Pendahuluan
Perancangan stasiun kerja merupakan fondasi utama dalam sistem manufaktur. Meskipun sering dianggap sebagai bagian teknis yang sederhana, kenyataannya workstation design sangat menentukan produktivitas, keselamatan, kualitas kerja, serta kenyamanan operator.
Materi ini disampaikan dalam konteks pelatihan profesional, dengan pendekatan santai namun tetap berbasis kaidah teknik industri. Fokus utama pembahasan adalah bagaimana merancang satu stasiun kerja secara sistematis, tidak hanya untuk manufaktur, tetapi juga dapat diadaptasi pada berbagai jenis tempat kerja berbasis aktivitas manusia.
Ruang Lingkup Perancangan Stasiun Kerja
Definisi Stasiun Kerja
Stasiun kerja (workstation atau work center) adalah unit terkecil dalam sistem produksi, tempat di mana:
-
manusia,
-
mesin atau alat,
-
dan material
berinteraksi secara langsung untuk menghasilkan nilai tambah.
Posisi Stasiun Kerja dalam Hirarki Tata Letak
Perancangan fasilitas memiliki beberapa level, yaitu:
-
Sub-micro level → stasiun kerja individual
-
Micro level → sel manufaktur atau departemen
-
Macro level → lantai produksi
-
Supra level → fasilitas perusahaan
-
Global level → jaringan supply chain
Materi ini secara khusus membahas level sub-micro, yaitu perancangan satu stasiun kerja mandiri.
Dua Fokus Utama Perancangan Stasiun Kerja
Perancangan stasiun kerja selalu berangkat dari dua fokus utama:
1. Luas dan Kebutuhan Ruang (Space Requirement)
Menentukan berapa luas minimum yang harus disediakan agar aktivitas kerja dapat dilakukan secara aman dan efisien.
2. Jumlah Stasiun Kerja (Quantity)
Menentukan berapa banyak workstation yang dibutuhkan berdasarkan:
-
target produksi,
-
waktu kerja tersedia,
-
dan kapasitas kerja operator atau mesin.
Tiga Sasaran Utama Perencanaan Ruang
Setiap stasiun kerja WAJIB menyediakan ruang untuk tiga sasaran utama berikut:
1. Ruang untuk Peralatan (Equipment Space)
Meliputi:
-
mesin utama,
-
alat bantu,
-
area pergerakan mesin (machine travel),
-
ruang maintenance sederhana.
2. Ruang untuk Material (Material Space)
Material dalam stasiun kerja terdiri dari:
-
Incoming material (bahan masuk),
-
In-process material (barang dalam proses),
-
Outgoing / finished goods (barang selesai),
-
serta scrap atau waste bila ada.
3. Ruang untuk Personel (Operator Space)
Meliputi:
-
area kerja operator,
-
ruang gerak,
-
jalur masuk dan keluar,
-
serta area aman sesuai prinsip ergonomi.
Tanpa ketiga ruang ini, stasiun kerja tidak dapat berfungsi dengan baik.
Pertimbangan Teknis dalam Perancangan Stasiun Kerja
Bentuk Area Kerja
Bentuk ideal stasiun kerja umumnya:
-
persegi panjang,
-
atau bujursangkar,
karena paling efisien dalam penataan mesin dan aliran kerja.
Ukuran dan Dimensi Ruang
Ukuran ruang tidak hanya mencakup:
-
panjang,
-
lebar,
tetapi juga tinggi ruang, terutama untuk mesin besar atau sistem otomatis.
Ruang Antar Stasiun (Aisle / Gang)
Gang berfungsi sebagai:
-
jalur operator,
-
jalur material handling,
-
jalur alat angkut (hand pallet, forklift, conveyor).
Lebar gang memiliki standar minimum yang harus dipenuhi demi keselamatan dan kelancaran aliran.
Konsep Space Planning Unit (SPU)
Pengertian SPU
Space Planning Unit (SPU) adalah satuan perencanaan ruang yang digunakan untuk menentukan:
-
luas satu workstation,
-
luas departemen,
-
hingga luas lantai produksi.
Level SPU
SPU dibagi berdasarkan level perancangan:
-
Workstation (Sub-micro)
-
Departemen / Sel (Micro)
-
Lantai Produksi (Macro)
-
Site / Lahan (Supra)
-
Supply Chain (Global)
Setiap level memerlukan metode perancangan yang berbeda.
Ergonomi dan Antropometri dalam Stasiun Kerja
Peran Ergonomi
Ergonomi memastikan bahwa:
-
operator bekerja aman,
-
tidak cepat lelah,
-
meminimalkan kesalahan,
-
dan meningkatkan produktivitas.
Data Antropometri
Antropometri digunakan untuk menentukan:
-
jangkauan tangan normal,
-
jangkauan maksimum,
-
tinggi meja kerja,
-
jarak operator ke mesin.
Perbedaan ukuran tubuh manusia (gender, usia, populasi) harus diperhitungkan dalam desain.
Area Kerja Normal dan Maksimum
Area Kerja Normal
-
Menggunakan gerakan lengan bawah,
-
Minim energi,
-
Cocok untuk aktivitas rutin.
Area Kerja Maksimum
-
Melibatkan lengan atas,
-
Digunakan hanya bila diperlukan,
-
Membutuhkan ruang lebih besar.
Desain yang baik memaksimalkan aktivitas di area normal.
Perhitungan Luas Stasiun Kerja
Langkah Dasar Perhitungan
-
Tentukan luas dasar mesin atau meja kerja
-
Tambahkan allowance untuk:
-
operator,
-
material,
-
pergerakan dan maintenance
-
-
Hitung luas total per workstation
-
Kalikan dengan jumlah workstation
-
Tambahkan gang dan ruang pendukung
Allowance dalam Perancangan
Allowance meliputi:
-
clearance mesin,
-
ruang operator,
-
ruang material,
-
ruang keselamatan,
-
ruang gang.
Allowance tidak boleh dihilangkan, hanya boleh disesuaikan.
Aliran Material dan Operator
Perancangan stasiun kerja yang baik harus:
-
meminimalkan bolak-balik,
-
mengurangi jarak tempuh,
-
meminimalkan handling manual,
-
menjaga aliran satu arah.
Penggunaan conveyor atau alat bantu dianjurkan bila volume tinggi.
Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Stasiun kerja harus memenuhi:
-
standar jarak aman,
-
jalur masuk–keluar operator,
-
marka lantai,
-
zona aman dan terlarang.
Bahkan tanpa sekat fisik, marka visual sangat penting.
Evaluasi dan Iterasi Desain
Perancangan stasiun kerja bukan proses sekali jadi, melainkan:
-
dirancang,
-
diuji,
-
dievaluasi,
-
diperbaiki (iteratif).
Keterbatasan lahan sering menuntut kompromi desain.
Aplikasi Praktis di Industri dan Workshop
Prinsip workstation design dapat diterapkan pada:
-
pabrik manufaktur,
-
workshop pendidikan,
-
laboratorium,
-
fasilitas perakitan manual,
-
sistem semi-otomatis.
Kuncinya adalah penyesuaian konteks, bukan sekadar menyalin desain.
Kesimpulan
Perancangan stasiun kerja merupakan elemen krusial dalam sistem manufaktur. Dengan memperhatikan:
-
ruang untuk alat,
-
ruang untuk material,
-
ruang untuk manusia,
-
prinsip ergonomi,
-
serta aliran kerja,
maka stasiun kerja dapat dirancang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Workstation design bukan sekadar menggambar meja dan mesin, tetapi merancang interaksi manusia–mesin–material secara utuh.
📚 Referensi Pendukung
-
Tompkins et al. – Facilities Planning
-
Apple, J. M. – Plant Layout and Material Handling
-
Sanders & McCormick – Human Factors in Engineering
-
Muther, R. – Systematic Layout Planning