Pengenalan BIM dan Praktik 4D Scheduling dengan Navisworks (Timeliner)

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

05 Januari 2026, 13.42

Sumber: pexels.com

Pendahuluan

Perkembangan teknologi desain dan konstruksi terus bergerak dari metode konvensional menuju sistem digital yang lebih terintegrasi. Dalam konteks ini, BIM (Building Information Modeling) hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya mempercepat desain, tetapi juga menjaga kesinambungan informasi dari tahap perencanaan hingga operasi. Artikel ini merangkum materi webinar tentang BIM di Indonesia serta demonstrasi penggunaan Navisworks (Timeliner) untuk 4D Visualization—menghubungkan model 3D dengan jadwal pekerjaan.

Dari Pencil & Paper, 2D CAD, 3D CAD, hingga BIM

1) Pencil & Paper

Metode manual memungkinkan eksplorasi ide, tetapi membutuhkan dokumentasi ulang untuk tampak, potongan, dan detail—sehingga waktu banyak terserap pada proses drafting.

2) 2D CAD

2D CAD memudahkan produksi gambar, tetapi tetap memiliki kendala utama: gambar tampak/potongan tidak otomatis terbentuk dari model (karena memang bukan 3D). Dokumentasi masih menjadi aktivitas yang memakan waktu besar.

3) 3D CAD

3D CAD memangkas waktu visualisasi karena sudut pandang dan tampak dapat ditampilkan lebih cepat. Namun, kendala muncul pada fleksibilitas perubahan—terutama saat objek berulang dengan banyak variasi (misalnya berbagai tipe kolom, tinggi dinding berbeda, variasi dimensi). Pengguna sering harus membuat ulang atau memodifikasi secara manual, yang tetap memakan waktu.

4) BIM

BIM menggeser fokus kerja agar “waktu terserap pada designing” dengan objek yang lebih mudah dimodelkan dan dimodifikasi. Kekuatan BIM bukan hanya 3D, tetapi informasi yang menyertai objek (material, dimensi, volume, parameter, dll.), sehingga data tetap tersambung dari tahap plan–design–construct–operate.

BIM sebagai Workflow, Bukan Sekadar Software

Kesalahpahaman umum adalah menganggap BIM hanya sebagai software modeling. Padahal BIM adalah workflow digital: proses konvensional tetap ada (perencanaan, desain, konstruksi, operasi), tetapi setiap tahap diperkaya dengan informasi yang konsisten dan dapat diturunkan menjadi output konstruksi.

Jika pada 3D modeling umumnya fokus pada geometri, maka pada BIM:

  • Geometri + informasi objek disatukan

  • Informasi dapat ditarik menjadi volume, luasan, kuantitas, dan atribut teknis

  • Koordinasi lintas disiplin lebih terkendali karena potensi konflik bisa dideteksi lebih awal

Konteks Regulasi BIM di Indonesia

Dalam materi disebutkan bahwa BIM telah didorong melalui kebijakan, salah satunya Permen PUPR No. 22 Tahun 2018 yang mewajibkan penerapan BIM pada Bangunan Gedung Negara tidak sederhana dengan kriteria:

  • Luas di atas 2000 m²

  • Lebih dari 2 lantai

  • Output desain diwajibkan menggunakan BIM

Selain gedung, disebutkan pula adanya arahan/ketentuan untuk proyek jalan dan jembatan (dengan tools yang bisa berbeda dari gedung), misalnya:

  • Jalan/jembatan: Civil 3D untuk pemodelan/analisis, InfraWorks untuk visualisasi, dan pembahasan 4D bisa menggunakan Navisworks.

Output Utama dari BIM dalam Konstruksi

Setelah model tiap disiplin dibuat (arsitektur, struktur, MEP), model digabung menjadi multidisciplinary model, lalu dapat menghasilkan output berikut:

  1. Quantification / Quantity Take-Off (QTO)
    Pengambilan kuantitas otomatis dari model, mengurangi perhitungan manual.

  2. Clash Detection
    Deteksi tabrakan antar disiplin (misalnya ducting bertabrakan dengan balok, elevasi komponen tidak sesuai), sehingga koreksi dapat dilakukan sebelum eksekusi lapangan (menekan risiko biaya dan rework).

  3. 4D Sequencing (Schedule + Model)
    Model disinkronkan dengan jadwal kerja untuk menampilkan progres pekerjaan berdasarkan waktu.

  4. Visualization
    Membantu stakeholder memahami desain dan rencana pelaksanaan secara lebih jelas.

  5. Documentation
    Gambar kerja dan dokumen teknis dapat diturunkan dari model BIM.

Manfaat BIM yang Ditekankan dalam Materi

Beberapa manfaat utama BIM yang dijelaskan:

  • Mengurangi error lewat clash detection dan koordinasi awal

  • Cost lebih akurat karena kuantitas dan informasi lebih terukur

  • Better understanding bagi owner/stakeholder (model 3D lebih mudah dipahami)

  • Improve schedule karena potensi konflik ditangani lebih awal

  • Optimized design melalui proses yang lebih terintegrasi

Dimensi BIM (3D–7D) dan Fleksibilitas Penerapan

Dalam materi disebutkan dimensi BIM yang umum:

  • 3D: Geometri/visual model

  • 4D: Jadwal (schedule) dan sequencing

  • 5D: Kuantitas dan biaya (QTO/cost)

  • 6D: Energi & sustainability

  • 7D: Facility management/operation (pemeliharaan, aset, dll.)

Catatan penting dari sesi tanya jawab:
Dimensi BIM bukan hierarki yang wajib berurutan. Project bisa memilih sesuai kebutuhan, misalnya hanya 3D+4D, atau 3D+5D, atau hingga 7D.

LOD (Level of Development) dalam BIM

LOD menggambarkan tingkat detail model sesuai kebutuhan proyek:

  • LOD 100: Konseptual

  • LOD 200: Perkiraan geometri

  • LOD 300: Geometri akurat/presisi

  • LOD 400: Detail fabrikasi

Semakin tinggi LOD, semakin tinggi detail visual dan informasi, dan semakin besar kebutuhan koordinasi serta sumber daya.

Persiapan Implementasi BIM

Penerapan BIM membutuhkan kesiapan pada beberapa aspek:

  1. Human Resource: training dan sertifikasi

  2. Teknologi: hardware/software memadai untuk model yang “berat” (data besar)

  3. Network/Cloud: kerja kolaboratif berbasis data online

  4. Proses/SOP: workflow, koordinasi, kolaborasi, standar eksekusi

Praktik 4D di Navisworks: Timeliner

1) Peran Navisworks

Navisworks diposisikan sebagai software untuk:

  • Review, collaboration, coordination

  • Lebih ringan dibanding software modeling (Revit/Civil 3D) karena bukan untuk modeling

  • Mendukung banyak format (DWG, IFC, Revit, SketchUp, dll.) sehingga fleksibel untuk koordinasi

Core feature yang disebutkan:

  • Clash detection

  • Timeliner (4D)

  • Quantification

  • Markup

Fokus sesi ini: Timeliner (4D Visualization).

2) Menyiapkan Model untuk Navisworks

Disarankan menyiapkan file dalam format yang lebih ringan (contoh: NWC) agar navigasi lebih cepat dan file lebih efisien.

3) Membuat Task Schedule di Timeliner

Ada dua pendekatan:

  • Manual: membuat task satu per satu di Timeliner

  • Data Source: impor dari MS Project/Primavera/CSV (jika format didukung)

Dalam demo, schedule dibuat manual dan dibagi menjadi dua kelompok besar:

  • Pekerjaan Struktur Bawah (contoh: bore pile, lean concrete, pile cap)

  • Pekerjaan Struktur Atas (contoh: abutment, wingwall, bearing pad, anchor, pier/pier head, girder, diafragma, deck slab, trotoar, barrier, fence, drain, pipa & fitting, aspal)

Setiap task diatur:

  • Planned Start

  • Planned End

  • Task Type: umumnya diset sebagai Construct (bukan Demolish/Temporary)

4) Menghubungkan Task dengan Objek Model (Attach Selection)

Agar 4D berjalan, objek 3D harus “diikat” ke task schedule.

Cara yang ditunjukkan:

  • Attach Current Selection: pilih objek di model → klik kanan pada task → attach

  • Drag and Drop: tarik objek ke task (lebih cepat, tetapi rawan salah penempatan)

Prinsipnya: setiap elemen model harus masuk ke task yang tepat agar simulasi akurat.

5) Simulasi 4D (Simulate)

Setelah semua task dan objek terhubung:

  • Masuk ke Simulate

  • Jalankan Play untuk melihat urutan konstruksi sesuai tanggal

  • Jika ada elemen tidak muncul, biasanya karena:

    • Belum di-set Construct

    • Belum ter-attach ke task yang benar

    • Elemen berada di kategori berbeda dan belum ikut terseleksi

6) Membuat Animasi Viewpoint agar Visual Lebih Menarik

Agar hasil visual tidak statis, dibuat animasi kamera:

  • Simpan beberapa Viewpoint dari berbagai angle

  • Buat Animation dari kumpulan viewpoint

  • Jalankan Timeliner dengan animation aktif agar simulasi 4D tampil lebih dinamis

7) Export Hasil Simulasi Menjadi Video

Output dapat diekspor melalui menu Export Animation, dengan pengaturan:

  • Source: Timeliner Simulation

  • Format: AVI (contoh)

  • Atur durasi dan FPS sesuai kebutuhan agar transisi lebih halus

Video ini dapat digunakan sebagai bahan pelaporan progres atau komunikasi kepada stakeholder.

Kesimpulan

BIM merupakan pendekatan kerja yang mengintegrasikan geometri dan informasi sepanjang siklus hidup proyek. Salah satu penerapannya yang sangat praktis untuk konstruksi adalah 4D scheduling, yaitu menghubungkan model 3D dengan jadwal pekerjaan agar urutan konstruksi dapat divisualisasikan.

Melalui Navisworks Timeliner, pengguna dapat menyusun task, menghubungkan objek model, mensimulasikan progres, membuat animasi kamera, dan mengekspor hasilnya sebagai video. Output ini sangat membantu koordinasi tim, komunikasi stakeholder, serta dokumentasi dan pelaporan progres proyek.

📚 Sumber Utama

Webinar BIM & 4D (Timeliner) – Diklatkerja.com

📖 Referensi Pendukung

  • Eastman, C., Teicholz, P., Sacks, R., & Liston, K. BIM Handbook

  • Project Management Institute (PMI). PMBOK Guide (untuk konsep penjadwalan & progres)

  • Autodesk Navisworks Documentation (untuk konsep Timeliner & clash detection)