Pendahuluan
Dalam sistem produksi dan operasi modern, inventory sering dipersepsikan secara paradoksal. Di satu sisi, persediaan dianggap sebagai pemborosan yang harus ditekan seminimal mungkin, khususnya dalam filosofi lean manufacturing dan just in time. Namun di sisi lain, inventory justru berperan sebagai penyangga (buffer) yang sangat penting dalam menghadapi ketidakpastian permintaan, gangguan pasokan, dan fluktuasi operasional.
Materi yang menjadi dasar artikel ini merupakan bagian dari rangkaian pembahasan perencanaan produksi, dengan fokus utama pada inventory demand independen dan demand dependen. Pembahasan ini menempatkan inventory sebagai alat strategis untuk menjaga kesinambungan produksi, pelayanan pelanggan, dan stabilitas sistem operasi.
Artikel ini menyajikan resensi analitis dari materi tersebut dengan menata ulang konsep, memperjelas terminologi, serta mengaitkannya dengan praktik industri dan dinamika rantai pasok.
Terminologi Dasar dalam Inventory
Pengertian Inventory dan Stok
Inventory atau persediaan pada dasarnya adalah daftar seluruh barang atau material yang dimiliki dan disimpan oleh suatu organisasi untuk mendukung kegiatan produksi, distribusi, maupun operasional. Dalam praktik sehari-hari, istilah inventory dan stok sering digunakan secara bergantian, meskipun secara konseptual inventory lebih menekankan pada daftar dan sistem pengendalian, sedangkan stok lebih merujuk pada jumlah fisik barang.
Contoh umum inventory meliputi:
-
bahan baku,
-
barang dalam proses (work in progress),
-
barang jadi,
-
suku cadang,
-
hingga barang habis pakai (consumables).
Item dan Unit dalam Inventory
Penting untuk membedakan antara:
-
Item, yaitu jenis atau entri barang dalam inventory
-
Unit, yaitu satuan kuantitas dari item tersebut
Contoh:
-
Item: Mentega kaleng 500 gram
-
Unit: 1 kaleng mentega
Pemahaman ini krusial dalam pencatatan, pengendalian, dan perhitungan inventory.
Tujuan dan Fungsi Inventory
Inventory tidak hadir tanpa alasan. Beberapa tujuan utama inventory antara lain:
-
Menjamin kelancaran operasi produksi
-
Meredam fluktuasi permintaan dan pasokan
-
Mengantisipasi kelangkaan bahan baku
-
Menjaga tingkat pelayanan pelanggan
-
Memberikan fleksibilitas jadwal produksi
Dalam kondisi normal, inventory memungkinkan proses berjalan stabil. Dalam kondisi darurat—seperti pandemi, konflik geopolitik, atau gangguan logistik—inventory sering berfungsi sebagai “penolong terakhir” yang menjaga sistem tetap hidup.
Jenis-Jenis Inventory dalam Praktik
Inventory dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan fungsinya, antara lain:
-
Bahan baku (raw material)
-
Barang dalam proses (work in progress)
-
Barang jadi (finished goods)
-
Maintenance, Repair, and Operation (MRO)
-
Barang habis pakai (consumables)
-
Kemasan dan material pendukung produksi
Setiap jenis inventory memiliki karakteristik, metode pengendalian, serta risiko yang berbeda.
Permintaan dalam Sistem Inventory
Permintaan Independen (Independent Demand)
Permintaan independen adalah permintaan yang tidak bergantung pada item lain. Permintaan ini biasanya berasal langsung dari pasar atau pelanggan akhir.
Contoh:
-
Permintaan meja atau kursi oleh konsumen
-
Permintaan bahan bakar di SPBU
-
Permintaan produk ritel di toko
Karakteristik utama permintaan independen:
-
Dipengaruhi oleh pasar
-
Bersifat eksternal
-
Umumnya menggunakan model statistik dan peramalan (forecasting)
Inventory dengan permintaan independen sering dikelola menggunakan model seperti Economic Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point (ROP).
Permintaan Dependen (Dependent Demand)
Permintaan dependen adalah permintaan yang bergantung pada item lain, biasanya pada produk induk atau struktur produk.
Contoh:
-
Jumlah kayu yang dibutuhkan tergantung jumlah meja yang diproduksi
-
Jumlah baut bergantung pada jumlah mesin yang dirakit
-
Jumlah komponen bergantung pada master production schedule
Permintaan dependen tidak diprediksi dengan statistik pasar, melainkan dihitung secara pasti melalui struktur produk.
Perbedaan Fundamental Inventory Independen dan Dependen
AspekIndependenDependenSumber permintaanPasar/pelangganProduk indukKetergantunganTidak bergantung item lainBergantung struktur produkMetode utamaEOQ, ROP, Safety StockMRP (Material Requirement Planning)Sifat permintaanFluktuatifDeterministik
Pemahaman perbedaan ini menentukan metode perencanaan inventory yang tepat.
Inventory Independen dan Konsep EOQ
Economic Order Quantity (EOQ)
EOQ adalah metode untuk menentukan jumlah pemesanan optimal yang meminimalkan total biaya persediaan, yang terdiri dari:
-
biaya pemesanan (ordering cost),
-
biaya penyimpanan (holding cost).
EOQ tidak bertujuan menghilangkan inventory, tetapi menyeimbangkan biaya dan ketersediaan.
Reorder Point (ROP)
Reorder Point menjawab pertanyaan:
-
Kapan harus memesan kembali?
ROP ditentukan oleh:
-
laju pemakaian,
-
waktu tunggu (lead time),
-
serta tingkat layanan (service level).
Dalam kondisi ketidakpastian, ROP sering dikombinasikan dengan safety stock.
Inventory Dependen dan MRP
Inventory dependen dikelola melalui Material Requirement Planning (MRP). MRP bekerja dengan input utama:
-
Master Production Schedule (MPS),
-
struktur produk (bill of material),
-
status inventory.
Output MRP meliputi:
-
rencana pemesanan material,
-
jadwal produksi komponen,
-
kebutuhan pembelian (purchase order).
MRP memungkinkan perencanaan inventory yang presisi dan terintegrasi dari produk jadi hingga bahan baku.
Inventory sebagai Bagian dari Supply Chain
Inventory tidak hanya berada di gudang, tetapi tersebar di sepanjang rantai pasok, mulai dari:
-
supplier,
-
gudang,
-
lantai produksi,
-
hingga distribusi dan ritel.
Gangguan di satu titik—misalnya pasokan bahan baku—dapat memicu kelangkaan di seluruh sistem. Oleh karena itu, inventory berfungsi sebagai buffer sistemik, bukan sekadar tumpukan barang.
Permasalahan Umum dalam Pengelolaan Inventory
Beberapa masalah yang sering terjadi antara lain:
-
ketidaksesuaian data dan stok fisik,
-
pencatatan yang tidak konsisten,
-
overstock atau stockout,
-
inventory usang atau kedaluwarsa,
-
lemahnya koordinasi antar bagian.
Masalah-masalah ini menunjukkan bahwa inventory bukan hanya isu teknis, tetapi juga isu manajerial dan disiplin organisasi.
Inventory dalam Situasi Ketidakpastian Global
Pandemi, konflik internasional, dan gangguan logistik global menunjukkan bahwa model inventory ideal sering tidak cukup. Dalam kondisi ekstrem, perusahaan perlu:
-
menyesuaikan asumsi model,
-
meningkatkan buffer strategis,
-
mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kebijakan manajerial.
Inventory dalam konteks ini bukan sekadar perhitungan matematis, tetapi alat mitigasi risiko.
Kesimpulan
Manajemen inventory merupakan elemen kunci dalam perencanaan produksi dan pengendalian operasi. Perbedaan antara permintaan independen dan dependen menjadi dasar utama dalam menentukan metode perencanaan inventory yang tepat.
Inventory independen mengandalkan peramalan dan optimasi biaya, sedangkan inventory dependen bertumpu pada struktur produk dan perencanaan terintegrasi. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam sistem produksi modern.
Artikel ini menegaskan bahwa inventory bukan sekadar persediaan barang, melainkan instrumen strategis untuk menjaga stabilitas, fleksibilitas, dan keberlanjutan sistem operasi.
📚 Sumber Utama
Materi Seri Perencanaan Produksi dan Inventory Management (Episode Inventory Demand Independen & Dependen)
📖 Referensi Pendukung
-
Heizer, J., Render, B. Operations Management
-
Silver, E. A., Pyke, D. F. Inventory Management and Production Planning
-
APICS. MRP and Inventory Control Handbook
-
Chopra, S., Meindl, P. Supply Chain Management