Profil PT Solusi Bangun Indonesia

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

26 Februari 2024, 08.41

Sumber: Wikipedia

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SBI, IDX: SMCB, beroperasi dengan merek Dynamix) adalah perusahaan manufaktur semen Indonesia dan anak perusahaan Semen Indonesia Group (SIG).SBI bergerak dalam bidang manufaktur terpadu semen, beton siap pakai dan agregat. SBI memiliki empat pabrik semen di Narogong (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Tuban (Jawa Timur) dan Lhoknga (Aceh) dengan total kapasitas 14,5 juta ton semen per tahun dan mempekerjakan lebih dari 2.400 orang.

Perusahaan ini dahulu bernama Semen Cibinong dan pernah dibeli oleh Semen Nusantara. Perusahaan diakuisisi oleh Holcim pada tahun 2006. Pada tahun 2018, perusahaan diakuisisi oleh Semen Indonesia, dan mulai September 2019, Holcim Indonesia berganti nama menjadi Dynamix di bawah perusahaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Pada tahun 1962, Departemen Geologi Kementerian Pertambangan RI membentuk kelompok penelitian tentang kelayakan pembangunan pabrik semen di Jawa Barat. Semen Gresik bekerja sama dengan Departemen Geologi menandatangani proyek penelitian bahan baku semen di kawasan Klapanunggal, Bogor. Proyek ini berlangsung dari bulan Juni hingga Desember dengan pendanaan dari International Finance Corporation. Pada tahun 1971, PT Semen Tjibinong didirikan. Kaiser Cement and Gypsum Corporation menjadi konsultan bagi pengusaha Indonesia dan Mitsubishi Heavy Industries Jepang untuk pembangunan pabrik tersebut.

Pada bulan Agustus 1975, PT Semen Cibinong dan Indocement yang memproduksi semen portland dengan merek Semen Kujang selesai dibangun dan dibuka oleh Presiden Soeharto Republik Indonesia. Pada tanggal 8 Agustus 1977, perusahaan tersebut menerbitkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dengan singkatan SMCB Emiten. SMCB menjadi salah satu emiten pertama di Indonesia dengan menerbitkan 178.750 saham dengan harga masing-masing Rp 10.000. Pada tahun 1987-1988, perusahaan ini dijual kepada Hanson dan kemudian jatuh ke tangan PT Tirtamas milik Hashim Djojohadikusumo. Majutama menjadikannya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Banyak usaha di Djojohadikusumo yang dijadikan jaminan usaha lain melalui bank. Pada tahun 2002, pasca krisis keuangan, Djojohadikusumo terlibat kasus BLBI, karena dana yang dibayarkan kepada kreditur justru mengalir ke kelompok usahanya sendiri, Semen Nusantara, perusahaan semen yang berbasis di Cilacap. Perusahaan ini didirikan oleh tiga pemilik modal, PT Gunung Ngadeg Jaya Indonesia dan dua perusahaan Jepang, Onoda Cement dan Mitsui, pada tanggal 4 Maret 1974. Perusahaan mengoperasikan beberapa konsesi pertambangan kapur dan tanah liat di Nusakambangan. , Desa Tritih Wetan dan Pabrik di Desa Karangtalun. Peletakan batu pertama pabrik Semen Nusantara dilakukan pada tanggal 19 Juni 1975 dan diresmikan pada tanggal 5 April 1977. Semen Nusantara mulai berproduksi secara komersial pada tanggal 1 September 1977.

Perusahaan tersebut menggunakan mesin yang diimpor dari Perancis, Jerman, Jepang dan Denmark serta mempekerjakan 1.800 orang. rakyat dari Indonesia dan 150 tenaga kerja asing sebagai spesialis. Semen yang diproduksi Semen Nusantara merupakan semen portland tipe I dengan merek Semen Borobudur. Selain produksi semen, Semen Nusantara menjalin kerja sama dengan Dinas Perkeretaapian dalam bidang pengangkutan semen. Kemudian PJKA membangun jalan dari Stasiun Gumilir hingga pabrik semen. Spermo Nusantara juga memiliki satu unit lokomotif pengganti dengan nomor seri BB305 01 yang diproduksi di pabrik Nippon Sharyo Jepang. Namun saat ini lokomotif tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Pada tanggal 14 Juli 1993, Semen Cibinong resmi mengakuisisi Semen Nusantara setelah sebelumnya berubah status dari perusahaan patungan Indonesia-Jepang menjadi PMDN penuh pada tanggal 10 Juni tahun yang sama. PT Semen Andalas Indonesia (SAI) merupakan perusahaan semen yang berasal dari Lhoknga, Aceh Besar.

Awalnya lahir dari penelitian bahan baku semen yang dilakukan oleh PT Rencong Aceh Semen antara tahun 1976 hingga 1979. Untuk merealisasikan ide tersebut, Rencong Aceh Semen mendirikan perusahaan patungan dengan Blue Circle Industries dari Inggris dan Cementia Holding dari Swiss. Perusahaan patungan tersebut diberi nama PT Semen Andalas Indonesia. Semen Cibinong membeli pabrik Semen Dwima Agung di Tuban pada tahun 1995 dan mengubahnya menjadi Semen Cibinong Unit Tuban. Holcim mengaudit Semen Cibinong dan menjadi pemegang sahamnya pada 13 Desember 2001. Perusahaan tersebut berganti nama menjadi PT Holcim Indonesia Tbk. Pada tanggal 1 Januari 2006, setelah Holcim membeli 77,33% saham perusahaan dari Djojohadikusumo. Pada tahun 2009, Wuriyanto mengajukan gugatan pada tanggal 23 Januari 2009 sebagai pemegang saham tunggal Semen Nusantara. Wuriyanto mengaku memiliki 10% saham perseroan dan juga mengaku tidak menerima uang sepeser pun dari penjualan saham Semen Nusantara saat Semen Cibinong membelinya. Holcim memiliki saham Wuriyanto senilai $2,4 juta. Pada bulan Februari 2016, PT Semen Andalas Indonesia yang berganti nama menjadi Lafarge Cement Indonesia menyelesaikan merger senilai Rp 2,13 triliun dengan Holcim Indonesia. Pada tahun 2019, Semen Indonesia (yang menjadi induk Semen Gresik pada tahun 2014) menjadi mitra Holcim. Sperm Indonesia kemudian mengakuisisi 80,6% saham Grup LafargeHolcim di PT Holcim Indonesia Tbk. Hal ini otomatis mengakibatkan hilangnya hak pengelolaan merek Holcim. Selain mengakuisisi saham perusahaan tersebut, Holcim berganti nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. dan memperkenalkan merek semen baru Dynamix. Peluncuran nama dan merek perusahaan dilaksanakan di Bogor Icon Hotel pada tanggal 3 Oktober 2019.

 

Disadur dari https://id.wikipedia.org/wiki/Solusi_Bangun_Indonesia