Perhitungan Biaya Alat Berat dalam Proses Tender Proyek Konstruksi

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

05 Januari 2026, 08.28

Sumber: pexels.com

Pendahuluan

Dalam proses tender proyek konstruksi, salah satu komponen biaya yang paling signifikan dan menentukan daya saing penawaran adalah biaya alat berat. Kesalahan kecil dalam memperkirakan biaya alat berat dapat berdampak besar pada hasil tender—baik menyebabkan penawaran terlalu mahal sehingga kalah bersaing, maupun terlalu murah sehingga menimbulkan kerugian pada saat pelaksanaan proyek.

Materi ini membahas secara komprehensif bagaimana biaya alat berat dihitung dalam konteks tender, dengan fokus pada dua komponen utama, yaitu biaya kepemilikan (ownership cost) dan biaya pengoperasian (operating cost). Selain itu, dibahas pula faktor-faktor pendukung seperti estimasi jam kerja, overhead, tenaga kerja, serta mobilisasi dan demobilisasi alat.

Artikel ini menyusun ulang materi webinar menjadi sebuah artikel analitis yang sistematis, dengan penekanan pada logika perhitungan, asumsi yang digunakan, serta implikasinya terhadap strategi penawaran proyek.

Peran Biaya Alat Berat dalam Penawaran Proyek

Dalam penawaran proyek konstruksi, biaya alat berat memiliki karakteristik khusus:

  • Nilainya besar dan sensitif terhadap kesalahan estimasi,

  • Sangat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, kondisi lapangan, dan durasi proyek,

  • Berpengaruh langsung terhadap harga satuan pekerjaan dan total penawaran.

Oleh karena itu, kontraktor dituntut untuk tidak hanya mengetahui jenis alat yang digunakan, tetapi juga memahami secara mendalam struktur biaya alat berat yang digunakan dalam proyek.

Komponen Utama Biaya Alat Berat

Secara umum, biaya alat berat dalam proyek konstruksi terdiri dari:

  • Biaya kepemilikan alat (ownership cost),

  • Biaya pengoperasian alat (operating cost),

  • Biaya overhead alat berat,

  • Biaya tenaga kerja (operator dan pendukung),

  • Biaya mobilisasi dan demobilisasi alat.

Dua komponen pertama merupakan komponen utama yang menjadi dasar perhitungan biaya alat berat.

Biaya Kepemilikan Alat Berat

Konsep Dasar Biaya Kepemilikan

Biaya kepemilikan alat berat muncul karena alat berat diperlakukan sebagai investasi modal. Ketika perusahaan membeli alat berat, modal uang berubah bentuk menjadi aset fisik yang nilainya akan menurun seiring waktu.

Dalam konteks ini, terdapat tiga konsep utama:

  • Biaya awal (initial cost),

  • Nilai sisa (salvage value),

  • Depresiasi (penyusutan).

Nilai Sisa (Salvage Value)

Nilai sisa adalah nilai estimasi alat berat pada akhir umur ekonomisnya. Nilai ini:

  • Sangat bervariasi tergantung jenis alat,

  • Dipengaruhi oleh kondisi fisik alat,

  • Dipengaruhi oleh pemeliharaan,

  • Dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kelangkaan alat,

  • Dipengaruhi oleh kondisi lokal (wilayah operasional).

Dalam praktik, nilai sisa sering disederhanakan, bahkan diasumsikan nol, untuk mempermudah pembukuan. Namun secara teori dan regulasi, nilai sisa tetap memiliki peran penting.

Berdasarkan Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022, nilai sisa alat berat umumnya berkisar 3–10% dari harga awal alat. Literatur teknik menyebutkan kisaran yang lebih luas, yaitu 5–20%, tergantung kondisi dan jenis alat.

Depresiasi Alat Berat

Depresiasi merupakan penurunan nilai alat sepanjang umur ekonomisnya. Dalam konteks biaya kepemilikan, depresiasi berfungsi untuk:

  • Mewakili pengeluaran modal yang “dikonsumsi” selama pemakaian alat,

  • Menjadi dasar penentuan tarif penggunaan alat per jam,

  • Menjadi komponen penting dalam perhitungan harga penawaran proyek.

Depresiasi bersifat estimatif, karena dihitung sebelum alat digunakan dalam proyek.

Metode Perhitungan Biaya Kepemilikan

Materi menjelaskan dua pendekatan utama:

1. Metode Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)

Metode ini mempertimbangkan:

  • Biaya awal alat,

  • Umur ekonomis,

  • Tingkat biaya modal perusahaan,

  • Nilai sisa (opsional).

Hasil perhitungan berupa biaya tahunan, yang kemudian dikonversi menjadi biaya per jam berdasarkan jam kerja alat per tahun.

2. Metode Investasi Tahunan Rata-Rata

Metode ini menghitung nilai investasi rata-rata alat selama umur ekonomisnya, kemudian:

  • Dikalikan tingkat biaya modal,

  • Ditambah depresiasi (biasanya metode garis lurus),

  • Dikonversi menjadi biaya per jam.

Kedua metode memberikan hasil yang relatif mendekati, dengan perbedaan kecil. Pemilihan metode sepenuhnya menjadi kebijakan perusahaan, selama digunakan secara konsisten.

Tambahan Biaya Kepemilikan

Selain depresiasi, biaya kepemilikan juga dapat mencakup:

  • Pajak alat,

  • Asuransi,

  • Biaya penyimpanan,

  • Biaya overhaul (perbaikan besar).

Biaya overhaul diperlakukan sebagai investasi tambahan karena nilainya besar dan berdampak pada umur alat.

Biaya Pengoperasian Alat Berat

Komponen Biaya Pengoperasian

Biaya pengoperasian meliputi:

  • Bahan bakar,

  • Pelumas dan saringan,

  • Pemeliharaan dan perbaikan,

  • Ban (untuk alat beroda karet).

Biaya pengoperasian sering kali menyumbang porsi besar dari total biaya alat berat, bahkan dapat mencapai ±37% dari total biaya.

Biaya Bahan Bakar

Biaya bahan bakar dipengaruhi oleh:

  • Jenis dan tenaga mesin,

  • Kondisi alat,

  • Jenis pekerjaan,

  • Kondisi lapangan,

  • Harga dan distribusi bahan bakar,

  • Pajak bahan bakar (jika ada).

Estimasi konsumsi bahan bakar dapat mengacu pada:

  • Data pabrikan (Caterpillar, Komatsu, dll.),

  • Pengalaman lapangan,

  • Data proyek sebelumnya.

Biaya Pelumas

Biaya pelumas bergantung pada:

  • Kapasitas tangki pelumas,

  • Frekuensi penggantian,

  • Kondisi kerja alat,

  • Rekomendasi pabrikan.

Penggantian pelumas yang terlalu jarang dapat menurunkan performa alat dan meningkatkan risiko kerusakan.

Biaya Ban

Untuk alat beroda karet, ban:

  • Tidak dimasukkan dalam biaya kepemilikan,

  • Dimasukkan dalam biaya pengoperasian,

  • Diganti beberapa kali selama umur alat.

Perhitungan biaya ban dapat dilakukan:

  • Tanpa mempertimbangkan nilai waktu uang (langsung dibagi jam pakai),

  • Dengan mempertimbangkan nilai waktu uang (lebih akurat untuk proyek jangka panjang).

Biasanya ditambahkan ±15% dari harga ban untuk biaya perbaikan ban.

Estimasi Jam Kerja Alat Berat

Produsen dan regulasi umumnya merekomendasikan:

  • 2000 jam kerja per tahun,

  • Umur ekonomis ±5 tahun.

Namun dalam praktik, jam kerja aktual sering lebih rendah karena:

  • Cuaca buruk,

  • Tidak adanya pekerjaan,

  • Kerusakan alat,

  • Waktu tunggu,

  • Gangguan operasional lainnya.

Kehilangan jam kerja hingga ±20% per tahun merupakan kondisi yang realistis dan perlu dipertimbangkan dalam estimasi.

Overhead, Tenaga Kerja, dan Mobilisasi

Overhead Alat Berat

Overhead mencakup biaya tidak langsung yang sulit dikaitkan dengan satu aktivitas tertentu, dan biasanya dihitung sebagai persentase dari biaya kepemilikan dan pengoperasian (misalnya ±25%).

Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja meliputi:

  • Operator alat,

  • Helper atau signalman,

  • Biaya shift dan lembur (jika ada).

Pada alat sewa, biaya ini kadang sudah termasuk, namun pada alat milik sendiri harus dihitung terpisah.

Mobilisasi dan Demobilisasi

Biaya mobilisasi dan demobilisasi alat berat:

  • Wajib dimasukkan dalam estimasi,

  • Sering menjadi sumber kerugian jika terlewatkan,

  • Bergantung pada jarak, jenis alat, dan metode pengangkutan.

Estimasi Biaya dan Produktivitas Alat

Estimasi biaya alat berat harus mempertimbangkan:

  • Volume pekerjaan,

  • Jenis dan kondisi material,

  • Jarak angkut,

  • Kondisi lapangan,

  • Urutan (sequencing) pekerjaan,

  • Produktivitas alat aktual.

Kesalahan estimasi dapat berupa:

  • Kesalahan aritmatika,

  • Item pekerjaan yang terlewat,

  • Asumsi produktivitas yang terlalu optimistis.

Checklist estimasi sangat dianjurkan untuk meminimalkan kesalahan.

Kesimpulan

Perhitungan biaya alat berat dalam proses tender merupakan kombinasi antara teori, regulasi, dan pengalaman praktis. Dua komponen utama—biaya kepemilikan dan biaya pengoperasian—harus dihitung secara cermat dan konsisten.

Keberhasilan penawaran proyek sangat ditentukan oleh:

  • Ketepatan estimasi biaya alat berat,

  • Pemahaman kondisi lapangan,

  • Penentuan jam kerja realistis,

  • Konsistensi metode perhitungan.

Kesalahan kecil dalam perhitungan alat berat dapat berdampak besar terhadap keuntungan proyek, sehingga kecermatan dalam tahap estimasi merupakan kunci keberhasilan tender.

📚 Sumber Utama

Webinar Manajemen Alat Berat – Perhitungan Biaya Alat Berat
Materi Diklat Kerja – Manajemen Alat Berat Konstruksi

📖 Referensi Pendukung

  • Permen PUPR No. 1 Tahun 2022

  • Permen PU No. 09/PRT/M/2014

  • Peurifoy et al., Construction Planning, Equipment, and Methods

  • Caterpillar & Komatsu Equipment Handbook

  • Engineering Economics – Time Value of Money