Preferensi Mahasiswa UGM Terhadap Blended Learning: Hasil Survei PIKA

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

04 Maret 2024, 09.56

Sumber: ugm.ac.id

Universitas Gajah Mada (UGM) merilis hasil kajian keadaan belajar mengajar (KBM) di masa pandemi COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan hambatan pelaksanaan belajar mengajar online dari sudut pandang siswa.

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (54,2%) menginginkan KBM dilakukan secara terpadu, yakni perpaduan daring dan luring. Pengajaran dan pembelajaran campuran terbukti menjadi cara yang paling nyaman untuk mendukung pencapaian keterampilan dan kemampuan dibandingkan dengan dua pilihan lainnya: hanya online atau offline saja.

Responden lainnya memilih KBM online dibandingkan KBM offline. Sedangkan 34,2% responden memilih KMB online, hanya 11,6% yang memilih KMB offline.

Survei PIKA disebarkan kepada 10.800 mahasiswa pascasarjana dan profesi di UGM. Mayoritas responden berasal dari sektor teknik dan dunia usaha sebanyak 1.535 (14%) dan 1.248 (11%). Dari total responden tersebut, sebanyak 66% berasal dari program sarjana, 19% dari program magister, 12% dari program pascasarjana terapan, dan 3% dari program pascasarjana, profesi, dan profesi. Survei dilakukan pada 19 Maret hingga 12 April 2021.

Berdasarkan survei, PIKA juga melaporkan bahwa mahasiswa merasa jenis infrastruktur belajar mengajar daring yang mereka miliki cocok untuk mata kuliah belajar mengajar daring mulai Maret 2020. Sebanyak 67% responden menilai timnya baik atau sangat Bagus. 53% responden mengatakan internet mereka bagus. Namun, ada aspek negatif dari semangat belajar. Hanya 46% responden yang menyatakan lingkungan belajar baik atau sangat baik.

Pada tahap proses pembelajaran online ini, sebagian besar responden setuju bahwa mereka tetap puas dengan kualitas materi kursus, dukungan sumber pembelajaran eksternal, dan pekerjaan guru dalam mengangkut sumber daya. Kekurangan metode pengajaran dan kursus online saat ini adalah kualitas interaksi, kemudahan perolehan keterampilan, kualitas kerja, dan kemudahan pemahaman materi. Kemudahan pemahaman materi mendapat skor minimal 3,12 pada skala Linkert 1 sampai 5, dimana 5 berarti sangat baik.

Selama durasi sinkronisasi, 58,1% responden mengatakan mereka ingin sinkronisasi berlangsung lama. 30 hingga 60 menit. Hanya 28,9% responden yang bersedia melakukan KBM dalam waktu 60 hingga 90 menit.

Menanggapi hasil penyelidikan tersebut, Wakil Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Kemahasiswaan, Prof. dokter pergi Djagal Wiseso Marseno, M.Agr mengatakan, keputusan pelaksanaan KBM masih harus menunggu pendapat lain. Gagasan yang dimaksud adalah politik lokal dan nasional DIY serta situasi Corona dan situasi pasca Idul Fitri di Tanah Air.

"Prioritasnya adalah keselamatan mahasiswa, dosen, dan staf terlebih dahulu," kata profesor tersebut. dokter pergi Djagal Wiseso Marseno, M.Agr., Selasa (20 April).

Prof. Djagal mengatakan, jika tidak ada puncak COVID-19 setelah lebaran, maka KBM tahun pertama 2021/2022 akan digelar dengan kondisi campur aduk. Rencana pertama akan dibagikan secara online pada awal semester, dan rencana kedua akan dibagikan secara online. media luring. Misalnya ada metode Blended Second yang mana pembelajaran berlangsung secara offline selama setengah semester dan online selama setengah semester lainnya sejak awal semester.

"Kami juga mempertimbangkan jenis ilmu di masing-masing disiplin ilmu," pungkas sang profesor. Kerikil \N.

Disadur dari Artikel : ugm.ac.id