PT Kimia Farma, Industri Farmasi Pertama Indonesia, dengan Pelayanan Kesehatan yang Terintegrasi dan Tetap Berjaya

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

16 Februari 2024, 09.38

wahananews.co

Selama ini PT Kimia Farma (Persero) Tbk atau Kimia Farma selalu menjadi pilihan warga Indonesia dalam mencari obat-obatan & produk kesehatan lainnya. Dengan 46 cabang trading & distribution serta 45.000 gerai apotek yang tersebar pada seluruh Indonesia, Kimia Farma menghadirkan fasilitas kesehatan yang lengkap, yakni apotek, klinik, & laboratorium klinik. Menjadikannya sebagai perusahaan dengan pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Kimia Farma adalah perusahaan farmasi pertama di Indonesia. Didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1817, mula kemunculannya Kimia Farma bernama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Pada 1958, menurut kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi Perusahaan Negara Farmasi (PNF) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada 16 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

Pada tanggal 4 Juli 2001, Kimia Farma balik mengganti statusnya menjadi perusahaan publik, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Adanya perubahan tersebut mencatatkan Perseroan dalam Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten KAEF. Komposisi saham yang ada dibagi menjadi 90,025% milik pemerintah & 9,975% milik publik. Melalui proses inbreng (penyetoran modal berupa barang atau harta) yang dilaksanakan Pemerintah Republik Indonesia pada 28 Februari 2020, kepemilikan 4.999.999.999 saham seri B dialihkan kepada PT Biofarma.

Pada perkembangannya, Kimia Farma menjadi perusahaan dengan pelayanan kesehatan (healthcare) terintegrasi di Indonesia. Selain apotek & klinik, bidang usaha healthcare Kimia Farma didukung oleh aktivitas manufaktur farmasi, riset & pengembangan, pusat perdagangan & distribusi, pemasaran, serta ritel farmasi.

Industri Farmasi Indonesia Jadi Mandiri

Adanya kebijakan pemerintah untuk melancarkan Program Kemandirian Bahan Baku Obat Nasional yang tertuang dalam roadmap Kementerian Kesehatan dan Paket Kebijakan Ekonomi XI yang dituangkan dalam Instruksi Presiden RI No. 6 Tahun 2016 mengenai Percepatan Pengembangan Industri Farmasi & Alat Kesehatan, Kimia Farma membentuk fasilitas produksi yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan akan impor Bahan Baku Obat (BBO).

Terdapat enam fasilitas produksi pada berbagai kota di Indonesia yang menjadi tulang punggung dari segmen industri ini, yakni Plant Jakarta, Plant Bandung, Plant Semarang, Plant Sarolangun (Jambi), Plant Watudakon (Jawa Timur), & Plant Tanjung Morawa (Medan).

Keenam pabrik itu masing-masing mempunyai spesialisasi produksi, seperti etikal, obat bebas, generik, narkotika, lisensi & bahan baku. Pembagian lini ini dilakukan demi memenuhi pasokan obat-obatan & produk kesehatan yang akan didistribusikan ke seluruh Indonesia. Keberadaan pabrik inilah yang menghasilkan Indonesia sanggup mandiri dalam memproduksi BBO.

Tak hanya memasok kebutuhan dalam negeri, Kimia Farma juga sudah melakukan perluasan bisnisnya sampai pasar mancanegara. Produk-produk Kimia Farma yang meliputi produk obat jadi & sediaan farmasi serta bahan baku obat misalnya iodine & quinine sudah memasuki pasar di India, Jepang, Taiwan & Selandia Baru, serta negara-negara Eropa. Sementara produk jadi & kosmetik sudah didistribusikan ke Yaman, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Vietnam, Sudan, & Papua Nugini.

Saat ini produk-produk herbal dari bahan alami menjadi sasaran primer korporasi untuk periode mendatang dengan adanya potensi penjualan & minat kepada negara lain untuk melakukan kontak usaha dengan perusahaan. Untuk itu, produk herbal tadi juga sudah dipersiapkan proses registrasinya untuk melantai pada market baru, misalnya Filipina, Myanmar, Pakistan, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain & Bangladesh.

Kimia Farma Bersinergi dalam Holding BUMN Farmasi

Pada akhir Januari lalu, ditetapkan holding BUMN farmasi dengan formasi Kimia Farma & PT Indofarma Tbk sebagai anggota holding, sementara PT Bio Farma (Persero) sebagai kepalanya. Kerja sama ini ditandai dengan munculnya surat persetujuan dari Menteri BUMN selaku RUPS yang menyetujui pengalihan seluruh saham seri B milik Negara Republik Indonesia dalam Kimia Farma juga Indofarma ke PT Bio Farma.

Tujuan dari holding BUMN Farmasi ini artinya selain untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, juga untuk menaikkan ketersediaan produk, dengan membuat penemuan bersama dalam penyediaan produk farmasi untuk mendukung ekosistem farmasi dimasa yang akan datang.

“Diharapkan masing – masing dari perusahaan ini, akan menunjukkan kontribusi dalam ketahanan farmasi nasional, sehingga harga produk farmasi dapat lebih murah, sebab adanya penurunan harga API & warga akan lebih mudah mendapatkan produk farmasi dengan jaringan distribusi yang luas & merata, bahkan sampai ke mancanegara & yang terpenting artinya penemuan – penemuan mampu melahirkan produk baru yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia,” jelas Honesti Basyir, Direktur Utama PT Biofarma.

Sementara Verdi Budidarmo, Direktur Utama Kimia Farma mengharapkan holding ini bisa menghasilkan sinergi bersama atas hilirisasi produk sehingga pasokan produk farmasi mampu didistribusi secara merata di Indonesia.

“Bahwa dengan holding BUMN farmasi ini akan mendukung hilirisasi produk Kimia Farma, Bio Farma & Indofarma. Mengingat saat ini Kimia Farma mempunyai rantai usaha dari hulu ke hilir (retail farmasi, distribusi, laboratorium diagnostik, & klinik kesehatan),” tambah Verdi.

Diharapkan, holding BUMN Farmasi hadir untuk negeri & turut serta membuat bangsa Indonesia yang sehat dengan produk – produk bioteknologi, farmasi & healthcare kelas dunia yang berdaya saing global.

Disadur dari: https://bumn.info/2020/03/13/pt-kimia-farma-industri-farmasi-pertama-indonesia-dan-tetap-berjaya/