Produk Baja Lapis Raih Sertifikasi 'Green Label

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

06 Maret 2024, 07.34

Sumber: kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu industri manufaktur pendukung pembangunan gedung atau rumah adalah produksi baja lapis aluminium. Perusahaan produk diharapkan terus menggunakan konsep industri hijau.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong sektor manufaktur untuk beralih ke pembangunan berkelanjutan.

Salah satu tugasnya adalah menerapkan konsep industri hijau berdasarkan prinsip penggunaan bahan yang baik, dapat digunakan kembali, ramah lingkungan, dan berkelanjutan serta memanfaatkan limbah sebagai energi alternatif.

“Sejak tahun 2010, Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Energi memberikan Penghargaan Industri Hijau kepada perusahaan industri dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Senin (26 April 2021).

Sehubungan dengan hal tersebut, Lian Hoa, General Manager PT Tata Metal Lestari, pemimpin industri di sektor baja, mengatakan upaya pemerintah dalam pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu cara para pihak untuk mendukung semua pihak.

Menurut Lian, industri hijau adalah industri yang berfokus pada penggunaan sumber daya secara efisien dan berkelanjutan dalam proses produksinya, yang dapat menjamin perkembangan industri dan melindungi lingkungan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Disebutkan bahwa ruang lingkup pengembangan industri hijau adalah standar industri hijau dan penyediaan fasilitas industri hijau.

“Penerapan industri hijau dilakukan dengan memenuhi standar industri hijau (SIH), dan mampu melaksanakan ketentuan tersebut. Dijelaskan label (GL) yang digunakan untuk melakukan sertifikasi keluar” melalui rangkaian pemeriksaan dan metode pengujian dari Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) yang terakreditasi.


Nexalume salah satu produk Tata Metal Lestari telah mendapat label hijau. Lian mengatakan, sebelum Nexalume mendapatkan Sertifikat Emas Label Hijau, perusahaan juga telah melalui pemeriksaan dan pengujian oleh inspektur industri hijau dari Green Label Indonesia yang menerima sertifikat tersebut. Pengalaman dalam audit industri ramah lingkungan.

"Jadi semuanya dinilai. , mulai dari teknologi, pekerja, bahan baku hingga limbah, kami bekerja sama dengan perusahaan Rio Tinto yang menawarkan produk aluminium berkelanjutan, untuk memeriksa semuanya sesuai standar standar, mulai dari parameter penerapan lingkungan terhadap standar standar Green Label Indonesia Checklist Standar yang baik ditetapkan oleh,” kata Lian.

Rio Tinto menjelaskan bahwa PT Tata Metal Lestari merupakan salah satu pelanggan yang menerima label aluminium bertanggung jawab sebagai bagian dari fokusnya pada industri berkelanjutan.

Lian juga mengatakan bahwa sertifikasi label hijau ini Oleh karena itu, produk berkelanjutan diproduksi di sesuai dengan praktik lingkungan lokal Indonesia (Go Environment).

Namun produk yang telah mendapat sertifikasi label hijau di Indonesia juga diakui di luar negeri. Hal ini ditunjukkan dengan ekspor Nexalume ke berbagai belahan dunia.
"Indonesia, Singapura, Hongkong, Australia dan China sudah mempunyai label hijau, dan kami (Indonesia) sudah tergabung dalam GEN (Global Ecolabelling Network). Pada tahun 2017, produk sudah diberi label GL dan istilahnya dikenal dengan Final Acceptance . Perjanjian yang berarti negara lain juga mengakui label produk tersebut”.

Tata Metal Lestari adalah produsen baja berlapis seng dan aluminium. Merk Nexalume. Warna perusahaan juga terinspirasi dari warna biru yang melambangkan langit dan hijau yang melambangkan BJMI.

Perusahaan menyatakan berkomitmen untuk mendukung industri baja yang stabil dalam konteks pemulihan ekonomi yang mendorong industri koperasi.
 

Disadur dari : https://www.kompas.com/homey/read/2021/04/26/120247476/produk-baja-lapis-didorong-sertifikasi-green-label