Laporan World Economic Outlook Update – January 2025 menggambarkan perekonomian global yang berada di persimpangan penting. Pertumbuhan dunia diperkirakan stabil pada 3,3% untuk 2025 dan 2026—angka yang tidak menunjukkan krisis, tetapi juga menandakan bahwa dunia belum kembali ke dinamika pra-pandemi yang lebih kuat.
Di bawah permukaan angka-angka ini, terdapat realitas yang lebih kompleks: ekonomi negara-negara besar bergerak ke arah yang berbeda, kebijakan moneter dan fiskal tidak lagi selaras, dan ketidakpastian perdagangan meningkat tajam. Dunia berada dalam fase “ketahanan rapuh”—stabil secara agregat, tetapi penuh tekanan di banyak titik.
Pertumbuhan Global: Stabil Namun Bergerak dalam Kecepatan yang Berbeda
Amerika Serikat Tetap Menjadi Pusat Gravitasi Ekonomi Dunia
Dengan konsumsi rumah tangga yang solid, pasar tenaga kerja yang kuat, serta kondisi keuangan yang relatif akomodatif, Amerika Serikat menjadi pendorong utama pertumbuhan global. Investasi terus meningkat, terutama di sektor-sektor teknologi, energi bersih, dan infrastruktur.
Keunggulan AS bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi momentum—sebuah kombinasi kebijakan fiskal ekspansif, produktivitas yang meningkat, dan kemampuan perusahaan besar untuk tetap berinovasi di tengah ketidakpastian global.
Eropa Masih Tertahan oleh Struktur yang Kaku
Berbeda dengan AS, Eropa masih berjuang keluar dari fase stagnasi. Lemahnya permintaan eksternal, industrialisasi yang menua, dan tekanan geopolitik membuat kawasan ini bergerak lambat. Investor masih berhati-hati, terutama di tengah ketegangan politik dan pergantian kepemimpinan di berbagai negara besar.
Kondisi ini membuat Eropa menjadi salah satu kawasan dengan prospek pemulihan paling lambat.
Asia: Pertumbuhan Pincang, dengan India Sebagai Sorotan Utama
Asia tetap menjadi penggerak penting perekonomian global, namun kinerjanya beragam:
-
China menghadapi tantangan struktural: lemahnya permintaan domestik, tekanan di sektor real estate, dan konsumsi rumah tangga yang belum benar-benar pulih. Pemerintah menambah stimulus fiskal, tetapi dampaknya terbatas.
-
India, sebaliknya, terus mencatat pertumbuhan kuat. Permintaan domestik besar, transformasi digital meluas, dan arus investasi asing tetap stabil.
-
Negara berkembang Asia lainnya, termasuk ASEAN, bergerak positif meski tidak sekuat periode pra-pandemi.
Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin Berhadapan dengan Tekanan Eksternal
Harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, dan kebijakan negara maju memengaruhi kawasan ini dengan cara yang berbeda:
-
Negara produsen energi menghadapi dilema antara menjaga pendapatan dan mengikuti kebijakan produksi.
-
Afrika Sub-Sahara menunjukkan sinyal peningkatan pertumbuhan, tetapi masih menghadapi hambatan struktural dan pembiayaan.
-
Amerika Latin bergerak moderat, dengan stabilitas politik sebagai faktor penentu bagi banyak negara.
Inflasi Melandai tetapi Tidak Merata: Tekanan Harga Jasa Masih Keras
Secara global, inflasi melambat, tetapi penurunan ini belum sepenuhnya merata. Negara maju mengalami disinflasi yang cukup cepat, meskipun harga jasa tetap menjadi penyumbang tekanan terbesar.
Di negara berkembang, inflasi kerap terhambat oleh:
-
harga pangan yang sensitif terhadap cuaca ekstrem,
-
volatilitas nilai tukar,
-
dan biaya logistik yang belum turun sepenuhnya.
Ekspektasi inflasi masyarakat mulai membaik, tetapi tetap berada di atas level rata-rata dekade sebelum pandemi—menandakan risiko terbalik masih besar jika terjadi kejutan harga energi atau pangan.
Kondisi Keuangan Global Mulai Mengencang di Tengah Divergensi Kebijakan
Kebijakan moneter dunia tidak lagi bergerak seragam. Bank sentral negara maju memiliki ruang pelonggaran terbatas karena inflasi jasa yang keras. Sementara itu, beberapa pasar berkembang mulai menurunkan suku bunga karena inflasi domestik lebih cepat melandai.
Situasi ini menciptakan:
-
perbedaan yield yang semakin lebar,
-
penguatan dolar AS,
-
dan ketidakstabilan aliran modal ke ekonomi rentan.
Penguatan dolar khususnya memberi tekanan pada negara dengan utang luar negeri tinggi, memperbesar biaya pembiayaan dan menekan ruang fiskal.
Perdagangan Global Tertekan oleh Fragmentasi dan Ketidakpastian Kebijakan
Salah satu temuan paling krusial adalah meningkatnya ketidakpastian perdagangan internasional. Kebijakan proteksionisme meningkat, baik melalui tarif, pembatasan ekspor, maupun kebijakan industri yang memprioritaskan produksi domestik.
Dampaknya dirasakan dalam dua cara:
-
investasi jangka panjang tertahan karena prospek rantai pasok yang tidak pasti,
-
perusahaan mengalihkan strategi perdagangan mereka demi mengantisipasi kemungkinan hambatan baru.
Fenomena front-loading—mempercepat impor atau ekspor sebelum risiko tarif diterapkan—menambah volatilitas volume perdagangan.
Risiko Global yang Meningkat: Dari Geopolitik hingga Kebijakan Internal Negara Besar
Prospek ekonomi global 2025 dibayang-bayangi risiko yang semakin kompleks dan saling terkait:
1. Eskalasi proteksionisme
Kebijakan industri agresif, perang tarif, dan pembatasan ekspor dapat mengganggu rantai pasok global dan menghambat investasi.
2. Ketegangan geopolitik
Konflik di Timur Tengah dan Ukraina dapat memicu kejutan harga energi dan gangguan logistik.
3. Kebijakan fiskal negara besar
Belanja fiskal agresif di negara tertentu berpotensi mempercepat pertumbuhan jangka pendek, tetapi dapat menimbulkan tekanan inflasi dan ketidakstabilan pembiayaan jangka panjang.
4. Fragmentasi keuangan
Perbedaan arah kebijakan moneter dapat memperkuat arus modal yang tidak stabil ke emerging markets.
Risiko-risiko ini menciptakan lanskap yang sulit diprediksi, menuntut pemerintah dan bank sentral untuk lebih berhati-hati.
Rekomendasi Kebijakan: Membangun Stabilitas dalam Dunia yang Terfragmentasi
IMF menekankan pentingnya kebijakan yang terkoordinasi dan kredibel untuk menjaga stabilitas jangka panjang:
Kebijakan moneter
Harus tetap fokus pada stabilitas harga, dengan pelonggaran dilakukan hanya ketika inflasi benar-benar dalam tren turun yang meyakinkan.
Kebijakan fiskal
Negara perlu mengurangi defisit secara bertahap sambil tetap menjaga ruang untuk perlindungan sosial dan investasi penting.
Kebijakan nilai tukar dan permodalan
Fleksibilitas nilai tukar dapat menjadi penyangga; intervensi hanya diperlukan ketika volatilitas mengancam stabilitas makro.
Reformasi struktural
Peningkatan produktivitas, digitalisasi, dan perbaikan iklim usaha tetap menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang di banyak negara.
Kerja sama multilateral
Dunia membutuhkan koordinasi dalam perdagangan, perubahan iklim, teknologi, dan pembiayaan. Fragmentasi hanya akan memperlambat pemulihan.
Penutup: Dunia Stabil, tetapi Baru pada Permukaan
Ekonomi global memasuki 2025 dengan stabilitas yang tampak, tetapi fondasinya rapuh. Pertumbuhan tidak merata, inflasi belum sepenuhnya jinak, kondisi keuangan mulai mengetat, dan risiko geopolitik semakin besar.
Untuk melewati fase ini, negara perlu menavigasi lingkungan global yang semakin terfragmentasi dengan kombinasi disiplin kebijakan, investasi jangka panjang, dan kerja sama internasional yang lebih kuat.
Prospek global memang tidak suram, tetapi juga jauh dari aman. Dunia bergerak dengan kecepatan berbeda dan arah yang sering berseberangan—dan stabilitas jangka panjang hanya dapat dicapai melalui ketahanan, adaptasi, dan kebijakan yang berpihak pada masa depan.
Daftar Pustaka
IMF World Economic Outlook Update – January 2025.