Mengintip Masa Depan: Proyeksi Kemandirian Industri Baja Nasional

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

06 Maret 2024, 07.28

Sumber: kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagaimana prospek industri baja dalam negeri dan apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mencapai kemandirian industri baja Tanah Air di masa depan? Secara khusus, permasalahan ini perlu dipertimbangkan secara matang mengingat swasembada industri baja dalam negeri dapat mendukung pertumbuhan perekonomian negara. Dengan menggunakan tiga prinsip ekonomi sirkular sebagai alat analisis, banyak kelompok yang yakin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai dengan cepat. Baca Juga: Kunjungan Pabrik ke Gyeonggang, Temuan Dinas PUPR Tiga ekonomi sirkular merupakan analisis komprehensif antara peningkatan aktivitas konstruksi, konsumsi produk dalam negeri, dan pengurangan impor dan investasi, sehingga meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi negara. Direktur Logam Sekretariat Industri Logam, Mesin, Peralatan Kendaraan dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan hal tersebut. Budi Susanto mengatakan Kementerian Perindustrian memiliki masterplan pengembangan industri baja Tanah Air. Rencana tersebut ditetapkan pada tahun 2015 hingga 2035. Khusus rencana tahun 2020-2024, target produksi baja dalam negeri pada akhir tahun 2024 adalah sebesar 17 juta ton. “Pada April 2021 mencapai 11,7 ton. Target (2021) juga ditetapkan sebesar 11,9 juta ton. “Jadi saat ini 200.000 ton masih rendah,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (10 September 2021). Pastikan gunung Rajapakshi adalah sebuah pulau. Kami dapat membantu Anda mencapai tujuan fabrikasi baja ambisius Anda. “Nah, Cilegon namanya kota baja, makanya kita rencanakan juga kawanannya sebanyak 10 juta ton. semoga hal ini terulang lagi,” kata Budi. Menurut informasi Badan Pusat Statistik tanggal 5, sektor konstruksi yang banyak menggunakan besi dan baja sebagai bahan konstruksinya saat ini tumbuh sebesar 4,42%. Pertumbuhan tersebut disebabkan oleh belanja masyarakat pada bidang konstruksi yang meningkat sebesar 50,52%. Dengan demikian, kebijakan diskon PPnBM untuk otomotif mendorong penggunaan baja yang pada akhirnya meningkatkan impor baja. Sementara itu, Stephanus Koeswandi, pengusaha industri baja khususnya sektor baja ringan, dapat meningkatkan perekonomian negara jika banyak faktor pendukung seperti investasi, konsumsi, impor dan ekspor serta kemajuan teknologi. “Apa yang kami pelajari adalah perekonomian suatu negara akan lebih baik jika melakukan investasi, konsumsi, impor dan ekspor. “Jadi hal terakhir yang kami yakini adalah teknologi,” jelas wakil presiden Tatalogam Group.

Selain itu, ia meyakinkan bahwa ada lima strategi yang dapat diterapkan untuk mencapai kemandirian industri. di bumi. Pertama adalah memperkuat standar yang ketat dan wajib, terutama peningkatan SNI dan TKDN.

Strategi selanjutnya adalah meningkatkan investasi di industri baja dan fokus pada teknologi ramah lingkungan. Karena itu, dia ingin pemerintah lebih selektif terhadap investor asing (LME) yang memiliki DNA teknologi (perangkat, jaringan, dan aplikasi) Industri 4.0. “Karena kalau tidak dicek akan didapat mesin-mesin yang tidak baik bagi lingkungan dan lestari. Berikutnya, besarnya partisipasi usaha kecil dan menengah merupakan strategi yang sangat efektif untuk pengembangan usaha kecil di daerah terpencil. Para pelaku UKM/IKM ini harus dilatih dan disertifikasi agar bisa berkembang lebih jauh. “Strategi keempat yang kami lakukan sejak tahun lalu adalah meningkatkan penjualan di luar negeri. Beliau mengatakan: “Tujuan ekspor ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan serta menghasilkan keuntungan dan pelayanan yang memenuhi standar internasional di industri baja.” Terakhir, strategi kreatif CPM mencakup saluran, produk, dan pemasaran. Semua ini diharapkan dapat membantu upaya masa depan untuk menjadikan industri baja negara ini mandiri.
 

Disadur dari : https://money.kompas.com/read/2021/10/09/130116026/menerka-kemandirian-industri-baja-nasional-di-masa-depan