Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan sebagai Fondasi Kehidupan dan Penghidupan di Indonesia

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat

12 Januari 2026, 16.56

1. Pendahuluan

Air merupakan elemen paling mendasar dalam eksistensi manusia, tetapi sering kali justru diperlakukan sebagai sumber daya yang tak terbatas. Dalam praktik pembangunan modern, air cenderung dipandang semata sebagai input teknis bagi sektor pertanian, industri, dan permukiman. Pendekatan ini menyederhanakan makna air, seolah-olah ia hanya persoalan kuantitas dan distribusi, padahal air memiliki dimensi ekologis, sosial, dan kultural yang jauh lebih kompleks.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara tropis dengan curah hujan tinggi, paradoks pengelolaan air semakin nyata. Di satu sisi, Indonesia memiliki potensi air tawar yang besar secara global. Di sisi lain, krisis air bersih, banjir, dan degradasi daerah aliran sungai terus berulang di berbagai wilayah. Kontradiksi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan alamiah, melainkan pada cara manusia mengelola dan memanfaatkan sumber daya air tersebut.

Artikel ini menganalisis pengelolaan sumber daya air sebagai suatu sistem yang berkaitan langsung dengan keberlanjutan kehidupan dan penghidupan. Berangkat dari gagasan bahwa air tidak hanya menopang hidup secara biologis, tetapi juga menentukan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi, analisis ini menempatkan pengelolaan air sebagai isu strategis pembangunan jangka panjang, bukan sekadar urusan teknis sektoral

 

2. Air sebagai Penopang Kehidupan dan Aktivitas Sosial Ekonomi

Air memiliki peran ganda yang tidak dapat dipisahkan antara fungsi ekologis dan fungsi sosial ekonomi. Pada level paling dasar, air menjadi medium utama kehidupan biologis manusia sejak sebelum kelahiran. Pada tahap berikutnya, air membentuk pola permukiman, aktivitas ekonomi, dan perkembangan peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa pusat-pusat peradaban besar selalu tumbuh di sekitar sungai dan sumber air yang andal.

Dalam konteks modern, fungsi air semakin meluas. Air menjadi kebutuhan utama untuk konsumsi domestik, irigasi pertanian, pembangkit energi, serta berbagai proses industri. Setiap sektor memiliki karakteristik kebutuhan yang berbeda, baik dari sisi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas pasokan. Ketidakseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan ini kerap memicu konflik antar-pengguna, terutama di wilayah dengan tekanan penduduk dan aktivitas ekonomi tinggi.

Masalah muncul ketika air diperlakukan hanya sebagai komoditas pemenuh kebutuhan jangka pendek. Pendekatan ini sering mengabaikan daya dukung lingkungan dan kapasitas regeneratif sistem hidrologi. Pengambilan air tanah berlebihan, konversi lahan resapan, dan degradasi hutan di hulu sungai menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas manusia dapat mengganggu keseimbangan siklus air. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi akumulatif dan sering kali baru disadari ketika krisis telah terjadi.

Dengan demikian, memahami air sebagai penopang kehidupan dan penghidupan menuntut perubahan cara pandang. Air perlu dilihat sebagai sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir, dari aspek alamiah hingga sosial. Tanpa perspektif ini, upaya pengelolaan sumber daya air berisiko terjebak pada solusi parsial yang menyelesaikan satu masalah sambil menciptakan masalah baru di tempat lain.

 

3. Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Air di Tengah Tekanan Pembangunan

Seiring meningkatnya intensitas pembangunan, tantangan pengelolaan sumber daya air di Indonesia semakin kompleks dan saling terkait. Urbanisasi yang pesat, ekspansi kawasan industri, serta perubahan pola penggunaan lahan telah mengubah dinamika siklus hidrologi secara signifikan. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah kini lebih banyak menjadi limpasan permukaan, meningkatkan risiko banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Tekanan juga datang dari sektor pertanian yang masih menjadi pengguna air terbesar. Sistem irigasi yang belum sepenuhnya efisien menyebabkan tingkat kehilangan air yang tinggi, terutama di daerah dengan infrastruktur tua atau kurang terawat. Di sisi lain, kebutuhan air untuk sektor domestik dan industri terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi, menciptakan persaingan antarsektor yang semakin tajam.

Perubahan iklim memperburuk kondisi tersebut dengan meningkatkan ketidakpastian pola curah hujan. Musim hujan yang lebih singkat namun intens, serta musim kemarau yang lebih panjang, membuat perencanaan pengelolaan air berbasis pola historis menjadi kurang relevan. Ketergantungan pada pendekatan reaktif, seperti pembangunan infrastruktur darurat setelah bencana, sering kali tidak menyentuh akar masalah dan justru menambah beban fiskal jangka panjang.

Selain faktor alam dan teknis, tantangan sosial dan kelembagaan juga berperan besar. Fragmentasi kewenangan antarinstansi, tumpang tindih regulasi, dan lemahnya koordinasi lintas wilayah sungai menghambat pengelolaan air secara menyeluruh. Dalam kondisi seperti ini, air tidak lagi menjadi pemersatu kepentingan, melainkan sumber potensi konflik yang laten.

 

4. Keterpaduan Perencanaan, Infrastruktur, dan Tata Kelola Air

Menghadapi tantangan yang bersifat multidimensional, pengelolaan sumber daya air tidak dapat bergantung pada satu instrumen kebijakan atau solusi teknis tunggal. Keterpaduan antara perencanaan, pembangunan infrastruktur, dan tata kelola menjadi prasyarat utama untuk mencapai keberlanjutan. Tanpa integrasi tersebut, setiap intervensi berisiko menghasilkan dampak yang terfragmentasi dan kurang efektif.

Perencanaan sumber daya air yang berkelanjutan harus berbasis pada skala wilayah sungai, bukan batas administratif. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih utuh terhadap hubungan hulu-hilir, termasuk dampak aktivitas di satu wilayah terhadap wilayah lain. Dalam kerangka ini, pembangunan bendungan, saluran irigasi, dan sistem pengendalian banjir perlu diselaraskan dengan upaya konservasi daerah tangkapan air dan perlindungan ekosistem.

Infrastruktur air juga perlu dipandang sebagai sistem adaptif, bukan struktur statis. Investasi pada teknologi pemantauan, pengelolaan data hidrologi, dan sistem peringatan dini dapat meningkatkan kemampuan respons terhadap variabilitas iklim. Namun, infrastruktur fisik saja tidak cukup jika tidak didukung oleh tata kelola yang transparan dan partisipatif.

Tata kelola air yang efektif menuntut keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat lokal. Partisipasi ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan dan proyek air tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga adil secara sosial. Dengan demikian, keterpaduan perencanaan, infrastruktur, dan tata kelola bukan sekadar konsep normatif, melainkan fondasi praktis bagi pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

 

5. Air, Ketahanan Pangan, dan Keberlanjutan Penghidupan

Hubungan antara air dan ketahanan pangan bersifat langsung dan tidak tergantikan. Sebagian besar sistem produksi pangan di Indonesia masih bergantung pada ketersediaan air permukaan dan air tanah, khususnya untuk pertanian padi sebagai komoditas utama. Ketika pengelolaan air terganggu, dampaknya tidak hanya berupa penurunan produksi, tetapi juga meningkatnya kerentanan sosial ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Ketergantungan yang tinggi terhadap pola irigasi konvensional membuat sistem pangan rentan terhadap variabilitas iklim. Kekeringan berkepanjangan atau perubahan waktu tanam akibat ketidakpastian hujan dapat mengganggu siklus produksi dan distribusi pangan. Dalam kondisi ini, pengelolaan air yang tidak adaptif berpotensi memperlebar kesenjangan antara wilayah dengan akses air yang memadai dan wilayah yang mengalami defisit air.

Air juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan penghidupan di luar sektor pertanian. Perikanan darat, pariwisata berbasis alam, dan industri kecil di pedesaan sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas air. Degradasi sumber air tidak hanya mengancam mata pencaharian, tetapi juga melemahkan ketahanan sosial masyarakat lokal. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan penghidupan berkelanjutan.

Pendekatan yang mengaitkan air dengan ketahanan pangan dan penghidupan menuntut kebijakan lintas sektor yang lebih koheren. Upaya peningkatan produksi pangan tidak dapat dipisahkan dari konservasi sumber daya air. Tanpa integrasi tersebut, kebijakan sektoral berisiko saling meniadakan dan justru memperbesar tekanan terhadap sistem air nasional.

 

6. Refleksi Strategis dan Arah Pengelolaan Sumber Daya Air ke Depan

Pengelolaan sumber daya air di Indonesia memasuki fase yang menuntut refleksi strategis. Tantangan yang dihadapi saat ini menunjukkan bahwa pendekatan teknokratis yang terfragmentasi tidak lagi memadai. Air perlu diposisikan sebagai elemen strategis pembangunan yang melampaui sekat sektor dan wilayah administratif.

Ke depan, arah pengelolaan sumber daya air perlu menekankan keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi. Peningkatan kapasitas infrastruktur harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan penguatan kapasitas kelembagaan. Dalam konteks ini, pengembangan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan data menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa setiap keputusan didukung oleh pemahaman yang komprehensif tentang dinamika sistem air.

Selain itu, perubahan paradigma juga diperlukan dalam memandang peran masyarakat. Pengelolaan air yang berkelanjutan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Kesadaran, partisipasi, dan kepemilikan bersama atas sumber daya air menjadi faktor kunci keberhasilan jangka panjang. Ketika masyarakat dilibatkan secara bermakna, kebijakan dan proyek air memiliki peluang lebih besar untuk diterima dan dipelihara.

Sebagai penutup, air merupakan fondasi kehidupan dan penghidupan yang tidak tergantikan. Tantangan pengelolaannya mencerminkan tantangan pembangunan itu sendiri, yaitu bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Dengan pendekatan yang terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang, pengelolaan sumber daya air dapat menjadi pilar utama bagi masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan.

 

 

Daftar Pustaka

Wignyodarsono, S. L. (2023). Air sebagai penopang kehidupan dan penghidupan: Tantangan dan arah pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Gleick, P. H. (2018). The world's water volume 8: The biennial report on freshwater resources. Island Press.

UN-Water. (2021). Summary progress update 2021: SDG 6 – Water and sanitation for all. United Nations.

FAO. (2020). Water and agriculture: Managing water for sustainable food systems. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

OECD. (2015). Water resources governance in OECD countries: A multi-level approach. OECD Publishing.

IPCC. (2022). Climate change 2022: Impacts, adaptation and vulnerability. Cambridge University Press.