yang mengandung halogen atau struktur tertentu yang memerlukan enzim khusus untuk dipecah. Ketika senyawa seperti ini bercampur dengan senyawa lain yang lebih mudah dicerna, mikroba cenderung memilih yang mudah, dan membiarkan yang sulit tetap bertahan di lingkungan.
Di sinilah rekayasa bioproses mengambil peran. Rekayasa bukan berarti memaksa mikroba bekerja di luar kemampuannya, tetapi mengatur kondisi agar mikroba bisa melakukan pekerjaan dengan efisien. Ini termasuk mengatur bagaimana pencemar “dibuat lebih mudah dimakan,” bagaimana oksigen masuk, bagaimana nutrien diberikan, dan bagaimana sistem dibuat stabil agar mikroba tidak “mogok.”
Pemahaman ini penting karena banyak kegagalan bioremediasi bukan karena mikroba tidak ada, tetapi karena kita memperlakukan proses biologis seolah ia otomatis berjalan. Padahal mikroba adalah makhluk hidup. Mereka perlu kondisi yang sesuai, dan mereka punya preferensi. Jika mereka diberi pilihan makanan yang enak, mereka bisa mengabaikan pencemar yang lebih berbahaya. Jika mereka kekurangan fosfor atau nitrogen, mereka tidak bisa tumbuh optimal. Jika oksigen tidak masuk ke tanah yang padat, proses aerobik yang diharapkan tidak akan berjalan.
Pada akhirnya, bioremediasi yang efektif bukan hanya soal “menghadirkan mikroba,” tetapi soal membuat ekosistem kecil yang mendukung kerja mikroba. Dan untuk membuat ekosistem kecil itu berjalan, dibutuhkan pengetahuan teknik yang sama seriusnya dengan merancang reaktor di industri.
3. Rekayasa Reaktor Biologi: Dari Kolam Detensi Besar ke Sistem Lumpur Aktif
Kalau biodegradasi adalah kerja mikroba, maka rekayasa bioproses adalah cara manusia mengatur kerja itu agar berguna, stabil, dan bisa diprediksi. Di sinilah teknik lingkungan bertemu dengan realitas yang sering tidak romantis: pencemar itu ada setiap hari, volume limbah tidak pernah berhenti, dan masyarakat tidak bisa menunggu proses alamiah “berjalan sendiri” dengan kecepatan yang tidak jelas.
Di skala sistem, pengendalian pencemaran organik lewat proses biologis biasanya berangkat dari ide paling logis: beri waktu bagi mikroorganisme untuk bekerja. Maka muncullah konsep waktu tinggal atau waktu detensi. Semakin lambat mikroba tumbuh, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan kadar pencemar. Dan semakin lama waktu yang dibutuhkan, semakin besar volume reaktor yang harus disediakan. Dalam bahasa yang sederhana: kalau proses biologinya lambat, infrastrukturnya membengkak.
Ini menjelaskan mengapa sistem pengolahan air limbah konvensional sering hadir dalam bentuk kolam besar. Ia bekerja, tapi “makan tempat.” Di beberapa lokasi, kolam ini bisa menjadi solusi karena lahan tersedia. Namun di kota-kota yang padat, atau di kawasan industri dengan nilai lahan yang tinggi, kolam besar bukan opsi yang realistis. Di sinilah lahir kebutuhan untuk membuat proses biologis menjadi lebih intensif: waktu pengolahan lebih singkat, reaktor lebih ringkas, tetapi efisiensinya tetap tinggi.
Salah satu cara berpikir yang cukup menentukan adalah dengan memahami bahwa mikroba tidak hanya perlu “waktu,” tetapi juga perlu “usia.” Dalam sistem biologis, komposisi komunitas mikroba sangat dipengaruhi oleh umur lumpur atau sludge age. Mikroba yang “muda” cenderung cepat tumbuh dan cocok untuk pencemar yang mudah diurai. Mikroba yang “tua” lebih adaptif untuk senyawa yang sulit dipecah, karena mereka butuh waktu lebih lama untuk mengembangkan enzim dan mekanisme degradasinya.
Konsep ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya besar. Dengan mengatur umur lumpur, operator sebenarnya sedang mengatur jenis mikroba dominan di dalam reaktor, dan itu berarti mengatur kemampuan reaktor dalam menghadapi karakter limbah yang berbeda. Limbah dari industri makanan dan minuman tidak sama dengan limbah yang mengandung senyawa toksik atau kompleks. Limbah domestik tidak sama dengan limbah dari proses petrokimia. Jika reaktor diperlakukan dengan “cara sama,” maka hasilnya sering tidak stabil.
Di titik ini, sistem lumpur aktif menjadi salah satu bentuk rekayasa yang paling masuk akal. Ia memungkinkan kontrol yang lebih ketat terhadap kondisi biologis, bukan hanya dengan memberikan oksigen, tetapi dengan mengatur sirkulasi lumpur, pembuangan lumpur, dan beban organik yang masuk. Dibanding kolam besar yang berjalan pasif, lumpur aktif adalah sistem yang lebih “aktif” dalam arti sebenarnya: ia dikelola sebagai proses yang dikendalikan, bukan sekadar dibiarkan.
Di dalam sistem seperti ini, teknik lingkungan bukan lagi sekadar mengandalkan mikroba, tetapi mengatur mikroba sebagai pasukan yang harus diberi logistik, diberi ruang kerja, dan diberi ritme hidup yang tepat. Jika logistiknya salah—misalnya oksigen kurang atau nutrien tidak seimbang—mikroba tidak bekerja optimal. Jika ritmenya salah—misalnya umur lumpur terlalu pendek—maka mikroba yang dibutuhkan untuk polutan kompleks belum sempat “dewasa.” Dan jika kontrolnya lemah, sistem bisa mengalami gangguan yang terlihat sederhana tapi efeknya besar: bau muncul, lumpur mengembang, kualitas effluent menurun.
Yang menarik, perspektif ini juga membantu kita melihat bahwa ukuran “keberhasilan” pengolahan tidak hanya berasal dari angka keluarannya, tetapi dari stabilitas prosesnya. Banyak instalasi pengolahan air limbah bisa sesekali menghasilkan air yang baik, tapi gagal menjaga konsistensi. Di industri, konsistensi justru lebih penting daripada keberhasilan sesaat, karena pencemaran bukan kejadian sekali, melainkan beban harian yang harus ditangani sebagai rutinitas.
Dalam kerangka ini, rekayasa reaktor biologi adalah upaya mengubah proses alami menjadi proses industri. Ia membawa biodegradasi dari dunia ekologi menuju dunia rekayasa, dan membuatnya relevan sebagai sistem yang bisa direplikasi, dipelihara, dan diandalkan.
4. Bioremediasi Lapangan: Ketika Pencemaran Minyak Harus Dipulihkan di Lokasi Nyata
Jika pengolahan air limbah di instalasi bisa diibaratkan sebagai “pabrik” dengan kondisi yang relatif bisa dikontrol, maka bioremediasi lapangan adalah kebalikannya. Lapangan adalah dunia yang liar. Ada cuaca, ada hujan, ada tanah yang padat, ada lokasi yang sulit dijangkau, ada pencemar yang tidak seragam, dan ada keterbatasan logistik yang tidak bisa diselesaikan dengan teori.
Pencemaran minyak di lapangan sering terjadi dalam bentuk yang tampak brutal: tanah hitam, genangan pekat, bau yang menempel, atau lapisan minyak yang mengilap di permukaan. Dalam situasi seperti itu, solusi instan yang paling sering muncul adalah menggali dan memindahkan. Tetapi solusi ini biasanya mahal, mengganggu lingkungan, dan sering hanya memindahkan masalah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Bioremediasi menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia berangkat dari keyakinan bahwa minyak dan senyawa organik tertentu bisa diuraikan mikroba, asalkan kita mampu membuat kondisi yang mendukung. Namun di lapangan, mendukung mikroba bukan pekerjaan halus. Ini kerja rekayasa yang sangat nyata: tanah harus diaduk agar oksigen masuk, nutrien harus ditambahkan agar mikroba bisa tumbuh, dan kadar air harus dijaga agar sistem tidak terlalu kering maupun terlalu basah.
Salah satu tantangan terbesar pada pencemaran minyak adalah aksesibilitas. Minyak tidak larut baik dalam air, sementara mikroba hidup dalam fase air. Akibatnya, minyak bisa “ada” tetapi tidak bisa dimakan, karena mikroba tidak mampu menjangkaunya. Di sinilah konsep tambahan seperti biosurfaktan menjadi penting. Biosurfaktan membantu minyak menjadi lebih terdispersi atau teremulsi, sehingga permukaannya lebih mudah diakses mikroba. Ini mengubah skenario degradasi: bukan lagi mikroba mengejar minyak yang sulit disentuh, tetapi minyak dibuat lebih “terbuka” untuk dikerjakan.
Selain itu, ada persoalan lokasi. Pencemaran minyak sering terjadi di tempat yang jauh dari infrastruktur. Ada area yang tanahnya begitu padat sehingga oksigen tidak bisa masuk, sehingga proses aerobik sulit berjalan. Ada lokasi yang tidak memungkinkan alat berat masuk, sehingga semua kerja harus dilakukan dengan cara sederhana, bahkan manual. Ada pula kasus di mana pencemaran terlihat di satu titik, tetapi ternyata residunya menyusup ke tempat lain, menumpuk di lapisan tanah yang tidak kasat mata.
Di lapangan, proses pemulihan sering kali membutuhkan kombinasi metode. Ada kasus di mana tanah tercemar berat harus diangkat dan ditangani secara terpusat dengan metode seperti biopile—tanah dikumpulkan, diberi sistem aerasi, nutrien, dan mikroba, lalu dipantau hingga kadar pencemar turun. Di sisi lain, area yang tidak memungkinkan pengangkutan tanah bisa menggunakan landfarming, yakni pengolahan di lokasi dengan pengadukan berkala, penambahan nutrien, dan pengaturan kelembapan.
Yang menarik dari metode-metode ini adalah bahwa ia memperlihatkan rekayasa dalam bentuk yang sangat manusiawi. Ada elemen “memasak” di dalamnya: bahan dicampur, kondisi dijaga, udara diatur, proses dipantau, dan hasilnya tidak instan. Tetapi bedanya, yang dimasak bukan makanan, melainkan sistem biologis yang ditugaskan memulihkan lingkungan.
Pemantauan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Karena tanpa data, bioremediasi mudah menjadi klaim tanpa bukti. Kadar TPH (total petroleum hydrocarbon) menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat progres, dari kondisi awal yang sangat tinggi menuju kadar yang memenuhi baku mutu. Pemantauan ini juga membantu operator melihat apakah proses berjalan stabil atau mengalami stagnasi, misalnya karena kekurangan oksigen atau kondisi terlalu basah akibat hujan.
Di titik ini, kita bisa melihat bahwa bioremediasi bukan “solusi murah” dalam arti biaya nol. Ia butuh tenaga, waktu, desain, dan pengawasan. Namun bioremediasi punya kekuatan yang sering tidak dimiliki metode lain: ia memulihkan tanpa meninggalkan kerusakan tambahan. Ia tidak menggali semua tanah lalu menghilangkan struktur ekologi, tetapi bekerja bersama proses alami untuk mengurangi pencemar dari dalam sistem.
Dan mungkin inilah nilai paling penting dari rekayasa proses biologi dalam teknik lingkungan. Ia mengajarkan bahwa pengendalian pencemaran bukan hanya soal mengurangi konsentrasi senyawa, tetapi soal memulihkan fungsi lingkungan. Tanah yang pulih bukan sekadar tanah yang “bersih dari minyak,” tetapi tanah yang bisa kembali menjadi medium kehidupan.
5. Dari Produk Mikroba ke Teknologi Lapangan: Petroleum Remediating Agent dan Biosurfaktan
Kalau bioremediasi sering dipahami sebagai “proses alamiah yang dipercepat,” maka bagian yang sering dilupakan adalah kenyataan bahwa percepatan itu butuh alat. Mikroba tidak bisa bekerja maksimal hanya karena kita berharap mereka bekerja. Mereka butuh sistem yang membuat mereka mampu bertahan, berkembang, dan mengakses pencemar yang kita ingin hilangkan. Dan dalam pencemaran minyak, tantangan terbesar bukan hanya mengurai, tetapi “menjangkau.”
Minyak adalah contoh pencemar yang problematik karena ia tidak selalu berada dalam bentuk yang mudah disentuh. Ada yang mengapung, ada yang menempel pada tanah, ada yang masuk ke pori-pori material, ada yang menempel pada batu dan karang, dan ada yang membentuk lapisan pekat di tempat yang tampaknya tenang. Mikroba hidup di fase air, sementara minyak sering membentuk fase terpisah. Ketika minyak dan mikroba terpisah, biodegradasi tidak lagi ditentukan oleh kemampuan mikroba, tetapi oleh seberapa besar “kontak” yang bisa terjadi di antara keduanya.
Di titik inilah muncul kebutuhan untuk mengubah bioremediasi menjadi paket teknologi, bukan hanya konsep. Salah satu gagasan yang relevan adalah petroleum remediating agent, yaitu formulasi mikroba yang dikembangkan secara terarah untuk menangani pencemaran minyak. Ide dasarnya sederhana, tetapi eksekusinya tidak sederhana: mikroba diisolasi dari lokasi yang memang sudah tercemar, lalu dipilih yang punya kemampuan degradasi paling baik, kemudian dikembangkan agar jumlahnya memadai dan bisa digunakan di lapangan.
Ada pesan penting di balik langkah ini: bioremediasi yang efektif sering kali lebih kuat jika menggunakan mikroba lokal. Mikroba lokal sudah terbiasa dengan kondisi setempat dan, dalam banyak kasus, sudah “terlatih” menghadapi pencemar yang sama. Menggunakan mikroba yang diambil dari lingkungan tercemar juga berarti kita sedang memanfaatkan adaptasi alam, bukan menggantinya dengan sesuatu yang asing. Pendekatan ini sekaligus mengurangi resistensi ekologis dan lebih mudah diterima dalam kerangka kehati-hatian lingkungan.
Namun mikroba saja tidak cukup. Karena masalah minyak sering bukan pada “ada atau tidaknya mikroba,” melainkan pada “apakah minyaknya bisa dimakan.” Di sinilah biosurfaktan menjadi bagian yang menarik sekaligus krusial. Biosurfaktan adalah senyawa yang diproduksi mikroba, biasanya berbentuk molekul yang punya dua sisi: satu sisi suka air, sisi lain suka minyak. Karakter ini memungkinkan minyak yang berat dan sulit larut menjadi teremulsi, sehingga ukurannya lebih kecil dan permukaan kontaknya meningkat.
Dalam istilah yang lebih mudah dibayangkan, biosurfaktan membuat minyak tidak lagi menjadi “gumpalan yang keras kepala,” tetapi menjadi “butiran yang bisa disentuh.” Ketika kontak meningkat, peluang degradasi meningkat.
Dampaknya sangat nyata di lapangan. Pada kasus pencemaran di area pantai misalnya, minyak sering menempel pada batu dan karang. Pembersihan manual dengan sabun atau bahan kimia bisa memunculkan masalah baru: residu kimia yang tidak ramah lingkungan, gangguan pada biota, dan potensi pencemaran lanjutan. Biosurfaktan memberi jalur yang lebih masuk akal karena sifatnya lebih kompatibel dengan sistem biologis. Minyak bisa lebih mudah dilepaskan dari permukaan, lalu dikendalikan agar tidak menyebar kembali ke air laut.
Tetapi bioremediasi di lapangan selalu mengingatkan kita pada satu kenyataan: teknologi terbaik pun tidak akan banyak berarti jika kondisi tanah tidak mendukung. Tanah yang padat membuat oksigen sulit masuk, dan tanpa oksigen proses aerobik melambat. Kelembapan yang terlalu tinggi membuat pori tanah dipenuhi air, sehingga aliran udara terhambat. Kelembapan yang terlalu rendah membuat mikroba kehilangan medium hidupnya. Maka pekerjaan bioremediasi sering terasa seperti menjaga keseimbangan yang rapuh: cukup basah untuk mikroba, cukup kering untuk oksigen, cukup nutrien untuk pertumbuhan, tetapi tidak berlebihan hingga menimbulkan efek samping.
Hal ini membuat bioremediasi menjadi pekerjaan yang sangat “teknis namun lapangan.” Ada momen ketika oksigen harus dimasukkan dengan blower dan pipa aerasi. Ada kondisi ketika tanah harus dibalik menggunakan alat sederhana karena alat berat tidak bisa masuk. Ada situasi ketika area remediasi harus ditutup seperti lapangan tenis—bukan untuk estetika, tetapi untuk menjaga kondisi agar hujan tidak merusak keseimbangan proses.
Dalam konteks ini, petroleum remediating agent dan biosurfaktan bukan sekadar produk laboratorium. Mereka adalah penghubung antara konsep biodegradasi dan kenyataan lapangan. Mereka membuat kerja mikroba menjadi lebih bisa dikendalikan, lebih konsisten, dan lebih efektif untuk target pencemar yang sulit.
Pada akhirnya, pendekatan ini memperlihatkan satu hal yang sering luput: bioremediasi bukan “metode murah,” tetapi metode yang rasional. Ia mengurangi risiko pemindahan pencemar, meminimalkan kerusakan lanjutan, dan memberi peluang pemulihan yang lebih natural. Yang dibutuhkan bukan keajaiban, melainkan disiplin rekayasa.
6. Kesimpulan: Bioremediasi sebagai Perpaduan Sains, Rekayasa, dan Kesabaran Lapangan
Dari seluruh pembahasan ini, kita bisa melihat bahwa rekayasa proses biologi dalam teknik lingkungan bekerja dengan logika yang sangat jelas: pencemar organik bisa diurai, tetapi prosesnya tidak otomatis. Mikroba bisa menjadi mesin pemulihan, tetapi mesin itu hidup, punya kebutuhan, dan punya keterbatasan. Maka tanggung jawab manusia bukan sekadar “membiarkan mikroba bekerja,” melainkan menciptakan kondisi agar kerja itu terjadi dengan efisien.
Biodegradasi di alam memang selalu berlangsung, tetapi dalam banyak kasus pencemaran, kecepatan alamiah terlalu lambat dibandingkan risiko yang ditanggung masyarakat dan lingkungan. Itulah mengapa rekayasa bioproses dibutuhkan. Ia mempercepat tanpa merusak, mengolah tanpa memindahkan masalah, dan memulihkan tanpa meninggalkan luka baru.
Di sisi sistem, rekayasa reaktor biologi menunjukkan bahwa pengendalian pencemaran bisa diperlakukan seperti proses industri. Kita bisa mengatur umur lumpur, mengatur beban organik, mengatur pasokan oksigen, dan menstabilkan komunitas mikroba agar hasilnya konsisten. Di sisi lapangan, bioremediasi memperlihatkan bahwa pemulihan lingkungan tidak selalu bisa dijalankan dengan cara “bersih dan steril.” Ia sering terjadi di lokasi yang sulit, dengan kondisi yang tidak ideal, dan membutuhkan strategi yang adaptif.
Yang membuat pendekatan ini semakin relevan adalah kenyataan bahwa pencemaran tidak berhenti. Industri terus berjalan, aktivitas manusia terus bertambah, dan risiko pencemaran selalu muncul dalam bentuk baru. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengembangkan teknologi pemulihan berbasis biologi menjadi semakin penting, karena ia memberi solusi yang lebih selaras dengan cara kerja ekosistem.
Namun pembelajaran terbesar dari bioremediasi bukan hanya teknologinya. Pembelajaran terbesarnya adalah perubahan cara pandang. Pemulihan lingkungan bukan sekadar mengejar angka baku mutu, tetapi mengembalikan fungsi. Tanah yang pulih bukan hanya tanah yang kadar pencemarnya turun, tetapi tanah yang kembali bisa “hidup.” Air yang pulih bukan hanya air yang jernih, tetapi air yang kembali aman bagi ekosistem. Dan dalam pengertian itu, bioremediasi bukan hanya strategi pembersihan, tetapi strategi pemulihan.
Di masa depan, pendekatan semacam ini akan semakin dibutuhkan, bukan hanya untuk minyak tetapi juga untuk berbagai pencemar organik kompleks yang muncul dari aktivitas industri modern. Dengan rekayasa yang tepat, dukungan riset yang konsisten, dan penerapan yang hati-hati di lapangan, proses biologi bisa menjadi salah satu alat paling rasional yang kita miliki untuk menghadapi tantangan pencemaran yang semakin rumit.
Daftar Pustaka
Kardena, E. (2024). Rekayasa proses biologi dan penerapannya pada bidang teknik lingkungan untuk pengendalian pencemaran. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.
Atlas, R. M., & Hazen, T. C. (2011). Oil biodegradation and bioremediation: A tale of the two worst spills in U.S. history. Environmental Science & Technology, 45(16), 6709–6715.
Das, N., & Chandran, P. (2011). Microbial degradation of petroleum hydrocarbon contaminants: An overview. Biotechnology Research International, 2011, 941810.
Mulligan, C. N. (2005). Environmental applications for biosurfactants. Environmental Pollution, 133(2), 183–198.
Vidali, M. (2001). Bioremediation: An overview. Pure and Applied Chemistry, 73(7), 1163–1172.