LPEM UI: Industri Otomotif Nasional Mulai Bangkit, Namun Tantangan Masih Tersebar

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

19 Maret 2024, 09.16

Sumber: bisnis.com

Bisnis.com, Jakarta - Direktur Pusat Penelitian Iklim Bisnis LPEM Universitas Indonesia (UI) Mohammad Revindo mengatakan kebangkitan industri otomotif dalam negeri pasca pandemi semakin nyata. Berdasarkan penelitiannya, industri otomotif dalam negeri tampaknya terus melanjutkan pemulihannya yang kuat.

Hal ini dibuktikan dengan PDB sektor alat transportasi yang mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 45,70 persen (year-on-year) pada triwulan II tahun 2021 dan pertumbuhan tahunan sebesar 27,84 persen pada triwulan III tahun 2021.

“Pertumbuhan dua digit dalam dua kuartal terakhir menandai kebangkitan dramatis industri otomotif dalam negeri setelah mengalami pertumbuhan negatif sebesar 19,86% sepanjang tahun 2020 tercatat akibat dampak pandemi Covid-19,” katanya dalam riset yang diterima Bisnis pada Selasa, 30 November 2021.

Secara global, Indonesia masih menjadi salah satu basis produksi mobil terpenting bagi berbagai pabrikan, khususnya merek Jepang. Terdapat 21 perusahaan industri di Indonesia dengan total investasi sebesar Rp 71,35 triliun. Dari sisi ekspor, produk otomotif Indonesia diekspor ke lebih dari 80 negara, antara lain Arab Saudi, Filipina, Bangladesh, dan Kuwait.

Dari sisi penjualan, menurut data GAIKINDO, penjualan ritel mobil penumpang pada Januari-September 2021 meningkat signifikan menjadi 600.344 unit. Namun nilai tersebut meningkat sekitar 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain dalam negeri, Indonesia mengekspor 235.000 unit kendaraan rakitan penuh (CBU), 79.000 unit kendaraan full disassembled (CKD), dan 72 juta unit komponen pada tahun 2021.

“Perkembangan ini jauh lebih baik dibandingkan penjualan mobil global yang diperkirakan hanya meningkat 3,45 persen pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020,” tulis Revindo.

Meski demikian, industri otomotif dalam negeri masih akan menghadapi tantangan. Revindo percaya bahwa pemerintah dan pelaku ekonomi tidak boleh berpuas diri dengan perkembangan positif ini, karena terdapat beberapa tantangan yang dapat diperkirakan di masa depan.

Pertama, pada Oktober 2021, harga baja global meningkat sebesar 57,36 persen sejak awal tahun, dan harga aluminium meningkat sebesar 45,65 persen. Hal ini tentu saja meningkatkan biaya produksi mobil.

Kedua, terdapat kekurangan chip (semikonduktor) global yang diperkirakan akan terus berlanjut. Rantai pasokan elektronik sedang berjuang untuk mengimbangi lonjakan permintaan. Faktanya, permintaan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan chip komputer/laptop dan perangkat jaringan (router/modem) sejak pandemi. Selain itu, pembuat chip menghadapi kendala sosial yang menghalangi mereka untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan mudah.

Ketiga, kita melihat perubahan selera dan tren teknologi menuju transisi menyeluruh ke kendaraan listrik. Kesadaran masyarakat global terhadap perubahan iklim meningkatkan kebutuhan untuk mengalihkan tren teknologi otomotif ke kendaraan listrik.

Sejalan dengan hal tersebut, Pak Revindo menjelaskan bahwa ada banyak cara untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut dan menjaga momentum pemulihan industri otomotif dalam negeri.

Pertama, Bank Indonesia sudah tepat memperpanjang kebijakan loan to value (LTV) 100 persen dan uang muka pembiayaan mobil 0 persen setelah hadirnya Manfaat Pajak Rabat Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

Kedua, memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan yang telah disepakati (RCEP, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-EFTA CEPA) dan Presidensi G20 Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai produksi global.

“Kita harus menekankan betapa pentingnya bagi negara-negara anggota untuk tidak hanya mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri dalam suatu krisis, misalnya dengan membatasi ekspor suku cadang mobil atau menutup pasar dalam situasi krisis,” tulisnya.

Ketiga, dukungan terhadap industri kendaraan listrik dalam negeri. Hingga saat ini, pemerintah telah mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55/2019. Namun implementasi ini secara umum dinilai kurang optimal.

Revindo mengatakan insentif masih diperlukan di kedua sisi. Pertama, mungkin ada insentif di sisi konsumen berupa diskon PPnBM (yang bisa diturunkan hingga 0%) dan subsidi bunga pembiayaan kendaraan listrik. Kedua, dari sisi dukungan infrastruktur, diperlukan jumlah stasiun pengisian baterai yang banyak di berbagai SPBU untuk memudahkan konsumen dalam mengisi daya kendaraan listriknya.

Disadur dari: https://ekonomi.bisnis.com/read/20211130/9/1471934/lpem-ui-industri-otomotif-nasional-mulai-bangkit-tapi