Proyeksi Pertumbuhan Industri Keramik di Indonesia pada Tahun 2024

Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani

26 April 2024, 12.18

Sumber: industri.kontan.co.id

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memproyeksikan bahwa kinerja industri keramik dalam negeri akan tumbuh positif di tahun 2024.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengatakan, target produksi keramik di tahun 2024 mencapai 445 juta meter persegi (m²) atau naik sekitar 6,4% jika dibandingkan realisasi produksi tahun 2023 sebesar 418 juta m².

"Target produksi 2024 sebesar 445 juta m² dengan estimasi tingkat utilisasi kapasitas produksi nasional di 75%," kata Edy kepada Kontan, Minggu (14/1).

Edy berharap di tahun 2024 penjualan proyek keramik nasional bisa meningkat, mengingat ada sentimen positif dari pembangunan Ibukota Nusantara (IKN) dan insentif PPN yang ditanggung pemerintah untuk sektor properti.

Edy menerangkan, proyek-proyek pada sektor properti akan berkontribusi 25% dari total penjualan keramik nasional di tahun ini. Sementara sisanya berasal dari jalur distribusi atau penjualan langsung ke konsumen melalui keagenan.

"Angka 25% cukup realistis (di tahun 2024)," ujarnya.

Asaki juga optimis kinerja industri akan tetap tumbuh di tahun 2024. Hal ini tercermin dari kapasitas produksi terpasang yang selalu terjadi peningkatan sejak 2020 lalu.

Dalam catatannya, kapasitas produksi keramik nasional berada di level 537 juta per m2 di tahun 2020 silam, kemudian meningkat menjadi 598 juta unit per m2 pada 2023. 

"Optimisme Asaki pasca kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) tercermin dari realisasi peningkatan kapasitas produksi terpasang yang meningkat sejak 2020," ucapnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa industri keramik nasional kini berada dalam zona ekspansi terutama sejak dimulainya penyidikan indikasi tindakan dumping produk impor dari China.

Hal ini mempercepat langkah ekspansi baik dari anggota Asaki maupun para pedagang yang selama ini melakukan importasi.

"Harapan besar bagi kami kebijakan antidumping produk impor China bisa diimplementasikan pada awal 2024 dengan besaran nilai tambahan bea masuk antidumping di atas 75%," jelas Edy.

Asaki juga berharap kebijakan revisi Peraturan Kementerian Perindustrian (Permenperin) soal kewajiban SNI bisa diterapkan awal tahun 2024. 

Sementara itu, untuk meningkatkan daya saing industri keramik nasional, Asaki juga mengharapkan dukungan dari Pemerintah untuk melanjutkan kebijakan HGBT bagi Industri Keramik yang telah terbukti  memberikan banyak multiplier effects.

"Selain melanjutkan kebijakan HGBT di thn 2024, Asaki juga mengharapkan adanya kepastian, kemudahan dan kecepatan bagi Industri Keramik untuk mendapatkan alokasi gas tambahan," tutupnya.

Sumber: industri.kontan.co.id