Penjelasan Mengenai Keamanan Hayati

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

01 Maret 2024, 09.57

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Influenza_virus_research.jpg

Keamanan hayati (biosecurity) adalah seperangkat prinsip yang digunakan untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul ketika seseorang menangani atau bekerja dengan bahaya biologis, terutama di lingkungan laboratorium, praktik, dan kegiatan penanggulangannya. Biosecurity bertujuan untuk melindungi personel dan memastikan keamanan biologis dengan mengelola risiko ilmiah secara aman. Selain itu, biosecurity juga mencakup aspek keamanan pangan dan manajemen risiko terkait organisme hasil rekayasa genetika. Meskipun sering digunakan secara bersamaan atau bergantian, istilah keamanan hayati, biosecurity, dan biosafety semuanya bertujuan untuk mengurangi risiko terkait dengan bahaya biologis. Namun, biosecurity secara khusus mengacu pada upaya untuk mencegah intrusi, penyebaran, dan pelarian dari ancaman biologis dan informasi biologis yang tidak diinginkan.

Sejarah Singkat

Munculnya mikrobiologi modern pada abad ke-19 memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan eksperimen dengan berbagai mikroorganisme. Meskipun infeksi yang berasal dari laboratorium telah ada sejak zaman Louis Pasteur dan Robert Koch, kesadaran akan perlunya melindungi keselamatan para pekerja yang berurusan dengan mikroorganisme dan bahan biologis lainnya baru meningkat pada abad ke-20.

Pada tahun 1955, diadakan Konferensi Keselamatan Hayati pertama di Maryland untuk berbagi pengetahuan tentang berbagai isu keselamatan, termasuk isu kimiawi, radiologis, dan industri di laboratorium. Konferensi ini kemudian melahirkan Asosiasi Keselamatan Hayati Amerika (ABSA) pada tahun 1984 dengan tujuan mempromosikan keselamatan bagi para pekerja profesional.

Penerapan keselamatan hayati di laboratorium mikrobiologi dimulai di Amerika Utara dan Britania Raya pada awal tahun 1970-an, di mana personel laboratorium diberikan pelatihan tentang penggunaan alat pelindung diri dan metode pembatasan fisik untuk mencegah penyebaran agen biologis. Konferensi Asilomar tentang DNA Rekombinan yang diadakan pada tahun 1975 membahas potensi bahaya biologis dan mengatur penerapan bioteknologi agar tidak membahayakan masyarakat.

Salah satu kecelakaan laboratorium yang berdampak besar adalah flu Rusia pada tahun 1977, di mana virus H1N1 diduga keluar dari laboratorium dan menyebar di masyarakat.

Berbagai organisasi kemudian menerbitkan panduan keselamatan hayati, seperti Manual Keselamatan Hayati Laboratorium oleh WHO pada tahun 1983 dan Keselamatan Hayati dalam Laboratorium Mikrobiologis dan Biomedis oleh CDC pada tahun 1984.

Pada tahun 2000, Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati disepakati oleh berbagai negara untuk mengatur perpindahan organisme hidup termodifikasi antar negara. Selain itu, Organisasi Standardisasi Internasional menerbitkan standar ISO 35001:2019 tentang Sistem Manajemen Biorisiko Laboratorium, yang mendefinisikan keselamatan hayati sebagai praktik dan pengendalian untuk mengurangi risiko paparan atau pelepasan bahan biologis yang tidak disengaja.


Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Keselamatan_hayati