1. Pendahuluan
Ada momen menarik dalam sejarah teknologi modern: ketika cahaya biru yang tampaknya sederhana justru membuka jalan bagi revolusi besar. Prof. Pepen Arifin memulai orasinya dengan menyinggung Nobel Fisika 2014 yang diberikan atas kontribusi pengembangan LED biru efisien. Ini bukan sekadar cerita penghargaan, tetapi pengingat bahwa inovasi besar sering lahir dari keberhasilan “menaklukkan detail” yang sebelumnya dianggap sulit.
Di kehidupan sehari-hari, LED adalah benda yang nyaris tidak kita sadari. Ia sekadar lampu kecil, murah, dan selalu ada. Tetapi begitu kita memikirkan LED putih yang sekarang mendominasi pencahayaan, kita akan menemukan bahwa warna putih sebenarnya adalah hasil rekayasa: gabungan elemen merah, hijau, dan biru, dengan biru menjadi komponen yang lama menjadi tantangan.
Di titik inilah orasi Prof. Pepen terasa seperti membuka pintu ke ruang mesin teknologi. LED bukan hanya “bohlam modern”, tetapi struktur berlapis yang disusun dari material semikonduktor dalam bentuk lapisan tipis, salah satunya berbasis galium nitrida (GaN) dan turunannya seperti aluminium galium nitrida (AlGaN) serta indium galium nitrida (InGaN).
Mengapa lapisan tipis ini begitu penting? Karena dalam semikonduktor, cahaya adalah konsekuensi dari peristiwa yang sangat spesifik: elektron berpindah dari pita konduksi ke pita valensi, lalu energi yang dilepas berubah menjadi foton. Warna foton itu bukan hasil “cat”, melainkan ditentukan oleh lebar celah pita energi materialnya.
Dan di sinilah konsep kunci orasi ini muncul: bandgap engineering.
Prof. Pepen menjelaskan bahwa pada sistem Ga-In-N, lebar celah pita energi GaN berada di sekitar 3,49, sedangkan InN sekitar 0,7. Dengan mengatur komposisi, celah pita energinya bisa dibuat bervariasi. Artinya, kita bisa “menyetel” material agar memancarkan warna tertentu. Jika disederhanakan untuk pembaca non-fisika: di dunia LED modern, warna bukan dipilih belakangan, tetapi ditentukan sejak proses sintesis materialnya.
Namun, ada tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar konsep teoritis: bagaimana membuat material itu benar-benar tumbuh sebagai lapisan tipis dengan kualitas kristal yang baik?
Dalam orasi ini, Prof. Pepen membawa pembaca menuju proses yang menjadi tulang punggung produksi semikonduktor tertentu: metal-organic chemical vapor deposition (MOCVD). MOCVD bukan hanya “alat”, tetapi ekosistem proses yang mengatur bagaimana atom-atom tersusun rapi, lapis demi lapis, menjadi struktur kristal yang berfungsi secara elektronik.
Kita sering mendengar narasi kemandirian teknologi semikonduktor hanya sebagai urusan industri besar dan geopolitik. Tetapi orasi ini menunjukkan sisi yang lebih fundamental: kemandirian dimulai dari penguasaan proses sintesis.
Karena jika negara belum bisa menumbuhkan materialnya sendiri, maka negara akan selalu bergantung—bukan hanya pada chip jadi, tetapi pada kemampuan paling awal dalam rantai nilai: menghasilkan material fungsional.
2. Dari Teori Bandgap ke Lapisan Tipis: Bagaimana MOCVD “Menyusun” Semikonduktor Paduan
Kalau bandgap engineering adalah tujuan, maka MOCVD adalah cara.
Dalam orasi, Prof. Pepen menjelaskan proses penumbuhan GaN sebagai cerita tentang transformasi bahan dasar menjadi struktur kristal. Gambaran sederhananya seperti ini: kita menyiapkan substrat, lalu memulai pertumbuhan sehingga terbentuk “pulau-pulau” material di permukaan. Setelah pulau-pulau itu menyatu, pertumbuhan berlanjut ke lapisan berikutnya sampai diperoleh ketebalan tertentu.
Pola pertumbuhan ini memberi pesan penting: penumbuhan lapisan tipis bukan sekadar menambahkan material. Ia adalah proses mengatur keteraturan.
Karena jika keteraturan tidak terjadi, material bisa berubah menjadi polikristal atau amorfus. Dan dalam semikonduktor, ini bukan sekadar perbedaan estetika. Struktur kristal memengaruhi sifat elektronik, performa, hingga stabilitas.
Maka setelah penumbuhan, pertanyaan pertama bukan “apakah lapisan sudah terbentuk?”, tetapi “apakah yang terbentuk benar-benar GaN dengan struktur kristal yang benar?”.
Orasi ini menekankan bahwa karakterisasi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sintesis. Salah satu karakterisasi yang penting adalah difraksi sinar-X untuk memastikan identitas material serta konstanta kisi yang menjadi semacam sidik jari struktur kristal.
Di titik ini, MOCVD terlihat bukan sebagai proses tunggal, melainkan sistem yang mencakup:
-
kimia prekursor
-
kontrol temperatur
-
dinamika gas
-
reaksi dekomposisi
-
reaksi pembentukan material
-
dan verifikasi melalui karakterisasi
Lalu Prof. Pepen masuk pada detail yang membuat MOCVD terasa “hidup”: bagaimana sumber gallium dan nitrogen disiapkan.
Gallium dalam kondisi biasa adalah logam, sedangkan nitrogen adalah gas. Dua wujud ini tidak mudah bereaksi langsung untuk membentuk GaN. Tetapi di sinilah peran kimia organologam: gallium diikat dalam senyawa trimethyl gallium. Pada temperatur sekitar 400 derajat, senyawa ini dapat terdekomposisi menghasilkan atom gallium yang siap bereaksi.
Sementara itu, nitrogen biasanya dipasok lewat amonia yang dipanaskan pada temperatur tinggi (sekitar 1000 derajat) agar menghasilkan atom nitrogen aktif. Atom gallium dan nitrogen inilah yang kemudian bereaksi membentuk GaN pada permukaan lapisan tipis.
Di sini terlihat sebuah dilema produksi: temperatur tinggi membantu reaksi, tetapi juga membawa risiko. Prof. Pepen menyebut efek yang bisa terjadi pada temperatur tinggi seperti difusi, dekomposisi, dan segregasi yang dapat menurunkan kualitas material.
Dilema ini sangat penting, karena ia memperlihatkan bahwa sintesis semikonduktor bukan hanya tantangan “apakah bisa jadi”, tetapi tantangan “bagaimana membuatnya konsisten bagus”.
Orasi ini lalu menawarkan solusi strategis melalui pendekatan plasma-assisted. Alih-alih memakai amonia, nitrogen murni digunakan dan diaktifkan dengan gelombang mikro agar berubah menjadi atom nitrogen teraktivasi.
Kalau dijelaskan secara naratif, pendekatan ini seperti memindahkan beban kerja dari temperatur tinggi ke aktivasi plasma. Tujuannya bukan sekadar membuat proses lebih modern, tetapi membuat kualitas lebih terjaga dengan mengurangi risiko yang muncul dari suhu ekstrem.
Di tahap yang lebih lanjut, Prof. Pepen juga menceritakan pengembangan sistem MOCVD dengan lebih dari satu reaktor, termasuk sistem termal dan sistem khusus oksida, sehingga mampu menghasilkan berbagai jenis material: semikonduktor paduan, semikonduktor oksida, dan material lain.
Pada akhirnya, bagian ini mengantar kita pada poin yang terasa sangat “Indonesia”: tonggak capaian riset.
Prof. Pepen menyebut bahwa pada periode 1999–2000, mereka berhasil menumbuhkan lapisan tipis GaN, GaAs, dan GaSb—sebuah capaian yang disebut sebagai tonggak karena material tersebut berhasil ditumbuhkan pertama kali di Indonesia. Ini bukan sekadar pencapaian laboratorium, tetapi pencapaian strategis: bukti bahwa proses sintesis yang biasanya mahal dan kompleks bisa dikuasai secara lokal.
Bahkan ketika tim berhasil menumbuhkan AlGaN dan mempresentasikannya di konferensi, mereka mendapat apresiasi karena dianggap mampu menumbuhkan nitrida dan AlGaN yang sebelumnya dipercaya tidak akan berhasil karena laju pertumbuhan rendah dan tingginya defek.
Di bagian ini, orasi seperti memberi pesan diam-diam: dalam dunia semikonduktor, kemampuan menumbuhkan material bukan sekadar kompetensi, tetapi legitimasi. Jika bisa menumbuhkan material kompleks, maka pintu menuju aplikasi yang lebih tinggi terbuka.
3. Dari Lapisan Tipis ke Fungsi: Doping, Paduan, dan Jalan Menuju Perangkat Elektronik Modern
Kalau penumbuhan lapisan tipis adalah fondasi, maka pertanyaan berikutnya lebih menentukan: lapisan tipis itu bisa dipakai untuk apa?
Dalam industri semikonduktor, “bisa tumbuh” belum tentu berarti “bisa dipakai”. Material yang berhasil ditumbuhkan masih harus memenuhi syarat fungsi: konduktivitasnya sesuai, cacat kristalnya tidak berlebihan, dan sifat optiknya bisa diandalkan. Untuk sampai ke tahap itu, ada satu konsep yang selalu muncul sebagai kunci: doping.
Doping adalah proses memasukkan pengotor (impurity) terkontrol ke dalam semikonduktor untuk mengubah sifat listriknya. Tanpa doping, banyak semikonduktor hanya akan berada pada kondisi “netral” yang tidak cukup berguna untuk membentuk perangkat. Dengan doping, material bisa dibuat menjadi tipe-n (lebih banyak elektron) atau tipe-p (lebih banyak hole). Dan begitu dua tipe ini bisa dikendalikan, maka struktur dasar perangkat elektronik seperti dioda dan LED bisa dibangun.
Di dalam konteks GaN, doping punya tantangan khas. GaN adalah semikonduktor dengan celah pita energi lebar dan struktur yang relatif “keras” dari sisi ikatan atomnya. Ini membuatnya sangat menarik untuk perangkat daya tinggi dan perangkat optoelektronik tertentu, tetapi juga membuat pengendalian doping menjadi bagian yang tidak mudah.
Orasi Prof. Pepen mengisyaratkan bahwa pengembangan riset bukan hanya berhenti pada penumbuhan GaN murni, tetapi bergerak menuju variasi material dan kontrol sifat. Ini terlihat dari fokus pada semikonduktor paduan seperti AlGaN dan InGaN, yang sejak awal memang menjadi inti bandgap engineering.
Dalam narasi teknologi LED, kita bisa melihat bandgap engineering sebagai “cara menulis warna” pada material. InGaN, misalnya, menjadi material yang penting karena memungkinkan emisi pada rentang yang relevan untuk LED biru. Jika kita memikirkan LED putih sebagai gabungan warna, maka keberhasilan menguasai material untuk emisi biru adalah bagian yang menentukan mengapa LED modern bisa menjadi murah, stabil, dan efisien.
Tetapi bandgap engineering bukan hanya untuk cahaya.
Semikonduktor paduan seperti AlGaN juga menjadi penting untuk perangkat elektronik berdaya tinggi, termasuk keluarga transistor tertentu. Di sini, “fungsi” material tidak lagi dinilai dari warna cahaya, tetapi dari ketahanannya terhadap tegangan tinggi, kemampuannya bekerja pada temperatur tinggi, serta efisiensi dalam kondisi operasi berat.
Jika dibaca dari perspektif Indonesia, bagian ini menarik karena ia menggeser narasi semikonduktor dari “kita butuh chip” menjadi “kita perlu kuasai proses yang memungkinkan perangkat itu ada”.
Karena pada akhirnya, industri semikonduktor berdiri di atas dua pilar besar:
-
material science: bagaimana material ditumbuhkan dan dikendalikan
-
device engineering: bagaimana material itu disusun menjadi perangkat yang berfungsi
Orasi Prof. Pepen memperlihatkan bahwa pilar pertama adalah syarat mutlak untuk masuk ke pilar kedua.
Pada sisi lain, ada satu hal yang sering menghambat negara berkembang untuk masuk ke semikonduktor: begitu materialnya semakin kompleks, risetnya semakin mahal, dan toleransi kesalahan semakin kecil. Di sinilah nilai MOCVD menjadi semakin jelas. MOCVD bukan sekadar metode deposisi, tetapi platform industri yang sudah terbukti sebagai tulang punggung produksi material tertentu.
Karena itu, ketika sebuah tim riset mampu menunjukkan bahwa material seperti AlGaN dapat ditumbuhkan, hal itu bukan hanya hasil lab. Itu adalah sinyal bahwa kompetensi proses sudah menyentuh zona yang selama ini dianggap sulit: pertumbuhan dengan laju rendah, kontrol komposisi yang ketat, dan manajemen cacat kristal yang rumit.
Dan sebenarnya, inilah jantung dari “kemandirian semikonduktor” jika dibaca secara jujur. Negara tidak bisa meloncat langsung ke produksi chip massal tanpa menguasai kemampuan menumbuhkan material dengan kualitas yang dapat diterima.
Jika mahasiswa membaca bagian ini, mereka bisa menangkap bahwa semikonduktor bukan dunia satu langkah. Ia bertahap. Dan setiap tahap punya tantangan yang berbeda.
Jika pekerja industri membaca bagian ini, terutama yang bergerak di manufaktur atau R&D, mereka akan melihat betapa pentingnya sebuah ekosistem proses: kontrol temperatur, kontrol prekursor, stabilitas reaktor, hingga kemampuan karakterisasi. Tanpa itu, kualitas tidak bisa distabilkan. Dan tanpa stabilitas kualitas, tidak ada produk.
4. Tantangan dan Arah Strategis: Mengapa Penguasaan MOCVD Bukan Sekadar Ilmu, Tapi Aset Negara
Salah satu kekuatan orasi Prof. Pepen adalah cara ia menempatkan riset MOCVD dalam dua dimensi sekaligus: dimensi ilmiah dan dimensi strategis.
Dari sisi ilmiah, tantangan MOCVD terlihat pada detail proses: bagaimana menjaga reaksi berjalan pada kondisi yang tepat, bagaimana menekan defek kristal, bagaimana menghindari efek temperatur tinggi seperti difusi dan segregasi, dan bagaimana memastikan bahwa penumbuhan benar-benar menghasilkan material yang diinginkan, bukan hanya “lapisan yang tampak ada”.
Tetapi dari sisi strategis, tantangannya lebih luas: apakah sebuah negara bisa mempertahankan proses itu secara berkelanjutan?
Dalam dunia semikonduktor, kemampuan bukan hanya soal “pernah berhasil”. Kemampuan adalah soal “bisa dilakukan berulang kali dengan kualitas serupa”. Dan kemampuan itu mensyaratkan sistem pendukung:
-
akses bahan baku dan prekursor yang konsisten
-
fasilitas laboratorium yang memadai (termasuk lingkungan bersih)
-
kemampuan pemeliharaan alat yang kompleks
-
ketersediaan SDM lintas disiplin: fisika, kimia, material, elektro
-
alur pendanaan riset yang tidak putus di tengah jalan
Jika salah satu komponen ini rapuh, maka kompetensi yang dibangun akan menjadi kompetensi yang “sesekali bisa”, bukan kompetensi yang “menjadi budaya”.
Orasi ini, secara implisit, juga menunjukkan realitas bahwa menguasai MOCVD berarti menguasai teknologi yang sangat sensitif terhadap konsistensi proses. Tidak seperti beberapa bidang rekayasa lain yang masih memberi ruang toleransi, semikonduktor menuntut presisi. Dan presisi membutuhkan disiplin operasional.
Di sinilah nilai pendekatan plasma-assisted menjadi penting. Ia memperlihatkan bahwa riset tidak berhenti pada “mengulang resep yang sudah ada”, tetapi mencari cara agar proses lebih aman, lebih stabil, dan lebih sesuai untuk kualitas yang lebih baik.
Untuk pembaca mahasiswa, bagian ini mengajarkan bahwa inovasi dalam semikonduktor sering bukan inovasi “produk baru”, tetapi inovasi “cara produksi”. Teknologi besar lahir dari perbaikan proses kecil yang konsisten.
Untuk pembaca pekerja, terutama yang bekerja pada sistem produksi atau quality, ini terasa sangat familiar. Karena di industri, kualitas jarang meloncat drastis. Kualitas biasanya lahir dari kontrol proses yang disiplin dan perbaikan bertahap.
Di Indonesia, tantangan semikonduktor sering dibicarakan pada level “kita belum punya pabrik chip”. Tetapi orasi Prof. Pepen mengingatkan bahwa keberhasilan tidak harus dibaca sebagai “pabrik besar atau tidak sama sekali”. Keberhasilan juga bisa dibaca sebagai kemampuan menguasai proses inti, membangun kompetensi SDM, dan menciptakan fondasi untuk ekosistem riset-industri.
Karena jika kita jujur, negara-negara yang menjadi pemain semikonduktor hari ini pun tidak langsung lahir dengan pabrik raksasa. Mereka membangun kompetensi melalui tahapan panjang: dari laboratorium, ke pilot scale, lalu ke produksi. Tahapan itu membutuhkan ketekunan pada proses yang tampak kecil, tetapi sebenarnya menentukan.
Dalam konteks itu, pencapaian penumbuhan material semikonduktor tertentu secara lokal dapat dibaca sebagai tonggak yang punya efek jangka panjang:
-
menumbuhkan kepercayaan bahwa teknologi dapat dikuasai
-
membuka peluang riset lanjutan ke perangkat dan aplikasi
-
membangun generasi peneliti dan insinyur yang paham proses dari hulu
-
memperkecil ketergantungan pada pihak luar untuk kompetensi fundamental
Dan jika kita tarik ke kebutuhan Indonesia sekarang, penguasaan semikonduktor paduan berbasis GaN dan turunannya punya potensi aplikasi yang luas, bukan hanya LED. Ia bersinggungan dengan kebutuhan energi, transportasi, komunikasi, dan sistem elektronik berdaya tinggi yang semakin dibutuhkan.
Dengan kata lain, pengembangan MOCVD adalah investasi jangka panjang.
Ia tidak selalu terlihat seperti produk yang bisa langsung dijual besok pagi. Tetapi tanpa investasi seperti ini, Indonesia akan selalu menjadi pembeli pada level hilir, dan akan kesulitan naik kelas dalam rantai nilai teknologi.
5. Pelajaran Praktis dari MOCVD: Apa yang Sebenarnya Sedang Dibangun Selain Material
Orasi Prof. Pepen Arifin pada dasarnya tidak hanya bercerita tentang satu teknik penumbuhan lapisan tipis. Jika dibaca dengan kacamata lebih luas, orasi ini sedang membangun narasi tentang “apa arti kemampuan” dalam teknologi semikonduktor.
Kita sering membicarakan semikonduktor sebagai produk jadi: chip, LED, laser, sensor, atau komponen daya. Tetapi orasi ini menunjukkan bahwa produk jadi hanyalah puncak gunung es. Bagian yang lebih besar berada di bawah permukaan: proses sintesis, kontrol parameter, konsistensi kualitas, dan kemampuan karakterisasi.
Di titik ini, MOCVD menjadi lebih dari sekadar metode deposisi. Ia menjadi semacam sekolah yang memaksa kita memahami teknologi dari hulu.
Ada tiga pelajaran praktis yang terasa kuat jika kita menurunkan isi orasi ini ke konteks mahasiswa dan pekerja.
Pertama, kemandirian teknologi dimulai dari kemampuan memproduksi dengan kualitas yang bisa diulang.
Dalam semikonduktor, keberhasilan sesungguhnya bukan “sekali berhasil menumbuhkan lapisan”. Keberhasilan adalah kemampuan menjaga hasil yang konsisten, karena industri hanya bisa berjalan jika kualitas bisa diprediksi dan distabilkan. Artinya, keberhasilan butuh disiplin proses: kontrol temperatur, kontrol aliran gas, kontrol reaktor, dan stabilitas prekursor.
Pelajaran ini terdengar sederhana, tetapi sangat penting untuk mentalitas industri Indonesia. Banyak inovasi kita sering berhenti pada prototipe yang bagus. Tapi prototipe yang bagus belum otomatis menjadi teknologi yang bisa diandalkan. MOCVD menuntut kita keluar dari budaya “sekadar berhasil” menuju budaya “mampu mengulang hasil”.
Kedua, bandgap engineering mengajarkan bahwa desain modern adalah desain sifat material, bukan hanya desain bentuk.
Di banyak industri rekayasa klasik, desain sering berarti desain geometri: ukuran, bentuk, struktur. Tetapi dalam semikonduktor modern, desain berarti mengatur struktur elektronik material. Warna cahaya dari LED, misalnya, bukan hasil pemilihan warna di akhir, tetapi hasil dari komposisi paduan dan lebar celah pita energi.
Ini mengubah cara melihat inovasi. Inovasi bukan hanya bentuk baru, tetapi cara baru menyusun material agar menghasilkan fungsi yang diinginkan. Dan kemampuan seperti ini tidak bisa datang dari “trial and error” cepat. Ia membutuhkan pemahaman fundamental yang kuat.
Bagi mahasiswa, ini bisa menjadi pengingat bahwa teori pita energi, rekombinasi elektron, dan struktur kristal bukan sekadar materi kuliah yang abstrak. Ia adalah bahasa yang dipakai industri untuk menentukan performa.
Bagi pekerja, ini berarti bahwa peningkatan produk kadang tidak butuh perubahan besar di desain makro, tetapi perubahan detail di komposisi material atau proses deposisi. Dengan kata lain, inovasi bisa lahir dari penguasaan proses dan material.
Ketiga, kualitas material adalah hasil interaksi antara kimia, fisika, dan kontrol sistem.
Orasi ini menunjukkan bahwa penumbuhan material seperti GaN bukan sekadar mencampurkan unsur gallium dan nitrogen. Ada tahapan dekomposisi prekursor, aktivasi nitrogen, reaksi di permukaan, hingga risiko yang muncul jika temperatur terlalu tinggi. Bahkan pendekatan plasma-assisted dipakai untuk menciptakan nitrogen aktif tanpa bergantung pada kondisi termal ekstrem.
Ini mengajarkan bahwa kualitas material tidak hanya ditentukan oleh “bahan”, tetapi juga oleh cara bahan itu diperlakukan. Dalam industri, konsep ini sangat relevan dengan kualitas proses produksi apa pun: banyak kegagalan produk bukan karena bahan jelek, tetapi karena prosesnya tidak terkendali.
Jika kita tarik lebih jauh, MOCVD juga membangun satu hal yang sering dilupakan dalam diskusi teknologi: ekosistem kompetensi.
Teknologi semikonduktor tidak bisa berdiri sendirian. Ia membutuhkan fasilitas yang mahal, lingkungan kerja yang bersih, sistem keselamatan bahan kimia, kalibrasi alat, serta budaya dokumentasi proses yang rapi. Semua ini bukan aksesori, melainkan syarat dasar agar riset bisa naik kelas dari eksperimen menjadi fondasi industri.
Karena itu, salah satu nilai terbesar dari penguasaan MOCVD di Indonesia adalah pembentukan “tradisi proses”. Tradisi ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli instan, dan justru menjadi pembeda negara yang bisa memproduksi teknologi tinggi dengan negara yang hanya bisa menggunakannya.
6. Kesimpulan: MOCVD sebagai Fondasi Bandgap Engineering dan Jalan Panjang Kemandirian Semikonduktor
Jika orasi ini dirangkum dalam satu ide utama, maka idenya adalah: pengembangan MOCVD adalah cara membangun kemampuan sintesis semikonduktor paduan yang menjadi dasar teknologi modern, terutama pada sistem GaN dan turunannya.
Orasi Prof. Pepen menunjukkan bahwa semikonduktor paduan bukan sekadar variasi material, tetapi alat untuk mengatur fungsi. Dengan bandgap engineering, celah pita energi dapat disetel melalui komposisi, sehingga emisi cahaya dan karakter perangkat dapat diarahkan sesuai kebutuhan. Dalam konteks LED modern, keberhasilan menguasai material yang relevan untuk spektrum biru menjadi bagian dari perjalanan menuju pencahayaan LED putih yang efisien.
Namun, bandgap engineering hanya bisa menjadi kenyataan jika proses sintesisnya bisa dikendalikan. MOCVD menjadi platform penting karena mampu menumbuhkan lapisan tipis semikonduktor dengan kualitas kristal yang tinggi. Proses ini melibatkan kontrol prekursor, temperatur, reaksi permukaan, dan karakterisasi untuk memastikan bahwa lapisan yang terbentuk benar-benar memiliki struktur dan sifat yang diinginkan.
Orasi ini juga memperlihatkan bahwa riset semikonduktor tidak berjalan tanpa tantangan. Temperatur tinggi membantu reaksi, tetapi bisa memunculkan masalah lain seperti difusi dan segregasi. Di sinilah inovasi proses seperti plasma-assisted menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas dan memperluas kemungkinan sintesis.
Yang membuat orasi ini terasa penting bagi Indonesia adalah pesan implisitnya tentang kemandirian teknologi. Keberhasilan menumbuhkan berbagai lapisan tipis semikonduktor secara lokal bukan hanya pencapaian akademik, tetapi tonggak kompetensi. Ia menunjukkan bahwa proses sintesis yang kompleks dan mahal dapat dikuasai, dan ini membuka peluang yang lebih luas: riset perangkat, aplikasi industri, serta penguatan ekosistem SDM.
Bagi mahasiswa, artikel ini mengajarkan bahwa teknologi tinggi bukan produk instan. Ia lahir dari disiplin proses dan pemahaman fundamental. Bagi pekerja, artikel ini mengingatkan bahwa kemampuan teknologi bukan hanya soal membeli mesin, tetapi soal menguasai proses hingga kualitasnya stabil.
Jika Indonesia ingin serius membangun posisi dalam rantai nilai semikonduktor, maka investasi paling awal dan paling penting adalah investasi pada kemampuan sintesis dan kontrol proses. MOCVD, dalam kerangka itu, bukan sekadar alat riset, tetapi fondasi strategis.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Pepen Arifin: Pengembangan MOCVD untuk Sintesis Semikonduktor Paduan dan Aplikasinya. 2024.
Nobel Prize. The Nobel Prize in Physics 2014: Efficient blue light-emitting diodes. (diakses 2026).
Sze, S. M., & Ng, K. K. Physics of Semiconductor Devices. Edisi terbaru. (diakses 2026).
Morkoç, H. Nitride Semiconductors and Devices. Edisi terbaru. (diakses 2026).
IEEE Spectrum. Explainers on GaN electronics and LED materials. (diakses 2026).