Kisah Guru di Jambi: Menembus Bukit dan Sawah Demi Sinyal untuk Belajar Daring

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

23 Februari 2024, 15.59

Sumber: kompas.com

JAMBI, KOMPAS.com - Sebagian besar wilayah di Jambi masih kesulitan mendapatkan sinyal. Hal ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi guru dan siswa yang harus belajar mengajar secara daring karena pandemi. Di Jambi, khususnya di Desa Tanjung Katung, Kecamatan Marosebo, Wilayah Administratif Muarojambi, guru sekolah dasar masih menghadapi kesulitan sinyal di masa pandemi. Kamariah, guru SDN No. 97/IX Tanjung Katung, harus mendaki gunung, masuk hutan, hingga ke tengah sawah untuk mendapatkan sinyal kuat agar bisa mengajar menggunakan aplikasi Zoom. "Sinyal di rumah sering terputus. “Kalau di gunung atau di tengah hutan, kualitas sinyalnya kuat dan stabil,” ujarnya. kata Kamariah melalui pesan singkat, Kamis (23 Desember 2021).

Dikatakannya, jarak Tanjung Katung ke Kota Jambi cukup pendek, sekitar 45 menit. Namun sinyal di kawasan ini masih sulit. Kamariah mengaku tidak ada sinyal di rumahnya. Pada saat yang sama, sinyal ada di sekolah, tetapi sangat lemah. Ia mengatakan hingga saat ini sekolahnya masih menerapkan sistem tatap muka (PTM) terbatas. Dengan PTM terbatas, setiap guru memiliki jadwal pembelajaran di kelas dan online setiap minggunya. Kamariah sudah terbiasa mencari sinyal di sawah atau perbukitan. Sebab, kebutuhannya tidak hanya mengajar, tapi juga mengikuti perkuliahan dan pelatihan dari Learning Service dan Tanoto Foundation.

Ia merasa aneh berdiri berjam-jam di tengah sawah untuk menjaga sinyal bagus. Melelahkan juga. Di tengah sawah atau sendirian di gunung, kadang hujan atau panas, kata Kamariah. Selain mengajar secara daring, Kamariah terkadang harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari titik sinyal terbaik. Titik sinyal bagus di persawahan belakang terendam banjir sehingga Kamariah tidak menemukan sinyal di persawahan, ia mencari sinyal di tiga titik Lintas Senget hingga Penyengat Olak Jalan Puting yang jaraknya puluhan kilometer atau 45 menit. Meski pembelajaran daring sangat melelahkan, Kamariah tetap menikmatinya karena kecintaannya terhadap pendidikan.

Disadur dari Artikel : kompas.com