Optimisme PAM Mineral: Bisnis Bijih Nikel Berpotensi Laba Tinggi, Proyeksi Kenaikan Hingga 263%

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

12 Maret 2024, 08.22

Sumber : kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan laporan keuangan periode akhir tahun 2020, PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan laba sebesar Rp 195,44 juta dan laba periode berjalan secara keseluruhan sebesar Rp 28,45 juta.

Saat ini, pendapatan operasional perseroan mencapai Rp33,57 miliar, dibandingkan rugi operasional sebesar Rp16,5 miliar pada Desember 2019.

Presiden PAM Minerals Ruddy Tjanaka mengatakan situasinya lebih baik dibandingkan perseroan. Perusahaan masih membukukan kerugian keseluruhan sebesar $14,07 miliar pada tahun 2019.

“Peningkatan laba operasional yang signifikan disebabkan oleh peningkatan pendapatan penjualan yang signifikan dari divisi IBM,” kata perusahaan Rudy, Jumat (2021). ) Dalam keterangan tertulisnya (30 Juli), dia mengatakan: “Laba usaha nikel akan meningkat pada tahun 2020 dan digabungkan dengan tahun sebelumnya.” Laba tahun 2020. Targetnya peningkatan laba bersih sebesar 263,46% (diharapkan Rp 28,45 juta).

Dari sisi penjualan, total penjualan tahun ini mencapai 1,8 juta metrik ton (MT), naik 87,04% dari volume penjualan 695.034 metrik ton pada tahun 2020.

Ruddy yakin bisnis nikel anak usaha NICL, PT Indrabakti Mustika (IBM) akan untung di masa depan. Hal ini disebabkan tingginya permintaan bijih nikel di pasar dalam negeri dan kenaikan harga nikel.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan industri kendaraan listrik dan infrastruktur dengan mendirikan perusahaan induk baterai milik pemerintah Indonesia. Ini adalah perusahaan yang didirikan bekerja sama dengan produsen kendaraan listrik global LG Chem (Korea) dan CATL (China).

Pabrik baterai diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2023. Oleh karena itu, logam kobalt yang menjadi bahan baku baterai harus mengandung nikel rendah. Saat ini permintaan bijih nikel berkualitas tinggi terus meningkat terutama dari industri pengolahan atau peleburan. Dengan eksplorasi yang berkelanjutan, NICL yakin akan memiliki sumber daya bijih nikel yang melebihi 28 juta ton. Tidak semua 28 juta bijih nikel berkadar tinggi, namun ada juga yang berkadar lebih rendah. Selain bijih nikel kadar tinggi, saat ini perseroan juga menjual bijih nikel kadar rendah menjadi paduan logam.

Dalam waktu dekat, perseroan menargetkan target produksi 1,8 juta metrik ton bijih nikel sesuai Rencana Aksi Keuangan (RKAB) bisa tercapai.

Dalam jangka panjang, perseroan mempunyai strategi menambah cadangan dengan membeli tambang baru. Dengan demikian, pertumbuhan kerja perusahaan dapat ditingkatkan.

PAM Mineral baru-baru ini melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan menawarkan 2 miliar saham kepada publik.

Jumlah saham setara dengan 20,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga IPO Rp 100 per saham, perseroan akan mendapat pendanaan baru Rp 200 miliar..

 Disadur dari :  https://money.kompas.com/read/2021/07/30/092239126/bisnis-bijih-nikel-menjanjikan-pam-mineral-optimistis-raih-laba-hingga-263