Procurement dalam Project Management: Strategi Make or Buy, Perencanaan, dan Pengendalian Pengadaan Proyek

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

05 Januari 2026, 09.45

Sumber: pexels.com

Pendahuluan

Procurement merupakan salah satu fungsi paling strategis dalam project management. Dalam banyak proyek, khususnya proyek konstruksi dan industri, aktivitas pengadaan barang dan jasa dapat menyerap 70–80% dari total nilai kontrak proyek. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan proyek sangat dipengaruhi oleh bagaimana proses procurement direncanakan dan dikendalikan.

Artikel ini membahas konsep procurement dalam project management sebagai bagian integral dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian proyek. Pembahasan disusun secara sistematis berdasarkan materi webinar, dengan pendekatan konseptual dan ilustratif agar mudah dipahami.

Procurement sebagai Bagian dari Siklus Project Management

Dalam project management, procurement tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan pengelolaan ruang lingkup proyek, penjadwalan, anggaran, serta manajemen risiko. Setiap keputusan procurement harus mempertimbangkan tujuan proyek, keterbatasan sumber daya, serta kondisi lingkungan internal dan eksternal.

Procurement berperan ketika tim proyek menentukan bagian mana dari pekerjaan yang akan dikerjakan sendiri dan bagian mana yang perlu dibeli dari pihak lain. Keputusan ini dikenal sebagai make or buy decision, dan menjadi titik awal seluruh strategi pengadaan.

Pemahaman Ruang Lingkup sebagai Dasar Procurement

Setiap proyek harus diawali dengan pemahaman ruang lingkup yang jelas. Ruang lingkup proyek mencakup batasan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab tim proyek dan pekerjaan yang berada di luar tanggung jawab tersebut.

Ruang lingkup ini kemudian dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil melalui Work Breakdown Structure (WBS). Unit terkecil dalam WBS disebut work package, dan setiap work package harus dievaluasi apakah akan dikerjakan secara internal atau melalui procurement.

Tanpa WBS yang jelas, perencanaan procurement akan bersifat reaktif dan berisiko tinggi menimbulkan keterlambatan maupun pembengkakan biaya.

Ilustrasi Proyek Sederhana sebagai Konsep Procurement

Untuk menjelaskan konsep procurement secara sederhana, digunakan ilustrasi perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain. Proyek didefinisikan sebagai aktivitas berpindah dari titik awal ke titik tujuan. Terdapat beberapa alternatif cara untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu melaksanakan sendiri seluruh aktivitas, menggunakan jasa pihak lain sepenuhnya, atau mengombinasikan keduanya.

Setiap alternatif memiliki konsekuensi berbeda dari sisi waktu, biaya, dan risiko. Pemilihan alternatif terbaik tidak bersifat mutlak, melainkan sangat bergantung pada kendala utama proyek, apakah waktu, biaya, atau kombinasi keduanya.

Ilustrasi ini menggambarkan prinsip dasar procurement, yaitu bahwa strategi pengadaan selalu bersifat kontekstual, tergantung pada tujuan dan keterbatasan proyek.

Make or Buy Decision dalam Procurement

Keputusan make or buy merupakan inti dari procurement management. Dalam konteks proyek, keputusan ini menjawab pertanyaan apakah suatu paket pekerjaan akan dikerjakan oleh tim internal atau diserahkan kepada pihak eksternal.

Keputusan ini harus mempertimbangkan kemampuan dan kapasitas organisasi, ketersediaan sumber daya, risiko teknis, serta dampak terhadap jadwal dan anggaran proyek. Tidak semua pekerjaan efisien jika dikerjakan sendiri, dan tidak semua pekerjaan aman jika diserahkan kepada pihak luar.

Perencanaan Procurement dalam Proyek

Perencanaan procurement mencakup penyusunan daftar barang dan jasa yang dibutuhkan proyek, waktu pengadaan, serta strategi pemilihan pemasok atau penyedia jasa. Tahap ini juga mencakup penentuan metode pengadaan, seperti tender, penunjukan langsung, atau metode lainnya sesuai kebijakan organisasi.

Dalam tahap ini, tim proyek juga harus menentukan jenis kontrak yang akan digunakan, seperti kontrak lump sum, unit price, atau reimbursable, serta kriteria evaluasi yang akan diterapkan dalam pemilihan penyedia.

Hubungan Procurement dengan Jadwal, Biaya, dan Risiko

Procurement tidak dapat dipisahkan dari perencanaan jadwal, anggaran, dan risiko. Setiap paket pengadaan harus dianalisis dampaknya terhadap jadwal proyek, termasuk potensi keterlambatan akibat proses tender atau keterbatasan kapasitas pemasok.

Dari sisi biaya, procurement membutuhkan estimasi awal sebagai dasar evaluasi penawaran. Estimasi ini harus realistis dan mempertimbangkan biaya siklus hidup, bukan hanya harga awal.

Dari sisi risiko, setiap paket pengadaan membawa risiko tersendiri, seperti risiko keterlambatan, risiko kualitas, atau risiko finansial penyedia jasa.

Pelaksanaan Procurement dan Proses Tender

Tahap pelaksanaan procurement dimulai dari penyusunan dokumen tender, pengundangan calon penyedia, evaluasi penawaran, hingga penunjukan pemenang. Proses ini harus dilakukan secara transparan, objektif, dan sesuai prosedur.

Dokumen tender dapat berupa permintaan penawaran harga atau permintaan proposal, tergantung pada tingkat kejelasan spesifikasi dan kebutuhan proyek. Jika kebutuhan sudah terdefinisi dengan sangat jelas, maka fokus evaluasi biasanya pada harga. Namun jika dibutuhkan solusi atau pendekatan teknis tertentu, maka kualitas proposal menjadi faktor utama.

Kriteria Evaluasi dalam Procurement

Evaluasi penawaran tidak hanya mempertimbangkan harga terendah. Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan meliputi pemahaman penyedia terhadap kebutuhan proyek, kemampuan teknis, pendekatan manajemen, serta kemampuan finansial.

Harga yang rendah tanpa dukungan kemampuan teknis dan manajerial yang memadai justru dapat meningkatkan risiko kegagalan proyek. Oleh karena itu, evaluasi harus bersifat menyeluruh.

Pengendalian Procurement dan Close-Out Kontrak

Setelah kontrak ditandatangani, tanggung jawab tim proyek belum selesai. Pengendalian procurement mencakup pemantauan kinerja penyedia, pengendalian biaya dan jadwal, serta memastikan pemenuhan kewajiban kontraktual oleh kedua belah pihak.

Procurement baru dapat dinyatakan selesai ketika seluruh kewajiban dalam kontrak telah dipenuhi dan disepakati sebagai selesai oleh semua pihak. Tahap ini dikenal sebagai contract close-out.

Peran Tim Proyek dan Organisasi dalam Procurement

Procurement bukan tanggung jawab satu individu atau satu departemen semata. Project manager memegang peran kunci dalam memastikan bahwa strategi procurement selaras dengan tujuan proyek.

Di sisi lain, organisasi perusahaan biasanya menyediakan dukungan berupa kebijakan, prosedur, serta basis data pemasok berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya. Kolaborasi antara tim proyek dan fungsi organisasi sangat penting untuk memastikan efektivitas procurement.

Pemanfaatan Sistem Informasi dalam Procurement

Dalam proyek yang kompleks, proses procurement melibatkan banyak pihak dan informasi. Tanpa sistem yang terintegrasi, risiko miskomunikasi dan keterlambatan pengambilan keputusan akan meningkat.

Oleh karena itu, penggunaan sistem informasi seperti Enterprise Resource Planning (ERP) dapat membantu mengintegrasikan data procurement dengan jadwal, anggaran, dan pelaporan kinerja proyek. Sistem ini menggantikan komunikasi manual dan mengurangi risiko kesalahan akibat input ganda atau informasi yang tidak sinkron.

Kesimpulan

Procurement dalam project management merupakan fungsi strategis yang menentukan keberhasilan proyek. Keputusan make or buy, perencanaan pengadaan, pelaksanaan tender, serta pengendalian kontrak harus dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan ruang lingkup, jadwal, anggaran, dan risiko.

Keberhasilan procurement tidak hanya ditentukan oleh harga terendah, tetapi oleh keselarasan antara tujuan proyek, kapasitas organisasi, serta kemampuan penyedia barang dan jasa. Dengan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif, procurement dapat menjadi alat utama untuk mencapai kinerja proyek yang optimal.

Sumber dan Referensi Pendukung

Project Management Body of Knowledge (PMBOK Guide)
ISO 21500 Project Management Guidance
Literatur Procurement Management dan Contract Management
Materi Webinar Project Management – Diklat Kerja