Penemuan Logam Tanah Jarang dalam Batu Bara Indonesia: Potensi dan Eksplorasi oleh Badan Geologi Kementerian ESDM

Dipublikasikan oleh Cindy Aulia Alfariyani

10 Mei 2024, 09.45

Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan terdapat kandungan Logam Tanah Jarang (LTJ) dalam batu bara yang ada di Indonesia.

Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid menjelaskan, pihaknya saat ini terus mengeksplorasi kandungan LTJ di dalam batu bara. Dia mengatakan, berdasarkan eksplorasi yang dilakukan, ditemukan bahwa memang terdapat LTJ pada Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) batu bara thermal.

"Badan Geologi kan terus eksplor salah satu batu bara thermal. Itu ash dan bottom ash-nya itu ada mengandung LTJ," bebernya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/01/2024).

Dia mengatakan, pengembangan penemuan LTJ pada batu bara akan terus dilakukan untuk bisa menemukan kandungan LTJ mana yang paling banyak terkandung dalam setiap jenis batu bara.

"Kita kan punya klasifikasi batu bara, kan banyak dari yang low range sampai high range. Akan dicoba juga nih yang paling potensi untuk PPM tinggi di mana LTJ-nya. Baru dilihat itu dulu, lokasinya di mana," tambahnya.

Namun sampai saat ini, Wafid menyebutkan bahwa temuan LTJ dalam batu bara belum dimanfaatkan lantaran masih dalam tahap identifikasi.

"Kalau bicara teknologi kita perlu grafit. Grafit bisa diganti melalui grafen dari batu bara dan sebagainya. Kita coba eksplor semua. Kita kerja sama dengan TEKMIRA tentang teknologi apa yang bisa dikembangkan di situ," tandasnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, Irwandy Arif mengatakan potensi kandungan LTJ dalam batu bara masih dalam tahap kajian awal. Dia mengatakan saat ini masih dilakukan perhitungan jumlah potensi sumber daya LTJ yang ada di Indonesia.

"Jadi semua masalah rare earth mineral (LTJ) masih dalam tahap awal, kecuali monasit di Babel. Yang lain masih tahap penyelidikan awal, masih menghitung sumber dayanya," ujar Irwandy saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (29/12/2023).

Dengan begitu, perihal potensi kandungan LTJ dalam batu bara saat ini masih belum bisa dibuktikan kebenarannya lantaran masih membutuhkan penelitian yang mendalam terlebih dahulu.

"Cuma kan penelitiannya harus mendalam dulu. Belum (terbukti), masih jauh," tambahnya.

Irwandy pun mengatakan saat ini penelitian yang sudah lebih dahulu dilakukan adalah pada jenis LTJ Monasit. Dia menilai hal itu lantaran di dalam monasit terkandung sumber daya lainnya yakni Thorium. "Kalau monasit cukup jauh karena dalamnya ada thorium," tandasnya.

Mengutip buku "Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia" yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, LTJ merupakan salah satu dari mineral strategis. Ia termasuk "critical minerals" berada di kerak bumi.

Ini terdiri dari kumpulan dari unsur-unsur scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd). Ada pula terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Mineral yang mengandung LTJ utama adalah bastnaesit, monasit, xenotim, zirkon, dan apatit. Bahkan, tak jarang logam tanah jarang juga berpotensi terdapat pada batu bara.

Sejumlah mineral ini diburu oleh banyak pihak. Sebab memiliki banyak manfaat dan bisa digunakan sebagai bahan baku dari berbagai peralatan yang membutuhkan teknologi modern.

Ini terjadi mengingat pemanfaatannya yang beragam. Mulai dari bahan baku untuk baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB), termasuk pertahanan dan kendaraan.

Adapun sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik. Endapan plaser ini banyak dijumpai pada lokasi kaya sumber daya timah. Seperti di Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan selatan Kalimantan Barat.

Sementara untuk endapan lateritik terdapat di beberapa wilayah. Seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton. Logam tanah jarang juga berpotensi terdapat pada batu bara. Tapi sayangnya, LTJ pada batu bara Indonesia masih sangat terbatas.

Namun, berdasarkan kondisi geologi dan besarnya potensi batu bara Indonesia, diperkirakan potensi LTJ pada batu bara Indonesia cukup signifikan. Penelitian terbaru dari Anggara dkk. (2018) dilakukan pada batu bara Bangko Sumatera Selatan dan menunjukkan bahwa batu bara tersebut memiliki kandungan LTJ hingga mencapai 118,4 ppm.

Sumber: www.cnbcindonesia.com