Perguruan Tinggi Indonesia Berperan Aktif Menuju World Water Forum ke-10: Talkshow 'Road to the Forum' oleh Para Dosen UGM

Dipublikasikan oleh Kania Zulia Ganda Putri

22 April 2024, 13.42

id.pinterest.com

Pemerintah Indonesia telah melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk menyukseskan penyelenggaraan World Water Forum ke-10, termasuk para akademisi yang berperan penting dalam menciptakan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk berbagai tantangan terkait air.

Sejalan dengan komitmen tersebut, pada tanggal 29 Februari 2024, para dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan talkshow bertajuk "Road to the 10th World Water Forum Stadium General Chapter Yogyakarta".

Talkshow ini dihadiri oleh Direktur Sistem dan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Birensrajana, Perwakilan Paguyuban Gajah Wong Purbudi Wahyuni, dan Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM Prof. Joko Sujono.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Gatut Bayuadji dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Era Nugraha Abdi. Kelima panelis memandu diskusi dengan tema "Membina Perdamaian dan Kesejahteraan melalui Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu: Tata Kelola Kolaboratif dan Risiko Bencana."

Sugeng, Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, menyatakan bahwa air sangat diperlukan dalam kehidupan. Oleh karena itu, penyediaan air bersih menjadi sangat penting, dan salah satu cara untuk mengatasi tantangan ini adalah melalui Forum Air Dunia ke-10 yang dijadwalkan pada 18-25 Mei 2024 di Bali.

Meningkatkan layanan air minum

Birendrajana, sebagai pembicara utama, menyoroti bahwa kebutuhan air terus meningkat sementara ketersediaan air relatif tetap. Kondisi ini juga ditantang oleh perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Meskipun Indonesia memiliki sumber daya air permukaan yang melimpah dengan total 2,78 triliun meter kubik, namun distribusinya tidak merata. Selain itu, ketersediaan air yang ada belum sepenuhnya didukung oleh layanan air minum untuk konsumsi masyarakat.

 "Oleh karena itu, sumber daya air perlu dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi agar tercapai sinergi dan keterpaduan antardaerah, antarsektor, dan antargenerasi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat," ujar Birendrajana.

Melalui Peraturan Presiden No. 90 Tahun 2016, Indonesia telah membentuk Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) untuk membantu pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melayani kebutuhan air masyarakat.

Pemerintah juga telah menyelaraskan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 untuk mencapai 100% akses air minum dan sanitasi. Saat ini, cakupan layanan air minum telah mencapai 91,05%, dengan akses sanitasi meningkat 80,92%.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu

Joko Sujono menjelaskan konsep pengelolaan sumber daya air dan daerah aliran sungai terpadu. Beliau menekankan bahwa penyelesaian masalah degradasi DAS tidak dapat dilakukan secara parsial mengingat DAS merupakan sebuah sistem.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa secara umum daerah aliran sungai dibagi menjadi tiga bagian dengan fungsinya masing-masing: hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu berfungsi sebagai daerah resapan air dan harus diarahkan sebagai kawasan lindung. Sementara itu, bagian tengah berfungsi sebagai distribusi, dan bagian hilir sebagai zona pemanfaatan.

Setiap bagian dari DAS tersebut saling berhubungan, sehingga jika terjadi kerusakan maka seluruh sistem akan terganggu. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Pengelolaan DAS terpadu bertujuan untuk menyelaraskan berbagai aspek pembangunan yang berdampak langsung terhadap sungai.

Pengelolaan DAS terpadu di Indonesia diwujudkan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Lembaga ini merupakan unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR yang bertugas mengelola sumber daya air di dua wilayah sungai, yaitu Serayu-Bogowonto dan Progo-Opak-Serang.

Selanjutnya, Indonesia akan memamerkan keberhasilan pengelolaan DAS terpadu dalam program Citarum Harum di World Water Forum ke-10. Konferensi internasional ini akan menjadi tonggak bersejarah bagi masyarakat dunia dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya air bagi kehidupan.

Sebagai tuan rumah, Indonesia mengundang partisipasi berbagai pemangku kepentingan lintas negara untuk berdiskusi dan menghasilkan ide-ide nyata dan pemikiran inovatif dalam mengatasi tantangan terkait air. World Water Forum ke-10 ini diharapkan dapat menciptakan kolaborasi antar negara untuk mengatasi masalah air.

Disadur: wordwaterforum.org