Kimia Farma Resmikan Pabrik Bahan Baku Obat (BBO), Bisa Kurangi Impor Povidone Iodine Alias Obat Merah

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

16 Februari 2024, 09.43

farmasetika.com

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membuka pembangunan gedung Bahan Baku Farmasi (BBO) Dalam Negeri pada Kamis (2/6) malam. Pabrik yang dibangun PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia ini akan memproduksi bahan baku povidone yodium dan obat merah. Bersamaan dengan pembangunan pabrik ini, Kementerian Kesehatan juga memutuskan kebijakan pengalihan sumber produk farmasi dari bahan impor ke produk dalam negeri.

Budi pun menargetkan bisa memproduksi 50% obat-obatannya di dalam negeri, dari atas hingga bawah. Hal ini penting untuk mencapai kelangsungan sistem kesehatan di saat krisis. “Tergantung bapak-bapak yang mau melakukannya. Yang penting kita tidak terlalu sibuk melihat ke luar, nanti wabah akan kembali merebak,” kata Budi dalam keterangan tertulisnya kepada Kementerian Kesehatan, Kamis. 2/6 ).

Budi mengatakan ketersediaan obat dan alat kesehatan itu penting. Penanganan pandemi beberapa tahun lalu terhambat karena karantina yang dilakukan negara produsen. Presiden BUMN Pharmaceutical Holding Honesti Basyir mengatakan kebijakan itu bisa mengurangi ketergantungan Indonesia pada BBO impor. Sekitar 90% BBO masih diimpor dan 34,7% produk yang terdaftar di katalog elektronik juga terdaftar sebagai impor.

“Kami berjanji untuk membantu perusahaan jenis ini mengurangi ketergantungan mereka pada BBO impor sebesar 20%. “Kami sudah membuat peta jalan untuk tahun 2026,” kata Honesti di kanal YouTube Kementerian Kesehatan (2/6).

Selain itu, rencana jalan tersebut juga ditetapkan sesuai dengan Inpres Nomor 2 Tahun 2022 untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Peta jalan tersebut bertujuan untuk memproduksi total 24 BBO di dalam negeri, dengan 12 BBO terdaftar saat ini sedang diproduksi di Indonesia. Hasil pemutakhiran kebijakan musim semi ini diharapkan selesai pada September 2022 dan dimasukkan dalam daftar elektronik sehingga dapat digunakan untuk pelayanan medis dan kesehatan. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, 14 perusahaan farmasi menyambut baik perubahan tersebut dengan mampu mengganti BBO impor dengan BBO dalam negeri. 14 industri tersebut adalah PT. Kimia Pharma Seongwoon Pharmacopia, PT Veron Pharmaceutical, PT Daewoong Infion, PT Calvio Global Medica, PT Kimia Pharma, PT Dexamedica, PT Calve Pharma, PT Auto Pharmaceutical, PT Mepropharm, PT Pertiwiagung, diantaranya PT Nobel Pharmaceutical Research Institute, PT Papros, Laboratorium PT Lapi dan PT Dipa Pharmalab.

Disadur dari: https://katadata.co.id/ameidyonasution/berita/629888a521ad3/kimia-farma-resmikan-pabrik-baru-bisa-kurangi-impor-obat-merah#google_vignette