Optimasi Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Standarisasi Intensifikasi

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

24 April 2024, 08.05

Sumber: minio.brin.go.id

Jakarta – Humas BRIN. Saat ini produktivitas kelapa sawit dunia berkisar 4 ton minyak perhektar pertahun, masih di bawah persyaratan standar nasional yaitu 6 ton perhektar pertahun. Bahkan masih jauh dari perkiraan potensi maksimum sebesar 18,5 ton perhektar pertahun jika mempertimbangkan semua atribut fisiologis optimal ujar Daryono Restu Wahono, Periset Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar (PR TPS) BRIN. “Salah satu upaya untuk mengoptimalkan mengoptimalkan produksi dan produktivitas sawit rakyat tanpa membuka lebih banyak lahan untuk budidaya adalah melakukan intensifikasi. Metode ini diharapkan bisa menjembatani kesenjangan antara target produksi dan perlindungan lingkungan,” jelas Daryono dalam Diskusi Panel dengan tema “Smart Farming For Subtainable Growth” pada Kamis (16/11).

Lebih lanjut Daryono menjelaskan bagaimana peranan SNI 8211-2023 sebagai pedoman bagi produsen dan pemulia benih kelapa sawit agar mampu menghasilkan benih unggul kelapa sawit dengan lebih baik. “Perusahaan perkebunan dan pekebun dapat memanfaatkan benih unggul tersebut untuk peremajaan tanaman sawit rakyat dan berumur lebih dari 25 tahun yang mempunyai produktivitas rendah menjadi tanaman sawit rakyat produktivitas tinggi yang berkelanjutan,” lanjutnya. Daryono pun mencontohkan perhitungan matematis terkait proyeksi peningkatan produksi kelapa sawit hingga tahun 2025. “Jika intensifikasi yang dilakukan dengan menggunakan SNI 8211:2023 yang sejalan dengan PP 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, maka produksi kelapa sawit Indonesia akan mencapai 89,976 juta ton pada tahun 2025,” pungkasnya.

Untuk mendukung terwujudnya hal tersebut Daryono menggarisbawahi bahwa pemerintah wajib mensertifikasi seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sesuai dengan Perpres 44 Tahun 2020, paling lambat 5 tahun setelah peraturan ini diundangkan. “Adanya persyaratan mutu pada produksi benih bertujuan untuk menjamin bahwa benih kelapa sawit mempunyai mutu yang baik secara genetik maupun fisik. Penggunaan benih kelapa sawit sesuai standar SNI 8211:2023 akan sangat membantu dalam meningkatkan produksi kelapa sawit di Indonesia. Standar tersebut juga mengatur persyaratan mutu benih kelapa sawit hingga pelayanan purna jual. Selain itu dalam standar ini juga terdapat persyaratan pengemasan dan persyaratan benih siap tanam, serta persyaratan penanaman benih kelapa sawit,” terang Daryono.

Diakhir, Daryono menekankan bahwa dengan penggunaan SNI 8211:2023 untuk Benih Kelapa Sawit, akan menghasilkan bibit kelapa sawit berkualitas yang dapat digunakan untuk program intensifikasi. “Untuk mencapai hasil yang maksimal, program intensifikasi kelapa sawit nasional harus menggunakan SNI 8211:2023 untuk Benih Kelapa Sawit. Namun demikian, intensifikasi ini juga harus disertai dengan program sertifikasi yang diwajibkan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia,” ujar Daryono. Ia pun lanjut menjelaskan bahwa intensifikasi kelapa sawit nasional dengan standar SNI 8211:2023 dapat mengatasi permasalahan pembangunan ekonomi nasional yang diarahkan pada pengentasan kemiskinan, mengatasi pengangguran, peningkatan pendapatan, stabilisasi perekonomian, dan pemerataan Pembangunan, tutupnya.

Senada dengan apa yang dijelaskan Daryono, Analis Standardisasi Badan Standardisasi Nasional, Evan Buwana menyebutkan pentingnya keseimbangan antara standar dan perkembangan teknologi. “Pertanian berkelanjutan membutuhkan keseimbangan yang apik antara standar ketat dan perkembangan terus-menerus dalam inovasi teknologi. Standarisasi dan teknologi itu punya hubungan yang intim sebetulnya. Dengan demikian, penerapan standar ini akhirnya bisa meningkatkan daya saing dan kinerja,” jelas Evan. Diskusi Panel ini merupakan rangkaian dari Bulan Mutu Nasional 2023 yang mengangkat tema “Standardisasi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkelanjutan”. Gelaran ini dilangsungkan di Jakarta Convention Center.

 

Sumber: www.brin.go.id