Pengembangan Inovatif Produksi Garam dengan Teknologi Membran pada Mini Pabrik Garam dari Rejected Brine

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

15 Maret 2024, 09.51

Sumber: ekon.go.id

Pengembangan garam industri terpadu merupakan salah satu proyek penting tingkat nasional sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2020. Proyek ini mencakup tiga komponen utama: Pabrik Pengolahan Garam Rakyat, Produksi Pahit Terpadu, dan Pabrik Garam PLTU. Ketiga bagian ini memiliki peranan strategis dalam menangani masalah tingginya impor garam serta produksi garam dalam negeri yang masih belum memadai, dengan kualitas yang masih di bawah standar industri.

Bapak Wahyu Utomo, Deputi Direktur Jenderal Koordinasi Pembangunan Daerah dan Tata Ruang, menghadiri peresmian mini proyek ini sebagai ketua tim pelaksana Komite Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas, mewakili Deputi Direktur Jenderal Bencana Pencegahan dan Pemanfaatan Teknologi Mukshin. Pada Rabu (15/12/2021), pabrik brine salt PLTU Suralaya di Provinsi Cilegon-Banten menghadapi penolakan. Mini plant ini merupakan hasil riset dan inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Nasional (BRIN) yang menggunakan limbah brine PLTU yang berasal dari pengolahan air laut pada boiler pembangkit listrik.

Teknologi membran digunakan untuk memproses air garam yang ditolak, melalui serangkaian tahap termasuk ultrafiltrasi, nanofiltrasi, reverse osmosis, dan konsentrasi air garam. Air tawar yang dihasilkan dapat digunakan sebagai air baku untuk kebutuhan konsumsi. Kapasitas produksi proyek mini plant ini mencapai 750 ton garam per tahun. Kolaborasi antara BRIN dan PT Indonesia Power dilakukan untuk pembuatan mini pabrik garam industri.

"Jika potensi reject brine dari PLTU Jawa dimanfaatkan secara maksimal, maka akan dihasilkan sekitar 1,8 juta ton garam yang memenuhi syarat mutu Proses Klor-Alkali (CAP)," kata BRIN Chemical, Direktur Teknologi Sumber Daya Energi Industri Pusat (PTSEIK) Ayam Saputra. Jumlah ini hampir mencukupi kebutuhan garam CAP sebesar 2,4 juta ton. PLTU Suralaya sendiri memiliki potensi produksi garam tahunan sebesar 368.730 ton. Perluasan pabrik garam PLTU mini ini merupakan langkah pertama dalam mengubah limbah brine menjadi garam. Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai investasi, baik untuk tahap air garam pekat maupun tahap kristalisasi.

Kementerian Koordinator Perekonomian bersama Kementerian Koordinator Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, dan BRIN akan terus berupaya mengembangkan industri garam di Indonesia. Garam diharapkan dapat menjadi salah satu bahan ekspor yang penting di masa depan. Deputi Muksin berharap BRIN dapat terus mengembangkan teknologi pengolahan garam ini untuk diaplikasikan di berbagai sentra produksi garam di Indonesia.


Disdur dari: www.ekon.go.id