Peringatan Walhi: Ancaman terhadap Manusia dan Sumber Daya Alam oleh Industri Semen di Baturaja Jambi

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

27 Februari 2024, 08.51

Sumber: kompas.com

JAMBI, KOMPAS.com - Direktur Walhi Jambi Rudiansyah mengatakan pembangunan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk akan merusak sumber air di kawasan karst Bukit Bulan. Menurut Rudi, wilayah yang disahkan instansi pemerintah tersebut adalah sembilan sungai yakni Sungai Batang Limun, Air Gedang, Air Mersib, Air Pangi, Air Menanti Kiri, Air Menanti Kanan, Air Ketari, Air Beduri, dan Air Ketari Kesil. Semua sungai tersebut bermuara di Sungai Tembesi yang bermuara ke Sungai Batangari. “Jutaan orang bergantung pada sumber air ini untuk hidup dan mengairi sawah dan lahan pertanian lainnya. Kerajaan pangan kita terancam,” kata Rudiansyah kepada wartawan di Mars (14 Xul 2020).

Menurut Rudi, rusaknya lingkungan akan mematikan air masyarakat. Jika hal ini terjadi, produktivitas pertanian akan menurun. Selain itu, tingkat kesehatan masyarakat akan terganggu dan udara menjadi tidak sehat. Lalu selalu ada bencana banjir. Hal ini dikarenakan luas permukaan kolam semakin mengecil. Menurut Rudy, maraknya penambangan emas tanpa izin (PETI) di sekitar Sungai Batang Limun telah menghambat akses air minum dan berkurangnya lahan pertanian.

Selain itu, PT Semen Baturaja mendapat izin penggunaan bahan mineral bukan logam (batu) pada November 2019 hingga 2039 di lahan seluas 1.554,83 hektar. “Kesepakatan itu berdampak pada Desa Meribung, Desa Mersip, Desa Berkun, dan Desa Napalmelintang. Kami takut perang,” kata Rudi. semangat UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang menyatakan bahwa ekosistem karst merupakan ekosistem vital yang harus dilindungi.

Rudi mengatakan, kawasan karst berfungsi menghilangkan banyak karbon yang mencemari atmosfer, sekitar 13.482 gigagram setahun. Lokasi nuklir dianggap sebagai daerah kritis bagi ketersediaan air. Menurut Rudi, bentang alam karst mampu menyimpan air pada musim kemarau. Selain itu, kawasan Bukit Bulan tercatat memiliki lebih dari 100 gua, termasuk sungai bawah tanah atau gua air seperti Gua Calau Petak, yaitu gua air dengan saluran penghubung yang panjang di kedua desa tersebut. Kajian Balai Arkeologi Sumsel terhadap 82 gua dan celah di Bukit Bulan, 20 diantaranya berpenghuni, ditemukan 46.271 spesimen.

Sebuah lukisan yang diyakini berusia ribuan tahun ditemukan di dinding gua. Sementara itu, Manajer Pelayanan ESDM Jambi Karel Ibnu Suratno mengatakan izin PT Semen Baturaja sudah memasuki tahap produksi. Hal itu disampaikan Karel saat webinar Situs Arkeologi Bukit Bulan, Kekuatan dan Tantangannya dalam Konservasi yang diselenggarakan Ikatan Arkeolog Indonesia (IAAI) Komda Sumsel. Izin yang dikeluarkan PT Semen Baturaja di antaranya izin eksplorasi dan produksi, menurut Karel.

Izin produksi meliputi pembuatan, pemurnian, dan pengangkutan komponen. Tanggapan Perusahaan Saat ini, Wakil Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk Basthony Santri mengatakan perseroan sedang mempertimbangkan situasi pandemi Covid-19 dan besaran kompensasi terhadap produksi semen dalam negeri. “Oleh karena itu, Semen Baturaja telah meluncurkan serangkaian CAPEX, termasuk pembangunan pabrik semen di Bukit Bulan Sarolangun untuk sementara waktu”; kata Basthony, Minggu (14 Juli 2020).

Dengan nilai investasi yang semakin meningkat sebesar Rp3-5 triliun, kehadiran Semen Baturaja di Saroranggun diharapkan dapat mendongkrak perekonomian masyarakat dengan membuka akses acara sosial dan lapangan kerja. Basthony yakin operasional produksi semennya tidak mengganggu sumber air dan ekosistem kawasan karst Bukit Bulan.

Menurut Basthony, dari visi perusahaan, PT Semen Baturaja akan menjadi produsen semen alam. Oleh karena itu, segala rencana investasi dan pengembangan perusahaan akan selalu fokus pada perlindungan lingkungan hidup dan lingkungan sekitar operasionalnya. “Organisasi kami berkomitmen menjaga KBAK sebagai kawasan lindung, kami tidak akan menambang”; kata Bastoni.

Disadur dari: https://regional.kompas.com/read/2020/07/14/18421691/walhi-sebut-industri-semen-baturaja-jambi-mengancam-manusia-dan-sda?page=2