Menerapkan Prinsip Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah Perkotaan: Studi Kasus Sverdlovskaya Oblast Rusia dan Tantangan Tata Kelola Regional

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat

05 Januari 2026, 16.49

1. Pendahuluan — Circular Economy sebagai Arah Baru Reformasi Sistem Pengelolaan Sampah Regional

Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di banyak wilayah industri — termasuk Rusia — beroperasi dalam paradigma linear: konsumsi → timbulan → pengumpulan → pembuangan. Model ini relatif sederhana secara operasional, namun meninggalkan jejak lingkungan dan ekonomi yang besar: peningkatan timbulan residu, tekanan terhadap landfill, dan hilangnya potensi nilai material yang sebenarnya masih dapat dipulihkan. Paper ini menempatkan Sverdlovskaya Oblast sebagai studi kasus penting untuk memahami bagaimana prinsip circular economy mulai diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan sampah di tingkat regional .

Wilayah ini memiliki karakteristik khas: basis industri besar, kepadatan penduduk perkotaan yang tinggi, serta volume timbulan sampah yang terus meningkat. Reformasi sektor persampahan di wilayah tersebut tidak hanya mendorong perubahan teknis (seperti pemilahan, modernisasi fasilitas, dan pengurangan landfill), tetapi juga pergeseran logika kebijakan — dari pengelolaan residu menuju pengelolaan aliran material yang bernilai ekonomi.

Paper ini menekankan bahwa penerapan prinsip circular economy di sektor sampah bukan sekadar program daur ulang, melainkan upaya membangun sistem yang:

  • meminimalkan timbulan melalui pencegahan dan pemilahan,

  • meningkatkan reutilisasi dan pemrosesan material sebagai sumber daya sekunder,

  • mengurangi ketergantungan pada landfill,

  • serta menciptakan nilai ekonomi baru di sektor pengolahan dan industri pendukung.

Namun, transisi ini tidak berjalan otomatis. Di lapangan, kebijakan circular economy berhadapan dengan keterbatasan infrastruktur, kesenjangan kelembagaan, struktur biaya, serta dinamika pasar material daur ulang. Karena itu, studi ini tidak hanya mengurai konsep, melainkan mencoba mengukur tingkat implementasi circular economy dalam sistem pengelolaan sampah regional secara empiris.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis mengembangkan pendekatan evaluasi berbasis Circular Economy Development Index (CEDI) — sebuah instrumen yang menilai sejauh mana reformasi pengelolaan sampah telah bergerak dari paradigma linear menuju sistem circular dalam konteks wilayah Sverdlovskaya Oblast .

 

2. Kerangka Analisis Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah Regional: Dari Indikator ke Evaluasi Sistem

Salah satu kontribusi utama paper ini adalah penyusunan kerangka evaluasi yang memungkinkan implementasi circular economy diukur secara terstruktur, bukan hanya dinarasikan di tingkat kebijakan. Melalui Circular Economy Development Index (CEDI), penulis menggabungkan serangkaian indikator teknis, ekonomi, dan kelembagaan untuk menilai sejauh mana sistem pengelolaan sampah di wilayah tersebut telah bergerak menuju model circular .

2.1 Konsep Dasar: Menghubungkan Sistem Sampah dengan Siklus Material

Pendekatan circular economy dalam studi ini berangkat dari gagasan bahwa sampah bukan titik akhir, melainkan bagian dari siklus material yang dapat:

  • diproses kembali menjadi bahan baku sekunder,

  • dimanfaatkan melalui proses pengomposan atau energi dari limbah,

  • atau dikurangi sejak hulu melalui perubahan konsumsi dan desain produk.

Karena itu, indikator yang digunakan tidak hanya menilai volume residu yang ditimbun, tetapi juga proporsi material yang dipulihkan serta efektivitas rantai pengelolaan dari hulu ke hilir.

2.2 Struktur CEDI: Dimensi Teknis, Ekonomi, dan Organisasi Sistem

CEDI dirancang sebagai indeks komposit yang mencakup beberapa kelompok indikator utama, antara lain:

  • indikator operasional — tingkat pemilahan, volume material yang didaur ulang, pengurangan landfill, kapasitas fasilitas pengolahan,

  • indikator ekonomi — biaya pengelolaan, efisiensi penggunaan sumber daya, kontribusi material sekunder dalam ekonomi regional,

  • indikator kelembagaan & tata kelola — struktur pengelolaan regional, konsistensi kebijakan, dan peran operator.

Dengan komposisi tersebut, indeks tidak hanya menggambarkan kinerja teknis, tetapi juga mengungkap kekuatan dan celah sistemik dalam proses transisi menuju circular economy.

2.3 Aplikasi pada Kasus Sverdlovskaya Oblast: Menggambarkan Realitas Reformasi

Ketika kerangka CEDI diterapkan pada wilayah Sverdlovskaya Oblast, hasilnya menunjukkan kemajuan yang bersifat parsial:

  • terdapat peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan dan pemilahan,

  • volume landfill mulai dikurangi secara bertahap,

  • namun tingkat pemanfaatan material sekunder masih belum optimal,

  • dan ketergantungan pada pembuangan residu masih cukup tinggi.

Interpretasi kritis paper ini menekankan bahwa wilayah tersebut sedang berada pada tahap transisi: fondasi kebijakan circular economy sudah terbentuk, tetapi ekosistem pendukung — pasar material daur ulang, insentif ekonomi, dan stabilitas pembiayaan — belum sepenuhnya matang.

2.4 Nilai Tambah Analitis: Circular Economy sebagai Agenda Sistem, Bukan Sekadar Target Teknis

Dengan pendekatan indeks, studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan circular economy tidak dapat dinilai hanya dari satu indikator — misalnya persentase daur ulang. Yang lebih penting adalah koherensi sistem: apakah infrastruktur, regulasi, operator, dan pasar material bergerak dalam arah yang sama.

Di titik inilah paper memberikan pelajaran berharga: transisi menuju circular economy di sektor persampahan membutuhkan tata kelola regional yang kuat, bukan hanya pembangunan fasilitas teknis.

 

3. Hasil Evaluasi Circular Economy Development Index (CEDI): Kemajuan Parsial dan Celah dalam Sistem Pengelolaan Sampah Regional

Penerapan CEDI pada sistem pengelolaan sampah Sverdlovskaya Oblast menghasilkan temuan yang bersifat kontras sekaligus penting secara kebijakan. Di satu sisi, terdapat tanda-tanda kemajuan menuju model circular; di sisi lain, indeks mengungkap ketidakseimbangan perkembangan antar dimensi — teknis, ekonomi, dan kelembagaan.

3.1 Peningkatan Kapasitas Pemilahan dan Pengolahan: Fondasi Teknis Mulai Terbentuk

Nilai indeks pada dimensi operasional menunjukkan bahwa wilayah ini telah:

  • memperluas kapasitas fasilitas pemilahan mekanik–biologis,

  • meningkatkan porsi material yang masuk ke alur pengolahan,

  • dan mulai mengurangi ketergantungan pada landfill melalui pengalihan sebagian fraksi bernilai.

Secara teknis, langkah ini menandai pergeseran dari paradigma disposal-centric menuju pendekatan pengelolaan berbasis pemulihan material. Namun capaian tersebut masih bersifat kuantitatif awal — belum sepenuhnya mencerminkan kualitas dan stabilitas alur pemrosesan material.

3.2 Kinerja Pemanfaatan Material Sekunder Masih Moderat

CEDI menunjukkan bahwa meskipun volume material yang dipilah meningkat, tingkat pemanfaatan aktual sebagai bahan baku sekunder belum maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh:

  • fluktuasi permintaan pasar material daur ulang,

  • keterbatasan kualitas hasil pemilahan (kontaminasi residu),

  • serta kurangnya integrasi antara fasilitas pengolahan dan industri hilir lokal.

Dengan kata lain, sistem sudah menghasilkan material sekunder, tetapi rantai nilai ekonominya belum matang. Circular economy berjalan separuh siklus — berhenti di fasilitas pengolahan sebelum benar-benar kembali ke pasar.

3.3 Dimensi Kelembagaan: Struktur Sudah Ada, Koherensi Belum Merata

Pada dimensi organisasi dan tata kelola, indeks mengindikasikan:

  • keberadaan kerangka kebijakan regional dan aktor operator,

  • namun masih terdapat ketergantungan tinggi pada keputusan pusat,

  • serta variasi kapasitas implementasi antar-municipalitas.

Hal ini menciptakan ketidakkonsistenan performa layanan — sebagian wilayah mampu menyesuaikan diri dengan agenda circular economy, sementara wilayah lain tertinggal secara operasional maupun institusional.

3.4 Sintesis Hasil: Transisi Sedang Berjalan, tetapi Belum Terkunci secara Sistemik

Secara keseluruhan, CEDI menampilkan gambaran transisi parsial:

  • kemajuan teknis → sudah terlihat

  • kematangan ekonomi material → belum stabil

  • konsolidasi tata kelola → masih berkembang

Nilai tambah analitis paper ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bahwa circular economy tidak identik dengan peningkatan satu indikator tunggal, melainkan keberlangsungan hubungan antar dimensi. Tanpa koherensi tersebut, transisi berisiko berhenti pada tahap “infrastruktur circular tanpa ekosistem circular”.

 

4. Tantangan Implementasi Circular Economy dan Strategi Transisi: Dari Hambatan Struktural ke Peluang Perbaikan Sistem

Selain evaluasi kuantitatif, studi ini mengidentifikasi hambatan praktis yang menghalangi percepatan circular economy dalam sistem pengelolaan sampah regional. Hambatan ini sekaligus membuka ruang bagi rekomendasi strategis transisi.

4.1 Hambatan Utama Implementasi

Beberapa tantangan kunci yang muncul antara lain:

  • Keterbatasan insentif ekonomi
    — harga material sekunder kurang kompetitif dibanding bahan baku primer.

  • Struktur biaya operasional
    — biaya pemilahan & logistik belum sepenuhnya tertutup oleh nilai pasar hasil daur ulang.

  • Fragmentasi institusional
    — koordinasi lintas operator, pemerintah kota, dan industri pengolahan belum sepenuhnya sinkron.

  • Perilaku rumah tangga & pemilahan di sumber yang masih rendah
    — meningkatkan beban pemrosesan dan menurunkan kualitas material.

Secara keseluruhan, hambatan ini menunjukkan bahwa bottle-neck circular economy terletak bukan pada fasilitas teknis semata, melainkan pada arsitektur kebijakan, pasar, dan perilaku.

4.2 Peluang Perbaikan: Menghubungkan Infrastruktur dengan Ekonomi Material

Paper ini menawarkan arah perbaikan yang bersifat sistemik, antara lain:

  • memperkuat keterkaitan fasilitas pemilahan dengan industri pengguna material sekunder,

  • mengembangkan instrumen insentif (misalnya preferensi bahan sekunder dalam pengadaan publik),

  • meningkatkan standar kualitas output pemilahan,

  • serta memperluas program edukasi dan pemilahan di sumber untuk menurunkan kontaminasi.

Dengan langkah ini, circular economy tidak hanya bertumpu pada fasilitas, tetapi juga ditopang oleh permintaan pasar dan perubahan perilaku.

4.3 Circular Economy sebagai Agenda Tata Kelola Regional

Nilai reflektif studi ini adalah penekanannya bahwa keberhasilan circular economy bergantung pada:

  • klarifikasi mandat kelembagaan,

  • stabilitas pembiayaan jangka panjang,

  • mekanisme monitoring & indikator kinerja lintas sektor,

  • serta integrasi kebijakan lingkungan dengan kebijakan industri dan pembangunan wilayah.

Artinya, circular economy bukan proyek lingkungan semata — ia adalah agenda pembangunan regional yang memerlukan kepemimpinan kebijakan dan koordinasi multi-aktor.

4.4 Prinsip Transisi: Bertahap, Terintegrasi, dan Berbasis Ekosistem

Paper ini menyimpulkan bahwa transisi menuju circular economy tidak terjadi melalui lompatan cepat, melainkan melalui:

  • peningkatan kapasitas secara bertahap,

  • penguatan koneksi antara teknis–ekonomi–institusional,

  • serta konsolidasi ekosistem material sekunder.

Dengan pendekatan tersebut, wilayah seperti Sverdlovskaya Oblast dapat bergerak dari kemajuan parsial menuju transformasi sistemik yang lebih stabil dan berkelanjutan.

 

5. Sintesis Kritis: Makna Empiris CEDI dan Implikasi bagi Reformasi Circular Economy di Tingkat Regional

Jika hasil evaluasi CEDI dibaca secara komprehensif, studi ini menyampaikan pesan kunci: transisi circular economy tidak otomatis terjadi hanya karena kebijakan diperkenalkan atau fasilitas teknis dibangun. Yang menentukan keberhasilan adalah keterpaduan antar dimensi sistem — teknis, ekonomi, kelembagaan, dan perilaku masyarakat .

5.1 Circular Economy sebagai “Ekosistem”, Bukan Sekedar Infrastruktur

Temuan menunjukkan bahwa:

  • kapasitas pemilahan dan pengolahan dapat meningkat,

  • namun tanpa pasar material sekunder yang stabil, siklus ekonomi tidak tertutup,

  • dan tanpa tata kelola regional yang konsisten, kinerja antar wilayah tidak merata.

Dengan demikian, circular economy hanya efektif apabila ekosistem pendukung tumbuh secara simultan: infrastruktur → pasar → kebijakan → perilaku.

5.2 Ketidakseimbangan Dimensi sebagai Titik Risiko Transisi

CEDI mengungkapkan beberapa risk points yang bersifat struktural:

  • kemajuan teknis tidak diikuti kematangan ekonomi,

  • keselarasan kelembagaan belum merata,

  • perilaku pemilahan masyarakat belum konsisten.

Ketidakseimbangan ini berpotensi melahirkan fenomena “circular economy in form, linear in outcome” — sistem terlihat circular di atas kertas, tetapi masih bergantung pada landfill secara substantif.

5.3 Nilai Strategis CEDI: Dari Pengukuran Output ke Diagnostik Sistem

Keunggulan metodologis studi ini terletak pada fungsi CEDI sebagai alat diagnostik kebijakan:

  • bukan hanya mengukur berapa banyak material dipulihkan,

  • tetapi juga menilai mengapa transisi belum sepenuhnya efektif.

Dengan kerangka ini, pengambil kebijakan memperoleh peta masalah yang lebih presisi: celah pasar, kelemahan koordinasi, dan titik intervensi prioritas.

5.4 Pembelajaran Lintas Konteks: Relevansi bagi Wilayah Industri dan Negara Berkembang

Meskipun studi berfokus pada Rusia, pesan kebijakan bersifat lintas konteks:

  • wilayah industri di Eropa Timur, Asia, atau Amerika Latin menghadapi pola tantangan serupa — ketergantungan landfill vs upaya transisi circular,

  • keberhasilan reformasi bergantung pada keselarasan ekonomi material dan kapasitas tata kelola regional, bukan hanya pada investasi teknologi.

Di sini, penelitian memberikan referensi komparatif bagi daerah lain yang tengah merancang agenda circular economy tingkat wilayah.

 

6. Penutup — Strategi Memperkuat Circular Economy di Tingkat Regional: Dari Kemajuan Parsial ke Transformasi Sistemik

Secara reflektif, studi ini menunjukkan bahwa circular economy di sektor pengelolaan sampah adalah proses transisi jangka panjang, bukan proyek teknis jangka pendek. Untuk bergerak dari kemajuan parsial menuju transformasi sistemik, diperlukan arah strategi yang lebih terstruktur dan berlapis .

6.1 Tiga Pilar Strategi Penguatan Transisi

Berdasarkan temuan studi dan pembacaan kritis, tiga pilar kunci dapat dirumuskan:

  • Pilar Ekonomi Material
    — memperkuat permintaan bahan sekunder, memperbaiki kualitas output pemilahan, dan menghubungkan fasilitas dengan industri pengguna.

  • Pilar Tata Kelola Regional
    — harmonisasi standar, konsistensi implementasi antar wilayah, serta mekanisme monitoring berbasis indikator seperti CEDI.

  • Pilar Perilaku & Partisipasi Publik
    — memperluas pemilahan di sumber, edukasi rumah tangga, dan insentif perubahan perilaku agar kualitas material meningkat sejak hulu.

Ketiga pilar ini memastikan bahwa circular economy beroperasi sebagai sistem utuh, bukan sekadar kumpulan proyek.

6.2 Dari Kebijakan Normatif ke Implementasi yang Adaptif

Transisi yang efektif memerlukan pendekatan kebijakan adaptif:

  • bukan copy–paste model negara lain,

  • melainkan penyesuaian berdasarkan struktur ekonomi lokal, kapasitas institusi, dan dinamika pasar regional.

Dengan pendekatan adaptif, wilayah dapat meminimalkan risiko kegagalan implementasi sekaligus menjaga stabilitas reformasi.

6.3 Refleksi Akhir

Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa keberhasilan circular economy ditentukan oleh kualitas koordinasi antar aktor dan keberlanjutan ekosistem material, bukan hanya oleh jumlah fasilitas baru yang dibangun. Jika ketiga dimensi — teknis, ekonomi, dan kelembagaan — bergerak selaras, maka transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien, bernilai tambah, dan berkelanjutan dapat benar-benar terwujud.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Kiseleva, T., et al. Implementation of Circular Economy Principles in Regional Solid Municipal Waste Management: The Case of Sverdlovskaya Oblast (Russian Federation).

  2. European Environment Agency. Circular Economy in Europe: Developing the Knowledge Base — Kerangka transisi material dan pengelolaan sumber daya.

  3. Kirchherr, J., Reike, D., & Hekkert, M. Conceptualizing the Circular Economy: An Analysis of 114 Definitions. Resources, Conservation and Recycling.

  4. Ellen MacArthur Foundation. Towards the Circular Economy — Prinsip ekonomi sirkular dan implikasinya terhadap sistem pengelolaan material.